• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. PENDAHULUAN

2.3 Pengelolaan Sumber Daya Perikanan

2.3.3 Model-model pengelolaan

(1) Pengelolaan berbasis sumber daya

Pengelolaan sumber daya perikanan umumnya didasarkan pada konsep

“hasil maksimum yang lestari” (Maximum Sustainable Yield) atau juga disebut

35

dikembangkan oleh seorang ahli Biologi bernama Schaefer pada tahun 1957. Inti dari konsep ini adalah menjaga keseimbangan biologi dari sumber daya ikan, agar dapat dimanfaatkan secara maksimum dalam waktu yang panjang. Pendekatan konsep ini berangkat dari dinamika suatu stok ikan yang dipengaruhi oleh 4 (empat) faktor utama, yaitu rekruitment, pertumbuhan, mortalitas dan hasil tangkapan.

Pengelolaan sumber daya ikan seperti ini lebih berorientasi pada sumber daya (resource oriented) yang lebih ditujukan untuk melestarikan sumber daya dan memperoleh hasil tangkapan maksimum yang dapat dihasilkan dari sumber daya tersebut. Dengan kata lain, pengelolaan seperti ini belum berorientasi pada perikanan secara keseluruhan (fisheries oriented), apalagi berorientasi pada manusia (social oriented).

Pengelolaan sumber daya ikan dengan menggunakan pendekatan

Maximum Sustainable Yield telah mendapat tantangan cukup keras, terutama

dari para ahli ekonomi yang berpendapat bahwa pencapaian yield yang maksimum pada dasarnya tidak mempunyai arti secara ekonomi. Hal ini berangkat dari adanya masalah diminishing return yang menunjukkan bahwa kenaikan yield akan berlangsung semakin lambat dengan adanya penambahan

effort (Lawson 1984). Pemikiran dengan memasukan unsur ekonomi didalam

pengelolaan sumber daya ikan, telah menghasilkan pendekatan baru yang dikenal dengan Maximum Economic Yield atau lebih popular dengan MEY.

Pendekatan ini pada intinya adalah mencari titik yield dan effort yang mampu menghasilkan selisih maksimum antara total revenue dan total cost.

Selanjutnya, hasil kompromi dari kedua pendekatan di atas kemudian melahirkan konsep Optimum Sustainable Yield (OSY), sebagaimana dikemukakan oleh Cunningham, Dunn dan Whitmarsh (1985). Secara umum konsep ini dimodifikasi dari konsep MSY, sehingga menjadi relevan baik dilihat dari sisi ekonomi, sosial, lingkungan dan faktor lainnya. Dengan demikian, besaran dari OSY adalah lebih kecil dari MSY dan besaran dari konsep inilah yang kemudian dikenal dengan Total Allowable Catch (TAC). Konsep pendekatan ini mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan MSY, diantaranya adalah :

(1) Berkurangnya risiko terjadinya deplesi dari stok ikan;

(2) Jumlah tangkapan per unit effort akan menjadi semakin besar; (3) Fluktuasi TAC juga akan menjadi semakin kecil dari waktu ke waktu.

Dalam kaitan ini terdapat beberapa pendekatan yang dapat dilakukan didalam mengelola sumber daya perikanan, agar tujuan pengelolaan dapat tercapai. Pendekatan dimaksud sebagaimana dikemukakan oleh Gulland dalam

Widodo dan Nurhudah (1985) adalah sebagai berikut : (1) Pembatasan alat tangkap;

(2) Penutupan daerah penangkapan ikan; (3) Penutupan musim penangkapan ikan; (4) Pemberlakuan kuota penangkapan ikan;

(5) Pembatasan ukuran ikan yang menjadi sasaran; (6) Penetapan jumlah hasil tangkapan setiap kapal.

