Proses eksekusi
1. MKSS Melakukan Audit Sosial di India
Organisasi yang menjadi cikal-bakal MKSS dibentuk di India pada 1991 menyusul perebutan tanah antara seorang tuan tanah feodal dan kaum petani dan buruh di negara bagian pedesaan, Rajasthan.
Belakangan, organisasi ini mengalihkan perhatiannya pada kegagalan pemerintah untuk membayarkan upah minimum yang diwajibkan oleh undang-undang kepada para buruh yang bekerja untuk program pekerjaan umum. Karena penolakan pembayaran upah tersebut dikaitkan langsung dengan ketidaktransparanan pemerintah (yang memberikan peluang bagi para pejabat pemerintahan untuk
menyalahgunakan dana yang dimaksudkan untuk membayar upah), MKSS melancarkan kampanye massa yang menuntut pengundangan hak untuk mendapatkan informasi, juga hukum untuk melindungi hak-hak buruh miskin. MKSS dipimpin oleh sebuah komite pusat dan didukung oleh sepuluh orang staf purnawaktu dan dua orang staf paruhwaktu. Anggotanya ribuan orang, terdiri dari petani dan buruh di
PROFIL ORGANISASI
a. Pendahuluan
Dalam bulan April 2006, MKSS bersama sejumlah LSM India lainnya mengorganisir audit sosial di distrik Dungarpur, Rajasthan. (Audit sosial adalah proses partisipatif yang mewadahi anggota masyarakat memantau pelaksanaan program-program pemerintah di dalam lingkungan mereka.) Hampir 800 orang dari berbagai latar belakang turut berpartisipasi. Audit sosial tersebut berfokus pada dana pro-gram yang dibelanjakan di Dungarpur sesuai National Rural Employ-ment Guarantee Act (NREGA) atau Undang-Undang Jaminan Tenaga Kerja Desa Nasional, yang baru-baru ini diberlakukan di India.
Undang-undang ini memberikan hak bagi setiap rumah tangga desa untuk bekerja selama 100 hari bagi pemerintah dengan menerima upah minimum.
Pada awal proyek tersebut, semua peserta mengikuti orientasi selama dua hari, yang meliputi penerangan tentang manajemen NREGA, dokumen-dokumen pemerintah yang mencatat pembayaran yang dilakukan dengan program NREGA, serta teknik auditing sosial.
Orientasi tersebut juga membantu peserta mengembangkan
keterampilan berkomunikasi yang dapat dimanfaatkan selama audit sosial berlangsung, antara lain penggunaan lagu, pertunjukan boneka, dan pertunjukan drama di jalanan.
Selanjutnya, para peserta dibagi menjadi 31 kelompok yang masing-masing terdiri dari 20—25 orang dan dibekali dengan “kotak audit sosial”. Dengan mengenakan turban warna-warni, mengacung-acungkan boneka dan bendera, bersenjatakan megafon, dan
menyandang tas-tas yang dipenuhi daftar nama buruh dan gaji yang diterima mereka, para peserta berpencar ke seluruh penjuru distrik.
Selama tujuh hari berikutnya, para peserta mengunjungi setiap desa dan tempat kerja yang menjalankan program-program NREGA. Kira-kira ada 140.000 orang buruh yang mereka jumpai tengah
membantu pembangunan jalan raya, bendungan, sumur, dan lain-lain. Dengan arahan NREGA, para peserta mendiskusikan
pelaksanaan program bersama buruh-buruh tersebut, dan mengecek apakah program itu sudah dijalankan sesuai dengan standar NREGA.
Antara lain, NREGA mewajibkan pembayaran upah minimum secara
teratur, kelengkapan kotak pertolongan pertama, dan air minum di tempat kerja, dan pengaturan jasa penitipan, pengawasan, dan pengasuhan bagi ibu-ibu yang bekerja. Hukum mengharuskan catatan program selalu tersedia di tempat kerja tersebut sehingga memungkinkan warga melakukan sidak ketika pelaksanaan program sedang berlangsung.
