• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori

2.1.1 Model Ekonomi Ta‟awun, Keadilan, dan

Konsep ekonomi baru untuk menekan angka ketimpangan di Indonesia, salah satunya adalah konsep ekonomi umat. Dari sekian banyak lembaga keuangan syariah, Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) merupakan lembaga keuangan syariah yang dibangun berbasis keumatan, sebab dibentuk dari, oleh, dan masyarakat. Potensi besar dimiliki oleh ekonomi dan keuangan syariah, mengingat prinsip-prinsipnya yang menekankan etika, keadilan, dan kesetaraan.

Ekonomi Umat dimana ada kesetaraan dan tidak hanya mementingkan kaum elite saja. Tetapi dengan menghubungkan antara kaum elite dengan yang membutuhkan dengan prinsip ta‟awun (kerjasama). Ta‟awun mensyaratkan adanya saling pengertian dan saling menjaga antar salah satu pihak dan pihak lain dalam rangka memperoleh mashlahah secara bersama-sama. Hal ini berarti, bahwa setiap pihak tidak bisa mengejar kepentingan individu untuk meraih kemanfaatan individu tanpa melihat saudara-saudara dan lingkungan di mana dia berada. Seorang Muslim tidak akan puas dengan kesuksesan pribadinya sementara saudara-saudaranya berada dalam keterpurukan.

Dalam tataran teknis, hal ini dilakukan dengan cara saling memberi perhatian dan bahkan pertolongan saat diperlukan. Lebih jauh lagi, dalam bahasa ekonomi yang lebih teknis hal ini ditunjukkan dengan terkaitnya (unseparability) fungsi mashlahah dari satu kelompok dengan kelompok lainnya.

Adapun sifat keberkaitan antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain dinyatakan dengan orang yang memperoleh maslahat pada masing-masing kelompok terkait satu dengan lainnya. Jika jumlah orang yang bisa memperoleh maslahat dari mengonsumsi barang X atau Y, dari kelompok satu meningkat maka hal ini akan meningkatkan kelompok yang lainnya. Hal ini disebabkan adanya kebersamaan sebagaimana yang dituntut oleh islam.

Dapat ditunjukkan juga hasrat mengonsumsi barang X dan barang Y diantara orang-orang yang ada dalam kelompok berbeda sama. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh dari nilai-nilai islam yang dianut oleh para agen ekonomi islam. Sehingga hasrat dapat berubah menjadi kebutuhan riil. (P3EI, 2008)

2.1.2 Model Ekonomi Tidak Dengan Ta’awun, Keadilan, dan Persamaan Konsep dalam ekonomi ini tidak membawa nilai islam seperti pada model ekonomi sebelumnya. Dalam model ini dikatakan bahwa dua kelompok dalam mengonsumsi suatu barang tidak ada yang mempersyaratkan bahwa kedua kelompok harus mempersamakan hasrat konsumsi mereka atas kedua barang tersebut.

Kondisi disaat hasrat konsumsi barang dikelompok lain naik maka dikelompok satu lagi akan terdorong meningkat tetapi bukan hasil dari rekomendasi sistem. Tetapi merupakan respon kelompok lain disaat melihat kelompok lain yang sedang meningkat. Karena sifat kenaikan ini tidak dituntun oleh sistem moral dan bersifat tidak kooperatif. Sehingga menyebabkan adanya disharmonisasi dalam masyarakat. (P3EI, 2008)

9

2.2 Lembaga Keuangan Mikro

2.2.1 Pengertian Lembaga Keuangan Mikro (LKM)

Lembaga Keuangan Mikro (LKM) adalah lembaga keuangan yang khusus didirikan untuk memberikan jasa pengembangan usaha dan pemberdayaan masyarakat, baik melalui pinjaman atau pembiayaan dalam usaha skala mikro kepada anggota dan masyarakat, pengelolaan simpanan, maupun pemberian jasa konsultasi pengembangan usaha yang tidak semata-mata mencari keuntungan.

