• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEOR

3.2.11. Model-model Perencanaan dan Pengendalian Persediaan

Model-model perencanaan dan pengendalian persediaan pada dasarnya dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis metode, yaitu didasarkan kepada penilaian suatu permintaan, yaitu Independent Demand dan Dependent Demand11

Metode Independent Demand mengasumsikan bahwa permintaan suatu

barang tidak terikat terhadap permintaan barang yang lain. Oleh sebab itu permintaan aggregate untuk sebuah barang merupakan kumpulan dari berbagai permintaan tidak terikat dari pelanggan yang berbeda-beda. Maka untuk keadaan tersebut, cara terbaik untuk melakukan peramalan permintaan masa depan adalah dengan memproyeksikan trend masa lalu. Kontrol persediaannya berdasarkan pada model kuantitatif yang berhubungan dengan peramalan permintaan, biaya- biaya dan variabel-variabel lainnya untuk mendapatkan nilai optimal untuk jumlah pemesanan dan waktu pemesanan. Model dasar dari pengendalian persediaan tersebut pada dasarnya dapat berupa periodic review maupun fixed order quantity,

yang terdiri dari dua jenis sistem, yaitu sistem P dan sistem Q

.

12

1. Sistem – P

.

Sistem – P menyarankan untuk mengadakan pemeriksaan terhadap kondisi sistem persediaan secara berkala atau periodik. Jadi dalam periode ini tidak

11

Waters, C. Donald, Inventory Control and Management, 2nd Edition, John Wiley and Sons Ltd, England, 2003, hal. 57

12

Starr, Martin K., Miller and David W., Inventory Control : Theory and Practice, Prentice Hall, Inc., Eaglewood Cliffs, N.J., USA, 1962, hal. 120 – 130.

dilakukan pemeriksaan secara terus-menerus dan dalam pengambilan keputusan, keadaan sistem persediaan tersebut hanya diketahui pada saat dilakukan pemeriksaan.

2. Sistem – Q

Sistem – Q menyarankan untuk melakukan pemeriksaan secara terus-menerus terhadap posisi sistem persediaan, karena pemesanan dilakukan apabila tingkat persediaan telah mencapai tingkat tertentu.

Sebaliknya Metode Dependent Demand, mengasumsikan bahwa

permintaan sebuah barang berhubungan ataupun bergantung pada permintaan barang lainnya. Pendekatan yang umum untuk tipe ini menghubungkan permintaan komponen-komponen barang terhadap perencanaan produksi untuk

barang jadi. Metode-metode yang dipergunakan adalah seperti Material

Requirements Plannung (MRP) dan Just In Time (JIT). Model Independent Demand13

1. Model Jumlah Pesanan Tetap (Fixed Order Quantity/FOQ) dan Jumlah

Pesanan Terhemat (Economic Order Quantity/EOQ).

terdiri dari model-model berikut :

2. Model Titik Pemesanan Statistik (Statistic Order Point Model) 3. Sistem Peninjauan Berkala (Periodic Review System)

4. Sistem Kombinasi Titik Pemesanan-Peninjauan Berkala (The Order Point-

Periodic Review Combination System)

5. Sistem Penambahan (s,S) Fakultatif (The Optional (s,S) Replenishment

System)

13

Fogarty, Blackstone and Hoffman, Production & Inventory Management, 2nd Edition, South- Wester Publishing Co., Cincinnati, Ohio, 1991, hal. 219 – 235.

6. Sistem Peninjauan Visual (Visual Review System)

7. Sistem Titik Pemesanan Fase Waktu (The Time-Phased Order Point System)

Berikut akan dibahas mengenai model-model Independent Demand, yaitu sebagai berikut :

1. Model Jumlah Pesanan Tetap (Fixed Order Quantity/FOQ) dan Jumlah

Pesanan Terhemat (Economic Order Quantity/EOQ)

Model jumlah pesanan terhemat digunakan dalam menentukan jumlah barang yang akan dipesan untuk setiap kali pemesanan serta jumlah biaya pengadaan bahan-bahan, agar biaya persediaan keseluruhan menjadi sekecil mungkin. Beberapa asumsi yang harus berlaku agar model tersebut dapat digunakan adalah :

a. Tingkat permintaan, tingkat penawaran dan masa tunggu diketahui dengan

pasti dan tidak berubah sepanjang pembahasan.

b. Bahan-bahan dibeli (atau dibuat) dalam tumpukan (lot).

c. Keputusan atas bahan-bahan tersebut tidak dipengaruhi oleh keputusan

atas bahan-bahan yang lain.

d. Terdapat hanya satu tempat penyimpanan atau penahanan bahan

(stockpoint).

e. Harga pembelian atau biaya pembuatan bahan-bahan tidak berubah-ubah.

f. Daya tampung tempat penyimpanan tidak terbatas.

