Perlakuan hari ke-
Isoflavon 4.5 mg/hari Isoflavon 6 mg/har
Gambar 7.1. Berat badan tikus jantan pada berbagai variasi dosis isoflavon
Pengaruh Variasi Dosis Isoflavon terhadap Kualitas Spermatozoa
Secara keseluruhan, kualitas spermatozoa akibat perlakuan variasi dosis isoflavon meliputi motilitas, konsentrasi, abnormalitas spermatozoa, butiran sitoplasma, serta berat relatif testis tikus jantan tersaji pada Tabel 7.1.
Tabel 7.1. Rataan kualitas spermatozoa tikus setelah 2 bulan perlakuan Perlakuan Motilitas Sperma- tozoa (%) Konsentrasi Spermatozoa (juta/ml) Abnorma- litas Sperma- tozoa (%) Butiran Sitoplasma (%) Berat Relatif Testis (%) Kontrol, cekok aquades 72.5 ± 1.77 c 1256.90 ± 18.53 b 9.02 ± 2.01 a 10.00 ± 0.83 a 0.5513 ± 0.02 b Isoflavon 1.5 mg/ekor/hari 77.5 ± 2.50 d 1393.75 ± 30.62 c 8.99 ± 1.29 a 8.92 ± 1.08 a 0.5894 ± 0.03 c Isoflavon 3 mg/ekor/hari 63.0 ± 4.11 b 1238.00 ± 19.72 b 9.07 ± 1.23 a 10.82 ± 0.64 a 0.5396 ± 0.02 b Isoflavon 4.5 mg/ekor/hari 55.0 ± 3.54 a 1113.75 ± 31.68 a 10.22 ± 0.94 a 29.20 ± 4.82 b 0.4925 ± 0.03 a Isoflavon 6 mg/ekor/hari 52.0 ± 2.74 a 1078.88 ± 45.83 a 10.62 ± 0.99 a 63.52 ±10.07c 0.4697 ± 0.04 a Angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan adanya perbedaan nyata (p<0.05)
Motilitas Spermatozoa
Kelompok yang dicekok TKI-RL pada dosis IF 1.5 mg/ekor/hr menghasilkan motilitas spermatozoa yang paling tinggi secara nyata (p<0.05) bila dibanding kelompok lain, motilitas spermatozoa kelompok kontrol lebih tinggi dibanding kelompok yang dicekok TKI-RL pada dosis IF 3 mg/ekor/hr, sedangkan motilitas spermatozoa terendah dihasilkan kelompok yang dicekok TKI-RL pada dosis IF 4.5 dan 6 mg/ekor/hr (Tabel 7.1).
Tingginya motilitas spermatozoa kelompok yang dicekok TKI-RL dengan dosis IF paling rendah (1.5 mg/ekor/hari), diduga isoflavon bersifat antagonis, yaitu menghambat respon estrogen dengan bertindak sebagai antioksidan sehingga menghambat terjadinya proses peroksidasi lipid. Diduga, membran plasma spermatozoa yang terlindung oleh antioksidan isoflavon dan utuh mampu mengatur keluar masuk substrat dan elektrolit dengan baik, sehingga proses metabolisme seperti glikolisis dapat berlangsung dengan baik. Proses metabolisme ini menghasilkan ATP yang mengandung energi sehingga motilitas spermatozoa dipertahankan tetap tinggi. Metabolisme dapat berlangsung dan menghasilkan ATP sebagai sumber energi apabila keutuhan membran plasma terjamin pada spermatozoa yang hidup. Nijveldt et al. (2001) menyatakan bahwa mekanisme kerja isoflavon sebagai antioksidan adalah memiliki kemampuan sebagai donor ion hidrogen, dan dengan menangkap radikal bebas (free radical scavenger) secara langsung. Awalnya, flavonoid teroksidasi oleh radikal, kemudian berubah menjadi stabil karena bereaksi dengan radikal isoflavon lain sehingga merupakan senyawa radikal yang kurang reaktif. Dengan demikian, reaktivitas radikal bebas dapat diredam.