Berikut bagan kegiatan di Lembaga Keuangan Mikro:

Lembaga keuangan Mikro

sumber : OJK, 2015

Gambar 2.1

Bagan Kegiatan di Lembaga Keuangan Mikro

Jasa

Siu (2001) menjelaskan bahwa Lembaga Keuangan Mikro adalah lembaga yang menyediakan jasa keuangan kepada masyarakat miskin dan keluarga berpendapatan rendah (serta kegiatan usaha mikro mereka), memungkinkan mereka mengelola dengan lebih baik resikonya. Grameen Bank di Bangladesh yang didirikan oleh Muhammad Yunus merupakan contoh sukses LKM dalam meningkatkan ekonomi dan memberdayakan masyarakat miskin.

Terdapat beberapa opsi lembaga keuangan informal yang menghimpun dana masyarakat untuk menjadi lembaga keuangan formal dan memperoleh status hukum sesuai ketentuan perundangan. Berikut tabel yang menyajikan beberapa alternatif dan perbandingan dari opsi tersebut:

Tabel 2.1

Pembinaan OJK Kemenkop UKM OJK Kemendes

Pengawasan OJK Pengawas internal OJK Kemendes Nasabah Masyarakat

11

2.2.2 Bentuk Badan Hukum Lembaga Keuangan Mikro

Berikut ini adalah bentuk badan hukum Lembaga Keuangan Mikro di

Beberapa paparan diatas menjelaskan mengenai lembaga keuangan mikro secara umum atau secara konvensional. Lembaga keuangan mikro juga telah berkembang hingga ada Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS). Pada dasarnya, lembaga keuangan mikro syariah memiliki sistem yang hampir mirip, akan tetapi produk dan jasa serta perjanjian (akad) yang digunakan berbeda.

Kesesuaian dengan hukum syariah Islam untuk lembaga keuangan mikro meliputi tidak adanya riba, maisir, gharar, dharar, dan tadlis.

Sisa 40 persen saham

Pertimbangan sisi agama dari masyarakat juga menjadi kelemahan dari keuangan mikro konvensional. Institusi keuangan mikro konvensional menerapkan bunga bank sebagai dasar perhitungan keuntungan bagi institusinya.

Penerapan ini bertentangan dengan ajaran Islam yang melarang adanya perhitungan bunga dalam transaksi keuangan. Dengan jumlah masyarakat muslim lebih dari 90 persen jumlah penduduk serta mulai tumbuhnya kesadaran beragama pada masyarakat, maka masyarakat mulai memerlukan sistem ekonomi yang Islami. Tujuan utama dari keuangan mikro untuk mengurangi kemiskinan dan membuat masyarakat miskin mampu memberdayakan dirinya sendiri sebetulnya sudah sejalan dengan prinsip keadilan dalam ekonomi Islam. (Rahman, 2007) 2.3 Lembaga Keuangan Mikro Syariah

2.3.1 Pengertian Lembaga Keuangan Mikro Syariah

Lembaga keuangan mikro syariah adalah sebagai skim pelayanan keuangan terhadap orang-orang yang pada umumnya dianggap tidak bankable, terutama mereka yang tidak memiliki jaminan yang dapat melindungi lembaga keuangan mereka terhadap resiko kerugian. (Subagyo,2015)

2.3.2 Produk dan Jasa

Selama ini LKM konvensional maupun LKMS dikenal dengan kredit mikro (micro-credit). Namun, Lembaga Keuangan Mikro sebenarnya tidak hanya berupa micro-credit, namun juga menyediakan produk dan skema mikro lainnya, seperti micro-savings, micro-lease, dan micro-insurance. (Abdelkader, 2013)

13

1. Micro-saving

Orang miskin yang ingin menyimpan tabungan mereka dikategorikan sebagai investasi untuk LKMS. Mereka berinvestasi melalui deposito yang berdasarkan prinsip hukum Islam (Syariah). Keuntungan dan kerugian akan dibagi antara LKMS dan nasabah bila skema produknya mudarobah. Selain itu, deposito juga diinvestasikan dalam skema musyarakah atau takaful.

