3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis
3.1.7. Model Gravitasi (Gravity Model)
Menurut Lineman (Lapipi 2005) dalam Yanuari (2007), Gravity Model adalah model yang digunakan untuk menganalisis efek integrasi ekonomi
31 terhadap perdagangan dan merupakan satu alat analisis yang dapat digunakan untuk mengestimasi berapa besarnya nilai barang yang keluar dan masuk di suatu wilayah. Penamaan Gravity Model didasarkan pada penggunaan suatu perumusan yang sama dengan model gravitasi Newton, dimana interaksi antara dua objek adalah sebanding dengan massanya dan berbanding terbalik dengan jarak masing-masing. Dalam konteks perdagangan model ini menyatakan bahwa intensitas perdagangan antara negara-negara akan berhubungan secara positif dengan pendapatan nasional masing-masing negara dan berhubungan terbalik dengan jarak diantara keduanya. Sehingga dengan kata lain Gravity Model dapat menjelaskan aliran perdagangan internasional dengan baik yang mana aliran perdagangan bilateral merupakan fungsi loglinear dari pendapatan dan jarak8.
Gravity Model banyak digunakan untuk menganalisis isu-isu dalam ekonomi regional dan lokasi dengan kesuksesan secara empiris karena menyajikan sebuah analisa yang lebih empiris dari pola perdagangan dibandingkan model-model yang lebih teoritis yang hanya memprediksi secara penuh spesialisasi suatu negara dalam memproduksi suatu komoditas-komoditas dan secara langsung tidak memasukan faktor-faktor pendukungnya seperti jumlah relatif dari buruh dan modal dalam negara. Secara ekonometri Gravity Model terbukti menjadi kuat secara empiris dengan memasukan faktor lain seperti tingkat pendapatan, hubungan diplomatik, dan kebijakan perdagangan dalam versi lebih besar dari model ini.
Gravity Model pertama kali digunakan untuk aliran perdagangan internasional oleh Tinbergen (1962) yang selanjutnya diikuti oleh banyak peneliti.
Model ini kemudian diestimasi untuk banyak negara, periode waktu dan tingkat disagregasi. Leamer dan levinson (1995) dalam Yuniarti (2007) menemukan beberapa penemuan empiris yang jelas dan kuat dalam ilmu ekonomi. Sebaliknya ada pula yang menyatakan bahwa kesuksesan secara empiris pada Gravity Model tidak membuatnya populer dan diterima secara umum karena model tersebut dinyatakan sama sekali ad hoc atau tidak ada teori yang melandasinya. Namun beberapa tahun terakhir telah dilakukan pembaharuan yang menarik kedalam teori dari Gravity Model.
8 Feenstra, R.C., J.A. Markusen, A.K Rose. 1998. Understanding The Home Market Effect and The Gravity Equation:The Role of Differentiated Goods. NBER Working Paper No.6804
32 Pada Gravity Model, aliran perdagangan bilateral ditentukan oleh tiga kelompok variabel yaitu (Tarigan, 2005) :
1. Variabel-variabel yang mewakili total permintaan potensial negara pengimpor.
2. Variebel-variabel indikator total penawaran potensial negara pengekspor.
3. Variabel-variabel pendukung atau penghambat aliran perdagangan antar negara pengekspor dan negara pengimpor.
Konsep gravitasi dalam bentuk persamaan yang paling umum dapat dirumuskan sebagai berikut :
"# $%&'%()
&(
* ……….. (3.9)
dimana :
Iij = taksiran tingkat interaksi antara wilayah I dengan j Ai, Aj = besarnya daya tarik wilayah i dan j
dij = ukuran jarak antar wilayah i dan j k = konstanta
a, b, c = parameter dugaan
Interaksi antara i dan j (Iij) menginterpretasikan nilai dari aliran perdagangan suatu komoditas dari wilayah i ke wilayah j yang meliputi arus perdagangan keseluruhan wilayah dalam satu negara tersebut juga penerapannya pada perdagangan antar negara seperti dalam WTO, ASEAN, APEC, EU. Pada umumnya variabel-variabel yang digunakan untuk mengukur daya tarik wilayah (A) meliputi, jumlah penduduk, Produk Domestik Bruto, nilai tukar, harga komoditas yang diperdagangkan dan variabel jarak (dij) yang diukur melalui pendekatan biaya transportasi.
