V. ANALISIS USAHATANI PADI UNTUK MENDUKUNG
6.3.7. Model Asuransi Indeks Iklim
Asuransi indeks iklim adalah alat yang relatif baru yang dapat digunakan oleh petani untuk mengelola risiko iklim. Parameter iklim yang bisa digunakan untuk penyusunan indeks iklim cukup beragam. Menurut Manuamorn (2010), indeks iklim yang bisa digunakan antara lain : curah hujan, suhu udara, kecepatan angin, kelembaban tanah dan growing degree day. Dalam penelitian ini parameter
iklim yang dipilih adalah curah hujan. Hal ini disebabkan curah hujan merupakan parameter iklim yang paling berpengaruh terhadap fluktuasi produksi padi. Manuamorn (2010) juga menyebutkan bahwa dalam pertanian, indeks yang paling sering digunakan adalah indeks hujan yang ditujukan untuk memproteksi petani dari bencana kekeringan.
Penyusunan indeks iklim memerlukan input data yang utama yaitu data curah hujan runut waktu dalam jangka panjang (30-40 tahun) (Mapfumo 2007). Oleh karena itu keberadaan stasiun hujan menjadi sangat penting. Selain itu, pengembangan model asuransi indeks iklim, perlu didukung dengan data usahatani padi serta kesediaan membayar.
Penyusunan model asuransi indeks iklim memerlukan beberapa tahapan mulai dari desain produk hingga perhitungan klaim. Didalam desain produk dilakukan tahapan sebagai berikut :
1. Menganalisis hubungan antara curah hujan dan produksi padi. Produksi padi diestimasi dengan model simulasi tanaman DSSAT.
2. Menganalisis hubungan produksi padi dengan R/C untuk mendapatkan threshold produksi padi
3. Membuat desain indeks iklim berdasarkan hubungan curah hujan dan produksi padi serta threshold produksi.
Penghitungan indeks iklim sebaiknya dilakukan oleh suatu tim yang disebut “sains proker” yang bekerja memberi pemahaman baik dari sisi peserta asuransi (dalam hal ini petani) maupun yang memberi asuransi (bank/jasa keuangan lainnya) (Boer, 2012). Tahap selanjutnya adalah pemasaran produk yang mencakup penyebaran dan penjelasan polis, umpan balik konsumen dan pembelian polis. Indeks iklim yang telah disepakati dan diaplikasikan selanjutnya dipantau selama periode asuransi. Tahap terakhir adalah penghitungan klaim dan pembayaran. Jika curah hujan selama periode asuransi lebih rendah dari exit akan dilakukan pembayaran penuh. Apabila lebih rendah dari trigger akan dilakukan pembayaran parsial, sedangkan apabila curah hujan selama periode asuransi lebih besar dari trigger, maka tidak ada pembayaran. Diagram alir model asuransi indeks iklim secara garis besar disajikan dalam Gambar 74.
Gambar 74. Diagram alir model asuransi indeks iklim (dimodifikasi dari Martirez 2009)
Dalam konsep asuransi indeks iklim, petani akan memperbarui kontraknya setiap tahun, Jadi indeks iklim yang dihasilkan juga akan diperbarui setiap tahunnya. Hal ini dilakukan agar indeks bisa mewakili kondisi iklim dengan masukan data terbaru (near real time).
Terkait dengan waktu pelaksanaannya, asuransi indeks iklim dapat diikuti oleh petani setiap tahun karena kontrak diperbarui setiap tahunnya. Kontrak tahun ini dibuat untuk periode asuransi yang akan datang. Persyaratan mengikuti asuransi indeks iklim menurut Mapfumo (2007) adalah :
1. Tersedia jaringan stasiun cuaca.
2. Tersedia data yang berkualitas dan dalam runut waktu yang panjang (30-40 tahun).
3. Kepadatan petani tinggi di sekitar stasiun meteorology tertentu. 4. Pola cuaca relatif seragam dalam radius tertentu dari stasiun cuaca
5. Kapasitas memegang air tanah (water holding capacity) yang relatif sama untuk lahan pertanian yang diasuransikan terhadap stasiun tertentu.
