• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peningkatan minat dan prestasi belajar matematika siswa kelas V SDK Kalasan dengan cooperative learning teknik TAI.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Peningkatan minat dan prestasi belajar matematika siswa kelas V SDK Kalasan dengan cooperative learning teknik TAI."

Copied!
185
0
0

Teks penuh

(1)

Paula Novi Candra. 2015. Peningkatan Minat dan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas V SDK Kalasan Dengan Cooperative Learning Teknik TAI. Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Ilmu Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang bertujuan untuk mengetahui penerapan model pembelajaran kooperatif teknik TAI dalam upaya meningkatkan minat dan prestasi belajar matematika siswa kelas V SDK Kalasan. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SDK Kalasan yang terdiri dari 32 siswa dan objek penelitian adalah meningkatkan minat dan pestasi belajar matematika dengan teknik TAI. Penelitian ini dilakukan melalui dua siklus. Setiap siklus penelitian meliputi empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.

Hasil kuesioner minat pada kondisi awal menunjukkan presentase siswa yang berminat mengikuti pelajaran matematika sebesar 46,875%. Pada siklus I, presentase siswa yang berminat mencapai 75% dan pada siklus II meningkat menjadi 84,375%. Hasil tersebut telah melampaui kriteria keberhasilan sebesar 75%. Presentase siswa yang mencapai KKM pada kondisi awal sebesar 34,4%. Pada siklus I, presentase siswa yang mencapai KKM sebesar 78,125% dan siklus II sebesar 87,5%. Hasil tersebut telah melampaui kriteria keberhasilan sebesar 75%. Oleh sebab itu, peneliti menyimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperaif teknik TAI dapat meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa kelas V SDK Kalasan.

(2)

Paula Novi Candra. 2015. Increasing Student’s Interest and Learning Achievement of Mathematics in Grade V SDK Kalasan by Implementing Cooperative Learning Model TAI Technique. Teacher Education Program Elementary School, Department of Education, Faculty of Teacher Training and Education, Sanata Dharma University

This research was a Classroom Action Research that aims to know the implementation of Cooperative Learning Model TAI technique in an effort to increase interest and learning achievement of mathematics grade V SDK Kalasan. The subject of research was the grade V SDK Kalasan which consisted of 32 students and the object of research increased interest and learning achievement of mathematics by implementing TAI technique. This research was conducted through two cycles. Each cycles consisted of four stage: planning, act, observation, and reflection.

Result of interest questionare on the initial condition shows that the percentage of students who are interested in math was 46,875%. In the first cycle, the percentage of students who are interested was 75% and on the second cycle increased to 84,375%. The results have exceeded the success criteria of 75%. The percentage of students who reach KKM on the initial conditions was 34,4%. In the first cycle, the percentage of students who reach KKM was 78,125% and cycle II increased to 87,5%. The results have exceeded the success criteria of 75%. Therefore, researchers concluded that the application of Cooperative Learning Model TAI Technique can increase interest and learning achievement of mathematic for students in grade V SDK Kalasan

(3)

PENINGKATAN MINAT DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS V SDK KALASAN DENGANCOOPERATIVE LEARNING

TEKNIK TAI SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Oleh:

Paula Novi Candra

NIM: 101134240

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(4)

ii SKRIPSI

PENINGKATAN MINAT DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS V SDK KALASAN DENGANCOOPERATIVE LEARNING

TEKNIKTAI

Oleh:

Paula Novi Candra

NIM:101134240

Telah Disetujui oleh:

Pembimbing I

Dra. Ign. Esti Sumarah, M.Hum. Tanggal 13 Oktober 2015

Pembimbing II

(5)

iii SKRIPSI

PENINGKATAN MINAT DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS V SDK KALASAN DENGAN COOPERATIVE

LEARNING TEKNIK TAI Dipersiapkan dan ditulis oleh:

Paula Novi Candra

NIM: 101134240

Telah dipertahankan di depan Panitia Penguji Skripsi

pada tanggal 26 Oktober 2015

dan dinyatakan memenuhi syarat

Susunan Panitia Penguji:

Nama Lengkap Tanda Tangan

Ketua G. Ari Nugrahanta S.J.,S.S., BST.,M.A.

Sekretaris Christiyanti Aprinastuti, S.Si., M.Pd.

Anggota 1 Dra. Ign. Esti Sumarah M.Hum.

Anggota 2 Christiyanti Aprinastuti, S.Si. M.Pd.

Anggota 3 Brigitta Erlita Tri A., S.Psi., M.Psi.

Yogyakarta, 26 Oktober 2015

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

(6)

iv

PERSEMBAHAN

Skripsi ini kupersembahkan untuk:

 Tuhan Yesus yang selalu membimbingku

(7)

v MOTTO

No pain no gain

Failure occurs only when we give up

(8)

vi

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak

memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam

kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 13 Oktober 2015

Penulis

(9)

vii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma

Nama : Paula Novi Candra

Nomor Mahasiswa : 101134240

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan

Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya berjudul:

PENINGKATAN MINAT DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS V SDK KALASAN DENGAN COOPERATIVE LEARNING TEKNIK TAI

Dengan demikian, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata

Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain,

mengelolanya dalam bentuk penggalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan

mempublikasikannya di internet maupun media lain untuk kepentingan akademis

tanpa perlu meminta ijin dari saya atau memberikan royalty pada saya selama

tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta

Pada tanggal:26 Oktober 2015

Yang menyatakan

(10)

viii ABSTRAK

Paula Novi Candra. 2015. Peningkatan Minat dan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas V SDK Kalasan Dengan Cooperative Learning Teknik TAI.Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Ilmu Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang bertujuan untuk mengetahui penerapan model pembelajaran kooperatif teknik TAI dalam upaya meningkatkan minat dan prestasi belajar matematika siswa kelas V SDK Kalasan. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SDK Kalasan yang terdiri dari 32 siswa dan objek penelitian adalah meningkatkan minat dan pestasi belajar matematika dengan teknik TAI. Penelitian ini dilakukan melalui dua siklus. Setiap siklus penelitian meliputi empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.

Hasil kuesioner minat pada kondisi awal menunjukkan presentase siswa yang berminat mengikuti pelajaran matematika sebesar 46,875%. Pada siklus I, presentase siswa yang berminat mencapai 75% dan pada siklus II meningkat menjadi 84,375%. Hasil tersebut telah melampaui kriteria keberhasilan sebesar 75%. Presentase siswa yang mencapai KKM pada kondisi awal sebesar 34,4%. Pada siklus I, presentase siswa yang mencapai KKM sebesar 78,125% dan siklus II sebesar 87,5%. Hasil tersebut telah melampaui kriteria keberhasilan sebesar 75%. Oleh sebab itu, peneliti menyimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperaif teknik TAI dapat meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa kelas V SDK Kalasan.

(11)

ix ABSTRACT

Paula Novi Candra. 2015. Increasing Student’s Interest and Learning Achievement of Mathematics in Grade V SDK Kalasan by Implementing Cooperative Learning Model TAI Technique. Teacher Education Program Elementary School, Department of Education, Faculty of Teacher Training and Education, Sanata Dharma University

This research was a Classroom Action Research that aims to know the implementation of Cooperative Learning Model TAI technique in an effort to increase interest and learning achievement of mathematics grade V SDK Kalasan. The subject of research was the grade V SDK Kalasan which consisted of 32 students and the object of research increased interest and learning achievement of mathematics by implementing TAI technique. This research was conducted through two cycles. Each cycles consisted of four stage: planning, act, observation, and reflection.

Result of interest questionare on the initial condition shows that the percentage of students who are interested in math was 46,875%. In the first cycle, the percentage of students who are interested was 75% and on the second cycle increased to 84,375%. The results have exceeded the success criteria of 75%. The percentage of students who reach KKM on the initial conditions was 34,4%. In the first cycle, the percentage of students who reach KKM was 78,125% and cycle II increased to 87,5%. The results have exceeded the success criteria of 75%. Therefore, researchers concluded that the application of Cooperative Learning Model TAI Technique can increase interest and learning achievement of mathematic for students in grade V SDK Kalasan

(12)

x

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yesus Kristus atas segala kasih dan

penyertaan-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan penyusunan skripsi

dengan judul “PENINGKATAN MINAT DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS V SDK KALASAN DENGAN

COOPERATIVE LEARNING TEKNIK TAI

Skripsi ini disusun untuk memenuji syarat memperoleh gelar Sarjana

Pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi

Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di Universitas Sanata Dharma.

Penyusunan skripsi ini diakui memiliki banyak hambatan karena keterbatasan

waktu, pengalaman, dan pengetahuan. Namun berkat dorongan dan semangat dari

berbagai pihak, penyusunan skripsi ini akhirnya dapat diselesaikan dengan baik.

