Model kelembagaan usaha yang tidak tepat dapat menjadi salah satu faktor yang menyebabkan suatu kegiatan usaha tidak berjalan dengan baik dan benar, hal inilah yang juga membuat agroindustri sutera alam di Indonesia tidak dapat berkembang sampai saat ini. Pemilihan suatu model kelembagaan usaha harus diperhatikan dengan baik, karena kelembagaan
71 usaha tersebut nantinya akan mempengaruhi perkembangan suatu kegiatan usaha baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang.
Model kelembagaan usaha yang paling tepat untuk kegiatan agroindustri sutera alam adalah kemitraan usaha. Kemitraan usaha pertanian sendiri terdiri dari beberapa pola. Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 44 tahun 1997, kemitraan usaha pertanian dapat berupa pola inti plasma, pola subkontrak, pola dagang umum, dan pola keagenan. Pola kemitraan inti plasma adalah hubungan kemitraan antara kelompok mitra sebagai plasma dengan industri selaku perusahaan inti. Pola subkontrak adalah hubungan kemitraan antara usaha kecil dengan usaha menengah atau usaha besar dimana usaha kecil memproduksi komponen yang diperlukan oleh usaha menengah atau usaha besar sebagai bagian dari produksinya. Pola dagang umum adalah hubungan kemitraan antara usaha kecil dengan usaha menengah atau usaha besar dengan cara memasarkan hasil produksi usaha kecil atau usaha kecil memasok kebutuhan yang diperlukan oleh usaha menengah atau usaha besar. Pola keagenan merupakan hubungan kemitraan dimana kelompok mitra diberi hak khusus untuk memasarkan barang dan jasa usaha perusahaan mitra (Hafsah, 2000).
Dari penjabaran di atas, maka pola kemitraan yang dirasa paling tepat untuk pengembangan agroindustri sutera alam adalah pola kemitraan inti plasma. Pemilihan pola kemitraan inti plasma ditunjang dengan pendapat Hafsah (2000) yang menyatakan bahwa salah satu keunggulan dari pola kemitraan inti plasma adalah dapat memberikan manfaat timbal balik antara pengusaha besar atau menengah sebagai inti dengan usaha kecil sebagai plasma. Manfaat tersebut diperoleh melalui cara pengusaha besar atau menengah memberikan pembinaan serta penyediaan saran produksi, bimbingan, pengolahan hasil serta pemasaran, dengan begitu perusahaan besar telah membagi risiko hasil serta pemasaran, dengan begitu pengusaha besar telah membagi risiko dan peluang bisnis dengan pengusaha kecil sebagai plasma.
72 Pertimbangan adanya manfaat timbal balik diantara perusahaan inti dengan kelompok plasma sangat penting untuk diperhatikan. Disamping kurangnya data dan informasi mengenai kegiatan budidaya ulat sutera pada tingkat petani, minimnya keuntungan kegiatan budidaya ulat sutera yang dirasakan petani juga membuat agroindustri sutera alam tidak dapat berkembang. Petani cenderung meninggalkan kegiatan budidaya ulat sutera karena masih banyak komoditas lain yang dianggap lebih ekonomis oleh petani.
Pola kemitraan inti plasma pada dasarnya melibatkan tiga unsur, yaitu petani/kelompok tani, pengusaha besar atau eksportir, dan bank (Plantus, 2008). Pola kemitraan inti plasma yang dilakukan pada agroindustri sutera alam secara teknis melibatkan para petani atau kelompok tani kokon dengan perusahaan agroindustri sutera alam. Petani atau kelompok tani berperan sebagai kelompok plasma dan perusahaan agroindustri sutera alam berperan sebagai perusahaan inti.
Perusahaan inti memiliki beberapa tugas dan tanggung jawab, yaitu berkewajiban membeli telur ulat dari produsen telur, menetaskan telur dan memelihara ulat sutera sampai instar III (dikenal dengan istilah ulat kecil), mendistribusikan ulat kepada para petani atau kelompok tani kokon, dan membeli hasil panen kokon dari para plasma. Sedangkan kelompok plasma bertangguang jawab dalam pemeliharaan ulat sutera selama instar IV sampai V (dikenal dengan istilah ulat besar), dan menjual hasil panen kokon prusahaan inti.
