• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Misi Sekolah :

1. Menciptakan lulusan yang bermoral, berbudi luhur yang dapat berkompetisi dalam SNMPTN dan dunia kerja.

2. Menyelenggarakan bimbingan dan latihan serta program belajar tambahan untuk meningkatkan prestasi belajar.

3. Menciptakan SDM yang berdisiplin, berkualitas, berdaya saing dan berwawasan lingkungan di era globalisasi.

4. Meningkatkan kegiatan peduli sesama dan lingkungan sebagai wujud kebersamaan dan keserasian.

5. Menumbuhkembangkan penghayatan terhadap ajaran agama dan budaya bangsa.

6. Meningkatkan pembinaan pengembangan kegiatan ekstrakurikuler sebagai wahana penyaluran bakat dan minat siswa.

7. Meningkatkan mutu mencapai sekolah kategori mandiri dan berwawasan lingkungan.

d.2. Keberadaan Faktor Input, Proses, Output, dan Outcome Di SMAN 4 Kupang.

Input adalah segala sesuatu yang harus ada dan mesti dipersiapkan dengan baik untuk berlangsungnya sebuah proses. Input pendidikan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pendidikan, dan dipersiapkan untuk berlangsungnya sebuah proses pendidikan. Dalam hal ini yang termasuk dalam input pendidikan yakni kepala sekolah, guru , karyawan/ Tata Usaha sekolah, peserta dididik/siswa, dan sarana prasarana. Juga ada input tentang visi, misi, tujuan sekolah, dan juga peraturan perundang-undangan.

Pengadaan input di SMAN 4 Kupang dilakukan berdasarkan SNP dan hasil analisis kebutuhan, baik untuk peserta didik/sisiwa, untuk pendidik/guru, tenaga kependidikan/TU, dan juga sarana prasarana. Pengadaan input juga berpedoman pada JUKNIS yang telah ditetapkan dinas pendidikan.

d.2.1.1. Kepala Sekolah

Kepala sekolah adalah ujung tombak penentu ‘’arah’’ keberhasilan seluruh proses pendidikan di sebuah lembaga pendidikan. Dengan kata lain, berhasil atau tidaknya pengelolaan sebuah lembaga pendidikan ditentukan oleh kemampuan kepala sekolah menjalankan tugas dan fungsinya. Berikut digambarkan tugas pokok dan fungsi kepala sekolah, dapat dijelaskan sebagai berikut (data dokumentasi bid. Kurikulum SMAN 4 Kupang):

1. Kepala sekolah selaku pimpinan, mempunyai tugas :

1) Menyusun perencanaan; merencanakan sesuatu tentang kebutuhan utama sekolah, baik tentang kebutuhan input, merencanakan PBM. 2) Mengorganisir kegiatan; memilih dan memilah jenis kegiatan yang

3) Mengarahkan kegiatan; berfungsi mengarahkan kegiatan dengan benar, agar tepat sasaran dan berdaya guna.

4) Melakukan evaluasi setiap kegiatan; wajib melakukan monev (monitoring dan evaluasi) terhadap setiap kegiatan yang telah dilakukan, agar bisa diidentifikasi keberhasilan atau kegagalannya.

5) Menentukan kebijakan; berfungsi mengadakan rapat dan memberikan keputusan terhadap kebijakan yang telah disepakati.

6) Mengatur proses belajar mengajar; berfungsi untuk memantau agar PBM berlangsung dengan aman, dan bersama kurikulum menentukan jenis kurikulum yang akan digunakan sekolah

7) Mengatur administrasi : a) Kantor b) Siswa c) Pegawai d) Perlengkapan e) Keuangan

8) Mengatur organisasi siswa intra sekolah ( OSIS ); berfungsi memberi kesempatan dan mengawasi OSISI di sekolah dalam tiap kegiatannya. 9) Mengatur hubungan sekolah dengan masyarakat.

