M ODAL SOSIAL D AN PEM BERD AY AAN P EREM PU AN
PAD A SEK TOR INFORM AL
A. Gambaran Obyek Penelitian
Kel. Pancoran Mas Kec. Pancoran Mas Depok adalah tempat yang
dipilih peneliti untuk menjadi lokasi penelitian ini berlangsung. Keuntungan
dari peneliti dalam penelitian lokasi penelitian ini adalah peneliti mengetahui
benar keadaan lokasi karena peneliti sudah tinggal di daerah selama 20 tahun
lamanya. Oleh karenanya, peneliti sangat mengetahui keadaan fisik,
penduduk, ekonomi dan sosial dari lokasi Kelurahan Pancoran Mas Depok.
Kelurahan Pancoran Mas Depok merupakan salah satu kelurahan yang
berada pada wilayah Kecamatan Pancoran Mas Depok dengan luas + 430
Ha, dengan batas wilayah:
- Sebelah Utara : Kelurahan Kemiri Muka
- Sebelah Timur : Kelurahan Tirta Jaya
- Sebelah Selatan : Kelurahan Ratujaya
- Sebelah Barat : Kelurahan Pancoran Mas dan Tanah Baru
Pemanfaatan dan penggunaan lahan di Kelurahan Pancoran Mas
- Perumahan, pemukiman : 230 Ha
- Perusahaan : 3 Ha
- Pertanian : - Ha
- Sarana olah raga : 1 Ha
- Sarana ibadah : 2,7 Ha
- Sarana Umum / Jalan : 193,3Ha
- Lainnya : - Ha5 1
Secara fisik Kelurahan Pancoran Mas Depok berada di pingg jalan
raya. Selain itu di Kelurahan ini juga berdekatan dengan pasar, meskipun
setiap jalan raya di Kelurahan ini tidaklah terlalu besar, akan tetapi tetap
menjadi keuntungan bagi para warganya karena mereka dapat dengan mudah
bermobilitas karena fasilitas jalan raya tersebut. Kendaraan-kendaraan umum
angkutan kota atau yang lebih dikenal dengan sebutan angkot juga melintasi
tiap-tiap jalan raya yang ada di Kelurahan Pancoran Mas Depok, seperti D 05
Jurusan Terminal depok – Bojong Gede. Keberadaan angkot ini juga sangat
bermanfaat terutama bagi anak sekolah, para karyawan, orang tua
manula, ibu-ibu rumah tangga karena tiap paginya angkot-angkot ini selalu
laris dipenuhi oleh para penumpangnya yang hendak ke sekolah, ke pasar,
rumah sakit, puskesmas, kantor dan lainnya. Ternyata jalan raya ini di
Kelurahan ini juga dijadikan jalan alternative bagi pengendara roda dua dan
empat.
51
Laporan Tahunan Kelurahan Depok Tahun 2009, hlm 1-2
a. Jumlah dan Mata Pencaharian Penduduk di Kelurahan Pancoran Mas
Depok.
Penduduk yang tinggal di wilayah Kelurahan Pancoran Mas Depok
bisa dikategorikan menjadi dua yaitu penduduk asli dan pendatang. Penduduk
asli atau yang biasa disebut dengan adalah mereka yang sudah
lama tinggal atau merupakan keturunan dari orang tuanya yang memang
sudah puluhan tahun mendiami wilayah Kelurahan Pancoran Mas Depok,
sedangkan adalah mereka yang sengaja datang untuk mencari
tempat tinggal di sekitar wilayah Kelurahan Pancoran Mas Depok. Mulanya
penduduk asli di wilayah ini adalah orang asli Depok, mereka memiliki tanah
yang tidak sedikit luasnya selain itu mereka juga memiliki rumah
petak-petakan untuk dikontrakan bagi siapa saja yang bersedia (pendatang).