2. Micro-credit

Kredit mikro dalam LKMS merupakan alternatif dari kredit mikro yang ditawarkan oleh LKM konvensional. Berbeda dengan LKM konvensional yang mnerapkan sistem bunga dan memiliki unsur riba, LMKS menggunakan skema yang sesuai dengan aturan syariah seperti qard hasan, murabahah dengan bai- bithaman-ajil, ijarah, bai-salam dan lain-lain.

3. Micro-lease

Leasing atau sewa usaha memiliki beberapa pengertian, menurut Financial Accounting Standard Board yang menyatakan bahwa “sewa guna adalah suatu perjanjian penyediaan barang-barang modal yang digunakan untuk suatu jangka waktu tertentu”. Dalam Islam leasing merupakan suatu akad untuk menyewa sesuatu barang dalam kurun waktu tertentu, proses sewa menyewa barang untuk mendapatkan hanya manfaat barang yang disewanya, sedangkan barangnya itu sendiri merupakan milik bagi pemberi sewa.

4. Micro-takaful

Micro-takaful atau micro-insurance adalah sebuah asuransi untuk masyarakat miskin dalam bentuk perlindungan bagi nasabah dari resiko yang tidak dapat diprediksi, maka micro-takaful akan membentuk jaminan. Setiap anggotanya

berkontribusi untuk menjaminkan dananya untuk dapat membantu pencegahan resiko dan memperkuat keamanan nasabah.

2.3.3 Akad Lembaga Keuangan Mikro Syariah

Akad yang digunakan dalam produk atau jasa LKMS didasari oleh prinsip syariah yang umumnya juga ada dalam perbankan syariah. Berikut ini jenis-jenis akad yang umum digunakan dalam operasional LKMS.

1. Pembiayaan

Musyarakah adalah suatu perjanjian usaha antara LKMS dengan anggotanya untuk menyertakan modalnya pada suatu usaha tertentu, dimana masing-masing pihak mempunyai hak untuk ikut serta, mewakilkan ataupun menggugurkan haknya dalam manajemen usaha tersebut. Keuntungan atas produk ini akan dibagikan berdasarkan kesepakatan perjanjian kedua belah pihak. Jika terjadi kerugian maka masing-masing pihak akan menanggung kerugian sebatas besarnya modal masing-masing kedudukan dalam produk LKMS dan nasabah adalah mitra usaha (partner).

Mudharabah adalah suatu perjanjian antara LKMS dengan anggotanya, dimana LKMS menyediakan seluruh dana yang diperlukan dan pihak pengusaha melakukan pengelolaan usaha. Transaksi pembiayaan ini dilakukan berlandaskan kepercayaan (trust). LKMS bertindak sebagai shahibul mal tidak diperkenankan untuk ikut campur dalam proyek atau usaha tersebut. Keuntungan pembiayaan ini dibagi berdasarkan nisbah bagi hasil. Jika terjadi kerugian karena konsekuensi bisnis semata, maka LKMS akan menanggung kerugian keuangan (modal yang hilang).

15

2. Simpanan

Wadiah adalah simpanan yang bisa ditarik kapan saja. Dana nasabah dititipkan di lembaga keuangan mikro syariah dan boleh dikelola. Setiap saat nasabah berhak mengambilnya dan berhak mendapatkan bonus dari keuntungan pemanfaatan dana giro oleh lembaga keuangan mikro syariah yang bersangkutan. Besarnya bonus tidak ditetapkan di muka tapi benar-benar merupakan kebijaksanaan LKMS.

Sungguh pun demikian nominalnya diupayakan sedemikan rupa untuk senantiasa kompetitif (Fatwa DSN-MUI No. 01/DSN-MUI/IV/2000).

Mudharabah: dana yang disimpan nasabah akan dikelola oleh LKMS, untuk memperoleh keuntungan. Keuntungan akan diberikan kepada nasabah berdasarkan kesepakatan nasabah. Nasabah bertindak sebagai shahibul mal dan lembaga keuangan Islam bertindak sebagai mudharib (Fatwa DSN-MUI No.

01/DSN-MUI/IV/2000).

3. Jual Beli

Murabahah adalah transaksi penjualan barang dengan menyertakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh penjual dan pembeli.

