Model pemilihan dan sistem pengembangan kelembagaan agroindustri wijen terdiri dari dua model yaitu pemilihan kelembagaan usaha yang terdiri dari kriteria, alternatif dan prioritas, sedangkan struktur pengembangan kelembagaan terdiri dari 8 elemen pengembangan dan masing- masing terdapat sub-sub elemen yang dilengkapi dengan hubungan kontektual antar sub elemen.
Model Pemilihan pola kelembagaan usaha agroindustri wijen
Kelembagaan adalah suatu sistem organisasi dan kontrol terhadap sumberdaya. Dipandang dari sudut individu kelembagaan merupakan gugus kesempatan bagi individu membuat keputusan dan melaksanakan aktivitasnya. Suatu kelembagaan dicirikan oleh tiga hal utama yaitu : batas yurisdiksi, hak dan kewajiban, dan aturan representasi (Pakpahan 1989).
Kelembagaan usaha merupakan hal penting dalam strategi pengembangan suatu kegiatan ekonomi termasuk agroindustri. Kelembagaan usaha diperlukan dalam upaya mengelola semua sumber daya yang dimiliki oleh suatu agroindustri agar dapat lebih optimal dalam pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Pengembangan kelembagaan akan membawa konsekuensi adanya perubahan- perubahan. Nehnevajsa (1986), menyatakan bahwa untuk menentuk an alternatif pola kelembagaan mana yang akan dipilih harus mempertimbangkan inovasi yang akan digunakan, kelayakan, biaya paling rendah, dan konsekuensi atau resiko sekecil mungkin.
Departemen Perindustrian dan Perdagangan RI (2002), menyebutkan beberapa pengembangan kelembagaan yang telah dilakukan untuk memajukan industri kecil menengah antara lain; pengembangan koperasi industri dan kerajinan (KOPINKAR), pembangunan sentra-sentra industri kecil, pembangunan unit pelayanan promosi, unit pelayanan teknis, unit pelayanan informasi, pusat promosi
dan pemasaran, pengembangan trading house, pengembangan pusat promosi
khusus, pendayagunaan pesantren untuk pencetakan wirausaha, sosialisasi bisnis waralaba, dan pengembangan jasa konsultasi untuk industri kecil menengah.
Berdasarkan hasil kajian pustaka dan studi pakar terdapat delapan alternatif kelembagaan yang dapat diterapkan dalam pengembangan agroindustri wijen yakni; aliansi strategis vertikal, pola kemitraan inti plasma, pola kemitraan dagang umum, pola kemitraan operasional agribisnis, pola jejaring, pola koperasi agroindustri, pola kelompok usaha, dan pola usaha mandiri.
Aliansi strategis, merupakan suatu bentuk kelembagaan ekonomi yang mengatur kerjasama antara dua atau lebih pelaku usaha untuk mencapai tujuan bersama dalam jangka panjang melalui penggabungan sumberdaya dan kompetensi secara sinergis dengan tetap mempertahankan entitas masing- masing pelaku usaha. Dalam aliansi strategis terjadi proses penciptaan dan penyamaan nilai dari pelaku usaha dalam aliansi yang bisa menghasilkan tiga aspek penting, yakni 1) kemampuan bersaing melalui kerjasama, 2) sinergis penggabungan sumberdaya spesifik, dan 3) memperoleh kompetensi melalui pembelajaran internal.
Kemitraan, merupakan suatu strategi bisnis yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih dalam jangka waktu tertentu untuk meraih keuntungan bersama dengan prinsip saling membutuhkan dan saling membesarkan. Terdapat 3 (tiga) pola kemitraan yang termasuk dalam alternatif yakni pola kemitraan inti plasma, pola kemitraan dagang umum, dan pola kemitraan operasional agribisnis.
Pola inti plasma, merupakan pola hubungan kemitraan antara petani/kelompok tani atau kelompok mitra sebagai plasma dengan perusahaan inti yang bermitra usaha. Perusahaan inti menyediakan lahan, sarana produksi, bimbingan teknis dan manajemen, menampung, mengolah, dan memasarkan hasil produksi. Perusahaan inti tetap memproduksi kebutuhan perusahaannya, sedangkan kelompok mitra usaha memenuhi kebutuhan perusahaan sesuai dengan persyaratan yang telah disepakati.