Audit sosial di Dungarpur mengidentifikasi banyak pelanggaran hukum, misalnya upah minimum tidak dibayarkan, upah dibayarkan terlambat, dan buruknya fasilitas di tempat kerja. Pola pembayaran upah juga mencuatkan kekhawatiran serius: di tempat-tempat kerja itu, kebanyakan pekerja dibayar jauh di bawah upah minimum yang ditetapkan undang-undang negara, yaitu, 73 rupee India (sekitar 1,8 dolar AS) per hari karena upah dihitung berdasarkan tugas-tugas yang selesai dikerjakan. Praktik ini melanggar pedoman NREGA yang ditetapkan pemerintah pusat, yang dengan tegas menetapkan bahwa upah buruh tidak boleh di bawah upah minimum yang ditetapkan pemerintah negara bagian itu untuk buruh tani. Semua isu ini diangkat dalam forum publik dengan pemerintah distrik, yang berjanji akan mengadakan tindak korektif.
b. Metodologi
Memang keterlibatan LSM membawa manfaat bagi audit sosial, namun partisipasi pihak ketiga seperti itu tidak selalu diperlukan.
Masyarakat yang telah mengalami pemberdayaan dapat saja melaksanakan audit sosial sendiri. Namun LSM juga dapat membantu suatu masyarakat yang tengah melakukan audit sosial dengan cara (1) memberikan pelatihan proses audit sosial bagi anggota masyarakat, (2) mengakses informasi yang diperlukan untuk melaksanakan audit sosial. (3) membantu menyusun dan
menyosialisasikan informasi kepada masyarakat, dan (4)
mendokumentasikan hasil-hasil temuan audit sosial dan dilanjutkan dengan mendesak pejabat-pejabat publik agar mengambil tindakan.
Untuk melaksanakan audit sosial, ada tujuh tahap yang tidak bisa lepas dari proses tersebut, yaitu:
Tahap 1: Identifikasi Lingkup Audit
Dalam suatu masyarakat, beberapa instansi pemerintah
melaksanakan program yang berbeda-beda secara bersamaan.
Langkah pertama dalam audit sosial ialah mengidentifikasi program dan instansi spesifik yang hendak diseleksi untuk diaudit, serta
periode (jumlah tahun) yang akan dipertimbangkan.
Pertanyaan-pertanyaan berikut akan membantu menentukan lingkup audit sosial:
1. Seberapa besar kesulitan untuk memperoleh informasi mengenai program-program itu dari instansi pemerintah, dan apakah informasi tersebut selalu tersedia sepanjang periode audit?
2. Sampai sejauh mana keterlibatan yang bisa dilakukan
masyarakat? Semakin terlibat suatu masyarakat, semakin besar potensi untuk terlaksananya audit yang luas.
3. Sumberdaya apa saja yang disediakan organisasi yang
mengoordinasikan audit? Idealnya, organisasi tersebut mencari sumberdaya dari dalam masyarakat tempat audit akan
dilaksanakan. Sumber daya tersebut bisa berupa ruang publik atau relawan yang membantu logistik.
4. Seperti apa hubungan antara pejabat pemerintah dan organisasi yang mengoordinasi audit? Pejabat-pejabat yang bersimpati dapat memainkan peran penting jika organisasi menginginkan tindak korektif berdasarkan hasil-hasil audit.
5. Apa fokus strategi kelompok yang melakukan audit?
Suatu kelompok dapat berupaya melakukan audit terhadap instansi/program yang sesuai dengan fokus kegiatannya.
Tahap 2: Mengembangkan Pemahaman yang Jelas tentang Manajemen Program
Program-program yang akan diaudit dapat dikelola oleh pemerintah pusat melalui kantor-kantor daerah, instansi pemerintah negara bagian/propinsi, dikelola langsung oleh pemerintah daerah, atau gabungan dari instansi-instansi ini.
