A. Gambaran Umum Katekese
6. Model-model Katekese
Dalam kegiatan katekese, ada banyak macam model katekese yang ditawarkan. Model-model katekese yang ditawarkan ini lebih bersifat konstruktif teoritis, skematis dan abstrak yang menawarkan suatu cara konseptual dan alat untuk memahami serta menelusuri tindakan konkrit manusia dalam hidupnya sehari-hari.
Model-model katekese yang ditawarkan ini merupakan bentuk konsep kegiatan yang utuh yang mempunyai latar belakang pemikiran tertentu dengan menggunakan metode tertentu. Dan berikut ini penulis akan menyajikan empat model katekese yakni: model pengalaman hidup, model biblis, model campuran (biblis dan pengalaman hidup, dan model SCP (Shared Christian Praxis).
[
a. Model pengalaman hidup
Katekese model pengalaman hidup adalah model katekese yang bertitik tolak dari pengalaman hidup umat yang mereka alami dalam hidup mereka sehari-hari baik itu dalam keluarga, pekerjaan, maupun dalam hidup bermasyarakat. Katekese model pengalaman hidup ini, ingin membantu umat untuk mengalami, memahami, sekaligus merasakan kehadiran Allah dalam hidup mereka, sehingga mereka sanggup merasakan dan menanggapi kehendak Allah dalam serentetan peristiwa atau pengalaman iman yang mereka alami dalam segala kegiatan atau aktivitas sehari-hari dengan kacamata iman atau terang iman. Untuk membantu umat memahami, merasakan kehadiran Allah, dan mampu untuk tampil menjadi saksi Allah bagi sesama. Guna membantu mereka mencapai semua itu, katekese model pengalaman hidup memiliki langkah-langkah sebagai berikut: introduksi,
16 penyajian pengalaman hidup, rangkuman pendalaman pengalaman hidup, pembacaan Kitab Suci atau Tradisi Gereja, pendalaman teks Kitab Suci atau Tradisi, rangkuman pendalaman teks Kitab Suci atau Tradisi, penerapan dalam hidup konkrit, dan penutup (Sumarno, 2002: 12).
Proses pelaksanaan katekese model pengalaman hidup ini langkah awalnya diambil dari peristiwa konkrit dicocokkan dengan tema pertemuan yang sedang diangkat. Peristiwa yang diangkat bisa pengalaman hidup masing-masing peserta, bisa juga mengambil seluruh peristiwa dari koran atau surat kabar, bisa dengan cerita rakyat, dan bisa mengangkat kisah tayangan dari CD, dll. Kemudian pengalaman itu diungkapkan dalam kelompok kecil bila pesertanya banyak, dan dalam kelompok besar bila pesertanya sedikit. Pembagian kelompok ini tergantung dari jumlah peserta yang datang. Alangkah baik bila peserta dibagi dalam kelompok kecil untuk memudahkan peserta mengungkapkan pengalaman mereka tanpa ada rasa malu, selain itu memudahkan mereka untuk merasakan suasana terbuka dari masing-masing peserta. Dalam pendalaman pengalaman hidup mengajak peserta mengaktualisasikan pengalaman yang diangkat dengan situasi hidup mereka yang konkrit. Dan tugas fasilitator adalah mendampingi, menuntun, dan merangkum semua hasil sharing peserta katekese.
