TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kebijakan Publik
2.3. Model Implementasi Kebijakan Publik
Implementasi Kebijakan dipandang dalam pengertian yang luas, merupakan tahap dari proses kebijakan segera dan setelah penetapan kebijakan baik dalam bentuk undang-undang maupun keputusan pemegang otoritas pemerintah. Implementasi dipandang secara luas mempunyai makna pelaksanaan dari apa yang telah direncanakan dengan melibatkan actor, organisasi, prosedur, dan teknik bekerja bersama-sama untuk menjalankan kebijakan dalam upaya untuk meraih tujuan-tujuan kebijakan atau
program-implementasi kebijakan, berikut model-model program-implementasi kebijakan menurut beberapa ahli studi kebijakan impelementasi sebagai berikut.
2.3.1 Model Mazmanian dan Sabatier
Model Mazmanian dan Sabatier (Putra, 2003:86), menjelaskan makna implementasi dengan mengatakan bahwa :
Hakikat utama implementasi kebijakan adalah memahami apa yang seharusnya terjadi sesudah suatu program dinyatakan berlaku atau dirumuskan. Pemahaman tadi mencakup usaha-usaha untuk mengadministrasikannya dan untuk menimbulkan dampak nyata pada masyarakat atau kejadian-kejadian.
Mazmanian dan Sabatier lebih lanjut mengemukakan bahwa :
Definisi ini menekankan tidak hanya melibatkan perilaku badan-badan administratif yang bertanggung jawab untuk melaksanakan program dan menimbulkan ketaatan pada diri kelompok sasaran, tetapi juga menyangkut jaringan kekuatan politik, ekonomi, social yang langsung atau tidak langsung dapat memengaruhi perilaku dari semua pihak yang terlibat dan akhirnya berdampak pada yang diharapkan (intended) maupun yang tidak diharapkan (unintended) dari suatu program.
Mazmanian dan Sabatier menjelaskan lebih rinci proses implementasi kebijakan dengan mengemukakan bahwa implementasi adalah pelaksanaan keputusan kebijakan dasar, biasanya dalam bentuk undang-undang maupu peraturan, namun dapat pula berbentuk perintah-perintah atau keputusan-keputusan lembaga eksekutif. Proses ini berlangsung
setelah melalui sejumlah tahapan tertentu, kemudian out put kebijakan dalam bentuk pelaksanaan keputusan oleh badan (instansi) pelaksanaan, kesediaan dilaksanakannya keputusan-keputusan tersebut oleh kelompok-kelompok sasaran, dampak nyata baik yang mengambil keputusan, dan akhirnya perbaikan-perbaikan penting (atau upaya untuk melakukan perbaikan-perbaikan) terhadap undang-undang peraturan-peraturan yang bersangkutan.
Model yang dikemukakan oleh Sabatier dan mazmanian dalam putra meninjau kerangka analisisnya. Modelnya dikenal dan dianggap sebagai salah satu model top-down yang paling maju. Karena mereka telah mencoba mensinstesiskan ide-ide dari pencetus teori model top-down dan bottom up. Posisi model top-down diambil yang diambil oleh Sabatier dan Mazmanian terpusat pada hubungan antara keputusan-keputusan dengan pencapaiannya, formulasi dengan implementasinya, dan potensi hierarki dengan batas-batasnya, serta kesungguhan implementator untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam kebijakan tersebut.
Sedangkan untuk bottom-up, mereka mencoba memprediksikan hubungan antara para aktor yang terlibat dalam suatu kebijakan atau area problem, dengan keterbatasan hierarki formal dalam kondisi hubungan dengan lingkungan di luar peraturan.
Model top-down dikemukakan oleh Sabatier dan Mazmanian ini akan memberikan skor yang tinggi pada kesederhanaan dan keterpaduan, karena modelnya memaksimalkan perilaku berdasarkan pemikiran tentang sebab akibat, dengan tanggung jawab yang bersifat single atau penuh.
Model ini mempunyai skor rendah pada bukti-bukti penting atau realisme dan kemampuan pelaksana.