Jumlah penduduk di Kelurahan pancoran Mas Depok sampai akhir
bulan Desember 2009 tercatat 32.965 Jiwa dengan kategori jenis kelamin
laki-laki sebanyak 16.803 jiwa dan perempuan sebanyak 16.16 jiwa dengan
jumlah kepala keluarga (KK) berjumlah 8.119 KK. Jika i data tersebut
jumlah perempuan lebih sedikit dibandingkan laki-laki yang berselisih sekitar
640 jiwa. Di bawah ini terdapat data mata pencaharian Kelurahan
Pancoran Mas Depok.
orang asli
Tabel II.1
Mata Pencaharian Penduduk Kelurahan Pancoran Mas Depok
Pegawai Negeri Sipil (PNS) 861 orang
TNI / POLRI 268 orang
Pegawai Swasta 181 orang
Dagang 1380 orang
Tani
-Wiraswasta 5355 orang
Jasa 447 orang
Lainnya 164 orang
Sumber: Laporan Tahunan Kelurahan Pancoran Mas Depok Tahun 2009
Untuk mata pencaharian petani nol karena lokasi penelitian bukanlah
daerah pertanian. Para penduduk Kelurahan Pancoran Mas Depok bekerja
sebagai wiraswasta sedangkan mata pencaharian pedagang di dalamnya
terdapat berbagai jenis pedagang seperti pedagang masakan matang (nasi
uduk,warteg/warnas, gado-gado, pecel lele,warung kopi, kacang hijau, dan
mie instant), warung rokok, warung sembako, pedagang sayur, pedagang
baju, pedagang elektronik dan lainnya.
Bagi para penduduk yang di luar instituisi pemerintahan digolongkan
ke dalam karyawan swasta, biasanya mereka bekerja untuk perusaha
an-perusahaan swatabdan sebaliknya bagi para penduduk yang terserap di
Terdapat juga jenis mata pencahariaan ABRI di lokasi penelitian dan bagi
mereka yang sudah tidak bekerja lagi disebabkan oleh usia senja digolongkan
ke dalam pensiunan sedangkan untuk pembuka usaha yakni para penduduk
yang dengan sengaja membuka usaha digolongkan ke dalam sawasta meliputi
bengkel motor dan sepeda, depot gas, penjahit, wartel arung telepon),
warnet (warung internet). Para penduduk yang masih pengangguran dan
belum bekerja seperti pelajar digolongkan ke dalam lain-lain.
Maka dapat disimpulkan penduduk yang tinggal di Kelurahan
Pancoran Mas Depok memiliki jenis mata pencahariaan yang berneda-beda
antara satu dengan yang lain. Keanekaragaman itu menjadikan penduduk
bekerja sesuai dengan pekerjaan dan kemampuannya masing-masing.
b. Kondisi Ekonomi Penduduk di Kelurahan Pancoran Mas Depok
Telah diuraikan pada sub bab terdahulu bahwa jenis mata
pencahariaan penduduk di Kelurahan Pancoran Mas Depok begitu beragam
macamnya. Tiap-tap orang bekerja untuk memenuhi segala kebutuhan
-kebutuhan pribadi sekalipun keluarganya. Memiliki mata pencaharian atau
pekerjaan merupakan salah satu indicator penting untuk mengukur tingkat
ekonomi seseorang karena pekerjaan atau profesi adalah salah satu
pembentuk pelapisan sosial yang terjadi di dalam
masyarakat. Misalnya perbandingan antara pekerjaan buruh dengan
pengusaha tentu akan sangat jauh perbedaannya bila diukur dari jumlah
penghasilan masing-masing, karena pengusaha kerapkali dianggap sebagai
profesi terhormat bila dibandingkan dengan buruh.
Jenis mata pencahariaan dari penduduk Kelurahan Pancoran Mas
Depok begitu beragam mulai dari buruh, pedagang masakan matang,
pembuka usaha, pegawai negeri, karyawan swasta, ABRI/POLRI, jasa dan
lainnya. Tentunya setiap jenis pekerjaan yang dimiliki oleh setiap penduduk
Kelurahan Pancoran Mas Depok memilki jumlah penghasilan yang tidak
sama. Fakta yang ada di Kelurahan Pancoran Mas sebagai lokasi penelitian
bahwa mayoritas penduduk yang dimiliki penghasilan cukup besar yaitu
mereka yang bekerja sebagai karyawan tetap di perusahaan-perusahaan
swasta ini bisa diukur dari jenis dan jumlah kepemilik kendaraan pribadi,
fasilitas rumah tangga yang dimilikinya, tempat anak-anak mereka
bersekolah. Sedangkan untuk pegawai negeri sipil meskipun mendapatkan
tunjangan tetapi belum dapat menyamai kedudukannya dengan mereka yang bekerja tetap di perusahaan-perusahaan swasta.
