• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS POTENSI EKSPOR CRUDE PALM OIL (CPO) EMPAT NEGARA MITRA DAGANG UTAMA DENGAN PENDEKATAN GRAVITY MODEL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS POTENSI EKSPOR CRUDE PALM OIL (CPO) EMPAT NEGARA MITRA DAGANG UTAMA DENGAN PENDEKATAN GRAVITY MODEL"

Copied!
105
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS POTENSI EKSPOR INDONESIA KE EMPAT

DENGAN

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

ANALISIS POTENSI EKSPOR CRUDE PALM OIL

KE EMPAT NEGARA MITRA DAGANG UTAMA DENGAN PENDEKATAN GRAVITY MODEL

SKRIPSI

FRAULEIN LUDYVICA MARTHA H34096035

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2011

i

CRUDE PALM OIL (CPO) NEGARA MITRA DAGANG UTAMA

GRAVITY MODEL

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

(2)

ANALISIS POTENSI EKSPOR INDONESIA KE

DENGAN

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

ANALISIS POTENSI EKSPOR CRUDE PALM OIL

KE EMPAT NEGARA MITRA DAGANG UTAMA DENGAN PENDEKATAN GRAVITY MODEL

SKRIPSI

FRAULEIN LUDYVICA MARTHA H34096035

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2011

i

CRUDE PALM OIL (CPO) NEGARA MITRA DAGANG UTAMA

GRAVITY MODEL

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

(3)

ii RINGKASAN

FRAULEIN LUDYVICA MARTHA. Analisis Potensi Ekspor Crude Palm Oil (CPO) Indonesia ke Empat Negara Mitra Dagang Utama dengan Pendekatan Gravity Model. Skripsi. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (Di bawah bimbingan HARMINI).

Sebagai salah satu sektor yang ambil bagian dalam perdagangan internasional, sektor pertanian dalam perekonomian Indonesia tengah berada pada posisi yang strategis dengan trend volume neraca perdagangan yang mengalami peningkatan setiap tahunnya. Adapun volume neraca perdagangan tertinggi pada tahun 2008 sebesar 9.921.738 ton. Peningkatan volume neraca perdagangan sektor pertanian tersebut secara signifikan dipengaruhi oleh performa surplus yang ditunjukkan oleh sub sektor perkebunan. Sebagai salah satu komoditas perkebunan, CPO (Crude Palm Oil) dijadikan sebagai komoditas unggulan ekspor bagi perdagangan komoditas perkebunan di Indonesia karena kontribusi CPO dalam kinerja perdagangan komoditas perkebunan sangat tinggi dibandingkan komoditas sub sektor perkebunan lainnya.

Perdagangan CPO (Crude Palm Oil) memiliki prospek yang sangat tinggi yang tumbuh sejalan dengan peningkatan kosumsi produk-produk berbahan baku CPO diberbagai negara. Penyerapan CPO dunia pada perdagangan internasional umumnya didominasi oleh empat negara importir diantaranya India, Belanda, Malaysia, dan Singapura dengan daya serap masing-masing 47 persen, 14 persen, 10 persen, dan 6,61 persen dari keseluruhan total konsumsi CPO dunia sebesar 9.444.170.400 kg pada tahun 2010.

Sebagai anggota-anggota dari WTO, Indonesia dalam hal ini sebagai negara pengekspor dan empat negara mitra dagang sebagai negara pengimpor telah melakukan kerja sama perdagangan komoditas CPO dibawah naungan WTO, sehingga akan dilakukan analisis bagaimana pengaruh kebijakan WTO terhadap aliran perdagangan komoditas CPO dan faktor-faktor lain penarik aliran perdagangan CPO lainnya antara lain GDP negara Indonesia (GDPi), dan GDP ke empat negara mitra dagang utama (GDPj), jarak antara Indonesia dengan ke empat negara mitra dagang utama (Dij), nilai tukar diantara keduanya (ER), dan harga CPO (P) Indonesia ke empat negara pengimpor berdasarkan Gravity Model.

Upaya-upaya tersebut dilakukan dalam mempertahankan eksistensi ekspor CPO untuk tetap menjaga kepastian pasar atau kembali mencari pasar potensial jika pasar yang telah ada sudah tidak berpotensi.

Tujuan penelitian berdasarkan permasalahan tersebut adalah (1) menganalisis pengaruh kebijakan WTO terhadap aliran perdagangan CPO antara Indonesia dengan empat mitra dagang, (2) menganalisis faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi volume ekspor Crude palm Oil (CPO) ke empat negara mitra dagang utama berdasarkan Gravity Model (model gravitasi), dan (3) menganalisis potensi ekspor Crude palm Oil (CPO) Indonesia ke empat negara mitra dagang utama.

Data yang digunakan dalam penelitian berupa data sekunder. Data penelitian ini terdiri dari data time series dan cross section (panel data) dari tahun 2000-2010 untuk empat negara mitra dagang utama yaitu India, Belanda,

(4)

iii Malaysia dan Singapura. Data diperoleh dari berbagai sumber dan instansi seperti UN Comtrade, FAOSTAT, IMF, World Bank dan sumber lainnya. Metode pengolahan data yang digunakan adalah metode deskriptif untuk menjelaskan pengaruh kebijakan WTO terhadap perdagangan CPO antara Indonesia dengan empat negara mitra dagang utama, dan metode kuantitatif dengan analisis panel data berdasarkan Gravity Model untuk menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi aliran perdagangan CPO Indonesia ke empat negara mitra dagang utama melalui program Eviews 6.0 dan dilanjutkan dengan metode rasio potensi perdagangan berdasarkan rumus potensi perdagangan menurut (Kalbasi, 2001 diacu dalam Yuniarti, 2008).

Pemilihan model panel data dilakukan untuk memilih model Fixed Effect Model dan Pooled Least Square sebagai model terbaik. Berdasarkan uji chow (uji F) model yang dipilih adalah Pooled Least Square. Adapun Random Effect Model tidak dipilih karena jumlah data cross section dalam penelitian ini lebih sedikit daripada jumlah variabel independen.

Terbentuknya WTO dalam mengatur perdagangan internasional termasuk perdagangan CPO dengan pengurangan tarif impor sebagai salah satu instrumen kebijakannya mempunyai andil penting terutama dalam memberikan peningkatan kesejahteraan bagi negara Indonesia sebagai negara eksportir yang selama ini mengalami penurunan kesejahteraan akibat adanya penetapan tarif impor oleh keempat negara importir CPO.

Berdasarkan hasil estimasi, diperoleh nilai R2 sebesar 0,9385 atau 93,85 persen. Hal tersebut mengindikasikan bahwa sebesar 93,85 persen keragaman nilai ekspor Indonesia ke empat negara mitra dagang utama CPO dapat dijelaskan oleh variabel-variabel independennya, sedangkan sisanya sebesar 6,15 persen dijelaskan oleh variabel lain diluar model. Nilai Probabilitas Fstat diperoleh sebesar 0,00 lebih kecil dari taraf nyata lima persen. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa secara bersama-sama variabel-variabel independen dalam model berpengaruh terhadap variabel tak bebas. Adapun berkaitan dengan parameter dugaan, berdasarkan uji T, diperoleh hasil bahwa variabel-variabel yang berpengaruh nyata pada taraf nyata lima persen terhadap aliran volume ekspor CPO Indonesia, adalah GDP negara Indonesia (GDPi), dan GDP keempat negara mitra dagang utama (GDPj). Sedangkan variabel yang berpengaruh nyata pada taraf nyata satu persen adalah nilai tukar Indonesia dan empat negara mitra dagnag utama (ER). Variabel-variabel yang tidak berpengaruh nyata adalah jarak antara Indonesia dan keempat negara mitra dagang utama (Dij), dan harga CPO dunia (P).

Hasil pengukuran potensi perdagangan berdasarkan rasio perdagangan P/A menyimpulkan bahwa negara India dan Malaysia adalah negara-negara dari keempat mitra dagang utama mempunyai potensi tinggi terhadap penyerapan CPO Indonesia dibandingkan negara Belanda dan Singapura.

Kesimpulan dari penelitian ini menyebutkan bahwa potensi ekspor CPO Indonesia ke India dan Belanda lebih besar daripada potensi ekspor ke Belanda dan Singapura berdasarkan Gravity Model sehingga disarankan untuk dilakukannya tinjauan ulang potensi pasar CPO berdasarkan variabel-variabel lain di luar Gravity Model.

