Paula Novi Candra. 2015. Peningkatan Minat dan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas V SDK Kalasan Dengan Cooperative Learning Teknik TAI. Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Ilmu Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang bertujuan untuk mengetahui penerapan model pembelajaran kooperatif teknik TAI dalam upaya meningkatkan minat dan prestasi belajar matematika siswa kelas V SDK Kalasan. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SDK Kalasan yang terdiri dari 32 siswa dan objek penelitian adalah meningkatkan minat dan pestasi belajar matematika dengan teknik TAI. Penelitian ini dilakukan melalui dua siklus. Setiap siklus penelitian meliputi empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.
Hasil kuesioner minat pada kondisi awal menunjukkan presentase siswa yang berminat mengikuti pelajaran matematika sebesar 46,875%. Pada siklus I, presentase siswa yang berminat mencapai 75% dan pada siklus II meningkat menjadi 84,375%. Hasil tersebut telah melampaui kriteria keberhasilan sebesar 75%. Presentase siswa yang mencapai KKM pada kondisi awal sebesar 34,4%. Pada siklus I, presentase siswa yang mencapai KKM sebesar 78,125% dan siklus II sebesar 87,5%. Hasil tersebut telah melampaui kriteria keberhasilan sebesar 75%. Oleh sebab itu, peneliti menyimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperaif teknik TAI dapat meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa kelas V SDK Kalasan.
Paula Novi Candra. 2015. Increasing Student’s Interest and Learning Achievement of Mathematics in Grade V SDK Kalasan by Implementing Cooperative Learning Model TAI Technique. Teacher Education Program Elementary School, Department of Education, Faculty of Teacher Training and Education, Sanata Dharma University
This research was a Classroom Action Research that aims to know the implementation of Cooperative Learning Model TAI technique in an effort to increase interest and learning achievement of mathematics grade V SDK Kalasan. The subject of research was the grade V SDK Kalasan which consisted of 32 students and the object of research increased interest and learning achievement of mathematics by implementing TAI technique. This research was conducted through two cycles. Each cycles consisted of four stage: planning, act, observation, and reflection.
Result of interest questionare on the initial condition shows that the percentage of students who are interested in math was 46,875%. In the first cycle, the percentage of students who are interested was 75% and on the second cycle increased to 84,375%. The results have exceeded the success criteria of 75%. The percentage of students who reach KKM on the initial conditions was 34,4%. In the first cycle, the percentage of students who reach KKM was 78,125% and cycle II increased to 87,5%. The results have exceeded the success criteria of 75%. Therefore, researchers concluded that the application of Cooperative Learning Model TAI Technique can increase interest and learning achievement of mathematic for students in grade V SDK Kalasan
PENINGKATAN MINAT DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS V SDK KALASAN DENGANCOOPERATIVE LEARNING
TEKNIK TAI SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Oleh:
Paula Novi Candra
NIM: 101134240
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
ii SKRIPSI
PENINGKATAN MINAT DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS V SDK KALASAN DENGANCOOPERATIVE LEARNING
TEKNIKTAI
Oleh:
Paula Novi Candra
NIM:101134240
Telah Disetujui oleh:
Pembimbing I
Dra. Ign. Esti Sumarah, M.Hum. Tanggal 13 Oktober 2015
Pembimbing II
iii SKRIPSI
PENINGKATAN MINAT DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS V SDK KALASAN DENGAN COOPERATIVE
LEARNING TEKNIK TAI Dipersiapkan dan ditulis oleh:
Paula Novi Candra
NIM: 101134240
Telah dipertahankan di depan Panitia Penguji Skripsi
pada tanggal 26 Oktober 2015
dan dinyatakan memenuhi syarat
Susunan Panitia Penguji:
Nama Lengkap Tanda Tangan
Ketua G. Ari Nugrahanta S.J.,S.S., BST.,M.A.
Sekretaris Christiyanti Aprinastuti, S.Si., M.Pd.
Anggota 1 Dra. Ign. Esti Sumarah M.Hum.
Anggota 2 Christiyanti Aprinastuti, S.Si. M.Pd.
Anggota 3 Brigitta Erlita Tri A., S.Psi., M.Psi.
Yogyakarta, 26 Oktober 2015
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
iv
PERSEMBAHAN
Skripsi ini kupersembahkan untuk:
Tuhan Yesus yang selalu membimbingku
v MOTTO
No pain no gain
Failure occurs only when we give up
vi
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak
memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam
kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.
Yogyakarta, 13 Oktober 2015
Penulis
vii
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma
Nama : Paula Novi Candra
Nomor Mahasiswa : 101134240
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan
Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya berjudul:
PENINGKATAN MINAT DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS V SDK KALASAN DENGAN COOPERATIVE LEARNING TEKNIK TAI
Dengan demikian, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata
Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain,
mengelolanya dalam bentuk penggalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan
mempublikasikannya di internet maupun media lain untuk kepentingan akademis
tanpa perlu meminta ijin dari saya atau memberikan royalty pada saya selama
tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di Yogyakarta
Pada tanggal:26 Oktober 2015
Yang menyatakan
viii ABSTRAK
Paula Novi Candra. 2015. Peningkatan Minat dan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas V SDK Kalasan Dengan Cooperative Learning Teknik TAI.Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Ilmu Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang bertujuan untuk mengetahui penerapan model pembelajaran kooperatif teknik TAI dalam upaya meningkatkan minat dan prestasi belajar matematika siswa kelas V SDK Kalasan. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SDK Kalasan yang terdiri dari 32 siswa dan objek penelitian adalah meningkatkan minat dan pestasi belajar matematika dengan teknik TAI. Penelitian ini dilakukan melalui dua siklus. Setiap siklus penelitian meliputi empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.
Hasil kuesioner minat pada kondisi awal menunjukkan presentase siswa yang berminat mengikuti pelajaran matematika sebesar 46,875%. Pada siklus I, presentase siswa yang berminat mencapai 75% dan pada siklus II meningkat menjadi 84,375%. Hasil tersebut telah melampaui kriteria keberhasilan sebesar 75%. Presentase siswa yang mencapai KKM pada kondisi awal sebesar 34,4%. Pada siklus I, presentase siswa yang mencapai KKM sebesar 78,125% dan siklus II sebesar 87,5%. Hasil tersebut telah melampaui kriteria keberhasilan sebesar 75%. Oleh sebab itu, peneliti menyimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperaif teknik TAI dapat meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa kelas V SDK Kalasan.
ix ABSTRACT
Paula Novi Candra. 2015. Increasing Student’s Interest and Learning Achievement of Mathematics in Grade V SDK Kalasan by Implementing Cooperative Learning Model TAI Technique. Teacher Education Program Elementary School, Department of Education, Faculty of Teacher Training and Education, Sanata Dharma University
This research was a Classroom Action Research that aims to know the implementation of Cooperative Learning Model TAI technique in an effort to increase interest and learning achievement of mathematics grade V SDK Kalasan. The subject of research was the grade V SDK Kalasan which consisted of 32 students and the object of research increased interest and learning achievement of mathematics by implementing TAI technique. This research was conducted through two cycles. Each cycles consisted of four stage: planning, act, observation, and reflection.
Result of interest questionare on the initial condition shows that the percentage of students who are interested in math was 46,875%. In the first cycle, the percentage of students who are interested was 75% and on the second cycle increased to 84,375%. The results have exceeded the success criteria of 75%. The percentage of students who reach KKM on the initial conditions was 34,4%. In the first cycle, the percentage of students who reach KKM was 78,125% and cycle II increased to 87,5%. The results have exceeded the success criteria of 75%. Therefore, researchers concluded that the application of Cooperative Learning Model TAI Technique can increase interest and learning achievement of mathematic for students in grade V SDK Kalasan
x
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yesus Kristus atas segala kasih dan
penyertaan-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan penyusunan skripsi
dengan judul “PENINGKATAN MINAT DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS V SDK KALASAN DENGAN
COOPERATIVE LEARNING TEKNIK TAI”
Skripsi ini disusun untuk memenuji syarat memperoleh gelar Sarjana
Pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi
Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di Universitas Sanata Dharma.
Penyusunan skripsi ini diakui memiliki banyak hambatan karena keterbatasan
waktu, pengalaman, dan pengetahuan. Namun berkat dorongan dan semangat dari
berbagai pihak, penyusunan skripsi ini akhirnya dapat diselesaikan dengan baik.
