Bab II : TINJAUAN PUSTAKA
A. Modal Kerja
0 500 1,000 1,500 2,000 2,500 3,000 3,500 2003 2004 2005 2006 2007 tahun m il li a r Total Assets Sales EBIT W orking Capital
Sumber: Data diolah, financial report CMEDS
Pada perusahaan industri seringkali dijumpai masalah-masalah yang timbul dalam pengelolaan modal kerja menjadi penyebab terjadinya mismanagement. Dari fenomena yang ada pada beberapa perusahaan terdapat kondisi modal kerja yang kurang efisien, terutama apabila perusahaan sudah mendapatkan posisi yang baik dalam pasar, terlepas dari faktor pendukung lainnya.
Tujuan setiap perusahaan adalah memperoleh tingkat keuntungan yang maksimal, salah satu caranya adalah dengan melakukan efisiensi pengelolaan modal kerja. Agar tujuan perusahaan bisa tercapai maka diperlukan suatu kemampuan perusahaan di dalam mengelola modal kerja secara efisien guna memperoleh tingkat rentabilitas yang tinggi. Tingkat rentabilitas mencerminkan kemampuan modal kerja menghasilkan keuntungan, berarti dengan tingkat rentabilitas yang tinggi mencerminkan adanya penggunaan modal kerja secara lebih efisien.
Sebagian besar sumber daya yang dimiliki perusahaan berada di dalam modal kerja. Sehingga masalah modal kerja merupakan hal yang penting dan memerlukan perhatian besar dengan tindakan cermat dalam pengelolaannya. Modal kerja penting bagi setiap perusahaan, hal ini dikarenakan beberapa alasan yaitu: Pertama, tanpa modal kerja perusahaan tidak dapat melakukan kegiatan operasional perusahaan sehari-hari. Kedua, sebagian besar waktu dari manajer dicurahkan untuk mengelola modal kerja perusahaan (JF Weston & Brigham, 2000). Ketiga, pada beberapa perusahaan manufaktur, investasi modal kerjanya dapat mencapai lebih 50% dari total aktiva perusahaan. Oleh karena itu modal kerja perusahaan perlu dikelola dengan baik (Federal Trade Commision) dalam Sudana dan Widyaningrum (2003).
Sumber-sumber modal kerja dapat menggunakan modal kerja sendiri (intern) dan pinjaman dari pihak lain. Pembiayaan yang menggunakan modal sendiri jumlahnya sangat terbatas, sedangkan kebutuhan untuk pembiayaan modal kerja sangat besar. Maka perusahaan membutuhkan modal kerja dari
pihak lain berupa pinjaman. Walaupun besarnya kebutuhan dapat dipenuhi akan tetapi timbul tambahan beban dalam penggunaannya, yaitu berupa bunga pinjaman. Kebutuhan dana yang besar akan mengakibatkan penggunaan dana pinjaman yang besar pula, sehingga menyebabkan tingginya beban. Oleh karena itu, modal kerja harus dikelola secara efektif dan efisien (Siswantini, 2006).
Mengingat pentingnya modal kerja dalam menunjang suksesnya perusahaan perlu adanya pertimbangan-pertimbangan yang mendetail dalam menentukan besarnya modal yang diperlukan dan dari mana sumber modal itu diperoleh. Penggunaan modal yang tepat diberbagai aktivitas perusahaan dan pengalokasiannya adalah salah satu indikator yang menunjukkan sukses tidaknya perusahaan. Salah satu unsur atau komponen rentabilitas adalah efisiensi penggunaan modal kerja (Indri, 2005).
Selain itu, efektivitas dan efisiensi perusahaan dapat dilihat dari kecepatan perputaran operating assets dalam suatu periode tertentu. Semakin cepat perputaran operating assets berarti semakin efisien penggunaan operating assets perusahaan tersebut. Kemudian faktor lain yang mempengaruhi tingkat rentabilitas perusahaan selain operating assets turnover, yaitu tingkat profit margin (Riyanto, 2001).
Alasan mengapa topik ini menarik untuk diteliti, karena perusahaan pada umumnya lebih mengutamakan masalah laba daripada masalah rentabilitas, dengan laba yang besar bukan berarti bahwa perusahaan itu telah bekerja dengan efektif dan efisien. Efisiensi barulah dapat diketahui dengan
menghitung tingkat rentabilitasnya. Penelitian-penelitian sebelumnya mengenai efektivitas kinerja perusahaan dengan indikator perputaran modal kerja dan analisis rasio serta hubungannya dengan laba telah banyak dilakukan.