Motilitas spermatozoa kelompok yang dicekok TKI-RL dengan dosis IF 3 mg/ekor/hari lebih tinggi dibanding kelompok yang dicekok TKI-RL dengan dosis IF 4.5 dan 6 mg/ekor/hari, namun lebih rendah dibanding kelompok kontrol. Diduga, dosis IF 3 mg/ekor/hari masih terdapat pada konsentrasi yang tidak terlalu tinggi sehingga belum memberikan pengaruh negatif berupa gangguan terhadap pergerakan spermatozoa mengingat kelompok yang dicekok TKI-RL dosis IF 3 mg/ekor/hari menghasilkan motilitas spermatozoa lebih tinggi dari 60%. Menurut Iwasaki & Gagnon (1992), spermatozoa dengan motilitas lebih dari 60% tergolong pada kategori normal. Dilaporkan bahwa jika motilitas lebih dari 60%, pembentukan senyawa spesies oksigen reaktif (ROS) akan menurun, sehingga diduga bahwa spermatozoa immotil mempunyai peluang yang lebih besar untuk memproduksi ROS daripada spermatozoa yang lebih motil. Namun, motilitas spermatozoa kelompok yang dicekok TKI-RL dengan dosis IF 3 mg/ekor/hari lebih rendah dibanding kontrol yang tidak mendapat perlakuan cekok TKI-RL. Hal ini menunjukkan bahwa kelompok kontrol memberikan motilitas spermatozoa lebih baik dibanding kelompok yang dicekok TKI-RL dosis IF 3 mg/ekor/hari.
Motilitas spermatozoa terendah dihasilkan oleh kelompok yang dicekok TKI-RL dengan dosis IF 4.5 dan 6 mg/ekor/hari. Pada kedua dosis tersebut, diduga isoflavon bersifat sebagai estrogen agonis dengan menstimulasi respon estrogen sehingga berpotensi menimbulkan gangguan yang mengakibatkan rusaknya struktur membran plasma mitokondria spermatozoa akibat proses oksidasi radikal bebas sehingga meningkatkan terjadinya peroksidasi lipid. Terbentuknya peroksidasi lipid dilaporkan berhubungan dengan peningkatan pembentukan radikal bebas dan berkorelasi dengan penurunan motilitas spermatozoa (Iwasaki & Gagnon 1992), penurunan fosforilasi protein pada aksonem dan berkurangnya ATP intrasel (Villegas et al. 2003).
Mitokondria sebagai pusat respirasi adalah organel sel spermatozoa yang
memproduksi energi dalam bentuk ATP (Agarwal et al. 2005). Tingginya
pembentukan radikal bebas dilaporkan menghambat mekanisme seluler seperti respirasi mitokondria (de Lamirande & Gagnon 1992). Kerusakan struktur membran plasma mitokondria spermatozoa menyebabkan terganggunya integritas dan fluiditas membran serta permeabilitas membran untuk mengatur lalu lintas masuk dan keluar substrat dan elektrolit yang dibutuhkan dalam proses metabolisme spermatozoa. Proses metabolisme spermatozoa yang terganggu menyebabkan menurunnya produksi energi berupa ATP intraseluler dan kerusakan aksonem sehingga akhirnya menurunkan persentase motilitas spermatozoa. Hal ini didukung oleh pendapat Storey (1997) bahwa kerusakan membran spermatozoa menyebabkan hilangnya aktivitas respirasi dan fruktolisis pada sel spermatozoa
sehingga mengubah permeabilitas membran akibat hilangnya enzim yang dibutuhkan ATP untuk pergerakan ekor. Asmarinah (2005) menyatakan bahwa terhambatnya pelepasan ATP ke bagian aksonem mengakibatkan tidak terpenuhinya atau berkurangnya kebutuhan energi untuk menggerakkan ekor, dan selanjutnya mengakibatkan spermatozoa tidak dapat bergerak cepat atau tidak bergerak sama sekali. Dalam hal ini, pada kondisi tidak tercukupinya energi akibat terganggunya zat-zat yang berperan sebagai sumber energi, maka daya tahan spermatozoa akan menurun dan menyebabkan kematian.