6. Jaringan pengiriman yang institusional hingga bisa mencapai ke petani yang berkomitmen untuk asuransi ini dan yang memiliki kemampuan teknis mengelola proses ini.
7. Mendistribusikan dan memasarkan produk ke petani
8. Kemampuan untuk memberikan pendidikan dan pelatihan kepada para petani 9. Penanggung atau pengambil risiko bersedia untuk menanggung risiko atau
Syarat lainnya yang perlu diperhatikan adalah bahwa untuk mengikuti program asuransi indeks iklim ini, maka petani harus memiliki tanaman padi yang diusahakan di lahan sawahnya. Petani bisa memanfaatkan kalender tanam untuk mendapatkan informasi saat tanam yang tepat. Penentuan saat tanam yang tepat serta keikutsertaan dalam asuransi indeks iklim akan membantu petani mengelola usahataninya dengan optimal. Asuransi indeks iklim didesain untuk membantu petani meningkatkan produktifitasnya. Pada tahun-tahun yang baik (good year), petani diharapkan bisa meningkatkan teknologi inputnya (varietas, pupuk, obat- obatan, dan lain-lain) sehingga produksinya meningkat. Sementara pada tahun- tahun buruk (bad year) petani akan mendapat klaim pembayaran asuransi indeks iklim. Dengan demikian petani diharapkan akan lebih berani dalam mengambil risiko.
Pada intinya dalam pengembangan asuransi indeks iklim, ada tiga aspek yang terkait, yaitu finansial, produksi dan sosial. Asuransi indeks iklim membuka peluang bagi petani untuk diuntungkan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan. Apabila petani sejahtera, maka hal tersebut merupakan keberhasilan dan prestasi bagi Kementerian Pertanian. Selain itu juga akan mengurangi gejolak sosial.
Untuk aplikasi asuransi indeks iklim, penentuan lokasi bisa dilakukan dengan data dan informasi berdasarkan peta endemik kekeringan. Selain itu, faktor lain yang perlu dipertimbangkan adalah : 1) iklim/biofisik, 2) posisi strategis sebagai sentra produksi, dan 3) kondisi petani (Las 2012).
6.4. Simpulan
Secara umum, hasil simulasi tanaman di lahan tadah hujan memperlihatkan rata-rata produksi padi antara 1.1-1.4 ton/ha pada MK dan 3.3-4 ton/ha pada MH. Sementara hasil observasi berdasarkan wawancara dengan petani diperoleh rata-rata produksi berkisar antara 3.2-3.6 ton/ha pada MK dan 4.7-5.7 ton/ha pada MH.
Rata-rata produksi padi di lahan irigasi ujung berkisar antara 3,8-5,0 ton/ha pada MK dan 5.1-5.9 ton/ha pada MH. Sementara hasil simulasi tanaman
memperlihatkan nilai produksi berkisar antara 3-7.3 ton/ha pada MK dan 4.4-5.9 ton/ha pada MH.
Hubungan curah hujan dan produksi padi yang diwakili oleh lokasi Cikedung ditunjukkan oleh nilai R2 sebesar 0.6 untuk seluruh fase, sedangkan fase 1 sebesar 0.5, fase 2 sebesar 0.3 dan fase 3 sebesar 0.7.
Pengaruh curah hujan setiap fase terhadap keragaman hasil adalah 0.34% (fase 1), 0.43% (fase 2) dan 0.23% (fase 3). Fase 2 memberikan pengaruh yang paling besar terhadap keragaman hasil padi di Cikedung.
Pada nilai R/C=1 diperoleh threshold produksi sebesar 2711 kg/ha. Peluang terjadinya threshold<2711 kg/ha selama periode 1981-2009 adalah 0.1 hingga 1, dengan periode ulang 1 hingga 10 tahun.
Indeks iklim yang diperoleh untuk lokasi Cikedung adalah 183 mm (fase 1), 136 mm (fase 2), 119 mm (fase 3) dan 439 mm untuk keseluruhan fase pada MK.