Pola kemitraan inti plasma juga akan berpengaruh pada analisis-analisis model-model yang terdapat pada program aplikasi Sidi-Kuu. Pemilihan pola kemitraan ini berpengaruh pada model pemilihan lokasi, dan model analisis kelayakan finansial. Pada model pemilihan lokasi alternatif budidaya dan agroindustri sutera alam, kriteria-kriteria yang dipilih dan ditetapkan mempertimbangkan kelangsungan kegiatan budidaya ulat sutera maupun agroindustri sutera alam. Sedangkan pada model analisis kelayakan finansial, analisis dilakukan pada perusahaan initi dan juga pada kelompok plasma.
73 6. Model Analisis Kelayakan Finansial Budidaya dan Agroindustri
Sutera Alam
Model analisis kelayakan finansial budidaya dan agroindustri sutera alam adalah model yang digunakan untuk mengetahui kelayakan pendirian budidaya dan agroindustri sutera alam dari sisi finansialnya. Kelayakan finansial dianalisis berdasarkan beberapa parameter kelayakan untuk melakukan penilaian investasi, yaitu NPV, PI, PBP, ROI, dan BEP. Model ini diharapkan mampu memberikan penilaian kelayakan penilaian finansial yang objektif terhadap rencana investasi budidaya dan agroindustri sutera alam.
Model analisis kelayakan finansial budidaya dan agroindustri sutera alam yang terdapat di dalam program aplikasi Sidi-Kuu terdiri dari model analisis kelayakan finansial yang ditujukan untuk perusahaan inti dan yang ditujukan untuk pelaku budidaya ulat sutera yaitu petani atau kelompok tani. Pada model analisis kelayakan finansial ini digambarkan bagaimana kelayakan suatu pendirian atau pengembangan suatu agroindustri sutera alam yang menggunakan pola kemitraan inti plasma.
Analisis kelayakan finansial pada pendirian atau pengembangan agroindustri sutera alam yang menggunakan pola kemitraan inti plasma menunjukkan bahwa suatu investasi yang akan dilakukan nantinya tidak hanya dimanfaatkan untuk menguntungkan perusahaan inti saja, namun juga berusaha menguntungkan para petani atau kelompok tani yang berperan sebagai plasma terhadap perusahaan inti tersebut.
a. Masukan model
Masukan model analisis kelayakan finansial budidaya dan agroindustri sutera alam terdiri dari biaya operasional yang dibagi menjadi biaya tetap dan biaya variabel, dana investasi, serta nilai-nilai asumsi yang digunakan dalam analisis. Masukan model analisis kelayakan finansial agroindustri sutera alam secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 2 hingga lampiran 7.
74 Pada model analisis kelayakan finansial perusahaan inti, masukan total dana investasi adalah sebesar Rp. 616.850.000. Total biaya operasional adalah sebesar Rp. 1.142.547.000 per tahunnya (ketika persentase produksi sudah 100%). Beberapa asumsi yang digunakan untuk melakukan analisis kelayakan finansial agroindsutri sutera alam pada perusahaan inti dapat dilihat pada Tabel 24.
Tabel 24. Asumsi yang digunakan untuk melakukan analisis kelayakan finansial pada perusahaan inti
Asumsi Nilai Satuan
Harga telur ulat 65.000 Rp/boks
Harga jual ulat instar III 170.000 Rp/boks
Harga beli kokon 20.000 Rp/kg
Harga jual benang 350.000 Rp/kg
Umur proyek 10 Tahun
Pada model analisis kelayakan finansial budidaya ulat sutera yang dilakukan oleh petani pada tingkat plasma, masukan total dana investasi adalah sebesar Rp. 45.104.000. Total biaya operasional adalah sebesar Rp. 17.060.000 per tahunnya (ketika persentase produksi sudah 100%). Beberapa asumsi yang digunakan untuk melakukan analisis kelayakan finansial agroindsutri sutera alam pada kelompok plasma dapat dilihat pada Tabel 25.