Bagi penduduk yang terserap di sektor informal maka pilihan mereka
jatuh pada berdagang atau berwiraswasta karena dengan mereka
mendapatkan penghasilan di sektor informal. Bukan hanya itu saja di sektor
informal para pedagang dan pewiraswasta bisa belajar kemandirian dalam
mengelola usahanya seperti bagaiman mreka mengelola modal, keuntungan,
kerugian dan sebagainya, semua itu dapat dikuasai mela pengalaman
nantinya. Kemandirian tersebut dapat dilihat dari berapa lama bertahan
kesejahteraan kualitas hidup. Meskipun kondisi ekonomi pedagang dari
pewiraswasta di Kelurahan Pancoran Mas Depok masih di dari
karyawan tetap perusahaan-perusahaan swasta jika melihat dari piramida di
bawah ini berdasarkan pengamatan.
Gambar II.1
Lapisan Sosial Berdasarkan Profesi
Karyawan swasta
PNS / ABRI
Pedagang / Pewiraswasta
Buruh
Sumber: Hasil Pengamatan Peneliti
Maka, keadaan ekonomi dari para penduduk di Kelurahan
Pancoran Mas Depok terbagi menjadi empat lapisan berdasarkan penghasilan
dan kekayaan mereka. Lapisan pertama adalah lapisan ekonomi kelas atas
ditempati oleh para karyawan swasta yang sudah menjadi karyawan tetap di
perusahaan tersebut. Lapisan kedua adalah lapisan ekonomi kelas menengah
ke atas diduduki oleh golongan pegawai negeri sipil dan ABRI, sedangkan
lapisan ketiga adalah lapisan kelas menengah ke bawah liki oleh
berfokus karena responden dari penelitian ini tidak la adalah para pedagang
masakan matang. Berikutnya, lapisan yang paling bawah kelas bawah
ditempati oleh para buruh karena mata pencahariaan ini paling banyak
menyerap tenaga kerja di Kelurahan Pancoran Mas Depok bila lihat dari
tabel mata pencaharian.
Suatu kenyataan bahwa stratifikasi sosial berdasarkan tingkat ekonomi
tidak dapat dipisahkan dari jenis mata pencaharian yang dimiliki. Stratifikasi
pekerjaan juga ikut menentukan keadaan ekonomi seseorang.
c. Kondisi Sosiologis Penduduk di Kelurahan Pancoran Mas Depok
Pada dasarnya keadaan pemukiman yang ada Kelurahan Pancoran
Mas Depok dapat dibedakan menjadi tiga kategori; kategori pertama adalah
pemukiman komplek, kategori kedua adalah pemukiman pinggir jalan raya;
dan ketiga adalah pemukiman gang. Pemukiman komplek diperuntukan bagi
para penduduk yang tinggal di dalam komplek, biasanya ukiman
komplek ini dihuni oleh penduduk yang bekerja di perusahaan-perusahaan swasta dan pemukiman di tunjukkan bagi para penduduk yang memiliki
rumah di mana letaknya persis di pinggir jalan. Penghuni dari pemukiman ini
adalah karyawan swasta, PNS, dan beberapa pedagang. Para pedagang
memilih memiliki tempat tinggal di pinggir jalan raya pastinya dengan alasan
kestrategiannya, karena akan memudahkan menarik calon beli.
Sedangkan yang ketiga adalah pemukiman gang, bagi mereka yang bertempat
pedagang kaki lima, dan pedagang makanan paling banyak tinggal di
pemukiman gang.
Kategori pemukiman itu dibagi berdasarkan letak rumah tempat
tinggal yang dihuni oleh masing-masing penduduk Kelurahan Pancoran Mas
Depok. Kenyataanya pembagian kategori pemukiman tersebut mempengaruhi
pola interaksi para penduduknya karena pada interaksi uk yang
bermukim di wilayah komplek berbeda dengan penduduk yang bermukim
pinggir jalan dan di gang begitupun sebaliknya. Karakter penduduk yang
tinggal di pemukiman komplek cenderung individualis, hal ini ditandai
dengan jarangnya mereka bergabung dengan masyarakat di sekitarnya pada
kegiatan-kegiatan yang diadakan rukun tetangga dan rukun warga
kerja bakti, pesta kemerdekaan setiap tanggal 17 Agustus, pemilihan ketua RT/RW dan semacamnya. Untuk karakter penduduk dipemukiman pinggir
jalan dapat dibagi dua yaitu pertama, mereka yang cenderung individualis dan
kedua, mereka yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya.