Konsentrasi Spermatozoa
Kelompok yang dicekok TKI-RL pada dosis IF 1.5 mg/ekor/hr menghasilkan konsentrasi spermatozoa yang paling tinggi secara nyata (p<0.05) bila dibanding kelompok lain. Tidak terlihat adanya perbedaan konsentrasi spermatozoa kelompok kontrol dan kelompok yang dicekok TKI-RL pada dosis IF 3 mg/ekor/hr, sedangkan konsentrasi spermatozoa terendah dihasilkan kelompok yang dicekok TKI-RL pada dosis IF 4 dan 6 mg/ekor/hr (Tabel 7.1).
Tingginya konsentrasi spermatozoa pada kelompok yang dicekok TKI-RL pada dosis IF paling rendah (1.5 mg/ekor/hari), diduga karena sifat isoflavon sebagai estrogen antagonis yang berperan sebagai antioksidan pada dosis tersebut bekerja paling efektif dan optimal, yang mengakibatkan sel testis sebagai organ pembentuk spermatozoa terlindungi dan tidak mengalami kerusakan (tetap utuh) karena terlindung oleh antioksidan isoflavon sehingga mampu mempertahankan diri dari serangan oksidatif senyawa radikal bebas. Akibatnya, reaksi berantai peroksidasi lipid asam lemak tidak jenuh pada fosfolipid membran sel testis dapat dihambat dan akumulasi radikal bebas dapat dicegah. Dengan terlindungnya sel testis dari proses oksidasi, maka diduga proses spermatogenesis menjadi tidak terhambat atau terganggu sehingga dihasilkan konsentrasi spermatozoa yang lebih tinggi.
Konsentrasi spermatozoa kelompok yang dicekok TKI-RL dengan dosis IF 3 mg/ekor/hari tidak berbeda dengan kelompok kontrol yang mendapat cekok aquades. Hasil ini memperlihatkan bahwa cekok TKI-RL pada dosis IF 3 mg/ekor/hari tidak memberikan pengaruh yang berarti terhadap konsentrasi spermatozoa, baik pengaruhnya terhadap peningkatan atau penurunan konsentrasi spermatozoa.
Perlakuan cekok TKI-RL dengan dosis IF yang lebih tinggi, yaitu 4.5 dan 6 mg/ekor/hari menghasilkan konsentrasi spermatozoa yang paling rendah, diduga terjadi akibat sifat estrogen agonis yang memacu respon estrogen sehingga berpotensi menimbulkan gangguan. Jaringan reproduksi pada hewan jantan
dilaporkan Anderson & Graner (2000) merupakan subyek dari aksi isoflavon. Diduga, cekok TKI-RL pada kedua dosis tersebut mengakibatkan membran sel testis sebagai organ pembentuk spermatozoa mengalami kerusakan (tidak utuh) sehingga terbentuk proses peroksidasi lipid yang berkepanjangan. Sanocka & Kurpisz (2004) menyatakan bahwa tingginya hasil peroksidasi lipid dapat mengganggu proses spermatogenesis, bahkan pada kondisi yang ekstrim dilaporkan mengakibatkan kasus infertilitas. Proses oksidasi pada membran sel testis yang tidak dapat dicegah diduga mengakibatkan terhambatnya proses spermatogenesis dan terganggunya produksi spermatozoa, sehingga menyebabkan berkurangnya konsentrasi spermatozoa.