1. GDP (Gross Domestik Bruto)
Gross Domestik Product (GDP) adalah ukuran kapasitas untuk memproduksi komoditi ekspor negara tersebut. GDP merupakan pendapatan total nasional pada output barang dan jasa. Lipsey (1995) menyatakan bahwa GDP merupakan nilai dari total produksi barang dan jasa suatu negra yang dinyatakan sebagai produksi nasioanal dan nilai total produksi tersebut juga menjadi pendapatan total negara yang bersangkutan atau dengan kata lain produk nasional
33 sama dengan pendapatan nasional. Produk atau pendapatan nasional ini juga dapat diukur dalam bentuk pendapatan nasional bruto PNB atau PDB. GDP sering dianggap sebagai cerminan kinerja ekonomi dan sebagai perekonomian total dari setiap orang di dalam perekonomian (Mankiw, 2000).
GDP menunjukkan besarnya kemampuan perekonomian suatu negara, dimana semakin besar GDP yang dihasilkan oleh suatu negara semakin besar pula kemampuan negara tersebut untuk melakukan perdagangan. Bagi negara importir, semakin besar GDP maka akan meningkatkan impor komoditi negara tersebut atau sering disebut absortive capacity. Sedangkan bagi negara eksportir, GDP akan menentukan jumlah produksi komoditi ekspor (product capacity).
2. Populasi
Pertambahan populasi dapat mempengaruhi ekspor melalui dua sisi yaitu, penawaran dan permintaan. Pada sisi penawaran, pertambahan populasi dapat diartikan penambahan tenaga kerja untuk melakukan produksi komoditi ekpor.
Pertumbuhan dari sisi permintaan, akan menyebabkan bertambah besarnya permintaan domestik (Salvatore, 1997).
3. Jarak
Variabel jarak adalah indikasi dari biaya transportasi yang dihadapi oleh suatu negara dalam melakukan ekspor (Salvatore, 1997). Jarak tersebut mengurangi aliran perdagangan yang diwakilkan oleh biaya transportasi. Semakin jauh jarak, semakin besar biaya transportasi, dan semakin rendah aliran perdagangan dari suatu produk tertentu.
4. Kurs (Exchange Rate)
Kurs diantara dua negara adalah harga dimana penduduk kedua negara saling melakukan perdagangan. Kurs terbagi menjadi dua yaitu kurs nominal dan kurs riil. Kurs nominal adalah harga relatif dari mata uang dua negara. Kurs riil adalah harga relatif dari barang-barang kedua negara. Jika mengacu pada kurs di antara dua negara, maka biasanya menggunakan kurs nominal (Mankiw 2000).
Menurut Mankiw (2000), jika kurs riil rendah atau terjadi depresiasi mata uang domestik terhadap mata uang asing yang mengakibatkan barang-barang
34 domestik relatif lebih murah, maka penduduk domestik akan membeli sedikit barang impor. Dengan demikian, orang-orang asing akan membeli beraneka macam produk domestik. Sehingga jumlah ekspor neto akan meningkat. Hal sebaliknya jika terjadi depresiasi mata uang domestik terhadap mata uang asing (kurs riil tinggi).
5. Harga
Suatu hipotesis ekonomi yang mendasar adalah bahwa untuk kebanyakan komoditi, harga komoditi dan kuantitas atau jumlah yang akan ditawarkan akan berhubungan secara positif dengan semua faktor yang lain tetap sama (cateris paribus). Dengan kata lain, makin tinggi harga suatu komoditi yang akan ditawarkan, semakin besar jumlah komoditi yang akan ditawarkan (Lipsey et al.
1995).