(5)

iv

ANALISIS POTENSI EKSPOR CRUDE PALM OIL (CPO) INDONESIA KE EMPAT NEGARA MITRA DAGANG UTAMA

DENGAN PENDEKATAN GRAVITY MODEL

FRAULEIN LUDYVICA MARTHA H34096035

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada

Departemen Agribisnis

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2011

(6)

v Judul Skripsi : Analisis Potensi Ekspor Crude Palm Oil (CPO) Indonesia ke Empat Negara Mitra Dagang Utama dengan Pendekatan Gravity Model

Nama : Fraulein Ludyvica Martha

NIM : H34096035

Menyetujui, Pembimbing

Ir. Harmini, M.Si NIP. 19600921 198703 2 002

Mengetahui,

Ketua Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen

Institut Pertanian Bogor

Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS NIP. 19580908 198403 1 002

Tanggal Lulus :

(7)

vi PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “Analisis Potensi Ekspor Crude Palm Oil (CPO) Indonesia ke Empat Negara Mitra Dagang Utama dengan Pendekatan Gravity Model” adalah karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam bentuk daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, September 2011

Fraulein Ludyvica Martha H34096035

(8)

vii RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Sukabumi pada tanggal 12 Maret 1988. Penulis adalah anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan Bapak Fidril Martha dan Ibu Aisyah Sasmita.

Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Cipelang Gede Sukabumi pada tahun 2000 dan pendidikan menengah pertama diselesaikan pada tahun 2003 di SLTPN 1 Sukabumi. Pendidikan lanjutan menengah atas di SMUN 1 Sukabumi diselesaikan pada tahun 2006.

Penulis diterima pada Jurusan Manajemen Agribisnis, Program Diploma, Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada tahun 2006 dan pada tahun 2009 penulis terdaftar sebagai mahasiswa di Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.

(9)

viii KATA PENGANTAR

Senantiasa`puji serta syukur terpanjatkan kehadirat Allah SWT dengan segala limpahan nikmat dan karunia-Nya sehingga penyusunan skripsi ini dapat tersaji dengan sebenar-benarnya dan terselesaikan tepat pada waktunya.

Melihat begitu vitalnya kontribusi sub sektor perkebunan terhadap perekonomian Indonesia dewasa ini mengundang begitu banyak kajian tentang hal ikhwal mengenai bagaimana sub sektor perkebunan bekerja, sejauhmana perannya dan langkah atau kebijakan preventif dalam mengatasi permasalahan yang mungkin akan dihadapi sub sektor perkebunan di masa yang akan datang. Analisis potensi ekspor CPO sebagai topik utama dalam pembahasan skripsi ini yang akan menitikberatkan pada langkah follow up Indonesia dalam kaitannya dengan menjaga kepastian pasar CPO dan menghadapi tingkat persaingan yang semakin ketat, akan dirasakan penting dalam menilai kontribusi nyata sub sektor perkebunan yang berkelanjutan.

Semoga skripsi ini bermanfaat sebagai informasi bagi semua pihak yang berkepentingan dan menjadi sumber ide dalam penelitian-penelitian selanjutnya di masa mendatang guna memberikan sumbangsih yang maksimal dalam perbendaharaan ilmu pengetahuan di tanah air ini.

Bogor, September 2011 Fraulein Ludyvica Martha

(10)

ix UCAPAN TERIMAKASIH

Penyelesaian skripsi ini juga tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan, penulis ingin meyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada :

1. Ayahanda Drs. Fidril Martha, ibunda Aisyah Sasmita, adinda Victory Chandra Martha dan seluruh keluarga tercinta untuk setiap sumber inspirasi, dukungan cinta kasih, materi dan immateri serta doa yang diberikan. Semoga ini bisa menjadi persembahan yang terbaik.

2. Ir. Harmini, M.Si selaku dosen pembimbing atas bimbingan, arahan, waktu dan kesabaran yang telah diberikan kepada penulis selama penyusunan skripsi ini.

3. Amzul Rifin, Ph.D selaku dosen penguji utama yang telah bersedia memberikan kritik dan saran kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini.

4. Dra. Yusalina, M.Si selaku dosen penguji wakil departemen yang juga telah memberikan banyak masukan kepada penulis.

5. Prof. Dr. Ir. Rita Nurmalina, MS yang telah menjadi pembimbing akademik atas bimbingan dan masukan yang berharga selama penulis melakukan perkuliahan.

6. Seluruh dosen dan staf Departemen Agribisnis atas bantuan pelayanan yang baik selama penulis melakukan perkuliahan.

7. Ibu Tean Anggorodi dan Ibu Dewani atas cinta kasih sebagai orang tua yang diberikan selama penulis menuntut ilmu di Institut Pertanian Bogor, serta lingkungan kost TM-1 dan M11 yang bersahabat terima kasih telah menjadi rumah kedua bagi penulis.

8. SMKN Negeri 1 Sukabumi atas bantuan fasililitas selama penulis melakukan penelitian hingga penyusunan skripsi ini.

9. Teman-teman seperjuangan Agribisnis angkatan 7 (Try Edwin Saputra, Eneng Nurlaili Fatimah, Tia Eftiana, Vela Rostwentivaivi Sinaga, Kartika Kirana, Vera Clarasita), terima kasih atas jiwa patriot yang ditularkan kepada penulis selama melakukan perkuliahan, penelitian hingga penyusunan skripsi ini.

(11)

x 10. Teman-teman seperjuangan Manajemen Agribisnis angkatan 43 (Rudi Herdiyanto, Andri Utama Nugraha, Farid Hamdani, Rizka Gustiawan Kulfanur, Putri Permatasari) atas kebersamaan yang berharga bagi penulis.

11. Teman-teman TM-1 mania (Rudi Herdiyanto, Jefri Matulessi, Yoga Arya Pratama, Sofian Ansori, Umaidi, Hendro Lisa, Fhedly Edrie, Fadhel Sobirin, Fadli, Imanuel, Adam Fathurahman, Arief Hardiman) atas kesediaannya menjadi keluarga kedua bagi penulis. Terima kasih juga untuk semangat, sharing, dan cinta kasih yang diberikan selama penulis menetap di TM-1.

serta seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu, terima kasih atas bantuannya.

Bogor, September 2011 Fraulein Ludyvica Martha

(12)

xi DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR GAMBAR ... xvii

DAFTAR LAMPIRAN ... xviii

I PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Perumusan Masalah ... 5

1.3. Tujuan penelitian ... 10

1.4. Manfaat Penelitiaan ... 10

1.5. Keterbatasan Penelitiaan ... 11

II TINJAUAN PUSTAKA ... 12

2.2. Perkembangan Produksi dan Ekspor CPO (Crude palm Oil) Indonesia ... 12

2.3. Tinjauan Umum World Trade Organization (WTO) ... 16

2.4. Penelitian Terdahulu ... 20

III KERANGKA PEMIKIRAN ... 25

3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis ... 25

3.1.1. Arti Perdagangan Internasinal ... 25

3.1.2. Teori Keunggulan Absolut ... 25

3.1.3. Teori Keunggulan Komparatif ... 26

3.1.4. Terms of Trade (ToT) ... 26

3.1.5. Teori H-O ... 27

3.1.6. Perekonomian Terbuka ... 28

3.1.7. Model Gravitasi (Gravity Model) ... 30

3.1.8. Model Regresi Panel Data ... 34

3.2. Kerangka Pemikiran Operasional ... 37

IV METODE PENELITIAN ... 40

4.1. Jenis dan Sumber Data ... 40

4.2. Metode Pengolahan Data ... 40

4.3. Perumusan Model ... 41

4.4. Pemilihan Model dalam Pengolahan Panel Data ... 41

4.4.1. Chow Test (Uji Chow) ... 42

4.4.2. Hausman Test (Uji Hausman) ... 42

4.5. Pengujian Model ... 43

4.5.1. Uji F-statistic ... 43

4.5.2. Uji t-statistic ... 44

4.5.3. R-Squared (R2) ... 45

4.6. Pengujian Asumsi Model ... 45

4.7. Pengukuran Potensi Perdagangan ... 49

4.8. Hipotesis Penelitian ... 50

V HASIL DAN PEMBAHASAN ... 52

(13)

xii 5.1. Pengaruh Kebijakan WTO terhadap Perdagangan CPO

Indonesia dan Empat Mitra Dagang Utama ... 52

5.2. Analisis Aliran Perdagangan CPO (Crude Palm Oil) Indonesia ke Empat Negara Mitra Dagang Utama ... 58

5.2.1. Pengujian Kesesuaian Model ... 58

5.2.2. Pengujian Asumsi Model ... 59

5.2.3. Model Dugaan Aliran Perdagangan CPO ... 60

5.2.4. Potensi Perdagangan CPO Indonesia ke Empat Negara Mitra Dagang Utama ... 68

VI KESIMPULAN DAN SARAN ... 72

5.1. Kesimpulan ... 72

5.2. Saran ... 72

DAFTAR PUSTAKA ... 74

LAMPIRAN ... 74

(14)

xv DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Kesepakatan Regional (Partner Region) Negara-negara yang Melakukan Perdagangan Internasional ... 2 2. Perkembangan Neraca Perdagangan Sektor Pertanian dan

