• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mitos adalah sebuah kisah (a story) yang melalui sebuah budaya menjelaskan dan memahami beberapa aspek dari realitas (Fiske, 1990). Mitos membantu kita untuk memaknai pengalaman-pengalaman kita dalam satu konteks budaya tertentu. Barthes (dalam Birowo, 2004: 60) berpendapat bahwa mitos melayani fungsi ideologis naturalisasi. Artinya mitos melakukan naturalisasi budaya, dengan kata lain, mitos membuat budaya dominan, nilai-nilai sejarah, kebiasaan dan keyakinan yang dominan terlihat ‘natural’, ‘normal’, ‘abadi’, ‘masuk akal’, ‘objektif’ dan ‘benar’ secara apa adanya.

Dalam kajian tentang kebudayaan, teori konotasi dikembangkannya menjadi teori tentang mitos. Mitos dalam pengertian umum adalah cerita suatu bangsa tentang dewa dan pahlawan zaman dahulu, mengandung penafsiran tentang asal-usul semesta alam, manusia, dan bangsa tersebut mengandung arti mendalam dan diungkapkan dengan cara gaib. (KBBI, 1995). Mitos (Webster’s Dictionary) adalah kepercayaan populer atau tradisi yang telah tumbuh berkembang di sekitar masyarakat atau suatu hal.

Barthes mengatakan bahwa mitos merupakan sistem semiologis (semiotika), yakni sistem tanda-tanda yang dimaknai manusia. Pemaknaannya bersifat arbitrer (sewenang-wenang – sesuka-suka) sehingga terbuka untuk berbagai kemungkinan. Namun, dalam kebudayaan massa (la culture de masse) konotasi terbentuk oleh kekuatan mayoritas atau kekuasaan yang memberikan konotasi tertentu pada suatu hal, sehingga lama kelamaan menjadi mitos.

Pada bukunya, Mythologies (1957), ia mengupas dan membuktikan bahwa mitos adalah hasil konotasi. Pembuktiannya adalah dengan melakukan pembongkaran semiologi terhadap sejumlah gejala kebudayaan massa (baca: makna yang sudah membudaya), yakni yang sudah menjadi mitos dan memiliki makna khusus sesuia dengan konotasi yang diberikan oleh komunitas tersebut. Buku Mythologies (1957) yang ditulis oleh Roland Barthes mempunyai tujuan membongkor mitos, serta melakukan kritik ideologi atas bahasa budaya massa, melakukan pembongkaran semiologis atas bahasa tersebut untuk memahami dasar pemaknaa yang sudah mengakar atas fonomena budaya.

Mitos merupakan bagaimana kebudayaan menjelaskan atau memahami beberapa aspek tentang realitas atau gejala alam. Pada signifikasi tahap kedua yang berhubungan dengan isi, tanda bekerja melalui mitos (myth). Mitos merupakan produk kelas sosial yang sudah mempunyai suatu dominasi. (Sobur, 2001: 128). Mitos menurut Susilo (2000, 204) adalah suatu wahana dimana ideologi berwujud. Mitos dapat berangkai menjadi mitologi yang memainkan peranan penting dalam kesatuan-kesatuan budaya.

Roland Barthes (dalam Christomy, 2004: 94) juga melithat makna yang lebih dalam tingkatnya, tetapi lebih bersifat konvensional, yaitu makna-makna yang berkaitan dengan mitos. Mitos dalam pemahaman semiotika Roland Barthes adalah pengodean makna dan nilai-nilai sosial (yang sesunggunya arbitrer atau konotatif) sebagai sesuatu yang dianggap alamiah

Pada umumnya mitos adalah suatu sikap lari dari kenyataan dan mencari ‘perlindungan alam khayal’. Sebaliknya dalam dunia politik, mitos kerap dijadikan alat untuk menyembunyikan maksud-maksud yang sebenarnya, yaitu membuka jalan, mengadakan taktik untuk mendapat kekuasaan dalam masyarakat yang bersangkutan dengan ‘menglegalisasikan’ sikap dan jalan anti sosial. Tujuan dari suatu mitos politik adalah selalu kekuasaan dalam , karena dianggap bahwa tanpa kekuasaan keadaan tidak dapat diubahnya (Susanto, 1985: 220). Demikianlah mitos mudah menjadi “alat kekuasaan” yang sukar dibuktikkan kebenarannya selama tujuan mitos belum menjadi kenyataan, maka apa yang dijanjikan oleh mitos masih saja dapat diproyeksikan ke masa “lebih depan” lagi (Sobur, 2004: 223 - 224).

