Setiap anak memiliki latar belakang, motivasi, dan kemampuan yang berbeda-beda. Pembelajaran kooperatif berusaha untuk mengakomodasi perbedaan ini dengan membangun kerjasama antar siswa. Dalam proses pembelajaran, siswa dilatih untuk saling berbagi dan bertanggung jawab. Proses pembelajaran kooperatif tidak akan hanya memudahkan siswa dalam memahami materi yang diberikan, tetapi juga meningkatkan hubungan sosial antar siswa.
Pembelajaran kooperatif adalah falsafah tentang tanggung jawab pribadi dan sikap saling meghormati antar siswa. Siswa bertanggung jawab atas diri mereka sendiri. Guru berperan sebagai fasilitator dan memberikan dukungan kepada siswa (Suprijono, 2009:54).
Menurut penjelasan Rusman (2011:204), pembelajaran kooperatif merupakan teknik pengelompokkan di mana siswa di dalamnya bekerja dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang dan terarah pada tujuan bersama. Abdulhak dalam Rusmawan (2010:203) memiliki pendapat yang hampir sama yaitu pembelajaran kooperatif dilakukan melalui sharing antar peserta belajar sehingga dapat menciptakan pemahaman bersama di antara peserta belajar tersebut. Rusmawan (2010:2014) menjelaskan bahwa ada empat hal penting dalam model pembelajaran kooperatif yaitu: adanya siswa dalam kelompok; minat dan bakat siswa; terdapat upaya belajar dalam kelompok; dan terdapat kompetensi yang wajib dicapai oleh kelompok
Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas dapat disimpulkan model pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang mengajak siswa belajar dan bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 anggota dimana anggota-anggota tiap kelompok bersifat heterogen. Pembelajaran kooperatif dapat menciptakan interaksi yang luas antara siswa dengan siswa dan siswa dengan guru. a. Unsur-Unsur Cooperative Learning
Pembelajaran kooperatif berbeda dengan belajar kelompok pada umumnya. Roger dan David Johnson dalam Anita Lie (2002:30) menyatakan bahwa Cooperative Learningterdiri dari lima unsur yaitu
1) Positive Interdependence: Pembelajaran kooperatif menimbulkan saling ketergantungan yang bersifat positif antar anggota dalam kelompok. Setiap anggota kelompok saling melengkapi satu sama lain.
2) Personal Responsibility: Tanggung jawab individu muncul jika dilakukan pengukuran terhadap keberhasilan kelompok. Pembelajaran kooperatif pada dasarnya bertujuan agar semua anggota kelompok dapat memahami materi yang diberikan. Setelah mengikuti belajar setiap anggota kelompok harus dapat menyelesaikan tugas yang sama.
3) Face to Face Promotive Interaction: Setiap kelompok belajar mendapat kesempatan untuk berdiskusi dan saling mengungkapkan pendapatnya. Dari proses ini, siswa dilatih untuk menghargai perbedaan dan saling melengkapi satu sama lain.
4) Interpersonal Skill: Keberhasilan dalam pembelajaran kooperatif juga dipengaruhi oleh kemampuan anggota kelompok untuk saling mendengarkan dan berbagi pendapat. 5) Group Processing: Setiap kelompok memerlukan waktu khusus
untuk melakukan evaluasi terhadap proses kerja kelompok. Kegiatan evaluasi akan membantu kelompok agar dapat menghasilkan kerjasama yang lebih efektif untuk tugas selanjutnya.
b. Ciri-ciri Cooperative Learning
Pembelajaran kooperatif memiliki ciri khas yang membedakan model pembelajaran ini dengan model pembelajaran yang lain. Menurut Ibrahim dalam Taniredja (2010:100) pembelajaran kooperatif memiliki 4 ciri-ciri, yaitu: a) Siswa bekerja dalam kelompok untuk memahami materi pembelajaran yang diberikan, b) Kelompok terdiri dari anggota yang heterogen, c) Jika memungkinkan, anggota kelompok sebaiknya juga beragam dari segi suku, ras, budaya, dan jenis kelamin, d) Penghargaan lebih mengarah pada kelompok untuk menghindari kecemburuan anggota kelompok.
