• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

B. Temuan Penelitian

3. Model Pembelajaran Aqidah

Pembelajaran yang bermutu tidak terlepas dari peran guru.

Karena dalam pembelajaran, guru berpesan sebagai perancang, implementor, dan

evaluator pembelajaran. Mulyasa (2005:13) menjelaskan, “Secanggih apapun

perkembangan dunia informatika tidak mampu menggantikan guru dalam

pembelajaran”. Oleh karena itu untuk menciptakan proses pembelajaran yang

bermutu, guru dituntut untuk benar-benar professional dan memiliki kompetensi

dan penguasaan dalam menerapkan berbagai pendekatan, metode dan strategi

pembelajaran.

Model pembelajaran aqidah yang diterapkan di Pesantren Islam

Al-Irsyad Salatiga tidak beda dengnn mata pelajaran lainnya, ada tiga hal yang

dilakukan oleh ustadz aqidah dalam pembelajaran tauhid yaitu perencanaan,

pelaksanaan dan evaluasi yang merupakan satu kesatuan dalam proses

pembelajaran.

Rencana pembelajaran sangat menentukan tinggi rendahnya mutu proses

maupun hasil belajar. Untuk itu semua guru hendaknya mempunyai kemampuan

dan kompetensi dalam menyusun rencana pembelajaran dengan baik dan benar.

Dari observasi yang peneliti lakukan pesantren Islam Al-Irsyad Salatiga

mewajibkan seluruh ustadz, termasuk guru tauhid untuk menyusun rencana

pembelajaran pada setiap awal semester. Berkaitan dengan hal ini ustadz

Tauhidin (pengajar aqidah) pada tanggal 20 April 2011 menjelaskan :

Selain itu salah seorang santri yang bernama Aslam yang saat ini

duduk di kelas tiga I`dad Muallimin berkata :

Dalam perencanaan para ustadz yang memegang bidang studi aqidah

membuat program tahunan, program semester yang merujuk pada KTSP serta

disesuaikan dengan kaldik yang berlaku dan jadwal mengajar. Kemudian “Kalau yang ana (saya) lihat, ustadz yang ngajar di pelajaran

tauhid, dan juga pelajaran lainnya terlebih dulu menggunakan i`dad

ad-dars (RPP). Kelihatan kok, pembelajaran jadi tampak sistematis,

gak nglantur”. (CL.8)

“walhamdulillah, pesantren Al-irsyad ini telah menempuh jalan

yang baik dalam mengadakan pembelajaran, ya salah satunya

dengan diwajibkannya para asatidzah untuk membuat RPP atau

membuat persiapan pembelajaran dengan baik dari standar kompetensi (SK) dan

kompetensi dasar (KD) yang dijabarkan dalam indicator-indikator. Penerapan

Rencana Pembelajaran Aktif (RPP) yang dilakukan ustadz Aqidah di pesantren

Al-Irsyad Salatiga dengan komponen-komponen sebagai berikut :

1)Identitas 2)Standar Kompetensi (SK) 3)Kompetensi Dasar (KD) 4)Indikator 5)Tujuan pembelajaran 6)Materi ajar 7)Metode/Stratehi pembelajaran 8)Langkah-langkah pembelajaran

9)Sarana dan sumber pembelajaran

10) Penilaian dan tinjak lanjut

Dalam rencana pembelajaran ustadz telah menyatakan tujuan yang

harus dicapai, kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan, sumber dan media

pembelajara, metode dan strategi pembelajaran yang akan digunakan sampai

pada pelaksanaan penilaian.

Di dalam i`dad ad-dars tersebut ustadz telah membuat skenario pembelajaran tahap demi tahap. Dari skenario tersebut ustadz bisa melaksanakan

kegiatan belajar mengajar secara sistematis sesuai dengan langkah-langkah yang

telah ditentukan. Adapun bentuk dari salah satu RPP yang di susun oleh pengajar

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Sekolah : MA Al-Irsyad Kabupaten Semarang

Mata Pelajaran : Aqidah

Kelas / Semester : X / Ganjil

Alokasi Waktu : 2 x 40 Menit (1 Pertemuan)

Standar Kompetensi : Memiliki pemahaman dan penghayatan yang lebih

mendalam terhadap prinsip dasar aqidah islamiyah, serta mampu mengamalkan

nilai-nilai tauhid dalam kehidupan sehari-hari sehingga jauh dari syirik dan

penyimpangan.