Pola dagang umum, merupakan pola hubungan usaha dalam pemasaran hasil antara pihak perusahaan pemasar dengan pihak kelompok usaha pemasok kebutuhan yang diperlukan oleh perusahaan pemasar.
Pola kemitraan kerjasama operasional agribisnis (KOA), merupakan pola hubungan bisnis, dimana kelompok mitra menyediakan lahan, sarana, dan tenaga. Sedangkan pihak perusahaan mitra menyediakan biaya, modal, manajemen, dan pengadaan sarana produksi untuk mengusahakan atau membudidayakan suatu
komoditi pertanian.
Pola koperasi agroindustri, merupakan koperasi yang bergerak pada bidang ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kesejahteraan anggota-anggotanya khususnya bergerak dibidang agroindustri. Koperasi agroindustri mempunyai fungsi dan peran membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya, mempertinggi kualitas kehidupan manusia dan masyarakat, memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional dengan koperasi sebagai sokogurunya, dan berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional yang merupakan usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi.
Kelembagaan ini dapat mengadakan kesepakatan-kesepakatan dengan lembaga- lembaga lain, termasuk pemerintah, dan sumber-sumber luar dalam memperoleh modal. Koperasi agroindustri bertujuan memajukan kesejahteraan anggota khususnya dan masyarakat pada umumnya serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju, adil, dan makmur berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 (UU RI.No. 25 Tahun 1992), dan diharapkan dapat menjadi alternatif kelembagaan dalam pengembangan agroindustri wijen.
Pola kelompok usaha, merupakan perkumpulan dari agroindustri wijen yang terorganisir untuk melaksanakan salah satu atau beberapa bagian dari kegiatan industri. Prinsip dasar dari kelompok usaha ini adalah mensinergikan kekuatan kekuatan kecil dari industri tersebut menjadi kekuatan yang lebih besar. Kelompok usaha akan dapat meningkatkan posisi tawar industri kecil karena secara teknis ekonomis dapat berproduksi lebih efisien. Salah satu alternatif kelembagaan penge mbangan agroindustri wijen adalah melalui kelompok usaha.
Pola jejaring, merupakan suatu bentuk hubungan kerjasama antar kelompok yang memiliki keterkaitan dan terintegrasi serta bersinergi dalam bidang tertentu. Beberapa syarat yang sebaiknya dipenuhi dalam membangun jejaring menurut Joseph (2005) yaitu: (1) adanya inisiator yang bertindak sebagai moderator atau koordinator berdasarkan prinsip kesetaraan, (2) adanya aturan main
dalam hal tujuan, program dan bentuk kegiatan, hasil yang ingin di capai dan sebagainya, dan (3) perlu organisasi yang permanen, mendapat dukungan, dan komitmen dari para pelakunya, serta dukungan dana yang memadai. Pola jejaring usaha adalah melakukan pembangunan hubungan kerjasama dan sinergi kekuatan di antara sesama dengan prinsip kesetaraan (equal partnership). Melalui jejaring usaha ini , unit- unit UKM mensinergikan kekuatan dan saling menutupi kelemahan untuk mencapai suatu tujuan bisnis yang menguntungkan.
Usaha mandiri, merupakan usaha agroindustri wijen yang dilakukan dengan tanpa melakukan ikatan secara formal dengan industri atau kelompok lain. Kegiatan usaha mandiri agroindustri wijen ini dilakukan sebagai satu kesatuan unit sendiri, sehingga baik penyediaan bahan baku, proses produksi, pengemasan, dan pemasaran diupayakan oleh industri kecil itu sendiri. Pengembangan agroindustri wijen dapat dilakukan dengan mengembangkan industri kecil melalui usaha mandiri.
Kriteria kelembagaan usaha
Pengembangan agroindustri wijen dapat dilakukan melalui alternatif- alternatif kelembagaan pengembangan sebagaimana yang sudah diuraikan sebelumnya. Pengambilan keputusan terhadap pengembangan kelembagaan merupakan suatu pemilihan alternatif dari beberapa alternatif kelembagaan yang relevan. Sama halnya dengan pengambilan keputusan penyediaan bahan baku agroindustri wijen, pengambilan keputusan pengembangan kelembagaan dilakukan dengan melakukan penilaian alternatif yang kemudian memilih nilai tertinggi dari skor alternatif tersebut.