Model ini juga memandang bahwa implementasi kebijakan dapat berjalan secara mekanistis atau linier dalam pelaksanaan kebijakan yang diturunkan dalam bentuk program untuk mencapai keberhasilan yang mana perumusannya melibatkan beberapa aktor dalam mencapai tujuan yang ditetapkan melalui kebijakan yang dirumuskan dan dilaksanakan, maka penekanannya terpusat pada koordinasi antar lembaga maupun pemegang otoritas berdasarkan kewenangan-kewenangan, kompliansi dan kontrol yang efektif yang mengabaikan manusia sebagai target grup dan juga dari aktor lain dan seberapa luas akses kelompok-kelompok luar untuk berpartisipasi dalam implementasi kebijakan. Suatu program yang memberikan peluang luas bagi masyarakat untuk terlibat, relatif mendapat dukungan dari pada program yang tidak melibatkan masyarakat. Dengan mengabaikan manusia sebagai target grup maka mereka akan merasa terasing apabila hanya menjadi penonton terhadap program yang ada di wilayahnya, (2003:87)
Sumber : (Winarno 2012:36)
Gambar 2.2 Model implementasi kebijakan Sabatier dan Mazmanian
Variable Non-Peraturan
1. Ketersediaan teknologi dan teori teknis 2. Keseragaman perilaku kelompok
2.3.1 Model Merile S. Grindle
Implementasi kebijakan menurut Grindle (Wibawa, 2000:513) ditentukan oleh isi kebijakan dan konteks implementasinya. Dalam hal ini ide dasar Grindle menyatakan bahwa setelah kebijakan di transformasikan menjadi program aksi maupun proyek individual dan biaya telah disediakan, maka implementasi kebijakan dilakukan. Tetapi ini tidak berjalan mulus, tergantung pada Implementability dari program itu yang dapat dilihat dari pada isi dan konteks kebijakannya. Isi kebijakan mencakup : (1) Kepentingan yang terpengaruhi oleh kebijakan, (2) Jenis manfaat yang akan dihasilkan, (3) derajat perubahan yang diinginkan, (4) kedudukan pembuat kebijakan, (5) siapa pelaksana program dan (6) sumber daya yang dikerahkan.
Model implementasi kebijakan Grindle (1980:60), yakni implementasi sebagai proses politik dan administrasi. Merilee S. Grindle mengatakan implementasi memiliki tugas “....to establish a link that allows the goals of publik policies to be realized as outcomes of governmental activity. Implementasi adalah semacam jembatan yang menghubungkan antara tujuan kebijakan publik dengan realitas yang diinginkan.
Model ini diajukan oleh Grindle yang berusaha menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu kebijakan. Menurut Grindle keberhasilan suatu kebijakan dipengaruhi oleh content of policy dan context of policy. Content of policy mengacu kepada isi yang terdapat
dalam kebijakan yang dihasilkan. Sedangkan context of policy adalah kondisi lingkungan yang mewarnai implementasi kebijakan.
Model implementasi kebijakan tersebut dapat dilihat pada gambar 2.3. Pada model implementasi kebijakan tersebut terlihat, bahwa proses implementasi pada umumnya dapat dilaksanakan apabila tujuan dan sasaran yang bersifat umum (general goals dan objective telah ditetapkan, program telah dirancang, dan dana telah dialokasikan untuk mewujudkan tujuan tersebut. Ini merupakan syarat-syarat pokok bagi pelaksanaan kebijakan publik apapun. Secara teoritis, pada tahap ini proses formulasi kebijakan digantikan oleh proses implementasi kebijakan, dan kemudian program-program digerakkan. Namun perbedaan antara formulasi dan implementasi pada prakteknya sering tidak sesuai, karena umpan balik (feed back) dari prosedur-prosedur implementasi mungkin mengarahkan dilakukannya perubahan-perubahan dalam tujuan dan arah kebijakan.
Selain itu, tuntutan terhadap penafsiran kembali peraturan dan pedoman-pedoman mungkin menyebabkan banyaknya pembuatan kebijakan pada aspek implementasinya.
