ANALISA EKONOM
10.1.2 Modal Kerja / Working Capital (WC)
Modal kerja adalah modal yang diperlukan untuk memulai usaha sampai mampu menarik keuntungan dari hasil penjualan dan memutar keuangannya. Jangka waktu pengadaan biasanya antara 3 – 4 bulan, tergantung pada cepat atau lambatnya hasil produksi yang diterima. Dalam perancangan ini jangka waktu pengadaan modal kerja diambil 3 bulan. Modal kerja ini meliputi:
- Modal untuk biaya bahan baku proses dan utilitas - Modal untuk kas
Kas merupakan cadangan yang digunakan untuk kelancaran operasi dan jumlahnya tergantung pada jenis usaha. Alokasi kas meliputi gaji pegawai, biaya administrasi umum dan pemasaran, pajak, dan biaya lainnya.
- Modal untuk mulai beroperasi (start-up) - Modal untuk piutang dagang
Piutang dagang adalah biaya yang harus dibayar sesuai dengan nilai penjualan yang dikreditkan. Besarnya dihitung berdasarkan lamanya kredit dan nilai jual tiap satuan produk.
Rumus yang digunakan:
HPT 12
IP PD= ×
Dengan: PD = piutang dagang
IP = jangka waktu yang diberikan (3 bulan) HPT = hasil penjualan tahunan
Dari hasil perhitungan pada Lampiran E diperoleh modal kerja sebesar Rp 227.341.364.600,-
Maka, total modal investasi = Modal Investasi Tetap + Modal Kerja = Rp 44.496.595.080 ,- + Rp 227.341.364.600,- = Rp 271.837.959.700,-
Modal investasi berasal dari :
- Modal sendiri/saham-saham sebanyak 60 % dari modal investasi total Modal sendiri adalah Rp 163.102.775.800,-
Pinjaman bank adalah Rp 108.735.183.900 ,-
10.2 Biaya Produksi Total (BPT) / Total Cost (TC)
Biaya produksi total merupakan semua biaya yang digunakan selama pabrik beroperasi. Biaya produksi total meliputi:
10.2.1 Biaya Tetap / Fixed Cost (FC)
Biaya tetap adalah biaya yang jumlahnya tidak tergantung pada jumlah produksi, meliputi:
- Gaji tetap karyawan - Bunga pinjaman bank - Depresiasi dan amortisasi - Biaya perawatan tetap - Biaya tambahan industri - Biaya administrasi umum - Biaya pemasaran dan distribusi
- Biaya laboratorium, penelitian dan pengembangan - Biaya hak paten dan royalti
- Biaya asuransi
- Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)
Dari hasil perhitungan pada Lampiran E diperoleh biaya tetap (FC) adalah sebesar Rp 67.887.267.090 ,-
10.2.2 Biaya Variabel (BV) / Variable Cost (VC)
Biaya variabel adalah biaya yang jumlahnya tergantung pada jumlah produksi. Biaya variabel meliputi:
- Biaya bahan baku proses dan utilitas
- Biaya variabel tambahan, meliputi biaya perawatan dan penanganan lingkungan, pemasaran dan distribusi.
- Biaya variabel lainnya
Rp 316.322.004.800,-
Maka, biaya produksi total, = Biaya Tetap (FC) + Biaya Variabel (VC) = Rp 67.887.267.090 ,- + Rp 316.322.004.800,- = Rp 384.209.271.900,-
10.3 Total Penjualan (Total Sales)
Penjualan diperoleh dari hasil penjualan produk asetanilida yang merupakan produk tunggal yaitu sebesar Rp 584.924.984.400,-. Maka laba atas penjualan adalah sebesar Rp 200.715.712.500,-.
10.4 Bonus Perusahaan
Sesuai fasilitas tenaga kerja dalam pabrik pembuatan kitosan, maka perusahaan memberikan bonus 1 % dari keuntungan perusahaan yaitu sebesar Rp 2.007.157.125,-.
10.5 Perkiraan Rugi/Laba Usaha
Dari hasil perhitungan pada Lampiran E diperoleh:
1. Laba sebelum pajak (bruto) = Rp 202.722.869.600,- 2. Pajak penghasilan (PPh) = Rp 60.799.360.880,- 3. Laba setelah pajak (netto) = Rp 141.923.508.700,-
10.6 Analisa Aspek Ekonomi
10.6.1 Profit Margin (PM)
Profit Margin adalah persentase perbandingan antara keuntungan sebelum pajak penghasilan PPh terhadap total penjualan.
PM = penjualan total pajak sebelum Laba × 100 % PM = Rp 202.722.869.600,-x 100% Rp 584.924.984.400,- = 34,65 %
Dari hasil perhitungan diperoleh profit margin sebesar 34,65 %, maka pra rancangan pabrik ini memberikan keuntungan.