Penilaian alternatif kelembagaan pengembangan agroindustri wijen dilakukan berdasarkan kriteria-kriteria kelembagaan. Berdasarkan hasil kajian pustaka dan pendapat pakar kriteria kelembagaan pengembangan agroindustri wijen adalah sebagai berikut: .
1. Daya saing kelembagaan tersebut.
2. Pasar yang akan diperoleh dari kelembagaan tersebut. 3. Keuntungan yang diperoleh dengan kelembagaan tersebut. 4. Tingkat kesinambungan dengan kelembagaan tersebut.
5. Akses permodalan dengan kelembagaan tersebut. 6. Efisiensi dengan kelembagaan tersebut.
7. Kemudahan manajemen dengan kelembagaan tersebut.
Daya saing. Salah satu permasalahan yang menyebabkan tidak berkembangnya suatu agroindustri adalah posisi dalam persaingan rendah. Hal ini dikarenakan kurangnya informasi tentang kondisi lingkungan yang menyangkut pemasok, aturan atau kebijakan pemerintah dan perubahan pasar serta teknologi. Tujuan pengembangan kelembagaan adalah untuk meningkatkan daya saing agroindustri. Pertimbangan pemilihan kelembagaan yang akan digunakan pengembangan agroindustri wijen adalah kelembagaan yang mampu meningkatkan daya saing agroindustri wijen dibanding agroindustri lain. Kriteria ini akan memberikan penilaian apakah kelembagaan yang dipilih akan mampu meningkatkan daya saing atau tidak. Semakin tinggi daya saing kelembagaan tersebut maka akan semakin tinggi penilaian yang diberikan.
Pasar. Agroindustri kecil seringkali tidak mampu memenuhi permintaan pasar yang menuntut kestabilan mutu, jumlah pesanan yang besar, delivery cepat, dan tepat waktu. Salah satu tujuan pemilihan kelembagaan pengembangan adalah untuk memilih kelembagaan mana yang dapat meningkatkan pangsa pasar agroindustri wijen. Kelembagaan yang terpilih diharapkan mampu meningkatkan kemampuan dan agresifitas pengusaha mengakses pasar. Kriteria ini akan memberikan penilaian apakah kelembagaan yang dipilih mampu meningkatkan peluang pasar atau tidak. Semakin tinggi pasar yang akan diciptakan dengan kelembagaan tersebut maka akan semakin tinggi penilaian yang diberikan.
Keuntungan. Tujuan utama suatu usaha adalah untuk mendapatkan keuntungan yang setinggi mungkin. Tingkat keuntungan suatu agroindustri yang relatif kecil menyebabkan industri ini kurang berkembang dengan baik. Kelembagaan yang dipilih diharapkan mampu meningkatkan keuntungan agroindustri wijen. Kriteria ini akan memberikan penilaian apakah kelembagaan yang dipilih mampu memberikan keuntungan yang lebih tinggi. Semakin tinggi keuntungan yang akan diperoleh dengan kelembagaan tersebut maka akan semakin tinggi penilaian yang diberikan.
Kesinambungan. Kelembagaan akan berkesinambungan apabila hasil kerjasama antar elemen terjadi berulang-ulang dan saling menguntungkan. Proses yang terus menerus dilakukan sampai melahirkan norma hubungan bisnis dalam perilaku usaha. Kondisi seperti inilah kelembagaan usaha akan berlangsung lestari. Pemilihan kelembagaan pengembangan agroindustri wijen harus mampu menjamin kesinambungan kelembagaan tersebut. Kriteria ini akan memberikan penilaian apakah kelembagaan yang dipilih dapat berkesinambungan atau tidak. Semakin dapat berkesinambungan maka semakin tinggi penilaian yang diberikan.
Akses permodalan. Salah satu kebutuhan suatu agroindustri untuk mengembangkan usahanya adalah modal usaha. Kemampuan permodalan suatu agroindustri saat ini umumnya masih terbatas dan juga kemampuan mengakses permodalan juga terbatas. Hal ini disebabkan karena catatan usaha yang tidak teratur dan agunan untuk meminjam di bank seringkali tidak dapat memenuhi audit akuntansi bank. Kelembagaan pengembangan agroindustri wijen, diharapkan mampu menjawab permasalahan tersebut. Kriteria ini akan memberikan penilaian kelembagaan yang dipilih berkaitan dengan kemampuan kelembagaan tersebut mengakses sumber permodalan. Semakin mudah kelembagaan tersebut mengakses sumber permodalan akan semakin tinggi penilaian yang diberikan.
