BAB V : KESIMPULAN DAN PENUTUP
D. Model Komisi Pemberantasan Korupsi di Beberapa Negara
1. Komisi Pemberantasan Korupsi di Singapura
Keberhasilan Singapura memberantas korupsi219 yang paling utama adalah karena adanya Kemauan Politik (political will) untuk memberantas korupsi. Kemauan politik tersebut diartikan sebagai:220
a) Adanya kemauan dan pernyataan untuk memberantas korupsi;
b) Adanya peraturan perundang-undangan yang kuat yang dibuat untuk mendukung upaya pemberantasan korupsi; dan
c) Adanya contoh konkret dari pejabat di Singapura untuk melaksanakan peraturan pemberantasan korupsi
Strategi yang digunakan bersifat komprehensif dan terintegrasi secara nasional, baik mencakup aspek represif maupun preventif. Dalam strategi tersebut yang perlu diperhatikan adalah: 2211) Corruption Practices Investigation Bureau; 2) Attorney General Chamber; 3) Commercial Affairs Department; 4) Auditor’s General Office; dan 5) Public Service Division.
Corruption Practices Investigation Bureau (CPIB)
219
Azis Syamsudin, Tindak Pidana Khusus, (Jakarta: Grafika, 2011), Delik korupsi di Singapura yang substansif adalah dari KUHP yang umumnya menyangkut suap menyuap dan ada juga di dalam Undang-undang Pemberantasan Tipikor Singapura yang disebut Preventif of
Corupption Act (PCA), adapun yabg berasal dari PCA hanya dua buah substansi, yaitu Pasal 5 dan
6 PCA ditambah debgab hal yang memberatkan ancaman Pidana menjadi tujuh tahun dari maksimum dari lima tahun penjara (Pasal 7 PCA). Ditambah lagi dengan dugaan korupsi dalam ha tertentu (prevention of corruption in certain cases)
220
Badan Pengawasan Keuangan dan Pembanguna, “Studi Banding Tentang Tata cara
Pemberantasan Praktek Korupsi di Singapura dan Malaysia”, Laporan hasil kunjugan Tim BPKP
ke Singapura dan Malasya dalam rangka penyiapan proyek Development of Indonesia Secktor Auditor, Juli 2005, h.436
221
Corruption Practices Investigation Bureau (CPIB)222 yang didirikan tahun 1952 adalah sebuah badan independen yang bertanggung jawab untuk melakukan investigasi dan tindakan preventif korupsi di Singapura.223 Pada awalnya CPIB merupakan Anti-Corruption Branch pada Singapore Police Force, karena pengalaman menunjukkan bahwa selama berada di jajaran unit tersebut tidak dapat bekerja efektif. Corruption Practices Investigation Bureau (CPIB) berfungsi antara lain:224
a) Menerima pengaduan dan melakukan investigasi praktik-praktik korupsi baik di sektor publik maupun di sektor swasta;
b) Melakukan investigasi atas pejabat pemerintah yang melakukan pelanggaran dan malpraktik; dan
c) Melakukan pencegahan korupsi dengan cara melakukan review atas praktik dan prosedur administratif pada departemen-departemen untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya korupsi.
Pengertian korupsi disini mencakup korupsi di lingkungan pemerintah dan korupsi di lingkungan swasta, tetapi CPIB sampai dengan pertengahan tahun 1977 masih memfokuskan pada tindak pidana korupsi di lingkungan pemerintah. CPIB berada langsung di bawah Perdana Menteri dan dalam melaksanakan tugasnya mempunyai kewenangan menentukan sendiri siapa yang akan dituduh.
222
Azis Syamsuddin, op.cit., h.215, Berdasarkan ketentuan Pasal 3 PCA, presiden mengangkat seorang pejabat untuk menjadi direktur CPIB.