Organisasi yang mengoordinasi audit sosial harus memeriksa struktur administrasi yang akan membawahi manajemen program-program yang hendak diaudit. Akan bermanfaat jika organisasi tersebut menyusun buku panduan sederhana yang memetakan berbagai instansi yang terlibat dalam pengelolaan program-program itu, pertanggungjawaban dan struktur manajerial masing-masing instansi, serta aliran dana untuk program. Informasi ini memungkinkan
diketahuinya instansi (dan mungkin kantor) yang tepat yang nantinya bertanggung jawab untuk proyek ini—dan kalau perlu, menghadap atasan pejabat yang enggan memberikan informasi.
Organisasi yang mengoordinasi pelaksanaan audit juga harus mengidentifikasi individu-individu di dalam masyarakat yang sudah pernah mengerjakan proyek-proyek pemerintah. Mereka akan menjadi narasumber yang baik mengenai dokumen-dokumen yang ditangani para manajer proyek, misalnya dokumen yang
berhubungan dengan gaji buruh dan pembelian material.
Tahap 3: Memperoleh Informasi tentang Program-program yang Diaudit
Organisasi pengoordinasi audit sosial memerlukan akses ke banyak dokumen, antara lain, catatan pembukuan (seperti buku kas, daftar gaji, dan tagihan pembelian material), catatan-catatan teknis
(misalnya buku pengukuran milik perencana proyek dan spesifikasi kontrak), serta catatan-catatan manajerial (seperti sertifikat
pemanfaatan dana, yang dikeluarkan manajer program jika proyek selesai). Organisasi perlu mendokumentasikan berbagai jenis catatan yang dibuat pemerintah selama melaksanakan sebuah proyek.
Akses ke setiap catatan rinci tidak terlalu penting, namun akses ke catatan-catatan pengeluaran yang dinyatakan telah diadakan, sangatlah penting. Catatan-catatan ini meliputi:
catatan pembukuan, termasuk buku kas untuk periode tiga tahun sebelumnya yang memberikan informasi tentang semua
penerimaan dari pemerintah nasional, pemerintah negara bagian/propinsi, dan donator luar negeri – juga semua pengeluaran;
tagihan-tagihan yang menunjukkan pembelian material oleh pemerintah daerah dan tagihan dari pihak kontraktor yang mendokumentasikan pembayaran-pembayaran yang dilakukan pada semua tahap periode proyek (hal ini penting, terutama untuk memperoleh laporan akhir tagihan yang berisi daftar semua biaya yang diadakan oleh pihak kontraktor);
catatan stok material yang dibeli instansi-instansi lain dan dikirimkan ke pemerintah daerah untuk digunakan dalam proyek-proyek bangunan;
kuitansi atau tanda terima dengan tanda tangan/cap jempol para pihak ketiga yang menerima manfaat dari program, yang
mengakui kuitansi atau tanda terima adanya transfer tunai langsung kepada mereka;
catatan perencana proyek, meliputi buku-buku pengukuran yang memperlihatkan spesifikasi bangunan untuk proyek pekerjaan umum (seperti jumlah semen yang diperlukan untuk proyek, perkiraan tenaga kerja, dan desain proyek); dan
daftar nama buruh yang dipekerjakan di lokasi proyek, jumlah hari bekerja, besarnya upah, jumlah total yang dibayarkan kepada buruh, dan tanda tangan/cap jempol para buruh yang mengakui tanda terima atau kuitansi upah itu.
Besar kemungkinan tuntutan atas informasi akan terhadang
penolakan kuat dari pejabat daerah apabila mereka merasa terancam oleh konsekuensi dari pengungkapan informasi tersebut. Para pejabat mungkin akan mengancam, membujuk, memengaruhi, atau
mengabaikan orang-orang yang mencari informasi. Untuk
membangun kepemilikan proses audit sosial — dan untuk membantu proses tersebut tetap berjalan —para relawan dari masyarakat yang bersangkutan harus terlibat sepenuhnya dalam perjuangan panjang untuk memperoleh informasi itu. Sukses yang merupakan buah dari perjalanan panjang untuk mengumpulkan informasi yang melibatkan masyarakat lokal bukan saja berarti audit yang sukses, namun juga sama dengan memberdayakan masyarakat itu sendiri.