USAHATANI BERBASIS PADI : Potensi dan Tantangan
7.1. Pendahuluan
Perubahan iklim dan dampaknya pada berbagai sektor telah menggungah kesadaran berbagai pihak untuk melakukan upaya-upaya mengurangi risikonya. Sektor pertanian yang mengalami dampak cukup besar telah dan sedang melakukan langkah-langkah dalam meminimalkan risiko. Tersusunnya pedoman umum (PEDUM) mitigasi, adaptasi serta road map “Strategi Sektor Pertanian Menghadapi Perubahan Iklim” merupakan salah satu bentuk tanggung jawab sektor pertanian untuk mengambil bagian dalam menghadapi perubahan iklim.
Berbagai fenomena cuaca dan iklim ekstrim yang terjadi baik dalam skala temporal singkat (menit, jam, hari) sampai skala temporal bulanan (musim) membawa dampak bagi sektor pertanian. Dengan mengasumsikan faktor lain seperti kualitas lahan, benih, pupuk, dan teknik budidaya dalam kondisi optimal, maka faktor unsur cuaca dan iklim utama (suhu, radiasi, dan curah hujan) menjadi penting dalam proses produksi pertanian untuk menghasilan luas panen dan produktivitas maksimum per satuan lahan.
Di sisi lain, petani sebagai ujung tombak pelaku pertanian akan menerima dampak yang paling besar ketika perubahan iklim itu terjadi. Penyebab utama kemiskinan petani adalah karena kepemilikan lahan yang relatif sempit. Data sensus pertanian tahun 2003 dan hasil survey menunjukkan bahwa sebagian besar petani memiliki lahan kurang dari 0.5 Ha (Ilham et al. 2007). Menurut Bustanul
dengan kepemilikan lahan kurang dari 0.5 hektar, kebutuhan hidup petani yang bisa dipenuhi dari usaha pertanian mereka maksimal 54 persen (Gerbang Pertanian 2011). Profil petani juga dinyatakan oleh Simatupang dan Rusastra (2004) yang menyebutkan bahwa sebagian besar petani padi adalah keluarga miskin yang lebih mendahulukan pemenuhan kebutuhan pokok saat ini daripada masa mendatang. Oleh karena itu ketika perubahan iklim terjadi, maka petani belum siap untuk melakukan antisipasinya.
Dalam rangka meminimalkan risiko iklim, petani pada umumnya memiliki strategi tersendiri untuk bisa bertahan hidup, seperti finansial, pemasaran, produksi dan kredit informal, walaupun dalam kenyataannya risiko dan ketidakpastian itu tidak dapat dihilangkan sepenuhnya (Hadi 2000). Oleh karena itu, perlu adanya opsi adaptasi yang bisa diberikan kepada petani. Salah satunya adalah melalui asuransi indeks iklim.
Asuransi indeks iklim merupakan asuransi pertanian yang berbasis indeks iklim (curah hujan, dll). Sistem ini memberikan pembayaran pada pemegang polis apabila terpenuhi kondisi cuaca/iklim yang tidak diharapkan tanpa harus ada bukti kegagalan panen. Dalam sistem asuransi iklim yang diasuransikan ialah indeks iklimnya dan bukan tanamannya. Indeks disusun berdasarkan data historis hujan jangka panjang. Biaya pengelolaan risiko iklim didasarkan pada defisit hujan dari jumlah yang dibutuhkan pada beberapa fase pertumbuhan. Pembayaran dilakukan berdasarkan apakah indeks iklim yang ditetapkan dicapai pada periode pertumbuhan tanaman yang diasuransikan. Di Indonesia, penelitian tentang asuransi indeks iklim masih sangat terbatas. IFC (2009) telah melakukan studi kelayakan tentang asuransi iklim di kawasan timur Indonesia (NTB, Sulsel dan Jawa Timur) tetapi untuk komoditas jagung. Untuk komoditas padi sampai saat ini belum pernah dilakukan. Penelitian ini merupakan penelitian pertama yang mencoba mengembangkan suatu model asuransi indeks iklim untuk usahatani padi. Penelitian dilakukan di Kabupaten Indramayu.