223
Marwan Effendy, op.cit. h.88
224
CPIB mempunyai tugas utama melakukan investigasi (setara dengan penyidikan di Indonesia) atas kasus-kasus korupsi225. Sedangkan, untuk melakukan penuntutan yang melakukannya adalah Kejaksaan Singapura (Attorney General Chamber (AGC)). Dalam menjalankan tugasnya CPIB memiliki kewenangan untuk melakukan investigasi, menyita barang dan dokumen226, serta menahan orang. Kerjasama antara CPIB sebagai investigator dan AGC sebagai penuntut umum terjalin sangat baik, sehingga kewenangan-kewenangan yang diberikan dalam rangka pemberantasan korupsi dapat dipergunakan secara optimal.
Attorney General Chamber (AGC)
Attorney General Chamber (AGC) adalah Kejaksaan Singapura yang
berfungsi sebagai penuntut umum. Dalam menangani kasus yang dituntutkan ke pengadilan, AGC menerima kasus dari CPIB, Polisi, dan Central Narcotics Bureau (CNB). AGC mendelegasikan kewenangan untuk melakukan prosecution
kepada Commercial Affair Department untuk kasus-kasus pelanggaran Company Art dan mendelegasikan kepada Polisi untuk kasus-kasus minor sejenis tilang lalu
lintas.
Penanganan kasus korupsi sepenuhnya dilakukan oleh CPIB dan AGC tanpa keterlibatan pihak Kepolisian. AGC menelaah secara detail berkas yang diajukan CPIB untuk diajukan ke pengadilan. Apabila tidak cukup bukti, kasus tersebut disarankan oleh AGC ke CPIB untuk dialihkan ke proses berdasarkan ketentuan
225
Azis Syamsuddin, op.cit. h.216, Delik pidana yang dapat disidik CPIB adalah delik yang tercantum di dalam Pasal 165 atau 213-215 PCA, yakni setiap persekongkolan untuk melakukan atau percobaan untuk melakukan atau pembantuan untuk melakukan delik tersebut.
226
administratif pegawai negeri, misalnya dipecahkan sebagai kasus pelanggaran disiplin.227 Kerjasama yang baik antara CPIB sebagai investigator dan AGC sebagai penuntut umum menjadikan pemrosesan atas kasus-kasus korupsi dapat dilakukan dengan cepat dan tegas.
Commercial Affair Department (CAD)
Commercial Affair Department (CAD) didirikan pada tahun 1989 dengan maksud memerangi commercial fraud. CAD merupakan bagian dari Departemen Keuangan Singapura yang bertugas untuk menegakkan Company Art. Pendirian
CAD adalah untuk mewujudkan “Singapore should be a secure place to do business”. CAD mempunyai kewenangan untuk melakukan investigasi dan
penuntutan yang dilakukan berdasarkan pengaduan atas pelanggaran Company Art. Kewenangan tersebut sebagian tumpang tindih dengan kewenangan
Kepolisian Singapura, karena itu mereka mempunyai suatu pedoman kerjasama antara CAD dan Police, yang menjadikan pelaksanaan tugasnya menjadi tidak tumpang tindih.
CAD memiliki kelompok investigator dan kelompok prosekutor (Jaksa/ Penuntut Umum), sehingga kasus-kasus yang ditangani dapat langsung diajukan ke pengadilan tanpa melewati Attorney General Chamber (AGC). Sebenarnya semua prosekutor di CAD adalah prosekutor yang sama yang ada di AGC. Mereka adalah prosekutor yang ditempatkan oleh Legal and Judicial Service Commision di CAD dan AGC yang mendelegasikan kewenangannya untuk
melakukan penuntutan kepada CAD. Setiap penuntutan yang dilakukan oleh CAD
227
dilaporkan kepada AGC, sehingga hasil kerja CAD di bidang penuntutan tercantum dalam laporan tahunan AGC. Dan semua prosekutor (Jaksa/ Penuntut Umum) adalah kelompok pejabat fungsional yang perekrutan dan penempatannya ditentukan oleh Legal and Judicial Service Commision.228
Auditor General Office (AGO)
Auditor General Office (AGO) berada langsung di bawah Perdana Menteri
dan independen dari kementerian lain. Pengorganisasiannya dilakukan sesuai dengan kementrian yang ada dan menggunakan pendekatan integrated audit approach, dimana auditor AGO yang ditugaskan melakukan semua audit
keuangan, audit performance, dan audit manajemen yang dilakukan terhadap suatu instansi. Beberapa kementerian memiliki internal audit sendiri dan dalam hal ini AGO banyak menggunakan hasil kerja internal auditor kementerian tersebut.