Perkembangan Persentase Neraca Perdagangan Sub Sektor Pertanian terhadap Sektor Pertanian di Indonesia Tahun 2004 – 2008 ... 4 3. Nilai Ekspor Berbagai Komoditas Andalan Ekspor dari

Negara-negara Eksportir Utama Tahun 2008 ... 6 4. Perkembangan Konsumsi CPO (crude Palm Oil) Dunia

Tahun 2000-2010 ... 12 5. Perkembangan Volume dan Nilai Ekspor CPO

(Crude Palm Oil) Indonesia Tahun 2001-2010 ... 13 6. Perkembangan Produksi CPO (Crude Palm Oil) Indonesia

Tahun 2000-2000 ... 15 7. Putaran Perdagangan (Trade Round) Menuju Terbentuknya

WTO ... 17 8. Ringkasan Penelitian Terdahulu ... 24 9. Tarif Impor CPO dan CPO Olahan di Negara-negara

Pengimpor Tahun 2010 ... 53 10. Negara-negara Top Exporter CPO Tahun 2008 ... 54 11. Ringkasan Dampak Tarif Impor CPO Empat Negara Miitra

Dagang Utama – Indonesia ... 57

12. Hasil Pengolahan Gravity Model Aliran Perdagangan CPO Metode Panel Data dengan Model

Pooled Least Square (FE) ... 61

13. Perbandingan Rata-rata Pertumbuhan Volume Ekspor CPO dan GDP Empat Negara Mitra Dagang Utama dalam (%) Tahun 2000-2010 ... 63

14. Perbandingan Rata-rata Pertumbuhan Volume Ekspor CPO dan GDP Empat Negara Mitra Dagang Utama dalam (%) Tahun 2000-2010 ... 64 15. Kondisi Apresiasi dan Depresiasi Mata Uang Rupiah

terhadap Mata Uang Empat Negara Mitra Dagang Tahun 2000-2010 ... 65 16. Perbandingan Rata-rata Pertumbuhan Volume Ekspor CPO

dan Jarak antara Indonesia dengan Empat Negara Mitra Dagang Utama (%) Tahun 2000-2010 ... 67

(15)

xvi 17. Perbandingan Rata-rata Pertumbuhan Volume Ekspor

CPO dan Harga CPO Dunia (%) Tahun 2000-2010 ... 68 18. Hasil Pengukuran Potensi Perdagangan Keempat Negara

Importir CPO ... 69

(16)

xvii DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Perkembangan Volume Neraca Perdagangan Komoditas Pertanian Tahun 2004-2008 ... 3 2. Perbandingan Volume Ekspor Komoditas Perkebunan

Indonesia Tahun 2004-2009 ... 5 3. Persentase Jumlah Impor CPO (Kg) dari Negara-negara

Top Importers Tahun 2008 ... 7 4. Persentase Jumlah Impor CPO (Kg) dari Negara-negara

Top Importers Tahun 2009 ... 8

5. Persentase Jumlah Impor CPO (Ton) dari Negara-negara Top Importers Tahun 2010 ... 9

6. Perkembangan harga CPO di Tingkat BKDI dan Dunia Tahun 2000-2010 ... 14 7. Harga Relatif Ekulibrium Y di Pasar Internasional

(Analisis Ekuilibrium Parsial) ... 27 8. Kerangka Pemikiran Operasional Penelitian ... 39 9. Daerah Keputusan pada Uji Durbin Watson ... 49 10. Kurva Benefit Analysis Ekspor Kelapa Sawit Indonesia-

Empat Negara Mitra Dagang Utama ... 55 11. Kurva Dampak dari Adanya Perdagangan Internasional

CPO ... 56 12. Hasil Analisis Trend Volume Ekspor CPO dari Negara

Indonesia ke Negara Singapura Tahun 2000-2010 ... 70 13. Hasil Analisis Trend Volume Ekspor CPO dari Negara

Indonesia ke Negara Singapura Tahun 2000-2010 ... 71

(17)

xviii DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1. Data Penelitian CPO Tahun 2000-2010 ... 77 2. Data Penelitian CPO Tahun 2000-2010 (Ln) ... 79 3. Hasil Estimasi Panel Data dengan Menggunakan Pooled

Least Square dengan Cross Section-Weight ... 81 4. Hasil Estimasi Panel Data dengan Menggunakan Model

Fixed Effect dengan Cross Section-Weight dan Hasil Pengujian Chow Test ... 82 5. Hasil Uji Normalitas (J-B test) ... 83 6. Hasil Regresi Variabel Independen dan Uji Wald pada

Variabel yang Tidak Signifikan ... 84 7. Hasil Pengujian Heteroskedastisitas dengan Uji Park ... 85 8. Hasil Perhitungan Potensi Ekspor CPO Indonesia ke Empat

Negara Mitra Dagang Utama ... 86 9. Pohon Industri Kelapa Sawit ... 88

(18)

1 I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Perekonomian dunia saat ini mendorong setiap penganut perekonomian terbuka didalamnya untuk merasakan dampak dari adanya dinamika ekonomi internasional yang dipandang sebagai suatu upaya untuk menjaga eksistensi dan meningkatkan daya saing ekonomi. Perekonomian dunia sedang memasuki era sejarah baru, dimana ekonomi dan budaya nasional serta batas-batas geografis kenegaraan sudah kehilangan makna oleh sebuah proses globalisasi yang berjalan cepat. Hal ini diindikasikan oleh timbulnya liberalisasi perdagangan.

Konsekuensianya, pasar domestik di setiap negara tidak akan terlepas dari gejolak pasar dunia yang semakin liberal karena kebijakan unilateral dan ratifikasi kerjasama yang harus mereka lakukan. Manifestasi dari liberalisasi perdagangan tersebut adalah terjadinya perdagangan internasional yang lebih kompetitif dan transparan.

Perdagangan internasional berdampak positif terhadap kepentingan tatanan ekonomi, sosial dan politik dengan mendorong industrialisasi, kemajuan transportasi, globalisasi, dan kehadiran perusahaan multinasional sejak beberapa abad lalu. Dengan demikian, semua teori perdagangan menyatakan bahwa perdagangan internasional memberikan manfaat bagi dunia. Manfaat perdagangan internasional antara lain memperoleh barang yang tidak dapat diproduksi di negeri sendiri, memperoleh keuntungan dari spesialisasi, memperluas pasar dan menambah keuntungan serta transfer teknologi modern1.

Umumnya perdagangan internasional diregulasikan melalui perjanjian bilateral antara dua negara dan regulasi tersebut diselesaikan melalui World trade Organization (WTO) pada level global, juga melalui beberapa kesepakatan regional seperti MerCOSUR di Amerika Selatan, NAFTA antara Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, dan Uni Eropa antara 27 negara mandiri. Adapun kesepakatan regional lainnya dapat dilihat pada Tabel 1.

1 Sadono S. 1994. Pengantar Teori Mikroekonomi. Ed ke-2. Jakarta: PT Raja Grafindo Perkasasa. Hlm 334-348

(19)

2 Tabel 1. Kesepakatan Regional (Partner Region) Negara-negara yang Melakukan

Perdagangan Internasional

Partner Region Countries

EFTA

Iceland, Liechtenstein, Norway, Switzerland;

Candidates: Croatia, FYR of Macedonia, Turkey; Andean Community: Bolivia, Colombia, Ecuador, Peru

CIS

Armenia, Azerbaijan, Belarus, Georgia, Kyrgyzstan, Kazakhstan, Moldova Republic of, Russian Federation, Tajikistan,

Turkmenistan, Ukraine, Uzbekistan;

CACM

Honduras, El Salvador, Nicaragua, Costa Rica, Guatemala, Panama; Mercosur:

Argentina, Brazil, Paraguay, Uruguay;

NAFTA: Canada, Mexico, United States;

Latin America Countries

CACM, Mercosur, ANCOM, Chile, Cuba, Dominican Republic, Haiti, Mexico, Panama, Venezuela; BRIC: Brazil, Russia, India, China;

ASEAN

Brunei Darussalam, Indonesia, Cambodia, Lao People's Democratic Republic, Myanmar, Malaysia, Philippines, Singapore, Thailand, Vietnam;

CAFTA ASEAN, China

ACP:79 countries; MEDA (excl EU & Turkey)

Algeria, Egypt, Israel, Jordan, Lebanon, Morocco, Occupied Palestinian Territory, Syrian Arab Republic, Tunisia.

