• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

B. Temuan Penelitian

5. Penggunaan Media Pembelajaran

Berdasarkan hasil observasi di kelas, bahwa ustadz mata pelajaran aqidah

cukup memperhatikan terhadap penggunaan media pembelajaran, seperti buku “Kalau ngomongin masalah ujian di pesantren ini, para santri sudah

menjadikannya hobi (sambil tersenyum) saking seringnya. Ada

imtihan maudhu`I, imtihan semester, imtihan Negara, imtihan lisan,

tulisan, banyak lah pokoknya. Tapi sebetulnya sih malah bikin kita ini

paket, papan tulis, alat peraga dan media elektronik. Data tersebut didukung dari

hasil wawancara kepada mudir pesantren, menyatakan bahwa pihak pesantren

telah mengupayakan memenuhi alat peraga atau alat bantu yang dapat

menunjang upaya mengefektifkan pembelajaran, khususnya bidang studi aqidah.

Pernyataan mudir pesantren tersebut didukung dari cross check dengan

guru aqidah bersangkutan bahwa penggunaan media pembelajaran itu sangat

penting dan diperlukan, sebab untuk mencapai tujuan pembelajaran jika tidak

ditunjang dengan penggunan media pembelajaran akan mendapat kesulitan

terhadap pencapaian tujuan pengajaran. Seperti yang diujarkan oleh Ust. Rizal

Yuliar, Lc (pengajar aqidah kelas satu I`dad Muallimin) kepada peneliti :

Ada juga ustadz yang memakai media elektronik (LCD proyektor) di

kelas I`dad Lughawi oleh Ust. Tauhiddin ketika menerangkan tentang

contoh-contoh kesyrikikan yang ada di Negara Indonesia.

“Alhamdulillah, sampai sejauh ini media pembelajaran yang

tersedia, baik dari pihak pesantren maupun dari para ustadz secara

pribadi sudah bias dikatakan baik. Seperti ana (saya) ini,

menggunakan alat peraga semcam ini (menunjukkannya kepada

peneliti). Nah, dengan alat peraga seperti ini jelas lebih

memahamkan santri akan bentuk-bentuk dari tholasim

(jimat/mantra-mantra). Sudah barang mesti santri jadi lebih

berinteraksi dalam pembelajaran dan akan lebih mengahsilkan

Penggunaan media pembelajaran dimaksudkan agar dalam mengantar

pesan nilai-nilai dan norma ajaran Islam melalui pembelajaran yang

direncanakan secara sistematis dapat memberikan kepuasan dan menumbuhkan

motivasi santri untuk mempelajari materi yang disampaikan, sehingga tujuan

pembelajaran yang diharapkan dapat tercapai secara optimal.

Hasil Observasi tentang penggunaan media pembelajaran diatas

menunjukkan cukup baik, namun perlu dioptimalkan penggunaannya. Dengan

denikian, pengunaan media pembelajaran tersebut dapat menumbuhkan gairah

dan motivasi belajar santri. Hal tersebut dapat tercipta interaksi media

pembelajaran bagi sebagaian besar santri.

Berdasarkan realita di atas, menunjukkan bahwa dengan adanya

penggunaan media pembelajaran setiap pertemuan mengajar ternyata cukup

mempengaruhi proses pembelajaran dalam pencapaian tujuan pengajaran. Oleh

sebab itu media pembelajaran merupakan salah satu sarana yang efektif dan

efisien bagi seorang guru terhadap pencapaian tujuan pengajaran yang

diharapkan.

6. Lingkungan Belajar

Komplek pondok pesantren Islam Al-Irsyad Salatiga

merupakan komponen komplit dalam mewujudkan lingkungan belajar yang kondusif. Dari hasil observasi yang usai peneliti lakukan, ditemukan segala

bentuk nilai positif dari semua lini bangunan dan kegiatan yang ada di pesantren

berkeinginan agar semua santri dapat konsentrasi penuh di dalam menimba ilmu

pengetahuan, khususnya ilmu agama tanpa harus terbebani dengan aktifitas

harian yang melelahkan, semisal mencuci dan masak. Hal ini terbukti bahwa

santri di ponpes tersebut mendapat fasilitas cuci-seterika gratis dengan wujudnya

laundry. Selain itu ternyata para santri juga tidak terbebani dengan cuci piring setelah makan, semua ditanggung oleh pihak dapur pesantren.

Lingkungan dapur pesantren adalah salah satu lingkungan

belajar santri, bukan berarti para santri boleh belajar dan diskusi saat waktu

makan akan tetapi telah dibangun satu taman di depan bangunan dapur yang

ditujukan untuk kenyamanan santri belajar. Masih dalam lingkup dapur, didapati

bahwasanya konsumsi makanan dan minuman yang disediakan juga berpengaruh

terhadap daya pikir dan ingat para santri. Peneliti melihat perbedaan yang cukup

jauh dibanding dengan beberapa pesantren modern yang lainnya dari sudut

pandang konsumsi. Di pesantren ini lauk-pauk yang disediakan terjadwal dalam

tiap minggunya dengan cukup baik, tiga kali sehari terdiri dari nasi, dua jenis

lauk dan makanan pendukung lainnya seperti sambal dan kerupuk. Adapun lauk

tidak terlepas dari kandungan protein, kalsium, vitamin dan zat berguna lainnya.

Selain itu terdapat jadwal minum susu tiga kali seminggu, susu asli yang

didatagkan dari kapubaten tetangga, Boyolali. (Observasi 30 April 2011).

Termasuk dari lingkungan belajar yang kondusif di pesantren

Al-Irsyad Salatiga adalah asrama (sakan), dimana satu kamar hanya terdiri dari tiga buah ranjang bertingkat untuk jumlah santri enam orang, ditambah dengan

pintu guna meletakkan semua perbendaharaan santri dan sejumlah buku.