Kabupaten Indramayu merupakan sentra produksi beras khususnya di Provinsi Jawa Barat. Sekitar 11.7% produksi beras Jawa Barat dipasok oleh Kabupaten Indramayu. Hal ini menjadikan Provinsi Indramayu sebagai kabupaten yang memiliki pengaruh cukup besar terkait dengan usahatani padi. Di sisi lain, Kabupaten Indramayu merupakan salah Kabupaten yang rentan terhadap perubahan iklim. Hasil penelitian Faqih (2010) menyebutkan bahwa pengaruh ENSO di Jawa Barat ditemukan paling kuat terjadi di wilayah Indramayu, khususnya pada bulan Juli, Agustus dan September. Ketika terjadi El Nino, curah hujan di Indramayu dapat turun sekitar 30-70% dari kondisi normal (per 1 °C peningkatan anomali suhu muka laut di wilayah Nino-3.4). Dengan demikian peluang terjadinya risiko iklim di Kabupaten Indramayu cukup besar. Perubahan
iklim yang nyata sering terjadi dan mengganggu produktivitas pertanian adalah kejadian iklim ektrim berupa banjir dan kekeringan. Di Kabupaten Indramayu, kekeringan menempati posisi paling tinggi sebagai penyebab gagal panen (79.8%), disusul OPT (14.5%) dan banjir (5.6%). Oleh karena itu, kejadian kekeringan di Kabupaten Indramayu perlu mendapat perhatian utama terkait dengan pengelolaan risiko iklim.
Terkait dengan asuransi indeks iklim, maka untuk mengembangkannya diperlukan suatu penelitian awal yang dapat memberikan gambaran tentang model asuransi indeks iklim serta potensi dan tantangannya.
7.2. Metodologi
Bab 7 ini merupakan rangkuman dari seluruh hasil penelitian. Pembahasan umum difokuskan pada potensi dan tantangan dalam pengembangan asuransi indeks iklim pada sistim usaha tani berbasis padi. Potensi digali berdasarkan berbagai data dan informasi yang telah dihasilkan dari penelitian ini. Hasil analisis yang telah diperoleh pada Bab 3 akan digunakan untuk memberikan masukan tentang wilayah prioritas penanganan bencana kekeringan. Wilayah dengan tingkat endemik tinggi merupakan prioritas pertama dalam penanganan bencana kekeringan. Hasil analisis penetapan cakupan wilayah untuk penerapan indeks iklim (Bab 4) akan digunakan untuk menilai cakupan wilayah indeks, serta memberikan saran perlu tidaknya dibangun stasiun hujan (otomatis) yang baru. Respon petani terhadap program asuransi iklim serta gambaran kesediaan petani untuk membayar (willingness to pay) yang dihasilkan dari analisis ekonomi usahatani (Bab 5) menjadi bahan masukan dalam pengembangan asuransi indeks iklim. Hubungan curah hujan dan produksi padi (Bab 6) merupakan dasar penyusunan indeks iklim. Semua hasil penelitian selanjutnya diformulasikan dalam bentuk rekomendasi yang berfokus pada potensi dan tantangan pengembangan asuransi indeks iklim.
7.3. Model Asuransi Indeks Iklim di Kabupaten Indramayu
Kekeringan yang menjadi penyebab utama (78.9%) gagal panen di Kabupaten Indramayu menjadi pilihan utama bentuk risiko iklim yang dicover
dalam asuransi indeks iklim. Kekeringan diidentifikasi dan didelineasi dalam bentuk peta endemik kekeringan untuk setiap kecamatan. Endemik kekeringan tinggi merupakan wilayah prioritas utama penanganan kekeringan seperti di Kecamatan Losarang, Kandanghaur, Krangkeng, Cikedung, Gabuswetan, Indramayu, dll yang pada umumnya berada di ujung irigasi.
