• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mitigasi risiko adalah tindakan yang dapat dilakukan untuk mengurangi akibat dari risiko apabila risiko telah teridentifikasi, tindakan ini juga merupakan penanganan risiko sampai pada batas yang dapat diterima. Flanagan dan Norman (1993) ada 4 cara untuk melakukan mitigasi risiko antara lai :

1. Menahan Risiko (Risk Retention) yaitu tindakan menahan atau menerima risiko karena dampak dari risiko tersebut masih dalam batas yang dapat diterima, dalam arti kata bahwa konsekuensi dari risiko masih batas–batas yang dapat dipikul.

2. Mengurangi Risiko (Risk Reduction) yaitu dengan melakukan usaha–usaha atau tindakan untuk mengurangi konsekuensi dari risiko yang diperkirakan terjadi, walaupun masih ada kemungkinan risiko tidak sepenuhnya bisa dikurangi, tetapi masih pada tingkat konsekuensi yang dapat diterima.

3. Memindahkan Risiko (Risk Transfer) yaitu tindakan memindahkan sebagian atau seluruhnya kepada pihak lain yang mempunyai kemampuan untuk memikul atau mengendalikan risiko yang diperkirakan akan terjadi.

4. Menghindari Risiko (Risk Avoidance) yaitu tindakan menghindari konsekuensi risiko dengan menghindari aktivitas yang diperkirakan mempunyai tingkat kerugian atau konsekuensi yang sangat tinggi.

Sedangkan kepemilikan risiko dilakukan setelah risiko teridentifikasi dan diklasifikasikan. Alokasi ini didasarkan penilaian terhadap hubungan antara pihak – pihak yang terlibat dengan risiko tersebut. Untuk beberapa kasus lebih cocok untuk mengalokasikan risiko berdasarkan sifat risiko tersebut atau berdasarkan kemampuan atau ketidakmampuan suatu pihak untuk melakukan pekerjaan proyek yang spesifik. Prinsip – prinsip pengalokasian menurut Flanagan dan Nourman (1993) yaitu :

1. Pihak mana yang mempunyai kontrol terbaik terhadap kejadian yang menimbulkan risiko.

2. Pihak mana yang mampu menandatangani jika risiko tersebut muncul.

3. Pihak mana yang mampu mengambil tanggung jawab jika risiko tersebut tidak terkontrol.

4. Jika risiko tidak terkontrol oleh semua pihak, maka diasumsikan sebagai risiko bersama.

Jika risiko telah dialokasikan, maka semakin kecil kemungkinan timbulnya perselisihan antara pihak, sebanding dengan semakin sedikitnya risiko yang belum dialokasikan.

2.5. Manajemen Risiko Dalam Rencana Pemanfaatan Mata Air

Menurut Manual Rencana Keamanan Air-Tuntunan Manajemen Risiko untuk Pemasok Air Minum tahun 2009, upaya paling efektif untuk memastikan keamanan penyediaan air minum secara konsisten adalah melalui penilaian menyeluruh risiko dan

pendekatan manajemen risiko yang meliputi semua langkah dalam penyediaan air mulai dari pengambilan air sampai kepada konsumen, hal tersebut harus ada dalam Rencana Pemanfaatan Mata Air Metaum. Penilaian risiko juga dilakukan mulai rencana, kostruksi hingga operasional dan pemeliharaan. Langkah tersebut harus menghasilkan informasi yang cukup untuk mengetahui dimana letak kerentanan sistem terhadap situasi–situasi berbahaya, tipe bahaya tertentu, dan cara pengendaliannya. Hal sebagai berikut harus dijelaskan dalam sistem penyediaan air yang terdapat pada Rencana Pemanfaatan Mata Air Metaum yaitu :

 Standart kualitas air yang relevan.

 Sumber air termasuk aliran air hujan/proses isi ulang, dan jika memungkinkan, sumber alternatif dalam kejadian insiden.

 Perubahan yang diketahui dan yang dicurigai tetang kualitas sumber air sehubungan dengan cuaca dan kondisi lainnya.

 Setiap keterkaitan sumber–sumber dan kondisi–kondisi.  Rincian tempat pemakaian lahan ditempat pengambilan.  Titik pengambilan air.

 Informasi yang berhubungan dengan penyimpanan air.

 Informasi yang berhubungan dengan pengolahan air, termasuk proses dan bahan kimia atau bahan lain yang dimasukkan dalam air.

 Rincian mengenai bagaimana air didistribusikan termasuk jaringan dan penyimpanan.

 Penjelasan terhadap bahan yang kontak dengan air.  Pengenalan konsumen dengan penggunaan air.