Vedavinayagam Ganesan (2007) melakukan penelitian tentang analisa efisiensi pengelolaan modal kerja pada industri perlengkapan telekomunikasi selama periode 2001 – 2006 dengan menggunakan Uji F pada analisis regresi, mengemukakan bahwa efisiensi pengelolaan modal kerja memiliki hubungan negatif dengan tingkat profitabilitas pada perusahaan industri perlengkapan telekomunikasi di USA.
Hasil penelitian Ganesan (2007) sependapat dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kesseven Padachi (2006) tentang trend dalam pengelolaan modal kerja dan implikasinya terhadap perusahaan manufaktur di Mauritius, Afrika selama periode 1998-2003. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa tingginya tingkat investasi dalam persediaan dan piutang usaha berhubungan dengan rendahnya tingkat profitabilitas pada perusahaan manufaktur.
Susi Dwimulyani dan Shirley (2007) melakukan penelitian tentang pengaruh faktor-faktor seperti rasio keuangan, laba bersih, dan ukuran perusahaan terhadap prediksi pertumbuhan laba pada periode mendatang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat memprediksi pertumbuhan laba usaha pada perusahaan manufaktur, yaitu rasio kemampulabaan, laba bersih, dan ukuran perusahaan.
Penelitian lainnya dilakukan oleh Suryo Luhur W.A dan Triani Pujiastuti (2006) mengemukakan bahwa profit margin dan perputaran aktiva lancar mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap rentabilitas modal kerja. Selain itu, profit margin ternyata memiliki pengaruh yang paling signifikan terhadap tingkat rentabilitas modal kerja.
Indri Yuliafitri (2005) mengemukakan tentang pengaruh kecepatan perputaran modal kerja dan operating assets turnover terhadap tingkat rentabilitas pada perusahaan yang bergerak di sektor industri dasar dan kimia yang diobseravasi selama 3 tahun, yaitu dari tahun 2001 sampai 2003. Berdasarkan uji F yang dilakukan terhadap 48 sampel, diperoleh hasil penelitian adalah secara bersama-sama atau simultan terdapat pengaruh yang signifikan antara efektivitas modal kerja dan operating assets turnover terhadap tingkat rentabilitas. Sedangkan pengujian secara parsial atau individual menemukan bukti bahwa efektivitas modal kerja dan operating assets turnover tidak berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat rentabilitas. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Aprilia (2003) yang menyatakan bahwa perputaran modal kerja dan operating assets turnover secara individual tidak berpengaruh terhadap rentabilitas. Dari temuan ini menunjukkan bahwa kedua variabel (perputaran modal kerja dan operating assets turnover) akan berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat rentabilitas apabila keduanya berfungsi secara bersama.
Selanjutnya Tria Siswantini (2006) melakukan penelitian yang membahas tentang pengaruh pengelolaan modal kerja, khususnya perputaran kas,
perputaran piutang, dan perputaran persediaan terhadap tingkat profitabilitas pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Jakarta. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa perputaran kas memberikan pengaruh negatif secara signifikan terhadap profitabilitas. Sedangkan perputaran piutang dan perputaran persediaan memberikan hasil yang positif dan signifikan serta berpengaruh terhadap profitabilitas. Berbeda dengan hasil penelitian Nugroho (2004) bahwa pengujian secara parsial menunjukkan perputaran kas dan perputaran persediaan masing-masing memiliki pengaruh yang signifikan terhadap profitabilitas. Sedangkan perputaran piutang secara individual tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap profitabilitas perusahaan.
Dari uraian di atas, peneliti tertarik untuk menguji konsistensi dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Indri Yuliafitri (2005) dan Tri Siswantini (2006) dengan melihat pengaruh pengelolaan modal kerja dan operating assets turnover terhadap tingkat rentabilitas.
Penelitian ini merupakan pengembangan dari penelitian yang telah dilakukan oleh Indri Yuliafitri (2005) dan Tri Siswantini (2006). Adapun perbedaan dalam penelitian ini terletak pada:
1. Variabel independen yang digunakan merupakan kombinasi dari kedua penelitian di atas, yaitu pengelolaan modal kerja, operating assets turnover, dan rentabilitas. Selain itu, pada penelitian ini ditambahkan variabel independen lainnya, yaitu profit margin dan ukuran perusahaan.