Tabel 25. Asumsi yang digunakan untuk melakukan analisis kelayakan finansial pada kelompok plasma
Asumsi Nilai Satuan
Luas lahan murbei 1 Ha
Kapasitas pemeliharaan ulat 5 boks/periode
Hasil panen kokon 40 kg/boks
Harga jual kokon 20.000 Rp/kg
Umur proyek 10 Tahun
b. Keluaran Model
Hasil perhitungan analisis kelayakan finansial berdasarkan beberapa parameter kelayakan untuk melakukan penilaian investasi pada perusahaan inti dapat dilihat pada Tabel 26.
75 Tabel 26. Hasil perhitungan penilaian investasi agroindustri benang
sutera mentah pada perusahaan inti
Parameter Kelayakan Nilai
Keuntungan bersih per tahun Rp. 227.069.940,60
NPV Rp. 167.415.828,02
ROI 14,34%
PI 1,10
BEP 2.853,00 kg
PBP 5,09 tahun
Dari Tabel 26 dapat disimpulkan bahwa agroindustri sutera alam pada perusahaan inti layak dijalankan atau dilaksanakan. Hal ini terlihat dari nilai-nilai parameter kelayakan investasti yang mengindikasikan bahwa usaha tersebut layak dijalankan atau dilaksanakan. Hasil perhitungan model analisis kelayakan finansial pada perusahaan inti menunjukkan bahwa perusahaan inti akan mendapatkan rata-rata keuntungan bersih per tahun sebesar Rp. 227.069.940,60. Keuntungan bersih ini merupakan keuntungan yang didapat setelah dikenakan pajak. Pada hasil perhitungan NPV didapatkan nilai yang posistif, yaitu sebesar Rp. 167.415.828,02. NPV merupakan salah satu parameter kelayakan penilaian investasi yang digunakan untuk menunjukkan apakah suatu investasi atau suatu usaha layak untuk dijalankan. NPV yang bernilai positif mengindikasikan bahwa suatu usulan investasi layak untuk dijalankan. Nilai PI menggambarkan perbandingan antara nilai sekarang penerimaan-penerimaan kas bersih di masa mendatang dengan nilai sekarang investasi. PI yang memiliki nilai lebih besar dari satu (PI >1) menggambarkan bahwa suatu usulan investasi layak untuk dijalankan, sehingga usaha agroindustri benang sutera mentah pada perusahaan inti layak untuk dijalankan. BEP digunakan untuk menghitung titik impas dari investasi yang dijalankan. Nilai BEP yang dihasilkan adalah 2.853 kg, artinya bahwa titik impas agroindsutri sutera alam pada perusahaan inti akan tercapai ketika penjualan benang sutera mentah mencapai 2.853 kg.
76 Hasil perhitungan analisis kelayakan finansial berdasarkan beberapa parameter kelayakan untuk melakukan penilaian investasi pada kelompok plasma dapat dilihat pada Tabel 27.
Tabel 27. Hasil perhitungan penilaian investasi budidaya ulat sutera pada kelompok plasma
Parameter Kelayakan Nilai
Keuntungan bersih per tahun Rp. 7.851.240,00
NPV Rp. 24.127.825,45
ROI 14,03 %
PI 1,39
BEP 584,00 kg
PBP 4,92 tahun
Dari tabel di atas juga dapat disimpulkan bahwa budidaya sutera alam yang dijalankan oleh petani pada tingkat plasma layak dijalankan atau dilaksanakan. Hal ini terlihat dari nilai-nilai parameter kelayakan finansial yang mengindikasikan bahwa usaha tersebut layak dijalankan atau dilaksanakan.
Dari lahan murbei seluas 1 Ha, rata-rata keuntungan bersih yang akan didapatkan kelompok plasma setiap tahunnya adalah sebesar Rp. 7.851.240,00. Nilai NPV sebesar Rp. 24.127.825,45 menunjukkan bahwa kegiatan budidaya ulat sutera pada kelompok plasma layak untuk dijalankan. Nilai PI dari hasil analisis finansial budidaya ulat sutera pada kelompok plasma adalah sebesar 1,39. Titik impas dari investasi pada kegiatan budidaya ulat sutera di tingkat plasma akan didapat ketika sudah berhasil menjual kokon hasil panen sebanyak 584,00 kg. Investasi yang dilakukan pada kegiatan budidaya ulat sutera di tingkat plasma diperkirakan akan kembali setelah kegiatan ini berlangsung selama 4,92 tahun atau sekitar 4 tahun 11 bulan.