Langkah selanjutnya adalah menemukan kehendak Tuhan pada setiap pengalaman hidup peserta katekese. Dengan kata lain pengalaman hidup peserta dikonfrontasikan dengan pengalaman Kitab Suci. Masing-masing peserta diberi kesempatan untuk merefleksikan teks Kitab Suci yang dibagikan atau dibacakan, dengan menjawab pertanyaan yang sudah dipersiapkan oleh fasilitator. Fasilitator
17 berusaha membantu para peserta untuk mencari dan mengungkapkan makna atau inti pesan Kitab Suci yang berhubungan dengan tema yang diangkat. Fasilitator sendiri sudah mempersiapkan kemungkinan jawaban peserta katekese. Maka tugas fasilitator ini membantu mengarahkan peserta katekese dalam merenungkan isi Kitab Suci, selain itu mampu menciptakan suasana terbuka agar peserta merasa tidak takut untuk mengungkapkan tafsiran atas isi Kitab Suci sesuai dengan versinya masing-masing. Fasilitator memberi masukan atau peneguhan dari masing-masing hasil tafsiran peserta katekese berdasarkan sumber-sumber yang dipakai dan diolah sesuai dengan tema dan tujuan yang akan dicapai. Setelah menghubungkan pengalaman hidup peserta katekese dan pengalaman Kitab Suci, fasilitator menarik kesimpulan dari proses katekese dan memberi kesimpulan. Dan fasilitator mengajak peserta katekese bersama-sama merenungkan semua proses kegiatan katekese, kemudian membangun niat secara pribadi maupun bersama untuk tindakan konkrit selanjutnya.
Pelaksanaan katekese model pengalaman hidup ini membantu umat untuk mengalami kehadiran Allah serta mampu menanggapi kehendak Allah dalam setiap langkah hidup mereka sehari-hari. Mereka dihantarkan agar berani menjadi saksi iman bagi sesamanya. Untuk itu fasilitator perlu mampu menciptakan suasana yang penuh kekeluargaan dan sikap terbuka sehingga mereka merasakan kedekatan dengan yang lain sebagai satu keluarga, akhirnya mereka tidak sungkan lagi untuk membagikan pengalaman mereka. Selain dengan sikap kekeluargaan dan sikap terbuka mereka dapat merasakan kehadiran Allah serta menemukan kehendak Allah dalam diri sesamanya. Harapannya mereka dapat berkembang
18 dalam iman dan mampu mengkomunikasikan imannya dalam hidup konkrit/tindakan yang nyata.
b. Model biblis
Katekese model biblis merupakan katekese yang bertitik tolak dari Kitab Suci yang di pilih fasilitator pada saat melaksanakan pertemuan katekese. Dalam pelaksanaan katekese dengan model biblis ini mengajak peserta katekese untuk merenungkan Sabda Tuhan, setelah itu mendalaminya secara pribadi maupun kelompok, kemudian mengajak peserta katekese untuk mewujudkannya dalam tindakan yang konkrit dalam hidup di tengah keluarga dan masyarakat. Dapat dikatakan bahwa katekese model biblis ini melibatkan peserta dengan merenungkan Sabda Allah untuk semakin mengalami kehadiran Allah dalam hidupnya.
Dalam diktat PPL PAK Paroki terdapat langkah-langkah penyelenggaraan katekese model biblis yaitu pembukaan, pembacaan teks Kitab Suci, pendalaman teks Kitab Suci, pendalaman pengalaman hidup, penerapan dalam hidup peserta, dan penutup (Sumarno, 2002: 12).
Proses pelaksanaan katekese model biblis ini, pertama-tama fasilitator mengajak peserta katekese untuk mendengarkan Sabda Allah dari teks Kitab Suci yang sudah di pilih sesuai dengan tema yang di angkat, kemudian fasilitator memberi kesempatan kepada masing-masing peserta katekese membacakan kembali teks Kitab Suci secara pribadi (membaca dalam hati), baru kemudian fasilitator mengajak peserta katekese mendalami teks Kitab Suci dalam kelompok kecil atau kelompok besar dengan panduan pertanyaan yang sudah dipersiapkan
19 oleh fasilitator. Dalam mendalami teks Kitab Suci mereka di bantu dengan panduan beberapa pertanyaan yang sudah dipersiapkan oleh fasilitator. Peserta katekese mengungkapkan pesan inti dari teks Kitab Suci yang baru di dengar dan direnungkan. Selanjutnya peserta katekese diajak untuk menangkap pesan inti itu. Fasilitator membuat rangkuman dari apa yang sudah ditemukan oleh para peserta katekese, menghubungkannya dengan apa yang sudah dipersiapkannya dengan menggunakan sumber-sumber lain, sehingga peserta katekese semakin diperkaya dengan informasi baru kaitannya dengan pengetahuan iman.