Mitos dalam pandangan Lappe & Collins (Rahardjo, 1996: 192) dimengerti sebagai sesuatu yang oleh umum dianggap benar, tetapi sebenarnya bertentangan “dengan fakta”, sekalipun perlu dicatat bahwa penafsiran fakta oleh Lappe & Collins itu belum tentu benar atau disetujui oleh masyarakat ilmiah pada umumnya. Apa yang disebut dengan Lappe & Collins sebagai mitos adalah jenis “mitos modern”. Dalam bukunya Mythology (1991) Ferdinand Comte memang membagi mitos menjadi dua macam : mitos tradisional dan mitos modern. Mitos modern itu dibentuk oleh dan mengenai gejala-gejala politik, olah raga, sinema, televisi, dan pers (Rahardjo dalam Sobur, 2004: 224).

Mitos (myth) adalah suatu jenis tuturan (a type of speech), sesuatu yang hampir mirip dengan “representasi kolektif” di dalam sosiologi Durkheim (Budiman, 1999: 76). Barthes (dalam Sudibyo, 2001: 245) mengartikan mitos sebagai :

“Cara berpikir kebudayaan tentang sesuatu sebuah cara mengonseptualisasikan atau memahami sesuatu hal. Barthes menyebut mitos sebagai rangkaian konsep yang saling berkaitan.”

Mitos adalah sistem komunikasi, sebab ia membawakan pesan. Maka, mitos bukanlah objek. Mitos bukan pula konsep atau suatu gagasan, melainkan suatu cara signifikasi, suatu bentuk. Lebih jauhnya lagi, mitos tidak ditentukan oleh objek ataupun gagasan, melainkan cara mitos itu disampaikan. Mitos tidak hanya berupa pesan yang disampaikan dalam bentuk verbal (kata-kata lisan maupun tulisan), namun juga dalam berbagai bentuk lain atau campuran antara bentuk verbal dan non verbal. Misalnya dalam bentuk film, lukisan, fotografi, iklan, dan komik (Sobur, 2004: 224).

Claude Levi-Strauss, seorang antropolog strukturalis menyebutkan bahwa satuan paling dasar dari mitos adalah mytheme. Mytheme ini tidak bisa dilihat secara terpisah dari bagian lainnya pada satu mitos (Shri Ahimsa-Putra, 2001 : 97). Hubungan antara mytheme dengan mythemelainnya membetuk satu rangkaian narasi yang kemudian menjadi kepercayaan budaya tertentu. Dalam membaca mitos menggunakan pembahasan tatanan penandaan Barthes, tahap ini masuk ke ranah denotasi. Sebuah foto Mariah Carey. Pada tahap denotasi ini adalah foto dari seorang penyanyi dari Amerika Serikat Mariah Carey. Pada tahap konotasi kita menghubungkan foto ini dengan keglamoran bintang pop Amerika Serikat, artis cantik, seksi. Semua ini bisa kita dapatkan dengan membaca teks-teks lain seperti video klip, film, maupun rekaman. Dari perspektif yang lain kita juga melihat kasus ketergantungan terhadap narkoba dan perceraian. Pada tingkat mitos kita pahami bahwa tanda ini bercerita tentang keindahan, gemerlap budaya popular, kebebasan berekspresi, kecantikan abadi, kesuksesan, feminitas, seksualitas. Masing-masing cerita tersebut merupakan rangkaian dan bagian dari

mitos atau mytheme. Mytheme didapat dari konteks budaya dan teks lain yang menyertai tokoh atau subjek.

2.2.5 Komunikasi Massa

Pengertian Komunikasi Massa menurut pendapat ahli Tan dan Wright (dalam Elvinaro dkk 2004: 1) adalah bentuk komunikasi yang menggunakan saluran (media) dalam menghubungkan komunikator dan komunikan secara massal, berjumlah banyak, bertempat tinggal yang jauh (terpencar), sangat heterogen, dan menimbulkan efek tertentu.

Terdapat perbedaan yang besar dalam public speaking atau retorika dengan komunikasi massa, walaupun proses komunikasinya berjalan secara masif dan komunikannya pada umum sangat heterogen. Komunikasi massa menggunakan sebuah media massa, perbedaan tersebut yang menjadikan komunikasi massa lebih luas cakupan penyebaran informasi. Media massa disini terdiri dari berbagai macam, elektronik (televisi, radio, dan internet) dan cetak (majalah, surat kabar, dan buletin).