Abnormalitas Spermatozoa dan Butiran Sitoplasma
Kisaran abnormalitas spermatozoa akibat perlakuan variasi dosis isoflavon antara 8.99 - 10.62%. Tidak terlihat adanya pengaruh yang nyata antar perlakuan (p>0.05) terhadap abnormalitas spermatozoa (Tabel 7.1). Menurut Toelihere (1985), spermatozoa yang mengalami kelainan morfologi kurang dari 20% masih dianggap normal. Mengacu pada kriteria tersebut, keempat kelompok yang mendapat perlakuan cekok TKI-RL pada berbagai dosis dan satu kelompok kontrol yang dicekok aquades memiliki spermatozoa pada kategori normal.
Hasil analisis menunjukkan bahwa kelompok yang dicekok TKI-RL dengan dosis IF 6 mg/ekor/hari menghasilkan butiran sitoplasma paling tinggi secara nyata (p<0.05) bila dibanding kelompok lain. Tidak terlihat adanya perbedaan butiran sitoplasma pada kelompok kontrol dengan kelompok yang dicekok TKI-RL dengan dosis 1.5 dan 3 mg/ekor/hari, namun butiran sitoplasma ketiganya lebih rendah dibanding kelompok yang dicekok TKI-RL dengan dosis 4.5 mg/ekor/hari (Tabel 7.1).
Proses pematangan (maturasi) spermatozoa merupakan hal yang sangat penting untuk memperoleh kualitas spermatozoa yang baik. Proses pematangan ditandai dengan adanya pergeseran butiran sitoplasma (cytoplasmic droplet) dari pangkal kepala / bagian leher spermatozoa (proximal droplet) ke ujung bawah bagian tengah spermatozoa (distal droplet), kemudian terlepas atau hilang sama sekali (Hafez & Hafez 2000). Proses pematangan spermatozoa yang tidak sempurna diperlihatkan dengan ditemukan butiran sitoplasma dalam jumlah banyak pada semen hasil ejakulat (Senger 1999). Hubungan antara rendahnya kualitas spermatozoa dan peningkatan pembentukan senyawa ROS ditentukan oleh berlebihnya keberadaan residu/butiran sitoplasma (Sikka 2004). Residu sitoplasma pada spermatozoa berkorelasi positif dengan pembentukan ROS (Saleh & Agarwal 2002), dan menyebabkan gangguan spermatogenesis (Taylor 2001).
Butiran sitoplasma kelompok yang dicekok TKI-RL dengan dosis IF 1.5 dan 3 mg/ekor/hari tidak berbeda dengan kelompok kontrol. Hasil ini memperlihatkan bahwa perlakuan cekok TKI-RL pada kedua dosis tersebut tidak memberikan pengaruh yang berarti terhadap retensi butiran sitoplasma. Namun pada kelompok yang dicekok TKI-RL dengan dosis IF paling tinggi (6 mg/ekor/hari) ditemukan butiran sitoplasma dalam jumlah yang jauh lebih tinggi.
Diduga, tingginya butiran sitoplasma pada kelompok yang dicekok TKI-RL dengan dosis IF 6 mg/ekor/hari berhubungan dengan terhambatnya proses pematangan spermatozoa, sehingga pada akhirnya berpengaruh terhadap fertilitas. Di samping itu, sifat estrogen agonis akibat pemberian isoflavon pada dosis yang paling tinggi tersebut diduga berpotensi untuk menimbulkan gangguan pada organ reproduksi hewan jantan. Adanya gangguan terhadap proses spermatogenesis kelompok tersebut diperlihatkan dengan tingginya pembentukan butiran sitoplasma pada bagian distal droplet. Dalam penelitian ini, spermatozoa tikus perlakuan diambil dari bagian cauda epididimis. Ditemukannya butiran sitoplasma dalam jumlah lebih banyak pada bagian distal droplet sejalan dengan pendapat Senger (1999), bahwa distal droplet lebih banyak ditemukan pada spermatozoa yang berasal dari bagian corpus dan cauda epididimis.
