• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS PENELITIAN

B. Penyimpangan Sosial

1. Pengertian Semiotik

Semiotik berasal dari kata Yunani, yaitu: semeion yang berarti tanda. Semiotik atau penyelidikan simbol-simbol, membentuk tradisi pemikiran yang penting dalam teori komunikasi. Tradisi semiotik terdiri atas sekumpulan teori tentang bagaimana tanda-tanda merepresentasikan benda, ide, keadaan, situasi, perasaan, dan kondisi diluar tanda-tanda itu sendiri. Penyelidikan tanda-tanda tidak hanya memberikan cara untuk melihat komunikasi, melainkan memiliki pengaruh yang kuat pada hampir semua perspektif yang sekarang diterapkan pada teori komunikasi.21

20

Abu Mujahidah al-Ghifari, Mitos dan Khurafat dalam Pandangan Islam, 2014,

(mimbarhadits.wordpress.com) diakses pada hari kamis, 27 Nopember 2014, pada pukul 08.45 WIB

21

Stephen W. Littlejohn dan Karen A. Foss, Teori Komunikasi: Theories of Human

Secara sederhana semiotik adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda-tanda. Semiotik mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti.22 Konsep dasar yang menyatukan semiotik adalah tanda yang didefinisikan sebagai stimulus yang menandakan atau menunjukkan beberapa kondisi lain seperti ketika asap menandakan adanya api. Konsep dasar yang kedua adalah simbol yang biasanya menandakan tanda yang kompleks dengan banyak arti termasuk arti yang sangat khusus. Beberapa memberikan perbedaan yang kuat antara anda dan simbol, tanda dalam realitasnya memiliki referensi yang jelas terhadap sesuatu, sedangkan simbol tidak. Namun para ahli lainnya melihat sebagai tingkat-tingkat istilah yang berbeda dalam kategori yang sama. Dengan perhatian pada tanda dan simbol, semiotik menyatukan kumpulan teori-teori yang sangat luas yang berkaitan dengan bahasa, wacana, dan tindakan-tindakan nonverbal.23

Semiotik menurut Berger memiliki dua tokoh, yakni Ferdinand de Saussure (1857-1913) dan Charles Sander Peirce (1839-1914). Kedua tokoh tersebut mengembangkan ilmu semiotik secara terpisah dan tidak mengenal satu sama lain. Saussure di Eropa dan Peirce di Amerika Serikat. Latar belakang keilmuan Saussure adalah linguistik, sedangkan Peirce filsafat. Saussure menyebut ilmu yang dikembangkannya semiologi (semiology).

Menurut Ferdinand De Saussure semiotik dibagi menjadi dua bagian (dikotomi) yaitu penanda (signifier) dan pertanda (signified). Penanda dilihat sebagai bentuk/wujud fisik dapat dikenal melalui wujud karya arsitektur, sedang

22

Rahmat Kriyantono, Teknik Praktis Riset Komunikasi, (Jakarta: Kencana Prenada Media

Group, 2006), Cet. 1, h. 262 23

pertanda dilihat sebagai makna yang terungkap melalui konsep, fungsi dan/atau nilai-nlai yang terkandung didalam karya arsitektur. Eksistensi semiotik Saussure adalah relasi antara penanda dan petanda berdasarkan konvensi, biasa disebut dengan signifikasi. Semiotik signifikasi adalah sistem tanda yang mempelajari relasi elemen tanda dalam sebuah sistem berdasarkan aturan atau konvensi tertentu. Kesepakatan sosial diperlukan untuk dapat memaknai tanda tersebut. Menurut Saussure, tanda terdiri dari: Bunyi-bunyian dan gambar, disebut signifier atau penanda, dan konsep-konsep dari bunyi-bunyian dan gambar, disebut signified. Saussure mengembangkan bahasa sebagai suatu sistim tanda. Semiotik dikenal sebagai disiplin yang mengkaji tanda, proses menanda dan proses menandai. Bahasa adalah sebuah jenis tanda tertentu. Dengan demikian dapat dipahami jika ada hubungan antara linguistik dan semiotik.24

Memahami teori Saussure, ada makna denotatif dan konotatif dalam linguistik. Denotasi adalah hubungan yang digunakan didalam tingkat pertama pada sebuah kata yang secara bebas memegang peranan penting dalam ujaran. Makna denotasi bersifat langsung, yaitu makna khusus yang terdapat dalam sebuah tanda, dan pada intinya dapat disebut sebagai gambaran sebuah pertanda.25

Sedangkan makna konotatif adalah suatu jenis makna di mana stimulus dan respon mengandung nilai-nilai emosional. Makna konotatif sebagian terjadi karena pembicara ingin menimbulkan perasaan setuju-tidak setuju, senang-tidak senang, dan sebagainya pada pihak pendengar.26 Dalam makna konotatif, orang yang tersenyum bisa berarti sebagai kesenangan dan kebahagiaan atau sebaliknya, bisa

24

Alex Sobur, Analisis Teks Media, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), Cet. 6, h.

125. 25

Alex Sobur, Semiotik komunikasi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), Cet. 2, h.

263. 26

saja tersenyum itu diartikan sebagai ekspresi sindiran atau penghinaan terhadap orang lain.