Karakter penduduk bermukim di pinggir jalan yang individualis tidak
jauh berbeda dengan karakter penduduk yang bermukim di daerah komplek,
biasanya mereka memiliki mobilitas sosial yang tinggi lam mencapai
tujuan-tujuan hidupnya selain itu mereka juga ditunjang dengan kemampuan
ekonomi yang mapan. Tetapi tidak semua penduduk bermukim di pinggir
jalan memiliki karakter sosial yang cukup tinggi, ini andai dari sikap
mereka yang dermawan karena mereka tidak sungkan-sungkan membantu
Sedangkan penduduk yang bermukim di gang memiliki keakraban
yang kental, dapat dilihat dari seringnya komunikasi diantara mereka. Mereka
saling mengenal satu sama lain mulai dari kepribadian keadaan
ekonomi keluarga karena mereka sering saling bertukar informasi mengenai
apa saja yang mereka ketahui, maka tidak jarang hingga menimbulkan
Meskipun demikian mereka memiliki semangat kerja sama kuat karena
jika ada salah satu dari mereka yang membutuhkan bantuan tenaga maka
dengan segera mereka saling memberikan bantuan. Hal tersebut menjadikan
karakter sosial yang positif dari penduduk di pemukiman gang.
Melalui karakter-karakter sosial tersebut menciptakan pola-pola
interaksi yang berbeda-beda pula diantara para penduduknya. Perbedaan pola
interaksi penduduk dipemukiman komplek dengan penduduk di pemukiman
gang. Penduduk di wilayah komplek sangat jarang bertegur sapa dengan para
tetangganya karena itu tidak ada perilaku kerja sama diantara para penduduk
di wilayah komplek. Mobilitas tinggi seprtinya tidak memberikan kesempatan
bagi mereka untuk mengadakan kerja sama baik dalam bentuk apapun itu.
Kalaupun ada berupa persaingan laten yang tampak diantara mereka, seperti
contohnya. Lihat halnya dengan penduduk di pemukiman pola
interaksi digambarkan dengan perilaku kerja sama yang sangat kental seperti
membantu tetangga yang terkena musibah atau membentu tetangga yang
sedang mengadakan hajatan.
Tidak hanya perilaku kerja sama saja yang ada di tengah-tengah
masyarakat ini tetapi gejala persaingan pun juga terasa di lingkungan ini.
gossip.
Biasanya mereka bersaing menyangkut kepemilikan barang-barang rumah
tangga khususnya para ibu rumah tangga. Persaingan dimulai apabila salah
seorang dari mereka membeli barang rumah tangga yang d mewah
seperti mereka pun mulai merebak sampai akhirnya menciptakan persaingan
terbuka. Akan tetapi untuk meredam persaingan tersebut bukanlah hal yang
sulit karena akan dengan cepat meredam jika mereka berkumpul kembali
pada kegiatan-kegiatan RT/RW.
Untuk pola interaksi penduduk yang tinggal di pemukiman pinggir
jalan raya/protokol itu sendiri bersifat campuran. Seperti telah digambarkan
pada uraian sebelumnya bahwa penduduk yang tinggal di ini
terbagi dua kategori penduduk yang cenderung individualis tentunya pola
interaksinya memiliki persamaan dengan penduduk yang tinggal dikomplek.
Sedangkan penduduk yang memiliki kepedulian tinggiu justru mereka yamg
paling sering bergabung dengan penduduk yang tinggal d gang-gang di
setiap kegiatan-kegiatan yang berlangsung di wilayah mereka. Tipe dari
penduduk ini mempunyai semangat kerja sama yang cukup dan
sekaligus menghindari segala bentuk persaingan diantara mereka.
Dengan demikian pola interaksi yang berkembang di Kelurahan
Pancoran Mas Depok berdasarkan letak dari keberadaan tempat tinggal
mereka apakah mereka tinggal di daerah komplek, pinggi jalan trotoar dan di
gang-gang. Melalui letak tinggal ternyata menggambarkan karakter sosial dari
para penghuninya dan karakter sosial yang dimiliki oleh masing-masing
B.
Gambaran Umum Pedagang Warung Nasi di Pasar Depok Lama Kelurahan Pancoran Mas DepokJumlah pedagang di Kelurahan Pancoran Mas Depok cukup
banyak menurut data monografi kelurahan ada 1.380 orang. Jenis-jenisnya
juga bermacam macam mulai dari pedagang masakan matang, pedagang
sayuran, pedagang rokok sampai pedagang sembako. Untuk jumlah dari
masing-masing pedagang, memang belum tersedia data yang pasti.
