• Tidak ada hasil yang ditemukan

Untuk mengantisipasi sekecil mungkin dampak negatif yang ditimbulkan oleh letusan G.Kelud, maka telah dilakukan usaha penanggulangan bahaya baik sebelum, selama berlangsung dan sesudah letusan. Kegiatan usaha penanggulangan bahaya sebelum kejadian letusan antara lain adalah : pemantauan aktivitas gunung secara menerus dan terpadu baik secara visual ataupun non visual dengan bermacam- macam metoda geofisika . Visual

Pemantauan sehari–hari G.Kelud dipusatkan di Pos Pengamatan Margomulyo, meliputi pemantauan visual dari warna, ketebalan dan tinggi asap solfatara dan cuaca di sekitar puncak. Disamping itu pula dilakukan pengamatan langsung ke kawah meliputi pengukuran suhu air dan pengamatan perubahan warna air G. Kelud serta pengamatan pergeseran gelembung-gelembung gas yang muncul yang dapat diamati pada permukaan air kawah. Selain secara visual pemantauan G. Kelud juga dilakukan dengan metoda seismisitas atau kegempaan.

Seismik

Pemantauan kegempaan G. Kelud dimulai sejak dibangunnya Pos Pengamatan permanen akhir tahun 1925, dengan dipasangnya sebuah seismograf Wiechert komponen vertikal. Pada tahun 1987 mulai diperkenalkan seismograf Kinemetics PS-2 dengan sistem telemetri radio. Sejak April 2007 telah dipasang tiga stasion tambahan. Sehingga dengan adanya 4 empat stasion seismometer

Pengembangan Model Pemanfaatan Penginderaan Jauh Pengembangan Model Pemanfaatan Penginderaan Jauh Pengembangan Model Pemanfaatan Penginderaan Jauh Pengembangan Model Pemanfaatan Penginderaan Jauh Untuk Pemetaan Cepat Daerah Terkena Bencana Erupsi Gunungapi Untuk Pemetaan Cepat Daerah Terkena Bencana Erupsi Gunungapi Untuk Pemetaan Cepat Daerah Terkena Bencana Erupsi Gunungapi Untuk Pemetaan Cepat Daerah Terkena Bencana Erupsi Gunungapi 26 4.1.8. Kawasan Rawan Bencana Gunungapi

Berdasarkan potensi bahaya yang mungkin terjadi, Peta Kawasan Rawan Bencana G. Kelud dapat dibagi menjadi tiga tingkat kerawanan, yakni: Kawasan Rawan Bencana-III (KRB-III), Kawasan Rawan Bencana-II (KRB-II), dan Kawasan Rawan Bencana-I (KRB-I).

Kawasan Rawan Bencana-III (KRB-III)

Kawasan Rawan Bencana-III (KRB-III), adalah kawasan yang selalu terlanda lahar letusan, awan panas, bahan lontaran batu pijar, gas beracun, dan kemungkinan aliran lava. Perluasan awan panas kemungkinan dapat terjadi apabila letusan di masa mendatang lebih besar dari letusan 1990 atau terjadi percampuran magma (magma mixing) sehingga terjadi letusan hebat yang banyak merubah morfologi G. Kelud secara drastis. KRB-III ini meliputi areal seluas 14, 36 km2 (1.436 ha).

Kawasan Rawan Bencana Terhadap Aliran Massa

Daerah yang kemungkinan besar berpotensi terlanda oleh produk erupsi akan datang, adalah lereng atas bagian barat dan baratdaya dengan jarak tidak lebih dari 5 km dari pusat letusan. Sebaliknya sebaran ke arah lain dikontrol oleh adanya morfologi di sekitar puncak, seperti G. Gajahmungkur (+1455 m), G. Kelud (+1731 m), dan G. Umbuk (+1014 m).

Kawasan Rawan Bencana Terhadap Bahan Lontaran Batu (pijar)

Berdasarkan letusan terdahulu, bahan lontaran produk G. Kelud mencapai 2 km untuk berukuran bom vulkanik, dan berjarak hingga 10 km dari pusat letusan untuk fragmen batuan berukuran kurang dari 2 cm. Daerah yang sering terlanda lontaran batu (pijar) adalah sektor barat.

