• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model kebijakan pengelolaan mangrove untuk mendukung perikanan

Ketegasan property right merupakan syarat dalam mekanisme pasar dimana komoditas tradeable dan transferable.

yang bukan miliknya. Tambak milik perseorangan dikenal juga sebagai ‗tambak

milik‘ (private property right) dan untuk membedakannya dengan tambak

Perhutani (tambak kawasan). Pengakuan hak milik dicerminkan adanya legalitas kepemilikan lahan tambak berbentuk sertifikat atau pun girik desa dan juga adanya pengakuan masyarakat terhadap lahan tersebut. Pakpahan (1989), menyatakan bahwa tidak ada seseorangpun yang menyatakan hak milik tanpa pengesahan dari masyarakat dimana dia berada. Pengesahan diatur dalam hukum, adat, tradisi maupun konsensus.

Adanya kejelasan hak milik (private property right; individual rights) memungkinkan pemilik tambak dapat menyewakan tambak, menggadai ataupun sistem bagi hasil. Baik pemilik yang menggarap lahannya sendiri, penyewa,

maupun penggarap bagi hasil memiliki kewenangan mentransformasikan input

produksi menjadi output produksi dengan tujuan memaksimumkan profit. Terkait

dengan keberadaan mangrove di tambak milik, pemilik tambak berwenang untuk menentukan menanam atau tidak menanam mangrove, termasuk menebang mangrove di kolom air maupun di pematang tambak. Meskipun petambak mengerti akan peranan mangrove (menyediakan makanan alami, khususnya api- api karena daunnya mudah lapuk, penghalang angin yang menimbulkan ombak di tambak, sehingga dapat merusak tanggul, sebagai peneduh) namun dalam sudut pandang petambak, baik petambak kontrak silvofishery maupun petambak milik keberadaan mangrove berpengaruh terhadap produksi, yakni :

1. Keberadaan mangrove di tambak (di pelataran) yang terlalu rapat akan

mengurangi ruang gerak ikan bandeng, karena ikan bandeng perlu ke pelataran yang luas dan jika di bodeman (caren) saja ruang gerak ikan maupun udang tidak cukup leluasa.

2. Mengurangi penggunaan luasan lahan untuk aktivitas budidaya, sehingga

akan mengurangi penggunaan input produksi dan selanjutnya akan

berpengaruh pada pencapaian hasil produksi.

3. Biji mangrove yang jatuh di tambak akan cepat tumbuh dan mangrove

semakin banyak, sehingga akan membatasi ruang gerak bandeng. Di sisi lain,

ikan bandeng membutuhkan ‗pelataran‘ yang luas untuk ‗bergerak‘ dan dengan pelataran yang luas agar ‗klekap‘ sebagai pakan alami ikan akan banyak. Jenis mangrove yang biasanya ditanam di tengah/pelataran tambak

adalah Rhizophora sp. Jarak tanam mangrove di pelataran umumnya 1m x 2m

pada saat mangrove masih kecil. Setelah tumbuh membesar (4-5 tahun) mangrove harus dijarangkan. Tujuan penjarangan ini untuk memberi ruang gerak yang lebih luas bagi komoditas budidaya. Selain itu sinar matahari dapat lebih banyak masuk ke dalam tambak dan menyentuh dasar pelataran, untuk meningkatkan kesuburan tambak.

4. Mangrove akan menimbulkan kesulitan saat panen, karena akar mangrove

atau ‗jeruju‘ akan merobek jaring sehingga ikan dapat meloloskan diri dari

jaring. Selain itu jeruju dapat melukai kaki. Sebagian besar panen dilakukan dengan cara menjaring ikan terlebih dahulu, setelah itu panen udang dilakukan dengan cara mengeringkan tambak.

5. Mangove akan menarik predator (burung, biawak, ular, kepiting) untuk

berkumpul di tambak dan pada akhirnya akan memangsa ikan/udang.

6. Daun dan ranting mangove yang jatuh ke air dalam waktu beberapa hari dapat

7. Mangrove merupakan habitat kepiting, sehingga menjadi daya tarik bagi pencari kepiting, sehingga perlu dilakukan tindakan pengawasan (menjaga) terhadap tambak (misalnya mencegah orang memancing ikan, mencuri impes) dan akhirnya menimbulkan biaya pengawasan yang lebih tinggi.