1) Perencanaan 2) Pengorganisasian 3) Pengarahan 4) Pengkoordinasian 5) Pengawasan 6) Kurikulum 7) Kesiswaan 8) Perkantoran 9) Kepegawaian 10) Perlengkapan 11) Keuangan 12) Perpustakaan

3. Kepala Sekolah sebagai supervisor, mempunyai tugas supervisi terhadap : 1) Kegiatan belajar mengajar

2) Kegiatan bimbingan dan penyuluhan

3) Kegiatan ko-kurikuler dan ekstra kurikuler 4) Kegiatan ketatausahaan

Kepala sekolah adalah seorang guru yang diberikan tugas tambahan sebagai pemimpin yang mengatur seluruh kegiatan, kebijakan, terutama dalam pengambilan keputusan di lembaga pendidikan (sekolah). Tugas yang lebih mendalam dari kepala sekolah adalah tugas manajerial, sesuai dengan tugas dalam keputusan pengangkatan kepala sekolah. Hal ini dijelaskan oleh Agustinus B, Logo (51), kepala sekolah SMAN 4 Kupang. Dalam wawancara bersama peneliti, mengatakan bahwa:

‘’...Dalam pelaksanaan tugas sebagai kepala sekolah, lebih dititik-beratkan pada tugas manajerial, yakni sebagai pengelola dalam mengambil kebijakan dan menentukan keputusan di semua lini. Kami diangkat berdasarkan SK dari dinas, dan ditugaskan berdasarkan SK penempatan yang ada. Tentunya berdasarkan persiapan terutama mengikuti pelatihan dan seleksi menghadapi tugas yang ada’’ (wawancara tgl. 10 Nopember 2015).

Dalam menunjang MBS di sekolah, keberadaan kepala sekolah menjadi sentral berhasil atau tidaknya pelaksanaan MBS ini. Sebagai seorang pimpinan, ia yang ‘’mengemudi’’ dan mengarahkan seluruh isi ‘’kapal pendidikan’’ yang ada, mencapai tujuan yang dicita-citakan bersama. Dalam wawancara lanjutan, kepala SMAN 4 mengatakan bahwa:

‘’...pelaksanaan MBS merupakan tanggung jawab bersama seluruh warga sekolah. Namun tugas yang paling berat diembankan kepada kepala sekolah untuk menyukseskan program ini. Secara implementasi sudah mulai dijalankan di SMAN 4 Kupang. Contohnya melibatkan koordinator mata pelajaran untuk menyusun RAPBS dan mengadakan pertemuan minimal seminggu sekali dengan para guru untuk membahas semua hal yang terjadi, dan akan terjadi di sekolah ini’’ (wawancara tgl. 10 Nopember 2015).

d.2.1.2. Pendidik/ Guru

Keberadaan para pendidik di sebuah lembaga pendidikan menjadikan seluruh proses pendidikan di lembaga tersebut berjalan. Proses akan bermutu, apabila para

pokok dan fungsi dari pendidik di sebuah lembaga pendidikan dapat digambarkan sebagai berikut (data dokumentasi bid. Kurikulum SMAN 4 Kupang):

1. Membuat program pengajaran :

1) Analisa materi pelajaran (AMP)

2) Program Tahunan (Prota) 3) Program Satuan Pelajaran (SP) 4) Program Rencana Pengajaran (RP)

5) Lembar Kegiatan Siswa (LKS)

2. Melaksanakan kegiatan pembelajaran

3. Meningkatkan Penguasaan materi pelajaran yang menjadi tanggungjawabnya.

4. Memilih metode yang tepat untuk menyampaikan materi

5. Melaksanakan KBM

6. Menganalisa hasil evaluasi KBM

7. Mengadakan pemeriksaan, pemeliharaan, dan pengawasan

ketertiban, keamanan, kebersihan, keindahan, dan kekeluargaan 8. Melaksanakan kegiatan penilaian (semester/tahun)

10. Membuat dan menyusun lembar kerja (Job Sheet)

11. Membuat catatan tentang kemajuan hasil belajar masing-masing siswa.

12. Mengikuti perkembangan kurikulum.

13. Mengumpulkan dan menghitung angka kredit untuk kenaikan pangkatnya.

Dalam penjabaran 8 SNP tentang standar tenaga pendidik dan kependidikan menetapkan:

1) Pendidik pada SMA/MA atau bentuk lain yang sederajat memiliki a) kualifikasi akademik pendidikan minimum D-IV atau S1, b) latar belakang pendidikan tinggi dengan program pendidikan yang sesuai dengan matapelajaran yang diajarkan; dan c) sertifikat profesi guru untuk SMA/MA.