(2) Pengelolaan berbasis masyarakat

Pengelolaan sumber daya perikanan berbasis masyarakat (PSPBM) adalah suatu proses pemberian wewenang, tanggung jawab, dan kesempatan kepada masyarakat untuk mengelola sumber daya perikanannya sendiri dengan terlebih dahulu mendefinisikan kebutuhan dan keinginan, tujuan serta aspirasinya. PSPBM menyangkut pula pemberian tanggung jawab kepada masyarakat sehingga mereka dapat mengambil keputusan yang pada akhirnya menentukan dan berpengaruh pada kesejahteraan hidup mereka (Nikijuluw 2002). Yang dimaksud dengan masyarakat adalah sekelompok orang atau komunitas di daerah pantai yang mempunyai tujuan yang sama yaitu memanfaatkan sumber daya ikan dengan mengambil hasil laut di wilayah perairan pantai untuk memenuhi kebutuhannya dan sebagai mata pencahariannya (Murdiyanto 2004).

Memberikan tanggung jawab kepada masyarakat dalam mengelola sumber daya adalah upaya mendekatkan masyarakat dengan sumber daya yang dimanfaatkannya bagi kelangsungan hidup mereka sehari-hari. Dalam mencapai pemenuhan kebutuhannya pada dasarnya setiap anggota komunitas, sebagai nelayan akan saling berkompetisi dengan nelayan lainnya. Tidak jarang masalah kompetisi ini lama kelamaan dapat berkembang menjadi potensi konflik, yang bila tidak dapat dikendalikan akan menjadi benturan fisik antara sesama nelayan dalam melakukan aktivitas pekerjaannya sehari-hari. Kompetisi dalam mengambil hasil laut dapat mendorong nelayan untuk melakukan praktek penangkapan secara berlebihan dan tidak bertanggung jawab yaitu melakukan penangkapan dengan alat dan cara yang dapat merusak habitat dan lingkungannya. Untuk mencegah terjadinya berbagai konflik dan praktek

37

penangkapan yang tidak ramah lingkungan yang berujung pada kerusakan sumber daya dan lingkungannya, kiranya masyarakat perlu menyadari pentingnya memupuk rasa tanggung jawab dan kebersamaan dalam merencanakan dan mencapai tujuan pengelolaan sumber daya pantai dan laut sebagai lahan kehidupannya.

Secara politis partisipasi masyarakat dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya sudah menjadi komitmen pemerintah untuk dikembangkan dengan dikeluarkannya UU RI No. 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Pada Bab XI Pasal 70 dinyatakan bahwa: 1) Masyarakat memiliki hak dan kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan aktif dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Peran masyarakat dapat berupa: (1) Pengawasan sosial, (2) Pemberian saran, pendapat, usul, keberatan, pengaduan; dan/atau penyampaian informasi, dan/atau laporan. Peran masyarakat dilakukan untuk: (1) Meningkatkan kepedulian dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup; (2) Meningkatkan kemandirian, keberdayaan masyarakat dan kemitraan; (3) Menumbuhkembangkan kemampuan dan kepeloporan masyarakat; (4) Menumbuhkan ketanggapsegeraan masyarakat untuk melakukan pengawasan sosial; (5) Mengembangkan dan menjaga budaya dan kearifan lokal dalam rangka pelestarian fungsi lingkungan hidup.

Partisipasi masyarakat/pengguna di dalam pemanfaatan sumber daya ini lebih dikenal dengan ko-manajemen. Ko-manajemen ini dapat dibangun berdasarkan tradisi pengelolaan sumber daya yang sudah dimiliki masyarakat (community based fisheries management) atau dengan kata lain tradisi ini sebagai pintu masuk bagi pelembagaan ko-manajemen (Nikijuluw 2002). Indikator keberhasilan ko-manajemen dapat dilihat pada Tabel 1.

