Keputusan membangun dan mengembangkan suatu agroindustri atau berinvestasi perlu mempertimbangkan sejumlah sumber dana yang dialokasikan
untuk mendapatkan suatu keuntungan yang disebut dengan aspek finansial. Untuk mengambil keputusan apakah investasi yang akan ditanamkan layak maka diperlukan suatu metode atau prosedur yang dapat dipakai sebagai alat bantu untuk membuat keputusan investasi tersebut. Demikian juga tentang pengembangan agroindustri wijen perlu dikaji secara cermat.
Proses pengkajian kelayakan investasi agroindustri wijen dari aspek finansial adalah dengan menggunakan pendekatan konvensional yakni dengan menganalisis perkiraan arus kas keluar dan arus kas masuk selama umur proyek atau investasi. Arus kas akan terbentuk dari perkiraan biaya awal, modal kerja, biaya operasi, biaya produksi, dan pendapatan.
Untuk menentukan apakah investasi tersebut menguntungkan atau layak
(feasible) untuk diusahakan diperlukan alat ukur atau kriteria menentukan layak tidaknya suatu proyek untuk dijalankan. Alat ukur atau kriteria yang sering dilakukan adalah dengan me nggunakan NPV (Net Present value), Net B/C (Net Benefit Cost ratio), PBP (Pay Back Period), dan IRR (Internal Rale of Return)
(Kadariyah et al. 1999)
Asumsi-asumsi
Sebagai titik tolak analisis finansial perlu adanya asumsi-asumsi sebagai landasan untuk memperkirakan biaya investasi. Asumsi dasar yang dipakai untuk analisis finansial agroindustri wijen disesuaikan dengan kondisi pada saat kajian dilakukan dan mengacu pada hasil- hasil perhitungan yang telah dilakukan pada aspek lain. Asumsi-asumsi yang digunakan dalam analisis finansial agroindustri wijen adalah sebagai berikut:
1. Discount factor didasarkan pada suku bank yakni sebesar 20%. 2. Umur ekonomis proyek diperhitungkan selama 10 tahun.
3. Nilai penyusutan sebesar 20% untuk bangunan dan 10% untuk mesin dan
peralatan yang diperhitungkan dengan metode garis lurus.
4. Kapasitas Produksi sebesar 70 liter per hari dengan 312 hari kerja per tahun. 5. Harga bahan baku wijen Rp. 8.000,-/kg
6. Harga produk minyak wijen sebesar Rp. 45.000 per liter, kecap Rp. 11000 per liter dan bungkil Rp. 2500 per kilogram.
7. Kredit investasi dan kredit modal kerja jangka waktunya 10 tahun angsuran prorata dengan tingkat suku bunga 20% per tahun..
8. Biaya pemeliharaan sebesar 2% terhadap bangunan, 2,5% terhadap mesin dan
peralatan, 2,5% untuk instalasi penunjang, 3% untuk peralatan kantor, dan 5% untuk kendaraan.
9. Pajak sebesar 15%.
Kriteria kelayakan
Untuk menentukan apakah suatu usaha tersebut menguntungkan atau layak
(feasible) untuk diusahakan diperlukan alat ukur atau kriteria yang menunjukkan kelayakan usaha tersebut. Alat ukur atau kriteria tersebut digunakan untuk mengambil keputusan layak tidaknya suatu usaha untuk dijalankan. Alat ukur atau kriteria yang biasa dipakai adalah dengan menggunakan NPV (Net Present value),
Net B/C ( Net Benefit Cost ratio), IRR (Internal Rate of Return), dan PBP (Pay Back Period).
Net present value dapat diartikan sebagai nilai bersih sekarang, menunjukkan keuntungan (benefit) yang akan diperoleh selama umur investasi
(proyek) Net benefit cost ratio (Net B/C) menunjukkan berapa kali lipat
keuntungan yang akan diperoleh dari besarnya investasi yang dikeluarkan. Internal rate of return (IRR) menunjukkan prosentase keuntungan yang akan diperoleh dari usaha tersebut tiap tahun. Dengan kata lain dapat pula dikatakan bahwa IRR merupakan kemampuan dari usaha tersebut dalam mengembalikan atau membayar bunga bank. Berdasarkan pengertian yang sederhana tentang kriteria tersebut saling mendukung atau saling melengkapi dalam menunjukkan kelayakan dari suatu usaha.
Data yang relevan untuk dianalisis dalam merencanakan suatu usaha adalah biaya yang diperlukan untuk usaha dibandingkan dengan nilai hasil produksi yang akan dicapai selama umur proyek atau benefit dari usaha tersebut, meliputi biaya investasi, dan biaya operasional/variabel tetap dan tidak tetap.
Biaya investasi merupakan seluruh biaya yang dikeluarkan sebelum usaha tersebut berjalan (beroperasi). Biaya investasi dikeluarkan pada awal proyek ( awal mula usaha). Biaya operasional/variabel merupakan seluruh biaya yang dikeluarkan selama proses produksi. Benefit adalah pendapatan yang dapat dihitung dari nilai hasil produksi tiap tahun/ periode selama umur proyek.
Hasil analisis finansial agroindustri wijen menunjukkan bahwa nilai NPV dari proyek ini adalah sebesar Rp 701.653.654,-. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pada tingkat bunga 20% nilai NPV masih menunjukkan positif sehingga pada tingkat opportunity (discount rate) 20% investasi agroindustri wijen layak untuk dilakukan. Alat analisis yang lain yang dapat digunakan untuk menentukan kriteria layak tidaknya suatu usaha untuk dijalankan adalah dengan menghitung Net B/C. Bila Net B/C > 1 maka usaha tersebut layak dilakukan, sedangkan bila Net B/C < 1, maka usaha tersebut tidak layak dilaksanakan. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai Net B/C sebesar 1,07 hal ini dapat ditarik kesimpulan bahwa investasi agroindustri wijen layak untuk dilaksanakan.