Usahatani padi menjadi mata pencaharian utama (91.4%) petani di Indramayu. Kegiatan pertanian sebagian besar (64%) dilakukan oleh petani yang sudah tidak muda lagi yaitu usia 41-60 tahun, dengan pendidikan SD (49%). Hasil analisis usahatani padi memperlihatkan bahwa usahatani padi masih memberikan keuntungan dan layak diusahakan. Hal ini ditunjukkan oleh nilai R/C yang lebih dari 1, yaitu sebesar 1.98 pada MH dan 1.74 pada MK. Meskipun secara ekonomi layak dan menguntungkan, namun belum diikuti dengan pengelolaan keuangan yang baik. Sekitar 51% petani belum terbiasa menyimpan uang hasil panennya, meskipun ada beberapa petani yang menyimpan dalam bentuk gabah (3%) dan perhiasan (1%). Hampir setiap awal masa tanam, sebagian besar petani (65%) mengajukan kredit untuk usahataninya melalui Bank (40%).
Produksi padi di lokasi penelitian berkisar antara 5-6 ton/ha (MH) dan 4-5 ton/ha (MK), dan ada beberapa lokasi yang bisa mencapai 7 ton/ha. Hubungan curah hujan dan produksi padi dengan R2 sebesar 0.6 digunakan untuk penentuan batas (triger) hujan. Trigger hujan adalah ambang batas atas atau bawah di mana pembayaran dilakukan (untuk kasus kekeringan, pembayaran dilakukan ketika nilai indeks yang dihitung lebih rendah dari trigger). Batas produksi (threshold) padi yang ditentukan pada saat nilai R/C=1 digunakan untuk menentukan batas (triger) curah hujan. Stasiun Cikedung dipilih sebagai contoh untuk desain premi dan klaim asuransi. Pada threshold produksi 2711 kg/ha diperoleh triger hujan 542.2 mm/musim. Berdasar plot peluang threshold<2711 kg/ha, maka hampir setiap tahun kondisi tersebut terjadi. Hal ini kurang menguntungkan dari pihak asuransi karena peluangnya sangat besar. Dengan skenario periode ulang, maka dapat dipilih periode yang dapat dijadikan produk asuransi. Untuk kasus Cikedung, periode ulang 3 tahun dapat dijadikan pilihan produk asuransi. Persamaan regresi terboboti selanjutnya digunakan untuk menentukan indeks iklim per fasenya. Diperoleh berturut-turut 183 mm (fase 1), 136 mm (fase 2) dan
119 mm (fase 3) dan seluruh fase 439 mm. Apabila diasumsi nilai polis 5 juta rupiah, maka jika petani mengasuransikan satu periode tanam dan terpenuhi kondisi seperti yang disyaratkan, petani akan mendapat klaim maksimal sebesar nilai polisnya, yaitu 5 juta rupiah. Indeks tersebut dapat digunakan untuk wilayah lain yang memiliki kemiripan pola curah hujan dengan stasiun Cikedung, yaitu di lokasi Losarang, Sliyeg dan Jatibarang, namun perlu dipertimbangkan juga kapasitas memegang tanah dan juga topografinya. Cakupan wilayah indeks ini dapat ditentukan dengan metode Fuzzy Similarity (FS). Sebagai pembanding, Martirez (2009) menyebutkan bahwa dalam radius 20 km dapat mengikuti asuransi, sementara IFC (2009) menyebutkan hingga radius 25 km..