Setelah peserta mendalami teks Kitab Suci, fasilitator mengajak peserta katekese untuk menghubungkan pesan inti teks Kitab Suci yang baru dibicarakan bersama dengan pengalaman hidup peserta katekese. Fasilitator berusaha menuntun peserta katekese untuk mengolah pengalaman hidup yang mereka alami didalam keluarga, pekerjaan, dan kehidupan di tengah masyarakat sesuai dengan pesan inti teks Kitab Suci yang telah mereka bicarakan. Setelah merefleksikan teks Kitab Suci dan menghubungkan dengan pengalaman hidup, peserta katekese diajak membuat niat-niat secara pribadi maupun bersama untuk diwujudkan dalam hidup ditengah keluarga, masyarakat, dan Gereja.
c. Model campuran; biblis dan pengalaman hidup
Berbicara mengenai katekese model campuran, model katekese ini merupakan gabungan dari katekese model pengalaman hidup dengan model biblis atau tradisi, karena katekese model campuran ini bertitik tolak dari pengalaman hidup peserta katekese sekaligus pengalaman Kitab Suci atau Tradisi.
20 Dalam diktat kuliah PPL PAK Paroki terdapat langkah-langkah katekese model campuran yakni:
Pembukaan, pembacaan teks Kitab Suci atau Tradisi, penyajian pengalaman hidup, pendalaman pengalaman hidup dan teks Kitab Suci atau Tradisi, penerapan meditative, evaluasi singkat jalannya pertemuan katekese, dan penutup (Sumarno, 2002: 13).
Langkah-langkah di atas bertujuan membantu menghubungkan sebuah pengalaman hidup peserta dengan pengalaman Kitab Suci atau Tradisi.
Proses pelaksanaan katekese model campuran menurut diktat PPL PAK Paroki dapat digambarkan dalam bagan berikut:
Dari bagan di atas, proses pelaksanaan katekese model campuran, langkah pertamanya adalah menyajikan teks Kitab Suci atau Tradisi yang sudah dipersiapkan oleh fasilitator, akan tetapi fasilitator bisa melibatkan peserta
Pembukaan
Pembacaan teks KS/Tradisi
Penyajian Pengalaman hidup
Pendalaman pengalaman hidup dan Kitab Suci/ Tradisi
• Mengungkapkan hal yang mengesankan dalam penyajian pengalaman hidup
• Mencoba mencari pesan pokok dari penyajian pengalaman hidup • Menemukan tema dan pesan pokok dari penyajian pengalaman hidup • Merefleksikan dan menganalisa pesan pokok penyajian pengalaman hidup
untuk hidup sehari-hari dan mengkonfrontasikannya dengan teks Kitab Suci/Tradisi
• Rangkuman dari fasilitator sekaligus ajakan membuat niat (Sumarno, 2002: 13)
21 katekese dalam menyajikan atau membacakan teks Kitab Suci atau Tradisi itu. Setelah mendengarkan isi teks Kitab Suci, fasilitator mengajak peserta katekese untuk hening sejenak merenungkan kembali isi teks Kitab Suci atau Tradisi yang baru mereka dengarkan, kemudian itu baru masuk pada penyajian pengalaman hidup. Dalam penyajian pengalaman hidup, fasilitator bisa menggunakan media atau sarana pendukung seperti cerita rakyat, cerita bergambar, vcd, tape recorder, kaset, dll. Setelah mendengarkan isi teks Kitab Suci atau Tradisi dan penyajian pengalaman hidup, fasilitator mengajak peserta katekese mendalami pengalaman hidup sesuai dengan apa yang telah disajikan bertolak dari isi teks Kitab Suci atau Tradisi di atas. Dalam mendalami pengalaman hidup bertitik-tolak dari Kitab Suci atau Tradisi, fasilitator mengajak peserta katekese membentuk kelompok kecil bila pesertanya banyak, akan tetapi bila peserta sedikit tidak perlu dibagi dalam kelompok kecil. Dalam kelompok kecil ataupun kelompok besar peserta katekese saling mengungkapkan kesan-kesan pribadi mereka terhadap pengalaman hidup yang disajikan, kemudian secara obyektif mencari apa yang sebetulnya terjadi dalam dalam penyajian pengalaman hidup tadi. Selain itu peserta katekese juga diajak menemukan sendiri tema dam pesan pokok dari penyajian pengalaman hidup yang di sampaikan. Kelanjutannya fasilitator mengajak peserta katekese untuk merenungkan pesan itu bagi hidupnya sehari-hari dalam terang teks Kitab Suci atau Tradisi yang telah didalami secara bersama-sama. Peran fasilitator adalah merangkum refleksi pengalaman peserta katekese sehubungan dengan tema yang dihasilkan bersama. Dan bila mungkin mengajak peserta katekese
22 memikirkan tindakan konkrit, atau paling tidak sampai pada sebuah niat pribadi maupun bersama.