2. Periode observasi yang dilakukan pada penelitian ini adalah tahun 2003 – 2007. Periode ini merupakan lanjutan dari periode penelitian yang telah
dilakukan oleh Indri Yuliafitri (2005) yang melakukan penelitian pada periode tahun 2001 – 2003, sedangkan Tri Siswantini (2006) melakukan penelitian pada periode tahun 2003.
Dengan demikian maka penulis tertarik untuk menganalisa masalah pengelolaan modal kerja, profit margin, operating assets turnover, dan ukuran perusahaan serta pengaruhnya terhadap tingkat rentabilitas perusahaan, yang diungkap dalam skripsi dengan judul “Analisis Pengelolaan Modal Kerja,
Profit Margin, Operating Assets Turnover, dan Ukuran Perusahaan Serta Pengaruhnya Terhadap Tingkat Rentabilitas Pada Perusahaan Manufaktur Di Bursa Efek Indonesia”.
Penulis mengidentifikasi beberapa masalah yang terdapat pada penelitian ini, yaitu antara lain: adanya perbedaan ukuran perusahaan berdasarkan nilai total assets pada perusahaan yang tergolong ke dalam sektor manufaktur; tingkat rentabilitas perusahaan dipengaruhi oleh beberapa variabel diantaranya working capital turnover, profit margin, operating assets turnover, dan firm size; serta mengidentifikasi dari keempat variabel independen tersebut yang paling dominan dalam mempengaruhi tingkat rentabilitas perusahaan manufaktur.
Dalam penulisan ini, terdapat batasan-batasan yang perlu ditentukan agar pembahasan penelitian ini lebih terfokus dan tidak mencakup hal yang lebih luas. Pembatasan masalah dalam penelitian ini antara lain: menganalisis tingkat rentabilitas perusahaan yang tergolong ke dalam sektor manufaktur selama periode penelitian, yaitu mulai tahun 2003 hingga 2007; kemudian
menganalisis pengaruh variabel working capital turnover, profit margin, operating assets turnover, dan firm size berdasarkan nilai total aktiva terhadap tingkat rentabilitas perusahaan manufaktur dengan menggunakan metode regresi linier berganda; selanjutnya data keuangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah laporan keuangan per semesteran pada perusahaan manufaktur antara lain berupa neraca, laporan laba rugi, serta laporan perubahan modal.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian di atas, perumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana pengaruh variabel working capital turnover, profit margin, operating assets turnover, dan firm size terhadap tingkat rentabilitas perusahaan?
2. Dari keempat variabel independen (working capital turnover, profit margin, operating assets turnover, dan firm size), manakah yang paling dominan mempengaruhi tingkat rentabilitas perusahaan?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang sejauh mana pengaruh working capital turnover, profit margin,operating assets turnover, dan firm size terhadap tingkat rentabilitas perusahaan
manufaktur di Bursa Efek Indonesia. Secara operasional tujuan penelitian adalah:
a. Menganalisis pengaruh antara working capital turnover, profit margin, operating assets turnover, dan firm size terhadap tingkat rentabilitas perusahaan.
b. Menganalisis keempat variabel independen tersebut dan menentukan variabel yang paling dominan mempengaruhi tingkat rentabilitas perusahaan.
2. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat diambil manfaat oleh beberapa pihak sebagai berikut:
a. Bagi internal perusahaan, hasil penelitian ini diharapkan berguna dalam mengevaluasi pengelolaan modal kerja, profit margin,operating assets turnover, dan total aktiva sebagai indikator ukuran perusahaan (firm size) dalam meningkatkan rentabilitas perusahaan dan sebagai informasi untuk menilai kinerja manajemen dalam memaksimalkan sumber daya ekonomi yang dimiliki perusahaan secara efektif dan efisien.
b. Bagi pihak eksternal, penelitian ini diharapkan berguna untuk dapat mengevaluasi sampai sejauh mana perusahaan mengelola modal kerja, profit margin, operating assets turnover, dan total aktiva sebagai indikator ukuran perusahaan (firm size) serta hubungannya dengan tingkat rentabilitas perusahaan, sehingga dapat memberikan informasi
yang relevan kepada pihak investor sebagai dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi suatu perusahaan.