Terkait dengan pembayaran premi, sebagaimana konsep asuransi pada umumnya, maka dalam penerapan asuransi indeks iklim ini juga ada premi yang harus dibayarkan. Harga premi yang dibayarkan tergantung pada fase atau periode tanaman yang diasuransikan. Apabila yang diasuransikan adalah pada fase kritis tanaman dan pada periode musim kering, maka premi yang dibayarkan semakin mahal. Sebaliknya bila yang diasuransikan diluar kondisi tersebut, maka premi yang dibayar semakin murah. Jadi semakin besar risiko, maka semakin mahal harga preminya. Hasil survey tentang kesediaan membayar (willingness to pay) sangat penting dalam menentukan desain preminya. Hasil survey memperlihatkan bahwa sebagain besar petani (28%) bersedia membayar 200-300 ribu rupiah per musim per hektar. Sementara dengan asumsi polis 5 juta rupiah, premi yang dibayarkan sekitar 10% nya yaitu 500 ribu rupiah. Jumlah pembayaran untuk setiap fase tidak dapat melebihi maksimum pembayaran. Total pembayaran maksimum dan juga uang pertanggungan dinyatakan dalam kontrak. Terkait dengan premi ini, Biro Perasuransian Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (BAPEPAM-LK) Departemen Keuangan (2010) menuangkannya dalam beberapa pasal yang terkait. Dengan premi sebesar 500 ribu rupiah sementara kesanggupan petani hanya 300 ribu rupiah, maka ada selisih premi sebesar 200 ribu rupiah yang belum bisa dibayar (Gambar 75). Di sinilah diharapkan ada peran pemerintah untuk membantu pembayaran premi petani.
Gambar 75. Contoh konsep pembayaran premi dengan bantuan Pemerintah
Skenario asuransi indeks iklim ini merupakan salah satu contoh out put dari model asuransi indeks iklim untuk studi kasus di Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu. Untuk pengembangan model secara umum, maka tahapan utama yang perlu diperhatikan adalah : 1) penggunaan data hujan secara runut waktu jangka panjang untuk menyusun indek, 2) setiap petani yang melakukan usahatani pada wilayah cakupan indeks dapat mengikuti asuransi, 3) setiap stasiun hujan dan tanaman memiliki harga yang berbeda, dan 4) pembayaran secara otomatis dapat dihitung.
Hasil penelitian ini menekankan perlunya asuransi atau perlindungan terhadap petani dan oleh karena itu, skim asuransi pertanian ini dimaksudkan untuk meningkatkan ketahanan petani, bukan meningkatan ketahanan pangan. Namun, ketahanan petani yang meningkat sebenarnya juga bermakna peningkatan ketahanan pangan.
Komoditas padi yang dipilih sebagai obyek penelitian mengindikasikan bahwa kajian ini dititikberatkan pada skim asuransi usahatani padi, namun demikian komoditas lain yang bernilai ekonomi tinggi pada prinsipnya dapat mereplikasi/mengadaptasi skim yang sama pada komoditas padi ini.
Ketersediaan data yang akurat dan tepat waktu menjadi kendala utama dalam penerapan skim asuransi usahatani padi. Untuk ketersediaan data yang dapat dipercaya (reliable), dibutuhkan upaya khusus untuk menyediakannya. Setiap wilayah memiliki karakteristik sumberdaya alam yang berbeda dan dengan demikian juga memiliki kondisi data unik yang mendukung penyiapan indeks iklim. Pengumpulan data (primer dan sekunder) yang relevan dengan aplikasi skim asuransi indeks iklim menjadi faktor penentu dalam menyiapkan desain skim asuransi ini. Dengan data yang baik, analisis yang dilakukan menjadi lebih sesuai, lebih tepat dan lebih dapat dipertanggung jawabkan.
Aplikasi skim asuransi indeks iklim lebih sesuai dilaksanakan menurut lokasi (local specific) di berbagai sentra produksi padi. Dengan kekhasan masing- masing lokasi disandingkan dengan kondisi sosial ekonomi wilayah setempat, termasuk karakteristik petani serta kebiasaan, maka setiap skim asuransi indeks iklim memiliki kekhasan untuk setiap lokasi.
Untuk pengembangan asuransi indeks iklim serta aplikasinya di lapang, maka identifikasi potensi menjadi sangat penting sebagai dasar dan peluang dalam langkah selanjutnya. Tantangan maupun hambatan yang mungkin terjadi menjadi bahan pertimbangan yang harus dicari solusinya.