Hal yang lebih penting dalam proses implementasi adalah suatu kenyataan bahwa keputusan yang dibuat pada tahap rancangan dan formulasi sangat berpengaruh terhadap cara kerja implementasinya.
Misalnya, dampak terhadap implementasi dari keputusan untuk mengalokasikan dana sebesar tiga juta rupiah dalam rangka mencapai tujuan kebijakan tertentu, dibandingkan dengan keputusan untuk mengalokasikan dana sebesar tiga ratus juta rupah. Lagi pula, proses
implementasi besar dipengaruhi oleh jenis tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dan oleh cara tujuan-tujuan dirumuskan/dinyatakan. Oleh karena itu, formulasi keputusan mengenai jenis kebijakan yang akan dihasilkan dan bentuk program yang akan dilaksanakan merupakan faktor-faktor yang menentukan keberhasilan program-program yang akan dilaksanakan.
Grindle mengindentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas implementasi suatu kebijakan yang dikutip (Agustino, 2016:145), Aktifitas-aktifitas implementasi kebijakan dipengaruhi oleh contens dan context kebijakan yang bersangkutan. Pertama terdiri dari segala karakter yang ada pada kebijakan itu sendiri hal ini mempunyai implikasi dari pengaruh terhadap keberlangsungan pelaksanaan kebijakan. Kedua terdiri dari segala karakter yang ada di lingkungan dimana proses implementasi berlangsung dan dijalankan yang akan menimbulkan reaksi-reaksi aratu respon terhadap pelaksanaan kebijakan. Setelah kegiatan pelaksanaan kebijakan yang dipengaruhi oleh isi atau konten dan lingkungan atau konteks diterapkan, maka akan dapat diketahui apakah para pelaksana kebijakan dalam membuat sebuah kebijakan sesuai dengan apa yang diharapkan, juga dapat diketahui apakah suatu kebijakan dipengaruhi oleh suatu lingkungan dimana proses kebijakan dijalankan, sehingga terjadinya tingkat perubahan yang terjadi dan memantau sisi kelemahan atau catatan tambahan terhadap kebijakan yang dijalankan.
Sumber : (Grindle, Merilee S.1980,514) Gambar 2.3 Model implementasi Kebijakan Grindle
Tujuan
a. Content of Policy
Menurut Theodore Lowi (Agustino, 2016:8), suatu kebijakan yang akan dihasilkan sangat berdampak pada aktivitas pada proses pembuatan kebijakan (policy making process). Demikian pula apabila kebijakan tersebut akan ditetapkan pada waktu proses implementasi (policy implementation process).Suatu kebijakan akan berdampak terhadap berbagai individu atau kelompok yang kemungkinan mendapatkan kerugian atau keuntungan dari aktivitas implementasi kebijakan tersebut.
Perbedaan antara program-program yang menawarkan kemanfaatan secara kolektif/bersama (collective benefits) dengan program yang memberikan kemanfaatan secara terpisah (divisible benefits).
Kebijakan/program yang demikian akan mengerahkan lebih banyak tuntutan pada tahap implementasinya. Program penyediaan barang-barang kolektif (collective goods) misal penyediaan lampu penerangan dan air bersih pada lingkungan kumuh diperkotaan lebih mudah diimplementasikan karena adanya kepatuhan/kesediaan (compliance) dari kelompok-kelompok yang akan dipengaruhi, dan pada masa mendatang cenderung jumlah konflik atau penolakan akan berkurang. Sebaliknya program perumahan, kemungkinan menimbulkan konflik yang lebih buruk dan persaingan di antara pihak-pihak yang mencari keuntungan, akan lebih dilaksanakan seperti diharapkan.
Content of policy yang mempengaruhi implementasi kebijakan selanjutnya adalah perubahan yang diharapkan dari pihak-pihak yang memperoleh manfaat (beneficiaries) suatu program. Posisi para
pelaku/actor atau unit-unit organisasi dalam pengambilan keputusan (site of decision making) juga mempengaruhi implementasi kebijakan. Misal, kebijakan moneter biasanya melibatkan unit kunci terbatas pengambil kebijakan, yakni aktor/pejabat di jajaran tinggi pada departemen keuangan atau bank sentral.