Kenyataan sosial yang ada memang bukan warung nasi pemilik
perempuan saja yang berdagang di lokasi ini tetapi warung pedagang laki-laki
juga ada yang memiliki mata pencaharian yang sama yakni menjadi
pedagang. Berdasarkan pengamatan peneliti kebanyakan pedagang laki-laki
memiliki warung rokok dan warung kopi, bubur kacang hijau, dan mie
instan. Ini berbeda dengan warung pedagang perempuan karena kebanyakan
mereka berdagang gado-gado, nasi uduk, nasi bebek, warung tegal dan
warung nasi. Masing-masing dari mereka memiliki pelanggan dan biasanya
berdasarkan waktu. Misalnya warung milik pedagang perempuan lebih ramai
di waktu pagi dan siang hari, sedangkan warung m ilik pedagang laki-laki
mulai akan ramai malam hingga dini hari terlebih jika minggu datang
waktunya mereka berkumpul, mengobrol, atau sekedar melepas
Selanjutnya, deskripsi tentang karasteristik pedagang beserta usaha
dagang yang dilakukan atau digambarkan pada uraian di bawah ini.
Karakteristik pedagang meliputi: jumlah penghasilan, usia, suku bangsa,
pendidikan terakhir dan lamanya dalam menjalankan usaha. Sedangkan
karakteristik usaha dagang meliputi: jenis barang, tempat/lokasi berdagang,
status hukum usaha, asupan modal dan pasokan barang.
Tabel I
Profil Informan Pedagang Warung Nasi
Nama Suku Bangsa Jenis Dagangan Lamanya Pedagang
Menjalankan Usaha
Ibu Wati Jawa Warung Tegal (Warteg) 11 Tahun
Ibu Ipah Jawa Nasi Uduk 9 Tahun
Ibu Ike Betawi Gado-gado 10 Tahun
Ibu Tika Sunda Warung Sunda (Warsun) 13 Tahun
a. Jumlah dan penghasilan per hari
Jumlah pedagang warung nasi yang berlokasi di Pancoran Mas
Depok berjumlah 60 orang perempuan diantaranya berdagang gado-gado,
nasi uduk, warsun, warteg, soto ayam, soto betawi, warung bebek dan
seluruhnya adalah perempuan sebagai obyek penelitiannya. Masing-masing
mulai Rp. 100.000,- sampai Rp. 500.000,- bahkan yang di bawah Rp.
100.000,- pun juga ada. Sebaliknya ada warung bebek yang penghasilannya
mencapai lebih dari Rp. 500.000,- per harinya, menurut pengamatan peneliti
warung bebek ini memang sudah terkenal bahkan sampai luar wilayah
Kelurahan Pancoran Mas Depok.
b. Usia dan Lamanya Pedagang Menjalankan Usaha
Usia dari para pedagang masakan matang ini pun beragam mulai dari
usia 30 tahun hingga 50 tahun lebih. Melalui hasil wawancara yang dilakukan
oleh peneliti bahwa banyak dari mereka (pedagang) yang memulai usahanya
di usia 30 tahun ke atas atau dengan kata lain setelah mereka berkeluarga.
Berkaitan dengan usia pedagang maka tidaklah lepas dari beberapa
mereka menjalani usaha sebagai pedagang masakan matang. Lamanya
mereka menjalani usaha sebagai pedagang juga bervariasi, ada yang
tergolong baru yakni yang memulai usaha sekitar 1-5 tahun dan ada juga yang
sudah lama menggeluti usaha dagang masakan matang yakni sekitar 16-20
tahun. Dengan demikian para pedagang masakan matang yang berlokasi di
Kelurahan Pancoran Mas Depok dapat dibuat kesimpulan bahwa mereka
bukan tergolong pedagang baru lagi.
c. Jenis Barang Dagangan
Selayaknya pedagang adalah seorang atau mereka yang menjual
barang dagangannya dan mereka tersebar di bebagai wilayah Pancoran Mas
beraneka macam diantaranya, gado-gado, nasi uduk, warsun, warteg, soto
ayam, soto betawi, warung bebek.
d. Status Hukum
Status hukum usaha dari tempat sepertinya kurang diperhatikan
keresmiannya secara hukum oleh para pedagang warung nasi di Pasar Depok
Lama Pancoran Mas Depok, karena bagi mereka yang terpenting adalah
mereka sudah melapor kepada pihak RT setempat untuk mendapatkan izin
berdagang di wilayahnya maka itu sudahlah cukup.
e. Asupan Modal dan Pasokan barang
Asupan modal bagi para pedagang sangat penting untuk keberlanjutan
usaha yang mereka jalani. Asupan modal dapat berasal dari mana saja seperti,
simpanan pribadi, pinjaman dari pihak keluarga, pinjaman bank dan lain-lain.