Langkah selanjutnya, fasilitator mengajak peserta katekese masuk suasana refleksi dengan tuntunan beberapa pertanyaan yang sudah dipersiapkan. Dengan itu fasilitator merangsang peserta katekese menarik pelajaran-pelajaran konkrit bagi hidup mereka sehari-hari sesuai dengan penyajian pengalaman hidup dan penyajian teks Kitab Suci atau Tradisi (Sumarno, 2002: 13).
d. Model SCP (Shared Christian Praxis)
Katekese model SCP merupakan salah satu bentuk katekese yang tidak asing lagi bagi umat kristiani. Katekese model SCP ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang tokoh atau ahli katekese yang bernama Thomas H. Groome. Beliau memperkenalkan katekese model SCP ini dengan memperkembangkan perkembangan pendidikan. Katekese model SCP lebih menekankan proses berkatekese yang bersifat dialogal dan partisifatif yang mampu mendorong peserta katekese berdasarkan konfrontasi antara tradisi visi hidup peserta katekese dengan tradisi dan visi kristiani, sehingga peserta katekese baik secara pribadi maupun bersama berani mengambil keputusan demi terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah. Katekese model SCP ini bermula dari pengalaman hidup peserta katekese yang mereka refleksikan secara kritis kemudian pengalaman hidup mereka tersebut dikonfrontasikan dengan pengalaman iman dan visi kristiani guna tumbuh sikap dan kesadaran baru yang mampu memotivasi ke arah keterlibatan baru.
23 1) Pengertian S-C-P
a) Shared
Kata Shared berasal dari kata bahasa Inggris to share yang mempunyai arti berbagi, dan dalam hal ini membagi pengalaman kepada orang lain atau biasa di sebut sharing pengalaman (Mangunhardjana, 1985: 108). Dalam diktat PPL Pak Paroki, sharing berarti berbagi rasa, pengalaman, pengetahuan, serta saling mendengarkan pengalaman orang lain, (Sumarno, 2002: 16). Sharing biasa digunakan dalam pertemuan katekese yang menekankan dialog-partisipatif antar peserta katekese dengan suasana kebersamaan, persaudaraan, dan keterlibatan. Dalam sharing, setiap peserta katekese mengambil bagian atau terlibat aktif dalam mensharingkan pengalaman hidupnya dan juga bersedia mendengarkan sharing dari orang lain.