Kompetensi Dasar : Menjelaskan bahwa tauhid adalah fitrah dasar

setiap manusia, dan menjelaskan tentang penyimpangan (kesyirikan) dalam

sejarah kehidupan manusia.

Indikator :

1) Menjelaskan tujuan utama penciptaan jin dan manusia.

2) Menyebutkan dalil-dalil tentang hal tersebut baik dari Al-Qur`an maupun Hadits.

3) Menjelaskan bahwa tauhid adalah fitrah dasar manusia beserta dalil-dalilnya.

4) Menceritakan riwayat sejarah terjadinya kesyirikan yakni pada zaman Nabi Nuh. 5) Menguraikan kesamaan sejarah itu dengan sejarah pada zaman Nabi Muhammad. 6) Menjelaskan jenis kesyirikan yang dilakukan kebanyakan manusia di zaman ini.

Tujuan Pembelajaran :

1) Santri dapat menjelaskan tujuan utama penciptaan jin dan manusia.

3) Santri dapat menjelaskan bahwa tauhid adalah fitrah dasar manusia beserta

dalil-dalilnya.

4) Santri dapat menceritakan sejarah terjadinya kesyirikan di zaman Nabi Nuh serta

kesamaan sejarah itu dengan yang terjadi pada zaman Nabi Muhammad.

5) Santri dapat menjelaskan jenis kesyirikan yang dilakukan kebanyakan manusia di

masa kini.

Materi Pembelajaran :

Bab I. Pasal : Penyimpangan tauhid dalam kehidupan manusia.

Metode Pembelajaran :

1) Ceramah disertai Demonstrasi penjabaran dan pemberian contoh nyata.

2) Diskusi dan Tanya Jawab.

3) Telaah kitab kurikulum dan imla maklumat tambahan dari sumber lain.

Sumber :

1) Syaikh DR. Shaleh bin Fauzan Alu Fauzan, Kitab At-Tauhid, KSA.

2) Al-Maktabah Asy-Syamilah II.

3) Peta KSA dan negara-negara sekitarnya.

4) Tafsir As-Sa`di.

Kegiatan Pembelajaran :

Kegiatan Awal (10 Menit)

1) Muqaddimah, meliputi: salam, doa dan absensi santri.

2) Santri membuka buku di halaman yang akan dipelajari bersama.

3) Beberapa pertanyaan sederhana (tanya jawab) berkaitan dengan pokok

4) Guru memperkenalkan secara umum materi yang akan dibahas.

Kegiatan Inti (60 Menit)

1) Beberapa santri membaca materi pembelajaran secara acak dan bergilir.

2) Ustadz menjelaskan materi yang dibaca sesuai tujuan yang diharapkan diselingi

beberapa pertanyaan ringan untuk memastikan keikutsertaan santri dalam proses

pembelajaran.

3) Ustadz melontarkan masalah ringan dari materi pembelajaran untuk dijadikan

bahan diskusi bersama kelompok belajar (jika kondisi waktu memungkinkan).

4) Santri dapat memberikan tambahan informasi tentang materi dari referensi lain

dengan bimbingan ustadz (jika diperlukan).

Kegiatan Akhir (10 Menit)

1) Ustadz menyimpulkan materi yang telah dibahas.

2) Santri menyimpulkan hasil diskusi yang telah dilakukan bersama kelompok

masing-masing (jika diskusi dilangsungkan).

3) Santri diberi tugas untuk mengerjakan beberapa pertanyaan dalam bentuk

pekerjaan rumah.

Penilaian :

1) Selama Proses Pembelajaran; Mengamati konsentrasi, keikutsertaan, ketertiban

dan sikap santri selama pembelajaran berlangsung.