c. Bagi penulis, untuk mengetahui lebih jauh mengenai pengaruh pengelolaan modal kerja, profit margin,operating assets turnover, dan ukuran perusahaan terhadap tingkat rentabilitas perusahaan, serta sebagai bahan perbandingan atau referensi khususnya untuk pengkajian topik-topik yang berkaitan dengan masalah pengelolaan modal kerja, profit margin, operating assets turnover, ukuran perusahaan, dan rentabilitas perusahaan.
d. Bagi akademisi, sebagai bahan referensi yang dapat membantu dalam penelitian sejenis serta menambah wawasan pembaca.
e. Bagi peneliti berikutnya, sebagai perbandingan dan acuan untuk penelitian-penelitian yang akan datang.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Modal Kerja
Setiap perusahaan membutuhkan modal kerja untuk membiayai kegiatan operasionalnya sehari-hari. Modal kerja tersebut diharapkan dapat kembali dalam jangka pendek, biasanya kurang dari satu tahun, sehingga dapat dipergunakan kembali untuk membiayai kegiatan operasional selanjutnya. Dengan demikian modal kerja tersebut terus menerus akan berputar selama perusahaan itu berjalan.
Pengelolaan modal kerja meliputi usaha mendapatkan dan menyediakan dana yang dibutuhkan serta usaha untuk menggunakan dana tersebut secara efektif dan efisien dengan tetap mempertahankan arus pendapatan guna kelangsungan perusahaan dalam membiayai operasi selanjutnya. Oleh karena itu, diperlukan manajemen yang baik terhadap pengelolaan modal kerja. 1. Pengertian modal kerja
Definisi modal kerja banyak dijelaskan oleh para ahli ekonomi. Menurut Weston dan Brigham (1993) dalam Sudana dan Widyaningrum (2003), mengemukakan bahwa modal kerja adalah investasi perusahaan pada aktiva jangka pendek, seperti kas, sekuritas yang mudah dipasarkan, piutang usaha, dan persediaan.
Kemudian menurut Keown (1993) yang dikutip oleh Indri Yuliafitri (2005), working capital is defined as the firm’s total investment in current
assets. Net working capital, on the other hand, is the difference between the firm’s current assets and its current liabilities. Hal senada diungkapkan oleh Wild, etc (2004) bahwa working capital is defined as the excess of current assets over current liabilities.
Weston dan Copeland (2001) menerangkan bahwa modal kerja merupakan investasi perusahaan dalam bentuk uang tunai, surat berharga, piutang dan persediaan, dikurangi kewajiban lancar yang digunakan untuk membiayai aktiva lancar perusahaan. Jumlah ini disebut modal kerja bersih (net working capital). Pemahaman senada diungkapkan oleh Alwi (2003), modal kerja mengandung dua pengertian pokok, yaitu gross working capital yang merupakan keseluruhan dari aktiva lancar dan net working capital yang merupakan selisih antara aktiva lancar dengan hutang lancar.
Definisi-definisi di atas menjelaskan net working capital, yaitu aktiva yang benar-benar dapat digunakan oleh perusahaan tanpa mengurangi likuiditasnya. Prinsip modal kerja yang dimaksud adalah selisih aktiva lancar (current assets) di atas hutang lancar (current liabilities). Secara umum, aktiva lancar terdiri dari: kas atau uang tunai, surat-surat berharga (marketable securities), piutang (account receivable), dan persediaan (inventory). Sedangkan hutang lancar terdiri dari: hutang-hutang jangka pendek (short-term liabilities), hutang wesel (notes), hutang usaha, dan hutang-hutang pada bank yang berusia kurang dari satu tahun, serta hutang jangka panjang (long-term liabilities) yang jatuh tempo.
Berkaitan dengan pengertian modal kerja ini dapat dikemukakan beberapa konsep modal kerja. Riyanto (2001) mengemukakan tiga konsep pengertian modal kerja, yaitu: konsep kuantitatif, konsep kualitatif, dan konsep fungsional.
a. Konsep kuantitatif
Konsep kuantitatif berdasarkan pada kuantitas yang dipergunakan untuk mencukupi kebutuhan perusahaan dalam membiayai operasinya yang bersifat rutin, atau menunjukkan jumlah dana (fund) yang tersedia untuk tujuan operasi jangka pendek. Dalam konsep ini menganggap bahwa modal kerja merupakan keseluruhan dari jumlah aktiva lancar (gross working capital).
