BAB IV ANALISIS PENELITIAN
B. Penyimpangan Sosial
2. Mitos dalam Semiotik Roland Barthes
Kata mitos berasal dari bahasa Yunani mythos yang berarti kata, ujaran, kisah tentang dewa-dewa. Dengan mengetahui mitos, kita dapat mempelajari bagaimana masyarakat yang berbeda menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar tentang dunia dan tempat bagi manusia di dalamnya. Kita dapat mengkaji mitos untuk mempelajari bagaimana orang-orang mengembangkan suatu sistem sosial khusus dengan banyak adat istiadat dan cara hidup, dan juga memahami secara lebih baik nilai-nilai yang mengikat para anggota masyarakat untuk menjadi suatu kelompok. Mitos dapat dibandingkan untuk mengetahui bagaimana kebudayaan dapat saling berbeda atau menyerupai satu sama lain, dan mengapa orang bertingkah laku seperti itu. Kita juga dapat mengkaji mitos sebagai kerangka referensi yang mendasari tidak hanya karya-karya besar di bidang arsitektur, sastra, musik, lukisan, dan seni pahat, tetapi juga hal-hal kontemporer seperti iklan dan program televisi.31
Mitos menurut Roland Barthes bukan berarti tentang sesuatu hal yang mistis atau bersifat supranatural, melainkan maksud mitos ini adalah konotasi yang berasal dari ideologi baru dari suatu penanda yang petandanya didapat oleh kesepakatan masyarakat berdasarkan kepercayaan dan kebudayaan mereka.
Barthes berpendapat cara kerja mitos yang yang paling penting adalah menaturalisasi sejarah. Hal ini menunjuk pada fakta bahwa mitos sesungguhnya merupakan produk sebuah kelas sosial yang telah meraih dominasi dalam sejarah
31
tertentu: makna yang disebarluaskan melalui mitos pasti membawa sejarah bersama mereka, namun pelaksanaannya sebagai mitos membuat mereka mencoba menyangkalnya dan menampilkan makna tersebut sebagai yang alami (natural), bukan bersifat historis atau sosial. Mitos memistifikasi atau mengaburkan asal-usul mereka dan hal tersebut dimensi politis atau sosial mereka.32
Mitos sebagai keluaran akhir dari praktek bahasa dapat dipahami sebagai produksi makna. Pada dasarnya semua hal dapat menjadi mitos, satu mitos timbul untuk sementara waktu dan tenggelam untuk waktu yang lain karena digantikan oleh mitos lainnya. Mitos menjadi pegangan atas tanda-tanda yang hadir dan menciptakan fungsinya sebagai penanda pada tingkatan yang lain. Mitos bukanlah tanda yang bersifat netral melainkan menjadi penanda untuk memainkan pesan-pesan tertentu yang bisa jadi berbeda sama sekali dengan makna asalnya. Meskipun begitu, kandungan makna mitologis tidaklah dinilai sebagai sesuatu yang salah, mitos selalu diartikan memiliki makna berseberangan dengan kebenaran, sering dikatakan bahwa penandaan seringkali memproduksi mitos.
Mitos adalah suatu wahana dimana suatu ideologi berwujud. Mitos dapat berangkat menjadi mitologi yang memainkan peranan penting dalam kesatuan-kesatuan budaya. Sedangkan Van Zoest menegaskan, siapapun bisa menemukan ideologi dalam teks dengan jalan meneliti konotasi-konotasi yang terdapat di dalamnya. Dalam pandangan Umar Yunus, mitos tidak dibentuk melalui penyelidikan, tetapi melalui anggapan berdasarkan observasi kasar yang digeneralisasikan oleh karenanya lebih banyak hidup dalam masyarakat. Ia
32
JohnFiske, Pengantar Ilmu Komunikasi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012), h.
mungkin hidup dalam gosip kemudian ia mungkin dibuktikan dengan tindakan nyata. Sikap kita terhadap sesuatu ditentukan oleh mitos yang ada dalam diri kita. Mitos ini menyebabkan kita mempunyai prasangka tertentu terhadap suatu hal yang dinyatakan dalam mitos.33
Untuk mengetahui atau mendeteksi mitos dapat diketahui dengan cara mengenal karakter-karakter mitos seperti yang dikatakan Barthes sebagai berikut :
1. Tautologi, Suatu pendefinisian dari suatu pernyataan yang tidak dapat diperdebatkan lagi, misalnya “karena dari sananya sudah begitu” isi dari pernyataan tersebut telah direduksi menjadi penampilan. Sebagai contoh lain adanya suatu pernyataan pernyataan hampa seperti “Midnight’s Summer Dream karya Shakespere“ tidak mengatakan apa-apa tetapi mengandung implikasi lainnya seperti prestise karena dalam pernyataan itu terdapat nama Shakespere.
2. Identifikasi, Perbedaan dan keunikan direduksi menjadi satu identitas fundamental. Misalnya: “semua agama adalah sama” atau sama sekali diasingkan dibuat agar tidak dimengerti.