Kawasan Rawan Bencana-II (KRB-II)

Kawasan Rawan Bencana-II (KRB-II), adalah kawasan yang berpotensi terlanda awan panas, lahar letusan, aliran lava, lontaran batu (pijar) dan hujan abu lebat. Kawasan ini dibedakan menjadi dua bagian, yaitu:

a. Kawasan rawan bencana terhadap aliran massa berupa awan panas, aliran lava dan lahar letusan.

b. Kawasan rawan bencana terhadap bahan lontaran dan jatuhan seperti lontaran batu (pijar), hujan abu lebat.

Perluasan awan panas kemungkinan dapat terjadi apabila letusan di masa datang lebih besar dari letusan 1990 atau terjadi percampuran magma (magma mixing) sehingga terjadi letusan hebat yang banyak merubah keadaan morfologi G. Kelud secara drastis. Luas Kawasan Rawan Bencana-II (KRB-II) ini diprediksi mencakup areal seluas 91,8 km2 (9.180 ha).

27 Pengembangan Model Pemanfaatan Penginderaan Jauh Pengembangan Model Pemanfaatan Penginderaan Jauh Pengembangan Model Pemanfaatan Penginderaan Jauh Pengembangan Model Pemanfaatan Penginderaan Jauh

Untuk Pemetaan Cepat Daerah Terkena Bencana Erupsi Gunungapi Untuk Pemetaan Cepat Daerah Terkena Bencana Erupsi GunungapiUntuk Pemetaan Cepat Daerah Terkena Bencana Erupsi Gunungapi Untuk Pemetaan Cepat Daerah Terkena Bencana Erupsi Gunungapi

Kawasan Rawan Bencana Terhadap Aliran Massa

Data geologi dan sejarah kegiatan masa lalu menunjukkan, bahwa produk letusan G. Kelud banyak didominasi oleh aliran piroklastik (awan panas) dan lahar panas (lahar letusan), bahkan hingga letusan magmatik terakhir (1990) masih didominasi aliran piroklastik (awan panas) dan jatuhan piroklastik yang terutama menghancurkan dan menutup lereng barat dan baratdaya G. Kelud. Sementara lahar hujan dialirkan melalui K. Bladak (sungai besar yang mengalir ke arah baratdaya).

Kawasan Rawan Bencana Terhadap Bahan Lontaran dan Hujan Abu Lebat

Material lontaran adalah semua jenis bahan letusan yang dilontarkan ke semua arah pada saat terjadi letusan berupa bom vulkanik (kerak roti) yang berasal dari magma dan pecahan batuan tua (fragmen litik). Bahan lontaran ini tidak terpengaruh oleh arah tiupan angin saat terjadi letusan, karena berukuran besar.

Berdasarkan data geologi, morfologi dan pengamatan di lapangan, daerah-daerah yang diperkirakan dapat terkena material lontaran (bom gunungapi, pecahan lava), hujan lumpur (panas) dan fragmen batuan lainnya serta hujan abu lebat diperkirakan meliputi kawasan hingga radius 5 km dari pusat erupsi.

Berdasarkan letusan terdahulu, bahan lontaran produk G. Kelud umumnya mencapai 5 km untuk ukuran >2 cm hingga ukuran bom vulkanik, dan berjarak hingga 10 km dari pusat letusan untuk fragmen batuan berukuran kurang dari 2 cm.

Hujan abu lebat adalah material letusan berbutir kecil (pasir hingga abu) yang dilontarkan secara vertikal ke atas lalu jatuh kembali ke tanah, sedangkan yang berbutir lebih halus umumnya terbawa angin lebih jauh sesuai dengan arah tiupan angin pada saat letusan.

Kawasan Rawan Bencana-I (KRB-I)

Kawasan Rawan Bencana-I (KRB-I) adalah kawasan yang berpotensi terlanda lahar dan kemungkinan terkena penyimpangan aliran lahar. Apabila letusannya membesar, maka kawasan ini berpotensi tertimpa bahan jatuhan piroklastik berupa hujan abu dan lontaran batu (pijar). Kawasan Rawan Bencana-I (KRB-I) ini dibedakan menjadi dua bagian, terdiri dari:

a. Kawasan rawan bencana terhadap aliran massa berupa lahar, dan kemungkinan penyimpangan aliran lahar, terletak di sepanjang sungai/di dekat lembah sungai atau di bagian hilir sungai yang berhulu di daerah puncak.