Dalam melakukan analisis kelayakan finansial suatu penilaian investasi perlu dilakukan pengujian terhadap tingkat sensitivitasnya. Pengujian dilakukan pada tiga kondisi yang berbeda pada masing-masing kegiatan yaitu pada perusahaan inti dan pada tingkat plasma.
77 Pada perusahaan inti agroindustri sutera alam, skenario pertama adalah kondisi saat terjadi kenaikan harga bahan baku utama yaitu kokon sebesar 5% dari harga pembelian normal. Skenario kedua adalah kondisi saat terjadi penurunan harga jual produk yaitu benang sutera mentah sebesar 3% dari harga penjualan normal. Skenario ketiga adalah saat terjadi penurunan kualitas kokon yang mengakibatkan perubahan rendemen kokon, yang pada kondisi normal 1 kg benang sutera mentah dihasilkan dari 10 kg kokon akan berubah menjadi setiap 1 kg benang sutera mentah dihasilkan dari 11 kg kokon. Hasil perhitungan analisis sensitivitas untuk agroindustri sutera alam yang dilakukan oleh perusahaan inti dapat dilihat pada Tabel 28.
Tabel 28. Hasil analisis sensitivitas agroindustri sutera alam yang dilakukan oleh perusahaan inti.
Parameter Kelayakan Kenaikan Harga Kokon (5%) Penurunan Harga Jual Benang (3%) Perubahan Rendemen Keuntungan
bersih per tahun Rp. 194.037.492,60 Rp. 194.737.332,60 Rp. 162.375.953,40 NPV Rp. -36.723.417,00 Rp. -10.642.379,25 Rp. -265.974.248,54
ROI 12,01 % 12,29% 9,6 %
PI 0,98 0,99 0,86
BEP 3.135,00 kg 3.150,00 kg 3.788,00 kg
PBP 5,67 tahun 5,59 tahun 6,46 tahun
Analisis sensitivitas yang dilakukan dengan pada skenario pertama dimana terjadi kenaikan harga beli kokon sebesar 5% dari harga normal (dari harga awal Rp. 20.000/kg menjadi Rp. 21.000/kg) menunjukkan bahwa agroindustri sutera alam yang dilakukan pada perusahaan inti tidak layak untuk dijalankan atau dilaksanakan. Hal ini dikarenakan jika terjadi kenaikan harga beli kokon sebesar 5% dari harga normal, maka parameter-parameter yang digunakan untuk menilai kelayakan agroindustri benang sutera mentah pada perusahaan inti menunjukkan hasil yang mengindikasikan bahwa agroindutri tersebut tidak layak untuk dijalankan. Hasil perhitungan NPV mengindikasikan agroindustri ini tidak layak dijalankan karena nilai NPV negatif, yaitu sebesar Rp. -36.723.417,00. Hasil perhitungan PI semakin
78 mengindikasikan bahwa kegiatan agroindustri benang sutera mentah pada perusahaan inti tidak layak dijalankan, karena nilainya yang kurang dari satu, yaitu sebesar 0,98.
Analisis sensitivitas pada skenario yang kedua adalah analisis yang dilakukan dengan asumsi terjadi penurunan harga jual benang sebesar 3% dari harga jual normal, yaitu terjadi perubahan harga jual benang sutera mentah dari harga awal Rp. 350.000,00 per kg menjadi Rp. 339.500,00 per kg. Adanya penurunan harga jual benang sutera mentah tersebut akan membuat agroindustri sutera alam pada perusahaan inti tidak layak untuk dijalankan atau dilaksanakan. Ketidaklayakan tersebut ditunjukkan dari nilai NPV yang bernilai negatif, yaitu sebesar Rp. -10.642.379,25 dan nilai PI yang bernilai 0,99.