Oleh karena itu peneliti mengucapkan terimakasih kepada:

1. Rohandi, Ph. D. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Sanata Dharma

2. Gregorius Ari Nugrahanta, S.J.,S.S.,BST.,M.A., Kepala Program Studi

Pendidikan Guru Sekolah Dasar

3. Dra. Ign. Esti Sumarah, M.Hum, Dosen Pembimbing I yang telah

memberikan dorongan, motivasi, dan telah meluangkan waktu untuk

membimbing dengan sabar, memberikan saran, dan mengarahkan peneliti

untuk penyusunan skripsi ini

4. Christiyanti Aprinastuti, S.Si.,M.Pd, Dosen Pembimbing II yang telah

bersedia memberikan petunjuk, bimbingan, dan pengarahan selama proses

penulisan skripsi ini hingga selesai

5. Seluruh dosen dan staf PGSD yang telah membimbing dan melayani kami

6. P. Agustin Ria Dewi S.Pd., Kepala Sekolah SDK Kalasan yang telah

mengijinkan peneliti untuk melakukan penelitian

7. M.I. Susi Widya Hesti, guru kelas VA SDK Kalasan yang telah

(13)

xi

8. Fransisca Adelia Chrisnanda yang telah membantu penelitian sebagai

observer

9. Keluarga tercinta atas dukungan dan doanya

10. Semua pihak yang telah mendukung dalam menyelesaikan skripsi ini

Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan bagi

Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta, 13 Oktober 2015

(14)

xii DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

HALAMAN MOTTO... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI... vii

ABSTRAK... viii

A. Latar Belakang... 1

B. Batasan Masalah... 4

C. Rumusan Masalah... 4

D. Tujuan... 5

E. Manfaat... 5

F. Definisi Operasional... 5

BAB II... 7

A. Landasan Teori... 7

1. Minat Belajar... 7

2. Model Cooperative Learning... 20

3. Cooperative LearningTeknik Team Assisted Individualization (TAI)... 25

4. Matematika... 29

5. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Matematika Kelas V... 30

6. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Teknik TAI... 31

7. Penilaian Hasil Belajar... 31

B. Penelitian yang Relevan... 32

C. Kerangka Berpikir... 33

(15)

xiii

Halaman

BAB III ... 35

A. Jenis Penelitian... 35

B. Setting Penelitian... 37

1. Lokasi Penelitian... 37

2. Subyek Penelitian... 37

3. Waktu Penelitian... 37

4. Objek Penelitian... 37

C. Rancangan Penelitian... 38

1. Persiapan... 38

2. Rencana Tindakan Tiap Siklus... 39

D. Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian... 48

1. Peubah (Variabel) ... 48

2. Teknik Pengumpulan Data... 49

E. Penyusunan Instrumen Penelitian... 51

F. Kisi-kisi Instrumen Penelitian... 52

G. Validitas dan Reliabilitas... 57

1. Uji Validitas ... 57

2. Reliabilitas Tes... 64

H. Analisis Data... 66

1. Analisis Data Kuesioner Minat ... 66

I. Kriteria Keberhasilan... 71

BAB IV ... 72

A. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian... 72

1. Siklus I ... 72

2. Siklus II... 78

B. Hasil Penelitian... 82

1. Minat Belajar ... 82

2. Prestasi Belajar... 86

C. Pembahasan... 91

BAB V ... 97

A. Kesimpulan... 97

C. Saran... 98

(16)

xiv

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1 Pengumpulan Data dan Instrumen ... 48

Tabel 2 Kisi-kisi Lembar Pengamatan Minat Siswa di Kelas... 52

Tabel 3 Kisi-kisi Kuesioner Minat Belajar ... 54

Tabel 4 Kisi-kisi Soal Siklus I ... 55

Tabel 5 Kisi-kisi Soal Siklus II ... 56

Tabel 6 Kriteria Kualitas Perangkat Pembelajaran ... 58

Tabel 7 Lembar Validasi Kuesioner ... 59

Tabel 8 Hasil Validasi Kuesioner ... 59

Tabel 9 Lembar Validasi Perangkat Pembelajaran ... 60

Tabel 10 Hasil Validasi Instrumen Pembelajaran... 62

Tabel 11 Hasil Uji Validitas Soal Siklus I ... 63

Tabel 12 Hasil Uji Validitas Soal Siklus II... 64

Tabel 13 Koefisien Reliabilitas... 65

Tabel 14 Hasil Uji Reliabilitas Soal Siklus I ... 65

Tabel 15 Hasil Uji Reliabilitas Soal Siklus II ... 66

Tabel 16 Skoring Kuesioner Minat ... 66

Tabel 17 Rentang Skor dan Kriteria Minat ... 67

Tabel 18 Indikator Pengamatan Afektif... 69

Tabel 19 Pengamatan Psikomotorik ... 69

Tabel 20 Kriteria Keberhasilan Penelitian ... 71

Tabel 21 Hasil Kuesioner Minat Siklus I... 82

Tabel 22 Hasil Kuesioner Minat Siklus II... 84

Tabel 23 Hasil Tes Siklus I ... 86

(17)

xv

DAFTAR GRAFIK

Halaman

Grafik 1. Peningkatan Minat Belajar ... 86

(18)

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Hasil Ulangan Harian Siswa... 105

Lampiran 2. Hasil Kuesioner Kondisi Awal ... 107

Lampiran 3. Silabus ... 110

Lampiran 4. Rencana Pelaksanaan PembelajaranSiklus I... 113

Lampiran 5. Rencana Pelaksanaan PembelajaranSiklus II ... 124

Lampiran 6. LKS Siklus I ... 132

Lampiran 7 Soal Latihan Siklus I... 136

Lampiran 8. LKS Siklus II ... 138

Lampiran 9. Soal Latihan Siklus II ... 142

Lampiran 10. Soal Pretest dan Postest Siklus I ... 144

Lampiran 11. Soal Pretest dan Postest Siklus II ... 146

Lampiran 12. Kunci JawabanSoal Siklus I ... 148

Lampiran 13. Kunci JawabanSoal Siklus II... 150

Lampiran 14. Kuesioner Minat Belajar... 152

Lampiran 15. Lembar Observasi... 155

Lampiran 16. Hasil Pekerjaan Siswa ... 156

Lampiran 17. Dokumentasi... 162

Lampiran 18. Surat Bukti Penelitian Dari Sekolah... 164

Lampiran 19. Surat Ijin Penelitian ... 165

(19)
(20)

BAB I PENDAHULUAN

Di dalam bab ini, peneliti akan menguraikan pendahuluan yang

berisi tentang latar belakang penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian,

manfaat penelitian, batasan penelitian, dan definisi operasional

A. Latar Belakang

Matematika merupakan ilmu logika yang berkaitan dengan bentuk,

susunan, dan konsep bilangan. Matematika memiliki peranan penting dalam

kehidupan sehari-hari karena hampir seluruh aspek kehidupan kita

melibatkan bilangan mulai dari pembacaan waktu, penjumlahan,

pengukuran, dan lain sebagainya. Matematika membantu manusia

menyelesaikan masalah sehari-hari yang berkaitan dengan bilangan.

Matematika merupakan media untuk melatih manusia berpikir kritis,

mandiri, dan dapat menyelesaikan masalah

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran wajib yang

diterima oleh siswa mulai dari kelas I sampai kelas VI SD. Ilmu ini

mempelajari tentang perhitungan, pengukuran, dan pengoperasian angka.

Matematika diberikan kepada siswa agar siswa memiliki keterampilan untuk

memecahkan masalah dalam kehidupannya sehari-hari. Mata pelajaran

Matematika pada kelas V SD sudah mulai bersifat abstrak karena menuntut

siswa untuk menghitung dengan jumlah bilangan yang banyak. Anak juga

dituntut untuk mulai berpikir secara logis dan memahami banyak konsep

penjumlahan. Materi Matematika pada siswa kelas V meliputi operasi

bilangan bulat; ukuran waktu, jarak, sudut, dan kecepatan; luas bangun datar

sederhana; volume bangun ruang; pecahan; dan sifat bangun dan hubungan

antarbangun

Dalam observasi yang dilakukan peneliti pada saat pelajaran

Matematika tanggal 5 Februari 2014 pada materi “Pengubahan pecahan

biasa ke bentuk persen”, peneliti melihat sembilan belas siswa

(21)

kurangantusias selama mengikuti pelajaran tersebut. Hal itu terlihat dari

enam siswa yangmengeluh saat diberi tugas, dua orang siswa sering minta

ijin ke toilet, empat siswa mengobrol sendiri, enam siswa tidak mau

mencatat materi pelajaran, lima siswa yang terlihat sibuk dengan aktivitas

masing-masing yang tidak berkaitan dengan mata pelajaran, satu siswa yang

menelungkupkan kepala di atas meja, satu siswa bermain dengan kotak

pensilnya, dan dua siswa asyik menggambar di buku tulisnya. Hal-hal

tersebut menunjukkan jika siswa kurang berminat belajar Matematika

Peneliti kemudian melakukan wawancara kepada wali kelas untuk

mengetahui lebih lanjut tentang kurang berminatnya siswa terhadap

pelajaran Matematika. Dari hasil wawancara, guru mengatakan bahwa siswa

mengalami kesulitan dalam memahami materi sehingga mereka cenderung

tidak memperhatikan. Alasannya, pelajaran matematika dianggap terlalu

abstrak sehingga menyulitkan siswa berpikir lebih tinggi dengan

menggunakan logika.