Sumber : IMF, 2009 (diolah)

Sebagai salah satu sektor yang ambil bagian dalam kesepakatan regional, sektor pertanian dalam perekonomian Indonesia tengah berada pada posisi yang strategis. Sejak disahkannya Persetujuan Bidang Pertanian (Agreement on Agriculture) oleh WTO dengan instrumen kebijakan antara lain mengurangi, subsidi domestik, subsidi ekspor, dan memperluas akses pasar, juga instrumen yang meliputi isu-isu lainnya seperti ketahanan pangan, perlindungan lingkungan, perlakuan khusus dan berbeda (special and differential treatment) bagi negara- negara berkembang, sektor pertanian menjadi salah satu sektor riil yang menunjukkan kinerja positif. Adapun penilaian kinerja perdagangan komoditas

(20)

3 pertanian dapat dilihat dari neraca perdagangan luar negeri periode tahun 2004- 2008 pada Gambar 1.

Gambar 1. Perkembangan Volume Neraca Perdagangan Komoditas Pertanian Tahun 2004-2008

Sumber : Pusat Data dan Informasi Pertanian, 2009 (diolah)

Berdasarkan Gambar 1, trend volume neraca perdagangan sektor pertanian mengalami peningkatan setiap tahunnya dengan volume neraca perdagangan tertinggi pada tahun 2008 sebesar 9.921.738 ton. Sementara dilihat dari persentase pertumbuhan volume dari tahun 2004-2008, volume ekspor tumbuh sebesar 3,58 persen sedangkan volume impor turun sebesar 4,99 persen (Tabel 2). Peningkatan volume neraca perdagangan sektor pertanian tersebut secara signifikan dipengaruhi oleh performa surplus yang ditunjukkan oleh sub sektor perkebunan yang dapat menutupi defisit sub sektor lainnya dengan persentase pertumbuhan volume ekspor sebesar 3,74 persen dan penurunan volume impor sebesar 7,5 persen (Tabel 2). Hal tersebut menunjukkan bahwa sub sektor perkebunan menjadi satu-satunya andalan sektor pertanian dalam peningkatan perekonomian yang secara rinci ditunjukkan pada Tabel 2.

2004 2005 2006 2007 2008

Tanaman Pangan -8,500,357 -7,813,005 -10,595,290 -8,399,060 -6,601,965 Hortikultura -501,843 -472,077 -466,977 -899,548 -898,069 Perkebunan 14,203,288 16,488,155 19,602,015 17,821,046 17,851,703 Peternakan -651,955 -664,443 -682,023 -491,618 -429,931 Pertanian 4,549,133 7,538,630 7,857,725 8,030,820 9,921,738

-15,000,000 -10,000,000 -5,000,000 0 5,000,000 10,000,000 15,000,000 20,000,000 25,000,000

Volume (Ton)

(21)

4 Tabel 2. Perkembangan Neraca Perdagangan Sektor Pertanian dan Perkembangan Persentase Neraca Perdagangan Sub Sektor Pertanian terhadap Sektor Pertanian di Indonesia Tahun 2004 - 2008

Uraian Tahun (Ribu Ton) Pertumbuhan

2004 2005 2006 2007 2008 (%)

Volume Ekspor

a. T. Pangan 1.170,25 1.123,43 861,22 999,46 812,33 -4,79 b. Hortikultura 296,48 384,32 456,89 393,86 523,46 8,57 c. Perkebunan 15.556,89 18.579,81 21.378,19 22.089,29 20.533,16 3,74 d. Peternakan 221,66 246,49 198,41 458,90 635,30 10,84 Pertanian 17.245,28 20.334,04 22.894,71 23.941,51 22.504,25 3,58 Volume Impor

a. T. Pangan 9.670,60 8.936,44 11.456,51 9.398,52 7.414,30 -5,25 b. Hortikultura 798,32 856,39 923,87 1.293,41 1.421,52 3,03 c. Perkebunan 1.353,60 2.091,65 1.776,17 4.268,24 2.681,46 -7,5 d. Peternakan 873,62 910.93 880,43 950,52 1.065,24 3,11 Pertanian 12.696,15 12.795,41 15.036,98 15.910,69 12.582,51 -4,99

Volume Ekspor (%) terhadap Pertanian Rata-rata

a. T. Pangan 6,79 5,52 3,76 4,17 3,61 4,77

b. Hortikultura 1,72 1,89 2,00 1,65 2,33 1,92

c. Perkebunan 90,21 91,37 93,38 92,26 91,24 91,69

d. Peternakan 1,29 1,21 0,87 1,92 2,82 1,62

Volume Impor

a. T. Pangan 76,17 69,84 76,19 59,07 58,93 68,04

b. Hortikultura 6,29 6,69 6,14 8,13 11,30 7,71

c. Perkebunan 10,66 16,35 11,81 26,83 21,31 17,39

d. Peternakan 6,88 7,12 5,86 5,97 8,47 6,86

Sumber : Pusat Data dan Informasi Pertanian, 2009 (diolah)

Berdasarkan informasi pada Tabel 2, sub sektor perkebunan merupakan sub sektor yang berkontribusi cukup besar terhadap total volume ekspor pertanian dengan rata-rata yaitu 91,69 persen volume ekspor komoditas pertanian berasal dari komoditas perkebunan dan rata-rata volume impor hanya sebesar 17,39 persen dalam total volume impor komoditas pertanian. Sementara untuk sub sektor lainnya, persentase impor lebih tinggi dibandingkan ekspornya dengan rata- rata persentase volume impor yang terbesar terjadi pada sub sektor tanaman pangan sebesar 68,04 persen.

Sebagai salah satu komoditas perkebunan, CPO (Crude Palm Oil) dijadikan sebagai komoditas unggulan ekspor bagi perdagangan komoditas

(22)

5 perkebunan di Indonesia karena kontribusi CPO dalam kinerja perdagangan komoditas perkebunan sangat tinggi. Hal tersebut dapat dilihat pada komparasi enam komoditas ekspor perkebunan seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2 berikut ini.

Gambar 2. Perbandingan Volume Ekspor Komoditas Perkebunan Indonesia Tahun 2004-2009

Sumber : Direktorat Jendral perkebunan, 2010 (Diolah)

Gambar 2 menunjukkan komparasi keenam komoditas subsektor perkebunan dilihat dari volume ekspor antara tahun 2004-2009. Secara signifikan volume ekspor komoditas CPO memiliki trend positif dan jauh di atas komoditas- komoditas sub sektor perkebunan lainnya dengan volume ekspor tertinggi pada tahun 2009 sebesar 21.151.127 ton. Hal ikhwal tersebut membawa pemahaman akan begitu besarnya kontribusi CPO bagi perekonomian Indonesia sebagai komoditas andalan dalam perdagangan internasional.

1.2. Perumusan Masalah

Tingginya kontribusi CPO (Crude Palm Oil) terhadap kinerja sektor pertanian secara umum maupun terhadap kinerja sub sektor perkebunan secara

2004 2005 2006 2007 2008 2009

CPO 9,565,974 11,418,987 11,745,954 13,210,742 18,141,006 21,151,127

Kopi 344,077 445,829 413,500 321,404 468,749 510,898

Karet 1,874,261 2,024,593 2,286,897 2,407,972 2,283,154 1,991,533

Teh 98,572 102,389 95,338 83,658 96,209 92,305

Kakao 366,855 463,632 609,035 503,522 515,523 535,236

Kelapa 1,874,261 2,024,593 2,286,897 2,407,972 1,080,068 992,766 0

5,000,000 10,000,000 15,000,000 20,000,000 25,000,000

Volume (Ton)

(23)

6 khusus dalam perdagangan internasional dipengaruhi oleh tingginya kebutuhan minyak sawit atau Palm Oil (PO) dunia sebagai produk utama dari CPO. PO adalah komoditas yang paling besar diperdagangkan di pasar komoditi dunia yang meliputi 40 persen dari global trade diikuti Soybeans sebesar 22 persen2. Adapun nilai ekspor Palm Oil sebagai representasi tingkat konsumsi Palm Oil dunia dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Nilai Ekspor Berbagai Komoditas Andalan Ekspor dari Negara-negara Eksportir Utama Tahun 2008

Ranking Negara Komoditas Nilai

(Ribu US $)

1 United States of America Soybeans 15,537,200

2 United States of America Maize 13,884,500

3 Malaysia Palm oil 12,768,600

4 Indonesia Palm oil 12,375,600

5 United States of America Wheat 11,306,300

6 Brazil Soybeans 10,952,200

7 Netherlands Crude Materials 10,370,900

8 France Wine 10,000,600

9 Argentina Cake of Soybeans 7,127,460

10 United Kingdom Bever. Dist.Alc 6,752,110

11 Canada Wheat 6,727,650

12 Indonesia Rubber Nat Dry 6,041,880

13 Brazil Chicken meat 5,821,980

14 France Wheat 5,598,810

15 Thailand Rice Milled 5,359,540

16 Thailand Rubber Nat Dry 5,334,490

17 Italy Wine 5,277,540

18 Argentina Soybean oil 4,895,930

19 United States of America Cotton lint 4,832,010 Sumber : FAOSTAT 2010

Berdasarkan Tabel 3, nilai ekspor Palm Oil adalah nilai ekspor tertinggi kedua setelah Soybeans pada tahun 2008 dengan nilai ekspor sebesar 25,144,200,000 US $. Nilai tersebut merupakan gabungan nilai ekspor Palm Oil Indonesia dan Malaysia sebagai dua negara eksportir terbesar Palm Oil.