2) Evaluasi Hasil Pembelajaran; Memberikan Tugas Soal Tulisan:

a.Jelaskan tujuan penciptaan jin dan manusia !

b. Sebutkan dalil-dalil tentang tujuan mulia peciptaan jin dan manusia !

b) Pelaksanaan Pembelajaran

Sesuai dengan observasi yang peneliti laksanakan dapat disimpulkan

bahwa pelaksanaan pembelajaran aqidah itu terbagi dalam tiga tahap yang saling

berkaitan. Dalam prakteknya tiga tahap tersebut adalah kegiatan pendahuluan,

kegiatan inti dan kegiatan penutup.

Pendahuluan: Ketika ustadz yang mengajar aqidah memulai pelajaran, maka membuka dengan mengucapkan salam kepada para santri

(Assalamuaalaikum arohmatullah wabarokatuh). Selama mengajar tidak pernah

melupakan mengawalinya dengan ucapan salam. Setelah itu ustadz melakukan

apresiasi, yaitu mengulang pelajaran sebelumnya dengan inti permasalahan,

kemudian menanyakan kesulitannya. Terkadang ustadz memberikan beberapa

pertanyaan kepada santri untuk mengingat kembali pelajaran yang sudah

diberikan. Seusai ustadz mengkondisiskan kelas dan santri tampak fokus, ustadz

mulai memberikan materi pelajaran baru kepada santri. Untuk lebih

memperjelas, berikut strategi ustadz pada tahap pendahuluan :

1) Mengucapkan salam kepada seluruh santri.

2) Menertibkan kelas dan mengkondisikan santri untuk siap belajar

dengan mengarahkan perhatian dan konsentrasi peserta didik.

3) Memperkenalkan tema materi yang akan diajarkan.

4) Menginformasikan tujuan intruksional yang hendak dicapai, kalau

perlu menuliskannya di papan tulis agar santri tahu apa yang harus dilakukan

5) Mengulangi sebentar hal yang telah diketahui santri untuk mengingat

kembali hal-hal yang diperlukan untuk memahami bahan pelajaran yang baru

(apersepsi) dan memberikan tes awal (pre-test).

6) Jika ada PR, mendiskusikannya sebentar dengan santri.

7) Memotivasi santri untuk aktif dalam kegiatan belajar mengajar.

Kegiatan pendahuluan ini dilakukan oleh setiap pengajar (ustadz) bidang

studi aqidah di semua jenjang pendidikan yang ada di Pesantren Islam Al-Irsyad

Salatiga. (Observasi pada tanggal 26-30 April 2011).

Kegiatan Inti: Pada waktu ini ustadz mulai menyampaikan materi pelajaran dengan menggunakan metode mengajar yang beraneka ragam, berbeda

pada setiap ustadz di tiap jenjang pendidikan. Untuk jenjang SDITQ, biasanya

ustadz lebih menggunakan metode ceramah dan kontekstual dengan selalu

mengkondisikan suasana kelas. Tak jaran pula ustadz mengajar di tempat

terbuka. Adapun di jenjang-jenjang yang lainnya (MTW, IM, dan IL) ustadz

aqidah ketika mengajar menggunakan metode mengajar yang hampir sama,

antara lain metode ceramah, tanya jawab, diskusi, penugasan dan latihan soal.

Diawali dengan menyuruh santri untuk tidak membuka buku ajar terlebih

dahulu. Pada saat itu ustadz memberikan penjelasan dengan menggunakan media

pembelajaran atau alat peraga. Setelah ustadz meminta santri untuk membuka

buku dan menyuruh beberapa dari santri untuk membaca, sebagai peguatan

dalam hal bahasa Arab, mengingat buku ajar yang dipakai berbahasa Arab. Jika

didapati hal yang tidak dipahami ustadz memberikan waktu untuk bertanya.

santri. Selain itu pada kegiatan inti ini ada beberapa aktivitas yang dilaksanakan

oleh para ustadz, meliputi:

1) Mengatur waktu yang tersedia dengan baik.

2) Tidak menyimpang dari materi yang direncanakan.

3) Memberikan garis besar pelajaran secara singkat.