Kewenangan investigasi tidak dimiliki oleh AGO dan apabila AGO mengetahui adanya indikasi korupsi atau tindak pidana, hal itu akan segera diinformasikan kepada Corruption Practices Investigation Bureau (CPIB) atau Kepolisian. Cara pemilihan audit dilakukan berdasarkan tingkat materialitasnya dengan komposisi staf AGO yang mayoritas hanya akuntan. Secara umum AGO dibentuk bukan untuk memberantas korupsi di Singapura.229
Public Service Division (PSD)
Public Service Division (PSD) merupakan bagian dari Kantor Perdana
Menteri yang mengurusi masalah yang berkaitan dengan pegawai negeri
228
Marwan Effendy, op.cit.,h.90 229
Singapura. PSD mempunyai rencana strategi yang jelas dengan slogan “Public Service for the 21 th Century”.
Public Service Division (PSD) mempunyai misi antara lain: 1) membentuk
abdi negra yang kapabel, berorientasi ke depan, dan efektif berdasarkan prinsip-prinsip yang tidak bisa diajak korupsi, berpegang pada prestasi, dan tidak berpihak untuk mencapai bangsa yang dinamis, sukses, dan ekselen; 2) menjamin ketersediaan dan pengembangan secara kontinu kepemimpinan yang superior di lingkungan public; 3) mempertimbangkan gabungan bakat secara nasional untuk menjamin perkembangan sosial dan ekonomi di lingkungan yang aman dan stabil; dan 4) mengoperasikan PSD dengan hasil ekselen.
Divisi ini secara tidak langsung memilki kontribusi yang signifikan untuk pencegahan korupsi, terutama sehubungan dengan kewenangannnya dalam masalah penggajian dan sistem promosi-mutasi pengawai negeri Singapura. Ditanganinya masalah tersebut dengan tepat, keinginan untuk melakukan korupsi dari para pegawai negeri Singapura akan dapat ditekan seminimal mungkin.
2. Komisi Pemberantasan Korupsi di Malaysia
Sama seperti Singapura, strategi penanganan korupsi di Malaysia digunakan secara komprehensif dan terintegrasi secara nasional. Walaupun yang menjadi ujung tombak pemberantasan korupsi adalah sebuah badan yang dibentuk khusus untuk itu, tetapi dukungan instansi pemerintah yang lain sangat membantu menciptakan lingkungan yang antikorupsi. Berkaitan dengan strategi komprehensif tersebut, yang perlu diperhatikan adalah: 1) Badan Pencegah
Rasuah; 2) Jabatan Peguam Negara; 3) Jabatan Audit Negara; 4) Jabatan
Pengkhidmatan Awam; 5) United Malays National Organization.230
Badan Pencegah Rasuah
Badan Pencegah Rasuah atau Anti-Corruption Agency ini dibentuk dengan
tujuan untuk menghapuskan segala bentuk korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan yang dilaranng oleh ketentuan perudang-undangan. Dalam pelaksanaan tugas tersebut telah dibuat beberapa perundang-undangan antara lain:231
a) Akta Badan Pencegah Rasuah (Anti Corupption Agency Act 1982 ) yang menjadi payung hukum pembentukan Badan Pecengahan Rasuah (BPR);
b) Akta Badan Pencegah Rasuah (Prevention of Corruption Act No.57/1961) atau Akta Pencegahan Rasuah 1961;
c) Anti Corruption Act (ACA) 1997 (Saat ini berlaku) d) Emergency (Essential Powers Ordinance) No.22/1970; e) Ordinan No. 20 Darurat 1970;
f) Kanun Kesiksaan ; g) Kanun Prosedur Jenayah; h) Akta Polis 1967;
i) Akta Kastam
Ketua Badan Pencegah Rasuah berada di bawah Perdana Menteri dan Badan Pencegah Rasuah memiliki kantor pusat dan cabang-cabang di Negara bagian, sedangkan pegawainya adalah pegawai negeri yang diatur oleh Jabatan
230
Ibid.,h.92 231
Perkhidmatan Awam yang terdiri atas: 1) Pegawai Siasatan-Invetigator; 2)
Penolong Pegawai Siasatan-asisten Investigator; 3) Pembantu Siasatan-petugas
Intelijen.232 Kewenangan badan ini mencakup: 1) menyidik masalah rausah dan penyalahgunaan kekuasaan; 2) memanggil dan mencatat kenyataan atau kesaksian; 3) memasuki premis orang; 4) merampas dokumen dan barang; 5) memeriksan rekening bank dan institusi keuangan lainnya; dan 6) menahan para tersangka dan mengajukan tuntutan di pengadilan. Dalam pengajuan tuntutan ke pengadilan Badan Pencegah Rasuah harus mendapat izin (consent) dari pihak Jabatan Peguam Negara (Jaksa Agung Malaysia).233 Menurut Badan Pencegah Rasuah, korupsi disebabkan oleh kemajuan ekonomi yang pesat sehingga mengakibatkan sangat tingginya persaingan, gaji pegawai yang kecil, dan rasa tamak individu.