Efisiensi. Penguasaan teknologi produksi, daya inovasi, dan skala usaha agroindustri wijen saat ini masih terbatas. Teknologi yang digunakan biasanya masih sederhana. Kondisi ini mengakibatkan tingkat efisiensi agroindustri wijen masih rendah. Kelembagaan pengembangan agroindustri wijen diharapkan dapat meningkatkan efisiensi, sehingga akan mampu bersaing dengan industri lain. Kriteria ini akan memberikan penilaian apakah kelembagaan yang dipilih mempunyai efisiensi lebih tinggi atau tidak. Semakin tinggi tingkat efisiensi dengan kelembagaan tersebut maka semakin tinggi nilai yang diberikan.
Kemudahan manajemen. Salah satu ciri suatu agroindustri berskala kecil adalah manajemen usaha yang sederhana sehingga memungkinkan pengusaha kecil mengambil tindakan efektif untuk memperbaiki kinerja usaha. Seorang pengusaha dalam menjalankan usahanya harus lebih fleksibel bereaksi terhadap perubahan lingkungan. Struktur usaha yang tidak begitu formal memudahkan dalam beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Pemilihan kelembagaan
pengembangan agroindustri wijen harus memperhatikan aspek kemudahan manajemen sehingga akan menjamin keberhasilan pengembangan. Kriteria ini akan memberikan penilaian apakah kelembagaan yang dipilih memp unyai kemudahan manajemen atau tidak. Semakin mudah manajemen kelembagaan tersebut maka akan semakin tinggi penilaian yang diberikan.
Pemilihan alternatif kelembagaan usaha
Penilaian alternatif kelembagaan agroindustri wijen dilakukan oleh lima orang pakar yang mewakili akademisi, lembaga yang terlibat, dan birokrat. Pakar tersebut melakukan penilaian terhadap altematif berdasarkan kriteria penilaian kelembagaan usaha yang sudah dirumuskan sebelumnya.
Penilaian dilakukan dengan memberikan skor pada masing- masing alternatif dengan skala 1-9. Bobot kriteria kelembagaan usaha agroindustri wijen ditentukan dengan menggunakan metode perbandingan berpasangan yang dilakukan oleh pakar. Skor alternatif kelembagaan usaha adalah merupakan agregasi penilaian berdasarkan kriteria-kriteria dengan pembobotan yang ditentukan sebelumnya. Skor bobot kriteria dan hasil perbandingan berpasangan ditransformasikan kedalam nilai bilangan bulat selengkapnya disajikan pada Gambar 22.
Gambar 22 Histogram bobot kriteria penilaian alternatif pemilihan kelembagaan agroindustri wijen 4 8 9 6 6 6 6 7 5 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 A B C D E F G H I Bobot kriteria
Keterangan A: Dayasaing F: Efisiensi
B: Akses Pasar G: Kemudahan manajenen
C: Keuntungan H: Kesesuaian pelaku
D: Kesinambungan I: Informasi
Hasil penilaian beberapa alternatif kelembagaan usaha agroindustri wijen menggunakan Metode Perbandingan Eksponansial menunjukkan prioritas alternatif berdasarkan bobot penilaian secara berturut-turut yakni; kelembagaan pola koperasi agroindustri, pola usaha mandiri, pola jejaring, pola kemitraan inti plasma, pola kemitraan dagang umum, pola kelompok usaha, pola aliansi vertikal, dan pola kemitraan operasional agribisnis.
Dengan demikian pola terpadu koperasi agroindustri merupakan alternatif terbaik yaitu dengan bobot nilai 117.106.036,43. Hasil penilaian beberapa alternatif kelembagaan usaha agroindustri wijen selengkapnya disajikan pada Tabel 12.