Dalam sharing, peserta katekese harus memiliki sikap rendah hati mau menerima dan memberi pengalaman pribadi yang saling meneguhkan. Bahkan sebenarnya dalam sharing, yang seharusnya terjadi bukan hanya dialog antar peserta katekese saja, akan tetapi dialog para peserta katekese dengan Tuhan.
b) Christian
Istilah Christian dalam SCP artinya kristiani yang maksudnya mengusahakan harta kekayaan iman tradisi kristiani dan visinya sepanjang sejarah dapat terjangkau dan relevan bagi kehidupan umat. Setiap manusia mempunyai pengalaman dan sejarah masing-masing, manusia mempunyai tradisinya sendiri dalam menghayati dan menjalani hidupnya atas dasar keyakinan imannya. Tradisi kristiani ingin mengungkapkan realitas iman umat yang hidup dan
24 sungguh dihidupi. Singkatnya tradisi kristiani ingin mengungkapkan tanggapan manusia terhadap pewahyuan diri Allah yang terlaksana dalam hidup mereka. Tradisi kristiani tidak bisa lepas dari visi kristiani. Visi kristiani bukan sekedar suatu pengetahuan tertentu saja, tetapi suatu kenyataan konkrit dari isi tradisi yang menjadi jawaban hidup orang beriman terhadap apa yang ditawarkan dalam pengalaman iman kristiani dan janji Allah yang terungkap dalam tradisi atau pengalaman iman kristiani. Dalam diktat PPL PAK Paroki, visi kristiani peserta katekese merupakan kritik atas praxis perbuatannya yang menjadi ukuran keberimanan manusia yang senantiasa terbuka akan masa depan, (Sumarno, 2002: 16).
c) Praxis
Kata praxis dalam pengertian katekese model SCP bukan hanya suatu praktek saja, akan tetapi praxis disini lebih pada tindakan sebagai buah refleksi dan tindakan. Praxis yang mengacu pada sebuah tindakan meliputi seluruh keterlibatan dan apa yang perlu dilakukan manusia di dalam dunia. Tindakan manusia itu mempunyai tujuan guna perubahan hidup manusia itu sendiri yang mencakupi kesatuan antara praktek dan teori yang membentuk suatu kreativitas manusia dan antara reflesi kritis dan kesadaran historis yang mengarahkan manusia pada keterlibatan baru (Groome, 1997: 2). Dapat dikatakan praxis di sini sebagai ungkapan pribadi manusia kaitannya dengan ungkapan emosional, intelektual, dan spiritual. Ungkapan itu sesuai dengan apa yang peserta katekese miliki, rasakan, dan alami.
25 Praxis memiliki tiga unsur yang saling berkaitan yaitu aktivitas, refleksi, dan kreativitas. Ketiga unsur tersebut berguna untuk membangkitkan perkembangan imajinasi peserta, meneguhkan kehendak peserta, dan mendorong peserta pada praxis baru yang mampu dipertanggungjawabkan. Dalam diktat kuliah PPL PAK Paroki tertulis arti ketiga unsur diatas:
• Aktivitas yang meliputi kegiatan mental dan fisik, kesadaran, tindakan personal dan sosial, hidup pribadi dan bersama yang merupakan suatu medan masa kini guna perwujudan diri manusia.
• Refleksi yang lebih menekankan refleksi kritis terhadap tindakan histories secara pribadi dan manusia pada umumnya dalam masa lampau terhadap tindakan dan kehidupan bersama serta terhadap tradisi dan visi iman kristiani sepanjang sejarah.
• Kreativitas yang merupakan perpaduan antara aktivitas dan refleksi dengan menekankan sifat trasenden manusia dalam dinamika menuju ke masa depan untuk sebuah tindakan yang baru (Sumarno, 2002: 14; bdk. Groome, 1997: 2).
2) Langkah-langkah S-C-P
Katekese model SCP (Shared Christian Praxis) memiliki langkah-langkah yang berurutan dan terus mengalir. Thomas Groome mengemukakan lima langkah pokok yang didahului dengan langkah 0 sebagai berikut:
a) Langkah Nol: Pemusatan Aktivitas
Langkah ini bertujuan mendorong peserta (subyek utama) katekese untuk menemukan topik pertemuan yang bertolak dari konkrit mereka yang nantinya menjadi tema dasar pertemuan. Untuk menemukan salah satu topik dasar pertemuan, fasilitator bisa menggunakan beberapa sarana-sarana pendukung seperti simbol, cerita, poster, video, kaset suara, film, dsb. Dengan menggunakan beberapa sarana pendukung, tema dasar pertemuan sungguh-sungguh mencerminkan pokok-pokok hidup, keprihatinan, permasalahan, dan kebutuhan
26 peserta. Tema dasar yang dipilih hendaknya sungguh-sungguh mampu mendorong peserta untuk terlibat aktif dan menekankan partisipasi dan dialog sepanjang pertemuan katekese, akan tetapi tidak bertentangan dengan iman kristiani, (Sumarno, 2002: 17).