Akibat terganggunya proses spermatogenesis, mekanisme pelepasan butiran sitoplasma menjadi terganggu sehingga spermatozoa akan dilepaskan dari epitel sel benih dengan membawa kelebihan residu sitoplasma. Pada kondisi seperti ini, spermatozoa yang dilepaskan selama spermiasi diduga menjadi tidak matang (immature), sehingga fungsi spermatozoa menjadi terganggu dan akan mempengaruhi fertilitasnya. Menurut Aitken (1999) diacu dalam Saleh & Agarwal (2002), retensi residu sitoplasma pada spermatozoa berkorelasi positif dengan pembentukan senyawa ROS melalui suatu mekanisme yang diperantarai oleh enzim sitosol glucose-6-phosphat-dehydrogenase (G6PD). Apabila aktivitas enzim
G6PD inaktif, ketersediaan NADPH untuk produksi energi dalam sel akan berkurang
sehingga menyebabkan berkurangnya pembentukan ATP. Terhambatnya ATP berpotensi meningkatkan proses peroksidasi lipid membran spermatozoa (Griveau
et al. 1995; Tremellen 2008).
Berat Relatif Testis
Kelompok yang dicekok TKI-RL dengan dosis IF 1.5 mg/ekor/hari menghasilkan berat relatif testis yang paling tinggi secara nyata (p<0.05) bila dibanding kelompok lain. Berat relatif testis kelompok kontrol tidak berbeda dengan kelompok yang dicekok TKI-RL dengan dosis IF 3 mg/ekor/hari, sedangkan berat
relatif testis terendah dihasilkan kelompok yang dicekok TKI-RL dengan dosis IF 4.5 dan 6 mg/ekor/hari (Tabel 7.1).
Berat relatif testis tertinggi dihasilkan oleh kelompok tikus yang dicekok TKI-RL dengan dosis IF 1.5 mg/ekor/hari. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian TKI-RL pada dosis paling rendah (1.5 mg/ekor/hari) mampu meningkatkan berat testis dan memberikan pengaruh yang paling berarti terhadap perkembangan berat testis. Pertumbuhan testis sebagian besar terjadi karena peningkatan jumlah sel benih (germ) (Peltola et al. 1992). Berat testis berhubungan dengan konsentrasi spermatozoa yang dihasilkan (Salisbury & VanDemark 1985), sedangkan peningkatan konsentrasi spermatozoa dilaporkan Cook et al. (1994) sejalan dengan peningkatan berat testis. Pernyataan tersebut mendukung hasil yang diperoleh dalam penelitian ini, di mana dosis IF 1.5 mg/ekor/hari menghasilkan berat relatif testis dan konsentrasi spermatozoa tertinggi.
Tingginya berat relatif testis tikus yang dicekok TKI-RL dengan dosis IF .5 mg/ekor/hari diduga karena sifat isoflavon sebagai estrogen antagonis yang berperan sebagai antioksidan (radical scavenger) pada dosis tersebut mampu bekerja paling efektif dan optimal sehingga kemungkinan mampu mencegah oksidasi bagian sel yang penting, atau mencegah terbentuknya hasil peroksidasi lipid asam lemak tidak jenuh pada jaringan yang memproduksi spermatozoa. Eliminasi radikal bebas pada jaringan yang memproduksi spermatozoa oleh aksi isoflavon menyebabkan perkembangan testis sebagai tempat utama berlangsungnya proses spermatogenesis untuk memproduksi spermatozoa menjadi tidak terhambat.
Berat relatif testis kelompok yang dicekok TKI-RL dosis IF 3 mg/ekor/hari tidak berbeda dengan kontrol. Hasil ini memperlihatkan bahwa pemberian TKI-RL pada dosis IF 3 mg/ekor/hari tidak memberikan pengaruh yang berarti terhadap perkembangan berat testis, baik pengaruhnya terhadap peningkatan atau penghambatan berat testis. Pada kelompok yang dicekok TKI-RL dengan dosis IF lebih tinggi, yaitu 4.5 dan 6 mg/ekor/hari dihasilkan berat relatif testis yang paling rendah. Diduga, isoflavon yang bersifat sebagai estrogen agonis pada dosis tersebut mengakibatkan terhambatnya dan terganggunya perkembangan berat testis. Penyusutan berat testis juga berhubungan dengan penyusutan dimensi tubuli seminiferi sebagai tempat utama berlangsungnya proses spermatogenesis untuk menghasilkan spermatozoa (Fritz et al. 2003).
