2.2.1. Ciri khas organisme
Mycobacterium tuberkulosis merupakan bakteri berbentuk batang aerob yang tidak membentuk spora. Pada jaringan, basil tuberkulosis adalah bakteri batang lurus berukuran sekitar 0,4x3µm. Mycobacterium tidak dapat diklasifikasikan menjadi gram negatif atau gran positif. Basil tuberkulosis sejati ditandai dengan tahan asam. Sifat tahan asam ini tergantung pada integritas selubung yang terbuat dari lilin. Teknik pewarnaan Ziehl-Neelsen digunakan untuk mengidentifikasi bakteri tahan asam (Jawezt, 2008) .
2.2.2.Sifat pertumbuhan
Mikrobakterium adalah aerob obligat dan mendapat energi dari oksidasi banyak komponen karbon sederhana. Peningkatan tekanan CO2 mendukung pertumbuhan. Waktu replikasi basilus tuberkulosis sekitar 18 jam. Bentuk saprofitik cendrung untuk tumbuh lebih cepat untuk berproliferasi lebih baik pada suhu 22-23ºC, untuk memproduksi pigmen, dan tidak terlalu tahan asam dibandingkan patogennya (Jawezt, 2008) .
2.2.3.Biakan
Medium untuk biakan primer mikobakterium harus meliputi medium nonselektif dan medium selektif. Medium selektif mengandung antibiotik untuk mencegah pertumbuhan berlebihan bakteri yang menkontaminasi dan fungi. Terdapat tiga formulasi umum yang dapat digunakan untuk kedua medium selektif dan nonselektif.
1. Medium agar semisintetik
Medium ini mengandung garam, kofaktor, asam oleat, albumin, katalase, gliserol, glukosa, vitamin , dan malakit hijau.
2. Medium telur inspissated
Medium ini mengandung garam, gliserol, dan subtansi organik komplek
( misalnya, telur segar atau kuning telur, tepung kentang, dan bahan-bahan lainnya dalam berbagai macam kombinasi ). Malakit hijau dimasukan untuk menghambat bakteri lain. 3. Medium Kaldu (Jawezt, 2008) .
2.2.4. Penularan
Micobacterium tuberculosis ditularkan dari orang ke orang melalui jalan nafas. Walaupun mungkin terjadi jalur penularan lain dan kadang-kadang terbukti, namun tidak satupun yang penting. Basilus tuberkel di sekret pernapasan membentuk nuclei droplet cairan yang dikeluarkan selama batuk, bersin, dan berbicara. Droplet keluar dalam jarak dekat dari mulut, dan sesudah itu basilus yang ada tetap berada di udara dalam waktu yang lama. Infeksi berkaitan dengan jumlah sputum yang dibatukkan, luas penyakit paru, dan frekuensi batuk. Bakteri ini rentan terhadap penyinaran ultraviolet, dan penularan infeksi di luar rumah jarang terjadi pada siang hari. Ventilasi yanhg memadai merupakan tindakan yang terpenting untuk mengurangi tingkat infeksi lingkungan (Harrison, 1999) .
2.2.5. Patogenesis
Jalan masuk awal bagi basilus tuberkel ke dalam paru atau ke tempat lainnya pada individu yang sebelumnya sehat meninbulkan respon peradangan akut nonspesifik yang jarang diperhatikan dan biasanya disertai dengan sedikit atau sama sekali tanpa gejala. Basilus kemudian ditelan oleh makrofag dan diangkut ke kelenjer limfa regional. Bila penyebaran organisme tidak terjadi pada tingkat kelenjer limfe regional, lalu basilus tuberkel mencapai aliran darah dan terjadi diseminata yang luas. Kebanyakan lesi tuberkulosis diseminata menyembuh, sebagaimana lesi paru primer, walau tetap ada fokus potensial untuk reaktifasi selanjutnya (Harrison, 1999) .