Oleh karena itu peneliti mengucapkan terimakasih kepada:
1. Rohandi, Ph. D. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sanata Dharma
2. Gregorius Ari Nugrahanta, S.J.,S.S.,BST.,M.A., Kepala Program Studi
Pendidikan Guru Sekolah Dasar
3. Dra. Ign. Esti Sumarah, M.Hum, Dosen Pembimbing I yang telah
memberikan dorongan, motivasi, dan telah meluangkan waktu untuk
membimbing dengan sabar, memberikan saran, dan mengarahkan peneliti
untuk penyusunan skripsi ini
4. Christiyanti Aprinastuti, S.Si.,M.Pd, Dosen Pembimbing II yang telah
bersedia memberikan petunjuk, bimbingan, dan pengarahan selama proses
penulisan skripsi ini hingga selesai
5. Seluruh dosen dan staf PGSD yang telah membimbing dan melayani kami
6. P. Agustin Ria Dewi S.Pd., Kepala Sekolah SDK Kalasan yang telah
mengijinkan peneliti untuk melakukan penelitian
7. M.I. Susi Widya Hesti, guru kelas VA SDK Kalasan yang telah
xi
8. Fransisca Adelia Chrisnanda yang telah membantu penelitian sebagai
observer
9. Keluarga tercinta atas dukungan dan doanya
10. Semua pihak yang telah mendukung dalam menyelesaikan skripsi ini
Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan bagi
Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta, 13 Oktober 2015
xii DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv
HALAMAN MOTTO... v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI... vii
ABSTRAK... viii
A. Latar Belakang... 1
B. Batasan Masalah... 4
C. Rumusan Masalah... 4
D. Tujuan... 5
E. Manfaat... 5
F. Definisi Operasional... 5
BAB II... 7
A. Landasan Teori... 7
1. Minat Belajar... 7
2. Model Cooperative Learning... 20
3. Cooperative LearningTeknik Team Assisted Individualization (TAI)... 25
4. Matematika... 29
5. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Matematika Kelas V... 30
6. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Teknik TAI... 31
7. Penilaian Hasil Belajar... 31
B. Penelitian yang Relevan... 32
C. Kerangka Berpikir... 33
xiii
Halaman
BAB III ... 35
A. Jenis Penelitian... 35
B. Setting Penelitian... 37
1. Lokasi Penelitian... 37
2. Subyek Penelitian... 37
3. Waktu Penelitian... 37
4. Objek Penelitian... 37
C. Rancangan Penelitian... 38
1. Persiapan... 38
2. Rencana Tindakan Tiap Siklus... 39
D. Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian... 48
1. Peubah (Variabel) ... 48
2. Teknik Pengumpulan Data... 49
E. Penyusunan Instrumen Penelitian... 51
F. Kisi-kisi Instrumen Penelitian... 52
G. Validitas dan Reliabilitas... 57
1. Uji Validitas ... 57
2. Reliabilitas Tes... 64
H. Analisis Data... 66
1. Analisis Data Kuesioner Minat ... 66
I. Kriteria Keberhasilan... 71
BAB IV ... 72
A. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian... 72
1. Siklus I ... 72
2. Siklus II... 78
B. Hasil Penelitian... 82
1. Minat Belajar ... 82
2. Prestasi Belajar... 86
C. Pembahasan... 91
BAB V ... 97
A. Kesimpulan... 97
C. Saran... 98
xiv
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1 Pengumpulan Data dan Instrumen ... 48
Tabel 2 Kisi-kisi Lembar Pengamatan Minat Siswa di Kelas... 52
Tabel 3 Kisi-kisi Kuesioner Minat Belajar ... 54
Tabel 4 Kisi-kisi Soal Siklus I ... 55
Tabel 5 Kisi-kisi Soal Siklus II ... 56
Tabel 6 Kriteria Kualitas Perangkat Pembelajaran ... 58
Tabel 7 Lembar Validasi Kuesioner ... 59
Tabel 8 Hasil Validasi Kuesioner ... 59
Tabel 9 Lembar Validasi Perangkat Pembelajaran ... 60
Tabel 10 Hasil Validasi Instrumen Pembelajaran... 62
Tabel 11 Hasil Uji Validitas Soal Siklus I ... 63
Tabel 12 Hasil Uji Validitas Soal Siklus II... 64
Tabel 13 Koefisien Reliabilitas... 65
Tabel 14 Hasil Uji Reliabilitas Soal Siklus I ... 65
Tabel 15 Hasil Uji Reliabilitas Soal Siklus II ... 66
Tabel 16 Skoring Kuesioner Minat ... 66
Tabel 17 Rentang Skor dan Kriteria Minat ... 67
Tabel 18 Indikator Pengamatan Afektif... 69
Tabel 19 Pengamatan Psikomotorik ... 69
Tabel 20 Kriteria Keberhasilan Penelitian ... 71
Tabel 21 Hasil Kuesioner Minat Siklus I... 82
Tabel 22 Hasil Kuesioner Minat Siklus II... 84
Tabel 23 Hasil Tes Siklus I ... 86
xv
DAFTAR GRAFIK
Halaman
Grafik 1. Peningkatan Minat Belajar ... 86
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Hasil Ulangan Harian Siswa... 105
Lampiran 2. Hasil Kuesioner Kondisi Awal ... 107
Lampiran 3. Silabus ... 110
Lampiran 4. Rencana Pelaksanaan PembelajaranSiklus I... 113
Lampiran 5. Rencana Pelaksanaan PembelajaranSiklus II ... 124
Lampiran 6. LKS Siklus I ... 132
Lampiran 7 Soal Latihan Siklus I... 136
Lampiran 8. LKS Siklus II ... 138
Lampiran 9. Soal Latihan Siklus II ... 142
Lampiran 10. Soal Pretest dan Postest Siklus I ... 144
Lampiran 11. Soal Pretest dan Postest Siklus II ... 146
Lampiran 12. Kunci JawabanSoal Siklus I ... 148
Lampiran 13. Kunci JawabanSoal Siklus II... 150
Lampiran 14. Kuesioner Minat Belajar... 152
Lampiran 15. Lembar Observasi... 155
Lampiran 16. Hasil Pekerjaan Siswa ... 156
Lampiran 17. Dokumentasi... 162
Lampiran 18. Surat Bukti Penelitian Dari Sekolah... 164
Lampiran 19. Surat Ijin Penelitian ... 165
BAB I PENDAHULUAN
Di dalam bab ini, peneliti akan menguraikan pendahuluan yang
berisi tentang latar belakang penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian,
manfaat penelitian, batasan penelitian, dan definisi operasional
A. Latar Belakang
Matematika merupakan ilmu logika yang berkaitan dengan bentuk,
susunan, dan konsep bilangan. Matematika memiliki peranan penting dalam
kehidupan sehari-hari karena hampir seluruh aspek kehidupan kita
melibatkan bilangan mulai dari pembacaan waktu, penjumlahan,
pengukuran, dan lain sebagainya. Matematika membantu manusia
menyelesaikan masalah sehari-hari yang berkaitan dengan bilangan.
Matematika merupakan media untuk melatih manusia berpikir kritis,
mandiri, dan dapat menyelesaikan masalah
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran wajib yang
diterima oleh siswa mulai dari kelas I sampai kelas VI SD. Ilmu ini
mempelajari tentang perhitungan, pengukuran, dan pengoperasian angka.
Matematika diberikan kepada siswa agar siswa memiliki keterampilan untuk
memecahkan masalah dalam kehidupannya sehari-hari. Mata pelajaran
Matematika pada kelas V SD sudah mulai bersifat abstrak karena menuntut
siswa untuk menghitung dengan jumlah bilangan yang banyak. Anak juga
dituntut untuk mulai berpikir secara logis dan memahami banyak konsep
penjumlahan. Materi Matematika pada siswa kelas V meliputi operasi
bilangan bulat; ukuran waktu, jarak, sudut, dan kecepatan; luas bangun datar
sederhana; volume bangun ruang; pecahan; dan sifat bangun dan hubungan
antarbangun
Dalam observasi yang dilakukan peneliti pada saat pelajaran
Matematika tanggal 5 Februari 2014 pada materi “Pengubahan pecahan
biasa ke bentuk persen”, peneliti melihat sembilan belas siswa
kurangantusias selama mengikuti pelajaran tersebut. Hal itu terlihat dari
enam siswa yangmengeluh saat diberi tugas, dua orang siswa sering minta
ijin ke toilet, empat siswa mengobrol sendiri, enam siswa tidak mau
mencatat materi pelajaran, lima siswa yang terlihat sibuk dengan aktivitas
masing-masing yang tidak berkaitan dengan mata pelajaran, satu siswa yang
menelungkupkan kepala di atas meja, satu siswa bermain dengan kotak
pensilnya, dan dua siswa asyik menggambar di buku tulisnya. Hal-hal
tersebut menunjukkan jika siswa kurang berminat belajar Matematika
Peneliti kemudian melakukan wawancara kepada wali kelas untuk
mengetahui lebih lanjut tentang kurang berminatnya siswa terhadap
pelajaran Matematika. Dari hasil wawancara, guru mengatakan bahwa siswa
mengalami kesulitan dalam memahami materi sehingga mereka cenderung
tidak memperhatikan. Alasannya, pelajaran matematika dianggap terlalu
abstrak sehingga menyulitkan siswa berpikir lebih tinggi dengan
menggunakan logika.