Namun, para pedagang lebih memilih meminjam modal kepada keluarga.
Dengan demikian, deskripsi dari obyek penelitian meliputi
karakteristik objek penelitian serta karakteristik usaha dari pedagang warung
nasi yang ada di Pasar Depok Lama Pancoran Mas Depok sebagai lokasi
penelitian. Setiap deskripsi digambarkan melalui wawancara yang dilakukan
oleh peneliti kepada pedagang warung nasi di Pasar Depok Lama dan
Pada bab ini peneliti akan membaginya kedalam empat sub bab.
, sub bab keterikatan terhadap aturan informal di dalam kelompok
pedagang untuk membahas aturan-aturan informal yang mengikat kelompok
pedagang serta alasan mengapa norma tidak berhubungan
pemberdayaan perempuan di sektor informal terhadap pem
perempuan di sektor informal yang terwujud dalam kegiatan berdagang yang
dilakukan oleh perempuan. , sub bab implikasi terhadap
pemberdayaan perempuan yang membahas peranan didalam
pemberdayaan perempuan di sektor informal yang terwujud dalam kegiatan
berdagang yang dilakukan oleh perempuan. , sub bab luas jaringan personal pedagang yang membahas luasnya jaringan yang dibentuk oleh
kelompok pedagang dimana berawal dari proses interaksi yang dilakukannya
serta membahas alasan-alasan mengapa jaringan tidak berhubungan terhadap
pemberdayaan perempuan.
Kelompok pedagang di Pasar Depok Lama Pancoran Mas Depok
memiliki aturan-aturan dan tata cara mereka sendiri dalam menjalankan
usahanya. Aturan-aturan itu mengikat seluruh pedagang baik secara langsung
atau tidak langsung. Kesepakatan yang telah dibuat harus dilaksanakan oleh
pedagang dan kesepakatan tersebut tidak hanya ada dan diantara
Pertama
Kedua trust
trust
Ketiga
C. Gambaran Modal Sosial dan Pemberdayaan Perempuan Pada Sektor Informal
kelompok pedagang tetapi juga diantara pihak-pihak yang berhubungan
dengan para pedagang khususnya pedagang warung nasi di lokasi penelitian, misalnya pelanggan/pembeli, aparat, preman, dan pemasok bahan baku.
Kerjasama yang terjalin diantara pedagang yang bisa digambarkan
dari pedagang pasar Kelurahan Pancoran Mas antara Ibu Wati dan Ibu Ipah.
Usaha Ibu Wati adalah warung nasi tegal atau disingkat , penghasilan
per harinya bisa mencapai Rp. 400.000 s/d Rp. 500.000. Warung Bu Wati
memang dikenal masakannya disamping rasanya yang menggugah selera,
harganya juga terjangkau. Sedangkan Bu Ipah adalah satu-satunya pedagang
yang menjual nasi uduk akan tetapi penghasilan per har tidak sebesar Bu
wati. Meskipun demikian keduanya kerap saling membantu.
Ibu Wati sering memesan nasi uduk kepada Bu Ipah untuk penjelasan
berikutnya, berikut adalah kutipan wawancara yang dila oleh peneliti
kepada kedua informan tentang kerjasama yang terbangun diantara kedua
pedagang warung nasi tersebut.
52
Wawancara dengan Ibu Wati, 20 Maret 2011, Pasar Depok Lama Pancoran Mas Depok
53 Wawancara dengan Ibu Ipah, 20 Maret 2011, Pasar Depok Lama Pancoran Mas Depok Warteg
“saya memang suka memesan nasi uduk bikinan Bu Ipah karena saya sendiri kurang pandai membuat nasi uduk, mulanya saya punya pe nggan yang ingin membeli nasi uduk, Mba tetapi saya selalu bilang saya bikin nasi uduk dan