BAB V ARAH KEBIJAKAN
5.2. Arah Kebijakan
5.2.6. Mewujudkan Aceh yang Lestari dan Tanggap Terhadap
memegang peranan penting dalam proses pembangunan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, untuk mewujudkan Aceh yang sejahtera, damai dan islami diperlukan pembangunan berkelanjutan, berwawasan lingkungan dan tangguh terhadap bencana di masa mendatang yang diarahkan kepada hal-hal berikut: 1. Pengelolaan sumberdaya alam diarahkan pada pemanfaatan dan
pengelolaan sumberdaya alam yang terbarukan dan tidak terbarukan. Sumberdaya alam yang terbarukan meliputi air, udara, tanah, tumbuhan dan hewan harus dijaga kelestariannya agar tidak merusak ekosistem dan dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien. Pemanfaatan sumberdaya alam terbarukan lebih difokuskan kepada penyediaan jasa lingkungan dan energi alternatif; Pemenuhan kebutuhan energi diarahkan dengan memanfaatkan energi yang terbarukan seperti panas bumi, bahan bakar nabati (biofuel), aliran sungai, panas surya, angin, biomassa, biogas, ombak laut, dan suhu kedalaman laut yang didukung oleh ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga memberikan nilai tambah dan nilai jualnya untuk kesejahteraan rakyat Aceh.
Sedangkan untuk sumberdaya alam yang tidak terbarukan yang meliputi aneka hasil tambang dan bahan galian diarahkan pemanfaatannya seefisien mungkin dan dikendalikan dengan penerapan sistem regulasi yang menjamin kelestariannya. Pemanfaatan sumberdaya energi yang tidak terbarukan, seperti minyak dan gas bumi, terutama diarahkan untuk memenuhi kebutuhan energi yang terjangkau masyarakat dan mendukung industri berbasis hidrokarbon, seperti industri petrokimia, industri pupuk dalam mendukung sektor pertanian, serta mencari lokasi sumber-sumber energi yang baru, setiap pemanfaatan Sumberdaya Air (SDA) harus
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh Tahun 2012-2032 147
memeperhatikan Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai unit perencanaan dan pengelolaan;
2. Mengelola dan melakukan konservasi potensi sumberdaya air
Pengelolaan sumberdaya air dilakukan dengan mempertahankan ketersediaan air secara berkelanjutan. Pemanfaatan sumberdaya air harus dilakukan secara optimal untuk menjamin ketersediaan air melalui pengelolaan secara holistik dan terintegrasi antar sektor dan wilayah serta memperhatikan prinsip hidro-orologi dalam kerangka pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS); memperkuat struktur kelembagaan dalam pengelolaan sumberdaya air; melibatkan semua pihak dalam setiap tahap pengambilan keputusan dalam pengelolaan sumberdaya air dari tahap perencanaan sampai dengan operasi dan pemeliharaan; Penerapan konsep imbal jasa lingkungan terhadap air baku juga dapat dikembangkan dalam rangka menjaga potensi sumberdaya air; dan memelihara keberadaan serta keberlanjutan keadaan, sifat dan fungsi sumberdaya air agar senantiasa tersedia dalam kuantitas dan kualitas yang memadai untuk memenuhi kebutuhan;
3. Memanfaatkan dan mengelola struktur dan pola ruang yang serasi
Mengatur peruntukan, penggunaan, persediaan dan pemeliharaan ruang; menentukan dan mengatur hubungan yang serasi dan seimbang antara orang dan ruang; menyusun, menetapkan dan mensahkan rencana tata ruang dengan mempertimbangkan aspek waktu, modal, dan optimasi terhadap penggunaan bumi, air, angkasa dan keseimbangan serta daya dukung lingkungan; membuat rencana pemanfaatan ruang agar dapat berfungsi sesuai dengan rencana tata ruang; mengendalikan pelaksanaan rencana tata ruang meliputi pengaturan, pengawasan dan penertiban dalam pemanfaatan ruang, untuk mencapai tujuan penataan ruang yang berbasis pada ekosistem;
