SPIRITUALITAS DAN PERILAKU MISKIN PENGEMIS
2. Model-Model Peningkatan Spiritualitas Diri
Wong mengatakan bahwa personal meaning merupakan komponen, kognitif, afektif dan motivasional sebagai acuan mempe-roleh tujuan hidup.51 Komponen kognitif terdiri dari keyakinan dan harapan, afektif terdiri dari perasaan yang berkaitan dengan kepua-san seseorang, dan komponen motivasional terdiri dari tujuan hidup seseornag.52Pendidikan agama dan budi pekerti sangat penting untuk penanaman nilai-nilai agamawi dan budi pekerti terutama bagi anak-anak dan pemuda. Strategi pengentasan kemiskinan seharusnya tidak terpaku pada aspek ekonomi dan fisik saja, tetapi aspek nonfisik (rohaniah) juga perlu mendapatkan porsi yang cukup dalam kebijakan ini.53Untuk meningkatkan spiritualitas seseorang, sering dikaitkan dengan praktek keagamaan yang berhubungan dengan kegiatan iba-dah dan pelaksanaan ajaran agama lainnya. Ada juga yang ber-pendapat bahwa spiritualitas seseorang dapat ditingkatkan di luar lembaga keagamaan.54Dalam Islam jika spiritualitas itu berpusat pada hati, maka aktivitas-aktivitas hati seperti: iman, sabar, do’a, qana>’ah, istiqo>mah dan tawakkal itu sesungguhnya merupakan implementasi seseorang dari spiritualitas Islam yang ada pada dirinya.55Akibat yang Electronic Journal of Business Ethics and Organization StudiesVol. 13, No.
2 (2008).
51Wong PT. Meaning-centered counseling. In Wong PT, Prem SF(Eds.), The human quest for meaning. A handbook of psychological research and clinical applications. Mahwah, NJ, USA, Lawrence Erlbaum Associates, (1998b), pp. 395-435.
52Erminia Colucci, “’ Recognizing spirituality in the assessment and prevention of suicidal behaviour.” WCPRR (Apr 2008): 77-95.
53Chriswardani Suryawati, “’Memahami Kmiskinan Secara Multi-dimensional.”Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat dan Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, JMPK Vol. 08/No.03/Sep-tember/2005, hlm. 8.
54Comte, seorang penganu Atheis, menurutnya spiritual dapat dipisahkan dari konsep Tuhan. Kendati demikian tidak perlu adanya penolakan terhadap nilai-nilai dan tradisi kuno, seperti Islam, Kristen, dan Yahudi, bakan lebih dari itu, harus ada pemikiran kembali pada nilai -nilai tersebut dan bertanya apakah nilai tersebut signifik an bagi kebutuhan manusia atau sebaliknya. Lihat Andre Comte Sponville, Spiritualitas Tanpa Tuhan (Jakarta: Pustaka Alvabet, 2007), 156-161.
55 Maryadi & Syamsudin (edit), Agama Spiritualitualisme dalam Dinamika Ekonomi Politik (Surakakarta: UMS Press, 2001), 222.
timbul dari agama “yang mengurung” ini menjadi kesadaran terhadap kepribadian Islami itu.56
Uapaya meningkatkkan kebenaran spiritual, moral, dan yang lainnya pada hakikatnya itu sudah menrupakan kebajikan. Akan tetapi bentuknya yang sebenarnya hanya bisa dicapai bila ia didasarkan pada upaya simultan keindahan untuk mengusahakan kelembutan, keseimbangan serta kehalusan tindakan. Dengan demi-kian keindahan menciptakan komponen structural menurut istilah al-Qur>an bagi kebajikan itu sendiri, yaitu al-hasanah57, dan tentu saja ia merupakan salah satu struktur pandangan hidup al-Qur’a>n.58Pengaruh agama dan spiritual pada dasarnya bukan hanya urusan kepercayaan dan keyakinan saja, tetapi juga dapat berfungsi sebagai treatment kesehatan mental.59
Ada berbagai cara meningkatkan spritualitas diri diantaranya adalah model spiritualitas kelembagaan dan tidak mengambil kelembagaan.60 Pertama, model spiritualitas kelembagaan. Hal ini ditunjukkan oleh berbagai jenis tarekat, yakni model spiritualitas yang memiliki pilar utama seorang murshid dengan sejumlah teknik dan tata-cara yang cukup ketat. Model inimenjadi pilihan bagi mereka yang ingin lebih mendisiplinkan diri dalam hal meningkatkan kualitas spiritual di bawah bimbingan seorang guru. Model ini secara garis besar juga bisa dipilah menjadi dua bagian. Pertama, tarekat yang (diyakini) memiliki silsilah (geneologi spiritualitas) resmi, mulai dari murshid sampai kepada Rasulullah SAW. Tarekat-tarekat inibiasanya dikenal dengan istilah al-ṭarīqah al-mu‘tabarah (tarekat standar).61Contoh dari tarekat jenis ini antara lain, Tarekat Qadiriyyah, Tarekat Naqsyabandiyyah, Tarekat Qadiriyyah wa
56 M. Natanson, The Journeying Self:A Studi in Philosophy and Social Role (Philipines: Addison-Wesley Publishing Company, 1970), p.