Tabel 12 Hasil analisis pemilihan alternatif kelembagaan usaha agroindustri wijen
No Alternatif Kelembagaan Usaha Bobot Agregat Prioritas
1 Pola Koperasi Agroindustri 117.106.036,43 I
2 Pola Usaha Mandiri 107.560.764,81 II
3 PK Inti Plasma 75.639.319,98 III
4 Pola Jejaring 68.180.567,70 IV
5 PK Dagang Umum 61.213.211,98 V
6 Pola Kelompok Usaha 61.008.772,17 VI
7 Aliansi Strategis Vertikal 58.002.261,17 VII
8 PK Operasional Agrobisnis 37.389.519,67 VIII
Tabel 12 menunjukkan bahwa pola koperasi agroindustri merupakan prioritas pertama alternatif kelembagaan usaha yang paling tepat untuk pengembangan agroindustri wijen karena pola kelembagaan ini sangat sesuai dengan budaya masyarakat/petani dan telah lama dikenal, serta merupakan soko guru perekonomian Indonesia.
Pola koperasi agroindustri termasuk koperasi produksi yang bergerak dibidang usaha agroindustri, dimana anggota-anggotanya adalah petani. Nasution (2002), menyatakan bahwa melalui unit usaha agroindustri, petani sebagai anggota akan berperan aktif dalam menentukan kebijakan koperasi, karena petani juga sebagai pemilik sekaligus pengguna jasa koperasi agroindustri. Terpenting dalam kelembagaan ini petani sebagai bagian yang tidak terpisahkan yaitu sebagai penyedia bahan baku agroindustri yang dijalankan.
Alternatif kedua kelembagaan usaha untuk pengembangan agroindustri wijen adalah pola usaha mandiri. Hal ini memberikan arti bahwa agroindustri
wijen dapat dilakukan secara persorangan dan dapat dilakukan dalam kapasitas kecil sesuai dengan sumberdaya yang dimiliki perseorangan, mengingat dari aspek bahan baku (wijen) tidak mudah rusak dan tahan simpan yang cukup lama, tersedia teknologi, mudah diakses, dan mudah diterapkan oleh masyarakat.
Kelembagaan usaha agroindustri wijen yang ada saat ini adalah koperasi. Namun kondisi saat ini kelembagaan tersebut belum berjalan sebagaimana mestinya. Pembenahan ataupun penyempurnaan kelembagaan yang sudah ada merupakan faktor yang penting untuk diperhatikan dalam pengembangan agroindustri wijen. Terbentuknya kelembagaan baru yaitu pola terpadu koperasi agroindustri maka kemampuan reinvestasi dan jaminan pasar agroindustri wijen dapat terjadi sehingga pengembangan agroindustri wijen dapat dijamin keberhasilannya.
Model strukturisasi sistem pengembangan kelembagaan agroindustri wijen
Strukturisasi sistem pengembangan kelembagaan pola koperasi agroindustri terdiri dari delapan elemen pengembangan. Delapan elemen tersebut adalah :
1. Elemen tujuan pengembangan. 2. Elemen kebutuhan pengembangan. 3. Elemen kendala utama pengembangan.
4. Elemen tolok ukur keberhasilan pengembangan.
5. Elemen lembaga yang terlibat dalam pelaksanaan pengembangan. 6. Elemen sektor masyarakat yang terpengaruh pengembangan. 7. Elemen perubahan yang dimungkinkan dalam pengembangan.
8. Elemen aktivitas yang dibutuhkan dalam perencanaan tindakan pengembangan.
Strukturisasi sistem pengembangan agroindustri wijen dilakukan dengan menggunakan teknik Interpretative Struktural Modelling (ISM). ISM menganalisis elemen-elemen sistem dan memecahkannya dalam bentuk grafik dari hubungan langsung antar sub elemen dan tingkat hirarki. Proses strukturisasi sistem pengembangan agroindustri wijen didasarkan pada masukan dari pendapat pakar yang dilakukan melalui wawancara mendalam dengan pakar dan pihak yang terkait dalam sistem pengembangan. Hasil yang
diperoleh dari analisis ISM ini adalah informasi struktur sistem pengembangan yang berupa hirarki sub elemen diantara sub elemen yang lain, klasifikasi sub elemen berdasarkan karakteristik yang dinyatakan dengan tingkat driver power,
dan tingkat dependency masing- masing sub elemen dalam satu elemen
pengembangan serta identifikasi elemen kunci dalam pengembangan agroindustri wijen. Hubungan kontektual antar sub elemen pada setiap elemen pengembangan agroindustri wijen sebagai berikut :
1. Elemen tujuan pengembangan hubungan kontekstualnya adalah sub
elemen tujuan yang satu memberikan kontribusi tercapainya sub elemen tujuan yang lain.