Guru juga dengan jujur mengatakan bahwa beliau jarang

menggunakan metode belajar berkelompok karena menurutnya siswa

cenderung menjadi ramai. Selain itu, guru juga mengakui jika nilai rata-rata

ulangan harian siswa masih di bawah KKM. Peneliti kemudian melakukan

studi dokumentasi terhadap nilai Matematika siswa. Dari hasil studi

dokumentasi, peneliti mendapat data jika dari 32 siswa yang tidak mencapai

KKM Matematika sebesar 65,6%. Hal ini menunjukkan bahwa minat belajar

yang rendah pada pelajaran Matematika dapat berdampak pada prestasi

belajar yang rendah.

Peneliti kemudian memberikan kuesioner kepada siswa untuk

memperkuat data dengan pertanyaan-pertanyaan yang dikembangkan dari

indikator minat. Dari hasil kuesioner tersebut, ada 51.5% siswa yang tidak

senang dengan pelajaran Matematika, 48.5% siswa tidak berinisiatif dalam

(22)

45.4% siswa tidak berinisiatif dalam pelajaran Matematika. Oleh sebab itu,

peneliti menyimpulkan bahwa minat belajar siswa perlu ditingkatkan.

Penjelasan dari hasil observasi, wawancara, studi dokumentasi, dan

kuesioner membuktikan bahwa siswa kelas VA SD Kanisius Kalasan perlu

mendapat perlakukan untuk meningkatkan minat dan prestasi belajar

Matematika. Proses pembelajaran Matematika pada penjelasan tersebut

bersifat individu di mana siswa langsung memperhatikan dan menerima

materi hanya dari guru. Oleh sebab itu diperlukan pembelajaran lain yang

dapat membantu memudahkan siswa memahami materi pelajaran dan

membuat siswa lebih tertarik mengikuti pelajaran Matematika

Menurut Davies (Riyanto, 2009:161), setiap hal yang dipelajari oleh

siswa, siswa harus mempelajarinya secara mandiri karena tidak ada yang

dapat melakukan itu selain dirinya sendiri. Dengan alasan tersebut, proses

pembelajaran sebaiknya melibatkan siswa secara aktif dan lebih berinisiatif

menemukan pengetahuan yang dibutuhkan. Proses pembelajaran yang

menyenangkan dapat membantu siswa lebih mudah memahami materi dan

terlibat aktif sehingga proses pembelajaran menjadi efektif

Model pembelajaran yang dapat digunakan adalah Cooperative

Learning teknik TAI. TAI (Team Assisted Individualization) merupakan

teknik yang mengakomodasi perbedaan individu terkait kemampuan siswa.

Teknik ini memadukan pembelajaran kooperatif dan individu. Salah satu

penelitian yang telah menggunakan teknik ini adalah Nugroho (2011).

Penelitian tersebut mengenai pengaruh pembelajaran kooperatif teknik TAI

terhadap prestasi belajar Matematika kelas V SD Tunas Daud, Singaraja

dengan jenis penelitian quasi eksperimen. Hasil penelitian tersebut

menunjukkan kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran

kooperatif teknik TAImempunyai nilai 76,1 dan kelas kontrol dengan

pembelajaran konvensional memiliki nilai rata-rata 63,1. Oleh sebab itu

(23)

Dan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas V SDK Kalasan Dengan

Cooperative LearningTeknik TAI”

TAI (Team Assisted Individualization) merupakan salah satu teknik

dalam Cooperative Learning yang mengkombinasikan pembelajaran

kooperatif dan individual. Siswa diajak untuk bekerja secara berkelompok

dengan tingkat kemampuan yang berbeda dimana setiap anggota memiliki

tanggung jawab untuk saling mengoreksi dan membantu rekannya. Ketika

siswa bekerja secara kelompok, mereka akan lebih berminat dalam pelajaran

dan hal ini dapat membantu meningkatkan prestasi belajar siswa. Selain itu,

teknik ini juga dapat mengurangi waktu guru untuk berkonsentrasi pada

siswa-siswa tertentu dan meminimalisir keterlibatan guru

Melihat fakta yang ada di kelas, peneliti memandang model

Cooperative Learning teknik TAI cocok diterapkan untuk mengatasi

masalah yang terjadi di dalam kelas. Oleh sebab itu peneliti melakukan

penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan minat dan prestasi belajar

siswa. Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan minat dan prestasi

belajar siswa kelas VA SDK Kalasan pada pelajaran Matematika. Itu

sebabnya penelitian ini berjudul “Peningkatan Minat Dan Prestasi Belajar

Matematika Siswa Kelas V SDK Kalasan Dengan Cooperative Learning

Teknik TAI”

B. Batasan Masalah

Dalam penelitian ini, masalah difokuskan pada penggunaan

Cooperative Learningteknik TAI untuk meningkatkan minat dan prestasi

belajar siswa kelas VA SD Kanisius Kalasan pada mata pelajaran

Matematika tahun pelajaran 2013/2014.

C. Rumusan Masalah

1. Apakah model Cooperative Learning teknik TAI dapat meningkatkan

minat belajar Matematika kelas VA SD Kanisius Kalasan tahun pelajaran

(24)

2. Apakah model Cooperative Learning teknik TAI dapat meningkatkan

prestasi belajar Matematika kelas VA SD Kanisius Kalasan tahun

pelajaran 2013/2014?

D. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Mengetahui apakah model Cooperative Learning teknik TAIdapat

meningkatkan minat belajar Matematika kelas VA di SD Kanisius

Kalasan tahun pelajaran 2013/2014.

2. Mengetahui apakah model Cooperative Learning teknik TAIdapat

meningkatkan prestasi belajar Matematika kelas VA di SD Kanisius

Kalasan tahun pelajaran 2013/2014.

E. Manfaat 1. Bagi peneliti

Dapat memberikan pengalaman bagi peneliti untuk melakukan PTK,

khususnya dalam penggunaan model Cooperative Learningteknik TAI

2. Bagi guru

Dapat memberikan inspirasi untuk menyampaikan materi pembelajaran

menggunakan model Cooperative Learningteknik TAI.

3. Bagi siswa

Siswa berminat mengikuti pelajaran Matematika dengan model

Cooperative Learningteknik TAI sehingga prestasi belajarnya meningkat

F. Definisi Operasional 1. Minat Belajar

Minat merupakan rasa tertarik yang muncul dari dalam diri sendiri tanpa

ada pengaruh paksaan dari luar. Siswa dikatakan berminat jika

menunjukkan ekspresi perasaan senang, perhatian dalam belajar, terlibat

dalam proses pembelajaran, dan memiliki inisiatif dalam proses

pembelajaran

2. Prestasi Belajar

Prestasi belajar adalah suatu hasil berupa nilai dan sikap yang diperoleh

(25)

3. Cooperative Learning

Cooperative Learning merupakan model pembelajaran yang menekankan

pada pembelajaran berkelompok dengan kelompok-kelompok kecil.

4. Cooperative LearningTeknik TAI

Cooperative Learningteknik TAI menggabungkan konsep pembelajaran

kooperatif dan individualisasi untuk mengakomodasi keberagaman siswa

(26)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Dalam bab ini, peneliti akan menguraikan tinjauan pustaka yang akan

digunakan untuk memecahkan masalah pada penelitian ini. Pembahasan tentang

teori meliputi landasan teori, penelitian yang relevan, kerangka berpikir, dan

hipotesis tindakan

A. Landasan Teori 1. Minat Belajar

a. Pengertian Belajar

Belajar merupakan suatu rangkaian proses untuk mendapatkan

pengetahuan (Suprijono, 2009:3). Hal ini sesuai dengan pendapat

Prayitno (2009:203) yang menjelaskan bahwa belajar adalah proses

perubahan tingkah laku yang diperoleh dari pengalaman, pembiasaan,

meniru, pemahaman, dan aktivitas dalam meraih tujuan yang ingin

dicapai. Belajar adalah upaya untuk mendapatkan dan menguasai hal

baru. Sementara itu Slameto (2010:2) berpendapat bahwa belajar

merupakan suatu usaha yang dilakukan untuk mendapatkan perubahan

tingkah laku secara menyeluruh. Perubahan tingkah laku ini diperoleh

dari hasil pengalamannya sendiri.

