BAB II KAJIAN TEOR
B. Pembelajaran Fikih
2. Model-Model pembelajaran Fikih
Apabila hendak mengajarkan suatu mata pelajaran tuntutan yang muncul adalah harus memilih pendekatan, strategi, metode,teknik yang sesuai dengan kondisi dan situasi anak, materi yang diajarkan dan lingkungan tempat belajar, supaya tujuan pembelajaran bisa tercapai secara optimal.
Sesuai penjelasan diatas, maka tugas guru sebelum melakukan proses belajar mengajar perlu dipersiapkan strategi, metode, teknik pembelajara. Khususnya pada pembelajaran Fikih. Adapun pendekatan, strategi dan metode pembelajaran Fikih, sebagai berikut:
a. Pendekatan dalam Pembelajaran Fikih
Pendekatan adalah suatu antar usaha dalam aktivitas kajian, atau interaksi, relasi dalam suasana tertentu, dengan individu atau
kelompok melalui penggunaan metode-metode tertentu secara efektif.41
Pendekatan pembelajaran sebagai proses penyajian isi pembelajaran kepada siswa untuk mencapai kompetensi tertentu dengan suatu metode atau beberapa metode pilihan. Pendekatan bisa juga diartikan suatu jalan, cara, atau kebijaksanaan yang ditempuh oleh guru juga siswa untuk mencapai tujuan pengajaran apabila kita melihatnya dari sudut bagaimana proses pengajaran atau materi pengajaran itu dikelolah.42
Adapun pendekatan dalam pembelajaran Fikih supaya tercapainya proses penyajian isi materi kepada siswa untuk kompetensi pelajaran fikih khususnya pada bab haji dan umrah, maka peneliti membutuhkan metode dan srtategi pilihan yang relevan digunakan untuk menjelaskan bab haji dan umrah. Pada pendekatan ini peneliti menggunakan metode demonstrasi dan ceramah yang nantinya akan di dukung oleh strategi khusus untuk membantu mengaktifkan siswa ketika proses belajar mengajar berlangsung. b. Strategi Pembelajaran Fikih
Strategi pembelajaran merupakan pendekatan dalam mengelolah kegiatan, dengan mengintregasikan urutan kegiatan, cara mengorganisasikan materi pelajaran dan pembelajaran, peralatan dan bahan serta waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran, untuk
41
Asep Jihad dan Abdul Haris, op,cit, hlm 23
42
mencapi tujuan pembelajaran yang telah ditentukan, secara efektif dan efisien. 43
Dalam pembelajaran Fikih juga membutuhkan strategi- strategi untuk mendukung metode yang diterapkan guru pada proses belajar mengajar guna untuk mengaktifkan pembelajaran siswa di kelas. Ada beberapa strategi yang terdapat dalam model pembelajaran aktif, di antaranya :
1) Belajar bersama
Salah satu cara terbaik meningkatkan belajar aktif adalah dengan pemberian tugas belajar yang dilakukan dengan kelompok kecil siswa. Dukungan sesama siswa dan keragaman pendapat, penegtahuan, serta ketrampilan mereka akan membantu menjadikan belajar bersama sebagai bagian berharga dari iklim belajar di kelas anda. Namun demikian, belajar bersama tidaklah selalu berlangsung efektif. Boleh jadi terdapat partisipasi yang tidak seimbang komunikasi yang buruk, dan kebingungan, bukannya belajar yang sesungguhnya. Ada beberapa strategi berikut ini yang dirancang memaksimalkan manfaat dari belajar bersama dan meminimalkan kesenjangan.44
43
Ibid, hlm. 24
44
2) Quiz kelompok (Team Quiz)
Strategi ini dapat meningkatkan tanggung jawab belajar peserta didik dalam suasana menyenangkan.45
3) Membaca keras (Reading Aloud )
Strategi ini dapat membantu peserta didik dalam berkosentrasi mengajukan pertanyaan dan menggugah diskusi.46 4) Learning Start With a Question
Strategi ini dapat digunakan relative materi yang mudah dipaham oleh siswa. Strategi ini cocok untuk memulai pembeljaran topik baru dimana kriteria materi pelajaran tertentu kadang sudah dibahas pada kelas sebelumnya. Untuk menghindari pengulangan pembahasa topik, perlu ditanyakan sesuai tingkat pemahaman dan kebutuhan siswa.47
c. Metode Pembelajaran Fikih