b. Konsep kualitatif
Konsep kualitatif berdasarkan pada kualitas modal kerja, dalam konsep ini modal kerja merupakan kelebihan aktiva lancar terhadap hutang lancar (net working capital), yaitu jumlah aktiva lancar yang berasal dari pinjaman jangka panjang maupun pemilik perusahaan. c. Konsep fungsional
Konsep fungsional berdasarkan pada fungsi dari dana yang dimiliki dalam rangka menghasilkan pendapatan (laba) dari usaha pokok perusahaan.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa modal kerja merupakan kekayaan atau aktiva yang diperlukan perusahaan sehari-hari dan selalu berputar. Dengan demikian modal kerja berupa investasi dari
aktiva jangka pendek perusahaan yaitu kas, efek-efek jangka pendek, piutang dagang dan persediaan. Perlu diperhatikan bahwa kebutuhan akan jumlah modal kerja setiap perusahaan tidak sama, umumnya perusahaan yang berhasil menyediakan modal kerja lebih dari cukup.
Beberapa pengaruh terhadap penyediaan modal kerja yang melebihi keperluan antara lain (Riyanto, 2001):
a. Modal kerja yang berlebihan dapat menambah resiko terhadap hilangnya modal kerja itu sendiri karena tidak dapat dipergunakan secara efisien.
b. Modal kerja yang berlebihan juga bisa mengakibatkan mengurangi hasil (laba), karena modal kerja ini tidak produktif dengan adanya dana secara ekonomis tidak dapat digunakan sebagai keuntungan yang semestinya dicapai tetapi tidak dapat dicapai.
c. Modal kerja yang berlebihan bisa menambah kegiatan dan produktivitas perusahaan untuk menjalankan aktivitasnya.
Menurut S. Munawir (2005) keuntungan yang lain dari modal kerja sebagai berikut:
a. Melindungi perusahaan terhadap krisis modal hanya karena turunnya nilai dari aktiva lancar.
b. Memungkinkan untuk dapat membayar semua kewajiban – kewajiban tepat pada waktunya.
c. Menjamin dimilikinya kredit standing perusahaan, semakin besar dan memungkinkan bagi perusahaan untuk dapat menghadapi bahaya atau kesulitan keuangan yang mungkin terjadi.
d. Memungkinkan untuk memiliki persediaan dalam jumlah yang cukup untuk melayani para konsumen.
e. Memungkinkan bagi perusahaan untuk memberikan syarat kredit yang lebih menguntungkan kepada para pelanggan.
f. Memungkinkan bagi perusahaan untuk dapat beroperasi dengan lebih efisien karena tidak ada kesulitan untuk memperoleh barang atau jasa yang dibutuhkan.
2. Jenis-jenis modal kerja
Manajemen harus dapat mengetahui dan menetapkan jenis modal kerja yang harus selalu ada atau yang hanya ada sewaktu-waktu dibutuhkan. Riyanto (2001) menggolongkan modal kerja dalam beberapa jenis, yaitu:
a. Modal kerja permanen (permanent working capital)
Modal kerja permanen merupakan modal kerja yang harus tetap ada pada perusahaan untuk dapat menjalankan fungsinya, atau dengan kata lain modal kerja secara terus menerus diperlukan untuk kelancaran usaha. Modal kerja permanen dibedakan dalam:
1) Modal kerja primer (primary working capital)
Modal kerja primer merupakan jumlah modal kerja minimum yang harus ada pada perusahaan untuk menjamin kontinuitas usaha.
2) Modal kerja normal (normal working capital)
Modal kerja normal merupakan jumlah modal kerja yang diperlukan untuk menyelenggarakan luas produksi yang normal dalam artian yang dinamis.
b. Modal kerja variabel (variable working capital)
Modal kerja variabel merupakan modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah sesuai dengan perubahan keadaan. Modal kerja ini dibedakan dalam:
1) Modal kerja musiman (seasonal working capital)
Modal kerja musiman merupakan modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah disebabkan karena fluktuasi musim. 2) Modal kerja siklis (cyclical working capital)
Modal kerja siklis merupakan modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah disebabkan karena fluktuasi konjungtur.
3) Modal kerja darurat (emergency working capital)
Modal kerja darurat merupakan modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah disebabkan karena keadaan darurat yang tidak diketahui sebelumnya (misalnya: pemogokan buruh, banjir, perubahan keadaan ekonomi yang mendadak).