Model pemesanan terhemat terbagi menjadi dua, yaitu (1) model pemesanan terhemat tanpa masa tunggu dan (2) model pemesanan terhemat dengan masa tunggu. Pemesanan untuk mendapatkan jumlah pesanan terhemat adalah :

Q* =

Dimana : Q* = Jumlah pesanan terhemat

U = Pemakaian material selama setahun (unit)

A = Biaya setiap kali melakukan pemesanan

C = Harga satuan barang

I = Inventory carrying cost per tahun (%)

Tetapi apabila pemesanan memiliki masa tunggu, berarti massa tunggu = 0 dibatalkan, maka model jumlah pemesanan terhemat akan sedikit berbeda. Adanya masa tunggu akan mempengaruhi titik pemesanan kembali meskipun tidak mempengaruhi jumlah pemesanan terhemat.

Titik pemesanan kembali dengan adanya masa tunggu dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut :

R* = L. d

Dimana : R* = Titik pemesanan kembali dengan adanya masa tunggu

L

L = Masa Tunggu

dL = Permintaan persatuan waktu

Sistem titik pemesanan statistik menempatkan pemesanan untuk satu lot ketika jumlah persediaan di tangan sudah berkurang ke batas yang ditentukan, diketahui sebagai titik pemesanan, seperti yang diilustrasikan pada gambar 2.16. berikut. Inventory (units) Waktu LT SS OP

Gambar 3.16. Jumlah Stok Berbanding Waktu

Jika laju permintaan dan masa tunggu penambahan konstan, tidak sulit untuk menentukan secara tepat seberapa rendah level stok dari bahan bias jatuh sebelum pemesanan harus dilakukan untuk menghindari kehabisan stok. Namun demikian, hal tersebut bukan merupakan kasus umum. Biasanya permintaan akan bervariasi, dan masa tunggu juga bervariasi.

Titik pemesanan tanpa stok pengaman (safety stock) akan mengakibatkan

kehabisan stok semasa setengah waktu dari periode pemesanan, jika permintaan dan masa tunggu bervariasi secara random. Dalam hal ini, titik pemesanan dibuat untuk menutup pemakaian rata-rata selama masa tunggu ditambah lagi beberapa variasi tinggi yang mungkin terjadi pada permintaan dan masa tunggu. Stok yang ditahan untuk menagatasi variasi ini disebut stok pengaman.

Implementasi dari Sistem Titik Pemesanan Statistik memerlukan mekanisme untuk mengingatkan manajemen kerika titik pemesanan sudah dicapai. Ada dua metode dasar untuk melaksanakan hal tersebut, yaitu :

a. Sistem Persediaan Terus-menerus (Perpetual Inventory System)

Pada sistem ini, pencatatan dilakukan pada setiap transaksi, penerimaan, ataupun penarikan dari persediaan, dan neraca baru untuk persediaan ditangan. Sistem yang terkomputerisasi dari tipe tersebut biasanya deprogram untuk mengeluarkan suatu pesan khusus ketika neraca stok sudah dibawah titik pemesanan. Sistem manual membutuhkan seorang perencana persediaan untuk membandingkan neraca stok terhadap titik pemesanan setelah setiap transaksi dilakukan.

b. Sistem Dua Wadah (Two Bin System)

Persediaan ini secara fisik terpisah kedalam dua wadah, yaitu wadah pertama untuk pemakaian terlebih dahulu, dan wadah kedua untuk jumlah sisa yang dibutuhkan saat titik pemesanan tiba. Wadah pertama digunakan, setelah habis, maka saat wadah kedua digunakan pemesanan dilakukan. Sistem dua wadah ini paling cocok untuk jenis permintaan bebas (independent demand) dan untuk nilai items yang murah dan lead time

yang singkat, seperti misalnya barang-barang perkantoran dan lain-lain. 3. Sistem Peninjauan Berkala (Periodic Review System)

Penerapan Sistem Peninjauan Berkala dapat diterapkan pada keadaan bahan yang memenuhi syarat-syarat dibawah ini :

b. Sangat sulit mencatat pengembilan bahan dari stok dan peninjauan terus- menerus sangat mahal.

c. Bahan-bahan secara kelompok dipesan dari pemasok umum dan total

biaya persiapan sangat dihemat dengan menggabungkan jenis yang berbeda di dalam satu pemesanan.

d. Bahan-bahan yang memiliki batas waktu pemakaian cocok untuk sistem

tersebut.