Mempertimbangkan karakteristik masyarakat pesisir, khususnya nelayan sebagai komponen yang paling banyak, serta cakupan atau batasan pemberdayaan maka sudah tentu pemberdayaan nelayan patut dilakukan secara komprehensif. Pembangunan yang komprehensif, menurut Asian Development Bank (ADB) diacu dalam Nikijuluw (1994), adalah pembangunan dengan memiliki ciri-ciri (1) berbasis lokal; (2) berorientasi pada peningkatan kesejahteraan; (3) berbasis kemitraan; (4) secara holistik; dan (5) berkelanjutan.

Tabel 1 Indikator Keberhasilan Ko-manajemen

Kriteria Indikator Cara Mengukur

Tingkat pendapatan Peningkatan relatif pendapatan masyarakat lokal Secara kuantitatif membandingkan pendapatan sebelum dan sesudah diterapkan ko-manajemen. Tingkat inflasi harus diperhitungkan dengan melihat kualitas hidup masyarakat dalam memenuhi kebutuhan primer & sekunder

Pendidikan formal dan informal Peningkatan jumlah masyarakat yang mengikuti pendidikan formal dan informal

Perbandingan jumlah relatif lulusan masyarakat lokal dari pen- didikan formal & informal

Kesadaran masyarakat

Meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab ma- syarakat dalam menjaga dan memelihara sumberdaya alam

Semakin berkurangnya kegiatan yang bersifat merusak dan se- baliknya semakin banyak kegiatan yang menunjang kelestarian sumber daya alam

Motivasi Meningkatnya motivasi masyarakat dalam proses

pengelolaan

Semakin banyak usulan dan ke- inginan masyarakat yang disam- paikan dalam penyusunan peren- canaan dan pelaksanaan ko- manajemen dan semakin mening- katnya peranan masyarakat dalam proses-proses pengelolaan sumberdaya alam

Kreativitas dan

kemandirian

Meningkatnya bentuk dan variasi pemanfaatan sumber daya alam yang lestari oleh masyarakat

Jumlah dan variasi pemanfaatan sumber daya yang dilakukan ma- syarakat Pengakuan hak Diakuinya hukum tradisional atau masyarakat lokal dlm pelaksanaan pengelolaan sumber daya alam

Jumlah dan intensitas

pelaksanaan aturan lokal dan tradisional Program kemitraan Terbentuknya program kemitraan dlm pemanfaatan sumber daya alam

Efisiensi dan intensitas program kemitraan dalam menunjang ke- giatan masyarakat lokal

Sumber: Dahuri et al. (1998).

Pembangunan berbasis lokal adalah bahwa pembangunan itu bukan saja dilakukan setempat tetapi juga melibatkan sumber daya lokal sehingga akhirnya

39

return to local resource dapat dinikmati oleh masyarakat lokal. Dengan demikian

maka prinsip daya saing komparatif akan dilaksanakan sebagai dasar atau langkah awal untuk mencapai daya saing kompetitif. Pembangunan berbasis lokal tidak membuat penduduk lokal sekedar penonton dan pemerhati di luar sistem, tetapi melibatkan mereka dalam pembangunan itu sendiri.

Pembangunan yang berorientasi kesejahteraan menitikberatkan kesejah- teraan masyarakat dan bukannya peningkatan produksi. Ini merubah prinsip- prinsip yang dianut selama ini yaitu bahwa pencapaian pembangunan lebih diarahkan pemenuhan target-target variable ekonomi makro. Pembangunan komprehensif yang diwujudkan dalam bentuk usaha kemitraan yang mutualistis antara orang lokal (orang miskin) dengan orang yang lebih mampu. Kemitraan akan membuka akses orang miskin terhadap teknologi, pasar, pengetahuan, modal, manajemen yang lebih baik, serta pergaulan bisnis yang lebih luas.