Belajar merupakan suatu rangkaian proses untuk mendapatkan

pengetahuan (Suprijono, 2009:3). Sedangkan Sugihartono (2012:74)

mengungkapkan bahwa belajar adalah sebuah proses perubahan

tingkah laku dari hasil interaksi antara individu dengan lingkungan

dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup.

Menurut Slameto (2003:2), belajar merupakan usaha yang

dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah

laku yang baru sebagai hasil pengalaman pribadi dalam interaksi

dengan lingkungan. Sementara itu Syah (2000:136) beranggapan

bahwa belajar merupakan tahapan perubahan tingkah laku individu

(27)

yang menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan

lingkungan yang melibatkan ranah kognitif

Sementara itu definisi belajar menurut Hilgard dalam Mulyati

(2005:2) adalah pembentukan tingkah laku individu melalui kontak

dengan lingkungan. Untuk melengkapi pendapat tersebut, Dimiyati &

Mudjono (2010:17) menjelaskan bahwa belajar adalah tindakan dan

perilaku kompleks. Tindakan tersebut hanya dialami oleh siswa

sehingga siswa merupakan penentu terjadi atau tidaknya proses

belajar. Proses belajar terjadi karena siswa mendapatkan sesuatu dari

lingkungan sekitar.

Berdasarkan beberapa pengertian belajar dari para ahli, belajar

dapat dikatakan sebagai usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk

menerima hal-hal baru yang dapat mengubah tingkah lakunya.

Perubahan tingkah laku tersebut bersifat permanen sesuai dengan

pengalaman yang telah didapat dari rangkaian kegiatan baik secara

langsung maupun tidak langsung sehingga membawa pada kondisi

kehidupan yang lebih baik. Belajar sendiri terdiri dari beberapa jenis

dan beberapa ciri yang akan dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut

b. Jenis-jenis Belajar

Gagne dalam Winataputra (2008:19) menjelaskan tujuh jenis

belajar. Ketujuh jenis tersebut meliputi:

1) Belajar Isyarat:

Belajar isyarat merupakan melakukan atau tidak melakukan

sesuatu karena adanya isyarat atau tanda. Biasanya jenis belajar

ini berupa respon yang diberikan secara tidak sadar

2) Belajar Stimulus-Respon

Belajar ini terjadi pada individu karena mendapat stimulus dari

luar seperti membalas memukul saat dipukul

3) Belajar Rangkaian

Jenis belajar ini melahirkan perilaku yang spontan karena

(28)

4) Belajar Asosiasi Verbal

Belajar Asosiasi Verbal terjadi ketika individu dapat menangkap

makna yang bersifat verbal. Contoh, pesawat terbang bergerak

seperti burung yang terbang

5) Belajar Diskriminasi

Belajar Diskriminasi terjadi ketika individu dihadapkan dengan

benda dan mencoba membedakannya. Contoh membedakan

bentuk binatang, tumbuhan, dll

6) Belajar Konsep

Belajar konsep dilakukan ketika individu sudah dapat melakukan

diskriminasi. Contoh, menggolongkan jenis makhluk hidup,

mengelompokkan jenis tumbuhan

7) Belajar Pemecahan Masalah

Proses pemecahan masalah berkaitan dengan keterampilan

memecahkan persoalan dan meningkatkan kemampuan individu

untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang lain

Selain terdiri dari beberapa jenis, belajar juga memiliki beberapa

ciri-ciri khusus untuk membedakannya dengan aktivitas lain yang

bukan termasuk belajar

c. Ciri-ciri Belajar

Menurut Aqib (2009:48), belajar memiliki beberapa

karakteristik yaitu sebagai berikut:

1) Belajar harus memungkinkan adanya perubahan tingkah laku dari

individu yang meliputi tiga aspek yakni aspek pengetahuan, aspek

sikap, dan keterampilan

2) Belajar adalah hasil dari pengalaman yang didapat dari interaksi

antara individu dengan lingkungan

3) Hasil belajar atau perubahan tingkah laku yang diperoleh dari

(29)

d. Prestasi Belajar

Belajar berkaitan dengan prestasi belajar. Prestasi belajar

merupakan hasil yang diperoleh siswa setelah mengikuti proses

belajar. Kegiatan pembelajaran merupakan proses sedangkan pretasi

belajar adalah hasil yang didapat setelah siswa mengikuti proses

belajar. Surya (2003:67) berpendapat bahwa prestasi belajar adalah

seluruh kecakapan yang diperoleh melalui proses belajar yang

dinyatakan dengan nilai sesuai dengan hasil belajar. Senada dengan

pengertian tersebut, Arifin (2009:12) berpendapat bahwa prestasi

belajar merupakan hasil yang dicapai setelah mengalami proses

belajar yang berkaitan dengan pengetahuan.

Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa

prestasi belajar merupakan hasil yang dicapai oleh siswa setelah

mengikuti proses belajar. Hasil tersebut berupa pengetahuan, sikap,

dan keterampilan yang dinyatakan dengan nilai

e. Faktor-faktor Prestasi Belajar

Prestasi belajar bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Menurut

Mulyasa (2006:191), prestasi belajar merupakan hasil dari berbagai

faktor yang melatarbelakanginya. Prestasi belajar siswa dipengaruhi

oleh dua faktor yaitu faktor internal (faktor dari dalam diri siswa)

dan faktor eksternal (faktor dari luar diri siswa). Faktor internal yang

mempengaruhi prestasi belajar siswa antara lain adalah:

1) Minat dan Motivasi

Minat adalah sumber motivasi yang mendorong individu

untuk melakukan sesuatu. Minat memiliki pengaruh yang besar

terhadap suatu aktivitas. Sementara itu motivasi merupakan

dorongan untuk melakukan kegiatan belajar. Kedua hal ini

berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan belajar

2) Kecerdasan

Kecerdasan adalah kemampuan belajar untuk

(30)

sangat dipengaruhi oleh kemampuan intelegensi individu. Siswa

yang memiliki intelegensi tinggi cenderung memiliki kecerdasan

yang tinggi. Sebaliknya siswa yang memiliki intelegensi rendah

cenderung memiliki kecerdasan yang rendah

3) Kesehatan

Kesehatan termasuk salah satu faktor penting yang dapat

bepengaruh terhadap prestasi belajar. Siswa yang sedang sakit

tidak dapat belajar dengan baik sehingga dapat menurunkan

prestasi belajarnya.

Selain faktor internal, terdapat faktor eksternal atau faktor

dari luar diri siswa yang mempengaruhi prestasi belajar. Faktor

tersebut meliputi:

1) Keadaan Keluarga

Keluarga merupakan lingkungan masyarakat terkecil dan

menjadi tempat di mana seseorang lahir dan tumbuh besar.

Keluarga idealnya dapat memberikan rasa aman supaya siswa

dapat merasa nyaman selama proses belajar berlangsung di

lingkungan keluaarga

2) Keadaan Sekolah

Sekolah adalah lembaga formal dan menjadi tempat di

mana siswa dapat belajar dan berkembang setelah dari

lingkungan keluarga. Lingkungan sekolah yang baik dapat

berpengaruh terhadap presyasi belajar siswa

3) Lingkungan Masyarakat

Perkembangan pribadi siswa dapat dipengaruhi oleh

lingkungan masyarakat. Lingkungan tersebut dapat membentuk

kepribadian seorang anak. Kadang anak mengalami masalah

(31)

f. Faktor-faktor Belajar

Kesuksesan dalam sebuah proses pembelajaran tentu tidak

terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinya. Ada beberapa

faktor yang mempengaruhi kesuksesan belajar yakni faktor internal

dan faktor eksternal. Menurut Suryabrata (1984:249) faktor-faktor

yang dapat mempengaruhi kesuksesan belajar diantaranya adalah

faktor yang berasal dari luar diri siswa atau faktor eksternal dan

faktor dari dalam diri siswa atau faktor internal.

Menurut Hamalik (2001:32) ada sembilan faktor yang

mempengaruhi belajar. Faktor-faktor belajar tersebut antara lain

adalah: 1) Faktor kegiatan, penggunaan dan ulangan, 2) Latihan agar

pelajaran yang lupa dapat dikuasi kembali, 3) Siswa merasa berhasil

dan mendapat kepuasan, 4) Pengetahuan baru berkaitan dengan

pengetahuan sebelumnya, 5) Pengalaman masa lalu sebagai dasar

untuk menerima pengetahuan baru, 6) Faktor kesiapan belajar, 7)

Faktor minat dan usaha, 8) Faktor fisiologis, dan 9) Faktor

intelegensi.