Selama 2 hingga 8 minggu setelah infeksi primer, saat basilus terus berkembang di intraseluler, timbul hipersensitivitas penjamu yang terinfeksi. Limfosit akan menuju daerah infeksi dan menguraikan faktor kemotaktik, interleukin, dan limfokin. Sebagai responnya,
monosit masuk kedaerah tersebut dan berubah menjadi makrofag kemudian melanjut menjadi histiosit yang khusus, yang akhirnya tersusun menjadi granuloma. Mikobakterium dapat bertahan dalam makrofag bertahun-tahun walaupun terjadi peningkatan lisozom dalam sel ini, namun multipikasi dan penyebarannya terbatas. Kemudian terjadi penyembuhan, sering kali dengan klasifikasi granuloma yang lambat yang akan kadang meninggalkan lesi sisa yang tampa pada foto rontsen paru. Kombinasi lesi paru perifer terklasifikasi dan kelenjer limfe hilus yang terklasifikasi dikenal sebagai komplek ghon (Harrison, 1999) .
2.2.6. Tes tuberkulin
Uji kulit tuberkulin intrakutan merupakan cara handal untuk mengenali infeksi mycobacterium dini. Antigen yang dipilih adalah defirat protein tuberkulin yang dimurnikan (tuberculin purified protein derivative,PPD), dan sebaiknya digunakan dosis intermedia (Harrison, 1999) .
Ada beberapa cara melakukan uji tuberkulin, namun sampai sekarang cara mantoux lebih sering digunakan. Lokasi penyuntikan uji mantoux umumnya pada ½ bagian atas lengan bawah kiri bagian depan, disuntikkan intrakutan (ke dalam kulit). Penilaian uji tuberkulin dilakukan 48–72 jam setelah penyuntikan dan diukur diameter dari pembengkakan (indurasi) yang terjadi (Kenyorini, 2006) .
Tabel 2.1. Hasil tes mantoux
Indurasi (mm) Interpretasi
0-5 Mantoux negatif
6-9 Hasil meragukan
10-15 Mantoux positif
>15 Mantoux positif kuat
(Amin, 2009)
Uji tuberkel yang positif bukan merupakan bukti adanya penyakit yang aktif akibat basil turberkel. Isolasi basil tuberkel dapat dijadikan bukti. Spesisme untuk uji ini dapat didapat dari sputum segar, hasil bilas lambung, urine, cairan pleura, serobrospinal, cairan sendi, materi biopsi, darah, atau materi lain yang dicurigai. Spesismen ini diperiksa dengan pewarnaan Ziehl-Neelsen (Jawezt, 2008) .
2.3.TB Peritoneal
2.3.1. Definisi
TB peritoneal merupakan suatu peradangan peritoneum parietal atau visceral yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini sering mengenai seluruh peritoneum dan alat-alat sistem gastrointestinal, mesenterium, serta organ ginetal interna (Zain, 2009) .
2.3.2. Patogenesis
TB peritoneal dapat terjadi melalui beberapa cara: 1. Melalui penyebaran hematogen melalui paru-paru. 2. Melalui dinding usus yang terinfeksi.
3. Dari kelenjer limfe mesenterium.
4. Melalui tuba fallopi yang terinfeksi (Zain, 2009) .
2.3.3. Patologi
Diketahui tiga jenis tuberkulosis peritoneal 1. Bentuk eksudat
Dikenal dengan bentuk basah atau bentuk asites yang banyak gejala yang meninjol adalah perut yang membesar dan berisi cairan asites. Turbekel sering dijumpai kecil-kecil berwarna putih kekuning-kuningan. Nampak tersebar di peritoneum atau pada alat-alat tubuh yang berada di rongga peritoneum. Bentuk ini paling banyak dijumpai.
2. Bentuk asedif
Dikenal juga dengan bentuk kering atau palastik. Cairan asites sedikit dijumpai. Usus yang dibungkus olehperitoneum dan omentum yang mengalami reaksi fibrosis. Pada
bentuk ini terdapat perleketan antara peritoneum dan omentum. Perlengketan yang luas antara peritoneum dan usus sering memberi gambaran seperti tumor, kadang-kadang terbentuk fistel.
3. Bentuk campuran
Bentuk ini kadang disebut bentuk kista. Pembentukan kista terjadi melalui proses eksudasi dan adesi sehingga terbentuk cairan dalam kantong-kantong perlekatan tersebut (Zain, 2009) .