Sistem peninjauan berkala meliputi penentuan jumlah bahan dalam stok pada interval waktu tertentu dan tetap, dan melakukan pemesanan dengan jumlah sebanyak yang dibutuhkan untuk mengembalikan total stok kepada jumlah awal maksimum yang sudah ditetapkan.

Karena periode waktu antar peninjauan terhadap stok di gudang bersifat tetap, maka pendekatan tersebut disebut juga dengan sistem Periode Peninjauan Tetap (Fixed Review Period System).

Model tersebut dapat dituliskan sebagai persamaan : M = D (R + LT) + SS Q = M – I

Dimana : M = Level Persediaan maksimum

LT = Waktu tunggu

D = Laju permintaan

R = Durasi periode peninjauan

SS = Safety stock

I = Persediaan

4. Sistem Kombinasi Titik Pemesanan-Peninjauan Berkala (The Order Point-

Periodic Review Combination System)

Sistem ini menggabungkan titik pemesanan dengan peninjauan berkala. Pada dasarnya, jika level persediaan jatuh dibawah level yang sudah ditentukan sebelum tanggal peninjauan tiba, pemesanan dilakukan segera. Jika tidak, jumlah pesanan ditentukan pada akhir periode dengan metode dasar dari peninjauan berkala. Sistem ini sangat sesuai ketika variasi permintaan yang datang cukup besar terjadi dan biaya stok pengaman yang dibutuhkan untuk mengatasi variasi tersebut selama waktu tunggu ditambah lagi dengan waktu ke periode peninjauan cukup besar, yaitu lebih besar dari biaya penggabungan sistem tersebut.

5. Sistem Penambahan (s,S) fakultatif (The Optional (s,S) Replenishment System) Metode ini dikenal juga dengan model (s,S). S mewakili level persediaan maksimum, dan s mewakili titik pemesanan. Pada sistem tersebut, pemesanan hanya dilakukan ketika jumlah stok di tangan sudah dibawah batas yang ditentukan. Metode ini memampukan perusahaan untuk menghindari pemesanan dengan jumlah yang relatif kecil. Pendekatan ini berguna ketika batas waktu pemakaian bahan penting, dan penuaan bahan sangat tidak diharapkan, terutama ketika terjadinya masa kekurangan atau sedikit sekali permintaan yang datang. Resiko yang timbul adalah potensi kehabisan bahan (stockout).

6. Sistem Peninjauan Visual (Visual Review System)

Sistem Peninjauan Visual dapat diterapkan pada sistem peninjauan berkala maupun pada sistem titik pemesanan. Sistem dua wadah untuk penyimpanan persediaan merupakan metode yang umum untuk pelaksanaan dari sistem titik pemesanan peninjauan visual tersebut. Sistem ini sesuai untuk manajemen dari permintaan bebas, bahan-bahan yang nilainya rendah, dengan waktu tunggu yang singkat, seperti bahan-bahan kantor dan bahan-bahan komponen umum.

7. Sistem Pemesanan Fase Waktu (The Time-Phased Point System)

Banyak bahan-bahan yang memiliki permintaan yang bersifat sangat musiman. Dalam hal ini, model titik pemesanan statistik dapat diperbarui untuk memenuhi perubahan permintaan jenis ini. Sistem titik pemesanan fase waktu menggunakan peramalan permintaan untuk suatu periode tertentu. Oleh sebab itu, secara jelas siap untuk perubahan-perubahan dalam ramalan permintaan. informasi-informasi yang dibutuhkan sebelumnya untuk sistem ini meliputi peramalan kebutuhan, waktu tunggu dari bahan-bahan, dan jumlah pemesanan yang dibutuhkan.

BAB IV

Dokumen terkait