Tahap 4: Menyusun Informasi
Setelah informasi didapat, organisasi koordinator harus bekerja sama dengan para relawan setempat untuk memilah data dan menyiapkan arsip-arsip proyek yang terkait dengan informasi itu ke dalam format
yang dapat diakses.
MKKS menyusun informasi proyek menjadi matriks-matriks yang merangkum dengan jelas aneka ragam informasi yang diperoleh dari catatan-catatan proyek. Contohnya, satu matriks didasarkan pada informasi dari daftar nama buruh yang mengungkap kasus-kasus penipuan ketika para buruh tercatat bekerja pada dua lokasi proyek yang berbeda pada hari yang sama.
Organisasi koordinator juga membuat grafik-grafik sederhana yang mengilustrasikan jumlah material bangunan yang mungkin
diperlukan untuk membangun proyek infrastruktur khusus dalam sebuah masyarakat. Dengan grafik-grafik tersebut, dapat dibuat perhitungan kasar untuk membandingkan jumlah material bangunan yang dipesan untuk sebuah proyek bangunan dengan standar industri untuk proyek-proyek semacam itu.
Tahap 5: Penyebaran Informasi
Berikutnya, organisasi koordinator membuat salinan dari dokumen dan matriks proyek, kemudian membawa semuanya ke desa-desa tempat dengar pendapat publik digelar. Beberapa tim relawan berkeliling dari rumah ke rumah, membagi-bagikan informasi dari arsip-arsip proyek tersebut.
Pertemuan-pertemuan dengan warga yang pernah mengerjakan atau tinggal berdekatan dengan proyek tertentu bisa sangat membantu.
Selama berlangsungnya audit MKSS, salinan daftar nama buruh terbukti menjadi sumber yang menarik karena warga mengenali adanya nama-nama fiktif atau nama orang yang sudah meninggal dunia. Warga juga bisa mengenali tagihan-tagihan palsu untuk
pengeluaran yang dilakukan perusahaan-perusahaan setempat dalam sebuah proyek karena mereka menyatakan perusahaan itu tidak ada dalam komunitas mereka.
Tim audit sosial juga mengunjungi setiap lokasi proyek dan secara fisik memeriksa kesempurnaan semua tahap yang diantisipasi dalam rencana bangunan. Tim juga mengunjungi para penerima manfaat
program sosial tersebut guna memeriksa apakah mereka benar-benar telah menerima dana seperti yang dinyatakan dalam catatan
pembelanjaan. Relawan-relawan lokal membantu mengidentifikasi lokasi-lokasi proyek dan para penerima manfaat program, serta memfasilitasi kunjungan dengan mereka.
Semua informasi yang dihimpun dari masyarakat harus dicatat dalam arsip-arsip proyek terkait. Siapa pun yang telah memberikan
informasi harus diberitahu mengenai dengar pendapat publik berikutnya dan didorong untuk angkat bicara di sana.
Proses penyebaran informasi dapat berlangsung seminggu sampai beberapa bulan. Proses ini memberi kesempatan untuk membangun momentum di dalam masyarakat menjelang hari dengar pendapat publik digelar.
Tahap 6: Gelar Dengar Pendapat Publik
Agar tampak menarik di mata masyarakat daerah, dengar pendapat publik perlu diselenggarakan dengan meriah. Jika tahap
pengumpulan dan penyebaran informasi terlaksana efektif, adanya dengar pendapat itu pasti sudah tersebar luas di kalangan komunitas, yang pasti menaruh banyak harapan pada acara tersebut.
Perlu upaya khusus untuk memastikan bahwa lokasi dengar pendapat akan dapat dimasuki oleh semua warga. Acara dengar pendapat tentu berlangsung hampir sehari penuh. Dengan demikian, perlu ada tempat duduk, air, dan perbekalan lainnya bagi hadirin. Namun sebaiknya jangan menggunakan ruang pertemuan yang luas, karena forum tampak elite atau “birokratis” dan bisa mengurangi keinginan untuk berpartisipasi.