2) Tenaga kependidikan pada SMA/MA sekurang-kurangnya terdiri atas kepala sekolah, tenaga admin, tenaga perpustakaan, dan tenaga kebersihan.

Proses perekrutan dan pengembangan tenaga pendidik di SMAN 4 Kupang dilakukan beberapa tahap. Mulai dari analisis kebutuhan yang dilakukan sekolah-tentunya sesuai dengan JUKNIS yang didalamnya sudah ada SNPnya- sampai pada persetujuan yang ditetapkan oleh dinas PPO Kota Kupang. Dalam wawancara bersama peneliti, Agustinus B. Logo (51), kepala SMAN 4 Kupang kembali mengatakan bahwa:

“... sistim perekrutan tenaga input dilakukan sesuai JUKNIS yang ada. Kita sebenarnya tidak boleh melangkahi aturan yang ada pada JUKNIS. Misalnya untuk tenaga pendidik, penerimaan berdasarkan ketetapan yang telah ditetapkan dinas berdasarkan SK penempatan dan SK tugas yang

berlaku. Tetapi untuk tenaga honorer analisis kebutuhanya dibuat sekolah dan diajukan kepada dinas dan juga atas persetujuan komite, begitu pula untuk tenaga kependidikan. Pendampingan dan pelatihan merupakan hal yang wajib dijalankan dan diprogramkan sekolah untuk pengembangan profesinya. Selanjutnya keberadaan pendidik di lembaga ini juga sudah sesuai dengan standar yang ditetapkan BSNP, yakni semua pendidik telah berkualifikasi sarjana (S1 dan S2). Dalam menjalankan tugas utamanya, guru wajib memahami tugas pokok dan fungsinya sebagai pendidik, yang tentunya para pendidik sudah paham. Tugas saya sebagai kepala sekolah memastikan bahwa tugas mereka harus berjalan sebagaimana mestinya’’ (wawancara tgl. 10 Nopember 2015).

Hal senada juga disampaikan oleh Refafi Kana (51), wakil kepala sekolah bidang kurikulum, dalam wawancara bersama peneliti mengatakan bahwa:

“...untuk pelaksanaan penerimaan input berdasarkan JUKNIS yang ada, berdasarkan kajian dinas PPO Kota Kupang. Untuk guru PNS, langsung ditetapkan oleh dinas PPO Kota Kupang. Tetapi sebelumnya dinas memberikan format data guru. Format itu berisikan kajian analisis kebutuhan tiap pendidik di sekolah. Format itu diberikan dua kali setahun. Untuk tenaga honorer, ditetapkan oleh sekolah sendiri berdasarkan kajian pada kebutuhan dan atas persetujuan komite sekolah. Setelah tenaga pendidik ataupun tenaga kependidikan yang diterima masuk di lembaga ini, maka mereka diberikan kesempatan untuk diberikan pelatihan tentang peningkatan kompetensinya, pengembangan kurikulum, pelatihan IT dan lain-lain, agar kemampuannya meningkat terutama dalam menjalankan tugas utamanya sebagai pendidik’’ (wawancara tgl. 10 Nopember 2015). Kehadiran tenaga pendidik sangat dibutuhkan dan tak bisa digantikan. Seluruh proses akan berjalan dengan baik, apabila tugas sebagai pendidik benar-benar dijalankan. Hal ini dijelaskan kembali oleh Charles Nggolut (54), guru Bimbingan dan Konseling SMAN 4 Kupang, dalam wawancara bersama peneliti menjelaskan bahwa:

‘’...melalui kemampuan, dibantu dengan pendampingan dan pelatihan peningkatan profesi, guru wajib memiliki spirit 4M dalam menjalankan tugasnya, yakni mengajar (kognitif), melatih (psikomotorik), membimbing (afektiv), mendidik (akhlak mulia). Spirit inilah yang membantu tugas utama guru itu sendiri terutama dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi setiap PBM di sekolah. Tugas ini juga dijalankan untuk menyukseskan tujuan pendidikan di lembaga ini. Tugas ini pula bisa

masuk ke dalam implementasi program MBS, dimana guru wajib bekerja sungguh-sungguh untuk mencapai mutu yang diinginkan. Namun tantangannya terkadang datang dari siswa itu sendiri. Sikap dan prilakunya tidak sejalan. Ditambahkan lagi faktor sarana prasarana yang belum memadai’’ (wawancara tgl. 10 Nopember 2015).