Guru juga dengan jujur mengatakan bahwa beliau jarang
menggunakan metode belajar berkelompok karena menurutnya siswa
cenderung menjadi ramai. Selain itu, guru juga mengakui jika nilai rata-rata
ulangan harian siswa masih di bawah KKM. Peneliti kemudian melakukan
studi dokumentasi terhadap nilai Matematika siswa. Dari hasil studi
dokumentasi, peneliti mendapat data jika dari 32 siswa yang tidak mencapai
KKM Matematika sebesar 65,6%. Hal ini menunjukkan bahwa minat belajar
yang rendah pada pelajaran Matematika dapat berdampak pada prestasi
belajar yang rendah.
Peneliti kemudian memberikan kuesioner kepada siswa untuk
memperkuat data dengan pertanyaan-pertanyaan yang dikembangkan dari
indikator minat. Dari hasil kuesioner tersebut, ada 51.5% siswa yang tidak
senang dengan pelajaran Matematika, 48.5% siswa tidak berinisiatif dalam
45.4% siswa tidak berinisiatif dalam pelajaran Matematika. Oleh sebab itu,
peneliti menyimpulkan bahwa minat belajar siswa perlu ditingkatkan.
Penjelasan dari hasil observasi, wawancara, studi dokumentasi, dan
kuesioner membuktikan bahwa siswa kelas VA SD Kanisius Kalasan perlu
mendapat perlakukan untuk meningkatkan minat dan prestasi belajar
Matematika. Proses pembelajaran Matematika pada penjelasan tersebut
bersifat individu di mana siswa langsung memperhatikan dan menerima
materi hanya dari guru. Oleh sebab itu diperlukan pembelajaran lain yang
dapat membantu memudahkan siswa memahami materi pelajaran dan
membuat siswa lebih tertarik mengikuti pelajaran Matematika
Menurut Davies (Riyanto, 2009:161), setiap hal yang dipelajari oleh
siswa, siswa harus mempelajarinya secara mandiri karena tidak ada yang
dapat melakukan itu selain dirinya sendiri. Dengan alasan tersebut, proses
pembelajaran sebaiknya melibatkan siswa secara aktif dan lebih berinisiatif
menemukan pengetahuan yang dibutuhkan. Proses pembelajaran yang
menyenangkan dapat membantu siswa lebih mudah memahami materi dan
terlibat aktif sehingga proses pembelajaran menjadi efektif
Model pembelajaran yang dapat digunakan adalah Cooperative
Learning teknik TAI. TAI (Team Assisted Individualization) merupakan
teknik yang mengakomodasi perbedaan individu terkait kemampuan siswa.
Teknik ini memadukan pembelajaran kooperatif dan individu. Salah satu
penelitian yang telah menggunakan teknik ini adalah Nugroho (2011).
Penelitian tersebut mengenai pengaruh pembelajaran kooperatif teknik TAI
terhadap prestasi belajar Matematika kelas V SD Tunas Daud, Singaraja
dengan jenis penelitian quasi eksperimen. Hasil penelitian tersebut
menunjukkan kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran
kooperatif teknik TAImempunyai nilai 76,1 dan kelas kontrol dengan
pembelajaran konvensional memiliki nilai rata-rata 63,1. Oleh sebab itu
Dan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas V SDK Kalasan Dengan
Cooperative LearningTeknik TAI”
TAI (Team Assisted Individualization) merupakan salah satu teknik
dalam Cooperative Learning yang mengkombinasikan pembelajaran
kooperatif dan individual. Siswa diajak untuk bekerja secara berkelompok
dengan tingkat kemampuan yang berbeda dimana setiap anggota memiliki
tanggung jawab untuk saling mengoreksi dan membantu rekannya. Ketika
siswa bekerja secara kelompok, mereka akan lebih berminat dalam pelajaran
dan hal ini dapat membantu meningkatkan prestasi belajar siswa. Selain itu,
teknik ini juga dapat mengurangi waktu guru untuk berkonsentrasi pada
siswa-siswa tertentu dan meminimalisir keterlibatan guru
Melihat fakta yang ada di kelas, peneliti memandang model
Cooperative Learning teknik TAI cocok diterapkan untuk mengatasi
masalah yang terjadi di dalam kelas. Oleh sebab itu peneliti melakukan
penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan minat dan prestasi belajar
siswa. Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan minat dan prestasi
belajar siswa kelas VA SDK Kalasan pada pelajaran Matematika. Itu
sebabnya penelitian ini berjudul “Peningkatan Minat Dan Prestasi Belajar
Matematika Siswa Kelas V SDK Kalasan Dengan Cooperative Learning
Teknik TAI”
B. Batasan Masalah
Dalam penelitian ini, masalah difokuskan pada penggunaan
Cooperative Learningteknik TAI untuk meningkatkan minat dan prestasi
belajar siswa kelas VA SD Kanisius Kalasan pada mata pelajaran
Matematika tahun pelajaran 2013/2014.
C. Rumusan Masalah
1. Apakah model Cooperative Learning teknik TAI dapat meningkatkan
minat belajar Matematika kelas VA SD Kanisius Kalasan tahun pelajaran
2. Apakah model Cooperative Learning teknik TAI dapat meningkatkan
prestasi belajar Matematika kelas VA SD Kanisius Kalasan tahun
pelajaran 2013/2014?
D. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Mengetahui apakah model Cooperative Learning teknik TAIdapat
meningkatkan minat belajar Matematika kelas VA di SD Kanisius
Kalasan tahun pelajaran 2013/2014.
2. Mengetahui apakah model Cooperative Learning teknik TAIdapat
meningkatkan prestasi belajar Matematika kelas VA di SD Kanisius
Kalasan tahun pelajaran 2013/2014.
E. Manfaat 1. Bagi peneliti
Dapat memberikan pengalaman bagi peneliti untuk melakukan PTK,
khususnya dalam penggunaan model Cooperative Learningteknik TAI
2. Bagi guru
Dapat memberikan inspirasi untuk menyampaikan materi pembelajaran
menggunakan model Cooperative Learningteknik TAI.
3. Bagi siswa
Siswa berminat mengikuti pelajaran Matematika dengan model
Cooperative Learningteknik TAI sehingga prestasi belajarnya meningkat
F. Definisi Operasional 1. Minat Belajar
Minat merupakan rasa tertarik yang muncul dari dalam diri sendiri tanpa
ada pengaruh paksaan dari luar. Siswa dikatakan berminat jika
menunjukkan ekspresi perasaan senang, perhatian dalam belajar, terlibat
dalam proses pembelajaran, dan memiliki inisiatif dalam proses
pembelajaran
2. Prestasi Belajar
Prestasi belajar adalah suatu hasil berupa nilai dan sikap yang diperoleh
3. Cooperative Learning
Cooperative Learning merupakan model pembelajaran yang menekankan
pada pembelajaran berkelompok dengan kelompok-kelompok kecil.
4. Cooperative LearningTeknik TAI
Cooperative Learningteknik TAI menggabungkan konsep pembelajaran
kooperatif dan individualisasi untuk mengakomodasi keberagaman siswa
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Dalam bab ini, peneliti akan menguraikan tinjauan pustaka yang akan
digunakan untuk memecahkan masalah pada penelitian ini. Pembahasan tentang
teori meliputi landasan teori, penelitian yang relevan, kerangka berpikir, dan
hipotesis tindakan
A. Landasan Teori 1. Minat Belajar
a. Pengertian Belajar
Belajar merupakan suatu rangkaian proses untuk mendapatkan
pengetahuan (Suprijono, 2009:3). Hal ini sesuai dengan pendapat
Prayitno (2009:203) yang menjelaskan bahwa belajar adalah proses
perubahan tingkah laku yang diperoleh dari pengalaman, pembiasaan,
meniru, pemahaman, dan aktivitas dalam meraih tujuan yang ingin
dicapai. Belajar adalah upaya untuk mendapatkan dan menguasai hal
baru. Sementara itu Slameto (2010:2) berpendapat bahwa belajar
merupakan suatu usaha yang dilakukan untuk mendapatkan perubahan
tingkah laku secara menyeluruh. Perubahan tingkah laku ini diperoleh
dari hasil pengalamannya sendiri.
