BAB IV PELAKSANAAN, HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Hasil Penelitian
3. Minat Belajar Anak Jalanan pada Siklus Kedua
Setelah membangun kepercayaan diri dan optimisme anak-anak dengan topik bimbingan belajar pada siklus pertama, dalam siklus kedua, para siswa diajak untuk memeriksa kembali kebiasaan belajar mereka lalu merancang kebiasaan
belajar yang baik dan benar. Berikut ini adalah hasil penelitian dan analisis data yang diperoleh selama pelaksanaan bimbingan belajar siklus kedua.
a. Hasil Pengamatan
Berdasarkan pengolahan data dari lembar observasi siklus kedua diperoleh hasil sebagai berikut (data yang lengkap terdapat pada lampiran):
1) Persentase skor kelas
- Persentase perilaku dari seluruh siswa SD-Besar yang menunjukkan sikap berminat pada kegiatan bimbingan belajar di PSP mencapai angka 76 atau dipersentase menjadi: 76/90 x 100% = 84%. Berdasarkan kategori skor kelas yang telah ditentukan, jumlah tersebut termasuk dalam kategori berminat belajar sangat tinggi.
- Sebaliknya, persentase perilaku seluruh siswa SD-Besar yang menunjukkan sikap kurang berminat terhadap kegiatan bimbingan belajar mencapai angkat 24 atau dipersentase menjadi: 24/90 x 100% = 26%. Berdasarkan kategori skor kelas yang telah ditentukan terhadap persentase perilaku kurang berminat, jumlah tersebut dalam kategori berminat belajar rendah.
- Jika kedua data di atas dianalisis, peneliti menyimpulkan bahwa pada pelaksanaan siklus kedua, pengamatan terhadap perilaku positif siswa terhadap kegiatan bimbingan belajar di PSP menunjukkan bahwa para siswa memiliki minat belajar yang sangat tinggi yakni mencapai 84%.
Sekalipun demikian, perilaku negatif atau kurang berminat juga masih menyentuh kategori berminat belajar rendah yakni 26%.
2) Persentase skor subyek
- Hasil pengamatan terhadap perilaku siswa yang menunjukkan sikap berminat pada kegiatan bimbingan belajar memperlihat bahwa terdapat seorang siswa yakni NK meraih skor tertinggi yakni 15 atau 100%. Berdasarkan skala kategori skor subyek, persentase tersebut termasuk dalam kategori berminat belajar sangat tinggi. Sedangkan skor terendah diraih oleh VN yakni pada angka 9 atau 60% dan termasuk dalam kategori berminat belajar sedang.
- Hasil pengamatan terhadap perilaku siswa yang mengindikasikan kurang berminat pada kegiatan bimbingan belajar menunjukkan bahwa terdapat dua siswa yakni RR dan RN yang memiliki skor terbesar yakni 46%. Menurut kategori skor subyek yang telah diketahui, angka tersebut termasuk dalam kategori sedang atau memiliki minat belajar sedang.
- Kesimpulan: pengamatan terhadap perilaku yang menunjukkan minat belajar memperlihatkan bahwa bahwa pada siklus kedua, terdapat seorang siswa yang memperlihatkan minat belajarnya yang sangat tinggi dan tidak ada lagi siswa yang tergolong dalam siswa yang berminat belajar rendah sebagaimana diperlihatkan pada siklus pertama. Hasil pengamatan perilaku positif ini didukung oleh hasil pengamatan terhadap perilaku negatif di mana dua orang siswa yakni
RR dan VN yang pada siklus pertama termasuk dalam kategori siswa berminat belajar sangat rendah kini mencapai level berminat belajar sedang. Secara singkat dan jelas, perbandingan skor subyek dari kedua perilaku tersebut ditampakkan dalam grafik berikut ini:
3) Kesimpulan pengamatan siklus kedua
- Persentase skor kelas dan skor subyek dari perilaku positif siswa terhadap kegiatan bimbingan belajar memperlihatkan bahwa para siswa SD-Besar berada pada kategori berminat belajar sedang hingga berminat belajar sangat tinggi. Seorang siswa berhasil mencapai level tertinggi sedangkan dua siswa yakni RR dan VN masih berada pada level berminat belajar sedang.
- Jika dibandingkan dengan siklus pertama maka diperoleh gambaran bahwa terjadi perkembangan minat belajar pada diri siswa SD-Besar di PSP. Hal tersebut ditunjukkan dengan data pengamatan yakni persentase skor kelas dari perilaku positif siswa terhadap kegiatan bimbingan belajar meningkat dari 66% pada siklus pertama menjadi
10 15 14 14 15 9 6 3 3 2 3 7 0 2 4 6 8 10 12 14 16 RR AN BL PTR NK VN Grafik 3.