Metode mengajar adalah cara mengajar atau cara menyampaikan materi pelajaran kepada siswa yang kita ajar. Macam- macam metode pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran fikih ini adalah:
1) Metode Demonstrasi
Demonstrasi adalah metode mengajar melalui kegiatan- kegiatan ekspresi. Melalui kedua metode ini anak-anak akan
45
Hisyam Zaini. Op,Cit. Hal 54
46
Ibid. Hal 43
47
Siti kusrini, sutiah, dan marno. Keterampilan Dasar Mengajar (PPL I), (Malang: UIN Malang, 2009), hlm. 126
melihat gambaran yang sebenarnya, keadaan dan cara bekerja benda-benda atau orang-orang dalam proses yang nyata. Demonstrasi ini pada umumnya guru yang mempertunjukkan atau memperlihatkan tentang bagaimana cara bekerjanya suatu barang atau bagaimana membuat suatu benda. 48
2) Metode Ceramah
Ceramah adalah suatu cara penyampaian (memberikan) informasi secara lisan terhadap siswa di dalam ruangan tertentu, siswa mendengarkan dan mencatat seperlunya. Metode ceramah lebih sesuai pada bidang non ekstra karena dianggap paling praktis. Pada metode ceramah pengajaran berpusat pada guru, sebab guru lebih banyak berbicara atau menyampaikan materi.49 3) Metode Diskusi
Menurut Drs Muhaimin M.A metode diskusi dimaksudkan untuk merangsang pemikiran serta berbagai jenis pandangan. Ada tiga langkah utama dalam metode diskusi: penyajian, bimbingan, dan pengikhtisaran. Keberhasilan diskusi banyak dituntukan oleh adanya tiga unsur yaiu: pemahaman, kepercayaan diri sendiri dan rasa saling menghormati.
Metode diskusi adalah cara penyajian pelajaran, dimana siswa-siswa dihadapkan kepada suatu masalah yang bisa berupa
48
Oemar Hamalik, Media Pendidikan (Bandung: Alumni, 1983), hlm. 165
49
pertanyaan atau pertanyaan yang bersifat problematis untuk dibahas dan dipecahkan bersama.
Teknik diskusi adalah salah satu teknik belajar mengajar yang dilakukan oleh seorang guru disekolah, di dalam diskusi ini proses belajar mengajar terjadi, dimana interaksi antara dua atau lebih individu yang terlibat, saling tukar menukar pengalaman, informasi, memecahkan masalah, dapat terjadi juga semuanya aktif, tidak ada yang pasif sebagai pendengar saja.
4) Metode tanya jawab
Metode tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa, tetapi dapat pula dari siswa kepada guru.
Metode tanya jawab adalah yang tertua dan banyak digunakan dalam proses pendidikan, baik di lingkungan keluarga, masyarakat maupun disekolah.
d. Model Pembelajaran Fikih
Model pembelajaran sangat diperlukan untuk memandu proses belajar secara efektif. Model pembelajaran yang efektif adalah model pembelajaran yang memiliki landasan teoritik yang humanistik, lentur, adaptif, berorientasi kekinian, memiliki sintak pembelajaran yang
sedehana, mudah dilakukan, dapat mencapai tujuan dan hasil belajar yang disasar.50
Istilah model pengajaran dibedakan dari istilah pengajaran, metode pengajaran, atau prinsip pengajaran. Model pengajaran mempunyai makna yang lebih luas dari pada suatu strategi, metode, atau prosedur. Model mengajar dapat diartikan sebagai suatu rencana atau pola yang digunakan dalam menyusun kurikulum, mengatur materi peserta didik, dan memberi petunjuk kepada pengajar di kelas dalam setting pengajaran atau setting lainnya.51
Memilih suatu model mengajar, harus sesuaikan dengan realitas yang ada dan situasi kelas yang ada, serta pandangan hidup yang akan dihasilkan dari proses kerjasama dilakukan antara guru dan peserta didik.52
Dalam pembahasan model pembelajaran, terdapat beberapa model pembelajaran sebagai berikut:53
1) Model Pengajaran Langsung
Para pakar teori belajar menggolongkan pengetahuan menjadi dua macam pengetahuan yaitu pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Pengetahuan procedural yaitu pengetahuan mengenai bagaimana orang melakukan sesuatu. Sedangkan deklaratif yaitu penegtahuan tentang sesuatu.