Penyerapan CPO dunia pada perdagangan internasional umumnya didominasi oleh empat negara importir diantaranya India, Belanda, Malaysia dan

2 UN Comtrade. 2011, diolah

(24)

Singapura. Daya serap keempat persentase market share

tahun terakhir impor CPO dunia 2008 dapat dilihat pada Gambar 3

Gambar 3. Persentase Jumlah Impor CPO Importers

Sumber : UN Comtrade, 2011

Gambar 3 memberikan informasi bahwa keseluruhan impor CPO dunia

3.871.466.693 kg diikuti oleh Belanda, 12,25 persen (968.261.882 kg)

(504.286.597 kg). Pada data diatas, total volume impor CPO India mendekati angka 50 persen, dan masing

angka 15 persen dari total impor CPO dunia CPO masing-masing negara pada tahun

7.27%

6.38%

4.19%

3.84%

3.87%

2.85% 2.31%

1.82%

1.30%

Sum Total of Quantity (kg) : 7.904.178.630

Daya serap keempat negara importir CPO diatas dapat dilihat dari hare komoditas CPO tahun 2008-2010 yang merupakan tiga tahun terakhir impor CPO dunia. Adapun persentase market share

pada Gambar 3.

Persentase Jumlah Impor CPO (Kg) dari Negara Importers Tahun 2008

Sumber : UN Comtrade, 2011 (diolah)

memberikan informasi bahwa 48,98 persen keseluruhan impor CPO dunia tahun 2008 dilakukan oleh India

diikuti oleh Belanda, Malaysia dan Singapura masing 12,25 persen (968.261.882 kg), 7,27 persen (574.633.786 kg), dan

Pada data diatas, total volume impor CPO India mendekati dan masing-masing negara lainnya hanya mengimpor di bawah rsen dari total impor CPO dunia. Persentase Market Share

masing negara pada tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar 4

48.98%

12.25%

1.65%

1.20%

2.10%

Sum Total of Quantity (kg) : 7.904.178.630

India Netherlands Malaysia Singapore Italy Germany China Pakistan Ukraine Egypt Bangladesh Spain Viet Nam Other

7 negara importir CPO diatas dapat dilihat dari yang merupakan tiga market share CPO tahun

) dari Negara-negara Top

48,98 persen dari total India yaitu sebesar Malaysia dan Singapura masing-masing dan 6,38 persen Pada data diatas, total volume impor CPO India mendekati masing negara lainnya hanya mengimpor di bawah Market Share komoditas dilihat pada Gambar 4.

India Netherlands Malaysia Singapore Italy Germany China Pakistan Ukraine Egypt Bangladesh Spain Viet Nam Other

(25)

Gambar 4. Persentase Jumlah Impor CPO (Kg Importers

Sumber : UN Co

Gambar 4 menunjukkan tahun 2009 yaitu India

11,05 persen (1.057.125.438 kg), Malaysia sebesar 11,01 persen kg) dan Italia sebesar 7 persen (669.672.233 kg)

sebesar 9.566.746.050 kg.

Pada tahun 2009 terjadi perubahan persentase jumlah impor CPO dunia pada empat besar negara importir CPO

sebesar 48,98 persen pada tahun 2008 menjadi 46 persen pada tahun 2009 turun 2,98 persen, penurunan impor

tahun 2008 menjadi 11,05 persen pada tahun 200

kenaikan impor CPO Malaysia sebesar 7,27 persen pada tahun 2008 menjadi 11,01 persen pada tahun 2009

market share dengan masuknya Italia pada empat besar negara Adapun market share

Gambar 5.

11%

7%

6%

4%

4%3% 2%

1%

1%

Sum Total of Quantity (kg) : 9.566.746.050

Persentase Jumlah Impor CPO (Kg) dari Negara Importers Tahun 2009

mber : UN Comtrade, 2011 (diolah)

menunjukkan jumlah impor CPO masing-masing negara pada tahun 2009 yaitu India sebesar 46 persen (4.400.703.183 kg), Belanda sebesar 11,05 persen (1.057.125.438 kg), Malaysia sebesar 11,01 persen

kg) dan Italia sebesar 7 persen (669.672.233 kg) dari total impor CPO dunia sebesar 9.566.746.050 kg.

Pada tahun 2009 terjadi perubahan persentase jumlah impor CPO dunia pada empat besar negara importir CPO yaitu terjadi penurunan impor CPO India sebesar 48,98 persen pada tahun 2008 menjadi 46 persen pada tahun 2009

2,98 persen, penurunan impor CPO Belanda sebesar 12,25 persen pada tahun 2008 menjadi 11,05 persen pada tahun 2009 ataun turun 2,1 persen kenaikan impor CPO Malaysia sebesar 7,27 persen pada tahun 2008 menjadi 11,01 persen pada tahun 2009 atau naik 3,74 persen, dan perubahan komposis

dengan masuknya Italia pada empat besar negara

hare negara-negara importir CPO tahun 2010 dapat dilihat pada

46%

11%

1%

1% 1%

2%

Sum Total of Quantity (kg) : 9.566.746.050

India Netherlands Malaysia Italy Singapore Germany China Spain Viet Nam Ukraine Egypt

United Rep. of Tanzania Bangladesh

Other

8 ) dari Negara-negara Top

masing negara pada sebesar 46 persen (4.400.703.183 kg), Belanda sebesar 11,05 persen (1.057.125.438 kg), Malaysia sebesar 11,01 persen (1.053.298.740 dari total impor CPO dunia

Pada tahun 2009 terjadi perubahan persentase jumlah impor CPO dunia penurunan impor CPO India sebesar 48,98 persen pada tahun 2008 menjadi 46 persen pada tahun 2009 atau CPO Belanda sebesar 12,25 persen pada 9 ataun turun 2,1 persen, kenaikan impor CPO Malaysia sebesar 7,27 persen pada tahun 2008 menjadi dan perubahan komposisi dengan masuknya Italia pada empat besar negara importir CPO.

dapat dilihat pada

Netherlands Malaysia

Singapore Germany

Viet Nam

United Rep. of Tanzania Bangladesh

(26)

Gambar 5. Persentase Jumlah Impor CPO (Ton) dari Negara Importers

Sumber : UN Comtrade, 2011 (d

Berdasarkan informasi pada Gambar 5 dikuasai oleh India, Belanda, Malaysia

share masing-masing

keseluruhan impor CPO sebesar demikian kedudukan ke

penyerapan CPO dunia dapat dijadikan sebagai kepastian pasar bagi negara negara eksportir CPO seperti Indo

Indonesia sebagai negara sebagai negara importir

dibawah naungan WTO. Sehingga dilakukan analisis terhadap perdagangan komoditas CPO WTO tersebut, faktor

GDP negara Indonesia dan GDP ke Indonesia dengan ke

keduanya dan harga CPO

dibahas melalui pendekatan statistik berdasarkan gravitasi. Upaya-upaya

10%

6%

6%

4%

3% 2% 2%

1%

Sum Total of Quantity (kg) : 9.444.170.400

Persentase Jumlah Impor CPO (Ton) dari Negara Importers Tahun 2010

Sumber : UN Comtrade, 2011 (diolah)

dasarkan informasi pada Gambar 5, dominasi impor CPO tetap India, Belanda, Malaysia, dan Singapura dengan persentase

masing 47 persen, 14 persen, 10 persen, dan 6,61 persen keseluruhan impor CPO sebesar 9.444.170.400 kg pada tahun demikian kedudukan keempat negara mitra dagang utama

penyerapan CPO dunia dapat dijadikan sebagai kepastian pasar bagi negara negara eksportir CPO seperti Indonesia.

