BAB I. PENDAHULUAN
C. Gaya Kepemimpinan
4. Model dan Teori Motivasi
Menurut Ishak dan Hendri (2003 :25-39) ada berbagai macam model dan teori motivasi antara lain:
a. Maslow’s Model
Model ini sering disebut dengan model hierarki kebutuhan karena menyangkut kebutuhan manusia. Teori ini digunakan untuk menunjukan kebutuhan seseorang yang harus terpenuhi agar dia termotivasi untuk bekerja. Menurut Maslow, terdapat hierarki kebutuhan manusia antara lain:
1). kebutuhan fisik 2). Kebutuhan Keamanan
3). Kebutuhan Sosial 4). Kebutuhan Harga diri 5). Kebutuhan Aktualisasi Diri
Maslow’s need hierarchy
b. Hezberg’s Model
Model ini sering disebut dengan istilah two-factor view. Menurut dia kepuasan manusia terdiri atas dua hal yaitu puas dan tidak puas.
Faktor – Faktor yang menimbulkan ketidak puasan dikalangan karyawan yaitu :
1). Kebijakan dan administrasi perusahaan 2). Pengawasan
3). Kondisi kerja 4). Gaji
5). Hubungan dengan rekan sekerja 6). Kehidupan pribadi
7). Hubungan dengan bawahan 8). Status dan Keamanan
Kebutuhan aktualisasi diri Kebutuhan harga diri Kebutuhan sosial
Kebutuhan keamanan
Faktor – Faktor yang memberi kepuasaan kepada karyawan yaitu : 1). Tercapainya tujuan
2). Pengakuan 3). Pakerjaan itu sendiri 4). Pertanggung jawaban 5). Peningkatan
6). Pengembangan
Ketidakpuasan Kerja Tinggi Ketidakpuasaan KerjaRendah
Kepuasan Kerja Tinggi Kepuasan Kerja Rendah
Model 2 faktor Hezberg
Pencapaian, pengakuan, pekerjaan, tanggung jawab, kemajuan, perkembangan
Gaji dan keamanan, pengawasan, lingkungan kerja, hubungan pribadi, kebijaksanaan perusahaan.
c. Mc Cleland’s Model
Model Mc Cleland ’s sangat menekankan perhatian terhadap prestasi ( achievemen). Ada tiga kebutuhan yang penting yaitu :
1. Achievement adalah adanya keinginan unruk mencapai tujuan lebih baik dari pada sebelumnya. Hal ini dapat dicapai dengan cara:
a). Merumuskan tujuan
Tujuan yang tidak pernah dirumuskan, akan menjerumuskan organisasi. Organisasi akan bergerak kemana arah angin. Artinya, organisasi akan berubah setiap kali orang-orang yang mengurusnya berubah.
b). Mendapatkan umpan balik
Umpan balik diperlukan untuk pencapaian prestasi yang lebih baik lagi dimasa yang akan datang.
c). Memberikan tanggung jawab pribadi d). Bekerja keras
2. Affiliation adalah kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain. Hal ini dapat dicapai dengan cara:
a). Bekerjasama dengan orang lain b). Membuat kawan ditempat kerja c). Sosialisasi
3. Power artinya ada kebutuhan kekuasaan yang mendorong seseorang bekerja sehingga termotivasi pekerjaannya. Cara orang bertindak dengan kekuasaan sangat tergantung pada:
a). Pengalaman masa kanak-kanak b). Kepribadian
c). Pengalaman kerja
d. Expectancy Theory (Teori Harapan)
Dalam teori ini, motivasi adalah fungsi dari berapa banyak yang diinginkan dan berapa besar kemungkinan pencapaiannya.
e. Equity Theory (Teori Keadilan)
Teori ini menjelaskan bahwa motivasi merupakan fungsi dari keadilan yang didasarkan hasil (output) dan pendapatan (wages). Keadilan yang sederhana adalah menerima pendapatan sesuai dengan usahanya.
Motivasi Usaha Prestasi Kemampuan Lingkungan Hasil 1 Hasil 2 Hasil 3 Hasil 4 Hasil 5
f. Reinforcement Theory (Teori Penguatan)
Menurut teori ini, motivasi seseorang bekerja tergantung pada penghargaan yang diterimanya dan akibat dari yang akan dialaminya nanti. Teori ini menyebutkan bahwa perilaku seseorang dimasa mendatang dibentuk oleh akibat dari perilakunya yang sekarang.