Penurunan harga jual benang sutera mentah yang terjadi dapat ditanggulangi sehingga tidak menyebabkan agroindustri ini tidak layak untuk dijalankan. Cara yang dapat dilakukan untuk tetap membuat agroindustri ini layak untuk dijalankan walaupun terjadi penurunan harga jual benang sutera mentah adalah dengan menurunkan harga beli kokon dari kelompok plasma. Hal ini dapat dilakukan karena terdapat keterkaitan antara perusahaan inti dengan kelompok plasma, karena jika perusahaan inti tidak dapat berjalan maka kelompok plasma juga tidak dapat menjual hasil panennya. Namun demikian, penurunan harga beli kokon yang dilakukan oleh perusahaan inti terhadap kelompok plasma tidak boleh menyebabkan kelompok plasma ini menjadi rugi (kegiatan budidaya ulat sutera pada kelompok plasma harus tetap layak untuk dijalankan). Setelah dilakukan analisis maka diketahui untuk menanggulangi penurunan harga jual benang sutera mentah sebesar 3%, dilakukan penurunan harga beli kokon dari kelompok plasma sebesar 1% dari harga kokon normal (dari harga awal Rp. 20.000,00 per kg menjadi Rp. 19.800,00 per kg). Hasil analisis tersebut dapat dilihat pada Tabel 29.
79 Tabel 29. Pengaruh penurunan harga kokon akibat terjadi penurunan
harga jual benang
Parameter Kelayakan Penurunan Harga Jual Benang (3%)
Setelah dilakukan Penurunan Harga
Kokon (1%) Keuntungan bersih per tahun Rp. 194.737.332,60 Rp. 201.343.822,20 NPV Rp. -10.642.379,25 Rp. 30.185.469,75
ROI 12,29% 12,76%
PI 0,99 1,02
BEP 3.150,00 kg 3.089,00 kg
PBP 5,59 tahun 5,47 tahun
Analisis sensitivitas pada skenario yang ketiga adalah analisis yang dilakukan dengan asumsi terjadi penurunan rendemen kokon. Jika pada awalnya 1 kg benang sutera mentah dihasilkan dari 10 kg kokon, maka terjadi penurunan rendemen sehingga setiap 1 kg benang sutera mentah dihasilkan dari 11 kg kokon. Adanya penurunan nilai rendemen kokon akan membuat agroindustri sutera alam pada perusahaan inti tidak layak untuk dijalankan atau dilaksanakan. Ketidaklayakan tersebut ditunjukkan dari nilai NPV yang bernilai negatif, yaitu sebesar Rp. -265.974.248,54 dan nilai PI yang bernilai 0,86.
Analisis sensitivitas yang dilakukan terhadap usaha budidaya ulat sutera pada tingkat plasma juga dilakukan dengan tiga skenario. Skenario pertama adalah kondisi saat terjadi kenaikan harga ulat instar III sebesar 53%, skenario kedua adalah kondisi saat terjadi penurunan harga jual kokon sebesar 14%, dan skenario ketiga adalah kondisi saat terjadi penurunan hasil panen menjadi 34 kg kokon per boks. Hasil perhitungan analisis sensitivitas untuk usaha budidaya ulat sutera yang dilakukan oleh pada tingkat plasma dapat dilihat pada Tabel 30.
Analisis sensitivitas yang dilakukan pada skenario pertama yaitu pada saat terjadi kenaikan harga beli ulat instar III sebesar 53% dari harga normal (dari harga awal Rp. 170.000,00 per boks menjadi Rp. 260.100,00 per boks) akan mengakibatkan kegiatan budidaya ulat sutera pada kelompok plasma menjadi tidak layak dijalankan atau dilaksanakan. Kenaikan harga beli ulat instar III sebesar 53% mengakibatkan parameter NPV menjadi bernilai negatif, yaitu sebesar
80 Rp. -292.489,07, dan nilai parameter PI menjadi kurang dari satu, yaitu sebesar 0,99.
Tabel 30. Hasil analisis sensitivitas usaha budidaya ulat sutera yang dilakukan oleh petani pada tingkat plasma.