Keputusan untuk menanam atau pun tidak menanam mangrove di lahan milik perseorangan sepenuhnya tergantung pada pemilik tambak meskipun status tambak adalah gadai, sewa atau pun bagi hasil. Performa mangrove pada lahan tambak milik individu antara tahun 2000 sampai dengan tahun 2014 menunjukkan kecenderungan yang meningkat. Pada tahun 2000 luas mangrove 251 ha sedangkan pada tahun 2014 seluas 381 ha, yang berarti dalam kurun waktu tersebut terjadi peningkatan seluas 130 ha atau sekitar 9 ha tahun-1 (lihat bab 3). Hal ini mengindikasikan meningkatnya kesadaran akan pentingnya mangrove terutama sebagai penahan tanggul/pematang untuk mencegah pengikisan, sehingga masyarakat berupaya menanam mangrove di tambaknya (Gambar 27). Lahan (tambak) milik masyarakat seluas 16.635 ha, sedangkan luas mangrove rata-rata dalam periode tahun 2000 sampai dengan 2014 seluas 401 ha sehingga tutupan mangrove hanya sekitar 8 % dibandingkan luas lahan yang ada sekitar 60% dari lahan tambak di wilayah studi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa meskipun luas mangrove ada kecenderungan meningkat, namun tutupan mangrove di tambak milik rakyat sangat rendah. Terdapat kelompok-kelompok masyarakat yang perduli dengan pengelolaan mangrove, antara lain seperti Kelompok Pantai Lestari di Karang Song, Kelompok, Kelompok Putra Tiris di Desa Pabean Ilir dan Kelompok Mina Tegur.

Gambar 29 Pematang yang terkikis ombak dan angin (A) dan penanaman mangrove di lahan masyarakat (tambak milik) (B).

Kelembagaan Pengelolaan Perikanan Tangkap

Perikanan tangkap dikelola dalam rentang struktur institusi yang luas, termasuk di dalamnya institusi formal, seperti peraturan, kebijakan dan keputusan-keputusan yang dibuat suatu instansi. Dalam bagian ini akan dibahas apakah institusi formal yang dijabarkan dalam bentuk penerapan peraturan di bidang perikanan sudah mampu atau belum dalam mengendalikan prilaku nelayan dalam memanfaatkan sumberdaya ikan secara berkelanjutan. Dengan melihat institusi yang diterapkan akan terlihat performa yang dihasilkan dan bila performa tersebut tidak menunjukkan performa yang diharapkan maka akan dilakukan penataan institusi.

Penataan institusi perikanan tangkap dimaksudkan perlu adanya perubahan institusi di sektor tersebut guna menghasilkan performa yang diharapkan dengan asumsi faktor-faktor lainnya dianggap tetap, seperti sumberdaya alam, teknologi, modal finansial dan sumberdaya manusia. Di sektor perikanan tangkap,

keberadaan stock sumberdaya ikan merupakan syarat keharusan (important

factor), sedangkan keempat faktor lainnya merupakan syarat kecukupan (sufficient condition). Institusi perikanan mampu menggerakan sumberdaya manusia (nelayan) untuk menggunakan kapital dan menerapkan teknologi

penangkapan, sehingga pada akhirnya berimplikasi pada keberadaan stock ikan itu

sendiri. Sebagai contoh suatu wilayah perikanan tanpa kehadiran institusi

pengelolaan perikanan (open acces condition) akan menggerakan prilaku nelayan

untuk berlomba-lomba menggunakan unit penangkapan (sebagai proksi dari kapital dan teknologi) guna mengeksploitasi sumberdaya ikan. Hal tersebut akan berakibat terjadinya tragedy of the commons, sehingga pada saat tertentu akan terjadi performa hasil penangkapan (harvest) dan upaya penangkapan (effort) pada kondisi open acces equilibrium. Dengan demikian penataan institusi perikanan

tangkap dimaksudkan untuk mencegah kondisi open acces equilibrium dan

mencapai keseimbangan Maximum Economic Yield (MEY).

Mengikuti pendekatan kebijakan perikanan model Gordon-Schaefer, institusi perikanan (fisheries regime) terkait dengan pengendalian terhadap prilaku

manusia (nelayan) dalam menggunakan effort guna mengeksploitasi sumberdaya

ikan. Prilaku menyangkut manusia sebagai subyek untuk memanfaatkan sumberdaya ikan sebagai obyek. Oleh karenanya, pengetahuan tentang institusi yang terkait dengan kebijakan pemerintah (institusi formal) perlu mendapat perhatian karena selama ini ada anggapan bahwa bahwa sumberdaya ikan sebagai

input yang dapat dieksploitasi secara bebas tanpa memperhatikan kelestariannya. (1) Peraturan Pengelolaan Sumberdaya Ikan