Menurut Martin (1983), kecenderungan atropi testis pada mencit timbul jika genistein (salah satu bentuk isolat isoflavon murni) diberikan pada konsentrasi 9 mg/ekor/hari. Walaupun tidak diberikan dalam bentuk isolat isoflavon murni, dalam penelitian ini terbukti bahwa pemberian tepung kedelai kaya isoflavon dengan dosis
isoflavon yang semakin tinggi akan menghambat perkembangan testis dan menyebabkan atropi (pengecilan ukuran) testis dibanding kontrol.
Angka Konsepsi dan Jumlah Fetus pada Tikus Betina
Tikus betina yang dikawinkan dengan tikus jantan kelompok kontrol, serta kelompok yang dicekok TKI-RL pada dosis IF 1.5 dan 3 mg/ekor/hari mempunyai angka konsepsi sebesar 100% (5 bunting dari 5 ekor yang dikawinkan). Artinya, pada ke lima ekor tikus betina telah terdeteksi terjadi kopulasi dan hasil pengamatan terhadap kebuntingan menunjukkan hasil yang positif. Tikus betina yang dikawinkan dengan kelompok yang dicekok TKI-RL dengan dosis IF 4.5 mg/ekor/hari mempunyai angka konsepsi 60% (3 bunting dari 5 ekor yang dikawinkan). Sedangkan tikus betina yang dikawinkan dengan kelompok yang dicekok TKI-RL dosis IF 6 mg/ekor/hari mempunyai angka konsepsi 0% (tidak terjadi kebuntingan dari 5 ekor yang dikawinkan). Kelima kelompok tikus jantan menghasilkan angka kopulasi pada tikus betina masing-masing sebesar 100%, yang menunjukkan bahwa telah terjadi perkawinan/ terdeteksi adanya spermatozoa pada tikus betina (Tabel 7.2).
Angka konsepsi 0% pada tikus betina menunjukkan bahwa pemberian TKI- RL pada dosis IF paling tinggi (6 mg/ekor/hari) menyebabkan gangguan dan hambatan terhadap fertilitas tikus jantan. Walaupun melalui metode usap vagina telah terdeteksi adanya spermatozoa pada tikus betina (terjadi kopulasi), namun tidak terlihat adanya kebuntingan setelah dilakukan pengamatan kebuntingan pada hari ke-15 sejak terdeteksi terjadi kopulasi. Kondisi ini menunjukkan bahwa pemberian TKI-RL pada dosis IF paling tinggi (6 mg/ekor/hari) menyebabkan kasus infertilitas pada tikus jantan.