Pembangunan secara holistik dalam pembangunan mencakup semua aspek. Untuk itu setiap sumber daya lokal patut diketahui dan didayagunakan. Kebanyakan masyarakat pesisir memang bergantung pada kegiatan sektor kelautan (perikanan), tetapi itu tidak berarti bahwa semua orang harus bergantung pada perikanan. Akibat dari semua orang menggantungkan diri pada perikanan yaitu kemungkinan terjadinya degradasi sumber daya ikan, penurunan produksi, kenaikan biaya produksi, penurunan pendapatan dan penurunan kesejahteraan. Gejala ini sama dengan apa yang disebut Gordon (1954) dengan tragedi milik bersama.

Pembangunan yang berkelanjutan mencakup juga aspek ekonomi dan sosial. Keberlanjutan ekonomi berarti bahwa tidak ada eksploitasi ekonomi dari pelaku ekonomi yang kuat terhadap yang lemah. Dalam kaitan ini maka perlu ada kelembagaan ekonomi yang menyediakan, menampung dan memberikan akses bagi setiap pelaku. Keberlanjutan sosial berarti bahwa pembangunan tidak melawan, merusak dan atau menggantikan sistem dan nilai sosial yang positif yang telah teruji sekian lama dan telah dipraktekkan oleh masyarakat.

PSPBM bersifat spesifik lokal, unik dan tidak ditemukan sama persis pada dua atau lebih daerah yang berbeda. Berikut ini adalah beberapa contoh budaya lokal:

(1) Sasi di P. Saparua Maluku (Nikijuluw 1994), yaitu suatu sistem pengaturan pemanfaatan sumber daya alam (hutan dan laut) bagi anak negeri (penduduk desa setempat) maupun pendatang. Aturan sasi ini

berdasarkan adat dan agama, memiliki sangsi serta perangkat pelaksana dan pengawas yang terdiri dari pemerintah desa, elit desa lainnya serta pemimpin agama dan pemimpin adat.

(2) Pengelolaan perairan pesisir Desa Tanjung Barari, Biak (Nikijuluw 1995), yaitu pemberian ijin bagi pendatang untuk menangkap ikan dengan membayar sebesar Rp5 000.00 setiap kali operasi penangkapan (trip), jika menetap membayar Rp50 000.00 setiap bulan kepada pemerintah desa. Tidak diperkenankan menggunakan bahan peledak dan racun ikan dalam menangkap, jika melanggar ditegur disertai dengan surat pemberitahuan tentang pelanggaran itu kepada pemerintah desa asal yang bersangkutan, camat, dan polisi kecamatan.

(3) Sistem rumpon Lampung Selatan (Nikijuluw and Naamin 1994), mengembangkan neotradisional untuk meningkatkan efisiensi penangkapan ikan, yaitu dengan memanfaatkan rumpon secara bersama antara nelayan payang (pemilik) dan nelayan pancing, sehingga tidak menimbulkan terjadinya konflik.

Beberapa keadaan di atas menunjukkan bahwa pengelolaan perikanan berbasis masyarakat memiliki kelebihan sebagai berikut:

(1) Sesuai aspirasi dan budaya lokal; (2) Diterima masyarakat lokal;

(3) Pengawasan dilakukan dengan mudah.

Meskipun banyak kelebihannya, pengelolaan perikanan berbasis masyarakat ini memiliki kelemahan yaitu:

(1) Tidak mengatasi masalah interkomunitas;

(2) Bersifat lokal, jika muncul masalah besar sulit dipecahkan;

(3) Mudah dipengaruhi faktor eksternal, diantaranya: i) migrasi serta mobilitas penduduk yang membuat masyarakat membaur hingga hilang identitas masyarakat lokal; ii) perubahan komposisi usia penduduk; iii) perkembangan perdagangan yang begitu intensif terhadap komoditas yang dikelola; iv) pergantian sistem pemerintahan.

(4) Sulit mencapai skala ekonomi;

(5) Tingginya biaya institusionalisasi, dipergunakan untuk biaya edukasi, penyadaran dan sosialisasi, perumusan aturan, dan pembentukan organisasi.

41

Salah satu kerangka model pedoman pemberdayaan masyarakat pesisir (pantai) dapat dilihat pada Gambar 3.