Para pelaksana program (program implementor) menentukan implementasi kebijakan. Dalam hal ini menyangkut perbedaan kapasitas (keahlian, keaktifan, tanggung jawab) dari berbagai badan birokrasi untuk melaksanakan program secara sukses (berhasil). Keputusan yang dibuat selama perumusan kebijakan tentang siapa yang akan melaksanakan berbagai program dapat mempengaruhi bagaimana kebijakan tersebut dicapai.
b. Context of Policy
Context of policy merupakan faktor yang penting dalam menentukan outcome dari kegiatan implementasi. Namun context of policy merupakan faktor yang kritis karena pengaruhnya yang nyata (atau potensial) pada setting (keadaan) sosial, politik, dan ekonomi. Oleh karena itu perlu dipertimbangkan lingkungan dimana tindakan administrasi dilakukan.
Implementasi merupakan proses pengambilan keputusan yang berlangsung terus menerus, melibatkan berbagai actor/pelaku. Dalam proses pengadministrasian suatu program, banyak aktor/pelaku dikerahkan untuk membuat pilihan-pilihan mengenai alokasi sumber daya publik, dan berbagai pihak lain yang berusaha mempengaruhi
keputusan tersebut. Berbagai aktor yang terlibat dalam implementasi, misalnya perencana tingkat nasional, politisi nasional, regional, lokal, kelompok elit ekonomi, kelompok penerima program dari birokrasi pelaksana pada tingkat menengah dan bawah. Aktor-aktor tersebut apakah terlibat secara penuh atau tidak (secara marjinal) dalam implementasi tergantung pada content of policy program dan bentuk pengadministrasiannya.
Masing-masing aktor mempunyai kepentingan khusus terhadap program, dan masing-masing berusaha mencapainya dengan jalan mengajukan tuntutan mengenai prosedur alokasi sumber daya yang melibatkan beberapa aktor pelaksana lainnya berada dalam satu sektor dalam ruang lingkup kebijakan yang dijalankan. Seringkali tujuan (goals) dari para aktor berada pada arena konflik secara langsung dengan aktor lain dan dampak dari konflik tersebut beserta konsekuensinya (dalam hal
“who gets what”). akan ditentukan oleh strategi, sumber daya dan posisi kekuasaan dari masing-masing aktor yang terlibat. Dengan demikian, apa yang diimplementasikan merupakan hasil dari kalkulasi kepentingan politik. Kelompok-kelompok yang bersaing memperebutkan sumberdaya, tanggapan/respon dari pejabat pelaksana, dan tindakan elit politik, semuanya berinteraksi dalam konteks institusional/kelembagaan (institutional context), tertentu. Oleh karena itu analisis implementasi secara tidak langsung menilai “power capabilities” dari para aktor, kepentingannya dan strategi-strategi bagi pencapaian program dan karakteristik dimana interaksi berlangsung.
Dalam mencapai tujuan kebijakan maupun program para pejabat pelaksana, menghadapi dua masalah. Pertama, masalah bagaimana memperoleh kepatuhan (compliance) dengan tujuan akhir (ends) sebagaimana dinyatakan dalam kebijakan. Oleh karenanya, para pejabat pelaksana harus mendapatkan dukungan dari elit politik, dan kepatuhan dari badan-badan pelaksana program, elit politik di tingkat bawah dan pihak penerima manfaat dari program (beneficiaries). Di samping itu para pejabat harus dapat mengalihkan segala bentuk perlawanan dari pihak-pihak yang dirugikan, sehingga akhirnya mereka mau mendukung/menerima suatu program. Untuk memperoleh kepatuhan ini mungkin dicapai melalui bargaining, penyesuaian. dan juga konflik.
Masalah kedua, adalah masalah daya tanggap (responsiveness).
Idealnya institusi publik seperti birokrasi harus memiliki daya tanggap terhadap kebutuhan publiknya. Lagi pula, tanpa adanya daya tanggap selama proses implementasi pejabat publik akan kehilangan informasi yang dapat digunakan untuk mengevaluasi pencapaian program dan kehilangan dukungan yang diperlukan bagi keberhasilan program.