50
Makalah yangdisajikan dalam pelatihan tentang Penelitian Tindakan Kelas bagi Guru- Guru SMP dan SMA di Nusa Penida,tanggal 29 Juni s.d 1 Juli 2007
51
Asep Jihad dan Abdul Haris, op,cit, hlm 25
52
Model pengajaran langsung dirancang secara khusus untuk menunjang proses belajar siswa berkenan dengan pengetahuan procedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah.
Pengajaran langsung memerlukan perencanaan dan pelaksanaan yang cukup rinci terutama pada analisis tugas. Pengajaran langsung berpusat pada guru, tetapi tetap harus menjamin terjadinya keterlibatan siswa. Jadi lingkungan harus diciptakan yang berorientasi pada tugas-tugas yang diberikan kepada siswa.54
2) Model Pembelajaran Kooperatif a) Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaram kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengutamakan kerjasama diantara siswa umtuk mencapai tujuan pembelajaran. Model pembelajaran kooperatif memiliki cirri-ciri:
(1) Untuk menuntaskan materi belajarnya, siswa belajar dalam kelompok secara kooperatif
(2) Kelompok dibentuk dari siswa-siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
54
(3) Jika dalam kelas, terdapat siswa-siswa yang terdiri dari beberapa ras, suku, budaya, jenis kelamin yang berbeda, maka diupayakan agar dalam tiap kelompokpun terdiri dari ras, suku ,budaya, jenis kelamin berbeda pula.
(4) Penghargaan lebih diutamakan pada kerja kelompok dari pada perorangan.
b) Pelaksanaan Pembelajaran Koopertaif di Kelas
Seperti halnya pada model pengajaran langsung, dalam pengajaran pengajaran kooperatif juga diperlukan tugas perencanaan, misalnya: menentukan pendekatan yang tepat, memilih topik yang sesuai dengan model ini, pembentukan kelompok siswa, menyiapkan LKS atau panduan belajar siswa, mengenalkan siswa kepada tugas dan perannya dalam kelompok, merencanakan waktu dan tempat duduk yang digunakan.55
3) Model Pembelajaran Berdasarkan Problem-based instruction
Problem-based instruction adalah model pembelajaran yang berlandaskan paham konstruktivistik yang mengakomodasi keterlibatan siswa dalam belajar dan pemecahan masalah otentik. Dalam pemerolehan informasi dan pengembangan pemahaman tentang topik-topik, siswa belajar bagaimana
55
mengkonstruksi kerangka masalah, mengorganisasikan dan menginvestigasi masalah, mengumpulkan dan menganalisis data, menyusun fakta, mengkonstruksi argumentasi mengenai pemecahan masalah, bekerja secara individual atau kolaborasi dalam pemecahan masalah.56
4) Model Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengkaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan. Dengan tema diharapkan akan memberikan banyak keuntungan, diantaranya:
1) Siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu
2) Siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar matapelajaran dalam tema yang sama
3) Pemahaamna terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan
4) Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengaitkan matapelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa
56
Makalah yang disajikan dalam pelatihan tentang Penelitian Tindakan Kelas bagi Guru-Guru SMP dan SMA di Nusa Penida,tanggal 29 Juni s.d 1 Juli 2007
5) Siswa mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas
6) Siswa lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelaji mata pelajaran lain
7) Guru dapat memperhemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan, dan pengayaan.