Tabel 7.2. Angka konsepsi dan jumlah fetus pada tikus betina
Perlakuan (Jantan) Angka Kopulasi
pada Tikus Betina (%)
Angka Konsepsi pada Tikus Betina
(%)
Jumlah Fetus pada Tikus Betina (n = 5)
Kontrol, cekok aquades 100 100 10.20±0.84 a
Isoflavon 1.5 mg/ekor/hari 100 100 10.20±0.45 a
Isoflavon 3 mg/ekor/hari 100 100 9.60±1.34 a
Isoflavon 4.5 mg/ekor/hari 100 60 5.40±4.98 b
Isoflavon 6 mg/ekor/hari 100 0 0.00±0.00 b
Diduga aksi estrogen agonis pada dosis isoflavon tertinggi (6 mg/ekor/hari) menyebabkan rusaknya struktur membran plasma mitokondria spermatozoa akibat proses oksidasi oleh radikal bebas sehingga menurunkan fungsi dan kualitas
spermatozoa. Hal ini didukung data hasil rekapitulasi pada Tabel 7.1, yang menunjukkan bahwa pada kelompok tersebut : terjadi atropi testis sehingga menurunkan produksi spermatozoa; motilitas spermatozoa rendah sehingga mengganggu proses metabolisme spermatozoa akibat menurunnya produksi energi berupa ATP intraseluler dan kerusakan aksonem; konsentrasi spermatozoa rendah akibat terhambatnya proses spermatogenesis sehingga mengganggu produksi spermatozoa dan menyebabkan berkurangnya konsentrasi spermatozoa. Adanya gangguan terhadap proses spermatogenesis sehingga spermatozoa tidak matang juga terlihat dari tingginya pembentukan butiran sitoplasma di bagian distal droplet
(Tabel 7.1), yang mengakibatkan terganggunya mekanisme pelepasan butiran sitoplasma sehingga spermatozoa akan dilepaskan dari epitel sel benih dengan membawa kelebihan residu sitoplasma, dan diduga mengakibatkan spermatozoa yang dilepaskan selama spermiasi menjadi tidak matang (immature). Hal ini menyebabkan fungsi spermatozoa menjadi terganggu sehingga mempengaruhi fertilitasnya.
Butiran sitoplasma dan sel benih yang tidak matang (immature germ cells), dilaporkan Saleh & Agarwal (2002) dan Sikka (2004) merupakan pemicu terbentuknya radikal bebas yang akan menyebabkan stres oksidatif dan berperan dalam infertilitas pejantan. Menurut Saleh & Agarwal (2002), ROS pada level tinggi dilaporkan berpotensi toksik terhadap kualitas dan fungsi spermatozoa. Pendapat tersebut memperkuat hasil yang diperoleh dalam penelitian ini, di mana fungsi spermatozoa kelompok yang dicekok TKI-RL pada dosis IF 6 mg/ekor/hari menjadi abnormal dan menyebabkan tikus jantan menjadi infertil karena tidak mampu membuntingi tikus betina. Namun, penurunan kualitas dan fungsi spermatozoa tersebut tidak mengganggu perilaku seksual atau tidak mengganggu libido tikus jantan. Hal ini didukung oleh data angka kopulasi pada tikus betina sebesar 100%.
KESIMPULAN
1. Pemberian tepung kedelai kaya isoflavon pada berbagai tingkatan dosis terhadap tikus jantan tidak berpengaruh terhadap abnormalitas spermatozoa. 2. Pemberian tepung kedelai kaya isoflavon pada dosis isoflavon 6 mg/ekor/hari
pada tikus jantan menyebabkan kasus infertilitas, namun tidak mempengaruhi libido (angka kopulasi pada tikus betina sebesar 100%, sedangkan angka konsepsi sebesar 0%).
3. Dosis isoflavon optimum yang menghasilkan kualitas spermatozoa tikus jantan terbaik adalah 1.5 mg/ekor/hari dan mengakibatkan : meningkatnya berat testis, motilitas spermatozoa dan konsentrasi spermatozoa.
DAFTAR PUSTAKA
AOAC. 1990. Official Methods of Analysis of the AOAC. AOAC, Inc. Arlington, Virginia.
Agarwal A, Prabakaran SA, Said TM. 2005. Prevention of oxidative stress injury to sperm. J Androl 26(6): 654-669
Aitken RJ, Clarkson JS. 1987. Cellular basis of defective sperm function and its association with the genesis of reactive oxygen species by human spermatozoa. J Reprod Fertil 81:459-469
Anderson JJB, Garner SC. 2000. The Soybean as a Source of Bioactive Molecules. Di dalam : Schmidl MK & Labuza TP, editor. Essentials of Functional Foods. Aspen Publishers, Inc. Gaithersburg, Maryland. hlm.
239-266
Asmarinah. 2005. Mutasi gen pada pria i nfertil dengan Astenozoospermia. Di dalam : Buku Kumpulan Makalah/Abstrak. Andrologi : Sesuatu yang Hilang dalam Kesehatan Reproduksi untuk Meningkatkan Kualitas Hidup Manusia. Kongres Pandi IX dan Kongres Persandi I. 19-23 April. Jakarta.