b. Kawasan rawan bencana terhadap jatuhan piroklastik/lontaran berupa hujan abu tanpa memperhatikan arah tiupan angin (saat terjadi letusan), dan kemungkinan terkena lontaran batu (pijar). Kawasan Rawan Bencana-I ini diberi warna kuning, meliputi areal seluas 351

Pengembangan Model Pemanfaatan Penginderaan Jauh Pengembangan Model Pemanfaatan Penginderaan Jauh Pengembangan Model Pemanfaatan Penginderaan Jauh Pengembangan Model Pemanfaatan Penginderaan Jauh Untuk Pemetaan Cepat Daerah Terkena Bencana Erupsi Gunungapi Untuk Pemetaan Cepat Daerah Terkena Bencana Erupsi Gunungapi Untuk Pemetaan Cepat Daerah Terkena Bencana Erupsi Gunungapi Untuk Pemetaan Cepat Daerah Terkena Bencana Erupsi Gunungapi 28

km2 (35.100 ha). Apabila saat terjadi letusan/kegiatan gunungapi disertai dengan turun hujan lebat, maka masyarakat yang bertempat tinggal di dalam Kawasan Rawan Bencana-I (KRB-I) perlu meningkatkan kewaspadaan.

Kawasan Rawan Bencana Terhadap Aliran Massa

Daerah yang perlu waspada terhadap lahar umumnya terletak di dekat lembah atau bagian hilir sungai, sedangkan perluasannya sering terjadi terutama pada kelokan-kelokan sungai yang bertebing rendah. Kawasan rawan bencana terhadap aliran massa berupa lahar, dan kemungkinan penyimpangan aliran lahar (apabila terjadi letusan yang lebih besar dari 1990). Lahar/banjir yang mungkin terjadi di lereng dan kaki selatan akan melalui sungai K. Putih, K. Semut, dan K. Lekso. Unit-unit pemukiman yang berpotensi terlanda lahar di alurK. Putih, di antaranya adalah Kp. Leling, Purwosari, Sumberharjo, Mungklung, Tawang 1, Jeblog 1, Sonogunting, dan sebagian Kp. Kali Putih. Sedangkan di alur K. Semut, di antaranya adalah Kp. Lading 1, Babadan, Bogoangin, Kromasan 2, dan sebagian Kp. Sragi. Penyimpangan aliran lahar kemungkinan dapat melanda kawasan hulu dan cabangcabang K. Semut, K. Soso, K. Icir, dan K. Putih.

Sungai yang berpotensi dilalui lahar/banjir di lereng dan kaki selatan-baratdaya adalah K. Abab dan K. Jari. Pemukiman yang berpotensi dilanda lahar di kawasan ini adalah Kp. Karangrejo, Babadan, Tawangsari, Jurangmenjeng, Garum, Diren, Combong Gajah, Kuningan, dan sebagian Kp. Gaprang Dua. Penyimpangan aliran lahar kemungkinan dapat terjadi di daerah hulu dan lembah K. Abab dan K. Jari.

Sungai yang berpotensi dilalui lahar/banjir di lereng dan kaki baratdaya adalah K. Lahargedog, K. Bladak, dan K. Kajar. Kawasan yang berpotensi terlanda penyimpangan aliran laharr adalah di hulu K. Bladak. Sungai yang berpotensi dilalui lahar/banjir di barat adalah K. Petungkobong, sementara unit pemukiman yang mungkin terlanda lahar/banjir adalah Kp.Sumberurip, Sumberejo, Sindurejo, Lumpang, Kutukan, Japan, Jabalan, Larangan, Singosari, dan sebagian Kp. Kandat. Penyimpangan aliran lahar dapat terjadi dari K. Bladak ke K. Gedok dan K. Petung kobong.

Sungai yang berpotensi dilalui lahar/banjir di lereng baratlaut adalah K. Sumberagung, K. Toyoaning, K. Dermo, dan K. Puncu/K. Krinjing. Unit pemukiman yang mungkin terlanda lahar/banjir adalah Kp. Sagi, Lorejo, Brenggolo, Bangkok, Besuk, Wonosari, Bulupasar, sebagian Kp. Kranggan (melalui aliran K.Sumberagung); Kp.Sidomukti, Karangkletak, Nambakan, Rejosari, sebagian Kp.Tawangsari (melalui aliran K.Toyoaning); Kp. Listrikan, Karangnongko kidul, Dawuhan, Bolorejo, Wanoksian, Sitimerto,Semanding, dan sebagian Kp. Cangkring (melalui aliran K. Dermo); Kp. Lestari,Gadungan, Gedangsewu, Duluran, Talun, Gondosari, dan sebagian Kp. Mojoduwur (melalui aliran K. Puncu/K. Krinjing).