Indonesia sebagai negara eksportir dan empat negara mitra dagang

importir telah melakukan kerja sama perdagangan komoditas CPO dibawah naungan WTO. Sehingga berdasarkan hal tersebut, selanjutnya dilakukan analisis terhadap pengaruh kebijakan WTO terhadap perdagangan komoditas CPO melalui pendekatan deskriptif. Selain

faktor-faktor lain penarik aliran perdagangan CPO lainnya negara Indonesia dan GDP keempat negara mitra dagang utama

Indonesia dengan keempat negara mitra dagang utama, nilai tukar diantara dan harga CPO Indonesia ke empat negara mitra dagang utama dibahas melalui pendekatan statistik berdasarkan Gravity Model

upaya tersebut dilakukan dalam mempertahankan eksistensi

47%

14%

1%

1%1% 0%

2%

Sum Total of Quantity (kg) : 9.444.170.400

India Malaysia Netherlands Italy Singapore Germany Spain Viet Nam Ukraine China Bangladesh

United Rep. of Tanzania Côte d'Ivoire

Egypt Other

9 Persentase Jumlah Impor CPO (Ton) dari Negara-negara Top

dominasi impor CPO tetap dengan persentase market 6,61 persen dari total pada tahun 2010. Dengan mitra dagang utama tersebut bagi penyerapan CPO dunia dapat dijadikan sebagai kepastian pasar bagi negara-

negara mitra dagang utama telah melakukan kerja sama perdagangan komoditas CPO berdasarkan hal tersebut, selanjutnya akan WTO terhadap aliran . Selain pengaruh penarik aliran perdagangan CPO lainnya adalah mitra dagang utama, jarak antara nilai tukar diantara Indonesia ke empat negara mitra dagang utama yang odel atau model mempertahankan eksistensi

Malaysia Netherlands

Singapore Germany

Viet Nam

Bangladesh

United Rep. of Tanzania Côte d'Ivoire

(27)

10 ekspor CPO untuk tetap menjaga kepastian pasar atau kembali mencari pasar potensial jika pasar yang telah ada sudah tidak berpotensi.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan yang menjadi fokus penelitian sebagai berikut :

1. Bagaimana pengaruh kebijakan WTO terhadap aliran perdagangan CPO antara Indonesia dengan empat mitra dagang utama?

2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi volume ekspor Crude palm Oil (CPO) ke empat negara mitra dagang utama berdasarkan Gravity Model (model gravitasi)?

3. Bagaimanakah potensi ekspor Crude palm Oil (CPO) Indonesia ke empat negara mitra dagang utama?

1.3. Tujuan penelitian

Berdasarkan permasalahan yang dihadapi, maka tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah :

1. Menganalisis pengaruh kebijakan WTO terhadap aliran perdagangan CPO antara Indonesia dengan empat mitra dagang utama.

2. Menganalisis faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi volume ekspor Crude palm Oil (CPO) ke empat negara mitra dagang utama berdasarkan Gravity Model (model gravitasi).

3. Menganalisis potensi ekspor Crude palm Oil (CPO) Indonesia ke empat negara mitra dagang utama.

1.4. Manfaat Penelitiaan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna dan memberikan informasi serta sebagai referensi bagi pihak-pihak berkepentingan sebagai berikut :

1. Pengambil kebijakan strategis baik di tingkat makro seperti Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian dan di tingkat mikro seperti para forcester bisnis sebagai bahan dalam pengambilan kebijakan baik bersifat ekspansif ataupun preventif.

2. Lembaga Riset Komoditi Ekspor dan para pembaca umumnya yang membutuhkan informasi mengenai potensi ekspor komoditi perkebunan

(28)

11 khususnya CPO dan data time series ekspor CPO sebagai bahan dalam kajian-kajian berikutnya.

1.5. Keterbatasan Penelitiaan

Keterbatasan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Determinan dalam Gravity Model sebagai kerangka kerja dalam menganalisis potensi ekspor komoditi CPO terdiri dari volume ekpsor Indonesia ke empat negara mitra dagang sebagai variabel dependen, GDP negara Indonesia dan GDP negara keempat mitra dagang utama, jarak antara Indonesia dengan keempat negara mitra dagang utama, nilai tukar (excange rate) dan harga CPO dunia sebagai variabel independen.

2. Variabel jarak pada Gravity Model dimodifikasi dengan menambahkan pengaruh harga minyak dunia pada panel data karena keterbatasan dalam pengolahan data pada program Eviews 6.0.

3. Panel data yang digunakan dalam menganalisis potensi ekspor CPO Indonesia terdiri dari data time series tahun 2000-2010 dan data cross section empat negara utama pengimpor CPO.

(29)

12 II TINJAUAN PUSTAKA

2.2. Perkembangan Produksi dan Ekspor CPO (Crude palm Oil) Indonesia Indonesia sebagai salah satu negara eksportir CPO terbesar di dunia telah mengekspor CPO sejak pelita I sampai pelita II (1969-1978) dengan peningkatan produksi maupun volume ekspor mencapai 72-99 persen dari total produksi yang dihasilkan3. Peningkatan volume ekspor tersebut secara langsung dipengaruhi oleh tingginya konsumsi CPO dunia sebagai salah satu minyak nabati dengan pertumbuhan sebesar 14,21 persen per tahun melampaui volume perdagangan jenis minyak nabati lainnya4. Adapun perkembangan konsumsi CPO dunia dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Perkembangan Konsumsi CPO (crude Palm Oil) Dunia Tahun 2000- 2010

Tahun Volume Impor (kg) Pertumbuhan (%/thn)

2000 2,658,906,814 -

2001 3,692,292,957 27.99

2002 4,385,857,289 15.81

2003 4,721,227,888 7.10

2004 5,789,846,856 18.46

2005 6,923,447,160 16.37

2006 8,392,092,987 17.50

2007 8,862,800,135 5.31

2008 11,538,504,748 23.19

2009 13,110,899,342 11.99

2010 12,901,496,146 -1.62

Rata-rata pert/thn 14,21 % 14.21%

Sumber : UN Comtrade, 2011 (diolah)

Berdasarkan Tebel 4, dapat disimpulkan bahwa konsumsi CPO dunia mengalami peningkatan volume ekspor dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 14,21 persen per tahun pada tahun 2000-2011. Menurut Sitorus (2009), dalam perkembangannya konsumsi CPO dunia secara umum digunakan sebagai bahan

3 Abidin Z. 2008. Analisis Ekspor Minyak Kelapa Sawit (CPO) Indonesia. Jurnal Aplikasi Manajemen 6: 139-144

4 Loc.cit

(30)

13 pangan dan non pangan serta sebagai sumber energi alternatif (bio fuel).

Tingginya konsumsi CPO dunia dalam memenuhi kebutuhan nabati dan energi tersebut memberikan andil dalam peningkatan ekspor CPO Indonesia. Hal ini digambarkan secara jelas dalam peningkatan volume dan nilai ekspor CPO Indonesia tahun 2000-2010 seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 5.

Tabel 5. Perkembangan Volume dan Nilai Ekspor CPO (Crude Palm Oil) Indonesia Tahun 2001-2010

Tahun Nilai Ekspor (US $) Volume Ekspor (Kg)

2000 476,438,245 1,817,664,367

2001 406,409,025 1,849,142,144

2002 891,998,644 2,804,792,251

2003 1,062,214,890 2,892,130,288

2004 1,444,421,828 3,819,926,626

2005 1,593,295,437 4,565,624,657

2006 1,993,666,661 5,199,286,871

2007 3,738,651,552 5,701,286,129

2008 6,561,330,490 7,904,178,630

2009 5,702,126,189 9,566,746,050

2010 7,649,965,932 9,444,170,400

Pert/thn 14.44% 20.92%

Sumber : UN Comtrade, 2011 (diolah)

Berdasarkan Tabel 5, dapat disimpulkan bahwa terjadi pertumbuhan ekspor CPO Indonesia periode tahun 2000-2010 baik dilihat dari nilai ekspor maupun volume ekspor dengan pertumbuhan volume ekspor sebesar 20,92 persen dan nilai ekspor sebesar 14,44 persen. Tabel 5 juga menyajikan informasi mengenai perbandingan perkembangan volume ekspor dan nilai ekspor CPO yang digunakan untuk melihat pengaruh harga CPO dalam perkembangan ekspor CPO Indonesia.