Jabatan Peguam Negara
Jabatan Peguam Negara atau Jaksa Agung diangkat oleh yang Dipertuan
Agong (Raja), sehingga Jabatan Peguam Negara independen. Secara umum Jabatan Peguam Negara menerima kasus dari Badan Pencegah Rasuah dan Jabatan Peguam Negara mempunyai kewenangan penuh untuk memutuskan
apakah kasus tersebut diteruskan ke pengadilan atau tidak. Apabila Jabatan Peguam Negara telah memutuskan suatu kasus untuk tidak diajukan ke
pengadilan, maka Jabatan Peguam Negara tidak dapat mempersoalkannya. Untuk mempermudah hubungan kerja antara Badan Pencegah Rasuah dan Jabatan Peguam Negara, beberapa tenaga Jaksa ditempatkan di Badan Pencegah Rasuah,
232
Marwan Effendy, op.cit. h.92.
233
dengan penempatan Jaksa tersebut Badan Pencegah Rasuah diberi kewenangan234 untuk melakukan penuntutan untuk kasus-kasus korupsi yang umum tapi hanya dibatasi pada pengadilan tingkat pertama saja. Untuk kasus yang besar atau kasus pada tingkat yang lebih atas (kasus banding) ditangani oleh Jabatan Peguam Negara secara langsung. Dari sudut pandang Jabatan Peguam Negara, berkaitan
dengan pengawasan, pers juga dapat dipergunakan sebagai alat pengawasan, tetapi harus dilakukan secara hati-hati. Kasus-kasus yang masih dalam tahap investigasi tidak boleh diinformasikan kepada pers, karena akan merugikan orang yang diperiksa. Jadi Jabatan Peguam Negara tidak menyiarkan suatu kasus sampai kasus tersebut diproses di pengadilan.
Jabatan Audit Negara
Jabatan Audit Negara bertugas untuk melakukan audit atas
pertanggungjawaban keuangan Negara Malaysia. Jabatan Audit Negara adalah berdiri sendiri (tidak di bawah eksekutif, legislatif, maupun yudikatif) tetapi tingkatnya lebih rendah daripada ketiga cabang pemerintahan tersebut. Ketua Jabatan Audit Negara diangkat oleh Yang Dipertuan Agong (Raja). Struktur organisasi Jabatan Audit Negara dibagi menurut jenis auditnya, yaitu Assistant Auditor General yang mengaudit unit Federal dan Negara Bagian serta Kepala
Administrasi. Jabatan Audit Negara mempunyai kewenangan untuk mendapatkan informasi dan penjelasan, mengakses dokumen, mengambil informasi dari auditinya. Jabatan Audit Negara juga bisa mendapatkan saran dari pejabat ahli hukum. Audit yang dilakukan Jabatan Audit Negara meliputi audit ketaatan, audit
234
Azis Syamsuddin, op.cit. h.225, BPR memiliki wewenang dalam bidang penyidkan, penggeledahan, penyitaan, dan penahanan. Dengan wewenang tersebut, BPR dapat memeriksa orang, melakukan penggeledahan, meminta dokumen, dan menyita barang bergerak.