Parameter Kelayakan
Kenaikan Harga Ulat Instar III
(53%) Penurunan Harga Kokon (14%) Penurunan Hasil Panen Kokon (34 Kg per boks) Keuntungan
bersih per tahun Rp. 4.283.280,00 Rp. 3.819.240,00 Rp. 3.531.240,00 NPV Rp. -292.489,07 Rp. -1.748.170.40 Rp. -3.596.455.82
ROI 7,24 % 6,83 % 6,311 %
PI 0,99 0,97 0,94
BEP 690,00 kg 721,00 kg 624,00 kg
PBP 6,50 tahun 6,60 tahun 6,81 tahun
Analisis sensitivitas yang dilakukan pada skenario kedua yaitu pada saat terjadi penurunan harga jual kokon sebesar 14% dari harga jual normal (dari harga awal Rp. 20.000,00 per kg menjadi Rp. 17.200,00 per kg) menunjukkan bahwa kegiatan budidaya ulat sutera pada tingkat plasma tidak layak untuk dijalankan atau dilaksanakan. Hal tersebut ditunjukkan dari nilai NPV yang bernilai negatif, yaitu sebear Rp. -1.748.170.40 dan nilai PI yang bernilai kurang dari satu yaitu sebesar 0,97.
Penurunan harga jual kokon yang terjadi dapat ditanggulangi sehingga tidak menyebabkan kegiatan budidaya ini tidak layak untuk dijalankan. Cara yang dapat dilakukan untuk tetap membuat kegiatan budidaya ini layak untuk dijalankan walaupun terjadi penurunan harga jual kokon adalah dengan menurunkan harga beli ulat instar III dari perusahaan inti. Penurunan harga beli ulat instar III yang dilakukan oleh kelompok plasma terhadap perusahaan inti tidak boleh menyebabkan perusahaan inti ini menjadi rugi (agroindustri benang sutera mentah pada perusahaan inti harus tetap layak untuk dijalankan). Setelah dilakukan analisis maka diketahui untuk menanggulangi penurunan harga jual kokon sebesar 14%, dilakukan penurunan harga beli ulat instar III dari perusahaan inti sebesar 4% dari harga ulat instar III
81 normal (dari harga awal Rp. 170.000,00 per boks menjadi Rp. 163.200,00 per boks). Hasil analisis tersebut dapat dilihat pada Tabel 31.
Tabel 31. Pengaruh penurunan harga kokon akibat terjadi penurunan harga jual benang
Parameter Kelayakan Penurunan Harga Kokon (14%)
Setelah dilakukan Penurunan Harga Ulat Instar III (4%) Keuntungan bersih per tahun Rp. 3.819.240,00 Rp. 4.088.520,00
NPV Rp. -1.748.170.40 Rp. 94.872.20
ROI 6,83 % 7,34 %
PI 0,97 1,00
BEP 721,00 kg 711,00 kg
PBP 6,60 tahun 6,41 tahun
Analisis sensitivitas yang dilakukan pada skenario ketiga yaitu pada saat terjadi penurunan kuantitas hasil panen kokon pada kelompok plasma. Jika pada awalnya 1 boks ulat instar III yang dibeli oleh kelompok plasma dari perusahaan inti akan menghasilkan 40 kg kokon pada saat di panen, saat ini diasumsikan bahwa setiap 1 boks ulat instar III akan menghasilkan 34 kg kokon. Hasil analisis pada skenario ketiga menunjukkan bahwa penurunan hasil panen kokon dari 40 kg per boks menjadi 34 kg per boks akan membuat kegiatan budidaya ulat sutera yang dilakukan oleh kelompok plasma menjadi tidak layak untuk dijalankan. Hasil perhitungan NPV ialah sebesar Rp. -3.596.455.82, dan parameter PI memiliki nilai sebesar 0,94.
c. Tampilan Model Analisis Kelayakan Finansial Budidaya dan Agroindustri Sutera Alam
Tampilan model analisis kelayakan finansial pada perusahaan inti dapat dilihat pada Gambar 26, dan tampilan model analisis kelayakan finansial pada tingkat plasma dapat dilihat pada Gambar 27.
Pada model analisis kelayakan finansial budidaya dan agroindustri sutera alam terdapat tampilan report yang menggambarkan kelayakan finansial pada perusahaan inti dan pada kelompok plasma.
82 Tampilan report kelayakan finansial pada perusahaan inti disajikan pada Gambar 28, sedangkan tampilan report kelayakan finansial pada kelompok plasma disajikan pada Gambar 29.
Gambar 26. Tampilan model analisis kelayakan finansial pada perusahaan inti
Gambar 27. Tampilan model analisis kelayakan finansial pada tingkat plasma
83 Gambar 28. Tampilan report kelayakan finansial pada perusahaan inti
Gambar 29. Tampilan report kelayakan finansial pada kelompok plasma