• Tidak ada hasil yang ditemukan

Minyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia sebagai alat pengolahan bahan – bahan makanan. Minyak goreng berfungsi sebagai media penggoreng sangat penting dan kebutuhannya semakin meningkat. Minyak goreng nabati biasa diproduksi dari kelapa sawit, kelapa atau jagung. Pada umumnya minyak yang sudah digunakan untuk menggoreng tidak dibuang, namun digunakan berulang

kali. Demikian pula yang terjadi pada industri pangan yang menggunakan minyak goreng dalam jumlah besar. Minyak dipakai berulang-ulang untuk menekan biaya produksi. Penggunaan kembali minyak goreng bekas secara berulang - ulang akan mengakibatkan terjadinya kerusakan pada minyak yang digunakan, dimana minyak menjadi berwarna kecoklatan, lebih kental, berbusa, berasap serta dihasilkan rasa dan bau yang tidak disukai pada bahan pangan yang digoreng (Atikah, 2017).

Penggunaan minyak goreng secara berulang dengan suhu panas yang tinggi akan mengalami perubahan sifat fisikokimia (kerusakan minyak) seperti warna, bau, meningkatnya bilangan peroksida dan asam lemak bebas (FFA), serta banyaknya kandungan logam (Ketaren, 2005). Kerusakan minyak akan mempengaruhi mutu dan nilai gizi bahan pangan yang digoreng. Minyak yang rusak akibat proses oksidasi dan polimerisasi akan menghasilkan bahan dengan rupa yang kurang menarik dan cita rasa yang tidak enak, serta kerusakan sebagian vitamin dan asam lemak esensial yang terdapat dalam minyak. Oksidasi minyak akan menghasilkan senyawa aldehida, keton, hidrokarbon, alkohol, lakton serta senyawa aromatis yang mempunyai bau tengik dan rasa getir. Pembentukan senyawa polimer selama proses menggoreng terjadi karena reaksi polimerisasi adisi dari asam lemak tidak jenuh (Ketaren, 1986).

Tabel.2.1 Syarat Mutu Minyak Goreng

No Kriteria Uji Satuan Persyaratan

1. Keadaan

5. Minyak pelican negatif

6. Asam linolenat (C18:3) dalam komposisi asam lemak minyak

% Maks.2

7. Cemaran logam

(Sumber: SNI 3741 – 2013 Standar Mutu Minyak Goreng)

Konsumsi minyak yang rusak akan menyebabkan berbagai penyakit seperti pengendapan lemak dalam pembuluh darah (Artherosclerosis) dan penurunan nilai cerna lemak (Luciana,2005). Berdasarkan penelitian sebelumnya disebutkan bahwa adanya kemungkinan terdapat senyawa carcinogenic dalam minyak yang dipanaskan, dibuktikan dari bahan pangan berlemak teroksidasi yang dapat mengakibatkan pertumbuhan kanker hati. Selain itu selama proses penggorengan juga akan terbentuk senyawa Acrolein yang bersifat racun dan menimbulkan rasa gatal pada tenggorokan (Luciana, 2005).

Sehubungan dengan banyaknya minyak goreng bekas dari sisa industri maupun rumah tangga dalam jumlah tinggi dan menyadari adanya bahaya konsumsi minyak goreng bekas, maka perlu dilakukan upaya – upaya untuk memanfaatkan minyak goreng bekas tersebut agar tidak mencemari lingkungan. Pemanfaatan minyak goreng bekas ini dapat dilakukan pemurnian agar dapat digunakan kembali baik sebagai media penggorengan atau sebagai bahan baku produk berbasis minyak (Susinggih,dkk, 2005).

2.7. Adsorpsi

Adsorpsi merupakan suatu proses penyerapan oleh padatan tertentu terhadap zat tertentu yang terjadi pada permukaan padatan karena adanya gaya tarik atom atau molekul pada permukaan zat padat tanpa meresap kedalam (Atkins, 1999). Proses adsorpsi dapat terjadi karena adanya gaya tarik atom atau molekul pada permukaan

padatan yang tidak seimbang. Adanya gaya ini, padatan cenderung menarik molekul-molekul lain yang bersentuhan dengan permukaan padatan, baik fasa gas atau fasa larutan kedalam permukaannya. Akibatnya konsentrasi molekul pada permukaan menjadi lebih besar dari pada dalam fasa gas zat terlarut dalam larutan. Pada adsorpsi interaksi antara adsorben dengan adsorbat hanya terjadi pada permukaan adsorben (Tandy, 2012).