Selain itu untuk mengidentifikasi bahaya dan kejadian berbahaya memerlukan penilaian informasi serta informasi prediktif berdasarkan data pengelolaan dan pengetahuan mengenai aspek tertentu pengolahan dan sistem penyediaan. Selain itu harus memperhitungkan faktor yang dapat membawa risiko yang tidak serta merta terlihat nyata seperti keletakan tempat pengolahan air di dataran tempat banjir (dimana tidak ada catatan mengenai banjir) atau umur pipa pada sistem distribusi (pipa yang tua lebih rentan terhadap fluktuasi tekanan air dibandingkan dengan yang baru). Bahaya– bahaya yang terjadi pada Rencana Pemanfaatan Mata Air Metaum dapat digolongkan mulai bahaya yang seringkali mempengaruhi tempat pengambilan air, bahaya yang terkait dengan pengolahan, bahaya serupa yang berhubungan dengan jaringan distribusi hingga bahaya serupa yang berhubungan dengan kebijakan konsumen, hal tersebut dapat dijelaskan pada tabel 2.7 – 2.10 sebagai berikut :

Tabel 2.7. Bahaya yang seringkali mempengaruhi tempat pengambilan air

No. Kejadian Berbahaya

(Sumber Bahaya)

Bahaya Terkait

(dan masalah yang perlu dipertimbangkan)

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Pola cuaca dan meteorologi. Variasi musim Geologi Agrikultur Alam liar

Penyimpanan air yang belum diolah

Banjir, perubahan yang cepat pada kualitas sumber air.

Perubahan pada kualitas sumber air.

Lubang–lubang resapan (jalan masuk air permukaan).

Penyebaran lumpur dan kotoran. Kontaminasi mikroba

Tumbuhnya alga dan racun Sumber : Deere dkk (2001)

Tabel 2.8. Bahaya yang terkait dengan pengolahan

No. Kejadian Berbahaya

(Sumber Bahaya)

Bahaya Terkait

(dan masalah yang perlu dipertimbangkan)

1.

2.

Segala bahaya disekitar tempat pengambilan air yang tidak terkendali/ dikurangi

Kemampuan pekerjaan

Seperti yang teridentifikasi di tempat pengambilan air

No. Kejadian Berbahaya (Sumber Bahaya)

Bahaya Terkait

(dan masalah yang perlu dipertimbangkan)

3. 4. 5. 6. 7. 8. pengolahan Kegagalan pengolahan Filter yang tersumbat Kedalaman media filter tidak sesuai

Keamanan/perusakan Kegagalan instrumentasi Banjir

Air tidak terolah

Pembuangan partikel tidak seluruhnya Pembuangan partikel tidak seluruhnya Kontaminasi / kehilangan pasokan Kehilangan kendali

Terhentinya / terbatasnya pengolahan Sumber : Deere dkk (2001)

Tabel 2.9. Bahaya serupa yang berhubungan dengan jaringan distribusi

No. Kejadian Berbahaya

(Sumber Bahaya)

Bahaya Terkait

(dan masalah yang perlu dipertimbangkan)

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13.

Segala bahaya disekitar tempat pengambilan air yang tidak terkendali/ dikurangi

Pipa utama pecah Fluktuasi tekanan Pasokan yang terputus-putus

Membuka/menutup katup Penggunaan material yang tidak diperkenan Akses pihak ketiga kepada hidran-hidran Sambungan-sambungan liar Pelayanan reservoir terbuka Pelayanan reservoir bocor Akses pelayanan reservoir yang tidak terlindungi

Keamanan/perusakan Lahan terkontaminasi

Seperti yang teridentifikasi di tempat pengambilan air

Jalan masuk kontaminasi Jalan masuk kontaminasi Jalan masuk kontaminasi

Deposit-deposit pengganggu berubah/berbalik arah masuknya air lama

Kontaminasi pasokan air Kontaminasi oleh aliran balik

Deposit-deposit pengganggu bertambah banyak

Kontaminasi oleh aliran balik Kontaminasi oleh alam liar Jalan masuk kontaminasi Kontaminasi

Kontaminasi

Kontaminasi pasokan air melalui tipe pipa yang salah

Tabel 2.10. Bahaya serupa yang berhubungan dengan kebijakan konsumen

No. Kejadian Berbahaya

(Sumber Bahaya)

Bahaya Terkait

(dan masalah yang perlu dipertimbangkan)

1.

2. 3. 4.