Tidak jauh berbeda dengan Suryabrata, Slameto (2010:54)

juga mengungkapkan bahwa ada keberhasilan belajar ditentukan oleh

faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi jasmani

dan psikologi. Faktor eksternal meliputi faktor keluarga, sekolah, dan

masyarakat. Dalam penelitian ini, peneliti akan menyoroti tentang

minat yang merupakan salah satu faktor internal yang dapat

berpengaruh terhadap keberhasilan belajar.

g. Pengertian Minat

Minatmerupakan salah satu faktor penting yang

mempengaruhi pemahaman dan efektivitas pembelajaran di dalam

kelas. Minat merupakan ketertarikan yang dimiliki siswa untuk ikut

terlibat aktif dalam pembelajaran. Hal ini sesuai dengan pendapat

Slameto. Menurut Slameto (2010:55), minat merupakan salah satu

(32)

juga mengungkapkan bahwa minat adalah rasa tertarik dan lebih

suka pada sesuatu tanpa disuruh.

Berbeda dengan Slameto, Usman (2003:27) berpendapat

bahwa minat adalah sifat yang bersifat menetap dalam diri seseorang.

Minat memiliki pengaruh yang besar terhadap belajar. Dengan minat,

seseorang akan terdorong untuk terlibat melakukan sesuatu.

Sementara itu, Lucy (2009:35) berpendapat bahwa minat belajar

adalah keinginan seseorang untuk mencapai sesuatu. Minat yang ada

di dalam diri siswa harus dikembangkan dengan bantuan orang tua

dan guru. Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orang tua dan guru

dalam rangka mengembangkan minat belajar di antaranya adalah

mencermati kelebihan dan kelemahan siswa, melatih siswa untuk

meningkatkan kemampuannya, dan memberi motivasi dengan cara

menekuni bidang yang menjadi kelebihannya.

Gie (2002:28) mengartikan minat sebagai ketertarikan atau

keterlibatan penuh terhadap suatu kegiatan. Seseorang yang berminat

menyadari pentingnya kegiatan itu untuk dirinya sendiri. Liang Gie

juga memfokuskan tentang pengertian minat belajar. Menurut beliau,

minat belajar adalah keterlibatan siswa pada kegiatan dengan penuh

perhatian untuk memahami materi pembelajaran. Gie percaya bahwa

minat adalah faktor pokok untuk mencapai keberhasilan.

Sementara itu Djaali (2007:122) berpendapat bahwa minat

merupakan rasa ingin tahu, mengagumi, mempelajari, atau memiliki

sesuatu. Minat juga termasuk bagian dari afeksi mulai dari kesadaran

hingga pilihan nilai. Beliau juga menjelaskan bahwa minat adalah

pengerahan perasaan untuk menafsirkan suatu hal

Hurlock dalam Dewi (2011:8) mengemukakan bahwa minat

adalah sumber motivasi yang mendorong seseorang untuk

melakukan sesuatu yang diinginkan jika mereka memiliki kebebasan

memilih. Jika mereka melihat sesuatu tersebut akan menguntungkan

(33)

mendatangkan kepuasan. Ketika kepuasan berkurang, minat juga

berkurang.

Sementara itu Djamarah (2008:132) berpendapat bahwa

minat merupakan kecenderungan yang menetap untuk

memperhatikan dan mengenang beberapa aktivitas. Ketika seseorang

berminat terhadap aktivitas tertentu, dia akan memperhatikan

aktivitas tersebut dengan rasa senang secara konsisten. Jacob W.

Getels dalam Djamarah (2008:75) memiliki pendapat serupa di mana

seseorang yang berminat terhadap sesuatu tidak akan menghiraukan

hal yang lain

Dari beberapa pengertian para ahli tersebut, dapat

disimpulkan bahwa minat merupakan rasa ketertarikan yang muncul

dari dalam diri siswa sendiri yang bersifat menyenangkan. Dengan

kata lain, siswa akan merasa senang pada sebuah mata pelajaran jika

ia memiliki minat terhadap pelajaran tersebut. Rasa ketertarikan atau

minat yang muncul dari dalam diri siswa dipengaruhi oleh berbagai

faktor

h. Faktor-faktor Minat

Minat belajar siswa dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Faktor tersebut dapat merupakan faktor dari dalam maupun faktor

dari luar diri siswa. Menurut Suryabrata (1984:249) faktor yang

mempengaruhi minat belajar siswa adalah motivasi dan suasana

tempat belajar siswa.

Faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar siswa

menurut Aritonang dalam Puspitasari (2012:14) meliputi cara

mengajar guru, karakter guru, suasana kelas yang nyaman, dan

fasilitas belajar yang digunakan.

Sementara itu Slameto (2010:54) menyebutkan bahwa

faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar adalah faktor-faktor internal dan

(34)

1) Faktor Internal:

a) Faktor jasmani (kesehatan dan cacat tubuh)

b) Faktor psikologi (perhatian, bakat, kesiapan, kematangan,

intelegensi)

2) Faktor Eksternal:

a) Faktor keluarga (cara orangtua mendidik, suasana rumah,

latar belakang budaya, relasi antar anggota keluarga, keadaan

ekonomi keluarga)

b) Faktor sekolah (kurikulum, metode mengajar, relasi guru

dengan siswa, disiplin sekolah, relasi antar siswa, standar

penilaian, waktu sekolah, alat pelajaran, tugas rumah,

keadaan gedung sekolah)

i. Indikator Minat

Ketika seseorang berminat, ia akan memperlihatkan beberapa

ekspresi. Djamarah (2008:132) mengungkapkan bahwa minat dapat

diekspresikan melalui:

1) Memberikan pernyataan lebih menyukai sesuatu dibandingkan

hal yang lain

2) Berpartisipasi aktif dalam kegiatan yang diminati

3) Memberikan perhatian yang lebih besar terhadap hal yang

diminatinya

Menurut Marpadi (dalam Hartanto 2012:14) beberapa

indikator siswa yang memiliki minat adalah siswa berusaha untuk

memahami dan membaca buku yang berkaitan dengan apa yang

dipelajari, bertanya dalam kegiatan pembelajaran, bertanya kepada

teman, bertanya kepada orang lain dan mengerjakan tugas dengan

sungguh.

Menurut Slameto (2003:58), siswa yang memiliki minat

(35)

1) Memiliki kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan

mengingat secara terus menerus hal yang dipelajari

2) Memiliki rasa suka dan senang pada sesuatu yang diminati

3) Merasa bangga dan puas terhadap sesuatu yang diminati serta

merasa terikat pada aktivitas-aktivitas yang diminati

4) Dimanifestasikan melalui partisipasi dalam kegiatan dan

aktivitas

Sementara itu Isnandar (2012:14) juga menjelaskan

beberapa ciri-ciri minat belajar yaitu sebagai berikut:

1) Ekspresi Perasaan Senang. Hal ini meliputi siswa antusias

dalam mengikuti pelajaran, siswa tidak mengeluh saat diberi

tugas oleh guru, siswa datang tepat waktu sebelum pelajaran

dimulai, siswa menyiapkan peralatan pelajaran sebelum

pembelajaran dimulai, dan siswa mengikuti pelajaran dengan

tenang

2) Perhatian Dalam Mengikuti Proses Pembelajaran. Hal ini

meliputi siswa aktif bertanya dan menjawab pertanyaan pada

saat proses pembelajaran berlangsung, siswa menyimak

penjelasan guru dengan seksama, siswa tidak melamun selama

proses pembelajaran berlangsung, dan siswa tidak mengobrol

atau mengganggu teman ketika proses pembelajaran

berlangsung

3) Ketertarikan Siswa Terhadap Materi. Ketertarikan ini meliputi

siswa giat membaca buku pelajaran, siswa sudah membaca

materi pelajaran sebelum guru mengajarkan materi, siswa

membuat catatan pelajaran, dan siswa berusaha menyelesaikan

tugas dari guru secara serius

4) Ketertarikan Siswa Terhadap Metode Guru. Hal ini meliputi

siswa bertanya ketika mengalami kesulitan, siswa

(36)

langkah-langkah kegiatan pembelajaran dengan metode pembelajaran

yang digunakan oleh guru

5) Keterlibatkan Siswa Dalam Proses Pembalajaran. Keterlibatan

ini meliputi siswa aktif mengemukakan pendapat selama

kegiatan diskusi, siswa bersedia membantu teman yang

mengalami kesulitan, siswa ikut mengerjakan tugas, dan siswa

berani mengajukan diri menjawab pertanyaan dari guru secara

spontan

Berdasarkan penjelasan ciri-ciri minat belajar yang

diuraikan oleh Slameto dan Isnandar tersebut, didapat kesimpulan

bahwa indikator minat belajar siswa adalah sebagai berikut:

1) Ekspresi perasaan senang yang ditunjukkan dengan: mengikuti

pelajaran dengan antusias, tidak mengeluh ketika diberi tugas,

datangsebelum pelajaran dimulai, menyiapkan buku pelajaran

dan duduk tenang di dalam kelas.