Masalahnya, pada satu sisi administrator kebijakan harus menjamin bahwa daya tanggapnya adalah dalam rangka untuk memberikan fleksibelitas, dukungan dan umpan balik. Namun pada saat yang sama harus melakukan kontrol (pengendalian) atas distribusi sumber daya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Keseimbangan ini sulit dicapai, dan karena itu diperlukan strategi dalam menghadapi reaksi dari aktor-aktor yang terlibat dan dari upaya untuk menggagalkan program.
Agar efektif, maka pejabat pelaksana harus terampil dalam menggunakan strategi dan harus memahami dengan baik lingkungan di mana kebijakan/program akan diwujudkan.
c. Outcomes
Menurut Willian N Dunn, dalam monitoring (pemantauan) hasil kebijakan (monitoring policy outcomes) harus dibedakan dua jenis konsekuensi kebijakan, yaitu: outputs (keluaran) dan impacts (dampak) . Output kebijakan (policy output) adalah barang, jasa atau sumber daya yang diterima oleh kelompok sasaran (target groups) dan penerima manfaat (benefeciaries). Sebaliknya, dampak kebijakan (policy impact) merupakan perubahan nyata pada tingkah laku atau sikap yang dihasilkan oleh output tersebut. Dampak dari output ini disebut juga outcomes, yaitu
“the impact of service….healthier or more knowledgeable individuals, a safer society, and so on”.
Studi-studi implementasi berusaha mengevaluasi kinerja (performance) dari suatu kebijakan/program, walaupun kriteria evaluasi yang dilakukan sangat berbeda-beda. Selain itu dalam studi implementasi dibedakan pula fokus analisisnya, apakah pada output atau outcome (atau kedua-duanya) Pada kriteria evaluasi, banyak penelitian memulai analisisnya dengan titik tolak pada tujuan formal (formal objectives) yang dinyatakan dalam statute atau keputusan hakim. Dalam hal ini studi implementasi menilai tingkat pencapaian tujuan dan menganalisis sebab-sebab ketidakmampuan prakarsa kebijakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Di samping itu kriteria evaluasi yang sering dilakukan, khususnya kebijakan yang berkenaan dengan pengaturan/regulasi (regulatory policy), adalah cost-benefit analysis. Dalam banyak kasus, benefits dari program diperhitungkan dalam hubungannya dengan tujuan (goals) yang sudah ditetapkan. Sedangkan cost menyangkut baik biaya administrasi, waktu dan beban biaya moneter.
Berkaitan dengan studi implementasi tersebut, dapat di tarik kesimpulan bahwa analisis implementasi menguji sampai sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan tercapai dan bagaimana dampaknya, baik dampak yang diharapkan dan tidak diharapkan. Selanjutnya dampak akan mempengaruhi jumlah dukungan atau penolakan terhadap suatu program (umpan balik) dan pada akhirnya akan berpengaruh pada proses perumusan kembali (reformulasi process) program tersebut dan akan mengadopsi masukan-masukan dari masalah kebijakan yang dijalankan sebelumnya sehingga untuk pelaksanaan kembali dapat meramalkan dan mengantisifasi malasalah yang ditimbulkan dari dalam pelaksanaan kebijakan yang telah dirumuskan kembali sebelumnya.
2.3.3 Model George C. Edwards III
Model implementasi kebijakan yang berspektif top down dikembangkan oleh George C. Edwards III (Agustino,2006:149) Implementasi kebijakan adalah salah satu tahap kebijakan publik, antara pembentukan kebijakan dan konsekuensi-konsekuensi kebijakan bagi masyarakat. Jika suatu kebijakan tidak tepat atau tidak dapat mengurangi masalah yang merupakan sasaran kebijakan, maka kebijakan itu
mungkin adkaan mengalami kegagalan sekalipun kebijakan itu diimplementasikan dengan sangat baik.