Hal senada juga diungkapkan kembali oleh Fransiskus X. Balulowa (40), guru Kimia SMAN 4 Kupang, dalam wawancara bersama peneliti menjelaskan bahwa tugas guru sebenarnya harus lebih mendalam;

‘’... selain melaksanakan tugas pokok yang diembankan kepada para guru, seorang guru wajib bertugas sebagai orang tua, tempat para siswa mencurahkan isi hati, mengadu seluruh persoalan dan kesulitan hidupnya. Tugas ini wajib dimiliki semua guru agar lebih mendekatkan pelayanan personal kita kepada siswa. Ini jauh lebih penting dari pelatihan peningkatan profesi yang telah kita terima. Karena implementasi lebih penting dari teori. Walau tugas ini berat, karena harus maksimal di tengah ratio perbandingan siswa, guru, dan sarana yang tidak mendukung. Satu guru bisa berhadapan dengan 40an siswa. Tetapi kita harus maksimal’’ (wawancara tgl. 10 Nopember 2015).

Pernyataan ini juga dilengkapi oleh Maya M. T. Rehi (35), guru Bahasa Inggris, dalam wawancara dengan peneliti mengatakan bahwa:

‘’... tugas guru itu sangat mulia. Selain kehadiran kita sebagai pengajar, kita juga wajib hadir sebagai orang tua sekaligus teman. Teman adalah tempat yang tepat untuk sharing pengalaman dari hati ke hati wawancara tgl. 10 Nopember 2015’’.

Dari penjelasan di atas, tugas dan peran seorang pendidik (guru) harus sesuai dengan tugas utama yang telah dijabarkan dan sesuai dengan SNP yang telah ditetapkan BSNP. Selain itu ada spirit dan tugas guru secara mendalam yang wajib melekat pada setiap tugas pokok guru.

Sejauh ini, fakta yang terjadi di SMAN 4 Kupang, berdasarkan dokumen dan hasil wawancara (terbuka dan tertutup) yang didapatkan peneliti, maka keberadaan para pendidik di SMAN 4 Kupang telah menjalankan tugasnya

dengan baik. Merencanakan pembelajaran dengan membuat RPP dan SILABUS, perencanaan PROTA dan PROSEM, PBM berjalan, mengorganisir PBM, mengevaluasi PBM, dan juga memberikan penilaian.

d.2.1.3. Tenaga Kependidikan/ Tata Usaha (TU)

Peran tenaga kependidikan tidak kalah pentingnya dengan tenaga pendidik. Seluruh proses pengurusan administrasi, dan kerja pendukung pengelolaan proses program MBS juga dikerjakan semuanya oleh TU. Proses pendidikan di sebuah lembaga pendidikan akan berjalan baik apabila ada dukungan penuh dari tenaga TU yang sungguh-sungguh menjalankan tugas dan fungsinya. Tugas pokok dan fungsi TU dapat dijabarkan sebagai berikut (data dokumentasi bid. Kurikulum SMAN 4 Kupang):

Mengadakan administrasi sekolah dengan sebaik-baiknya yang meliputi :

1) Progam Kerja Kepala Sekolah 2) RAPBS

3) Kalender Pendidikan

4) Daftar Pembagian Tugas 5) Struktur Organisasi Sekolah

6) Jadwal Pelajaran

7) Peraturan Tata Tertib Guru dan Tata Usaha 8) Acara kerja Kepala Sekolah

10) Buku Piket 11) Buku Pembinaan

12) Himpunan Hasil supervise 13) Buku Pengumuman 14) Buku Notula Rapat

15) Buku Tamu Umum dan Khusus 16) Dokumen Pendirian sekolah

17) Daftar hadir guru, tenaga teknis kependidikan dan tenaga tata usaha 18) Form monitoring kegiatan 6 K di sekolah

19) Program satuan pelajaran, perangkat KBM lainnya untuk proses

belajar mengajar tatap muka dikelas 20) Buku agenda surat keluar / masuk

Proses perekrutan dan pelaksanaan tugas tenaga kependidikan ini juga berdasarkan analisis kebutuhan yang dikerjakan pihak sekolah. Analisis kebutuhan itu berdasarkan kekurangan pada tiap tempat yang membutuhkan pelayanan tenaga TU tersebut.