Dalam konteks ini, ketika kepercayaan masyarakat yang disebut dengan mitos dipandang sebagai produk kebudayaan, maka penting untuk melihat bagaimana masyarakat memproduksi makna melalui praktik bahasanya. Adapun Roland Barthes, seorang ahli semiotik yang mengembangkan teori Saussure, jika Saussure hanya berhenti di pengertian konotatif, Roland Barthes meneruskan ke tahap kedua konotatif yaitu mitos. Teori semiotik Barthes hampir secara harfiah diturunkan dari teori bahasa menurut de Saussure. Dalam semiotik, dibalik bahasa (mitos) seringkali terkandung “sesuatu” yang misterius. Dan semiotik dipercaya sebagai salah satu metode yang digunakan untuk membantu melacak keberadaan misteri tersebut.

Barthes mengembangkan model dikotomis penanda-petanda menjadi lebih dinamis, ia mengemukakan bahwa dalam kehidupan sosial budaya penanda adalah “ekspresi” (E) tanda, sedangkan petanda adalah “isi” (dalam bahasa Prancis

contenu (C)). Jadi, sesuai dengan teori de Saussure, tanda adalah “relasi” (R) antara E dan C. Ia mengemukakan konsep tersebut dengan model E-R-C.27

Konotasi bagi Barthes Justru mendenotasikan sesuatu hal yang ia nyatakan sebagai mitos, dan mitos ini mempunyai konotasi terhadap ideologi tertentu. Tanda konotatif tidak hanya memiliki makna tambahan, namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatif yang menjadi penyebab keberadaannya. Tambahan ini merupakan pemikiran Barthes terhadap semiologi Saussure yang hanya berhenti pada penandaan pada lapis pertama atau pada tataran denotatif.

27

Benny H. Hoed, Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya, (Depok: Komunitas Bambu,

Dengan membuka wilayah pemaknaan konotatif, seorang pembaca teks dapat memahami penggunaan gaya bahasa kiasan dan metafora yang itu tidak dapat dilakukan pada level denotatif. Lebih dari itu, disamping gagasannya yang dapat dimanfaatkan untuk menganalisis mitos, semiotik konotasi ala Barthes ini kemungkinan penggunaannya untuk wilayah-wilayah lain seperti pembacaan terhadap karya sastra dan fenomena budaya kontemporer atau budaya pop. Bahkan Barthes mengembangkan ide-ide Saussure pada semua aspek kehidupan sosial. Bagi Barthes, semiologi bertujuan untuk memahami sistem tanda, apapun substansi dan batasannya, sehingga seluruh fenomena sosial yang ada dapat ditafsirkan sebagai tanda.

Sebagaimana pandangan Saussure, Barthes juga meyakini bahwa hubungan antara penanda dan pertanda tidak terbentuk secara alamiah, melainkan bersifat

arbitrer atau sewenang-wenang. Bila Saussure hanya menekankan pada penandaan dalam tataran denotatif, maka Roland Barthes menyempurnakan semiologi Saussure dengan mengembangkan sistem penandaan pada tingkat konotatif. Barthes juga melihat aspek lain dari penandaan, yaitu mitos yang menandai suatu masyarakat.28

Berikut adalah peta tanda Roland Barthes: 1. Signifier

(Penanda)

2. Signified (Petanda) 3. Denotative Sign (Tanda Denotatif)

Connotative Signifier Connotative Signified (Penanda Konotatif) (Petanda Konotatif)

Connotative Sign (Tanda Konotatif)

28

Gambar 1 (Peta Tanda Roland Barthes)

Sumber: Paul Cobey & Litza Jansz, Introducing Semiotics, NY: Totem Books, 1999, h. 51

Dari peta Barthes di atas terlihat bahwa tanda denotatif (3) terdiri atas penanda dan pertanda. Akan tetapi, pada saat bersamaan, tanda denotatif adalah juga penanda konotatif. Denotasi dalam pandangan Barthes merupakan tataran pertama yang maknanya bersifat tertutup. Tataran denotasi menghasilkan makna yang eksplisit, langsung dan pasti. Denotasi merupakan makna yang sebenar-benarnya, yang disepakati bersama secara sosial, yang rujukannya pada realitas.29

Dalam buku Mythologies,Barthes menjelaskan konotasi tentang minuman anggur (le vin) sebagai minuman totem (boisson-totem), yakni minuman yang berkonotasi keprancisan (Frenchness). Bagi masyarakat Prancis, minuman anggur bukan sekedar minuman beralkohol, tetapi minuman yang merupakan minuman yang dirasakan sebagai pemameran kesenangan (etalement de’un plaisir), bukan sekadar obat pekasih (philtre), tetapi suatu tindakan minum yang berefek jangka panjang dalam kehidupan sosial, sedangkan tindakan minumnya mempunyai nilai retoris.30

Pada penjelasan Barthes diatas, ia menjelaskan tentang minuman anggur yang memiliki makna denotasi sebagai minuman beralkohol yang terbuat dari hasil fermentasi buah anggur. Makna konotasinya adalah minuman anggur tersebut bukanlah sekedar minuman alkohol biasa, namun minuman tersebut merupakan simbol dari pemameran kesenangan atau perayaan sehingga konotasi minuman anggur berakar pada kebudayaan Prancis selama berabad-abad dan menjadi mitos.

Di sini dapat dikatakan bahwa Makna denotatif adalah makna yang digunakan untuk menunjukkan secara jelas tentang sesuatu yang memiliki arti sebenarnya dari sebuah tanda. Sedangkan makna konotatif adalah makna yang

29

Ibid., hal 28.

30

Benny H. Hoed, Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya, (Depok: Komunitas Bambu,

memiliki arti tambahan dari makna denotatif yang merupakan hasil dari pikiran yang mengacu pada tradisi, emosional maupun nilai rasa pada seseorang terhadap sesuatu, baik berupa kata ataupun benda.

Dokumen terkait