2) Perhatian dalam belajar ditunjukkan dengan: aktif bertanya di

dalam kelas jika ada yang belumdimengerti, aktif menjawab

pertanyaan dari guru, memperhatikan penjelasan guru dengan

sungguh-sungguh, tidak melamun selama proses pembelajaran,

tidak mengantuk, tidak mengobrol sendiri saat proses

pembelajaran berlangsung, dan tidak menganggu teman yang

lain.

3) Ketertarikan pada materi pelajaran dan guru, meliputi :giat

membaca buku pelajaran, menanyakan kesulitan yang dialami

kepada guru, membuat catatan mengenai materi yang

disampaikan, bersedia mengerjakan tugas yang diberikan

guru,dan membaca buku dari sumber lain sesuai dengan materi

yang sedang dipelajari.

4) Keterlibatan siswa dalam pelajaran, meliputi: aktif

menyampaikan pendapat dalam diskusi, bersedia membantu

(37)

bekerjasama dengan kelompok, bersedia maju ke depan

mengerjakan tugas, mengajukan diri untuk menjawab

pertanyaan yang diberikan oleh guru.

Untuk membuat siswa merasa senang dan inisiatif mengikuti

proses pembelajaran, materi pembelajaran yang diberikan kepada siswa

harus disesuaikan dengan karakteristik siswa. Siswa usia SD memiliki

karakteristik yang membedakan mereka dengan siswa di tingkatan

sekolah lainnya

j. Karakteristik Siswa Sekolah Dasar

Pada usia anak-anak hingga remaja, manusia mengalami

perkembangan kemampuan kognitif. Menurut Piaget dalam Isjoni

(2010:36), terdapat empat tahap perkembangan kognitif yang akan

dilalui oleh anak yaitu:

1) Tahap Sensorimotor ( 0-2 tahun)

2) Tahap Praoperasional (2-7 tahun)

3) Tahap Operasional Konkret (7-11 tahun)

4) Tahap Operasional Formal ( 11 - dewasa)

Anak kelas V SD masuk dalam tahap operasional konkret.

Ciri utama dari tahap ini adalah anak sudah menggunakan

aturan-aturan yang logis dan jelas. Anak sudah mempunyai kecakapan

berpikir secara logis, namun hanya pada benda-benda konkret.

Menurut Budiningsih (2004:38-39), operasional merupakan tindakan

untuk memanipulasi objek atau gambaran di dalam dirinya. Kegiatan

ini memerlukan proses transformasi informasi ke dalam diri anak

sehingga tindakannya lebih efektif. Anak sudah mampu berpikir

dengan model ‘kemungkinan’ ketika melakukan kegiatan tertentu

dan dapat menggunakan hasil yang sudah dicapai sebelumnya.

(38)

Walaupun anak sudah dapat melakukan pengelompokan,

pengklasifikasian, dan pengaturan masalah, ia masih belum

sepenuhnya menyadari ada prinsip-prinsip yang terdapat di

dalamnya. Untuk menghindari keterbatasan berpikir, anak perlu

mendapatkan gambaran konkret sehingga dapat memahami

personalan. Namun anak usia 7-12 tahun masih mempunyai masalah

dengan berpikir abstrak.

Anak usia sekolah dasar (6-12 tahun) memasuki masa

kanak-kanak akhir. Menurut Sumantri dan Sukmadinata dalam Wardani

(2012:1), anak usia sekolah dasar memiliki karakteristik senang

bermain, senang bekerja dalam kelompok, senang bergerak, dan

senang melakukan sesuatu secara langsung.

Poerwanti (2005:44) mengungkapkan bahwa pada masa usia

sekolah dasar juga disebut sebagai masa bermain. Anak memiliki

dorongan keluar rumah dan bergabung dengan kelompok sebaya.

Kondisi fisik memungkinkan anak untuk memasuki dunia permainan

dan mempunyai dorongan mental untuk memasuki dunia konsep,

simbol, logika, dan sebagainya

Menurut Suryabrata dalam Djamarah (2008:124), masa usia

sekolah dasar dibagi menjadi dua fase yaitu masa kelas rendah dan

masa kelas tinggi. Penjelasan lengkapnya diuraikan sebagai berikut:

1) Masa Kelas Rendah

Masa kelas rendah adalah anak usia 6-9 tahun. Beberapa sifat

khas anak pada usia tersebut meliputi:

a) Ada korelasi positif antara kesehatan pertumbuhan jasmani

dengan prestasi di sekolah

b) Memiliki sikap patuh terhadap peraturan-peraturan

permainan tradisional

(39)

d) Senang membanding-bandingkan diri sendiri dengan anak

lain

e) Belum menganggap soal sebagai hal yang penting

f) Pada usia 6-8 tahun anak menginginkan nilai yang baik tanpa

memperhatikan apakah prestasinya layak mendapat nilai baik

atau tidak

2) Masa Kelas Tinggi

Masa kelas tinggi sekolah dasar adalah usia 10-12 tahun.

Berikut ini adalah beberapa sifat khas anak pada rentang usia ini

a) Memiliki minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang

konkret. Ini menimbulkan kecenderungan untuk

membandingkan pekerjaan – pekerjaan yang praktis

b) Sangat realistik, ingin tahu, dan ingin belajar

c) Menjelang akhir masa ini, sudah timbul minat terhadap hal

dan mata pelajaran tertentu

Dari semua itu diketahui bahwa anak usia sekolah dasar

senang bekerja dalam kelompok, berminat terhadap kehidupan

praktis sehari-hari yang konkret, dan memiliki dorongan mental

untuk mempelajari konsep serta logika. Salah satu model

pembelaran yang dapat mengakomodasi kebutuhan tersebut

adalah pembelajaran kooperatif.

2. Model Cooperative Learning

Setiap anak memiliki latar belakang, motivasi, dan kemampuan

yang berbeda-beda. Pembelajaran kooperatif berusaha untuk

mengakomodasi perbedaan ini dengan membangun kerjasama antar

siswa. Dalam proses pembelajaran, siswa dilatih untuk saling berbagi dan

bertanggung jawab. Proses pembelajaran kooperatif tidak akan hanya

memudahkan siswa dalam memahami materi yang diberikan, tetapi juga

(40)

Pembelajaran kooperatif adalah falsafah tentang tanggung jawab

pribadi dan sikap saling meghormati antar siswa. Siswa bertanggung

jawab atas diri mereka sendiri. Guru berperan sebagai fasilitator dan

memberikan dukungan kepada siswa (Suprijono, 2009:54).

Menurut penjelasan Rusman (2011:204), pembelajaran kooperatif

merupakan teknik pengelompokkan di mana siswa di dalamnya bekerja

dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang dan terarah pada tujuan

bersama. Abdulhak dalam Rusmawan (2010:203) memiliki pendapat

yang hampir sama yaitu pembelajaran kooperatif dilakukan melalui

sharing antar peserta belajar sehingga dapat menciptakan pemahaman

bersama di antara peserta belajar tersebut. Rusmawan (2010:2014)

menjelaskan bahwa ada empat hal penting dalam model pembelajaran

kooperatif yaitu: adanya siswa dalam kelompok; minat dan bakat siswa;

terdapat upaya belajar dalam kelompok; dan terdapat kompetensi yang

wajib dicapai oleh kelompok

Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas dapat disimpulkan

model pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang mengajak

siswa belajar dan bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil. Setiap

kelompok terdiri dari 4-5 anggota dimana anggota-anggota tiap

kelompok bersifat heterogen. Pembelajaran kooperatif dapat menciptakan

interaksi yang luas antara siswa dengan siswa dan siswa dengan guru.

a. Unsur-Unsur Cooperative Learning

Pembelajaran kooperatif berbeda dengan belajar kelompok

pada umumnya. Roger dan David Johnson dalam Anita Lie

(2002:30) menyatakan bahwa Cooperative Learningterdiri dari lima

unsur yaitu

1) Positive Interdependence: Pembelajaran kooperatif

menimbulkan saling ketergantungan yang bersifat positif antar

anggota dalam kelompok. Setiap anggota kelompok saling

(41)

2) Personal Responsibility: Tanggung jawab individu muncul jika

dilakukan pengukuran terhadap keberhasilan kelompok.

Pembelajaran kooperatif pada dasarnya bertujuan agar semua

anggota kelompok dapat memahami materi yang diberikan.

Setelah mengikuti belajar setiap anggota kelompok harus dapat

menyelesaikan tugas yang sama.

3) Face to Face Promotive Interaction: Setiap kelompok belajar

mendapat kesempatan untuk berdiskusi dan saling

mengungkapkan pendapatnya. Dari proses ini, siswa dilatih

untuk menghargai perbedaan dan saling melengkapi satu sama

lain.