4) Menyajikan bahan pelajaran secara singkat.

5) Mengulang-ulang keterangan yang penting.

6) Sering memberikan ikhtisar.

7) Memberikan tes-tes pendek.

8) Memberikan penguatan, baik dengan pujian atau peringatan. Ini penting

untuk memperkuat motivasi.

9) Memberikan kesempatan santri untuk mengembangkan diri.

10) Memberikan perhatian yang adil.

11) Menciptakan suasana kelas yang menyenangkan.

(Observasi pada tanggal 25-30 April 2011)

Termasuk dari strategi pembelajaran yang dilaksanakan di

pesantren Al-Irsyad Salatiga di dalam pelaksanaannya ialah mengadakan

tasliyah. Tasliyah ini dilaksanakan pada waktu santri tampak kurang semangat di dalam proses pembelajaran, seperti mengantuk dan melamun. Hal ini di latar

belakangi oleh kepadatan kegiatan kepesantrenan selama dua puluh empat jam di

setiap hari, sehingga sudah menjadi maklum muncul beberapa peserta didik yang

mengalami kelesuan. Tasliyah berbentuk beraneka ragam, sebagai contoh ialah

mengatasi rasa kantuk. Bilamana tidak berhasil, maka santri diminta untuk

berdiri selama kegiatan belajar berlangsung sampai santri tersebut merasa bahwa

sudah tidak mengantuk lagi. Selain itu tasliyah juga bisa dilaksanakan dengan

kegiatan belajar di luar kelas sebagai solusi kebosanan para santri. KBM di luar

kelas bisa terwujud dengan belajar di perpustakaan, taman, masjid dan

tempat-tempat lain yang dirasa nyaman. (Observasi pada tanggal 25-30 April 2001)

Penutupan : Pada saat ini hampir semua ustadz yang mengajar aqidah di pesantren Al-Irsyad Salatiga melakukan hal-hal berikut ini:

1) Menyuruh santri untuk membuat ikhtisar dengan bahasanya sendiri

baru kemudian ustadz menyimpulkan dan merangkum materi.

2) Memberikan PR atau dalam pesantren dikenal dengan alwajibul manzil.

3) Memberikan post test.

4) Kembali memberikan motivasi kepada santri untuk mmempelajari

kembali materi tersebut di sakan.

5) Menutup pelajaran dengan salam.

Agar santri bisa merenungkan dan mengukur materi yang diperoleh

dalam proses pembelajaran maupun hasil belajar, ustadz aqidah juga melakukan

refleksi. Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari dan

diperoleh serta apa-apa yang sudah dilakukan. Refleksi yang dilakukan

merupakan respon terhadap kejadian, aktifitas, atau pengetahuan yang baru

diterima. Refleksi proses maupun hasil belajar dapat membantu santri membuat

pengetahuan yang baru. Dengan begitu, santri merasa memperoleh sesuatu yang

berguna bagi dirinya tentang apa yang baru dipelajari. (Observasi pada tanggal

25-30 April 2011).

Lain dari pada itu, ustadz juga memberikan penguatan dengan cara

latihan-latihan atau diskusi, agar materi yang telah disampaikan dapat diingat

dengan baik oleh santri. Jika penguatan tidak diberikan, maka peserta didik yang

kurang belajarnya akan mudah melupakan materi pelajaran yang telah berlalu.

Semakin banyak latihan bagi siswa akan lebih mudah bagi mereka untuk

mengingat. Penguatan diberikan pada saat sebelum memulai pelajaran

(apresiasi), tatkala tengah penyampaian materi dan juga pada waktu sebelum

menutup pelajaran, meski tidak setiap waktu. Penguatan juga berwujud dengan

tugas-tugas yang besifat individu maupun kelompok. Penguatan ini diajukan

untuk mengetahui sejauh mana pemahaman santri terhadap materi pelajaran yang

telah disampaikan. Begitu juga dengan PR atau yang disebut dengan alwajibul manzil juga memberikan penguatan pemahaman materi bagi para santri. (Observasi pada tanggal 25-30 April 2011).

Dokumen terkait