10.6.2 Break Even Point (BEP)
Break Even Point adalah keadaan kapasitas produksi pabrik pada saat hasil penjualan hanya dapat menutupi biaya produksi. Dalam keadaan ini pabrik tidak untung dan tidak rugi.
BEP = Variabel Biaya Penjualan Total Tetap Biaya − × 100 % BEP = =
Kapasitas produksi pada titik BEP = 25,27 % × 25.000 ton/tahun = 6317,5 ton/tahun
Nilai penjualan pada titik BEP = 25,27 % x Rp 584.924.984.400,- = Rp 147.810.543.600,-
Dari data feasibilities, (Timmerhaus, 1991) : - BEP ≤ 50 %, pabrik layak (feasible)
- BEP ≥ 70 %, pabrik kurang layak (infeasible).
Dari perhitungan diperoleh BEP = 25,27 %, maka pra rancangan pabrik ini layak.
10.6.3 Return on Investment (ROI)
Return on Investment adalah besarnya persentase pengembalian modal tiap tahun dari penghasilan bersih.
ROI= Investasi Modal Total pajak setelah Laba × 100 % ROI Rp 67.887.267.090 ,-x 100% Rp 584.924.984.400,- – Rp 316.322.004.800,- 25,27 % = Rp 141.923.508.700,-_ x 100% Rp 271.837.959.700,- = 52,2 %
Analisa ini dilakukan untuk mengetahui laju pengembalian modal investasi total dalam pendirian pabrik. Kategori resiko pengembalian modal tersebut adalah:
• ROI ≤ 15 % resiko pengembalian modal rendah.
• 15 ≤ ROI ≤ 45 % resiko pengembalian modal rata-rata. • ROI ≥ 45 % resiko pengembalian modal tinggi.
Dari hasil perhitungan diperoleh ROI sebesar 52,2 %; sehingga pabrik yang akan didirikan ini termasuk resiko laju pengembalian modal tinggi.
10.6.4 Pay Out Time (POT)
Pay Out Time adalah angka yang menunjukkan berapa lama waktu pengembalian modal dengan membandingkan besar total modal investasi dengan penghasilan bersih setiap tahun. Untuk itu, pabrik dianggap beroperasi pada kapasitas penuh setiap tahun.
Dari hasil perhitungan, didapat bahwa seluruh modal investasi akan kembali setelah 2,1 tahun operasi.
10.6.5 Return on Network (RON)
Return on Network merupakan perbandingan laba setelah pajak dengan modal sendiri. RON= sendiri Modal pajak setelah Laba × 100 % RON
10.6.6 Internal Rate of Return (IRR)
Internal Rate of Return merupakan persentase yang menggambarkan keuntungan rata-rata bunga pertahunnya dari semua pengeluaran dan pemasukan besarnya sama.
Apabila IRR ternyata lebih besar dari bunga riil yang berlaku, maka pabrik akan menguntungkan tetapi bila IRR lebih kecil dari bunga riil yang berlaku maka pabrik dianggap rugi. POT = 1 x 1 tahun 1,8043 = 1 x 1 tahun 0,522 = 1,91 tahun = Rp 141.923.508.700,-x 100% Rp 163.102.775.800,- = 87,6 %
Dari perhitungan Lampiran E diperoleh IRR = 36,06%, sehingga pabrik akan menguntungkan karena lebih besar dari bunga bank saat ini sebesar 15% (Bank Mandiri, 2011).
BAB XI
KESIMPULAN
Hasil analisa perhitungan pada pra rancangan pabrik pembuatan asetanlida dari anilin dan asam asetat dengan kapasitas 25.000 ton/tahun diperoleh beberapa kesimpulan, yaitu :
1. Kapasitas rancangan pabrik asetanilida direncanakan 25.000 ton/tahun.
2. Bentuk hukum perusahaan yang direncanakan adalah Perseroan Terbatas (PT).
3. Bentuk organisasi yang direncanakan adalah organisasi sistem garis dan staf dengan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan 100 orang.
4. Luas tanah yang dibutuhkan adalah 18.000 m2 5. Analisa ekonomi :
Modal Investasi : Rp 271.837.959.700,- Biaya Produksi per tahun : Rp 384.209.271.900,- Hasil Jual Produk per tahun : Rp 584.924.984.400,- Laba Bersih per tahun : Rp 141.923.508.700,-
Profit Margin : 34,65 %
Break Event Point : 25,27 %
Return of Investment : 52,2 %
Pay Out Time : 1,91 tahun
Return on Network : 87,6 %
Internal Rate of Return : 36,06%
Dari hasil analisa aspek ekonomi dapat disimpulkan bahwa pabrik pembuatan asetanilida ini layak untuk didirikan.