Jenis reinforcement ada 4, yaitu:
1. Positive Reinforcement (penguatan positif)
Yaitu penguatan yang dilakukan kearah kinerja yang positif. 2. Negative Reinforcement (penguatan negatif)
Yaitu penguatan yang dilakukan karena mengurangi atau menghentikan keadaan yang tidak disukai.
3. Extinction (peredaan)
Yaitu tidak megukuhkan suatu perilaku, sehingga perilaku tersebut mereda atau punah sama sekali. Hal ini dilakukan untuk mengurangi peerilaku yang tidak diharapkan.
4. Punishment (hukuman)
Yaitu konsekuensi yang tidak menyenangkan dari tanggapan perilaku tertentu.
D. Produktivitas Kerja
1. Pengertian Produktivitas
Didalam buku Ravianto (1986:16-17), Webster mendefinisikan bahwa: a. Produktivitas adalah keluaran fisik per unit dari usaha produktif.
b. Produktivitas adalah tingkat keefektifan dari manajemen industri didalam penggunaan fasilitas-fasilitas untuk produksi.
c. Produktivitas adalah keefektifan dari penggunaan tenaga kerja dan peralatan.
Menurut Payaman Simanjuntak ( 1985 : 30 ) Produktivitas adalah perbandingan antara hasil yang dicapai dengan keseluruhan sumberdaya atau faktor produksi yang digunakan persatuan waktu.
Menurut K.L Brookfield ( 1992 : 123 ) Produktivitas adalah hubungan antara barang dan jasa yang dihasilkan dan sumber – sumber masukan ( input ) yang digunakan biasanya dinyatakan sebagai rasio besarnya keluaran ( output ) terhadap masukan.
Dari berbagai definisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa produktivitas kerja adalah perbandingan antara hasil yang dicapai dengan peran serta tenaga kerja per satuan waktu.
2. Pentingnya Produktivitas
Produktivitas kerja karyawan merupakan faktor utama untuk kelancaran proses produksi selain keunggulan teknologi, strategi pemasaran yang tepat dan dana yang mencukupi. Dalam suatu perusahaan, produktivitas kerja karyawan sangat penting agar proses produksi menjadi
efektif dan efisien. Selain tiu dengan adanya produktivitas kerja karyawan maka tujuan perusahaan dapat diharapkan tercapai dengan hasil yang optimal. Di dalam buku Sondang Siagian (2002:202) dikatakan untuk meningkatkan produktivitas kerja karyawan dilakukan berbagai intervensi yaitu : rancang bangun pekerjaan, tim kerja yang ”mandiri”, gugus kendali mutu dan peningkatan mutu kehidupan kekaryaan.
3. Faktor – Faktor Mempengaruhi Produktivitas
Banyak faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja karyawan baik dari diri sendiri maupun dari luar.
Menurut Ravianto (1986:18-19) produktivitas kerja karyawan dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain:
a. Pendidikan b. Keterampilan c. Disiplin
d. Sikap dan Etika kerja e. Motivasi f. Tingkat Penghasilan g. Jaminan Sosial h. Lingkungan Kerja i. Sarana Produksi j. Kesempatan Berprestasi
Sedangkan menurut Sutrisno Hadi (1986:74) faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja karyawan yaitu:
a. Lamanya bekerja
b. Penggunaan waktu istirahat c. Lingkungan fisik
d. Kerja senada e. Pendidikan
E. Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban yang bersifat sementara terhadap masalah penelitian yang kebenarannya masih lemah, sehingga harus diuji secara empiris (Iqbal, 2002:50). Menurut Sugiyono (2008:93), hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian.
Dari berbagai definisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis adalah jawaban yang bersifat sementara terhadap rumusan masalah yang dapat diuji kebenarannya secara empiris.
Untuk mempermudah penulis dalam melaksanakan penelitian, penulis mencoba membuat rumusan hipotesis sebagai berikut:
1. Gaya kepemimpinan berpengaruh terhadap produktivitas kerja karyawan. 2. Motivasi kerja berpengaruh terhadap produktivitas kerja karyawan.
3. Gaya kepemimpinan dan motivasi kerja secara simultan berpengaruh terhadap produktivitas kerja karyawan.
F. Kerangka Konseptual
Simultan
Sumber: Sondang Siagian (2002:203) dan Marihot Manullang (2004:169) Gaya Kepemimpinan
Motivasi Kerja
Produktivitas Kerja
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan adalah studi kasus. Studi kasus yaitu penelitian mengenai status subyek penelitian yang berkenan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas (Iqbal, 2002:15).
B. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat penelitian
Penelitian dilakukan di Pabrik Gula Madukismo, PT Madubaru Yogyakarta
2. Waktu penelitian
Penelitian dilakukan pada bulan Mei sampai dengan bulan Juni 2009
C. Subyek dan Obyek Penelitian 1. Subyek Penelitian
Dalam penelitian ini yang menjadi subyek penelitian adalah karyawan bagian produksi Pabrik Gula Madukismo, PT Madubaru
2. Obyek Penelitian
Dalam penelitian ini yang menjadi obyek penelitian adalah pengaruh gaya kepemimpinan dan motivasi kerja terhadap produktivitas kerja karyawan.
D. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2002:55). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan produksi Pabrik Gula Madukismo, PT Madubaru sejumlah 100 orang.
2. Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi yang dapat dipakai untuk menyimpulkan populasi, dan sebagian dari populasi tersebut benar-benar mewakili populasi. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah karyawan bagian produksi Pabrik Gula Madukismo, PT Madubaru sejumlah 50 orang.
E. Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Menurut Pabundu (2003:46) yang dimaksud
purposive sampling adalah sampel yang dipilih secara cermat dengan mengambil orang atau obyek penelitian yang selektif dan mempunyai ciri-ciri yang spesifik. Ciri spesifik disini adalah karyawan yang memiliki keahlian dalam mengolah bahan mentah menjadi bahan jadi yang siap untuk dipasarkan.
F. Variabel Penelitian
1. Variabel bebas (Independent)
Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah gaya kepemimpinan dan motivasi kerja.
2. Variabel terikat (Dependent)
Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat adalah produktivitas kerja karyawan.
G. Sumber Data 1. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari responden atau obyek yang diteliti atau ada hubungannya dengan obyek yang diteliti (Pabundu, 2003:57).
2. Data sekunder
Data sekunder adalah data yang terlebih dahulu dikumpulkan dan dilaporkan oleh perusahaan diluar dari peneliti sendiri walaupun yang dikumpulkan itu sesungguhnya adalah data yang asli.
H. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden.
I. Pengujian Instrumen Penelitian 1. Uji Validitas
Validitas atau kesahihan adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kesahihan atau kevalidan suatu instrumen. Suatu instrumen dikatakan valid atau sahih jika mampu mengukur apa yang hendak diukurnya. Untuk menguji tingkat validitas kuesioner masing-masing item variabel gaya kepemimpinan, dan motivasi kerja dikorelasikan dengan total skor variabel dapat diukur dengan menggunakan rumus
korelasi product moment. Rumus korelasi product moment sebagai berikut (Soetrisno Hadi, 2001:23):
rxy =
( )
{ ∑
−∑∑ }∑ ∑{ ∑
−( )∑ }
− 2 2 2 2 X N Y Y X N Y X XY N Keterangan:rxy : Koefisien korelasi antara skor masing-masing item variabel X : Nilai skor masing-masing item ( butir pertanyaan)
Y : Skor total dari butir pertanyaan N : Jumlah data / sampel
Dalam pengujian koefisien ini digunakan taraf signifikansi 5%. Jika rhitung > r tabel , maka suatu butir instrumen mampu mengukur apa yang diinginkan (valid). Sebaliknya jika r hitung < rtabel maka suatu butir instrumen adalah tidak valid.
2. Uji Reliabilitas
Reliabilitas menunjukan pada suatu pengertian bahwa suatu instrumen dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. Untuk menghitung reliabilitas kuesioner dalam penelitian ini menggunakan Koefisien Alpha Cronbach
dengan taraf signifikan 5 %. Rumus Alpha :
rn = ⎥ ⎦ ⎤ ⎢ ⎣ ⎡ − ⎥⎦ ⎤ ⎢⎣ ⎡ − Y X Y V V V M M 1 Ketrangan:
rn : Reliabilitas instrumen / koefisien Alpha Cronbach
M : Banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal Vx : Variansi butir
Vy : Variansi total
Reliabilitas kuesioner pada penelitian ini menggunakan teknik
Alpha Cronbach. Jika koefisien alpha > rtabel dengan taraf signifikan 5% maka data kesioner tersebut reliabel. Sebaliknya jika koefisien alpha < rtabel dengan taraf signifikan 5% maka data kuesioner tersebut tidak reliabel.