keuangan, audit sistem informasi, dan audit performance. Akan tetapi, kadang-kadang ada tugas untuk mendalami sesuatu hal atas permintaan yang berkuasa.235 Jabatan Perkhidmatan Awam
Jabatan Perkhidmatan Awam merupakan Public Service Malaysia, yang
menangani segala sesuatu yang berkaitan dengan kepegawaian dari pegawai negeri sampai militer Malaysia yang berada langsung di bawah Perdana Menteri. Sesuai dengan Konstitusi Federal Malaysia, pegawai negeri dikelompokkan menjadi kelompok-kelompok yang pengangkatannya dilakukan oleh komisi tertentu. Pegawai negeri yang bertugas di bidang hukum (seorang Jaksa) pengangkatannya dilakukan oleh Judicial And Legal Service Commision. Sama seperti di Singapura, Jabatan Perkhidmatan Awam juga mempunyai rencana
strategis dengan slogan “Towards Excellence” yang didasarkan pada visi Mahathir
Muhammad: Vision 2020. Jabatan Perkhidmatan Awam secara tidak langsung memiliki kontribusi yang siginifikan dalam pencegahan korupsi, terutama dengan kewenangannya dalam masalah penggajian dan sistem penilaian prestasi kerja pegawai negeri Malaysia.236 Dengan menangani masalah penggajian dan sistem penilaian prestasi kerja secara tepat, keingingan untuk melakukan korupsi dari para pegawai negeri Malaysia akan dapat ditekan seminimal mungkin.237
3. Komisi Pemberantasan Korupsi di Hong Kong
235
Marwan Effendy, op.cit.,h.94 236
Azis syamsuddin, op.cit. h.225 Substansi penyidikan yang dilakukan BPR tidak hanya delik-delik yang trercantum dalam ACA, tetapi juga didalam KUHP-nya termasuk UU Kepabean, UU pemilu, dan Pelanggaran Peraturan Disiplin Pegawai Negeri tanpa mengubah ancaman pidananya.
237
Hong Kong diperintah oleh seorang Gubernur Jenderal (sebelum Hong Kong Hand Over), sebuah Executive Council, dan sebuah Legislative Council. Di bawah ketiga lembaga tersebut terdapat unit Kepolisian yang dipimpin oleh seorang Commissioner dengan dibantu oleh seorang Deputy Commissioner. Unit Kepolisian memiliki lima cabang, yaitu: 1) Special Branch; 2) Criminal Investigation; 3) Personel and Support; 4) Civil and Administration; 5) Field
Operations. Setiap cabang dipimpin oleh Director yang pangkatnya setingkat
dengan Senior Assistant Commissioner.238
Pada tahun 1970-an, walaupun masih banyak Polisi Hong Kong yang jujur, tetapi pada waktu itu diakui terdapat korupsi yang sistematik dan rutin. Di sektor swasta, tradisi memberikan “komisi” sangat meluas, dan tidak bisa
dibedakan penyuapan atau kick back. Banyak analisis keturunan China maupun non-China menyatakan tradisi lokal dan karakteristik budaya telah mendorong munculnya praktik korupsi tersebut. Hal tersebut sejalan dengan yang dikatakan
Kaisar K‟ang-his pada tahun 1709;
It is imposible for any magistrate to support his family and to pay for the service rendered buy his secretaries and servans without charging a single cash in excess. A magistrate charging ten percent in excess of regular taxes may be considered a good official (mustahil bagi hakim/pejabat pengadilan rendah apapun untuk menghidupi keluarga dan membayar jasa pembantu/pelayan tanpa membebankan biaya yang lebih. Seorang hakim /pejabat pengadilan rendah membebankan 10% kepajak secara rutin dianggap sebagai pejabat yang baik).239
Banyak orang yang menyatakan upaya untuk mengurangi praktik korupsi akan sia-sia belaka. Pada tahun 1948 diberlaku Prevention of Coruption Ordinace
238
Badan Pengawasan Keuangan dan Pembanguna, Strategi Pemberantasan Korupsi
Nasional , Edisi Maret, Jakarta, h.446
239