4. Pelestarian fungsi dan potensi keanekaragaman hayati sebagai pendukung pembangunan berkelanjutan dilaksanakan dengan mengintegrasikan aktivitas pembangunan, konservasi keanekaragaman hayati dan pengelolaan sumberdaya alam; meningkatkan nilai dan fungsi keanekaragaman hayati melalui upaya konservasi guna memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap jasa lingkungan; meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat seperti panglima laot, pawang uteuen, petua seuneubok, keujruenblang dan budaya lokalita dalam
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh Tahun 2012-2032 148
pelestarian keanekaragaman hayati;
5. Penurunan tingkat pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup dilakukan dengan menerapkan penggunaan teknologi yang ramah lingkungan dalam pengelolaan sumberdaya alam terbarukan dan tidak terbarukan; menegakkan hukum secara adil dan konsisten bagi pelaku pelanggaran yang menimbulkan pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup; memberikan kewenangan dan tanggung jawab kepada masyarakat secara bertahap terhadap pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup melalui pendekatan budaya, ekonomi dan lingkungan secara terintegrasi; dan menetapkan kawasan konservasi yang baru dengan tetap memelihara kawasan konservasi yang sudah ada;
6. Peningkatan kesadaran masyarakat untuk ikut menjaga dan melestarikan lingkungan hidup dilakukan dengan mengikutsertakan masyarakat dalam penanggulangan permasalahan lingkungan; dan peningkatan kapasitas masyarakat terutama generasi muda agar tanggap terhadap isu-isu lingkungan yang sedang berkembang sebagai bekal menerapkan konsep pembangunan berkelanjutan di masa mendatang;
7. Penerapan konsep mitigasi dalam manajemen penanganan bencana dilaksanakan dengan menata pola dan struktur ruang yang tepat dengan memperhatikan kawasan rawan bencana; menerapkan sistem peringatan dini melalui penyebaran informasi yang efektif kepada masyarakat; meminimalkan resiko bencana yang dilakukan melalui pembangunan berbagai prasarana fisik dan penggunaan teknologi yang ramah lingkungan; menciptakan dan memperkuat sistem kebijakan dan regulasi yang mendukung penanganan bencana di Aceh; dan mengintegrasikan mitigasi bencana dalam proses pembangunan melalui sinkronisasi kondisi sosial, budaya, serta ekonomi wilayah Aceh;
8. Mempersiapkan peralatan kebencanaan yang dapat di installl pada daerah rawan gempa; Mempersiapkan peta geologi, wilayah sungai, multi hazard, dan skenario resiko bencana (berdasarkan sejarah dan prediksinya); Melakukan provisi rute evakuasi, penempatan logistik, dan SOP (Prosedur Standar Operasi) sesuai dengan jenis bencana dan pemukiman yang terkini; Melakukan provisi rambu-rambu evakuasi dan pemasangan billboard evakuasi ditempat rawan bencana dan kawasan wisata; Mengoptimalkan sistem pusdalop (crisis center) dan melengkapi dengan
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh Tahun 2012-2032 149
peralatan pendeteksian bencana; Pelaksanaan drill kebencanaan secara berkala; Intalasi dan tata kelola peralatan mitigasi bencana seperti sirine dan perlu melakukan rekayasa industri; Merencanakan dan membangun shelter dan bangunan penyelamatan; Menyelaraskan aspek kebencanaan pada perencanaan spasial; dan Menyelaraskan pendidikan kebencanaan secara non formal, formal dan masuk pada kurikulum lokal;
9. Peningkatan kesadaran dan kapasitas masyarakat bersama pemerintah untuk siap dan tanggap menghadapi bencana yang berbasis pada pengurangan risiko bencana dengan memberdayakan masyarakat dalam upaya pengurangan risiko bencana yang berbasis masyarakat; meningkatkan peran dan kapasitas aparatur pemerintah sebagai pengayom masyarakat untuk lebih giat dan aktif dalam menyosialisasikan upaya pengurangan risiko bencana; dan meningkatkan kewaspadaan masyarakat (public awareness) dalam menghadapi serta mengurangi dampak/risiko bencana sehingga masyarakat dapat hidup dan bekerja dengan aman.