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi modal kerja
Modal kerja yang dibutuhkan oleh suatu perusahaan tergantung atau dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagaimana dikemukakan oleh S. Munawir (2005) sebagai berikut :
a. Sifat atau type dari perusahaan
Modal kerja dari suatu perusahaan jasa akan lebih rendah bila dibandingkan dengan perusahaan industri karena perusahaan jasa tidak memerlukan investasi yang besar dalam kas, piutang maupun persediaan. Sedangkan perusahaan industri harus mengadakan investasi yang cukup besar dalam aktiva lancar agar perusahaan tidak mengalami kesulitan dalam operasinya sehari-hari. Oleh karena itu apabila dibandingkan dengan perusahaan jasa, perusahaan industri membutuhkan modal kerja yang lebih besar.
b. Waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh barang yang akan dijual Kebutuhan modal kerja suatu perusahaan yang berhubungan langsung dengan waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh barang yang akan dijual, bahan dasar akan diproduksi sampai barang tersebut dijual. Makin panjang waktu yang diperlukan untuk memproduksi atau memperoleh barang tersebut, maka makin besar pula modal kerja yang dibutuhkan. Disamping itu harga pokok produksi barang juga akan mempengaruhi besar kecilnya modal kerja yang dibutuhkan, semakin besar harga pokok produksi barang yang dijual akan semakin besar pula kebutuhan akan modal kerja.
c. Syarat pembelian bahan atau barang dagangan
Syarat pembelian bahan dasar atau barang dagang yang akan digunakan untuk memproduksi barang sangat dipengaruhi jumlah modal kerja yang dibutuhkan oleh perusahaan yang bersangkutan. Jika syarat kredit yang diterima pada waktu pembelian menguntungkan, maka makin sedikit uang kas yang harus diinvestasikan dalam persediaan bahan atau barang dagangan. Namun, sebaliknya bila pembayaran atas bahan atau barang dagangan yang dibeli tersebut harus dilakukan dalam jangka waktu yang pendek maka uang kas yang diperlukan untuk membiayai persediaan semakin besar pula. d. Syarat penjualan
Semakin lunak kredit yang diberikan oleh perusahaan kepada para langganannya atau pembelinya akan mengakibatkan semakin besarnya jumlah modal kerja yang harus diinvestasikan dalam piutang. Untuk memperoleh dan memperkecil jumlah modal kerja yang harus diinvestasikan dalam piutang dan untuk memperkecil resiko adanya piutang yang tidak dapat tertagih, maka sebaiknya perusahaan memberikan potongan tunai kepada para pembeli. Dengan demikian para pembeli akan tertarik untuk segera membayar utangnya dalam periode diskonto tersebut.
e. Tingkat perputaran persediaan
Tingkat perputaran persediaan menunjukkan beberapa kali persediaan tersebut diganti dalam arti dijual kembali. Semakin tinggi
tingkat perputaran persediaan maka modal kerja yang dibutuhkan (terutama yang diinvestasikan pada perusahaan) semakin rendah, sehingga untuk dapat mencapai tingkat perputaran yang tinggi maka harus dilakukan perencanaan dan pengawasan persediaan secara teratur dan efisien. Semakin cepat atau semakin tinggi tingkat perputaran akan memperkecil resiko terhadap kerugian yang disebabkan karena penurunan harga atau karena perubahan selera konsumen, disamping itu akan menghemat ongkos penyimpanan dan pemeliharaan terhadap persediaan tersebut.
4. Sumber dan Penggunaan Modal Kerja
Analisa sumber dan penggunaan modal kerja sangat penting bagi penganalisa intern dan ekstern. Maksud utama dari analisa ini adalah untuk mengetahui dari mana modal tersebut dipergunakan. Dengan kata lain, analisa sumber dan penggunaan modal kerja erat kaitannya dengan dana yang diperoleh dan dapat dipergunakan oleh perusahaan dalam kegiatan operasinya sehari-hari dalam suatu periode tertentu. Sumber modal kerja perusahaan pada umumnya diperoleh melalui (Syahyunan, 2003):
a. Penambahan jumlah hutang tidak lancar
Pengeluaran obligasi misalnya akan mengakibatkan pertambahan kas (harta lancar) tanpa diikuti oleh pertambahan dalam hutang jangka pendek.
b. Penambahan modal saham.
Pengeluaran saham biasanya akan mengakibatkan pertambahan kas atau harta lancar tanpa dibarengi oleh pertambahan dalam hutang jangka pendek. Pengecualian dalam hal ini ialah bila pengeluaran saham baru disertai dengan penurunan dalam hutang jangka panjang misalnya obligasi dikonversikan kepada modal saham.