3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah study kasus Kontingensi Sistem Kelistrikan Sulawesi Selatan (SULSEL),di mana dlam penelitian yang akan di teliti yaitu kasus kontingensi dengan pemuutsan pembangkit atau jaringan transmisi.Selain itu,dalam penelitian ini kami juga akan meneliti pengaruh penambahan PLTU 2 x 50 MW di Barru dan PLTU 2 x 100 MW di Jeneponto terhadap sistem kelistrikan SULSEL.
3.2 Lokasi Penelitian
Penelitian Study Kontingensi Sistem Kelistrikan ini dilakukan di wilayah Sulawesi Selatan (SULSEL) yang merupakan daerah administrasi PT. PLN (Persero) wilayah SULSEL. Lokasi ini dipilih karena pada lokasi sistem interkoneksi SULSEL terdapat penambahan pembangkit baru yaitu PLTU 2 x 50 MW di Barru dan PLTU 2 x 100 MW di Jeneponto terhadap sistem kelistrikan SULSEL.
3.3 Waktu Penelitian
Penelitian dan penulisan tugas akhir ini dimulai pada Juni 2012 sampai November 2012
3.4 Pengumpulan Data
xxxii
Jenis penelitian yang dipakai dalam penyusunan tugas akhir ini yaitu jenis penelitian dengan sistem study kasus Kontingensi Sistem Kelistrikan di SULSEL .un Adapun data-data yang dibutuhkan untuk meneliti kasus kontingensi diantaranya data pembangkit, data reaktansi dan impedansi, beban daya aktif dan beban daya reaktif pada tiap bus. Data-data tersebut diperoleh dari PT.PLN AP2B sistem SULSEL. Selain itu data yang sangat penting juga yaitu data berupa single line dari sistem kelistrikan SULSEL yang akan di gambarkan di dalam program, di mana program yang dipakai dalam tugas akhir ini yaitu ETAP 7.0.
3.5 Gambaran Umum Sistem Tenaga Listrik Sulawesi Selatan
Gambar 3.1 Single line diagram sistem Sulawesi Selatan
Sistem tenaga listrik Sulawesi Selatan pada saat ini disuplai oleh empat
pembangkit utama yaitu :
xxxiii
1. PLTA Bakaru, yang terdiri dari dua generator dan dua transformator daya dua kumparan
2. Pembangkit Tenaga Listrik Tello :
- PLTD, yang terdiri dari empat generator dan lima transformator daya dua kumparan
- PLTG, yang terdiri dari lima generator dan lima transformator daya dua kumparan.
- PLTU, yang terdiri dari dua generator dan dua transformator daya dua kumparan.
3. PLTG Sengkang, yang terdiri dari empat generator dengan empat transformator daya dua kumparan.
4. PLTD Suppa, yang terdiri dari enam generator dengan dua transformator daya dua kumparan.
Selain suplai dari beberapa pembangkit tersebut, sistem kelistrikan Sulawesi Selatan juga terdiri dari 31 gardu induk, 66 bus, saluran transmisi udara 150 KV, saluran transmisi 70 KV dan transmisi 30 KV.
Pada penelitian ini akan menggunakan sistem interkoneksi Sulawesi Selatan. Untuk menentukan nilai besaran per unit, berikut ini adalah besaran yang dipakai oleh PT.PLN (Persero) Wilayah VIII untuk menentukan nilai besaran per unitnya :
- Dasar daya diambil 100MVA
- Dasar tegangan ditentukan oleh letak tempat dan transformator
daya yang dipakai di tempat tersebut.
xxxiv 3.6 Sistem Kontingensi SULSEL
Dari Single Line Diagram sistem Sulsel kita dapat menemukan banyak pembangkit yang ada di wilayah Sulsel ini. Namun terdapat empat pembangkit utama yaitu:
1) PLTA Bakaru yang terdiri dari dua generator dan dua transformator daya dua kumparan.
2) PLTG Sengkang yang terdiri dari tiga generator dengan tiga transformator daya dua kumparan.
3) PLTD Suppa yang terdiri dari enam generator dengan dua transformator daya dua kumparan.
4) Pusat Pembangkit Listrik Tello yang terdiri dari:
a. PLTD yang terdiri dari enam generator dan lima transformator daya dua kumparan.
b. PLTG yang terdiri dari lima generator dan lima transformator daya dua kumparan.
c. PLTU yang terdiri dari dua generator dan dua transformator daya dua kumparan.
Selain pembangkit dalam sistem kontingensi sistem Sulsel ini terdiri dari 27 gardu induk, 25 saluran transmisi 150 kV, 8 saluran transmisi 70 kV dan 1 saluran 30 kV.
Adapun besaran yang dipakai oleh P T. PLN (Persero) Wilayah SULSEL untuk menentukan nilai besaran per unit ialah sebagai berikut:
1. Dasar daya diambil 100 MVA
xxxv
2. Dasar tegangan ditentukan oleh letak tempat dan transformator daya yang dipakai di tempat tersebut
3. Dasar impedansi ditentukan menurut tegangan yang digunakan.
Untuk tegangan 150 kV impedansi dasarnya 225 Ohm, untuk tegangan 70 kV impedansi dasarnya 49 Ohm dan untuk tegangan 30 kV impedansi dasarnya 9 Ohm.
Selain itu data yang didapatkan juga berupa tabel data yaitu:
1. Data jaringan 2. Data trafo
3. Data Kapasitor Bank 4. Data bus
5. Data Pembangkit
3.7 Pemodelan Sistem Inte rkoneksi
Dalam studi analisis kontingensi ini kita akan meneliti kestabilan sistem pada saat terjadi kasus kontingensi. Untuk meneliti hal tersebut kita akan membandingkan keadaan sistem sebelum gangguan dan konfigurasi jaringannya selama dan setelah terjadinya gangguan harus diketahui. Karenanya, dalam hal multi mesin ini, diperlukan dua langkah pendahuluan :
1. Kondisi-kondisi pra gangguan keadaan tetap untuk sistem itu dihitung
dengan menggunakan suatu program aliran beban
xxxvi
2. Representasi jala-jala pra gangguan ditentukan dan kemudian diubah untuk dapat melukiskan kondisi gangguan dan setelah gangguan.
Untuk mengurangi kerumitan pembuatan model sistem, dan dengan demikian juga mengurangi beban perhitungan, biasanya adalam studi kestabilan peralihan dibuat beberapa pengandaian sebagai berikut :
a. Masukan daya mekanis ke masing- masing mesin adalah tetap konstan selama keseluruhan perioda perhitungan lengkung ayunan.
b. Daya peredaman dapat diabaikan
c. Setiap mesin dapat diwakili oleh suatu reaktansi peralihan yang konstan yang terhubung seri dengan suatu tegangan dalam peralihan yang konstan pula.
d. Sudut rotor mekanis dari setiap mesin adalah bersamaan, ya itu sudut fasa listrik dari tegangan dalam peralihan.
e. Semua beban dapat dianggap sebagai impedansi shunt ke tanah dengan nilai yang ditentukan oleh keadaan yang berlangsung tepat sebelum keadaan peralihan.
Semua data yang telah diberikan oleh PT.PLN (persero) Wilayah SULSEL
Area Penyalur dan Pengatur Beban (AP2B) akan disimulasikan ke dalam kasus
kontingensi dengan pelepasan saluran dan pelepasan generator.
Dalam dokumen
TUGAS AKHIR
(Halaman 31-36)