Belajar merupakan suatu rangkaian proses untuk mendapatkan
pengetahuan (Suprijono, 2009:3). Sedangkan Sugihartono (2012:74)
mengungkapkan bahwa belajar adalah sebuah proses perubahan
tingkah laku dari hasil interaksi antara individu dengan lingkungan
dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup.
Menurut Slameto (2003:2), belajar merupakan usaha yang
dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah
laku yang baru sebagai hasil pengalaman pribadi dalam interaksi
dengan lingkungan. Sementara itu Syah (2000:136) beranggapan
bahwa belajar merupakan tahapan perubahan tingkah laku individu
yang menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan
lingkungan yang melibatkan ranah kognitif
Sementara itu definisi belajar menurut Hilgard dalam Mulyati
(2005:2) adalah pembentukan tingkah laku individu melalui kontak
dengan lingkungan. Untuk melengkapi pendapat tersebut, Dimiyati &
Mudjono (2010:17) menjelaskan bahwa belajar adalah tindakan dan
perilaku kompleks. Tindakan tersebut hanya dialami oleh siswa
sehingga siswa merupakan penentu terjadi atau tidaknya proses
belajar. Proses belajar terjadi karena siswa mendapatkan sesuatu dari
lingkungan sekitar.
Berdasarkan beberapa pengertian belajar dari para ahli, belajar
dapat dikatakan sebagai usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk
menerima hal-hal baru yang dapat mengubah tingkah lakunya.
Perubahan tingkah laku tersebut bersifat permanen sesuai dengan
pengalaman yang telah didapat dari rangkaian kegiatan baik secara
langsung maupun tidak langsung sehingga membawa pada kondisi
kehidupan yang lebih baik. Belajar sendiri terdiri dari beberapa jenis
dan beberapa ciri yang akan dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut
b. Jenis-jenis Belajar
Gagne dalam Winataputra (2008:19) menjelaskan tujuh jenis
belajar. Ketujuh jenis tersebut meliputi:
1) Belajar Isyarat:
Belajar isyarat merupakan melakukan atau tidak melakukan
sesuatu karena adanya isyarat atau tanda. Biasanya jenis belajar
ini berupa respon yang diberikan secara tidak sadar
2) Belajar Stimulus-Respon
Belajar ini terjadi pada individu karena mendapat stimulus dari
luar seperti membalas memukul saat dipukul
3) Belajar Rangkaian
Jenis belajar ini melahirkan perilaku yang spontan karena
4) Belajar Asosiasi Verbal
Belajar Asosiasi Verbal terjadi ketika individu dapat menangkap
makna yang bersifat verbal. Contoh, pesawat terbang bergerak
seperti burung yang terbang
5) Belajar Diskriminasi
Belajar Diskriminasi terjadi ketika individu dihadapkan dengan
benda dan mencoba membedakannya. Contoh membedakan
bentuk binatang, tumbuhan, dll
6) Belajar Konsep
Belajar konsep dilakukan ketika individu sudah dapat melakukan
diskriminasi. Contoh, menggolongkan jenis makhluk hidup,
mengelompokkan jenis tumbuhan
7) Belajar Pemecahan Masalah
Proses pemecahan masalah berkaitan dengan keterampilan
memecahkan persoalan dan meningkatkan kemampuan individu
untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang lain
Selain terdiri dari beberapa jenis, belajar juga memiliki beberapa
ciri-ciri khusus untuk membedakannya dengan aktivitas lain yang
bukan termasuk belajar
c. Ciri-ciri Belajar
Menurut Aqib (2009:48), belajar memiliki beberapa
karakteristik yaitu sebagai berikut:
1) Belajar harus memungkinkan adanya perubahan tingkah laku dari
individu yang meliputi tiga aspek yakni aspek pengetahuan, aspek
sikap, dan keterampilan
2) Belajar adalah hasil dari pengalaman yang didapat dari interaksi
antara individu dengan lingkungan
3) Hasil belajar atau perubahan tingkah laku yang diperoleh dari
d. Prestasi Belajar
Belajar berkaitan dengan prestasi belajar. Prestasi belajar
merupakan hasil yang diperoleh siswa setelah mengikuti proses
belajar. Kegiatan pembelajaran merupakan proses sedangkan pretasi
belajar adalah hasil yang didapat setelah siswa mengikuti proses
belajar. Surya (2003:67) berpendapat bahwa prestasi belajar adalah
seluruh kecakapan yang diperoleh melalui proses belajar yang
dinyatakan dengan nilai sesuai dengan hasil belajar. Senada dengan
pengertian tersebut, Arifin (2009:12) berpendapat bahwa prestasi
belajar merupakan hasil yang dicapai setelah mengalami proses
belajar yang berkaitan dengan pengetahuan.
Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa
prestasi belajar merupakan hasil yang dicapai oleh siswa setelah
mengikuti proses belajar. Hasil tersebut berupa pengetahuan, sikap,
dan keterampilan yang dinyatakan dengan nilai
e. Faktor-faktor Prestasi Belajar
Prestasi belajar bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Menurut
Mulyasa (2006:191), prestasi belajar merupakan hasil dari berbagai
faktor yang melatarbelakanginya. Prestasi belajar siswa dipengaruhi
oleh dua faktor yaitu faktor internal (faktor dari dalam diri siswa)
dan faktor eksternal (faktor dari luar diri siswa). Faktor internal yang
mempengaruhi prestasi belajar siswa antara lain adalah:
1) Minat dan Motivasi
Minat adalah sumber motivasi yang mendorong individu
untuk melakukan sesuatu. Minat memiliki pengaruh yang besar
terhadap suatu aktivitas. Sementara itu motivasi merupakan
dorongan untuk melakukan kegiatan belajar. Kedua hal ini
berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan belajar
2) Kecerdasan
Kecerdasan adalah kemampuan belajar untuk
sangat dipengaruhi oleh kemampuan intelegensi individu. Siswa
yang memiliki intelegensi tinggi cenderung memiliki kecerdasan
yang tinggi. Sebaliknya siswa yang memiliki intelegensi rendah
cenderung memiliki kecerdasan yang rendah
3) Kesehatan
Kesehatan termasuk salah satu faktor penting yang dapat
bepengaruh terhadap prestasi belajar. Siswa yang sedang sakit
tidak dapat belajar dengan baik sehingga dapat menurunkan
prestasi belajarnya.
Selain faktor internal, terdapat faktor eksternal atau faktor
dari luar diri siswa yang mempengaruhi prestasi belajar. Faktor
tersebut meliputi:
1) Keadaan Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan masyarakat terkecil dan
menjadi tempat di mana seseorang lahir dan tumbuh besar.
Keluarga idealnya dapat memberikan rasa aman supaya siswa
dapat merasa nyaman selama proses belajar berlangsung di
lingkungan keluaarga
2) Keadaan Sekolah
Sekolah adalah lembaga formal dan menjadi tempat di
mana siswa dapat belajar dan berkembang setelah dari
lingkungan keluarga. Lingkungan sekolah yang baik dapat
berpengaruh terhadap presyasi belajar siswa
3) Lingkungan Masyarakat
Perkembangan pribadi siswa dapat dipengaruhi oleh
lingkungan masyarakat. Lingkungan tersebut dapat membentuk
kepribadian seorang anak. Kadang anak mengalami masalah
f. Faktor-faktor Belajar
Kesuksesan dalam sebuah proses pembelajaran tentu tidak
terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinya. Ada beberapa
faktor yang mempengaruhi kesuksesan belajar yakni faktor internal
dan faktor eksternal. Menurut Suryabrata (1984:249) faktor-faktor
yang dapat mempengaruhi kesuksesan belajar diantaranya adalah
faktor yang berasal dari luar diri siswa atau faktor eksternal dan
faktor dari dalam diri siswa atau faktor internal.