29 Pengembangan Model Pemanfaatan Penginderaan Jauh Pengembangan Model Pemanfaatan Penginderaan Jauh Pengembangan Model Pemanfaatan Penginderaan Jauh Pengembangan Model Pemanfaatan Penginderaan Jauh

Untuk Pemetaan Cepat Daerah Terkena Bencana Erupsi Gunungapi Untuk Pemetaan Cepat Daerah Terkena Bencana Erupsi GunungapiUntuk Pemetaan Cepat Daerah Terkena Bencana Erupsi Gunungapi Untuk Pemetaan Cepat Daerah Terkena Bencana Erupsi Gunungapi

Penyimpangan aliran lahar kemungkin bisa terjadi di sekitar hulu K. Ngobo, dan K. Puncu/K. Krinjing.

Sungai yang berpotensi dilalui lahar/banjir di lereng utara adalah K. Konto dengan sejumlah unit pemukiman, di antaranya adalah Kp. Sukorejo, Ngalik, Damarwulan, Pandeyan, Sambong, Besuk, dan sebagian Kp. Blereng. Penyimpangan aliran lahar kemungkin bisa terjadi di sekitar hulu K. Konto.

Kawasan Rawan Bencana Terhadap Bahan Lontaran Berdasarkan letusan 1990 menunjukan bahwa, bom volkanik dan bahan lontaran batu (pijar) lain bediameter >2 cm dapat mencapai jarak 5 km dari kawah pusat, dan bahan lontaran berdiameter lebih kecil dari 2 cm bisa mencapai jarak lebih dari 10 km dari

kawah pusat, sedangkan jatuhan abu letusan bisa mencapai jarak yang lebih jauh lagi. Apabila terjadi letusan kembali di kawah pusat G. Kelud (setelah beristirahat 14 tahun), maka skala letusannya bisa kecil, menengah atau besar. Besar/kecilnya skala letusan di masa mendatang, akan sangat bergantung kepada besar/kecilnya akumulasi energi yang dikumpulkan selama G. Kelud beristirahat. Untuk mengantisipasi hal tersebut maka sebaran bahan lontaran (berbutir lebih besar dari 2 cm) dibatasi pada radius 5 km dari pusat letusan, sedangkan untuk butir lebih halus (lebih kecil dari 2 cm) berupa pasir halus dan abu diperkirakan dapat mencapai jarak hingga 10 km dari pusat erupsi. Radius sebaran bahan lontaran bisa saja lebih besar lagi manakala skala erupsi G. Kelud lebih besar dari skala letusan 1990.

Pengembangan Model Pemanfaatan Penginderaan Jauh Pengembangan Model Pemanfaatan Penginderaan Jauh Pengembangan Model Pemanfaatan Penginderaan Jauh Pengembangan Model Pemanfaatan Penginderaan Jauh Untuk Pemetaan Cepat Daerah Terkena Bencana Erupsi Gunungapi Untuk Pemetaan Cepat Daerah Terkena Bencana Erupsi Gunungapi Untuk Pemetaan Cepat Daerah Terkena Bencana Erupsi Gunungapi Untuk Pemetaan Cepat Daerah Terkena Bencana Erupsi Gunungapi 30 Gambar 4-11. Peta Kawasan Rawan Bencana G. Kelud

31 Pengembangan Model Pemanfaatan Penginderaan Jauh Pengembangan Model Pemanfaatan Penginderaan Jauh Pengembangan Model Pemanfaatan Penginderaan Jauh Pengembangan Model Pemanfaatan Penginderaan Jauh

Untuk Pemetaan Cepat Daerah Terkena Bencana Erupsi Gunungapi Untuk Pemetaan Cepat Daerah Terkena Bencana Erupsi GunungapiUntuk Pemetaan Cepat Daerah Terkena Bencana Erupsi Gunungapi Untuk Pemetaan Cepat Daerah Terkena Bencana Erupsi Gunungapi

3.6. Gunungapi Sinabung

Dokumen terkait