7.4. Potensi
Potensi merupakan kemampuan, kekuatan, baik yang belum terwujud maupun yang telah terwujud, tetapi belum sepenuhnya terlihat atau dipergunakan secara maksimal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berbagai potensi dapat digali untuk digunakan sebagai modal dasar dalam pengembangan asuransi indeks iklim. Potensi pengembangan asuransi indeks iklim di Kabupaten Indramayu antara lain :
1. Kabupaten Indramayu sebagai pusat produksi padi Jawa Barat/Nasional. Keberhasilan program asuransi di Kabupaten Indramayu akan memberi pengaruh positif terhadap wilayah lainnya.
2. Wilayah Indramayu yang rentan terhadap anomali iklim merupakan potensi untuk pengembangan asuransi indeks iklim karena peluang
terjadinya kekeringan akan selalu ada dengan dampak atau kerugian yang cukup besar.
3. Hubungan yang erat antara curah hujan dan produksi tanaman di lokasi penelitian menjadi syarat penting dalam penentuan indeks iklim.
4. Peta endemik kekeringan membantu dalam penentuan prioritas penanganan bencana kekeringan (79.8% gagal panen karena kekeringan). 5. Usahatani padi yang menjadi pekerjaan utama (91.4%) petani di
Indramayu serta cukup menguntungkan. Kondisi ini akan membuat perhatian petani menjadi sangat besar terhadap program yang terkait dengan peningkatan usahataninya.
6. Kebutuhan petani terhadap modal pada setiap awal musim tanam (59% melakukan akses kredit). Adanya asuransi indeks iklim akan berpeluang digunakan sebagai agunan Bank melalui koperasi, kelompok tani, gapoktan, dll.
7. Kesediaan membayar premi cukup tinggi (82.5%)
8. Respon bahwa asuransi indeks iklim memiliki prospek yang baik (68%) dan perlu sosialisasi (33%)
7.5. Tantangan
Tantangan yang dimaksud disini adalah berbagai hal yang menjadi tantangan dalam pengembangan asuransi indeks iklim. Beberapa tantangan yang dihadapi dalam pengembangan asuransi indeks iklim adalah :
1. Undang-undang atau regulasi tentang asuransi pertanian (termasuk asuransi indeks iklim) masih dalam proses penyusunan.
2. Kelembagaan baik di tingkat pusat maupun daerah perlu disiapkan.
3. Sumberdaya manusia sebagai pengguna untuk menilai apakah indeks asuransi akan memberikan manajemen risiko yang efektif juga perlu dipersiapkan. Sekitar 28% responden menyatakan adanya kendala berupa sumberdaya manusia.
4. Ketersediaan data curah hujan yang berkualitas secara spasial dan temporal (runut waktu yang panjang minimal 20 tahun). Ketersediaan
data yang reliable untuk suatu perencanaan kebijakan sangat menentukan tingkat keberhasilan kebijakan itu sendiri.
5. Sosialisasi yang intensif dan mendalam hingga tingkat petani. Hasil survey di Kabupaten Indramayu menunjukkan bahwa 33% responden menyatakan pentingnya sosialisasi program asuransi indeks iklim seandainya program ini diaplikasikan.
6. Pasar masih dalam masa pertumbuhan di negara berkembang dan biaya awal (start-up) dapat menjadi signifikan (Bank Dunia 2006 diacu dalam IFC 2009).
7. Sebagai program pemula, asuransi indeks iklim pada sistim usahatani padi di Indonesia dalam aplikasinya masih perlu didukung oleh bantuan Pemerintah
8. Program asuransi ini mencoba membuat petani bisa menggunakan skema asuransi sebagai peluang untuk meningkatkan produktifitasnya.
Terkait dengan kelembagaan, sebagaimana diketahui bahwa lingkup kelembagaan (organisasi) terdiri dari beberapa aktor yang memiliki peran dan fungsi yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Kelembagaan yang pada umumnya ada di daerah adalah : rumah tangga petani, kelompok tani, gabungan kelompok tani (gapoktan), asosiasi (perkumpulan) seperti Asosiasi Petani Padi dan Palawija Indonesia (AP3I), Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) dan sebagainya. Selain itu juga kelembagaan/organisasi Pemerintah seperti : Dinas Pertanian, Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluh Pertanian, Badan Sumberdaya Air, dan lain-lain.