Menurut Hamalik (2001:32) ada sembilan faktor yang
mempengaruhi belajar. Faktor-faktor belajar tersebut antara lain
adalah: 1) Faktor kegiatan, penggunaan dan ulangan, 2) Latihan agar
pelajaran yang lupa dapat dikuasi kembali, 3) Siswa merasa berhasil
dan mendapat kepuasan, 4) Pengetahuan baru berkaitan dengan
pengetahuan sebelumnya, 5) Pengalaman masa lalu sebagai dasar
untuk menerima pengetahuan baru, 6) Faktor kesiapan belajar, 7)
Faktor minat dan usaha, 8) Faktor fisiologis, dan 9) Faktor
intelegensi.
Tidak jauh berbeda dengan Suryabrata, Slameto (2010:54)
juga mengungkapkan bahwa ada keberhasilan belajar ditentukan oleh
faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi jasmani
dan psikologi. Faktor eksternal meliputi faktor keluarga, sekolah, dan
masyarakat. Dalam penelitian ini, peneliti akan menyoroti tentang
minat yang merupakan salah satu faktor internal yang dapat
berpengaruh terhadap keberhasilan belajar.
g. Pengertian Minat
Minatmerupakan salah satu faktor penting yang
mempengaruhi pemahaman dan efektivitas pembelajaran di dalam
kelas. Minat merupakan ketertarikan yang dimiliki siswa untuk ikut
terlibat aktif dalam pembelajaran. Hal ini sesuai dengan pendapat
Slameto. Menurut Slameto (2010:55), minat merupakan salah satu
juga mengungkapkan bahwa minat adalah rasa tertarik dan lebih
suka pada sesuatu tanpa disuruh.
Berbeda dengan Slameto, Usman (2003:27) berpendapat
bahwa minat adalah sifat yang bersifat menetap dalam diri seseorang.
Minat memiliki pengaruh yang besar terhadap belajar. Dengan minat,
seseorang akan terdorong untuk terlibat melakukan sesuatu.
Sementara itu, Lucy (2009:35) berpendapat bahwa minat belajar
adalah keinginan seseorang untuk mencapai sesuatu. Minat yang ada
di dalam diri siswa harus dikembangkan dengan bantuan orang tua
dan guru. Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orang tua dan guru
dalam rangka mengembangkan minat belajar di antaranya adalah
mencermati kelebihan dan kelemahan siswa, melatih siswa untuk
meningkatkan kemampuannya, dan memberi motivasi dengan cara
menekuni bidang yang menjadi kelebihannya.
Gie (2002:28) mengartikan minat sebagai ketertarikan atau
keterlibatan penuh terhadap suatu kegiatan. Seseorang yang berminat
menyadari pentingnya kegiatan itu untuk dirinya sendiri. Liang Gie
juga memfokuskan tentang pengertian minat belajar. Menurut beliau,
minat belajar adalah keterlibatan siswa pada kegiatan dengan penuh
perhatian untuk memahami materi pembelajaran. Gie percaya bahwa
minat adalah faktor pokok untuk mencapai keberhasilan.
Sementara itu Djaali (2007:122) berpendapat bahwa minat
merupakan rasa ingin tahu, mengagumi, mempelajari, atau memiliki
sesuatu. Minat juga termasuk bagian dari afeksi mulai dari kesadaran
hingga pilihan nilai. Beliau juga menjelaskan bahwa minat adalah
pengerahan perasaan untuk menafsirkan suatu hal
Hurlock dalam Dewi (2011:8) mengemukakan bahwa minat
adalah sumber motivasi yang mendorong seseorang untuk
melakukan sesuatu yang diinginkan jika mereka memiliki kebebasan
memilih. Jika mereka melihat sesuatu tersebut akan menguntungkan
mendatangkan kepuasan. Ketika kepuasan berkurang, minat juga
berkurang.
Sementara itu Djamarah (2008:132) berpendapat bahwa
minat merupakan kecenderungan yang menetap untuk
memperhatikan dan mengenang beberapa aktivitas. Ketika seseorang
berminat terhadap aktivitas tertentu, dia akan memperhatikan
aktivitas tersebut dengan rasa senang secara konsisten. Jacob W.
Getels dalam Djamarah (2008:75) memiliki pendapat serupa di mana
seseorang yang berminat terhadap sesuatu tidak akan menghiraukan
hal yang lain
Dari beberapa pengertian para ahli tersebut, dapat
disimpulkan bahwa minat merupakan rasa ketertarikan yang muncul
dari dalam diri siswa sendiri yang bersifat menyenangkan. Dengan
kata lain, siswa akan merasa senang pada sebuah mata pelajaran jika
ia memiliki minat terhadap pelajaran tersebut. Rasa ketertarikan atau
minat yang muncul dari dalam diri siswa dipengaruhi oleh berbagai
faktor
h. Faktor-faktor Minat
Minat belajar siswa dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Faktor tersebut dapat merupakan faktor dari dalam maupun faktor
dari luar diri siswa. Menurut Suryabrata (1984:249) faktor yang
mempengaruhi minat belajar siswa adalah motivasi dan suasana
tempat belajar siswa.
Faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar siswa
menurut Aritonang dalam Puspitasari (2012:14) meliputi cara
mengajar guru, karakter guru, suasana kelas yang nyaman, dan
fasilitas belajar yang digunakan.
Sementara itu Slameto (2010:54) menyebutkan bahwa
faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar adalah faktor-faktor internal dan
1) Faktor Internal:
a) Faktor jasmani (kesehatan dan cacat tubuh)
b) Faktor psikologi (perhatian, bakat, kesiapan, kematangan,
intelegensi)
2) Faktor Eksternal:
a) Faktor keluarga (cara orangtua mendidik, suasana rumah,
latar belakang budaya, relasi antar anggota keluarga, keadaan
ekonomi keluarga)
b) Faktor sekolah (kurikulum, metode mengajar, relasi guru
dengan siswa, disiplin sekolah, relasi antar siswa, standar
penilaian, waktu sekolah, alat pelajaran, tugas rumah,
keadaan gedung sekolah)
i. Indikator Minat
Ketika seseorang berminat, ia akan memperlihatkan beberapa
ekspresi. Djamarah (2008:132) mengungkapkan bahwa minat dapat
diekspresikan melalui:
1) Memberikan pernyataan lebih menyukai sesuatu dibandingkan
hal yang lain
2) Berpartisipasi aktif dalam kegiatan yang diminati
3) Memberikan perhatian yang lebih besar terhadap hal yang
diminatinya
Menurut Marpadi (dalam Hartanto 2012:14) beberapa
indikator siswa yang memiliki minat adalah siswa berusaha untuk
memahami dan membaca buku yang berkaitan dengan apa yang
dipelajari, bertanya dalam kegiatan pembelajaran, bertanya kepada
teman, bertanya kepada orang lain dan mengerjakan tugas dengan
sungguh.
Menurut Slameto (2003:58), siswa yang memiliki minat
1) Memiliki kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan
mengingat secara terus menerus hal yang dipelajari
2) Memiliki rasa suka dan senang pada sesuatu yang diminati
3) Merasa bangga dan puas terhadap sesuatu yang diminati serta
merasa terikat pada aktivitas-aktivitas yang diminati
4) Dimanifestasikan melalui partisipasi dalam kegiatan dan
aktivitas
Sementara itu Isnandar (2012:14) juga menjelaskan
beberapa ciri-ciri minat belajar yaitu sebagai berikut:
1) Ekspresi Perasaan Senang. Hal ini meliputi siswa antusias
dalam mengikuti pelajaran, siswa tidak mengeluh saat diberi
tugas oleh guru, siswa datang tepat waktu sebelum pelajaran
dimulai, siswa menyiapkan peralatan pelajaran sebelum
pembelajaran dimulai, dan siswa mengikuti pelajaran dengan
tenang
2) Perhatian Dalam Mengikuti Proses Pembelajaran. Hal ini
meliputi siswa aktif bertanya dan menjawab pertanyaan pada
saat proses pembelajaran berlangsung, siswa menyimak
penjelasan guru dengan seksama, siswa tidak melamun selama
proses pembelajaran berlangsung, dan siswa tidak mengobrol
atau mengganggu teman ketika proses pembelajaran
berlangsung
3) Ketertarikan Siswa Terhadap Materi. Ketertarikan ini meliputi
siswa giat membaca buku pelajaran, siswa sudah membaca
materi pelajaran sebelum guru mengajarkan materi, siswa
membuat catatan pelajaran, dan siswa berusaha menyelesaikan
tugas dari guru secara serius
4) Ketertarikan Siswa Terhadap Metode Guru. Hal ini meliputi
siswa bertanya ketika mengalami kesulitan, siswa
langkah-langkah kegiatan pembelajaran dengan metode pembelajaran
yang digunakan oleh guru
5) Keterlibatkan Siswa Dalam Proses Pembalajaran. Keterlibatan
ini meliputi siswa aktif mengemukakan pendapat selama
kegiatan diskusi, siswa bersedia membantu teman yang
mengalami kesulitan, siswa ikut mengerjakan tugas, dan siswa
berani mengajukan diri menjawab pertanyaan dari guru secara
spontan
Berdasarkan penjelasan ciri-ciri minat belajar yang
diuraikan oleh Slameto dan Isnandar tersebut, didapat kesimpulan
bahwa indikator minat belajar siswa adalah sebagai berikut:
1) Ekspresi perasaan senang yang ditunjukkan dengan: mengikuti
pelajaran dengan antusias, tidak mengeluh ketika diberi tugas,
datangsebelum pelajaran dimulai, menyiapkan buku pelajaran
dan duduk tenang di dalam kelas.