Fasilitator harus bisa menciptakan lingkungan dan suasana yang mendukung (kondusif) serta mencari atau mengusahakan sarana-sarana pendukung yang dapat menunjang guna menemukan salah satu aspek yang cocok menjadi topik dasar pertemuan katekese.
b) Langkah Pertama: Pengungkapan Pengalaman Hidup Faktual
Langkah ini mendorong peserta katekese untuk mengungkapkan pengalaman faktual yang mereka alami dan mengkomunikasikan kepada peserta yang lain. Pengungkapan pengalaman tersebut bisa pengalaman pribadi peserta, permasalahan yang terjadi dalam masyarakat, dan bisa gabungan keduanya yang cocok dengan tema yang dihasilkan bersama (Sumarno, 2002: 18; bdk. Groome, 1997: 5).
Langkah ini di awali dengan tuntunan pertanyaan untuk membantu peserta mengungkapkan pengalaman hidup mereka sesuai dengan topik dasar. Pertanyaan yang di buat harus jelas, terarah, dan tidak menyinggung perasaan peserta katekese. Peserta katekese membagikan pengalaman hidupnya sesuai dengan pengalaman yang sungguh-sungguh terjadi atau dialami dan tidak boleh di tanggapi sebagai suatu laporan. Dalam sharing-dialog ini, peserta katekese boleh diam, karena diam pun merupakan salah satu cara berdialog, dan diam tidak sama
27 dengan terlibat. Peserta katekese dapat mengungkapkan pengalamannya melalui puisi, nyanyian, tarian, gambar, lambang, simbol, dsb (Sumarno, 2002: 18).
Fasilitator dalam langkah ini perlu menciptakan suasana pertemuan yang penuh kekeluargaan, kegembiraan, dan mendukung peserta katekese membagikan pengalamannya. Dan fasilitator di sini harus bersikap ramah, sabar, bersahabat, peka pada keadaan dan permasalahan yang di hadapi peserta katekese, dsb (Sumarno, 2002: 18).
c) Langkah Kedua: Refleksi Kritis Atas Sharing Pengalaman Hidup Faktual Langkah ini menghantar peserta pada kesadaran kritis akan pengalaman hidup dan tindakannya. Refleksi kritis pada langkah ini ingin membantu peserta katekese merefleksikan secara kritis pengalaman konkrit yang mereka komunikasikan dengan memperdalam, mempertajam, dan mengolah pengalaman mereka yang menekankan segi pemahaman (alasan, minat), kenangan (sumber-sumber historis), imajinasi (konsekuensi yang diharapkan dan dibayangkan), (Sumarno, 2002: 18; bdk. Groome, 1997: 5-6). Selain itu langkah ini membantu peserta agar bertitik tolak dari pengalaman hidupnya sampai pada tingkat kesadaran terdalam, mengolah dan menemukan makna baru yang mendorong mereka menuju praxis baru.