134-135.
57Baca:‘ The Critique and Dynamics of Morals” (Buku II bag. I)
58 Lihat vol. II: ‘The Stucture of Islamic Society”.
59Bhugra D, Osbourne TR. “’Spirituality and Psychiatry.”Indian Journal of Psychiatry, (2004), 46:5-6.
60Ahmad Musyafiq, “Spiritualitas Kaum Fundamentalis.” Jurnal Ilmiah IAIN Wali Songo SemarangVolume 20, Nomor 1, (Mei 2012), hlm.
1.
61Martin van Bruinessen, Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia, (Bandung: Mizan, 1996), h. 71.
Naqsyabandiyyah dan lain-lain. Yang paling popular adalah tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah.
Kedua, tarekat yang tidak memiliki silsilah resmi yang diakui.
Contoh dari tarekat ini antara lain tarekat Wahidiyyah, tarekat al-Rasu>li dan lain-lain. Pemilahan seperti ini sebenarnya dimaksudkan untuk memagari tarekat agar tidak keluar dari norma-norma syariah dan untuk membedakannya dari gerakan-gerakankebatinan. Kecende-rungan spiritualitas tasawuf dan tarekat, betapapun memiliki sikap aktivis, terlihat sangat menitikberatkan kepada kesalehan individual.
Pada sisi lain menekankan pola hidup asketik, menahan diri dari pola hidup gemilang duniawi.62
Dalam pandangan religius Islam, titik berat utama yang umumnya muncul adalah kesetiaan terhadap keindahan dalam kha-sanah spiritual, moral serta mental. Tetapi yang paling jelas, dimensi fisik kehidupan juga mempunyai andil untuk memenuhinya, tentu saja dengan dikendalikan oleh nilai moral dan spiritual.63Orang-orang yang tidak digerakkan secara spiritual berdiri pada tingkatan kelam-batan spiritual.64 Sementara orang yang memiliki spiritualitas dan religiuitas tinggi akan dapat merasakan hakikat dari sebuah
“kesehatan”.65
Karakteristik utama pengalaman spiritual adalah: (1) a distinct event and acognitive appraisal of that event resulting in a personal conviction of God’sExistence, (sebuah peristiwa yang jelas dan sebuah pencapaian kesadaran yangmengakibatkan keyakinan pribadi tentang eksistensi Tuhan), dan (2) the perception of a highly internalized relationship between God and the person (i.e.God dwells
62Maryadi & Syamsudin (edit), Agama Spiritualitualisme dalam Dinamika Ekonomi Politik (Surakakarta: UMS Press, 2001), 127.
63Lihat Vol. I:“Art and Morality “ dan vol. II: Duties as Aesthetical Being”.
64Muhammad Fadhlu rahman Ansari, The Qur’anic Foundations and Structure of Moslem Society, (alih bahasa) (Bandung: Risalah Bandung, 1983), 135.
65Lynn G. Underwood and Jeanne A. Teresi, Ed.D. “’ The Daily Spiritual Experience Scale: Development, Theoretical Description, Reliability, Exploratory Factor Analysis, and Preliminary Construct Validity Using Health-Related Data,” Ann Behav Med. Fetzer Institute and Hebrew Home for the Aged at Riverdale and Columbia University Stroud Center (2002), 24 (1):22–33).
within and a corresponding feeling of unity or closeness to God) (persepsitentang hubungan yang sangat dalam antara Tuhan dan individu, yakni Tuhan “tinggal” di dalam dan sebuah perasaan yang mendalam tentang kesatuan atau kedekatan dengan Tuhan),66 bahkan spiritualitas yang dimiliki seseorang dapat mengarahkan dirinya mengenal kepada dzat yang memiliki kemampuan dari segala kemampuan (Tuhan).
Bagan. 4
How Spirituality Translates into Ethical Behaviour67 Acquisition of Virtue Cycle Link Between Spirituality and Value