Menurut Edwards, Oleh karena empat faktor yang berpengaruh terhadap implementasi kebijakan bekerja secara simultan dan berinteraksi satu sama lain untuk membantu dan menghambat implementasi kebijakan, maka pendekatan yang ideal dengan cara merefleksikan kompleksitas ini dengan membahas semua faktor tersebut sekaligus, untuk memahami suatu implementasi kebijakan perlu menyederhanakan dan merinci penjelasan-penjelasan tentang implementasi kebijakan dalam komponen-komponen utama berupa variabel sebagai berikut :
1) Komunikasi 2) Sumber-sumber
3) Disposisi (Kecenderungan-kecenderungan atau tingkah laku) 4) Struktur birokrasi
Sumber : (Agustino,2006:149)
Gambar. 2.4 Model implementasi kebijakan Edwards III
Komunikasi
Struktur Birokrasi
Sumber-sumber
Kecenderungan-kecenderungan
Implementasi
Dalam pandangan Edwards III (Winarno, 2012:177), oleh karena empat faktor yang berpengaruh terhadap implementasi kebijakan bekerja secara simultan dan berinteraksi satu sama lain untuk membantu dan menghambat implementasi kebijakan maka pendekatan yang ideal adalah dengan cara merefleksikan kompleksitas ini dengan membahas semua faktor tersebut sekaligus. Untuk memahami suatu implementasi kebijakan perlu menyederhanakan penjelesan-penjelasan tentang implementasi dalam komponen-komponen utama. Patut diperhatikan disini bahwa implementasi dari setiap kebijakan merupakan suatu proses yang dinamis mencakup banyak interaksi dari banyak variable. Oleh karenanya tidak ada variable tunggal dalam proses implementasi sehingga perlu dijelaskan antara satu variable dengan variable yang lain dan bagaimana variabel-variabel ini memengaruhi proses implementasi kebijakan. Berikut penjelasan lebih detail terkait empat faktor tersebut yang diteruskan dalam buku (Winarno, 2012:177) sebagai berikut :
1) Komunikasi
Secara umum Edwards dalm Winarno membahas tiga hal penting dalam proses komunikasi kebijakan, yakni :
a) Transmisi
Sebelum pejabat dapat mengimplementasikan suatu keputusan, ia harus meyadari bahwa suatu keputusan telah dibuat dan suatu perintah untuk pelaksanaannya telah dikeluarkan.
Ada beberapa hambatan yang timbul dalam mentransmisikan perintah-perintah implementasi. Pertama, pertentangan pendapat
antara pelaksana dengan pemerintah yang dkeluarkan oleh pengambil kebijakan. Hal ini terjadi karena pelaksana menggunakan keleluasaannya yang tidak dapat elakan dalam melaksanakan keputusan-keputusan dan perintah-perintah umum.
Kedua, informasi melewati berlapis-lapis secara hierarki. Ketiga, Persepsi yang efektif dan ketidakmauan para pelaksana untuk mengetahui persyaratan-persyaratan suatu kebijakan.
b) Konsistensi
Jika implementasi ingin berlangsung efektif maka perintah pelaksanaan harus konsistensi dan jelas walaupu perintah tersebut mempunyai unsur kejelasan, tetapi apabila perintah tersebut bertentangan, maka perintah tersebut tidak akan memudahkan para pelaksana kebijakan menjalankan tugasnya dengan baik.
c) Kejelasan
Edwards mengidentifikasi enam faktor terjadinya ketidakjelasan komunikasi kebijakan. Faktor-faktor tersebut adalah kompleksitas kebijakan, Keinginan untuk tidak mengganggu kelompok – kelompok masyarakat, kurangnya konsensus mengenai tujuan kebijakan, masalah-masalah dalam memulai suatu kebijakan baru, menghindari pertanggungjawaban kebijakan, dan sifat pembuatan kebijakan pengadilan.
2) Sumber-sumber
Sumber-sumber adalah faktor penting untuk mengimplementasikan agar efektif, tanpa sumber daya, kebijakan hanya tinggal di kertas
menjadi dokumen saja. Sumber daya tersebut dapat berwujud sumber daya manusia, yakni kompetensi implementator, informasi, informasi, fasilitas dan sumber daya finansial.