2.3.4. Gejala klinis
Gejala klinis dapat berupa:
• Berat badan menurun, nafsu makan berkurang.
• Nyeri perut,demam,keringat malam walaupun tidak sedang beraktifitas, diare, dan hilangnya siklus haid.
• Adanya massa di abdomen, dan asites. • Batuk dan sputum (Harun, 2002).
Tabel 2.2. Gejala klinis dalam % pada pasien TB abdominal dan TB peritoneal menurut beberapa penelitian. Keluhan Uzunkoy, 2004 (11 pasien TB abdominal, 9 diantaranya TB peritoneal) Baloch, 2008 (86 pasien TB abdominal) Dinler, 2008 (9 pasien TB peritoneal) Sakit perut 72% 86% 55,5% Pembengkakan perut 63% 70% 100% Batuk - - 33,3% Demam - 52% 44,4% Keringat malam 36% - 33,3% Anoreksia 45% - -
Kelelahan 81% - - Berat badan
menurun
81% 46% 33,3%
2.3.5. Diagnosa
Diagnosis tuberkulosis dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinik, pemeriksaan fisik pemeriksaan bakteriologik, radiologik dan pemeriksaan penunjang lainnya (tuberkulosi, pedoman diagnosa dan penatalaksanaanya di Indonesia, 2002).
1. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik yang sering dijumpai adalah asites, demam, pembengkakan perut, nyeri perut, pucat, dan kelelahan.
2. Laboratorium
Pada pemeriksaan darah sering dijumpai anemia penyakit kronik, leukositosit ringan atau leukopenia, trombositosis dan sering laju endap darah yang meningkat. Sebagian pasien mungkin negatif uji tuberkulinya (Zain, 2009) .
Pemeriksaan cairan asites umumnya memperlihatkan eksudat dengan protein > 3% g/dl. Jumlah sel diantara 100-3000 sel/ml, biasanya lebih dari 90% sel limfosit. Cairan asites purulen dapat ditemukan begitu juga cairan asites dengan darah (serasanguineus). Basil tahan asam dapat didapati kurang dari 5% positif dan kultur cairan didapati kurang daari 20% yang positif. Perbandingan albumin pada caira asites ditemukan rasionya <1,1 gr/dl (IPD UI,2009). Analisa cairan asites dengan limposit yang dominan dan gradient albumin lebih kecil dari 1,1 gr/dL merupakan indicator baik untuk diagnosa TB peritoneal (Dinler,2008). Pemeriksaan cairan asites lainnya yaitu dengan pemeriksaan adeno deaminase activity (ADA), interferon gamma, dan PCR (Zain, 2009) .
Serum Adenosine deaminase merupakan enzyme yang ditemukan di limfosit yang merupakan akibat respon dari tubuh. Jika kadarnya lebih dari >42 IU/L dan >33 U/L dalam cairan asites, ini sangat signifikan (Niaz,2010). Tingginya nilai adeno deaminase activity (ADA) pada cairan asites merupapakan diagnosa yang tepat untuk
mendiagnosa TB peritoneal dengan sensitivitas 100% dan specificity 97%. Namun analisa ADA memerlukan biaya yang mahal dan terbatas pada daerah tertentu(Dinler, 2008) (Niaz, 2010) .
Tabel 2.3. Karakteristik cairan asites TB peritoneal
Variabel Karakteristik
Tampilan makroskopis Cairan bias jernih, keruh, hemoragik atau chylous
Berat jenis Bervariasi, >1,061 (50%)
Protein >25 g/L (50%)
Eritrosit (>10.000/µL 7 %
Leukosit >1000 /µL (70%), biasanya 70% limfosit
( Harison, 1999)
Pemeriksaan lainnya adalah mengukur konsentrasi CA-125 (cancer antigen-125). CA-125 merupakan antigen yang terkait karsinoma ovarium. Antigen ini tidak ditemukan pada antigen ovarium dewasa normal. Namun, dijumpai juga meningkat pada kista ovarian, gagal ginjal kronik, penyakit auto imun, prangkeas, sirosis hati, dan TB peritoneal (Zain, 2009) .