Pembelajaran kooperatif menurut berbeda dengan model pembelajaran yang lain. Perbedaan atau ciri khas tersebut menurut Rusman (2011:206) nampak dari proses pembelajaran yang lebih difokuskan pada proses kerjasama dalam kelompok. Proses pembelajaran tidak hanya bertujuan untuk meningkatkaan kemampuan akademik di bidang penguasaan materi tetapi terdapat unsur kerjasama untuk menguasai materi tersebut
c. Tujuan Cooperative Learning
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai tujuaan pembelajaran. Johnson & Johson dalam Trianto (2010:57) mengungkapkan bahwa tujuan utama pembelajaran kooperatif adalah untuk memaksimalkan belajar siswa dalam rangka meningkatkan prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu maupun kelompok. Sementara itu menurut Ibrahim (2009:7), tujuan pembelajaran kooperatif terdiri dari tigs tujuan yaitu sebagai berikut:
1) Meningkatkan performa siswa dalam tugas-tugas akademik. Model ini dapat membantu siswa lebih mudah memahami konsep yang sulit
2) Penerimaan yang luas terhadap orang yang berbeda ras, kelas sosial, budaya, kemampuan, dan ketidakmampuan. Pembelajaran kooperatif mengajarkan siswa untuk saling menghargai satu sama lain
3) Mengajarkan keterampilan kolaborasi dan kerjasama pada siswa. Keterampilan tersebut penting karena masih banyak anak muda dan orang dewasa kurang dalam keterampilan sosial d. Teknik-teknik Cooperative Learning
Menurut Slavin (2008) Model Cooperative Learning terdiri dari beberapa teknik dengan ciri khas masing-masing dan langkah yang berbeda. Teknik dalam Cooperative Learning di antaranya adalah:
1) STAD (Student Team Achievement Division): Teknik ini melibatkan 4-5 anggota kelompok secara heterogen dan antar anggota saling bekerjasama membantu untuk menguasai materi ajar melalui diskusi atau tanya jawab antar sesama anggota kelompok dengan menggunakan lembar kerja akademik yang akan dievaluasi setiap satu atau dua minggu sekali untuk mengetahui penguasaan materi yang telah dipelajari dan mendapatkan penghargaan jika siswa meraih prestasi yang tinggi baik secara individu maupun kelompok
2) NHT (Numbered Head Together): Teknik ini merupakan rangkaian penyampaian materi di mana kelompok menjadi wadah untuk menyatuhkan persepsi siswa terhadap pertanyaan yang diajukan oleh guru. Jawaban tersebut dipertanggungjawabkan oleh siswa dengan nomor permintaan guru dari masing-masing kelompok. Fase NHT meliputi fase bertanya, mengajukan pertanyaan, berpikir bersama, dan menjawab pertanyaan
3) TGT (Teams Games Tournament): Teknik ini merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran dengan menempatkan siswa secara berkelompok dengan anggota 5-6 orang. Siswa mendapatkan LKS yang dipelajari secara berkelompok. Untuk memastikan semua anggota kelompok sudah memahami materi, guru mengadakan permainan akademik di mana setiap kelompok berkompetisi untuk mendapatkan skor tertinggi. Tahap TGT meliputi teams, games, tournament, dan team recognition.
4) TAI (Team Assisted Individualization): Teknik ini merupakan pembelajaran yang memadukan pembelajaran kooperatif dengan individu. Ciri khas dari TAI adalah siswa belajar secara individu dalam memahami materi pembelajaran. Hasil belajar individu dibawa ke dalam kelompok untuk didiskusikan
bersama. TAI terdiri dari 8 komponen yaitu Placement Test, Teams, Teaching Group, Student Centre, Team Study, Whole Class Unit, Fact Test, dan Team Score and Recognition.
5) Jigsaw: Teknik ini mengambil pola cara kerja sebuah gergaji yaitu siswa melakukan kegiatan belajar dengan bekerjasama bersama siswa ain untuk mencapai tujuan bersama. Beberapa anggota kelompok bertanggug jawab terhadap penguasaan materi belajar dan dapat mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain. Pada teknik Jigsaw, terdapat kelompok asal dan kelompok ahli. Kelompok ahli adalah kelompok asal yang berbeda dan ditugaskan untuk mempelajari serta mendalami topik tertentu untuk dijelaskan pada anggota kelompok asal 6) CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) :
Teknik ini merupakan pengajaran kooperatif terpadu membaca dan menulis untuk kelas tinggi sekolah dasar. Pembelajaran ini mengintegrasikan suatu bacaan secara menyeuruh dan mengkomposisikan menjadi bagian-bagian penting. Komponen dalam CIRC meliputi teams, placement test, student creative, team study, team score and recognition, fact test, dan whole class unit.
3. Cooperative LearningTeknik Team Assisted Individualization (TAI)