Ada lima kelompok yang berperan penting dalam dengar pendapat:
Organisasi koordinator audit sosial—bersama para relawan setempat. Mereka inilah yang harus menentukan agenda.
Panel yang terdiri dari warga-warga terkemuka (dan bila
memungkinkan, pejabat pemerintahan senior) untuk memimpin
dengar pendapat. Mereka ini yang akan mengumumkan peraturan dalam acara dengar pendapat, misalnya, larangan menggunakan bahasa yang kasar.
Media lokal. Mereka sebaiknya diundang untuk menghadiri dengar pendapat dan memberi laporan tentang hasil temuan yang acapkali mengejutkan, yang barangkali terkait hubungannya dengan korupsi dalam proyek-proyek negara.
Para pejabat daerah yang bertanggung jawab atas pengelolaan proyek-proyek tersebut harus diundang untuk hadir. Sebaiknya dijelaskan kepada mereka bahwa dengar pendapat bukanlah ajang untuk saling tuduh, melainkan kesempatan bagi masyarakat untuk memberikan umpan balik. Para pejabat yang tidak terbiasa dengan pertanggungjawaban di hadapan publik mungkin tidak senang dengan prospek dengar pendapat ini, namun rasa ingin tahu dan kemarahan karena ketidakadilan moral dapat
memotivasi mereka untuk hadir. (Dalam kasus-kasus tertentu, ada baiknya meminta pejabat senior agar memerintahkan para pejabat daerah untuk menghadiri dengar pendapat itu.)
Yang terakhir, peran terpenting di acara dengar pendapat dipegang oleh masyarakat. Perbedaan antara audit sosial yang berhasil dan yang tidak ditentukan oleh audiensi yang besar dan aktif.
Setelah anggota-anggota masyarakat memberikan kesaksian, para pejabat terkait harus diberi kesempatan penuh untuk menjelaskan tindakan mereka atau menanggapi pernyataan yang bernada
menentang mereka. Tahap ini mudah sekali berubah menjadi ricuh.
Oleh karena itu, tahap ini wajib dikelola dengan cara yang menjamin suara semua peserta didengarkan dan dicatat.
Dalam audit-audit sosial yang digelar MKSS, satu persatu para pembicara memaparkan contoh-contoh korupsi, ketidakefisienan dalam penggunaan dana masyarakat, serta buruknya perencanaan dalam tubuh instansi pemerintahan. Diskusi memanas ketika para pejabat publik berusaha membela proyek-proyek mereka dan warga desa segera menunjuk adanya ketidakkonsistenan dalam pernyataan-pernyataan mereka. Dalam beberapa audit sosial, para pejabat publik bahkan mau mengakui kesalahan dan menyerahkan dana yang
pernah mereka curi kepada panel yang bertindak sebagai pengambil keputusan dalam dengar pendapat itu.
Tahap 7: Tindak Lanjut terhadap Dengar Pendapat
Kesimpulan dari dengar pendapat harus dimasak menjadi kampanye advokasi efektif yang mampu menunjuk contoh kasus salah urus maupun pertimbangan-pertimbangan kebijakan yang lebih luas menyangkut transparansi dan akuntabilitas.
Laporan resmi tentang audit sosial tersebut disusun setelah dengar pendapat usai, dan tembusannya dikirimkan ke para pejabat senior pemerintahan terkait, media, dan kelompok-kelompok lain yang terlibat dalam kampanye. Laporan tersebut juga harus memberikan rekomendasi tentang langkah-langkah spesifik menghadapi para pejabat yang menyimpang dan perubahan kebijakan guna
meningkatkan mutu penyelenggaran layanan pemerintah.
Dengan demikian, organisasi koordinator harus berupaya
memastikan bahwa kesimpulan-kesimpulan dari audit sosial tersebut telah ditindaklanjuti tindakan. Ada kemungkinan instansi-instansi pemerintah bersikap lamban dalam merespons hasil-hasil audit dan memerlukan tekanan dari luar.