yang memberikan kewenangan kepada yang berwajib untuk melakukan investigasi sampai ke rekening bank milik tersangka, rekening surat berharganya, dan rekening transaksi-transaksinya untuk mendapat bukti pendukung atau sangkaan atau perbuatan korupsi. Pada tahun 1959 kewenangan tersebut diperluas,
hingga suatu komisi dapat memeriksa “standard of living” dan “control of pecuniary resources”. Bila hal tersebut ditemukan lebih tinggi daripada jumlah penghasilan resminya, yang bersangkutan akan diberhentikan. Akan tetapi setelah hukum diperkuat ternyata korupsi masih terus terjadi bahkan terus tumbuh. Anti-Corruption Branch
Anti-Corupption Branch adalah cabang dari unit Kepolisian Hong Kong yang menangani masalah-masalah korupsi. Namun penanganan korupsi masih belum efektif karena karena hukum pidana mengharuskan bukti adanya suatu keuntungan tertentu yang terdapat pada suatu transaksi korupsi dan tanggung jawab untuk mendekteksi, menginvestigsi, dan mencegahnya berada dalam unit Kepolisian itu sendiri.240
Anti-Corruption Office
Tahun 1971, pemerintahan hongkong memperkuat ketentuan hukum antikorupsi dengan memberlakukan Prevention of Bribery Ordanance241. Ordonansi ini memperluas bentuk-bentuk perbuatan yang dapat dikategorikan
240
Marwan Effendy. op.cit h.96 241
Laurence Adolf Manullang, Artikel Opini: Manajemen Korupsi di Indonesia, Majalah Tokoh Indonesia, bahwa negaea seperti Hongkong menerapkan pembuktian terbalik dalam
kebijakan negara yang berjudul “Prevention of Bribery Ordinace 1970 dan 1974” yang berbunyi : “Siapa yang menguasai sumber-sumber pendapatan atau harta yang tidak sebanding dengan gajinya pada saat ini atau pendaptan di masa lalu, akan dinyatakan bersalah melakukan pelanggran kecuali kalau dia dapat memberikan penjelasan yang memuaskan kepada penyelenggara negara dan ia mampu, memperoleh standar hidup yang sedemikian itu atau bangunan sumber-sumber pendapatan atau harta dia dapat dikuasai.”
sebagai pelanggaran ketentuan anti korupsi. Ordonansi tersebut juga memberlakukan ketentuan pembuktian terbalik. Para tersangka yang kekayaan pribadinya melebihi penghasilannya atau standar hidupnya lebih tinggi daripada penghasilannya, dibebani keharusan untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah. Dan apabila peningkatan kekayaan tersebut tidak dapat dijelasakan asal-usulnya, hal itu merupakan bagina dari tindak pidana.
Bersama dengan ordonansi tersebut Anti-Corruption Branch ditingkatkan menjadi anti Anti-Corupption Office, suatu bagian dari Kepolisian tetapi memiliki otonomi yang lebih luas dan dilengkapi dengan 3 kelompok investigator, yaitu :
1. Kelompok Intelijen
2. Kelompok pelaksanaan investigasi;
3. Kelompok investigasi atas pejabat publik yang kekayaannya tidak sesuai dengan penghasilannya.242
Independent Commission Against Corruption
Pada bulan Oktober 1973, Gubernur Hongkong MacLehose mengumumkan di depan Legislative Council tentang pembentukan Independent Commission Against Corruption (ICAC)243 yang independen dari departemen mana pun termasuk Kepolisian, selanjutnya Anti-Corruption Office dibubarkan. Kewenangan yang diberikan kepada Independent Comission Against Corruption
242
Badan Pengawasan Keuangan dan Pembanguna, op.cit. h.447-448 243
Azis Syamsuddin, op.cit., h.204, Dasar hukum pembentukan ICAC Hongkong adalah ICAC Ordinance 1973. ICAC Hongkong adalah suatu komisi untuk pemeriksaan yang berfokus secara khusus pada tingkah laku korup dengan tugas meliput penyidikan, membantu mencegah korupsi di sektor publik dan mendidik masyarakat di sektor publik untuk pencegahan korupsi. ICAC dipimpin oleh Komisioner.ICAC tidak tunduk pada pengarahan politisi, birokrasi, partai politik, ataupun pemerintahan.