2) Perhatian dalam belajar ditunjukkan dengan: aktif bertanya di
dalam kelas jika ada yang belumdimengerti, aktif menjawab
pertanyaan dari guru, memperhatikan penjelasan guru dengan
sungguh-sungguh, tidak melamun selama proses pembelajaran,
tidak mengantuk, tidak mengobrol sendiri saat proses
pembelajaran berlangsung, dan tidak menganggu teman yang
lain.
3) Ketertarikan pada materi pelajaran dan guru, meliputi :giat
membaca buku pelajaran, menanyakan kesulitan yang dialami
kepada guru, membuat catatan mengenai materi yang
disampaikan, bersedia mengerjakan tugas yang diberikan
guru,dan membaca buku dari sumber lain sesuai dengan materi
yang sedang dipelajari.
4) Keterlibatan siswa dalam pelajaran, meliputi: aktif
menyampaikan pendapat dalam diskusi, bersedia membantu
bekerjasama dengan kelompok, bersedia maju ke depan
mengerjakan tugas, mengajukan diri untuk menjawab
pertanyaan yang diberikan oleh guru.
Untuk membuat siswa merasa senang dan inisiatif mengikuti
proses pembelajaran, materi pembelajaran yang diberikan kepada siswa
harus disesuaikan dengan karakteristik siswa. Siswa usia SD memiliki
karakteristik yang membedakan mereka dengan siswa di tingkatan
sekolah lainnya
j. Karakteristik Siswa Sekolah Dasar
Pada usia anak-anak hingga remaja, manusia mengalami
perkembangan kemampuan kognitif. Menurut Piaget dalam Isjoni
(2010:36), terdapat empat tahap perkembangan kognitif yang akan
dilalui oleh anak yaitu:
1) Tahap Sensorimotor ( 0-2 tahun)
2) Tahap Praoperasional (2-7 tahun)
3) Tahap Operasional Konkret (7-11 tahun)
4) Tahap Operasional Formal ( 11 - dewasa)
Anak kelas V SD masuk dalam tahap operasional konkret.
Ciri utama dari tahap ini adalah anak sudah menggunakan
aturan-aturan yang logis dan jelas. Anak sudah mempunyai kecakapan
berpikir secara logis, namun hanya pada benda-benda konkret.
Menurut Budiningsih (2004:38-39), operasional merupakan tindakan
untuk memanipulasi objek atau gambaran di dalam dirinya. Kegiatan
ini memerlukan proses transformasi informasi ke dalam diri anak
sehingga tindakannya lebih efektif. Anak sudah mampu berpikir
dengan model ‘kemungkinan’ ketika melakukan kegiatan tertentu
dan dapat menggunakan hasil yang sudah dicapai sebelumnya.
Walaupun anak sudah dapat melakukan pengelompokan,
pengklasifikasian, dan pengaturan masalah, ia masih belum
sepenuhnya menyadari ada prinsip-prinsip yang terdapat di
dalamnya. Untuk menghindari keterbatasan berpikir, anak perlu
mendapatkan gambaran konkret sehingga dapat memahami
personalan. Namun anak usia 7-12 tahun masih mempunyai masalah
dengan berpikir abstrak.
Anak usia sekolah dasar (6-12 tahun) memasuki masa
kanak-kanak akhir. Menurut Sumantri dan Sukmadinata dalam Wardani
(2012:1), anak usia sekolah dasar memiliki karakteristik senang
bermain, senang bekerja dalam kelompok, senang bergerak, dan
senang melakukan sesuatu secara langsung.
Poerwanti (2005:44) mengungkapkan bahwa pada masa usia
sekolah dasar juga disebut sebagai masa bermain. Anak memiliki
dorongan keluar rumah dan bergabung dengan kelompok sebaya.
Kondisi fisik memungkinkan anak untuk memasuki dunia permainan
dan mempunyai dorongan mental untuk memasuki dunia konsep,
simbol, logika, dan sebagainya
Menurut Suryabrata dalam Djamarah (2008:124), masa usia
sekolah dasar dibagi menjadi dua fase yaitu masa kelas rendah dan
masa kelas tinggi. Penjelasan lengkapnya diuraikan sebagai berikut:
1) Masa Kelas Rendah
Masa kelas rendah adalah anak usia 6-9 tahun. Beberapa sifat
khas anak pada usia tersebut meliputi:
a) Ada korelasi positif antara kesehatan pertumbuhan jasmani
dengan prestasi di sekolah
b) Memiliki sikap patuh terhadap peraturan-peraturan
permainan tradisional
d) Senang membanding-bandingkan diri sendiri dengan anak
lain
e) Belum menganggap soal sebagai hal yang penting
f) Pada usia 6-8 tahun anak menginginkan nilai yang baik tanpa
memperhatikan apakah prestasinya layak mendapat nilai baik
atau tidak
2) Masa Kelas Tinggi
Masa kelas tinggi sekolah dasar adalah usia 10-12 tahun.
Berikut ini adalah beberapa sifat khas anak pada rentang usia ini
a) Memiliki minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang
konkret. Ini menimbulkan kecenderungan untuk
membandingkan pekerjaan – pekerjaan yang praktis
b) Sangat realistik, ingin tahu, dan ingin belajar
c) Menjelang akhir masa ini, sudah timbul minat terhadap hal
dan mata pelajaran tertentu
Dari semua itu diketahui bahwa anak usia sekolah dasar
senang bekerja dalam kelompok, berminat terhadap kehidupan
praktis sehari-hari yang konkret, dan memiliki dorongan mental
untuk mempelajari konsep serta logika. Salah satu model
pembelaran yang dapat mengakomodasi kebutuhan tersebut
adalah pembelajaran kooperatif.
2. Model Cooperative Learning
Setiap anak memiliki latar belakang, motivasi, dan kemampuan
yang berbeda-beda. Pembelajaran kooperatif berusaha untuk
mengakomodasi perbedaan ini dengan membangun kerjasama antar
siswa. Dalam proses pembelajaran, siswa dilatih untuk saling berbagi dan
bertanggung jawab. Proses pembelajaran kooperatif tidak akan hanya
memudahkan siswa dalam memahami materi yang diberikan, tetapi juga
Pembelajaran kooperatif adalah falsafah tentang tanggung jawab
pribadi dan sikap saling meghormati antar siswa. Siswa bertanggung
jawab atas diri mereka sendiri. Guru berperan sebagai fasilitator dan
memberikan dukungan kepada siswa (Suprijono, 2009:54).
Menurut penjelasan Rusman (2011:204), pembelajaran kooperatif
merupakan teknik pengelompokkan di mana siswa di dalamnya bekerja
dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang dan terarah pada tujuan
bersama. Abdulhak dalam Rusmawan (2010:203) memiliki pendapat
yang hampir sama yaitu pembelajaran kooperatif dilakukan melalui
sharing antar peserta belajar sehingga dapat menciptakan pemahaman
bersama di antara peserta belajar tersebut. Rusmawan (2010:2014)
menjelaskan bahwa ada empat hal penting dalam model pembelajaran
kooperatif yaitu: adanya siswa dalam kelompok; minat dan bakat siswa;
terdapat upaya belajar dalam kelompok; dan terdapat kompetensi yang
wajib dicapai oleh kelompok
Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas dapat disimpulkan
model pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang mengajak
siswa belajar dan bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil. Setiap
kelompok terdiri dari 4-5 anggota dimana anggota-anggota tiap
kelompok bersifat heterogen. Pembelajaran kooperatif dapat menciptakan
interaksi yang luas antara siswa dengan siswa dan siswa dengan guru.
a. Unsur-Unsur Cooperative Learning
Pembelajaran kooperatif berbeda dengan belajar kelompok
pada umumnya. Roger dan David Johnson dalam Anita Lie
(2002:30) menyatakan bahwa Cooperative Learningterdiri dari lima
unsur yaitu
1) Positive Interdependence: Pembelajaran kooperatif
menimbulkan saling ketergantungan yang bersifat positif antar
anggota dalam kelompok. Setiap anggota kelompok saling
2) Personal Responsibility: Tanggung jawab individu muncul jika
dilakukan pengukuran terhadap keberhasilan kelompok.