3. Pemeriksaan penunjang a. Ultrasonografi
Pada pemeriksaan ultrasonografi dapat dilihat adanya cairan dalam rongga peritoneum yang bebas atau terfiksasi (dalam bentuk kantong-kantong) (Zain, 2009) . Selain itu juga dapat ditemukan penebalan peritoneal dan lympanodenopati (Umer, 2011) . USG merupakan metode yang mudah untuk mendeteksi cairan dan lympanodenopati. Oleh karena itu, USG dapat digunakan untuk step awal investigasi untuk mendiagnosaTB peritoneal (Dinler, 2008) .
b. CT-scan
Tidak ada gambaran yang khas,secara umum ditemukan gambaran peritoneum yang berpasir. Alat ini memiliki sensitivitas 69% (Niaz, 2010) . CT-scan lebih baik dari USG dalam menggambarkan densitas asites dan nekrosis dari limfa nodes (NO, 1997 dalam Umer, 2011) .
Tabel 2.4. Hasil CT-scan dari beberapa penelitian.
Hasil CT-scan khan dkk, 2011 (45 pasien TB peritoneal) Uzunkoy dkk,2004 (11 pasien TB Peritoneal) Penebalan peritoneal 91% 18 % Asites 97,7% 100 % Mesenteric strand 66,7% 36 % Penebalan mesenterika 51 % - Penebalan omental 64,4 % - Omental strand 68,9 % 27% Retroperitoneal lympanodenopaty - 36 % Massa di pelvik - 45 % c. Peritoneoskopi
Gambaran yang dapat dilihat berupa tuberkel kecil ataupun besar pada dinding peritoneum atau organ di dalam rongga peritoneum, Selain itu juga dapat dilihat adanya penebalan mesenterium, perlengketan lumen usus, penebalan omentum, lengketan
diantara usus, omentum, hati, kendung empedu, dan peritoneum, penebalan peritoneum, dan adanya cairan eksudat mungkin purulen atau bercampur darah (Zain, 2009) .
d. Laparoskopi
Penebalan peritoneum, bercak keputihan dari tuberkel, asites, dan perlengketannya dapat dilihat dengan menggunakan laparoskopi (Dinler, 2008). Laparoskopi memiliki sensitivitas 82% (Niaz, 2010) .
Tabel 2.5. Hasil laparoskopi dari penelitian Fahmi Yousef Khan dkk tahun 2011 pada 43 penderita peritoneal TB.
Variable Presentase
1. Asites
2. Bercak keputihan dari tuberkel 3. Adhesion
4. Adhesion berhubungan dengan tuberkel 1. 97,7% 2. 60,4% 3. 14% 4. 25,6% (Khan, 2011) 4. Biopsi
Peritonium biopsi merupakan gold standar diagnosa TB peritoneal. Peritonium biopsi lebih reliable, cepat, aman untuk mendiagnosa TB peritoneal (Dinler, 2008). Biopsi memiliki sensitivitas 97%( Niaz, 2010) .
Gambaran patologi hasil biopsi berupa tuberkulum yang biasanya besarnya 1 sampai 3 mm, terbentuk sebagai reaksi radang di sekitar sekelompok basil TBC. Sebagian besar terdiri atas sel epiteloid yang berasal dari histiosit dan makrofag. Beberapa sel itu akan membesar dan berinti banyak dan terjadi nekrosis keju, sedangkan lapisan luarnya terdiri atas sel limfosit (Sjamsuhidajat, 2005) .
5. Tes serologi
Serologi tes bertujuan untuk mendeteksi antibodi spesifik untuk bakteri Mycobacterium tuberculosis. ELISA dapat mendiagnosa dengan cepat komponen IgG
yang mempunyai spesifik tinggi untuk TB peritoneal. PCR dapat digunakan untuk mendeteksi DNA mycobacterium. Selain itu terdapat cara baru yaitu dengan luciferase reseptor assay, restrintion fragment length polymorphism, dan tes T.spot (untuk melihat reaksi T-helper). Cara-cara tersebut mempunyai sensitivitas 98% dan spesifik 97% (Niaz, 2010) .
1.3.6.Pengobatan
Pengobatan TB peritoneal sama dengan tuberkulosis paru (Zain, 2009) . Pengobatan tuberkulosis terbagi atas dua fase yaitu fase intensif 2 atau 3 bulan dan fase lanjutan 4 atau 7 bulan.