4) Interpersonal Skill: Keberhasilan dalam pembelajaran

kooperatif juga dipengaruhi oleh kemampuan anggota

kelompok untuk saling mendengarkan dan berbagi pendapat.

5) Group Processing: Setiap kelompok memerlukan waktu khusus

untuk melakukan evaluasi terhadap proses kerja kelompok.

Kegiatan evaluasi akan membantu kelompok agar dapat

menghasilkan kerjasama yang lebih efektif untuk tugas

selanjutnya.

b. Ciri-ciri Cooperative Learning

Pembelajaran kooperatif memiliki ciri khas yang

membedakan model pembelajaran ini dengan model pembelajaran

yang lain. Menurut Ibrahim dalam Taniredja (2010:100)

pembelajaran kooperatif memiliki 4 ciri-ciri, yaitu: a) Siswa

bekerja dalam kelompok untuk memahami materi pembelajaran

yang diberikan, b) Kelompok terdiri dari anggota yang heterogen,

c) Jika memungkinkan, anggota kelompok sebaiknya juga beragam

dari segi suku, ras, budaya, dan jenis kelamin, d) Penghargaan

lebih mengarah pada kelompok untuk menghindari kecemburuan

(42)

Pembelajaran kooperatif menurut berbeda dengan model

pembelajaran yang lain. Perbedaan atau ciri khas tersebut menurut

Rusman (2011:206) nampak dari proses pembelajaran yang lebih

difokuskan pada proses kerjasama dalam kelompok. Proses

pembelajaran tidak hanya bertujuan untuk meningkatkaan

kemampuan akademik di bidang penguasaan materi tetapi terdapat

unsur kerjasama untuk menguasai materi tersebut

c. Tujuan Cooperative Learning

Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk

mencapai tujuaan pembelajaran. Johnson & Johson dalam Trianto

(2010:57) mengungkapkan bahwa tujuan utama pembelajaran

kooperatif adalah untuk memaksimalkan belajar siswa dalam

rangka meningkatkan prestasi akademik dan pemahaman baik

secara individu maupun kelompok. Sementara itu menurut Ibrahim

(2009:7), tujuan pembelajaran kooperatif terdiri dari tigs tujuan

yaitu sebagai berikut:

1) Meningkatkan performa siswa dalam tugas-tugas akademik.

Model ini dapat membantu siswa lebih mudah memahami

konsep yang sulit

2) Penerimaan yang luas terhadap orang yang berbeda ras, kelas

sosial, budaya, kemampuan, dan ketidakmampuan.

Pembelajaran kooperatif mengajarkan siswa untuk saling

menghargai satu sama lain

3) Mengajarkan keterampilan kolaborasi dan kerjasama pada

siswa. Keterampilan tersebut penting karena masih banyak

anak muda dan orang dewasa kurang dalam keterampilan sosial

d. Teknik-teknik Cooperative Learning

Menurut Slavin (2008) Model Cooperative Learning terdiri

dari beberapa teknik dengan ciri khas masing-masing dan langkah

yang berbeda. Teknik dalam Cooperative Learning di antaranya

(43)

1) STAD (Student Team Achievement Division): Teknik ini

melibatkan 4-5 anggota kelompok secara heterogen dan antar

anggota saling bekerjasama membantu untuk menguasai materi

ajar melalui diskusi atau tanya jawab antar sesama anggota

kelompok dengan menggunakan lembar kerja akademik yang

akan dievaluasi setiap satu atau dua minggu sekali untuk

mengetahui penguasaan materi yang telah dipelajari dan

mendapatkan penghargaan jika siswa meraih prestasi yang

tinggi baik secara individu maupun kelompok

2) NHT (Numbered Head Together): Teknik ini merupakan

rangkaian penyampaian materi di mana kelompok menjadi

wadah untuk menyatuhkan persepsi siswa terhadap pertanyaan

yang diajukan oleh guru. Jawaban tersebut

dipertanggungjawabkan oleh siswa dengan nomor permintaan

guru dari masing-masing kelompok. Fase NHT meliputi fase

bertanya, mengajukan pertanyaan, berpikir bersama, dan

menjawab pertanyaan

3) TGT (Teams Games Tournament): Teknik ini merupakan

rangkaian kegiatan pembelajaran dengan menempatkan siswa

secara berkelompok dengan anggota 5-6 orang. Siswa

mendapatkan LKS yang dipelajari secara berkelompok. Untuk

memastikan semua anggota kelompok sudah memahami

materi, guru mengadakan permainan akademik di mana setiap

kelompok berkompetisi untuk mendapatkan skor tertinggi.

Tahap TGT meliputi teams, games, tournament, dan team

recognition.

4) TAI (Team Assisted Individualization): Teknik ini merupakan

pembelajaran yang memadukan pembelajaran kooperatif

dengan individu. Ciri khas dari TAI adalah siswa belajar secara

individu dalam memahami materi pembelajaran. Hasil belajar

(44)

bersama. TAI terdiri dari 8 komponen yaitu Placement Test,

Teams, Teaching Group, Student Centre, Team Study, Whole

Class Unit, Fact Test, dan Team Score and Recognition.

5) Jigsaw: Teknik ini mengambil pola cara kerja sebuah gergaji

yaitu siswa melakukan kegiatan belajar dengan bekerjasama

bersama siswa ain untuk mencapai tujuan bersama. Beberapa

anggota kelompok bertanggug jawab terhadap penguasaan

materi belajar dan dapat mengajarkan materi tersebut kepada

anggota lain. Pada teknik Jigsaw, terdapat kelompok asal dan

kelompok ahli. Kelompok ahli adalah kelompok asal yang

berbeda dan ditugaskan untuk mempelajari serta mendalami

topik tertentu untuk dijelaskan pada anggota kelompok asal

6) CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) :

Teknik ini merupakan pengajaran kooperatif terpadu membaca

dan menulis untuk kelas tinggi sekolah dasar. Pembelajaran ini

mengintegrasikan suatu bacaan secara menyeuruh dan

mengkomposisikan menjadi bagian-bagian penting. Komponen

dalam CIRC meliputi teams, placement test, student creative,

team study, team score and recognition, fact test, dan whole

class unit.

3. Cooperative LearningTeknik Team Assisted Individualization (TAI)

Team Assited Individualization (TAI) merupakan salah satu

teknik dalam model pembelajaran kooperatif. Menurut Slavin

(2008:187) Team Assisted Individualization adalah teknik yang

mengadaptasi pengajaran terhadap perbedaan individu terkait

kemampuan siswa maupun pencapaian prestasi siswa. Teknik TAI

merupakan salah satu upaya merancang sebuah pengajaran individual

yang dapat menyelesaikan masalah-masalah yang membuat metode

pengajaran individu menjadi tidak efektif. Dengan membuat siswa

bekerja dalam kelompok-kelompok pembelajaran kooperatif dan

(45)

membebaskan diri dari pemberianpengajaran langsung pada

sekelompok kecil siswa. Siswa yang berprestasi tinggi membantu

teman-temannya yang kesulitan sehingga memberi bantuan khusus pada

sesama teman.

Pada pembelajaran kooperatif dengan teknik TAI siswa

dikelompokkan secara heterogen. Awalnya, metode ini dirancang untuk

mengajarkan matematika untuk siswa kelas 3-6 SD. Dalam

perkembangannya, teknik ini mulai dikembangkan untuk mata pelajaran

lain (Huda, 2012:123)

Suyatno (2009:57) berpendapat bahwa teknik TAI

mengkombinasikan antara manfaat pembelajaran kooperatif dan

pembelajaran inividu. Teknik ini juga dapat berdampak untuk

membantu memecahkan masalah kesulitan belajar pada individu.

Ciri khas pada pembelajaran yang menggunakan teknik TAI

adalah siswa mempelajari materi yang telah disiapkan oleh guru secara

individu. Hasil belajar dari masing-masing individu akan dibawa ke

dalam kelompoknya untuk dibahas oleh semua anggota kelompok.

Dalam hal ini, semua anggota kelompok bertanggung jawab atas

pemahaman tiap-tiap individu. Sebelum dibentuk kelompok kooperatif,

siswa akan diberi bimbingan atau pengarahan bagaimana aturan dalam

pembelajaran dengan teknik TAI. Siswa diajarkan menjadi pendengar

yang baik dan dapat membantu temannya yang kesulitan.