Pembelajaran kooperatif pada dasarnya bertujuan agar semua
anggota kelompok dapat memahami materi yang diberikan.
Setelah mengikuti belajar setiap anggota kelompok harus dapat
menyelesaikan tugas yang sama.
3) Face to Face Promotive Interaction: Setiap kelompok belajar
mendapat kesempatan untuk berdiskusi dan saling
mengungkapkan pendapatnya. Dari proses ini, siswa dilatih
untuk menghargai perbedaan dan saling melengkapi satu sama
lain.
4) Interpersonal Skill: Keberhasilan dalam pembelajaran
kooperatif juga dipengaruhi oleh kemampuan anggota
kelompok untuk saling mendengarkan dan berbagi pendapat.
5) Group Processing: Setiap kelompok memerlukan waktu khusus
untuk melakukan evaluasi terhadap proses kerja kelompok.
Kegiatan evaluasi akan membantu kelompok agar dapat
menghasilkan kerjasama yang lebih efektif untuk tugas
selanjutnya.
b. Ciri-ciri Cooperative Learning
Pembelajaran kooperatif memiliki ciri khas yang
membedakan model pembelajaran ini dengan model pembelajaran
yang lain. Menurut Ibrahim dalam Taniredja (2010:100)
pembelajaran kooperatif memiliki 4 ciri-ciri, yaitu: a) Siswa
bekerja dalam kelompok untuk memahami materi pembelajaran
yang diberikan, b) Kelompok terdiri dari anggota yang heterogen,
c) Jika memungkinkan, anggota kelompok sebaiknya juga beragam
dari segi suku, ras, budaya, dan jenis kelamin, d) Penghargaan
lebih mengarah pada kelompok untuk menghindari kecemburuan
Pembelajaran kooperatif menurut berbeda dengan model
pembelajaran yang lain. Perbedaan atau ciri khas tersebut menurut
Rusman (2011:206) nampak dari proses pembelajaran yang lebih
difokuskan pada proses kerjasama dalam kelompok. Proses
pembelajaran tidak hanya bertujuan untuk meningkatkaan
kemampuan akademik di bidang penguasaan materi tetapi terdapat
unsur kerjasama untuk menguasai materi tersebut
c. Tujuan Cooperative Learning
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk
mencapai tujuaan pembelajaran. Johnson & Johson dalam Trianto
(2010:57) mengungkapkan bahwa tujuan utama pembelajaran
kooperatif adalah untuk memaksimalkan belajar siswa dalam
rangka meningkatkan prestasi akademik dan pemahaman baik
secara individu maupun kelompok. Sementara itu menurut Ibrahim
(2009:7), tujuan pembelajaran kooperatif terdiri dari tigs tujuan
yaitu sebagai berikut:
1) Meningkatkan performa siswa dalam tugas-tugas akademik.
Model ini dapat membantu siswa lebih mudah memahami
konsep yang sulit
2) Penerimaan yang luas terhadap orang yang berbeda ras, kelas
sosial, budaya, kemampuan, dan ketidakmampuan.
Pembelajaran kooperatif mengajarkan siswa untuk saling
menghargai satu sama lain
3) Mengajarkan keterampilan kolaborasi dan kerjasama pada
siswa. Keterampilan tersebut penting karena masih banyak
anak muda dan orang dewasa kurang dalam keterampilan sosial
d. Teknik-teknik Cooperative Learning
Menurut Slavin (2008) Model Cooperative Learning terdiri
dari beberapa teknik dengan ciri khas masing-masing dan langkah
yang berbeda. Teknik dalam Cooperative Learning di antaranya
1) STAD (Student Team Achievement Division): Teknik ini
melibatkan 4-5 anggota kelompok secara heterogen dan antar
anggota saling bekerjasama membantu untuk menguasai materi
ajar melalui diskusi atau tanya jawab antar sesama anggota
kelompok dengan menggunakan lembar kerja akademik yang
akan dievaluasi setiap satu atau dua minggu sekali untuk
mengetahui penguasaan materi yang telah dipelajari dan
mendapatkan penghargaan jika siswa meraih prestasi yang
tinggi baik secara individu maupun kelompok
2) NHT (Numbered Head Together): Teknik ini merupakan
rangkaian penyampaian materi di mana kelompok menjadi
wadah untuk menyatuhkan persepsi siswa terhadap pertanyaan
yang diajukan oleh guru. Jawaban tersebut
dipertanggungjawabkan oleh siswa dengan nomor permintaan
guru dari masing-masing kelompok. Fase NHT meliputi fase
bertanya, mengajukan pertanyaan, berpikir bersama, dan
menjawab pertanyaan
3) TGT (Teams Games Tournament): Teknik ini merupakan
rangkaian kegiatan pembelajaran dengan menempatkan siswa
secara berkelompok dengan anggota 5-6 orang. Siswa
mendapatkan LKS yang dipelajari secara berkelompok. Untuk
memastikan semua anggota kelompok sudah memahami
materi, guru mengadakan permainan akademik di mana setiap
kelompok berkompetisi untuk mendapatkan skor tertinggi.
Tahap TGT meliputi teams, games, tournament, dan team
recognition.
4) TAI (Team Assisted Individualization): Teknik ini merupakan
pembelajaran yang memadukan pembelajaran kooperatif
dengan individu. Ciri khas dari TAI adalah siswa belajar secara
individu dalam memahami materi pembelajaran. Hasil belajar
bersama. TAI terdiri dari 8 komponen yaitu Placement Test,
Teams, Teaching Group, Student Centre, Team Study, Whole
Class Unit, Fact Test, dan Team Score and Recognition.
5) Jigsaw: Teknik ini mengambil pola cara kerja sebuah gergaji
yaitu siswa melakukan kegiatan belajar dengan bekerjasama
bersama siswa ain untuk mencapai tujuan bersama. Beberapa
anggota kelompok bertanggug jawab terhadap penguasaan
materi belajar dan dapat mengajarkan materi tersebut kepada
anggota lain. Pada teknik Jigsaw, terdapat kelompok asal dan
kelompok ahli. Kelompok ahli adalah kelompok asal yang
berbeda dan ditugaskan untuk mempelajari serta mendalami
topik tertentu untuk dijelaskan pada anggota kelompok asal
6) CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) :
Teknik ini merupakan pengajaran kooperatif terpadu membaca
dan menulis untuk kelas tinggi sekolah dasar. Pembelajaran ini
mengintegrasikan suatu bacaan secara menyeuruh dan
mengkomposisikan menjadi bagian-bagian penting. Komponen
dalam CIRC meliputi teams, placement test, student creative,
team study, team score and recognition, fact test, dan whole
class unit.
3. Cooperative LearningTeknik Team Assisted Individualization (TAI)
Team Assited Individualization (TAI) merupakan salah satu
teknik dalam model pembelajaran kooperatif. Menurut Slavin
(2008:187) Team Assisted Individualization adalah teknik yang
mengadaptasi pengajaran terhadap perbedaan individu terkait
kemampuan siswa maupun pencapaian prestasi siswa. Teknik TAI
merupakan salah satu upaya merancang sebuah pengajaran individual
yang dapat menyelesaikan masalah-masalah yang membuat metode
pengajaran individu menjadi tidak efektif. Dengan membuat siswa
bekerja dalam kelompok-kelompok pembelajaran kooperatif dan
membebaskan diri dari pemberianpengajaran langsung pada
sekelompok kecil siswa. Siswa yang berprestasi tinggi membantu
teman-temannya yang kesulitan sehingga memberi bantuan khusus pada
sesama teman.
Pada pembelajaran kooperatif dengan teknik TAI siswa
dikelompokkan secara heterogen. Awalnya, metode ini dirancang untuk
mengajarkan matematika untuk siswa kelas 3-6 SD. Dalam
perkembangannya, teknik ini mulai dikembangkan untuk mata pelajaran
lain (Huda, 2012:123)
Suyatno (2009:57) berpendapat bahwa teknik TAI
mengkombinasikan antara manfaat pembelajaran kooperatif dan
pembelajaran inividu. Teknik ini juga dapat berdampak untuk
membantu memecahkan masalah kesulitan belajar pada individu.