3) Kecenderungan – kecenderungan
Disposisi adalah watak dan karakteristik yang dimiliki oleh implementator, seperti komitmen, kejujuran dan sifat demokratis.
Apabila implementator memiliki disposisi yang baik maka dia akan dapat menjalankan kebijakan dengan baik seperti apa yang diinginkan oleh pembuat kebijakan. Ketika implememntator memiliki sifat atau perspektif yang berbeda dengan pembuat kebijakan maka proses implementasi kebijakan juga menjadi tidak efektif.
4) Struktur birokrasi
Struktur birokrasi yang mengimplementasikan kebijakan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap implementasi kebijakan. Salah satu dari aspek struktur yang penting dari organisasi adalah adanya standard operasi prosedur (Standart Operating Procedures atau SOP). SOP menjadi pedoman bagi setiap implementasi dalam bertindak. Struktur organisasi yang terlalu panjang akan cenderung melemahkan pengawasan dan menimbulkan Red Tape, yakni prosedur birokrasi yang rumit dan kompleks. Ini pada gilirannya akan menyebabkan aktivitas organisasi menjadi tidak fleksibel. Berdasarkan uraian tersebut semakin jelas bahwa variabel komunikasi, sumber daya, disposisi (
kecenderungan), dan struktur birokrasi memengaruhi tingkat keberhasilan pelaksanaan suatu kebijakan.
2.3.4 Model Van Meter dan Varn Horn
Model yang dikembangkan oleh Van Meter dan Van Horn ini disebut sebagai “ A model Of Policy implementations Proscess”. (Model proses implementasi kebijakan). Teori ini beranjak dari suatu argument bahwa perbedaan dalam proses implementasi dipengaruhi oleh sifat kebijaksanaan yang akan dilaksanakan. Winarno (2016:142) Model Kebijakan yang diungkapkan Van Meter dan Van Horn, tidak hanya menentukan hubungan-hubungan antara variabel-variabel bebas dan variabel terikat mengenai kepentingan kepentingan, tetapi juga menjelaskan hubungan-hubungan antara variabel-variabel bebas.
Variabel tersebut dijelaskan oleh Van Meter dan Van Horn sebagai berikut :
1) Ukuran – Ukuran Dasar dan Tujuan – Tujuan Kebijakan
Menurut Van Meter dan Van Horn, Identifikasi indikator-indikator kinerja merupakan tahap yang krusial dalam analisis implementasi kebijakan. Indikator-indikator kinerja ini menilai sejauh mana ukuran-ukuran dasar dan tujuan-tujuan kebijakan direalisasikan.
Ukuran – ukuran dasar dan tujuan-tujuan kebijakan berguna dalam menguraikan tujuan-tujuan keputusan kebijakan secara menyeluruh.
Dalam melakukan studi implementasi studi implementasi, tujuan-tujuan dan sasaran suatu program yang akan dilaksanakan harus
diidentifikasi dan diukur karena implementasi tidak dapat berhasil atau mengalami kegagalan bila tujuan-tujuan itu tidak dipertimbangkan.
2) Sumber-sumber kebijakan
Di samping ukuran-ukuran dasar dan sasaran kebijakan, yang perlu mendapatkan perhatian dalam proses implementasi kebijakan adalah sumber-sumber yang tersedia. Dengan demikian, dalam beberapa kasus besar kecilnya dana akan menjadi faktor yang menentukan keberhasilan implemetasi kebijakan.
3) Komunikasi Antarorganisasi dan Kegiatan-Kegiatan Pelaksanaan Implementasi akan berjalan efektif bila ukuran-ukuran dan tujuan-tujuan dipahami oleh individu-individu yang bertanggung jawab dalam kinerja kebijakan. Dengan demikian, sangat penting
3) Komunikasi Antarorganisasi dan Kegiatan-Kegiatan Pelaksanaan Implementasi akan berjalan efektif bila ukuran-ukuran dan tujuan-tujuan dipahami oleh individu-individu yang bertanggung jawab dalam kinerja kebijakan. Dengan demikian, sangat penting