Untuk menjawab pertanyaan tentang gaya kepemimpinan no 1 – 18 jika jawaban yang diberikan adalah SS berarti menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan cenderung otoriter. Tetapi sebaliknya jika jawaban yang diberikan STS berarti menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan
cenderung laisez faire. Maka pada variabel gaya kepemimpinan mempunyai bobot nilai menurut skala Likert sebagai berikut:
SS = 5 x 18 = 90 S = 4 x 18 = 72 N = 3 x 18 = 54 TS = 2 x 18 = 36 STS = 1 x 18 = 18
Dengan demikian nilai terendah = 18 dan nilai tertinggi 90, maka dapat dicari interval dari ketiga gaya kepemimpinan dengan rumus
Struges yaitu : Ci = k range = 3 18 90− = 24
Maka dengan interval 24 garis skala gaya kepemimpinan sebagai berikut:
Otoriter Demokrasi Laissez Faire
18 42 66 90
Sedangkan untuk pertanyaan tentang motivasi kerja yang terdiri dari 22 pertanyaan dengan pilihan pertanyaan 1 – 5, maka mempunyai bobot nilai menurut Skala Likert sebagai berikut:
S = 4 x 22 = 88 N = 3 x 22 = 66 TS = 2 x 22 = 44 STS = 1 x 22 = 22
Nilai tertinggi = 110 dan nilai terendah = 22, maka dapat dicari interval kelas untuk motivasi kerja dengan menggunakan rumus Struges
yaitu: Ci = k range = 3 22 110−
= 29,33 (dibulatkan keatas menjadi 30)
Maka dengan interval 30 garis skala motivasi kerja sebagai berikut:
Rendah Sedang Tinggi
22 52 82 112
J. Teknik Analisis Data
Untuk menguji hipotesis apakah gaya kepemimpinan dan motivasi kerja berpengaruh terhadap produktivitas kerja karyawan dapat digunakan analisis regresi linier berganda. Menurut Pabundu (2006:94-95) persamaan regresi ganda:
Rumus persamaan:
ΣY = a n + bΣX1 + bΣX2
ΣX1Y = a ΣX1 + b1ΣX12 + b2ΣX1X2
ΣX2Y = a ΣX2 + b1ΣX1X2 + b2ΣX22
Keterangan:
Y = Variabel terikat (produktivitas kerja karyawan) X1 = Variabel bebas (gaya kepemimpinan)
X2 = Variabel bebas (motivasi kerja)
a = konstanta
b = koefisiensi regresi
K. Uji Asumsi Klasik 1. Uji Multikolinieritas
Uji asumsi klasik jenis ini diterapkan untuk analisis regresi berganda yang terdiri atas dua atau lebih variabel bebas, dimana akan diukur tingkat pengaruh variabel bebas tersebut melalui besaran koefisien korelasi ( r ). Dikatakan terjadi multikolinieritas, jika koefisien korelasi antar variabel bebas (X1 dan X2) lebih besar dari 0,60 (r > 0.60). Dikatakan tidak terjadi multikolinieritas jika koefisien korelasi antar variabel bebas (X1 dan X2) lebih kecil atau sama dengan 0,60 ( r ≤
2. Uji Heteroskedastisitas
Dalam persamaan regeresi berganda perlu juga diuji mengenai sama atau tidak varians dari residual observasi yang satu dengan observasi yang lain. Jika residualnya mempunyai varians yang sama disebut terjadi Homoskedastisitas dan jika variansnya tidak sama disebut terjadi Heteroskedastisitas.
3. Uji Normalitas
Uji asumsi klasik normalitas digunakan untuk menguji data variabel bebas (X) dan data variabel terikat (Y) pada persamaan regresi yang dihasilkan, berdistribusi normal atau tidak normal.
4. Uji Autokorelasi
Persamaan regresi yang baik adalah yang tidak memiliki masalah autokorelasi, jika terjadi autokorelasi maka persamaan tersebut menjadi tidak baik dan tidak layak dipakai prediksi. Masalah autokorelasi baru timbul jika ada korelasi secara linier antara kesalahan pengganggu t (berada) dengan kesalahan pengganggu t-1( sebelumnya).
Salah satu ukuran dalam menentukan ada tidaknya masalah autokorelasi dengan uji Durbin-Watson (DW) dengan ketentuan sebagai berikut :
a. Terjadi autokorelasi jika nilai DW < -2. b. Tidak terjadi autokorelasi jika -2 ≤ DW ≤ +2 c. Terjadi autokorelasi negatif jika nilai DW > +2
L. Pengujian Hipotesis 1. Uji Global (Uji F)
Uji F dimaksudkan untuk melihat kemampuan menyeluruh dari variabel bebas yaitu gaya kepemimpinan (X1), dan motivasi kerja (X2) untuk dapat atau mampu menjelaskan tingkah laku atau keragaman variabel tidak bebas dalam hal ini produktivitas kerja (Y). Uji global juga dimaksudkan untuk mengetahui apakah semua variabel bebas memiliki koefisien regresi sama dengan nol.