2. Elemen kebutuhan pengembangan hubungan kontekstualnya adalah sub
elemen kebutuhan yang satu mendukung terpenuhinya sub elemen kebutuhan yang lain.
3. Elemen kendala dalam pengembangan hubungan kontektualnya adalah
sub elemen kendala yang satu menyebabkan sub elemen kendala yang lain.
4. Elemen tolok ukur keberhasilan pencapaian tujuan pengembangan
hubungan kontekstualnya adalah sub elemen tolok ukur keberhasilan pencapaian tujuan yang satu memberikan kontribusi terhadap sub elemen tolok ukur pencapaian tujuan yang lain.
5. Elemen sektor masyarakat yang terpengaruh pengembangan hubungan
kontektualnya adalah sub elemen sektor masyarakat yang terpengaruh pengembangan mempengaruhi sub elemen sektor masyarakat yang terpengaruh pengembangan yang lain.
6. Elemen lembaga yang terlibat pengembangan hubungan kontekstualnya
adalah sub elemen lembaga yang terlibat yang satu mendukung sub elemen lembaga yang terlibat yang lain.
7. Elemen perubahan yang dimungkinkan hubungan kontekstualnya adalah
sub elemen perubahan yang satu menyebabkan atau mendorong sub elemen perubahan yang lain.
8. Elemen aktivitas yang dibutuhkan dalam pengembangan hubungan
pengembangan yang satu mendukung sub elemen aktivitas yang dibutuhkan dalam pengembangan yang lain.
Elemen Tujuan Pengembangan
Elemen kebutuhan strategi pengembangan agroindustri wijen berdasarkan hasil kajian pustaka dan diskusi dengan beberapa pakar terdiri dari 13 sub elemen tujuan pengembangan yaitu :
1. Meningkatkan produktivitas dan produksi tanaman wijen (T-1). 2. Meningkatkan produktivitas, kualitas dan diversifikasi produk olahan
agroindustri wijen (T-2).
3. Mendorong pengembangan agroindustri wijen skala UKM (T-3). 4. Meningkatkan kemampuan bersaing agroindustri wijen (T-4). 5. Memperkokoh struktur ekonomi daerah (T-5).
6. Memperluas lapangan kerja dan meningkatkan kesempatan berusaha (T-6). 7. Meningkatkan nilai tambah (T-7).
8. Meningkatkan dan menghemat devisa negara (T-8). 9. Peningkatan dan pemerataan pendapatan masyarakat (T-9). 10. Mendorong pembangunan ekonomi daerah (T-10).
11. Penyebaran industri yang lebih merata (T-11).
12. Meningkatkan kualitas SDM sub sektor agroindustri wijen (T-12).
13. Meningkatkan peran serta masyarakat dan swasta dalam melakukan investasi (T-13).
Berdasarkan analisis dengan menggunakan teknik ISM, elemen tujuan pengembangan yang terdiri dari 13 sub elemen diperoleh struktur hirarki selengkapnya disajikan pada Gambar 23 dan elemen tersebut diplot ke dalam empat sektor selengkapnya disajikan pada Gambar 24. Hasil reachability matrik dan interpretasinya disajikan dalam Tabel 13
Tabel 13 tersebut, menunjukkan bahwa dalam strategi pengembangan agroindustri wijen tujuan meningkatkan produktivitas dan produksi tanaman wijen (T-1) merupakan elemen kunci yang perlu diperhatikan secara serius karena produktivitas dan produksi tanaman wijen erat kaitannya dengan ketersedian bahan
baku untuk industri, semakin tinggi produktivitas dan produksi tanaman wijen makin mantap ketersediaan bahan baku untuk agroindustri.