Pembayaran atas akad jual beli dapat dilakukan secara tunai maupun kredit. Hal yang membedakan murabahah dengan jual beli lainnya adalah penjual harus memberitahukan kepada pembeli harga barang pokok yang dijualnya serta jumlahnya keuntungan yang diperoleh.

2.3.4 Kelebihan Lembaga Keuangan Mikro Syariah

Berdasarkan hasil penelitian yang menggunakan sampel dari tiga Lembaga Keuangan Mikro Syariah di Bangladesh, Ahmed (2002) dalam Abdulkader (2013)

menemukan bahwa LKM Syariah memiliki kinerja yang lebih baik daripada LKM konvensional.

Tabel 2.2

Perbandingan antara LKM Syariah dan Konvensional

Hal LKM Konvensional LKM Syariah

Sumber pendanaan Dana eksternal, tabungan nasabah

Pembiayaan Berbasis bunga Instrumen kuangan Islam Pentransferan dana Diberikan cash Goods transferred

Pemotongan pada

Kelompok target Wanita Keluarga

Insentif kerja

Karyawan Moneter Moneter dan religious

Perlakuan terhadap

Sumber : Ahmed (2002) dalam Abdelkader (2013)

17

2.3.5 Lembaga Keuangan Mikro Syariah di Indonesia

Lembaga Keuangan Mikro Syariah di Indonesia diklasifikasikan menjadi beberapa kategori berdasarkan karakteristiknya masing-masing, seperti jumlah modal dan kredit, sumber pendanaan, badan hukum, izin usaha, dan nasabahnya.

Berikut ini tiga kategori Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia.

2.3.5.1 BMT (Baitul Maal Wattamwil)

Secara etimologi diambil dari kosa kata al-Maal dan at-Tamwil. Al-Maal bermakna harta kekayaan, sedangkan at-Tamwil berarti pertumbuhan harta itu sendiri yang sama-sama berasal dari asal kata maal (Hamdan,2012). Lembaga ini didirikan dengan maksud untuk memfasilitasi masyarakat bawah yang tidak terjangkau oleh pelayanan bank Islam atau BPR Islam (Huda, 2010).

Istilah Baitul Mal sesungguhnya telah ada sejak zaman Rasulullah SAW, meski saat itu belum terbentuk lembaga yang mandiri dan terpisah. Baitul Maal baru berdiri sebagai lembaga ekonomi tersendiri pada masa Khalifah „Umar bin Khaththab atas usulan seorang ahli fiqih yang bernama Walid bin Hisyam. Sejak masa itu dan masa-masa selanjutnya (Dinasti „Abbasiyah dan Umawiyah), Baitul Maal telah menjadi lembaga yang penting bagi negara. (Hamdan, 2012)

Dalam operasionalnya, BMT secara sederhana mempunyai dua tugas utama, yaitu pertama Baitul Maal yang memiliki visi dan misi sosial (non komersial) atau lebih mengarah pada usaha-usaha pengumpulan dan penyaluran dana yang non profit, seperti zakat, infaq, dan sedekah. Sehingga, tidak boleh mengambil profit apapun dari operasinya. Sedangkan pembiayaan operasi diambil 12,5 persen dari total zakat yang diterima. Kedua, Baitul Tamwil yang memiliki visi dan misi

ekonomi sesuai dengan prinsip ekonomi Islam. Dan juga sebagai usaha pengumpulan dan penyaluran dana komersial

Hal yang menarik untuk dicermati adalah fenomena pendirian dan pengembangan BMT, ternyata tidak hanya terbatas oleh pertimbangan ekonomis.

Namun, karena adanya motivasi untuk mendirikan lembaga keuangan yang menjalankan nilai-nilai Islam. Selain itu, sebagian BMT memang lahir dan berkembang dari komunitas keislaman, seperi jamaah masjid, jamaah pengajian, pesantren, organisasi kemasyarakatan Islam, atau sejenisnya (Rizky, 2007 dalam Amalia, 2009). Di Indonesia sendiri pertumbuhan dan perkembangan semakin bertambah pesat. Salah satu BMT yang sukses dalam mengembangkan usahanya adalah BMT UG Sidogiri, Jawa Timur, yang pada tahun 2016 ini anggotanya mencapai 16.010 orang dengan jumlah simpanan anggota mencapai Rp 384.158.780.000 (Bakhri, 2016)

Sebagai lembaga ekonomi yang berbasis keumatan, BMT berupaya memainkan peranannya sesuai dengan ketentuan hukum yang ditetapkan pemerintah bagi penyelenggaraan lembaga keuangan berdasarkan prinsip syariah.