3. Neither-norism (bukan ini bukan itu), Orang yang menganut opini dalam posisi di tengah tidak berani memilih/memihak.
4. Mengkuantitaskan yang kualitas, Kualitas direduksi ke kuantitas, semua tingkah laku manusia, realitas sosial dan politik direduksikan kepada pertukaran nilai kuantitas. Sebagai contoh misalnya
33
Indiwan Seto Wahyu Wibowo, Semiotik: Aplikasi Praktis Bagi Penelitian dan Penulisan
Skripsi Mahasiswa Ilmu Komunikasi, (Tangerang: Wisma Tiga Dara Perum Cimone Permai, 2009), h. 20.
kesuksesan sebuah karya seni jika menghasilkan banyak uang, demikian pula untuk mengukur kesuksesan seorang aktor atau aktris. Masalah besar seperti kemiskinan direduksi menjadi angka-angka belaka.
5. Privatisasi Sejarah, Mitos membuang arti sejarah yang sebenarnya, sejarah hanya diperuntukkan sajian tamu/pejabat misalnya objek seni untuk turis, atau sebagai pertunjukan.34
Semua fenomena bisa dikatakan sebagai mitos selama diutarakan dalam bentuk wacana. Artinya, orang menuturkan tentang pohon dapat dibuat dalam berbagai macam versi. Pohon yang dikatakan oleh kelompok lingkungan tertentu bukan saja sebagai objek tetapi pohon mempunyai makna luas, psikologi, sakral, pelestarian dan seterusnya. Dalam arti pohon diadaptasi untuk suatu jenis konsumen, dengan kerangka literatur yang mendukung dan imaji-imaji tertentu yang difungsikan untuk keperluan sosial yang ditambahkan pada objek murni.
Adapun ciri-ciri mitos menurut Roland Barthes, yaitu :
1. Deformatif. Barthes menerapkan unsur-unsur Saussure menjadi form
(signifier), concept (signified). Ia menambahkan signification yang merupakan hasil dari hubungan kedua unsur tadi. Signification inilah yang menjadi mitos yang mendistorsi makna sehingga tidak lagi mengacu pada realita yang sebenarnya. Mitos tidak disembunyikan, mitos berfungsi untuk mendistorsi, bukan menghilangkan.
34
Tommy Christomy dan Untung Yuwono, Semiotik Budaya, (Depok: Universitas
2. Intensional. Mitos merupakan salah satu jenis wacana yang dinyatakan secara intensional. Mitos berakar dari konsep historis. Pembacalah yang harus menentukan mitos tersebut.
3. Motivasi. Bahasa bersifat arbitrer, tetapi kearbitreran itu mempunyai batas, misalnya melalui afiksasi, terbentuklah kata-kata turunan seperti baca, membaca, dibaca, terbaca, pembacaan. Sebaliknya, makna mitos tidak arbriter, selalu ada motivasi dan analogi. Penafsir dapat menyeleksi motivasi dari beberapa kemungkinan motivasi. Mitos bermain atas analogi antara makna dan bentuk. Analogi ini bukan sesuatu yang alami, tetapi bersifat historis.35
Pengertian mitos dalam konteks mitologi-mitologi lama mempunyai pengertian suatu bentukan dari masyarakat yang berorientasi pada masa lalu atau dari bentukan sejarah yang bersifat statis, kekal. Mitos dalam pengertian lama identik dengan sejarah, bentukan masyarakat pada masanya.
Mitos merupakan suatu bentuk pesan atau tuturan yang diyakini kebenarannya tetapi tidak dapat dibuktikan. Mitos bukan konsep atau ide tetapi merupakan suatu cara pemberian arti. Mitos adalah suatu jenis tuturan, namun bukan sembarang tuturan. Suatu hal yang harus diperhatikan bahwa mitos adalah suatu sistem komunikasi, yakni suatu pesan. Tetapi mitos tidak ditentukan oleh objek pesan melainkan dengan cara menuturkan pesan tersebut, misalnya dalam mitos, bukan hanya menjelaskan tentang objek pohon secara kasat mata, tetapi yang penting adalah cara menuturkan tentang pohon tersebut.
35
Nawiroh Vera, Semiotik dalam Riset Komunikasi, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2014), h.
Bahasa 1. Penanda 2. Petanda 3. Tanda
Mitos I. Penanda II. Petanda
III. Tanda Gambar 2
Second-Order Semiological System
Menurut Barthes di dalam mitos terdapat dua sistem semiologi, sistem pertama adalah bahasa, dan sistem kedua adalah mitos itu sendiri. Mitos dalam hal ini adalah isi pesan yang terdapat pada proses pemaknaan kedua (konotasi). Sehingga secara detail, mitos adalah isi (content) pada sistem pemaknaan kedua, sedangkan konotasi adalah bentuk dari sistem pemaknaan kedua itu sendiri. Jadi, ketika suatu tanda yang memiliki makna konotasi kemudian berkembang menjadi makna denotasi, maka makna denotasi tersebut akan menjadi mitos. Melalui pemahaman semiotik mitos inilah yang nanti akan dijadikan cara untuk memahami makna yang terkandung dalam suatu tanda.
40