5) Model Pembelajaran Kontekstual
Model pembelajaran kontekstual merupakan rancangan pembelajaran yang dibangun atas dasar asumsi bahwa
knowledge is constructed by human. Atas dasar itu maka dikembangkan model pembelajaran konstruktivis yang membuka peluang seluas-luasnya kepada siswa untuk memberdayakan diri. Cara belajar yang terbaik adalah siswa mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya. Karena itu kebiasaan guru “acting di panggung dan siswa menonton” harus
dirubah menjadi “ siswa aktif bekerja dan belajar di panggung, sedangkan guru membimbingnya dari dekat”.57
Beberapa perbedaan antara model pembelajaran kontekstual dengan model pembelajaran tradisional adalah:
Tabel 2.1
Model Kontekstual Model Tradisional
Orientasi siswa Aktif-Kreatif Kooperatif Realistik Eksploratif Kesadaran diri Fungsional Konstruktivis PAP Orientasi isi Pasif-Reseptif Individualistic Teoritik Prespektif Kebiasaan Factual Behavioris PAN
Dari perbedaan diatas tampak bahwa model pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada kebutuhan siswa, pemberdayan potensi siswa, peningkatan kesadaran diri, penyanpaian ilmu-ilmu yang fungsional bagi kehidupan, dan penilaian yang mengukur menguasaan ilmu secara tuntas. Hal itu berbeda dari model pembelajaran tradisional yang lebih menekan pada materi atau isi, dominansi peran guru, peningkatan pengetahuan, penyampaian pengetahuan yang faktual, mengukur tingkah laku yang nyata, dan
57
menilai posisi siswa pada kelompoknya. Karena itu, semangat yang di bangun dalam model pembelajaran konstektual equavalen dengan semangat yang ada dalam Pembelajaran Berorientasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).58
Dalam model pembelajaran yang diharapkan pada pelajaran Fikih ini, peneliti menerapkan model pembelajaran yang kontekstual dengan rancangan bahwa tidak hanya guru yang aktif namun siswa juga diberi kesempatan mengekspresikan dirinya dalam proses belajar-mengajar. Dalam penerapan model pembelajaran kontekstual pada Mata Pelajaran Fikih ini, sebagaimana model pembelajaran kontekstual terdapat beberapa komponen utama yang dilakukan secara sungguh-sungguh, diantaranya:
1) Konstruktivisme, yang merupakan landasan filosofis yang mendasari model pembelajaran kontekstual. Dalam pandangan kaum kontruktivis, strategi memperoleh lebih diutamakan dibandingkan dengan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan.oleh karena itu, kewajiban guru menfasilitasi proses belajar siswa, yaitu dengan memberikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa, memberi kesempatan untuk menemukan dan menerapkan idenya sendiri,
58
menyadarkan siswa agar selalu menerapkan strategi mereka sendiri.59
2) Menemukan, hal ini merupakan bagian inti dari pembelajaran kontekstual. Proses menemukan itulah yang paling penting dalam pembelajaran. Ketika kita menemukan sesuatu yang kita cari, daya ingat kita akan lebih melekat dibandingkan dengan orang lain yang menemukannya. Demikian pula dalam memperoleh pengetahuan dan pengalaman belajar, pikiran, perasaan, dan gerak motorik kita akan terpadu dan seimbang dalam merapon sesuatu yang diperoleh dari ikhtiar belajar melalui proses menemukan.60 Dalam komponen ini siswa di beri ruang gerak sehingga siswa dapat memperoleh dan menemukan pengetahuaannya dari proses belajarnya.
3) Bertanya, merupakan salah satu pintu masuk untuk memperoleh pengetahuan.61 Oleh karena itu, bertanya dalam kegiatan pembelajaran seyogyanya diterapkan oleh guru dengan tujuan mendorong, membimbing, menilai kemampuan berpikir, memberikan informasi, dan mengarahkan perhatian pada hal yang belum diketahui oleh siswa.
4) Masyarakat bekerja, hal ini dapat terjadi apabila antara siswa dengan guru atau siswa dengan siswa memiliki interaksi yang
59 Ibid, hlm. 50 60 Ibid, hlm. 50 61 Ibid,
efektif dan komunikatif.62 dalam pembelajaran di kelas, masyarakat bekerja ini dapat di terapkan dengan membentuk kelompok-kelompok belajar yang memungkinkan antar siswa melakukan sharing pendapat atau pengalaman.
5) Pemodelan, yang dimaksud pemodelan adalah pemberian contoh-contoh belajar, tindakan atau prilaku yang di tampilkan oleh guru.63 Dalam pembelajaran Fikih ini telah ditetapkan materi pembelajarannya adalah bab Haji dan Umrah, dengan model pemodelan ini peneliti merasakan sangat penting diterapkan karena untuk memberikan tindakan konkret yang dapat ditiru langsung oleh siswa.
6) Refleksi, adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa sudah dilakukan pada masa lalu.64 Refleksi ini diterapkan pada pembelajaran Fikih berfungsi untuk mengevaluasi pengetahuan atau pengalaman lama dengan pengetahuan dan pengalaman baru. Sebagai evaluasi apa yang baru di pelajarinya, yang sekaligus merupakan pengayaan atau revisi terhadap pengetahuan lama.
7) Penilaian, penilaian ini berperan dalam meberikan gambaran keberhasilan siswa secara keseluruh.65 Dalam penilaian ini tidak hanya sebatas pengukuran daya pikir, akan tetapi penilaian yang 62 Ibid, hlm. 51 63 Ibid, hlm. 51 64 Ibid, hlm. 52 65 Ibid, hlm. 52
benar-benar otentik sesuai denga kemampuan siswa yang sebenarnya, Seperti cara penilaian bentuk tes.