Untuk melakukan pengujian secara global, maka ada beberapa langkah yang diperlukan yaitu :
a. Menyusun hipotesis
Hipotesis yang ingin diuji adalah kemampuan variabel bebas menjelaskan tingkah laku variabel tidak bebas, apabila variabel bebas tidak dapat mempengaruhi, variabel bebas dapat dianggap nilai koefisien regresiya sama dengan nol, sehingga berapapun nilai variabel bebas tidak akan berpengaruh terhadap variabel bebas.
Dalam menyusun hipotesis selalu ada hipotesis nol dan hipotesis alternatif. Untuk hipotesis nol selalu mengandung unsur kesamaan, maka dapat dirumuskan hipotesis nol adalah koefisien regresi sama dengan nol. Untuk hipotesis alternatifnya adalah koefisien regresi tidak sama dengan nol. Hipotesisnya dirumuskan sebagai berikut :
Ha : b1 ; b2 ; b3 minimal salah satu lebih besar (>) dari 0 b. Menentukan daerah keputusan hipotesis.
Untuk uji ini digunakan tabel F. Untuk mencari nilai F-tabel perlu diketahui derajat bebas pembilang pada kolom, derajat bebas penyebut pada baris dan taraf nyata. Umumnya ada dua taraf nyata yang dipakai yaitu 1 % dan 5%. Untuk ilmu pasti lebih baik digunakan 1% sedang ilmu sosial dapat digunakan 5%. Untuk derajat pembilang digunakan nilai k-1. yaitu jumlah variabel dikurang 1. untuk derajat penyebut digunakan n-k, yaitu jumlah sampel dikurangi dengan jumlah variabel.
c. Menentukan nilai F-hitung
Nilai F-hitung ditentukan dengan rumus sebagai berikut : F = R2 / (k-1)
(1-R2) / (n-3) Dimana :
F = Nilai F-hitung
R2 = Nilai koefisien korelasi k = jumlah variabel
n = jumlah sampel
d. Menentukan daerah keputusan.
Menentukan wilayah H0 dan Ha serta membandingkan dengan nilai F-hitung untuk mengetahui apakah menerima H0 atau menerima Ha.
e. Memutuskan Hipotesis
Untuk memutuskan hipotesis apakah menerima atau menolak H0, maka :
1) Nilai F-hitung ≥ F-tabel pada α 0,05 atau F-hitung pada p-value
≤ 0,05 maka H0 ditolak dan Ha diterima.
2) Nilai F-hitung < F-tabel pada α 0,05 atau F-hitung pada p-value
> 0,05 maka H0 diterima dan Ha ditolak. 2. Uji signifikan Parsial atau Individual (uji-t)
Uji signifikansi parsial atau individual adalah untuk menguji apakah suatu variabel bebas berpengaruh atau tidak berpengaruh terhadap variabel tidak bebas.
Untuk mengetahui apakah suatu variabel secara parsial berpengaruh nyata atau tidak, digunakan uji-t. Untuk melakukan uji-t ada bebarapa langkah yang diperlukan, yaitu :
a. Menentukan hipotesis
Variabel bebas berpengaruh tidak nyata apabila nilai koefisiennya sama dengan nol, sedangkan variabel bebas akan berpengaruh nyata apabila nilai koefisiennya tidak sama dengan nol. Hipotesis selengkapnya adalah sebagai berikut :
H0 = b1 ; b2 ; b3 ≤ 0 Ha = b1 ; b2 ; b3 > 0 b. Menentukan daerah kritis
Daerah kritis ditentukan oleh nilai t-tabel dengan derajat bebas yaitu n-k, dan taraf nyata α 5%.
c. Menentukan nilai t-hitung
Nilai t-hitung untuk koefisien b1, b2 dan b3 dapat dirumuskan sebagai berikut :
t-hitung = b – B
sb
d. Menentukan daerah keputusan
Daerah keputusan untuk menerima H0 atau menolak H0 dengan derajat bebas yaitu n-k, dengan taraf nyata 5%.
e. Memutuskan hipotesis.
t-hitung ≥ t-tabel pada α 0,05 atau t-hitung pada p-value ≤ 0,05 maka H0 ditolak dan diterima Ha.
t-hitung < t-tabel pada α 0,05 atau t-hitung pada p-value > 0,05 maka H0 diterima dan ditolak Ha.