Ciri khas pada pembelajaran yang menggunakan teknik TAI
adalah siswa mempelajari materi yang telah disiapkan oleh guru secara
individu. Hasil belajar dari masing-masing individu akan dibawa ke
dalam kelompoknya untuk dibahas oleh semua anggota kelompok.
Dalam hal ini, semua anggota kelompok bertanggung jawab atas
pemahaman tiap-tiap individu. Sebelum dibentuk kelompok kooperatif,
siswa akan diberi bimbingan atau pengarahan bagaimana aturan dalam
pembelajaran dengan teknik TAI. Siswa diajarkan menjadi pendengar
yang baik dan dapat membantu temannya yang kesulitan.
Setiap anggota kelompok memiliki tugas yang sama. Siswa yang
pandai membantu teman yang lemah. Keberhasilan kelompok lebih
diperhatikan daripada penghargaan terhadap individu. Dengan
demikian, siswa yang pandai dapat lebih mengembangkan
kemampuannya sedangkan temannya yang lemah akan dibantu untuk
memahami permasalahan yang sedang diselesaikan oleh kelompok
a. Komponen Pembelajaran Kooperatif Teknik TAI
Dalam Slavin (2008:195-200) model pembelajaran kooperatif
teknik TAI terdiri dari delapan komponen utama, yaitu:
1) Teams yaitu pembentukan kelompok heterogen. Kelompok
terdiri dari 4-5 siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda
2) Placement Test yaitu pemberian tes awal atau pre-test kepada
siswa untuk mengetahui kemampuan awal siswa. Hasil tes ini
menjadi pedoman untuk mengelompokkan siswa secara
heterogen.
3) Curriculum Materials yaitu lembar kerja yang berisi
materi-materi pembelajaran yang akan dipelajari.
4) Team Study yaitu para siswa diberi materi pembelajaran secara
individu. Siswa mengerjakan soal secara individu kemudian
membahasnya dengan teman-teman satu kelompoknya.
5) Team Score and Team Recognition yaitu pemberian skor
terhadap hasil kerja kelompok. Guru memberikan penghargaan
kepada kelompok yang berhasil menyelesaikan tugas dengan
baik dan memberikan penguatan kepada kelompok yang kurang
berhasil.
6) Teaching Group yaitu guru memberikan penjelasan materi
pokok kepada seluruh siswa. Guru menjelaskan konsep-konsep
utama dari materi sebelum siswa mengerjakan tugas secara
individu
7) Fact Testyaitu pelaksaan tes berdasarkan fakta yang didapatkan
oleh siswa
8) Whole Class Units yaitu guru menyampaikan materi kembali
dan diakhiri dengan strategi pemecahan masalah.
b. Sintaks Cooperative LearningTeknik TAI
Langkah-langkah Cooperative Learning teknik TAI menurut
1) Guru menyiapkan materi ajar yang akan diberikan kepada
siswa.
2) Guru memberikan pre-test kepada siswa.
3) Guru melihat nilai rata-rata siswa untuk menentukan kelompok
heterogen.
4) Guru menjelaskan materi secara klasikal kepada semua siswa.
5) Guru membentuk kelompok kecil dengan anggota 5 orang.
Anggota kelompok tersebut dipilih secara heterogen dan terdiri
dari siswa laki-laki dan perempuan.
6) Sebelum masuk ke dalam kelompok, siswa mempelajari sendiri
materi yang telah diberikan dan mengerjakan tugas secara
individu.
7) Setelah menyelesaikan tugas individu, siswa masuk dalam
kelompok dan saling mengoreksi jawaban. Teman yang mampu
wajib membantu teman anggota kelompok yang kesulitan.
Guru menjadi fasilitator untuk siswa yang memerlukan
bantuan.
8) Ketua kelompok mempresentasikan hasil pekerjaannya dan
bergantian dengan kelompok yang lain.
9) Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman dan
memberikan penegasan materi pelajaran yang telah dipelajari.
10) Guru memberikan post test secara individu.
11) Guru memberikan penghargaan kepada kelompok berdasarkan
perolehan nilai, peningkatan hasil belajar individual dari skor
sebelumnya ke skor berikutnya.
c. Kelebihan Dan Kekurangan Model Cooperative Learning Teknik
Team Assisted Individualization (TAI)
1) Kelebihan Teknik TAI
Menurut Slavin (2008: 190) kelebihan dari teknik Team
Assisted Individualization diantaranya adalah meminimalisir
meningkatkan hubungan sosial antar siswa, melibatkan siswa
secara aktif dan memudahkan siswa memahami materi yang
diberikan. Dalam pembelajaran dengan teknik TAI, guru dapat
mengakomodasi seluruh siswa karena dibantu oleh siswa lain
yang mampu membantu temannya. Selain itu, adanya interaksi
antar siswa juga membuat hubungan sosial mereka semakin
berkembang.
2) Kekurangan Teknik TAI
Walaupun memiliki banyak kelebihan teknik TAI
memiliki beberapa kelemahan diantaranya adalahperlu diberi
bimbingan khusus terlebih dahulu dari guru. Hal ini disebabkan
karena TAI berbeda dengan pembelajaran klasikal pada
umumnya. Selain itu siswa SD cenderung masih memiliki sifat
yang egois sehingga perlu diberi pengertian agar mereka mau
saling membantu dan tidak bersaing. Kekurangan yang
terakhir, TAI memerlukan waktu yang lama untuk menyiapkan
dan mengembangkan perangkat pembelajaran
Cooperative Learning teknik TAI mampu
mengakomodasi perbedaan individu dan memudahkan siswa
untuk memahami materi yang diberikan. Matematika
merupakan salah satu mata pelajaran yang dapat diberikan
dengan model pembelajaran ini
4. Matematika
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan
di SD. Pelajaran ini melatih siswa untuk belajar menalar dan
menyelesaikan berbagai permasalahan yang berkaitan dengan angka.
Menurut Muhsetyo (2008:126) Matematika adalah pemberian
pengalaman belajar pada peserta didik melalui aktivitas-aktivitas yang
terencana sehingga peserta didik bisa memperoleh kompetensi tentang
Menurut James dan James dalam Ruseffendi (2006:27)
Matematika adalah ilmu logika tentang susunan, bentuk, dan
konsep-konsep yang saling berkaitan satu dengan yang lain dengan jumlah
banyaknya terdiri dari tiga bidang yaitu aljabar, analisis, dan geometri.
Sementara itu Soejadi (2000:1) berpendapat bahwa Matematika adalah
suatu ilmu yang memiliki objek tujuan abstrak, bertumpu pada
kesepakatan dan berpola pikir deduktif.
Sementara itu Ronis (2009:39) berpendapat bahwa Matematika
merupakan ilmu yang mengacu pada hubungan keruangan dan
geometri, pengukuran, angka, dan penyelesaian masalah. Dari beberapa
pengertian matematika di atas, dapat disimpulkan bahwa matematika
adalah ilmu tentang bilangan yang digunakan untuk menyelesaikan
masalah yang berkaitan dengan bilangan.
5. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Matematika Kelas V
Standar Kompetensi (SK) mata pelajaran Matematika kelas V
semester 2 adalah Menggunakan Pecahan dalam Pemecahan Masalah;
dan Memahami Sifat-Sifat Bangun dan Hubungan Antar Bangun.
Standar kompetensi Memahami Sifat-Sifat Bangun dan Hubungan
Antar Bangun dijabarkan menjadi 5 Kompetensi Dasar (KD) yaitu 6.1
Mengidentifikasi sifat Bangun Datar; 6.2 Mengidentifikasi
Sifat-sifat Bangun Ruang; 6.3 Menentukan Jaring-jaring Berbagai Bangun
Ruang Sederhana; 6.4 Menyelidiki Sifat-sifat Kesebangunan dan
Simetri; dan 6.5 Menyelesaikan Masalah yang Berkaitan Dengan
Bangun Datar dan Bangun Ruang Sederhana.
Dari hasil pengamatan, wawancara kepada guru kelas, dan studi
dokumensasi nilai rata-rata ulangan harian siswa, peneliti akan
meningkatkan prestasi belajar siswa kelas V SD Kanisius Kalasan pada
KD 6.5 Menyelesaikan Masalah yang Berkaitan dengan Bangun Datar
dan Bangun Ruang Sederhana dengan menggunakan model