UU No. 7/1992 tentang perbankan (kini UU No.10/1998) dan PP No. 72/1992 tentang bank berdasarkan prinsip bagi hasil telah memberikan peluang positif bagi BMT untuk beroperasi secara proporsional (Sadrah, 2004).

Selaras dengan undang-undang tersebut, dalam rangka memberikan kesempatan kepada masyarakat lapisan bawah untuk mengembangkan usaha produktifnya atau terjadi peningkatan kemandirian, peranan lembaga koperasi merujuk pada Keputusan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan

19

Menengah Republik Indonesia Nomor : 91/Kep/men/M.KUKM/IX/2004 tentang Petunjuk Pelaksanaan Kegiatan Usaha Koperasi Jasa Keuangan Syariah/Unit Jasa Keuangan Syariah (Subagyo, 2014).

2.3.5.2 Koperasi Syariah

Menurut Undang Undang No.25 tahun 1992, Koperasi adalah “badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum, koperasi, dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan.”

Koperasi Syariah biasa disebut Koperasi Simpan Pinjam Syariah (KSPS) atau Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) memiliki dimensi yang berbeda dengan koperasi konvensional maupun BMT. Menurut Keputusan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia Nomor 91/Kep/IV/KUKM/IX/2004, KJKS adalah “koperasi yang kegiatan usahanya bergerak di bidang pembiayaan, investasi, dan simpanan sesuai pola bagi hasil (syariah).”

Pada dasarnya KJKS dan BMT sama saja karena juga memiliki payung hukum yang sama, namun tetap terdapat perbedaan antara Koperasi Syariah dan BMT. BMT berfungsi sebagai dua lembaga yaitu Baitul Maal (Lembaga Zakat) dan Baitul Tamwil (Lembaga Keuangan), maka KJKS yang juga menjalankan dua fungsi lembaga tersebut disebut BMT. Namun, KJKS hanya menjalankan fungsi sebagai lembaga keuangan tanpa berperan sebagai lembaga zakat, maka disebut KJKS atau Koperasi Syariah saja. (koperasi.net, 2015)

Meskipun KJKS tidak menjalankan fungsi sebagai lembaga zakat, namun KJKS dan anggotanya tetap memiliki kewajiban untuk membayar zakat saat memperoleh pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU). Hal ini berdasarkan Pasal 20 ayat 2 dalam Keputusan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia Nomor 91/Kep/IV/KUKM/IX/2004, yaitu

“pembagian dan penggunaan SHU dilakukan dengan memasukkan komponen kewajiban (potongan) zakat atas Badan Usaha Koperasi dan zakat atas perseorangan sebelum dibagikan kepada anggota yang bersangkutan.” Dalam pasal tersebut zakat dikeluarkan atas nama badan hukum (institusi) dalam hal ini koperasi dan zakat atas perseorangan dalam hal ini adalah anggota koperasi yang menerima SHU. Inilah ciri utama ekonomi syariah yang dalam institusi konvensional persoalan zakat tidak diatur secara eksplisit. (Amalia, 2009)

2.3.5.3 BPRS (Bank Perkreditan Rakyat Syariah)

Dari jenis Bank Konvensional, terdapat bank umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR). BPR sendiri dapat dipahami sebagai Bank Konvensional yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.

(Annonimus, 2011) Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah dalam pasal 1 disebutkan bahwa BPRS adalah bank syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Sama seperti halnya BPR, BPRS dilarang memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran seperti menerima dana simpanan dalam bentuk giro sekalipun hal itu dilakukan dengan prinsip wadi’ah. Kegiatan BPRS dijelaskan dalam pasal 27 SK Direktur BI No.32/36/KEP/DIR/1999 tanggal 12 Mei 1999.