Obat Anti tuberkulosis (OAT) yang digunakan pada lini pertama adalah : • Rifampisin
• INH
• Pirazinamid • Streptomisim • Enthambutol
jenis obat lainnya atau lini kedua • Kanamisin
• Amikasin • Kuinolon
• Obat lain masih dalam penelitian ; makrolid, amoksilin + asam klavulanat • Beberapa obat berikut ini belum tersedia di Indonesia antara lain :
o Kapreomisin
o Sikloserino PAS (dulu tersedia) o Derivat rifampisin dan INH
o Thioamides (ethionamide dan prothionamide) (tuberkulosis, pedoman diagnosa dan penata laksanaanya di Indonesia, 2002) .
Tabel 2.6. Mekanisme kerja dan efek samping beberapa obat TB.
tuberkulosis efek samping obat Isoniazid Menghambat biosintesis
asam mikloat, unsur penting pada dinding sel
mikroba, bersifat bakteriosid.
Ruam pada kulit Hentikan obat dan beri antihistamin dan evaluasi ketat.
Rifampin Menghambat pertumbuhan bakteri (bakteriosid). Ruam,mual,muntah,syok,dan purpura Hentikan pemberian rifampin
Ethambutol Menekan pertumbuhan basil tuberkel yang resisten dengan ishoniazid dan streptomisin, bersifat bakteriostatik.
Neuritis optik Hentikan pemberian enthambutol
Sterptomisin Bersifat bekteriosid untuk basil tuberkel invitro dan pada konsentrasi 0.4µg/ml dapat menghambat pertumbuhan .
Tuli dan gangguan keseimbangan
Ganti dengan ethambutol
Pirazinamida Bersifat bakteriosid Cedara hati Pirazinamida dihentikan Etionamida Menekan multifikasi
bakteri
Anaroksia,mual,dan muntah Hentikan obat
Asam
aminosalisilat
Bersifat bakteriostatik. Anemia hemolitik akut,demam tinggi mendadak
Hentikan obat
(Goodman, 2008 )
Penggunaan OAT sekunder ditujukan pada pengobatan TB yang resisten terhadap OAT sekunder. Adanya resistensi dapat ditegakkan dengan drug susceptibility testing (DTS)
atau secara klinis apabila terjadi kegagalan pengobatan atau kekambuhan. Regimmen yang disarankan dapat dilihat pada tabel.
Tabel 2.7. Regimen yang disarankan pada berbagai penderita dengan berbagai jenis resisten.
Obat yang resisten Regimen yang disarankan Lama pengobatan minimal
-INH -RIF -INH, RIF -INH, RIF, EMB
-INH, RIF, EMB, PZA
-RIF,PZA,EMB,FQN -INH, PZA, EMB, FQN -PZA, EMB, FQN, AMK, PAS
-PZA, FQN,AMK, PAS, beta-laktam
-FQN, AMK, PAS, ETA, beta-laktam -6 bulan -9 bulan -18 bulan -18 bulan -18 bulan (Muchtar, 2006)
Dalam pengobatan tuberkulosis dapat digunakan terapi adjuvant yang digunakan untuk pencegahan, vaksin perlindungan terhadap bakteri dan untuk menghasilkan antibodi. Terapi adjuvant yang dapat digunakan yaitu OAT yang diberikan pada sebagian penderita tersangka TB yang tidak didukung oleh gambaran klinis, mikrobiologi ataupun patologi pemberian obat ini dapat dilakukan. Efek anti tuberkulosis ini paling sedikit dapat dilihat dalam 3 minggu (Sjamsuhidajat, 2005). Selain itu juga dapat digunakan Complete Freund’s Adjuvant (CFA) yang akan menghasilkan antibodi humoral tubuh. CFA terdiri atas mineral oil, mannide monooleate ( surfactant agent), dan komponen mikrobakterium (Stills, 2005) .
1.3.7.Prognosis
Prognosis TB peritoneal cukup baik bila diagnosa dapat ditegakkan dan biasanya akan sembuh dengan pengobatan antituberkolosis yang adekuat (Zain, 2009) .
BAB III