Pada periode tahun 2008-2009 terjadi peningkatan volume ekspor CPO sebesar 7.904.178.630 kg pada tahun 2008 menjadi 9.566.746.050 kg pada tahun 2009. Pada periode yang sama, terjadi penurunan dalam nilai ekspor CPO sebesar 6.561.330.490 US $ pada tahun 2008 menjadi 5.702.126.189 US $ pada tahun 2009. Begitupula ditunjukkan oleh perkembangan ekspor CPO pada periode 2009-2010. Hal tersebut membawa pemahaman bahwa peningkatan volume

(31)

14 ekspor tidak selalu berbanding positif dengan peningkatan nilai ekspor akibat terjadinya fluktuasi harga CPO. Perkembangan harga CPO di tingkat BKDI dan di tingkat dunia tahun 2000-2010 dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6. Perkembangan harga CPO di Tingkat BKDI dan Dunia Tahun 2000- 2010

Sumber : UN Comtrade, 2011 (diolah)

Berdasarkan informasi dari Gambar 6, perkembangan harga CPO baik di tingkat BKDI (Bursa Komoditi Derivatif Indonesia) maupun di tingkat dunia menunjukkan trend yang meningkat selama 10 tahun terakhir. Pada gambar 6 dapat diketahui pula bahwa harga CPO di tingkat BKDI cenderung mengikuti pola sebaran harga di tingkat dunia dengan gap tertinggi pada tahun 2000 sebesar 0,06 US $/kg. Hal tersebut mengindikasikan bahwa tingkat harga CPO di BKDI merupakan salah satu acuan dalam penetapan harga CPO dunia.

Peningkatan harga CPO di tingkat dunia berdampak langsung terhadap peningkatan produksi CPO Indonesia. Menurut Sitorus (2009), sejalan dengan konsep penawaran, maka produksi CPO Indonesia akan meningkat seiiring dengan peningkatan harga CPO dunia. Adapun perkembangan produksi CPO Indonesia dapat dilihat pada Tabel 6.

2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 BKDI 0.26 0.22 0.32 0.37 0.38 0.35 0.38 0.66 0.83 0.6 0.81 Dunia 0.32 0.26 0.35 0.41 0.42 0.36 0.4 0.65 0.84 0.61 0.81

0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9

US $ / Kg

(32)

15 Tabel 6. Perkembangan Produksi CPO (Crude Palm Oil) Indonesia Tahun 2000-

2000

Tahun Bentuk Usaha (Ton)

PR PBN PBS Total

2000 1,905,653 1,460,954 3,633,901 7,000,508

2001 2,798,032 1,519,289 4,079,151 8,396,472

2002 3,426,740 1,607,734 4,587,871 9,622,345

2003 3,517,324 1,750,651 5,172,859 10,440,834

2004 3,847,157 1,617,706 5,365,526 10,830,389

2005 4,500,769 1,449,254 5,911,592 11,861,615

2006 5,783,088 2,313,729 9,254,031 17,350,848

2007 6,358,389 2,117,035 9,189,301 17,664,725

2008 6,923,042 1,938,134 8,678,612 17,539,788

2009 7,247,979 1,961,813 9,431,089 18,640,881

2010* 7,774,036 2,089,908 9,980,957 19,844,901

Pert/thn 12.65% 2.38% 8.92% 9.42%

Keterangan : *) angka sementara

Sumber : Direktoran Jenderal Perkebunan, 2011

Perkembangan produksi CPO Indonesia tahun 2000-2010 pada Tabel 6 dihitung berdasarkan bentuk pengusahaan yang terdiri dari Perkebunan Rakyat (PR), Perkebunan Besar Nasional (PBN) dan Perkebunan Besar Swasta (PBS) dengan persentase pertumbuhan produksi sebesar 12,65 persen (PR), 2,38 persen (PBN) dan 8,92 persen (PBS). PR merupakan bentuk pengusahaan CPO yang mengalami pertumbuhan produksi tertinggi yaitu sebesar 12,65 persen per tahun meskipun jumlah produksi totalnya masih di bawah PBS. Adapun jumlah produksi masing-masing pengusahaan adalah 36,25 persen, 13,29 persen dan 50,46 persen terhadap total produksi tahun 2000-2010.5 Hal tersebut disebabkan oleh tingginya produktivitas CPO pada pengusahaan CPO di Indonesia6. Saat ini Indonesia adalah penghasil CPO terbesar di dunia mengungguli Malaysia sejak tahun 20067

5 Direktorat Jenderal Perkebunan, 2011 (diolah)

6 Abidin Z. 2008. Op.cit. Hlm 12

7 Loc.cit

(33)

16 2.3. Tinjauan Umum World Trade Organization (WTO)

World Trade Organization (WTO) atau Organisasi Perdagangan Dunia merupakan satu-satunya badan internasional yang secara khusus mengatur masalah perdagangan antar negara. Sistem perdagangan multilateral WTO diatur melalui suatu persetujuan yang berisi aturan-aturan dasar perdagangan internasional sebagai hasil perundingan yang telah ditandatangani oleh negara- negara anggota. Persetujuan tersebut merupakan kontrak antar negara-anggota yang mengikat pemerintah untuk mematuhinya dalam pelaksanaan kebijakan perdagangannya (Sitorus 2009). Walaupun ditandatangani oleh pemerintah, tujuan utamanya adalah untuk membantu para produsen barang dan jasa, eksportir dan importir dalam kegiatan perdagangan.

WTO secara resmi berdiri pada tanggal 1 Januari 1995, tetapi sistem perdagangan itu sendiri telah ada setengah abad yang lalu. Sejak tahun 1948, General Agreement on Tarifs and Trade (GATT) atau Persetujuan Umum mengenai Tarif dan Perdagangan telah membuat aturan-aturan untuk sistem ini.

Sejak tahun 1948-1994 sistem GATT memuat peraturan-peraturan mengenai perdagangan dunia dan menghasilkan pertumbuhan perdagangan internasional tertinggi.

Pada awalnya GATT ditujukan untuk membentuk International Trade Organization (ITO), suatu badan khusus PBB yang merupakan bagian dari sistem Bretton Woods (IMF dan bank Dunia). Meskipun Piagam ITO akhirnya disetujui dalam UN Conference on Trade and Development di Havana pada bulan Maret 1948, proses ratifikasi oleh lembaga-lembaga legislatif negara tidak berjalan lancar. Tantangan paling serius berasal dari kongres Amerika Serikat, yang walaupun sebagai pencetus, AS tidak meratifikasi Piagam Havana sehingga ITO secara efektif tidak dapat dilaksanakan. Meskipun demikian, GATT tetap merupakan instrument multilateral yang mengatur perdagangan internasional.

Hampir setengah abad teks legal GATT masih tetap sama sebagaimana pada tahun 1948 dengan beberapa penambahan diantaranya bentuk persetujuan plurilateral (disepakati oleh beberapa negara saja) dan upaya-upaya pengurangan tarif (Sitorus 2009).

(34)

17 Masalah-masalah perdagangan diselesaikan melalui serangkaian perundingan multilateral yang dikenal dengan nama Putaran Perdagangan (trade round), sebagai upaya untuk mendorong liberalisasi perdagangan internasional.

Adapun beberapa putaran perdagangan sebagai cikal bakal terbentuknya WTO dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Putaran Perdagangan (Trade Round) Menuju Terbentuknya WTO

Tahun Tempat

(Nama) Pokok Cakupan Jml.

Negara

1947 Geneva Tariffs 23

1949 Annecy Tariffs 13

1951 Torquay Tariffs 38

1956 Geneva Tariffs 26

1960-1961 Geneva

(Dillon Round) Tariffs 26

1964-1967 Geneva

(Kennedy Round)

Tariffs and anti-dumping

measures 62

1973-1979 Geneva

(Tokyo Round)

Tariffs, non-tariff measures,

“framework” agreements 102

1986-1994

Geneva

(Uruguay Round)

Tariffs, non-tariff measures, rules, services, intellectual

property, dispute settlement, textiles, agriculture, creation of WTO, etc

123

Sumber : World Trade Organization (2006) diacu dalam Widayanto (2007)

Persetujuan-persetujuan WTO mencakup bidang pertanian, tekstil dan pakaian, jasa keuangan, telekomunikasi, standardisasi industri, peraturan Sanitary and Phytosanitary, hak atas kekayaan intelektual dan lain-lain. Walaupun terdapat banyak persetujuan dalam WTO, beberapa prinsip dasar di bawah ini terkandung dalam persetujuan-persetujuan tersebut (Widayanto 2007).

a. Perlakuan sama terhadap semua mitra dagang (Most Favored Nation-MFN) Dengan berdasarkan prinsip MFN, negara-negara anggota tidak dapat begitu saja mendiskriminasi mitra-mitra dagangnya. Keringanan tarif impor yang diberikan pada produk suatu negara harus diberikan pula kepada produk impor dari mitra dagang negara anggota lainnya. Meskipun demikian terdapat pengecualian yang diperbolehkan. Salah satu contohnya adalah negara-negara

(35)

18 anggota yang membentuk persetujuan perdagangan bebas diperbolehkan untuk tidak memberikan preferensi yang sama untuk negara di luar kelompok ini atas komitmen penurunan tarif barang. Pada bidang jasa, sebuah negara diperbolehkan melakukan diskriminasi dalam batas dan kondisi tertentu.

b. Perlakuan Nasional (National Treatment)

Negara anggota diwajibkan untuk memberikan perlakuan sama atas barang impor dan lokal, paling tidak setelah barang impor memasuki pasar domestik.