Sumberdaya ikan di perairan pantai Kabupaten Indramayu selama ini sudah dimanfaatkan oleh nelayan dengan menggunakan berbagai jenis alat tangkap. Pemanfaatan sumberdaya ikan tidak terlepas dari kebijakan pengelolaan perikanan yang mempengaruhi prilaku nelayan dalam memanfaatkan sumberdaya ikan tersebut. Historis institusi pengelolaan sumberdaya ikan yang didayagunakan oleh perikanan tangkap di Kabupaten Indramayu seperti tertera pada Lampiran 14. Hal- hal yang terkait dengan kebijakan pengelolaan sumberdaya ikan, yaitu :

(i) Pengelolaan sumber daya pesisir, khususnya sumberdaya ikan diatur mulai dari tingkat internasional, nasional dan daerah dan cukup banyak institusi pemerintah sektoral yang menangani, diantaranya Dinas Perikanan dan Kelautan, Kantor Lingkungan Hidup, Dinas Pehubungan Laut, serta Keamanan Laut. Pengelolaan wilayah pesisir sejauh 4 mil saat kini menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi yang semula menjadi kewenangan Pemerintah Kota/Kabupaten.

(ii) Kewenangan daerah untuk mengelola sumber daya laut dan perikanan sangat

terbatas pada kewenangan yang diserahkan oleh pemerintah pusat. Bahkan jika melihat pada PerMen.KKP 17/MEN/2006 tentang Usaha Perikanan, kewenangan pemberian izin oleh pemerintah daerah hanya diberikan kepada perusahaan perikanan yang berdomisili di wilayah administrasinya. Dengan demikian, kewenangan tersebut bukan kewenangan terhadap wilayah lautnya.

(iii) Tidak ada pengelolaan sumberdaya perikanan berdasar hukum adat ataupun berbasis masyarakat.

(iv) Undang-Undang Perikanan dan peraturan/kebijakan di bawahnya belum

menyentuh aspek pengelolaan perikanan dan pengelolaan habitat yang berperan penting dalam mendukung perikanan (hanya Pulau Biawak yang difokuskan pada pengelolaan terumbu karang).

(v) Kebijakan terkait dengan perikanan tangkap yang beroperasi di sekitar pantai

dalam tingkat nasional (khususnya pengaturan jalur penangkapan untuk menghindari konflik dan perlindungan perikanan skala kecil) cukup memadai, namun dalam tingkat daerah tidak ada peraturan yang membatasi jumlah alat tangkap tangkap untuk beroperasi di sekitar pantai dengan perahu di bawah 5 GT. Kapal ikan kecil dengan ukuran 5 GT ke bawah tidak perlu ijin tapi hanya perlu adanya tanda pendaftaran dari pemerintah kabupaten tempat kapal tersebut berpangkalan.

Meskipun pengelolaan sumberdaya pesisir menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi dan pengelolaan perikanan skala kecil dalam kewenangan pengelolaan Pemerintah Kabupaten, namun tidak ada perijinan. Ditinjau dari institusi pengelolaan perikanan dapat dijelaskan bahwa pengelolaan perikanan nelayan kecil yang melakukan usaha penangkapan ikan sekitar pantai berada dalam situasi

open access. Dikaitkan dengan karakteristik ruang laut dan sumberdaya ikan yang

open access maka dapat diperkirakan bahwa sumberdaya ikan sekitar pantai akan terus mengalami tekanan akibat meningkatnya jumlah alat tangkap yang beroperasi.

(2) Analisis Dampak Institusi terhadap Performa : Situasi, Struktur dan Performa Perikanan Tangkap

Situasi

Dalam kaitannya dengan pemanfaatan sumberdaya ikan sekitar pantai, pemahaman tentang situasi sebagai sumber interdependensi perlu ditelaah. Situasi menunjuk pada karakteristik wilayah perairan dan sumberdaya ikan yang merupakan sumber interdependensi. Relevan dengan kasus yang diamati, situasi sebagai sumber interdependensi wilayah perairan laut Kabupaten Indramayu yang merupakan batas jurisdiksi dilakukannya pengelolaan sumberdaya ikan sekitar pantai hanya dibatasi dari sisi inkompatibilitas dan biaya eksklusi yang dapat diuraikan sebagai berikut43 :

a. Pemanfaatan yang tidak kompatibel.

Pemanfaatan sumberdaya ikan di perairan sekitar pantai seluas 800 km2 oleh

nelayan jaring pantai, sero dan jaring klitik dicirikan oleh pemanfaatan yang tidak kompatibel (incompatibility). Area penangkapan ikan dari ketiga penangkapan ikan yang menjadi sumber interdependensi adalah :

(i) Perikanan jaring pantai beroperasi pada area perairan dengan kedalaman antara 3 sampai dengan 15 meter dan jarak dari pantai antara 10 meter sampai dengan 3000 mil

Dokumen terkait