Tabel 13 Hasil reachability matriks final elemen tujuan pengembangan
Sub Elemen Tujuan
T-1 T-2 T-3 T-4 T-5 T-6 T-7 T-8 T-9 T- 10 T- 11 T- 12 T- 13 T-1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 13 1 T-2 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 12 2 T-3 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 10 3 T-4 0 0 0 1 1 0 0 1 0 1 1 0 1 6 6 T-5 0 0 0 0 1 0 0 1 0 1 1 0 0 4 7 T-6 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 9 4 T-7 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 9 4 T-8 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 9 T-9 0 0 0 0 1 0 0 1 1 1 1 0 1 7 5 T-10 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 2 8 T-11 0 0 0 0 1 0 1 0 1 1 0 0 4 7 T-12 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 12 2 T-13 0 0 0 1 1 0 0 1 0 1 1 0 1 6 6 D 2 4 4 9 11 10 8 13 8 12 12 10 10
Keberhasilan elemen ini akan mendorong tercapainya sub elemen tujuan pengembangan dibawahnya yaitu sub elemen meningkatkan produktivitas, kualitas dan diversifikasi produk olahan komoditas wijen (T-2), dan meningkatkan kualitas SDM sub sektor agroindustri wijen (T-12). Demikian seterusnya sehingga sub- sub elemen ini akan memberikan kontribusi tercapainya sub elemen tujuan di bawahnya.
Berdasarkan pemisahan tingkat pada reachability matriks, maka dapat dilakukan penetapan hirarki melalui ranking dengan merujuk pada aspek driver power. Hubungan struktur hirarki antar sub-sub elemen dari elemen tujuan pengembangan agroindustri wijen (Gambar 23).
Gambar 23 menunjukkan bahwa struktur hirarki mununjukkan hubungan langsung antar sub elemen tujuan pengembangan yang satu dengan yang lainnya, hal ini berarti bahwa tercapainya sub elemen tujuan pengembangan yang satu akan didorong oleh sub elemen pada hirarki dibawahnya.
Berdasarkan matrik driver- power dan dependence maka dapat
Gambar 24 Matrik driver power-dependence elemen tujuan pengembangan. Gambar 24. menunjukkan bahwa sub elemen meningkatkan kemampuan bersaing agroindustri wijen (T-4), memperkokoh struktur ekonomi daerah (T-5), meningkatkan dan menghemat devisa negara (T-8), mendorong pembangunan ekonomi daerah (T-10), penyebaran industri yang lebih merata (T-11), dan meningkatkan peran serta masyarakat dan swasta dalam melakukan investasi (T- 13) tergolong dalam kelompok dependent. Hal ini berarti bahwa sub elemen tujuan ini mempunyai ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sub elemen tujuan yang lain, tetapi mempunyai kekuatan pendorong rendah, sehingga sangat penting untuk diperhatikan dalam strategi pengembangan agroindustri wijen.
Sub elemen tujuan peningkatan dan pemerataan pendapatan masyarakat (T- 9), berdasarkan matrik driver power dan dependence tersebut berada di sektor
linkage yang berarti mempunyai kekuatan penggerak tinggi tetapi juga mempunyai tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap sub elemen lain dan hubungan atar peubah tidak stabil. Setiap tindakan pada sub elemen ini akan besar pengaruhnya, jika sub elemen tujuan ini berhasil, maka sukseslah pengembangan agroindustri wijen, sedangkan lemahnya tindakan pada sub elemen ini akan menyebabkan kegagalan pengembangan program, oleh karena itu sub elemen ini perlu dilakukan pengkaji secara benar dan hati- hati.
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa sub elemen meningkatkan produktivitas dan produksi tanaman Wijen (T-1), meningkatkan produktivitas,
Independent Dependent Lingkage Antonomous T-1 T-2 T-12 T-3 T-4 T-13 T-5 T-11 T-6 T-7 T-8 T-9 T-10 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1-0 11 12 13 Independent Dependent Lingkage Antonomous
kualitas dan diversifikasi produk olahan komoditas wijen (T-2), mendorong pengembangan agroindustri wijen skala UKM (T-3), memperluas lapangan kerja dan meningkatkan kesempatan berusaha (T-6), meningkatkan nilai tambah (T-7), dan meningkatkan kualitas SDM sub sektor agroindustri wijen (T-12), adalah
termasuk peubah bebas (independent). Sub-sub elemen pada sektor ini
mengandung kekuatan penggerak yang sangat tinggi (driver power) dalam