2.7.1 Jenis – Jenis Adsorpsi

Berdasarkan interaksi molecular antara permukaan adsorben dengan adsorbat, adsorpsi dapat dibedakan menjadi 2 yaitu :

2.7.1.1 Adsorpsi Fisika

Adsorpsi fisika terjadi karena adanya gaya Van der Waals. Pada adsorpsi fisika, gaya tarik menarik antara molekul fluida dengan molekul pada permukaan padatan (Intermolekuler) lebih kecil dari pada gaya tarik menarik antar molekul fluida tersebut, sehingga gaya tarik menarik antara adsorbat dengan permukaan adsorben relatif lemah pada adsorpsi fisika, dimana adsorbat tidak terikat kuat dengan permukaan adsorben sehingga adsorbat dapat bergerak dari suatu bagian permukaan ke permukaan lainnya dan pada permukaan yang ditinggalkan oleh adsorbat tersebut dapat digantikan oleh adsorbat lainnya. Adsorpsi fisika memiliki kegunaan dalam hal penentuan luas permukaan dan ukuran pori (Shofa, 2012).

2.7.1.2 Adsorpsi Kimia

Adsorpsi kimia terjadi karena adanya reaksi kimia antara molekul - molekul adsorbat dengan permukaan adsorben dan berlangsung lambat, bersifat ireversibel dan hanya membentuk satu lapisan (monolayer) (Madan dan Tuli 2007). Pada adsorpsi kimia, ikatan kimia yang terbentuk dapat berupa ikatan kovalen/ion.Ikatan yang terbentuk kuat sehingga spesi asli tidak dapat ditentukan. Karena kuatnya ikatan yang terbentuk maka adsorbat tidak mudah terdesorpsi. Adsorpsi kimia diawali dengan adsorpsi fisik dimana adsorbat mendekat ke permukaan adsorben melalui gaya Van der Waals / ikatan hidrogen kemudian melekat pada permukaan dengan membentuk ikatan

2.7.2 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Daya Adsorpsi 2.7.2.1 Ukuran Adsorbat

Ukuran adsorbat yang sesuai merupakan hal yang berpengaruh pada proses adsorpsi. Dimana adsorpsi dapat terjadi jika molekul – molekul yang diadsorpsi adalah molekul – molekul yang diameternya sesuai atau lebih kecil dari diameter pori adsorben.

2.7.2.2 Kepolaran Zat

Proses adsorpsi akan lebih kuat terjadi pada molekul yang lebih polar dibandingkan dengan molekul yang kurang polar pada kondisi ukuran diameter yang sama. Hal ini dikarenakan molekul – molekul yang lebih polar dapat menggantikan molekul – molekul yang kurang polar yang telah teradsorpsi lebih dahulu.

2.7.2.3 Suhu

Pada saat molekul – molekul gas atau adsorbat menempel pada permukaan adsorben maka akan terjadi pembebasan sejumlah energi yang disebut dengan peristiwa eksoterm. Dengan berkurangnya suhu maka akan meningkatkan jumlah adsorbat yang teradsorpsi.

2.7.2.4 Tekanan Adsorbat

Pada adsorpsi fisika jika tekanan adsorbat dinaikkan maka jumlah molekul adsorbat akan bertambah, tetapi pada adsorpsi kimia jumlah molekul adsorbat akan berkuang dengan meningkatnya tekanan adsorbat.

2.7.2.5 Karakteristik Adsorben

Ukuran partikel dan luas permukaan adsorben merupakan karakteristik penting adsorben. Ukuran partikel berhubungan dengan luas permukaan, semakin kecil ukuran partikel adsorben maka luas permukaan semakin tinggi. Sehingga jumlah molekul yang teradsorpsi akan bertambah. Selain itu kemurnian adsorben juga merupakan karakterisasi yang utama dimana pada fungsinya adsorben yang lebih murni yang lebih diinginkan karena kemampuan adsorpsi yang baik (Lestari, 2009).

2.8. Adsorben

Adsorben merupakan suatu zat atau material yang memiliki kemampuan untuk mengikat dan mempertahankan suatu molekul baik cairan ataupun gas didalamnya.

Terdapat dua jenis adsorben yaitu polar dan non polar. Adsorben polar disebut juga

dengan hydrophilic, dimana adsorben ini dapat mengikat molekul polar seperti air.

Adapun jenis adsorben ini adalah silica gel, porous alumina, dan zeolites. Sedangkan adsorben non polar disebut juga dengan hydrophobic, dimana adsorben ini lebih dapat mengikat molekul non polar seperti oli dan gas dibandingkan dengan air. Adapun yang termasuk jenis adsorben ini adalah karbon aktif dan adsorben polimer.

Beberapa karakteristik adsorben yang dibutuhkan untuk adsorpsi : a. Luas permukaan besar sehingga kapasitas adsorpsinya tinggi b. Memiliki daya tahan yang baik

c. Memiliki aktifitas terhadap komponen yang diadsorpsi

d. Tidak ada perubahan volume yang berarti selama peristiwa adsorpsi dan desorpsi Sebuah padatan adsorben harus berpori dan ukurannya bervariasi. IUPAC telah mengklasifikasikan rentang ukuran pori yang dimiliki oleh adsorben sebagai berikut:

a. Mikropori, apabila diameter pori lebih kecil dari 50 nm b. Mesopori, apabila diameter pori antara 2 – 50 nm

c. Makropori, apabila diameter pori lebih besar dari 50 nm (Fatimah,2014).

Dokumen terkait