Setiap anggota kelompok memiliki tugas yang sama. Siswa yang

pandai membantu teman yang lemah. Keberhasilan kelompok lebih

diperhatikan daripada penghargaan terhadap individu. Dengan

demikian, siswa yang pandai dapat lebih mengembangkan

kemampuannya sedangkan temannya yang lemah akan dibantu untuk

memahami permasalahan yang sedang diselesaikan oleh kelompok

(46)

a. Komponen Pembelajaran Kooperatif Teknik TAI

Dalam Slavin (2008:195-200) model pembelajaran kooperatif

teknik TAI terdiri dari delapan komponen utama, yaitu:

1) Teams yaitu pembentukan kelompok heterogen. Kelompok

terdiri dari 4-5 siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda

2) Placement Test yaitu pemberian tes awal atau pre-test kepada

siswa untuk mengetahui kemampuan awal siswa. Hasil tes ini

menjadi pedoman untuk mengelompokkan siswa secara

heterogen.

3) Curriculum Materials yaitu lembar kerja yang berisi

materi-materi pembelajaran yang akan dipelajari.

4) Team Study yaitu para siswa diberi materi pembelajaran secara

individu. Siswa mengerjakan soal secara individu kemudian

membahasnya dengan teman-teman satu kelompoknya.

5) Team Score and Team Recognition yaitu pemberian skor

terhadap hasil kerja kelompok. Guru memberikan penghargaan

kepada kelompok yang berhasil menyelesaikan tugas dengan

baik dan memberikan penguatan kepada kelompok yang kurang

berhasil.

6) Teaching Group yaitu guru memberikan penjelasan materi

pokok kepada seluruh siswa. Guru menjelaskan konsep-konsep

utama dari materi sebelum siswa mengerjakan tugas secara

individu

7) Fact Testyaitu pelaksaan tes berdasarkan fakta yang didapatkan

oleh siswa

8) Whole Class Units yaitu guru menyampaikan materi kembali

dan diakhiri dengan strategi pemecahan masalah.

b. Sintaks Cooperative LearningTeknik TAI

Langkah-langkah Cooperative Learning teknik TAI menurut

(47)

1) Guru menyiapkan materi ajar yang akan diberikan kepada

siswa.

2) Guru memberikan pre-test kepada siswa.

3) Guru melihat nilai rata-rata siswa untuk menentukan kelompok

heterogen.

4) Guru menjelaskan materi secara klasikal kepada semua siswa.

5) Guru membentuk kelompok kecil dengan anggota 5 orang.

Anggota kelompok tersebut dipilih secara heterogen dan terdiri

dari siswa laki-laki dan perempuan.

6) Sebelum masuk ke dalam kelompok, siswa mempelajari sendiri

materi yang telah diberikan dan mengerjakan tugas secara

individu.

7) Setelah menyelesaikan tugas individu, siswa masuk dalam

kelompok dan saling mengoreksi jawaban. Teman yang mampu

wajib membantu teman anggota kelompok yang kesulitan.

Guru menjadi fasilitator untuk siswa yang memerlukan

bantuan.

8) Ketua kelompok mempresentasikan hasil pekerjaannya dan

bergantian dengan kelompok yang lain.

9) Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman dan

memberikan penegasan materi pelajaran yang telah dipelajari.

10) Guru memberikan post test secara individu.

11) Guru memberikan penghargaan kepada kelompok berdasarkan

perolehan nilai, peningkatan hasil belajar individual dari skor

sebelumnya ke skor berikutnya.

c. Kelebihan Dan Kekurangan Model Cooperative Learning Teknik

Team Assisted Individualization (TAI)

1) Kelebihan Teknik TAI

Menurut Slavin (2008: 190) kelebihan dari teknik Team

Assisted Individualization diantaranya adalah meminimalisir

(48)

meningkatkan hubungan sosial antar siswa, melibatkan siswa

secara aktif dan memudahkan siswa memahami materi yang

diberikan. Dalam pembelajaran dengan teknik TAI, guru dapat

mengakomodasi seluruh siswa karena dibantu oleh siswa lain

yang mampu membantu temannya. Selain itu, adanya interaksi

antar siswa juga membuat hubungan sosial mereka semakin

berkembang.

2) Kekurangan Teknik TAI

Walaupun memiliki banyak kelebihan teknik TAI

memiliki beberapa kelemahan diantaranya adalahperlu diberi

bimbingan khusus terlebih dahulu dari guru. Hal ini disebabkan

karena TAI berbeda dengan pembelajaran klasikal pada

umumnya. Selain itu siswa SD cenderung masih memiliki sifat

yang egois sehingga perlu diberi pengertian agar mereka mau

saling membantu dan tidak bersaing. Kekurangan yang

terakhir, TAI memerlukan waktu yang lama untuk menyiapkan

dan mengembangkan perangkat pembelajaran

Cooperative Learning teknik TAI mampu

mengakomodasi perbedaan individu dan memudahkan siswa

untuk memahami materi yang diberikan. Matematika

merupakan salah satu mata pelajaran yang dapat diberikan

dengan model pembelajaran ini

4. Matematika

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan

di SD. Pelajaran ini melatih siswa untuk belajar menalar dan

menyelesaikan berbagai permasalahan yang berkaitan dengan angka.

Menurut Muhsetyo (2008:126) Matematika adalah pemberian

pengalaman belajar pada peserta didik melalui aktivitas-aktivitas yang

terencana sehingga peserta didik bisa memperoleh kompetensi tentang

(49)

Menurut James dan James dalam Ruseffendi (2006:27)

Matematika adalah ilmu logika tentang susunan, bentuk, dan

konsep-konsep yang saling berkaitan satu dengan yang lain dengan jumlah

banyaknya terdiri dari tiga bidang yaitu aljabar, analisis, dan geometri.

Sementara itu Soejadi (2000:1) berpendapat bahwa Matematika adalah

suatu ilmu yang memiliki objek tujuan abstrak, bertumpu pada

kesepakatan dan berpola pikir deduktif.

Sementara itu Ronis (2009:39) berpendapat bahwa Matematika

merupakan ilmu yang mengacu pada hubungan keruangan dan

geometri, pengukuran, angka, dan penyelesaian masalah. Dari beberapa

pengertian matematika di atas, dapat disimpulkan bahwa matematika

adalah ilmu tentang bilangan yang digunakan untuk menyelesaikan

masalah yang berkaitan dengan bilangan.

5. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Matematika Kelas V

Standar Kompetensi (SK) mata pelajaran Matematika kelas V

semester 2 adalah Menggunakan Pecahan dalam Pemecahan Masalah;

dan Memahami Sifat-Sifat Bangun dan Hubungan Antar Bangun.

Standar kompetensi Memahami Sifat-Sifat Bangun dan Hubungan

Antar Bangun dijabarkan menjadi 5 Kompetensi Dasar (KD) yaitu 6.1

Mengidentifikasi sifat Bangun Datar; 6.2 Mengidentifikasi

Sifat-sifat Bangun Ruang; 6.3 Menentukan Jaring-jaring Berbagai Bangun

Ruang Sederhana; 6.4 Menyelidiki Sifat-sifat Kesebangunan dan

Simetri; dan 6.5 Menyelesaikan Masalah yang Berkaitan Dengan

Bangun Datar dan Bangun Ruang Sederhana.

Dari hasil pengamatan, wawancara kepada guru kelas, dan studi

dokumensasi nilai rata-rata ulangan harian siswa, peneliti akan

meningkatkan prestasi belajar siswa kelas V SD Kanisius Kalasan pada

KD 6.5 Menyelesaikan Masalah yang Berkaitan dengan Bangun Datar

dan Bangun Ruang Sederhana dengan menggunakan model

Gambar

Grafik 2. Peningkatan Prestasi Belajar......................................................90
Gambar 1. Penelitian Model Kemmis dan Mc TaggartGambar 1. Penelitian Model Kemmis dan Mc TaggartGambar 1
Tabel 1 Pengumpulan Data dan Instrumen
Tabel 2Kisi-kisi Lembar Pengamatan Minat Siswa di Kelas
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi belajar matematika melalui strategi Team Accelerated. Instruction

Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa penerapan strategi pembelajaran TAI (Team Assited Individualization) dapat meningkatkan minat dan hasil belajar Matematika

Hasil penelitian menunjukan: (1) Upaya peningkatan minat belajar PKn siswa kelas V SDN Kledokan melalui penerapan metode kooperatif tipe Jigsaw II dilakukan dengan

PENERAPAN MODEL QUANTUM LEARNING DALAM UPAYA MENINGKATKAN MINAT DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA..

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kreativitas belajar matematika materi pecahan dengan model pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) pada siswa kelas lima

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Penggunaan teknik peta pikiran dalam upaya meningkatkan minat belajar dan prestasi belajar PKn pada siswa kelas V.1 SD BOPKRI

Pelaksanaan penelitian untuk meningkatkan minat dan prestasi belajar matematika siswa kelas VIIIC SMP N 2 Pandak menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Rotating

Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan strategi pembelajaran kooperatif (cooperative learning) teknik jigsaw dapat meningkatkan minat, keaktifan dan