Kepala TU, Melati S. Djo (51) dalam wawancara bersama peneliti mengatakan bahwa:

‘’... tugas sebagai TU di sekolah ini lebih kepada mengontrol dan melayani semua pekerjaan yang berhubungan dengan seluruh administrasi yang diperlukan oleh semua warga sekolah. Pihak sekolah telah menetapkan tugas yang wajib kami jalankan, terutama pemenuhan administrasi sekolah. Administrasi ini sangat dibutuhkan untuk melancarkan tiap kepentingan yang

berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan warga sekolah. Contohnya administrasi tentang keadaan guru, siswa, urusan surat menyurat, daftar hadir guru dan siswa, laporan-laporan, administrasi urusan gaji guru, dan masih banyak lainnya’’(wawancara tgl. 10 Nopember 2015).

Dari jenis pembagian tugas yang diberikan kepada pihak TU, menggambarkan bahwa TU juga memiliki tugas yang penting dalam mengelola dan melancarkan semua proses pendidikan di SMAN 4 Kupang.

d.2.1.4. Peserta Didik/ Siswa

Ketersediaan input sangat menunjang proses pendidikan di setiap lembaga pendidikan. Siswa adalah sasaran utama, roda yang harus berjalan dan salah satu penentu mutu pendidikan di sebuah lembaga. Lebih dari itu, siswa juga mempunyai tugas pokok dan fungsi, terutama dalam proses pembelajarannya di dalam kelas. Tugas-tugas tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut (data dokumentasi bid. Kurikulum SMAN 4 Kupang):

1) Tugas terhadap sekolah, yaitu: a) Menaati tata tertib sekolah

b) Membayar SPP dan kewajiban lainnya

c) Membina suasana sekolah yang aman, tertib, dan tentram d) Menjaga nama sekolah

2) Tugas terhadap kelas, yaitu:

a) Menjaga kebersihan kelas dan lingkungannya

b) Memelihara keamanan dan ketertiban kelas sehingga suasana kelas menjadi aman, tentram, dan nyaman

c) Melakukan kerjasama yang baik dengan teman kelasnya d) Memelihara dan mengembangkan semangat dan solidaritas,

kesatuan, dan kebanggaan, penuh dengan suasana keagamaan 3) Tugas tugas terhadap kelompok, yaitu:

b) Menggunakan waktu senggang untuk belajar bersama, saling membantu

c) Memelihara dan memupuk solidaritas antarkelompok Tugas pokok dan fungsi siswa di SMAN 4 Kupang disosialisasikan pada saat mereka mengadakan Masa Orientasi Siswa (MOS) di sekolah. Tugas-tugas ini diyakini memberikan manfaat untuk individual siswa itu sendiri maupun juga untuk lembaga secara keseluruhan. Hal ini dijelaskan oleh Citra A. Tualaka, ketua OSIS SMAN 4 Kupang, dalam wawancara bersama peneliti mengatakan bahwa:

‘’... untuk membantu mengarahkan tujuan kami bersekolah disini, maka kami juga perlu mengetahui tugas-tugas pokok yang wajib kami kerjakan di sekolah ini. Tugas-tugas ini disosialisasikan disaat kami mengikuti MOS. Dengan mengetahui hal ini, kami semakin mengerti akan tujuan bersekolah itu sendiri, dan juga tentang hak dan kewajiban kami (wawancara tgl. 11 Nopember 2015)’’.

Sistim perekrutan input yang dilakukan SMAN 4 dilakukan beberapa tahap. Sistim itu tetap berpatokan pada JUKNIS yang ditetapkan oleh dinas PPO Kota Kupang. Kepala sekolah dan wakil kepala sekolah bidang kurikulum, dalam wawancara bersama peneliti mengatakan hal yang sama, bahwa seleksi input berpatokan pada JUKNIS yang ada. Tetapi dalam pelaksanaan seleksi juga sering melanggar JUKNIS dan juga SNP yang telah ditetapkan.