begitu besar, antara lain manangkap salah seorang tersangka apabila Commisioner mempunyai alasan untuk meyakini bahwa pelangaran telah terjadi.244
Proses penyelesaian perkara di ICAC Hongkong melalui tiga tahap, yaitu a. Proses Pelaporan
Proses pelaoran dapat diajukan melalui saluran telepon khusu (hotline) 2526636 atau Kotak Pos 1000. Selain melalui saluran telepon tersebut, masyarakat dapat juga menyampaikan laporan adanya dugaan Tipikor kepada Pusat Penerimaan Laporan ICAC245 malaui surat, atau pelapor bisa datang sendiri dan bertemu langsung dengan petugas ICAC.
b. Proses Penyelidikan
Tugas Penyelidikan dilakukan oleh Bagian Intelijen (Investigation Brach) yang dikenal dengan B3, yang memliki 4 grup yaitu G, H, R, dan X .
c. Proses Interogasi
Proses interogasi di ICAC Hongkong disebut interview, yang bersifat Tanya jawab dan direkan dengan peralatan audio-viedo, untuk selanjutnya dibuat transkripnya.
244
Marwan Effendy, op.cit., h.97 245
Azis Syamsuddin, op.cit., h.207, Pusat Penerimaan Laporan (Report Centre) di markas ICAC yang dilayani oleh 6 seksi secara bergiliran, terbuka selama 24 jam. Pusat Penerimaan Laporan ini dilengkapi dengan berabgai peraltan teknologi yang canggih
Tabel 9. Perbandingan Komisi Anti Korupsi di Indonesia dan di Hongkong246
No Indonesia Hongkong
1 Besifat : Independen Bersifat: Independen 2 Nama Institusi: KPK
(Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi)
Nama Institusi : ICAC (Independent Commission Against Coruuruption)
3 Wewenang KPK :
Penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan
Wewenang: Penyelidikan dan penyidikan
4 Pimpinan diangkat dan diberhentikan presiden
Pimpinan diangkat oleh Gubernur Hongkong/Kepala Otonomi di Hongkong disaksikan oleh Parlemen (Legislatif)
5 Dipilih oleh DPR RI (Legislatif)
Dipilih Oleh Parlemen (Legislatif)
246
139
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian atas permasalahan yang telah diuaraikan pada bab-bab terdahulu maka dapat ditarik kesimpulan, yaitu :
1. UUD 1945 secara tegas menyebutkan bahwa Negara Indonesia adalah Negara Hukum. Prinsip penting negara hukum adalah supremasi hukum yang memiliki jaminan konstitusional dalam proses politik yang dijalankan oleh kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Supremasi hukum akan selalu bertumpu pada kewenangan yang ditentukan oleh hukum. Dalam pelaksanaan supremasi hukum, UUD 1945 tidak menganut ajaran pemisahan kekuasaan (separation of power), tetapi pembagian kekuasaan legislatif, misalnya membuat Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah disamping itu Presiden juga mempunyai kekuasaan yudikatif, misalnya memberikan grasi, amnesti, abolisi. Kejaksaan dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK )sebagai lembaga penegak hukum (berdasarkan peraturan perundang-undangan) dituntut untuk berperan guna menegakkan supremasi hukum, secara khusus dalam pemberantasan korupsi, yaitu sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001.Dalam penanganan tindak pidana korupsi, kewenangan penyidikan kejaksaan didasarkan kepada peraturan
perundang-undangan yang ada sejak berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia maupun berdasarkan pelaksanaan kebijakan pemerintah dibidang penegakan hukum. Oleh karena itu kewenangan kejaksaan dalam melakukan penyidikan terhadap tindak pidana tertentu (diantaranya tindak