Segala bahaya disekitar tempat pengambilan air yang tidak terkendali/ dikurangi

Sambungan-sambungan liar

Pipa terbuat dari timah hitam

Pipa-pipa pelayanan terbuat dari plastik

Seperti yang teridentifikasi di tempat pengambilan air

Kontaminasi oleh aliran balik Kontaminasi timah hitam

Kontaminasi tumpahan minyak atau pelarut

Sumber : Deere dkk (2001)

Setelah diidentifikasi bahaya yang terjadi maka dilakukan pencatatan dalam cara-cara pengendalian atau disebut juga cara mitigasi yang berlaku saat ini dan yang akan digunakan. Risiko-risiko yang ada kemudian harus diperhitungkan ulang berdasarkan kemungkinan dan konsekuensinya, dengan memperhatikan cara-cara pengendalinya yang berlaku saat itu. Kemudian dilakukan proses validasi yang merupakan proses pengumpulan bukti kinerja cara-cara pengendalian. Untuk beberapa pengendalian, validasi memerlukan program pemantauan yang intensif untuk memperlihatkan kinerja sebuah pengendalian dalam kondisi normal dan dalam kondisi luar biasa. Selama pengoperasian, penting untuk memantau efektifitas cara-cara yang sudah divalidasikan sesuai dengan target-target yang sudah ditentukan atau yang disebut juga dengan nilai-nilai batas kritis.

Selanjutnya risiko-risiko harus ditimbang ulang dalam hal derajat kemunculan dan konsekuensi-konsekuensinya dengan memperhitungkan efektifitas tiap pengendalian. Cara-cara pengendalian harus dipertimbangkan bukan hanya untuk kinerja rata-rata jangka waktu yang lebih lama, namun juga dengan penekanan pada potensi mereka akan gagal atau menjadi tidak efektif dalam jangka waktu yang pendek.

Penting bahwa risiko-risiko signifikan yang tidak dikendalikan, diperhatikan sebagai risiko-risiko signifikan yang tersisa dalam sistem penyediaan air tesebut. Risiko - risiko juga harus diprioritaskan berdasakan kemungkinannya berdampak pada kapasitas sistem untuk menyalurkan air bersih. Risiko dengan prioritas tinggi akan memerlukan modifikasi sistem atau peningkatan untuk mencapai target-target. Berikut adalah cara pengendalian yang dilakukan terkait dengan bahaya–bahaya.

a. Cara-cara pengendalian yang biasa dilakukan terkait dengan bahaya pada tempat pengambilan air :

 Melarang akses ke sumber-sumber air

 Kepemilikan pengelola air dan pengawasan lahan sumber air  Perencanaan kendali

 Persetujuan dan komunikasi dengan organisasi-organisasi transpor  Penyimpanan air baku

 Menutupi dan melindungi mata air

 Kemampuan untuk menggunakan sumber air alternatif jika bahaya-bahaya menimpa satu sumber

 Terus menerus memantau pengambilan air dan sungai  Inspeksi-inspeksi lapangan

b. Cara-cara pengendalian yang biasa dilakukan terkait dengan bahaya pada pengolahan :

 Proses-proses pengolahan tervalidasi

 Pembatasan-pembatasan pengoperasian memakai alat alarm  Pemantauan terus menerus dengan dilengkapi alarm

c. Cara- cara pengendalian yang biasa dilakukan terkait dengan bahaya pada jaringan distribusi :

 Inspeksi-inspeksi reservoir secara reguler (eksternal dan internal)  Menutupi layanan terbuka reservoir-reservoir

 Peta-peta jaringan yang sudah diperbarui  Kebijakan dan prosedur pembelian  Prosedur-prosedur reparasi pipa besar

 Karyawan yang terlatih (kompetensi operator)  Keamanan hidran

 Pemantauan dan pencatatan tekanan air  Pipa-pipa yang terlindungi

 Pemasangan pagar, ujung-ujung pipa berkunci, alarm-alarm untuk penerobos ke reservoir-reservoir dan menara-menara

d. Cara-cara pengendalian yang biasa dilakukan terkait dengan bahaya pada bangunan konsumen :

 inspeksi bangunan

 Kendali-kendali sumbatan pada pipa-pipa  Saran untuk memasak/tidak menggunakan air

Hal tersebut diatas dilakukan pada waktu pra konstruksi maupun pada saat konstruksi. Pasca konstruksi yang dilakukan adalah melakukan pemantauan operasional. Pada pemantauan operasional dilakukan juga validasi serta pemantauan rutin. Yang dilakukan agar upaya pemantauan efektif dan jika ditemukan pelencengan, dapat dilakukan tindakan pada waktu yang tepat agar tidak mengganggu target yang sudah ditetapkan. Selain itu juga dilakukan pemeliharaan dan rencana perbaikan/peningkatan

jika pengendalian yang ada tidak efektif. Suatu rencana peningkatan atau perbaikan harus dikembangkan untuk menangani semua risiko yang belum terkendali dan belum dijadikan prioritas. Rencana peningkatan itu harus menentukan siapa yang bertanggung jawab untuk perbaikan-perbaikan dimaksud, sekaligus dilengkapi dengan kerangka waktu yang tepat untuk pengimplementasikan pengendalian-pengendalian ini.

Dokumen terkait