Perbandingan Skor Minat Belajar Subyek Siklus II
Perilaku Berminat Perilaku kurang berminat
84% pada siklus kedua. Begitupula persentase skor subyek juga meningkat.
b. Hasil Angket Minat Belajar
1) Tabel frekuensi (terlampir) dari angket minat belajar anak jalanan di PSP (SD-Besar) pada siklus kedua menunjukkan bahwa pencapaian skor para siswa terbentang dari angka 66 sebagai nilai minimum hingga angka 88 sebagai nilai maksimum. Dari rentang nilai tersebut, berdasarkan kategori skor subyek yang telah diketahui, terdapat 1 siswa (16,7%) yang termasuk dalam kategori berminat belajar sedang, 2 siswa (33,3%) berminat belajar tinggi dan 3 siswa (50%) tergolong berminat belajar sangat tinggi. Selain itu, rata-rata skor subyek atau skor kelas adalah 79. Angka ini termasuk dalam kategori berminat belajar tinggi. Tabel berikut memperlihatkan rincian statistik skala minat siklus kedua:
Tabel 14.
Statistik Minat Belajar Siklus Kedua
Statistik Deskriptif Tabel Frekuensi
N Mini mum Maxi mum Mea n Std. De-via- tion Valid Fre- quency Per- cent Valid Per- cent Cum- ulative Per- cent 6 69.0 87.0 79.0 6.9 66 1 16.7 16.7 16.7 69 1 16.7 16.7 33.3 81 1 16.7 16.7 50.0 84 2 33.3 33.3 83.3 88 1 16.7 16.7 100.0
2) Jika dibandingkan dengan hasil angket minat belajar anak jalanan pada siklus pertama diperoleh gambaran bahwa terjadi peningkatan minat belajar sekalipun terlihat kurang signifikan karena rata-rata skor subyek
pada kedua siklus tersebut adalah sama yakni 79. Hal tersebut didasarkan pada data bahwa pada siklus pertama nilai maksimum subyek yang diperoleh adalah 87 sedangkan pada siklus kedua mencapai angka 88.
c. Hasil Wawancara
Topik dan aktivitas bimbingan belajar pada siklus kedua ini dimaksudkan agar para siswa mengenal dan mengevaluasi kebiasaan belajar mereka lalu membangun suatu kebiasaan belajar yang baik. Peneliti mewawancarai dua orang siswa dengan kriteria, seorang yang terlihat memiliki minat belajar yang tinggi dan yang seorang adalah yang terlihat berminat belajar masih rendah.
Subyek pertama yang diwawancarai pertama adalah NS. Menurutnya, ia sering belajar sambil mendengar musik bahkan sambil bernyanyi. Ia menikmati cara belajar yang demikian karena itu ketika dalam kegiatan bimbingan belajar diberikan kesempatan untuk menuliskan, mendiskusikan dan berbagi dengan teman-teman, ia menceritakan kebiasaan belajarnya itu
dengan gembira. Terhadap tayangan film singkat “Cheng-Cheng Po” ia memiliki kesan suka akan cerita dalam film tersebut karena ia dapat belajar tentang bagaimana tekun belajar bersama teman-temannya.
Subyek kedua adalah RR. Ia mau belajar jika tidak diperintah dengan paksaan dan suasana di sekitar tidak ramai. Ia menyukai aktivitas bimbingan belajar yang baru saja dilakukan terutama sesi diskusi dan sharing tentang kebiasaan belajar. Ia menjadi tahu kebiasaan belajar teman-temannya. Ia juga menyukai tayangan film singkat yang telah ditonton.
Peneliti menyimpulkan bahwa anak-anak jalanan yang tergabung dalam kelompok SD-Besar ini sekalipun berbeda tingkat minat belajarnya namun memiliki kemauan untuk belajar asal mereka melakukannya dengan gembira dan suasana di sekitar mendukung mereka.
d. Hasil Dokumentasi dan Lembar Kerja
Seluruh siswa SD-Besar mengikuti semua kegiatan bimbingan belajar selama siklus kedua sebagaimana ditunjukkan pada daftar hadir siswa. Sekalipun demikian, agar mengetahui lebih dalam tentang kualitas partisipasi mereka selama bimbingan belajar, peneliti menganalisis juga dokumentasi berupa lembar kerja para siswa SD-Besar PSP.
Peneliti dapat mengatakan bahwa para siswa SD-Besar di PSP terlibat aktif sebagaimana ditunjukkan bahwa semua siswa mengisi beberapa lembar kerja yang disiapkan peneliti sesuai dengan petunjuk yang diberikan. Dalam lembar kerja tentang kebiasaan belajar, setiap siswa juga menuliskan kebiasaan belajar mereka secara terbuka. Ada siswa yang menuliskan bahwa
ia “bisa belajar sambil menyanyi”. Ada pula yang menuliskan “belajar di
tempat terbuka suasananya indah, kalau belajar saya disuruh jadi gak
konsentrasi dan bingung.” Tetapi ada pula yang menuliskan bahwa ia belajar
sambil menonton televisi. Partisiapsi aktif yang menunjukkan keberadaan minat belajar tersebut semakin tampak ketika mereka mau membacakan hasil refleksi mereka tentang kebiasaan belajar mereka tersebut.