21

Menurut surat keputusan ini, kegiatan operasional BPRS adalah:

1. Menghimpun dana masyarakat dalam bentuk simpanan meliputi:

a. Tabungan wadiah dan mudharobah b. Deposito berjangka mudharobah

c. Bentuk lain yang menggunakan prinsip wadiah dan mudharobah 2. Melakukukan penyaluran dana melalui:

a.Transaksi jual beli :

b. Pembiayaan bagi hasil berdarkan prinsip:

a) Mudharobah

Menurut Sumitro (2002) tujuan operasionalisasi BPRS, meliputi:

1. Meningkatkan ekonomi umat Islam terutama kelompok masyarakat ekonomi lemah yang umumnya berada di daerah perdesaan.

2. Menambah lapangan kerja terutama di tingkat kecamatan, sehingga arus urbanisasi.

3. Membina ukhuwah Islamiyah melalui kegiatan ekonomi dalam rangka menuju kualitas hidup yang memadai.

2.4 Pengaruh Lembaga Keuangan Mikro Syariah Terhadap Perekonomian Umat

2.4.1 Perekonomian Umat

Menurut KBBI arti dari kata perekonomian merupakan tindakan (aturan atau cara) berekonomi. Sedangkan, arti dari kata umat ialah para penganut (pemeluk, pengikut) suatu agama; penganut nabi. Jadi, perekonomian umat merupakan tindakan atau cara berekonomi masyarakat dalam satu agama (Islam).

Penekanan diletakkan pada perlunya kebijakan baru dan utama untuk memberantas kemiskinan, menyediakan kesempatan kerja, yang lebih beragam, dan mengurangi ketimpangan pendapatan. Semua tujuan ini dan tujuan egaliter lainnya diupayakan untuk dicapai dalam konteks perekonomian yang makin tumbuh dan berkembang. (Todaro, 2011)

2.4.2 Pengaruh Lembaga Keuangan Mikro Syariah 2.4.2.1 Pengentasan Kemiskinan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kemiskinan adalah kondisi seseorang hanya mampu memenuhi kebutuhan dasar minimumnya.

Artinya, seseorang tersebut hanya fokus pada kebutuhan hari itu saja dan tidak mampu memenuhi kebutuhannya yang lain seperti kebutuhan sekunder dan tersier.

Semakin kompleksnya faktor penyebab, indikator maupun permasalahan lain yang melingkupi, definisi tentang kemiskinan semakin meluas. Kemiskinan tidak lagi hanya melingkup dimensi ekonomi tetapi telah meluas hingga ke dimensi sosial, kesehatan, pendidikan dan politik. (Budhi, 2013)

23

Akses sumber daya dan aset produktif untuk memenuhi kebutuhan hidup yang rendah juga bisa disebut miskin, seperti kebutuhan akan ilmu pengetahuan, informasi, teknologi dan modal. (Sriyana dan Raya, 2013)

Dengan adanya LKMS diharapkan dapat memenuhi indikator dasar pembangunan. Indikator dasar pembangunan adalah pendapatan riil, kesehatan, dan Pendidikan. Pendapatan riil per kapita yang disesuaikan dengan daya beli, kesehatan sebagaimana diukur dari tingkat harapan hidup, asupan nutrisi, dan tingkat mortalitas anak, serta pencapaian Pendidikan sebagaimana yang diukur dengan tingkat melek aksara dan tingkat Pendidikan. (Todaro, 2011)

Ekonomi Islam memandang bahwa kemiskinan identik dengan penderitaan, kesengsaraan, ketidakadilan, perputaran harta yang hanya pada sebagian golongan dan tidak produktif. Hal ini tentu saja bertentangan dengan tujuan dari ekonomi Islam yaitu untuk mencapai falah (kebahagiaan), tentunya dengan memperhatikan kemaslahatan umat, untuk itu peranan dari Bank Syariah dan Bank Perkreditan Rakyat Syariah sebagai lembaga keuangan Islam harus bisa mencapai tujuan dari ekonomi Islam itu sendiri. Namun, keberadaan dua jenis lembaga keuangan tersebut belum sanggup menjangkau masyarakat Islam lapisan bawah Oleh karena itu, dibentuklah lembaga-lembaga simpan-pinjam yang disebut Baitul Maal wat Tamwil (BMT). (Sudarsono, 2007)

Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) merupakan lembaga keuangan mikro syariah, urgensi Lembaga Keuangan Mikro di tengah-tengah masyarakat kita yang memang membutuhkannya. Ketika masyarakat miskin sulit untuk menjangkau jasa pelayanan keuangan formal (Perbankan), padahal mereka sangat

membutuhkan modal, media penyimpan dana, media pengiriman dana (Transfer) dan asuransi maka keuangan mikro menjadi suatu kebutuhan primer bagi mereka.

(Subagyo, 2015)

2.4.2.2 BMT dan Pengentasan Kemiskinan

BMT sebagai varian dari LKM Islam dan telah didefinisikan sebagai LKM berbasis masyarakat yang beroperasi di bawah sistem koperasi non-pemerintah domain organisasi ( Nazirwan, 2010 ). Bahkan, Mu'alim dan Abidin (2005) juga menyatakan bahwa BMT merupakan organisasi ekonomi yang difokuskan pada pengembangan kerjasama dan investasi berkembang Unit Mikro dan mengentaskan kemiskinan melalui sistem profit-loss sharing. Hal ini melayang oleh berbagai organisasi termasuk bank syariah, BPR syariah (BPRS) dan didukung oleh organisasi-organisasi Islam seperti Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah yang saat ini memiliki lebih dari seratus juta anggota.

(Obaidullah, 2008)

Secara khusus, Wafa dan Nasrodin (2008) di Ali (2009) membagi aktivitas BMT menjadi tiga bidang yaitu, sektor riil, intermediasi keuangan dan intermediasi sosial. Dalam hal sektor riil, BMT pada dasarnya dapat menginvestasikan dana dalam kegiatan bisnis jangka panjang seperti membangun pabrik baru atau membeli saham dari sebuah perusahaan yang didirikan. Sebagai perantara keuangan, Nazirwan (2010) menyatakan bahwa BMT dirancang untuk melakukan intermediasi keuangan melalui mobilisasi simpanan dari nasabah anggota dan pembiayaan usaha komersial. Selain itu, sebagai perantara sosial, BMT didedikasikan untuk menjalankan peran sosial keagamaan dengan

25

mengumpulkan sumbangan amal dari umat Islam dan membantu orang miskin bersama dengan kehidupan spiritual mereka.

Widiyanto dan Abdul Ghafar (2010) mengukur efektivitas BMT dalam mengurangi kemiskinan dengan mengevaluasi efektivitas pembiayaan BMT untuk mengembangkan Unit Mikro. pengembangan Mikroekonomi berpotensi untuk pengentasan kemiskinan dalam beberapa cara:

1. Menyediakan kredit (pembiayaan) atau memberikan kelas untuk orang miskin membantu mereka memulai atau memperkuat bisnis mereka

2. Membangun kepercayaan diri dan kemandirian 3. Mendorong otonomi

4. Menciptakan komunitas masyarakat 2.5 Penelitian Terdahulu

Dita Andriana, Skripsi Mahasiswi Universitas Islam Negeri Jakarta dengan judul “Pengaruh Pembiayaan Lembaga Keuangan Mikro Syariah Terhadap Perkembangan Usaha Mikro”. Penelitian ini dianalisis dengan metode regresi linear berganda stepwise untuk mendapatkan model terbaik dari sebuah analisis regresi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel modal pembiayaan, usia, dan jumlah tenaga kerja berpengaruh signifikan terhadap perubahan keuntungan usaha, dan terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata keuntungan usaha sebelum dan sesudah melakukan pembiayaan pada KJKS BMT AL-FATH IKMI.

Rini Hayati Lubis, (2015), jurnal Dosen Fakultas Ekonomi dan bisnis Islam IAIN Padang Sidimpuan dengan jurnal yang berjudul “Peranan Baitul Mal