Pendapat yang lebih rinci lagi dikemukakan oleh Gerbner (dalam Elvinaro dkk 2004: 1), komunikasi massa mempunyai pengertian, “mass communication is the technology and institutionally based production and distribution of the most broadly shared continuous flow messages in industrial societies.” (Komunikasi massa adalah produksi dan distribusi yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontinyu serta paling luas dimiliki orang dalam masyarakat industri. Dari pengertian Gerbner diatas kita dapat menarik kesimpulan mengenai beberapa hal, proses untuk menghasilkan sebuah bentuk pesan yang masif mewajibkan mengunakan sebuah lembaga baik itu lembaga pers atau stasiun televisi. Kedua lembaga komunikasi massa tersebut dimiliki masyarakat industri yang menggunakan teknologi canggih dalam melakukan penyebaran informasinya, seperti media televisi yang menggunakan satelit atau cetak menggunakan teknologi penerbangan. Adapun penyebaran informasi tersebut didistribusikan kepada khalayak tertentu secara tetap, misalnya setiapa satu jam sekali (media televisi), harian (cetak), dwi mingguan atau bulanan (majalah).

Sehingga dari pengertian – pengertian diatas kita dapat mengambil beberapa ciri dari komunikasi massa. Ciri yang pertama komunikator terlembagakan, berdasarkan pendapat Wright komunikasi masa itu melibatkan lembaga, dan komunikatornya bergerak dalam organisasi yang kompleks, seperti sebuah lembaga pers dalam menghasilkan sebuah koran. Lembaga pers terdiri dari empat bagian, redaksi, perusahaan, litbang (penelitian dan pengembangan), dan distribusi. Jika berpikir sederhana seperti ini, dalam mencari berita (meliput berita) reporter bersama fotografer turun ke lapangan. Setelah itu berita ditulis kemudian diperiksa kembali oleh redaktur liputan. Sebelum turun ke masyarakat, berita tersebut diperiksa berulang-ulang hingga akhirnya berita tersebut dapat dinikmati oleh masyarakat. Bagaimana jika komunikatornya bukan lembaga? Adapun ciri kedua adalah pesan bersifat umum atau terbuka, dalam hal ini pesan ditujukan untuk semua orang dan tidak ditujukan oleh sekelompok tertentu, yang paling penting pesan ditujukan untuk kepentingan masyarakat luas. Ciri selanjutnya komunikan (pengintepretasi) anonim dan heterogen. Anonim disini komunikator tidak mengenal secara langsung penerima pesan yang akandiberikan informasi. Heterogen karena pesan ditujukan untuk tidak ke kalangan tertentu, misal menengah ke atas, tetapi untuk kepentingan masyarakat dari berbagai macam lapisan, suku, budaya dan bahkan agama. Ciri keempat adalah komunikasi bersifat satu arah, disini mempunyai pengertian komunikasi massa menggunakan media sehingga tidak dapat melakukan kontak langsung. Komunikator aktif mengirimkan pesan dan komunikan pun aktif menerima pesan, tetapi tidak dapat melakukan sebuah dialog interaktif. Ciri yang terakhir adalah umpan balik yang tertunda, disini proses komunikasi berjalan secara resiprokal (timbal balik), namun timbal baliknya tidak dapat diketahui secara langsung, adapun feedback -nya dilihat dari suara pembaca, melalui telepon interaktif, dan melalui surat elektronik.

2.3Model Teoritik

Model teoritik merupakan dasar pemikiran dari peneliti yang dilandasi dengan konsep dan teori yang relevan guna memecahkan masalah penelitian. Hal ini dimaksudkan agar peneliti mampu menjelaskan operasional fenomena penelitian kualitatif dengan terstruktur dan efektif.

Bagan Model Teoritik Konstruksi Makna dalam Analisis Semiotika Hiperrealitas Simbol Pemberontakan Salam Tiga Jari dalam Trilogy Film

Hunger Games

Objek Penelitian

Scene yang menampilkan simbol pemberontakan salam tiga jari dalam trilogy

film Hunger Games

Semiotika Roland Barthes

- Analisis Leksia dan 5 Kode Pembacaan

- Denotasi dan Konotasi

-Pemaknaan dalam scene

- Pemaknaan dalam Simbol Pemberontakan salam tiga jari

Dokumen terkait