Tentunya dengan adanya enam santri di dalam tiap kamar, membuat aksi belajar

lebih hening tanpa kegaduhan. Kemudian di dalam satu kamar ditunjuk seorang

ketua kamar yang telah duduk di kelas tertinggi, yakni tiga I`dad Muallimin.

Ketua kamar ini bertugas mengawasi sekaligus membimbing adik-adik kelas

yang menjadi anggota kamar di dalam kegiatan sehari-hari. Tidak jarang pula

sosok ketua kamar yang baik ditiru oleh anggota kamar menjadi bentuk

kepribadian. Ketua kamar juga ditugasi untuk selalu bekerja sama dengan

musyrif agar terwujudnya keamanan dan ketentraman asrama.

Di dalam asrama para santri digerakkan untuk belajar dan

mengulang pelajaran pada pukul 20.00 WIB sampai dengan 22.00 WIB. Dan

untuk siang hari diwajibkan bagi santri melakukan istirahat siang, tujuannya

ialah agar pelaksanaan KBM sore hari tidak terasa melelahkan.

Adanya beberapa pembina asrama dan ustadz tentu yang

berdomisili di dalam komplek pon-pes tentu menambah kondusif lingkungan

belajar di pesantren Al-Irsyad Salatiga. Kapan saja santri mengalami kesukaran

bisa langsung menemui ustadz dan langsung menanyakan dari berbagai

permasalahan yang dihadapi. Observasi yang peneliti laksanakan menghasilkan

beberapa temuan, contoh: 1) santri menghadap ustadz setelah menunaika ibadah

sholat di masjid untuk bertanya pelajaran yang belum dipahami, 2) santri

menghadap ustadz di kantor untuk menanyakan persoalan pribadi maupun

ustadz (bagi yang bujang) guna menanyakan kesulitan yang dihadapi, baik yang

berkaitan dengan pelajaran maupun hal-hal lain.

Pada hakikatnya pesantren Al-Irsyad Salatiga telah membentuk

lingkungan belajar yang sangat baik untuk pembelajaran bahasa Arab dengan

terdapat begitu banyak kosakata-kosakata (mufrodat) Arab-Indonesia tertempel di setiap lini bangunan. Akan tetapi kenyataan yang ada ternyata juga dirasa

cukup baik di dalam pembelajaran pelajaran-pelajaran lainnya, salah satunya

ialah mata pelajaran aqidah (tauhid).

Lingkungan belajar yang bagus untuk penanaman ilmu aqidah

sehingga muncul internalisasi yang kuat pada jiwa santri adalah keberadaan kelas

(fusul), masjid dan perpustakaan (maktabah), selain dari lingkungan belajar yang telah peneliti uraikan di atas.

Kelas merupakan lingkungan belajar yang cocok bagi santri

untuk mempelajari aqidah langsung dengan kitab induk dengan dibimbing oleh

ustadz. Apabila terdapati kesulitan bisa segera menanyakan kepada pengajar

sehingga tidak terjadi salah paham. Dan jika ustadz selesai dan keluar kelas, para

santri masih dapat berdiskusi tentang pelajaran yang telah dipelajari bersama

rekan-rekan di kelas pada jam istirahat.

Lingkungan selanjutnya adalah perpustakaan, yang tak jarang

para ustadz mengajak peserta didik (santri) tatkala “bosan” belajar di kelas untuk

belajar di perpustakaan, atau ustadz sengaja meminta santri menyelesaikan tugas

pelajaran aqidah. Pernyataan ini sesuai dengan ucapan Ust. Iqbal Baswedan

kepada peneliti :

Kemudian yang selanjutnya adalah lingkungan masjid. Dan inilah pusat

dari lingkungan belajar terbaik dalam pembelajaran aqidah sehingga muncul

internalisasi nilai pada jiwa santri. Dari observasi yang peneliti laksanakan di

dalam satu minggu diadakan sebanyak tiga kali kajian tentang aqidah, waktunya

adalah setalah sholat maghrib sampai dengan masuk waktu isya’. Pembicara

adalah ustadz yang mengajar aqidah (tauhid) di jenjang I`dad Muallimin, yang

telah banyak “makan garam” berdakwah tauhid. Dalam kegiatan ini para santri

berhak menanyakan semua permalahan yang berkaitan dengan aqidah, meskipun

tidak ada dalam materi di kelas. Tenyata dari kajian ilmiah seperti ini malah

membikin santri memahami kaedah dan prinsip keislaman yang menghujam di

sanubari.

….”maktabah adalah tempat yang munasib (cocok) untuk pelajaran

aqidah. Makanya banyak ustadz-ustadz di sini yang mengajak

santri kesana. Diberi tugas dari materi yang jawabannya harus dari

kitab aqidah-aqidah lain yang hanya ada di perpustakaan. Santri

pun juga merasa royid (senang) dengan tugas semacam ini, malah

banyak yang minta ke ustadz pergi ke maktabah aja kalau mereka

Selanjutnya dari penelitian yang peneliti laksanakan dalam bidang

lingkungan belajar aqidah yang kondusif bagi para santri ialah diadakan kegiatan

dakwah ke luar pesantren (masyarakat luas) pada tiap hari Kamis sore, yang

ditujukan khusus untuk para santri kelas dua I`dad Muallimin / XI MA dan XII

MA semester pertama. Hasil temuan ialah dakwah yang diajarkan pertama kali

ialah dakwah tauhid yang intinya mengajak ummat untuk kembali kepada aqidah

yang lurus. (Observasi pada tanggal 05 April 2011).

Dokumen terkait