Internal Rate of Return (IRR) menunjukkan persentase keuntungan yang akan diperoleh tiap tahun atau merupakan kemampuan usaha dalam mengembalikan bunga bank. Hal ini berarti IRR sama dengan tingkat bunga
discount factor (DF) pada waktu NPV = 0. Menghitung besarnya IRR dilakukan dengan mencari nilai NPV positif dan negatif dan dilakukan interpolasi. Apabila IRR > tingkat suku bunga bank, maka usaha tersebut layak dilakukan dan apabila IRR < tingkat suku bunga bank, maka usaha tersebut tidak layak dilakukan. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada kondisi normal nilai IRR sebesar 110,98%, berarti layak dilakukan, karena bila dibandingkan dengan tingkat bunga bank sebesar 20% investasi agroindustri wijen masih menguntungkan.
Pay Back Period (PBP) adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan modal investasi awal. Hasil perhitungan proyek menunjukkan bahwa waktu pengembalian modal investasi adalah selama 1,07 tahun. Hal ini berarti investasi yang dikeluarkan akan kembali pada tahun ke 1,07 umur investasi.
Analisis sensitivitas kelayakan finansial dilakukan dengan menggunakan tiga skenario perubahan yang berbeda. Skenario pertama yaitu terjadi kenaikan harga bahan baku sebesar 20% dan yang lainnya tetap. Skenario kedua terjadi
penurunan harga jual produk sebesar 10% yang lainnya tetap. Skenario ketiga merupakan kombinasi dari perubahan tersebut yaitu terjadi kenaikan harga bahan baku 20% dan penurunan harga jual produk sebesar 10%. Hasil analisis sensitivitas dari ketiga skenario tersebut selengkapnya disajikan pada Tabel 21.
Tabel 21 Analisis sensitivitas kelayakan finansial dengan beberapa skenario
Skenario Perubahan Net Present Value (NPV) Internal Rate of Return (IRR) Net B/C Payback Period (PBP) Keterangan
Harga bahan baku normal Rp. 8000/kg
dan Harga Jual 45.000 701.653.654 110,98% 1,07 1,07 Layak Harga bahan baku naik 20 % ( Rp.
9600/kg dan harga jual tetap 432.788.974 77,31% 1,04 1,56 Layak Harga bahan baku normal Rp. 8000/kg
dan harga jual turun 10% 411.389.640 74,61% 1,04 1,61 Layak Harga bahan baku naik 20 % (Rp.
9600) dan Harga jual Turun 10 % 142.524.960 38,90% 1.01 2,94 Layak
Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa kenaikan harga bahan baku sebesar 20% tidak mempengaruhi keputusan kelayakan finansial. Hal ini dapat dilihat dari beberapa kriteria kelayakan yang masih menunjukkan keputusan layak. Nilai NPV positif sebesar Rp 432.788.974,-, nilai IRR lebih besar dari bunga bank yaitu sebesar 77,31%, nilai Net B/C lebih besar dari satu yaitu 1,04 dan PBP kurang dari umur proyek yaitu 1,56 tahun investasi berjalan.
Skenario ketiga yaitu harga bahan baku tetap tetapi harga jual produk turun 10%, juga tidak mempengaruhi keputusan kelayakan finansial, hal ini dapat dilihat bahwa kriteria kelayakan finansial Nilai NPV positif sebesar Rp 411.389.640,-, nilai IRR lebih besar dari tingkat bunga yang ditentukan yaitu sebesar 74,61%, nilai Net B/C lebih dari satu yaitu 1,04 dan PBP masih kurang dari umur proyek yaitu sebesar 1,61 tahun. Skenario keempat yaitu harga bahan baku naik 20% dan harga produk turun 10% menunjukkan tidak ada perubahan keputusan kelayakan finansial yaitu tetap layak, hal ini dapat dilihat. pada beberapa kriteria kelayakan finansial. Nilai NPV positif sebesar Rp 142.524.960,-, nilai IRR lebih besar dari tingkat bunga yang ditentukan yaitu sebesar 38,90%, nilai Net B/C lebih dari satu yaitu 1,01 dan PBP lebih kecil dari umur proyek yaitu sebesar 2,94 tahun.
Terkait dengan kelayakan finansial, maka pendirian agroindustri pada sentra pengembangan tanaman wijen dapat dilakukan dengan mengumpulkan petani wijen minimal 20 orang, diharapkan lebih banyak lebih baik, untuk membentuk wadah secara formal berbentuk koperasi agroindustri. Kelembagaan tersebut secara operasional membentuk unit kegiatan industri pengolahan wijen skala UKM dengan manajemen pengelolaan yang profesional.
Jika diasumsikan kapasitas agroindustri adalah 70 liter minyak wijen/hari, rendemen 35% maka dibutuhkan 200 kg biji/hari atau 68.800 kg/tahun dengan hari kerja 312 hari. Kebutuhan tersebut setara dengan satu periode penanaman wijen secara intensif seluas 68,8 ha, dengan asumsi produktivitas tanaman wijen adalah 1000 kg/ha (Budi 2007). Oleh karena itu jika diasumsikan kepemilikan lahan adalah 1 ha/petani dan mampu menanam tiga kali per tahun, maka kebutuhan bahan baku agroindustri dengan kapasitas 70 liter perhar dapat dicukupi oleh 23 petani wijen. Dengan demikian dalam operasionalnya petani harus melakukan pengaturan pola tanam sebaik-baiknya dan selalu meningkatkan produktivitas usahataninya agar mampu mencapai target yang telah ditetapkan.
IMPLEMENTASI MODEL STRATEGI PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI WIJEN