Fasilitator pada langkah ini harus dapat menciptakan pertemuan yang pesertanya saling menghormati dan mendukung setiap gagasan serta sumbang saran peserta katekese yang lain, mendorong peserta katekese untuk mengadakan dialog dan penegasan bersama yang bertujuan memperdalam, menguji
28 pemahaman, kenangan, dan imajinasi peserta katekese. Fasilitator harus bisa mengkondisikan peserta katekese untuk ambil bagian mengkomunikasikan imannya dengan menghindari kesan memaksa. Untuk memudahkan peserta katekese terlibat aktif dalam megkomunikasikan imannya, fasilitator perlu membuat pertanyaan yang menggali dan tidak menginterogasi atau menganggu harga diri peserta atau apa yang sedang dirahasiakan peserta katekese (Sumarno, 2002: 19).
d) Langkah Ketiga: Mengusahakan Supaya Tradisi dan Visi Kristiani Lebih Terjangkau
Langkah ini mengusahakan dan mengkomunikasikan agar nilai-nilai tradisi dan visi kristiani dapat terjangkau dan dapat lebih menggema untuk kehidupan peserta katekese yang konteks dan latar belakang kebudayaannya berlainan. Tradisi kristiani mengungkapkan tanggapan iman umat kristiani sepanjang sejarah pewahyuan Ilahi. Tradisi ini terungkap dalam Kitab Suci, dogma, pengajaran Gereja, liturgi, spritualitas, devosi, seni dalam Gereja, kepemimpinan, dan kehidupan umat beriman. Sementara itu visi kristiani mengungkapkan janji dan tanggung jawab yang berasal dari tradisi kristiani yang bertujuan mendorong atau memotivasi umat beriman guna berpartisipasi dalam menegakkan nilai-nilai Kerajaan Allah di tengah-tengah hidup manusia. Tradisi dan visi kristiani mengungkapkan pewahyuan diri dan kehendak Allah sampai pada hidup dan karya Yesus dan mengungkapkan tanggapan manusia atas pewahyuan Allah, (Sumarno, 2002: 19; bdk. Groome, 1997: 6).
29 Kewajiban fasilitator adalah membuat persiapan yang matang dengan belajar sendiri, menghormati tradisi dan visi kristiani sebagai sumber yang otentik dan normatif untuk bisa memberi penafsiran yang sejalan dengannya dan mengikutsertakan kesaksian imannya sendiri. Fasilitator mengusahakan media pendukung seperti audio visual atau media murah untuk menghantar peserta katekese pada kesadaran, sehingga fasilitator tidak kelihatan mendikte dan bersikap seperti seorang guru (Sumarno, 2002: 19).
e) Langkah Keempat: Interpretasi/Tafsir Dialektis Antara Tradisi dan Visi Peserta
Langkah ini berdasarkan nilai tradisi dan visi kristiani mengajak peserta katekese untuk menemukan hal-hal baru yang hendak diperkemangkan oleh masing-masing peserta katekese. Di satu pihak peserta katekese mengintegrasikan nilai-nilai hidup mereka ke dalam tradisi dan visi kristiani. Di lain pihak mempersonalisasikan dan memperkaya dinamika tradisi dan visi kristiani menjadi milik mereka sendiri (Sumarno, 2002: 20; bdk. Groome, 1997: 7).
Peserta katekese pada langkah ini mendialogkan pengolahan mereka pada langkah pertama dan kedua dengan isi pokok langkah ketiga. Peserta katekese diberi kesempatan untuk mendialogkan perasaan, sikap, persepsi, dan menilai mengenai nilai tradisi dan visi kristiani berdasarkan hidup konkrit mereka serta memberi penegasan yang menyatakan kebenaraan, nilai, dan kesadaran yang diyakini (Sumarno, 2002: 20).
Fasilitator pada langkah ini menghormati kebebasan dan hasil penegasan peserta katekese dengan meyakinkan peserta katekese, bahwa mereka mampu
30 mempertemukan nilai pengalaman hidup dan visi mereka dengan nilai tradisi dan visi kristiani. Fasilitator perlu mendorong dan mengkondisikan peserta katekese untuk merubah sikap dari pendengar pasif guna menjadi pihak yang aktif (Sumarno, 2002: 20).
f) Langkah Kelima: Keterlibatan Baru Demi Makin Terwujudnya Kerajaan Allah di Dunia Ini
Langkah kelima ini mau menghantar peserta katekese untuk mengambil keputusan dalam meningkatkan penghayatan imannya. Langkah ini perlu sampai