Astuti S. 1999. Pengaruh Tepung Kedelai dan Tempe dalam Ransum terhadap Fertilitas Tikus Percobaan [tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut
Pertanian Bogor.
Astuti S, Muchtadi D, Astawan M, Purwantara B, Wresdiyati T. 2008. Kadar peroksida lipid dan aktivitas superoksida dismutase (SOD) testis tikus yang diberi tepung kedelai kaya isoflavon, seng (Zn), dan vitamin E. Majalah Kedokteran Bandung (In press). Publikasi pada volume 40 (2) Edisi Juli 2008.
Atanassova N et al. 2000. Comparative effects of neonatal exposure of male rats to potent and weak (environmental) estrogens on spermatogenesis at
puberty and the relationship of adult testis size and fertility : evidence for stimulatory effect of low estrogen levels. Endocrinol 141:3898-3907.
Brzozowski AM et al. 1997. Molecular basic of agonism and antagonism in the oestrogen receptor. Nature 389:753-758
Cook RB, Coulter GH, Kastelic JP. 1994. The testicular vascular cone, scrotal thermoregulation, and their relationship to sperm production and seminal quality in beef bulls. Theriogenol 41:653-671
de Lamirande E, Gagnon C. 1992. Reactive oxygen species and human spermatozoa : Effects on the motility of intact spermatozoa and on sperm
axonemes. J Androl 13(5):368-378
Fritz WA, Cotroneo MS, Wang J, Eltoum IE, Lamartiniere CA. 2003. Dietary diethylstilbestrol but not genistein adversely affects rat testicular development. J. Nutr. 133:2287-2293.
Griveau JF, Dumont E, Renard P, Callegari JP, Le Lannou D. 1995. Reactive oxygen species, lipid peroxidation and enzymatic defence systems in human spermatozoa. J Reprod Fertil 103:17-26
Hafez B, Hafez ESE. 2000. Reproduction in Farm Animals. Lea and Febiger, Philadephia.
Helferich WG, Allred CD, Ju Young-Hwa. 2001. Dietary Estrogens and Antiestrogens. Di dalam : Helferich W & Winter CK, editor. Food Toxicology. CRC Press, Boca Raton. hlm. 37-55
Indiana Soybean Board. 1998. Isoflavone Concentration in Soy Foods. http://www.soyfood.com/nutrition/isoflavoneconcentration.html.
Iwasaki A, Gagnon C. 1992. Formation of reactive oxygen species in spermatozoa of infertile patients. Fertil Steril 57(2):409-416.
Martin S. 1983. Naturally Occuring Food Toxicans : Estrogens. Di dalam: Miloslav R Jr, editor. Handbook of Naturally Occuring Food Toxicans. Boca Raton Florida: CRC Press. p.81-100.
Miksicek RJ. 1994. Interaction of naturally occuring nonsteroidal estrogens with expressed recombinant human estrogen receptor. J Steroid Biochem Molec Biol 49:153-160
Mitchell JH et al. 2001. Effect of a phytoestrogen food supplement on reproductive health in normal males. Clin Sci 100(6):613-618
Nijveldt RJ, et al. 2001. Flavonoids : a review of probable mechanism of action and potential applications. Am J Clin Nutr 74:418-425
Partodihardjo S. 1992. Ilmu Reproduksi Hewan. Mutiara Sumber Widya, Jakarta
Peltola V, Huhtaniemi I, Ahotupa M. 1992. Antioxidant enzyme activity in the maturing rat testis. J Androl 13(5):450-455
Potts RJ, Jefferies TM, Notarianni LJ. 1999. Antioxidant capacity of the
epididymis. Hum Reprod 14(10):2513-2516
Salisbury GW, VanDemark NL. 1985. Fisologi Reproduksi dan Inseminasi Buatan