Dalam proses wawancara, peneliti menemukan hampir 100% jawaban informan mengemukakan hal yang sama, yakni penerimaan siswa sangat banyak dan melampaui batasan standar yang ada. Hal ini dibenarkan oleh para siswa yang diwawancara peneliti. Hesti A. Lada (16), siswi kelas XII MIA3 mengatakan bahwa:

‘’... proses seleksi masuk di lembaga ini dilakukan berdasarkan kualifikasi nilai NEM. Siswa yang memiliki nilai NEM tinggi, otomatis akan lulus test. Saya termasuk siswa yang lulus. Banyak teman-teman saya yang gugur dan tidak diterima. Tetapi dalam perjalanan waktu proses seleksi ini menjadi tidak adil lagi. Banyak siswa yang ‘’masuk dari belakang’’. Mereka ‘’diluluskan’’ untuk masuk ke lembaga ini. Saya merasa proses ini tidak adil. Mungkin ini yang membuat kelas sangat penuh dengan siswa’’ (wawancara tgl. 11 Nopember 2015).

Hal ini juga dibenarkan oleh Ani Abas (15), siswi kelas XI IIS2, dalam wawancara bersama peneliti ia mengatakan bahwa:

‘’... proses seleksi masuk SMAN 4 Kupang boleh terbilang sulit. Persaingan untuk masuk sangat terasa. Banyak siswa yang diterima, tetapi ada juga yang tidak lulus. Saya salah satu siswa yang tidak lulus pada saat itu. Karena nilai NEM saya tidak mencapai standar. Tetapi ternyata ada kesempatan untuk menerima kami lagi. Pada saat itu saya merasa senang. Tetapi dalam perjalanan waktu saya sedikit berkecil hati dan kecewa ternyata kami lulus melalui proses yang mungkin kurang baik’’ (wawancara tgl. 11 Nopember 2015).

Proses penerimaan input yang seperti ini pada akhirnya berimbas pada penerimaan siswa yang melebihi jumlah rombongn belajar yang ada. Siswa menjadi terlalu banyak, dan melampaui batas maksimal yang ditetapkan BSNP, yakni tiap rombongan belajarnya ditempati 32 siswa, dan minimal 20 siswa. Pengeluhan terhadap jumlah sisiwa ini diungkapkan oleh Ines Yanuar Smol (15), siswi kelas X MIA4, dalam wawancara bersama peneliti ia mengatakan bahwa:

‘’... jumlah siswa per kelas terlalu banyak, ada yang berjumlah 42 siswa per kelas, bahkan lebih. Jumlah seperti ini tidak baik dan membuat suasana kelas menjadi ribut, kita tidak berkonsentrasi dalam pelajaran. Saya menginginkan dalam satu kelas jumlah siswanya cukup 20an saja’’ (wawancara tgl. 11 Nopember 2015).

Hal serupa juga diungkapkan oleh beberapa siswa yang diwawancarai peneliti, seperti Citra Tualaka (15), Adveni H. A. Lada (16), Ani Abas (15), mereka sepakat dan sesuara mengatakan bahwa ‘’jumlah siswa tiap kelas terlalu banyak. Jumlah seperti ini tidak ideal dan akan mempengaruhi PBM’’.

d.2.1.5. Sarana dan Prasarana

Penjabaran standar sarana dan prasarana yang ditetapkan BSNP, pada 8 SNP menetapkan bahwa:

1) Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainya. 2) Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan,

ruang kelas, ruang pimpinan, ruang pendidik, ruang TU, perpustakaan, laboratorium, bengkel, produksi, kantin, tempat olahraga, tempat ibadah, tempat bermain, dan rekreasi.

Sarana dan prasarana diibaratkan sebagai jembatan penghubung yang menghubungkan seluruh aspek proses pendidikan di lembaga pendidikan. Tanpa sarana dan prasarana yang menunjang, maka proses pendidikan menjadi hambar dan menjadi tidak menyenangkan. Seluruh kebutuhan mengenai sarana dan prasarana yang hampir menjadi sorotan tiap lini pengguna jasa pendidikan yang ada, harus dianalisis dengan baik, agar dapat memenuhi dan menopang proses pendidikan yang ada.