Perlakuan nasional yang meliputi bidang barang, jasa dan hak atas kekayaan intelektual tersebut diterapkan pada saat suatu produk memasuki pasar domestik. Prinsip National Treatment tercantum dalam tiga persetujuan utama WTO (pasal 3 GATT, pasal 17 GATS dan pasal 3 TRIPs). Masing-masing persetujuan tersebut mempunyai perbedaan dalam implementasi prinsip dimaksud. Namun demikian, pengenaan bea masuk terhadap barang impor bukan merupakan pelanggaran terhadap perlakuan nasional, bahkan jika produk-produk lokal tidak dikenakan pajak yang setara.

c. Transparansi (Transparency)

Negara anggota wajib bersikap terbuka/transparan mengenai berbagai kebijakan perdagangannya sehingga memudahkan para pelaku usaha untuk melakukan kegiatan perdagangan. Untuk mendukung prinsip ini, negara anggota wajib menotifikasi segala kebijakannya yang terkait dengan perdagangan dan dilengkapi dengan mekanisme tinjauan kebijakan perdagangan dari masing-masing anggota WTO secara periodik.

Persetujuan Bidang Pertanian (Agreement on Agriculture) atau AoA sebagai salah satu persutujuan hasil putaran Uruguay yang berlaku sejak tanggal 1 Januari 1995 bertujuan untuk melakukan reformasi kebijakan perdagangan di bidang pertanian dalam rangka menciptakan suatu sistem perdagangan pertanian yang adil dan berorientasi pasar. Program reformasi tersebut berisi komitmen- komitmen spesifik untuk mengurangi subsidi domestik, subsidi ekspor dan meningkatkan akses pasar melalui penciptaan peraturan dan disiplin GATT yang kuat dan efektif. Persetujuan tersebut juga meliputi isu-isu di luar perdagangan seperti ketahanan pangan, perlindungan lingkungan, perlakuan khusus dan

(36)

19 berbeda (special and differential treatment) bagi negara-negara berkembang, termasuk juga perbaikan kesempatan dan persyaratan akses untuk produk-produk pertanian bagi negara-negara tersebut.

Persetujuan Bidang Pertanian menetapkan sejumlah peraturan pelaksanaan tindakan-tindakan perdagangan di bidang pertanian, terutama yang menyangkut akses pasar, subsidi domestik dan subsidi ekspor.

a. Akses Pasar

Dilihat dari sisi akses pasar, Putaran Uruguay telah menghasilkan perubahan sistemik yang sangat signifikan. Perubahan dari situasi dimana sebelumnya ketentuan-ketentuan non-tarif yang menghambat arus perdagangan produk pertanian menjadi suatu rezim proteksi pasar berdasarkan pengikatan tarif beserta komitmen-komitmen pengurangan subsidinya. Aspek utama dari perubahan yang fundamental ini adalah stimulasi terhadap investasi, produksi dan perdagangan produk pertanian melalui : (i) akses pasar produk pertanian yang transparan, prediktabel dan kompetitif, (ii) peningkatan hubungan antara pasar produk pertanian nasional dengan pasar internasional, dan (iii) penekanan pada mekanisme pasar yang mengarahkan penggunaan yang paling produktif terhadap sumber daya yang terbatas, baik di sektor pertanian maupun perekonomian secara luas.

Umumnya tarif merupakan satu-satunya bentuk proteksi produk pertanian sebelum Putaran Uruguay. Pada Putaran Uruguay, yang disepakati adalah diikatnya tarif pada tingkat maksimum. Namun bagi sejumlah produk tertentu, pembatasan akses pasar juga melibatkan hambatan-hambatan non-tarif. Putaran Uruguay bertujuan untuk menghapuskan hambatan-hambatan tersebut. Untuk itu disepakati suatu paket tarifikasi yang diantaranya mengganti kebijakan-kebijakan non-tarif produk pertanian menjadi kebijakan tarif yang memberikan tingkat proteksi yang sama.

Negara anggota dari kelompok negara maju sepakat untuk mengurangi tarif mereka sebesar rata-rata 36% pada seluruh produk pertanian, dengan pengurangan minimum 15% untuk setiap produk, dalam periode enam tahun sejak tahun 1995. Bagi negara berkembang, pengurangannya adalah 24% dan minimum

(37)

20 10% untuk setiap produk. Negara terbelakang diminta untuk mengikat seluruh tarif pertaniannya namun tidak diharuskan untuk melakukan pengurangan tarif.

b. Subsidi Domestik

Subsidi domestik dibagi ke dalam dua kategori. Kategori pertama adalah subsidi domestik yang tidak terpengaruh atau kalaupun ada sangat kecil pengaruhnya terhadap distorsi perdagangan (green box) sehingga tidak perlu dikurangi. Kategori kedua adalah subsidi domestik yang mendistorsi perdagangan (amber box) sehingga harus dikurangi sesuai komitmen.

Berkaitan dengan kebijakan yang diatur dalam green box terdapat tiga jenis subsidi lainnya yang dikecualikan dari komitmen penurunan subsidi yaitu kebijakan pembangunan tertentu di negara berkembang, pembayaran langsung pada program pembatasan produksi (blue box), dan tingkat subsidi yang disebut de minimis.

c. Subsidi Ekspor

Hak untuk memberlakukan subsidi ekspor pada saat ini dibatasi pada: (i) subsidi untuk produk-produk tertentu yang masuk dalam komitmen untuk dikurangi dan masih dalam batas yang ditentukan oleh skedul komitmen tersebut;

(ii) kelebihan pengeluaran anggaran untuk subsidi ekspor ataupun volume ekspor yang telah disubsidi yang melebihi batas yang ditentukan oleh skedul komitmen tetapi diatur oleh ketentuan fleksibilitas hilir (downstream flexibility); (iii) subsidi ekspor yang sesuai dengan ketentuan S&D bagi negara-negara berkembang; dan (iv) Subsidi ekspor di luar skedul komitmen tetapi masih sesuai dengan ketentuan anti-circumvention. Segala jenis subsidi ekspor di luar hal-hal di atas adalah dilarang.

2.4. Penelitian Terdahulu

Yuniarti (2007) meneliti tentang determinan perdagangan bilateral Indonesia dengan pendekatan Gravity Model. Penelitian tersebut bertujuan untuk melakukan estimasi terhadap determinan perdagangan Billateral Indonesia.

Adapun determinan yang dimasukan kedalam model meliputi pendapatan nasional

Gambar

Gambar 1.   Perkembangan  Volume  Neraca  Perdagangan  Komoditas  Pertanian  Tahun 2004-2008
Gambar 2.   Perbandingan  Volume  Ekspor  Komoditas  Perkebunan  Indonesia  Tahun 2004-2009
Tabel 3.  Nilai  Ekspor  Berbagai  Komoditas  Andalan  Ekspor  dari  Negara-negara  Eksportir Utama Tahun 2008
Gambar 4.   Persentase  Jumlah  Impor  CPO  (Kg Importers
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil uji F menunjukkan harga CPO dunia, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika, dan waktu berpengaruh sangat nyata terhadap penawaran ekspor CPO Indonesia.. Hasil uji

Hasil Analisis Regresi Pengaruh Harga CPO Dunia, Harga Minyak Rapeseed Dunia, Harga Minyak Kedelai Dunia, PDB Uni Eropa, Konsumsi Uni Eropa dan Kebijakan Perdagangan CSPO

Tema yang dipilih dalam penelitian ini adalah kebijakan perdagangan internasional dengan judul Analisis Pengaruh Non-Tariff Measures terhadap Ekspor Komoditi Crude

Kurs juga dapat mempengaruhi nilai maupun volume ekspor CPO Indonesia dimana jika mata uang negara eksportir mengalami depresiasi atau penurunan nilai mata uang, maka

kelapa sawit adalah bahan bakar minyak, dimana dengan ditemukannya teknologi ini otomatis kebutuhan CPO sebagai produk turunan pertama kelapa sawit meningkat tajam yang pada

Predictors: (Constant), Pertumbuhan Ekonomi, Produksi, Nilai Tukar, Harga Iternasional. Dependent Variable:

Hasil Analisis Regresi Pengaruh Harga CPO Dunia, Harga Minyak Rapeseed Dunia, Harga Minyak Kedelai Dunia, PDB Uni Eropa, Konsumsi Uni Eropa dan Kebijakan Perdagangan CSPO

Salah satu pengembangan penelitian adalah kelanjutan dari temuan ilmiah dari penelitian ini yaitu menganalisis determinan ekspor CPO Indonesia ke Uni Eropa dengan