Proses analisis kebutuhan menegenai sarana dan prasarana di SMAN 4 Kupang dilalui dalam beberapa tahapan penting. Dalam wawancara bersama wakil kepala sekolah bidang sarana dan prasarana, Servasius Moa (57), peneliti mendapatkan beberapa informasi penting terhadap keberadaan sarana dan prasarana di SMAN 4 Kupang, serta proses analisis kebutuhannya. Beliau menjelaskan sebagai berikut:

‘’... Keberadaan sarana dan prasarana di sekolah ini merupakan hasil bantuan pemerintah (kota, propinsi, dan pusat), dan juga hasil kerja mandiri sekolah dengan bantuan dana BOS dan dana komite. Proses analisisnya yakni pertama kami mendata kebutuhan sarana dan prasarana yang dibutuhkan sekolah. Kategori butuh mendesak dan tidak mendesak. Selanjutnya pihak sekolah mengajukan proposal bantuan kepada pihak pemerintah (kota dan propinsi). Bantuan dari pemerintah berupa alokasi dana DAK, pembangunan RKB baru, bahan dan alat-alat laboratorium IPA, Fisika, Kimia, Biologi, dan juga peralatan-peralatan olahraga. Untuk usaha dari pihak sekolah sendiri, dibuat sebuah rancangan yang tertuang dalam RABS. RABS sumber dananya berasal dari dana BOS dan dana komite. Keperluannya dibelikan dan diadakan per tahap. Proses pengecekan keberadaan sarana dan prasarana dibuat pengkategorian sesuai keadaan. Kategorinya ada yang baik dan rusak. Untuk kategori rusak, dikategorikan lagi kedalam rusak berat dan ringan. Pengkategorian ini dimaksudkan untuk diambil keputusan proses perbaikannya. Untuk yang kategori rusak ringan, dapat langsung diperbaiki oleh pihak sekolah. Tetapi yang rusak berat, diusulkan ke pihak pemerintah untuk mendapat bantuan perbaikan’’ (wawancara tgl. 10 Nopember 2015).

Itulah gambaran keadaan dan proses analisis kebutuhan sarana dan prasarana yang sempat dijelaskan. Ada beberapa kendala ‘’kehadiran’’ sarana dan prasarana hingga tidak maksimal (baca: lengkap). Ia lanjut mengatakan bahwa:

‘’... Segala kekurangan sarana dan prasarana di sekolah menurut saya harus menjadi tanggung jawab bersama antara pihak sekolah-pemerintah-masyarakat. Setiap tahun, sekolah selalu melaporkan keadaan sekolah kepada pemerintah. Salah satunya adalah laporan tentang keberadaan sarana dan prasarana di sekolah. Pemerintah sudah punya data dari pihak sekolah. Setiap tahun pemerintah meminta laporan itu. Tetapi tindak lanjut dari pihak pemerintah sangat minim dan lamban. Seharusnya analisis dan laporan dari pihak sekolah sudah menjadi bagian dari apa yang harus di terima sekolah setiap tahunnya. Salah satu contohnya dalah keberadaan komputer di sekolah. Jumlahnya sangat minim. Seharusnya jumlah komputer adalah 1/3 jumlah siswa per angkatannya. Misalnya jumlah siswa dalam satu angkatan adalah 318, maka komputer yang mesti tersedia adalah sebanyak 106. Tetapi pada kenyataanya sekolah hanya memiliki 28 komputer saja. Dengan adanya otonomi daerah, pembangunan kususnya bidang sarana prasarana sekarang kurang berjalan dengan baik. Apabila PAD suatu daerah kecil, maka alokasi anggaran untuk ke sekolah juga sangat kecil. Dulu waktu belum adanya otonomi daerah, pembangunan berdasarkan bantuan pusat itu cukup baik.

Kurang terlibatnya unsur perwakilan orang tua (masyarakat)/ komite sekolah. Minimnya rapat membahas tentang pencarian dana untuk membangun sekolah. Seharusnya anggaran proposal dari pihak sekolah bisa dibagi 2 dengan komite untuk pencarian dananya. Sehingga orang tua

Dokumen terkait