KAJIAN PUSTAKA
B. Model Pembelajaran Cooperative Learning
1. Pengertian Model Pembelajaran Cooperative Learning
Keberhasilan dalam pembelajaran ditentukan oleh beberapa faktor antara lain: guru, cara pembelajaran, siswa, tempat dan banyak yang lainnya. Salah satu faktor yang mempengaruhi pembelajaran yaitu cara pembelajaran. Cara pembelajaran merupakan suatu upaya atau usaha yang dilakukan oleh guru supaya siswa dapat menangkap atau mengerti sesuatu yang akan guru sampaikan kepada siswa. Banyak sekali cara pembelajaran yang ada di Indonesia salah satunya yaitu model pembelajaran cooperative learning. Cooperative Learning merupakan salah satu model pembelajaran yang mendukung pembelajaran kontekstual. Model pembelajaran
Cooperative Learning dapat didefinisikan sebagai sistem kerja/ belajar kelompok yang terstruktur.
Falsafah yang mendasari pembelajaran Cooperative Learning (pembelajaran gotong royong) dalam pendidikan adalah “homo homini socius” yang menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Menurut Anita Lie dalam bukunya “Cooperative Learning”, bahwa model
pembelajaran Cooperative Learning tidak sama dengan sekadar belajar
kelompok, tetapi ada unsur-unsur dasar yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan. Dalam Isjoni (2007:66) siswa-siswi yang melaksanakan pembelajaran cooperative learning bekerja dalam kelompok-kelompok untuk mengerjakan suatu tugas atau mencari penyelesaian terhadap suatu masalah maupun untuk mencapai tujuan bersama. Namun, agar suatu pembelajaran dikatakan merupakan suatu pembelajaran cooperative learning masih diperlukan adanya elemen-elemen yang merupakan bahan dasar agar pembelajaran tersebut dapat dinamakan pembelajaran cooperative learning. Elemen-elemen ini menjamin bahwa jika siswa berada dalam kelompok untuk mengerjakan tugas, maka mereka dapat bekerja secara Cooperative learning. Elemen-elemen tersebut adalah sebagai berikut:
1. Setiap anak yang berada dalam suatu kelompok hendaknya
memandang bahwa ia adalah bagian dari kelompoknya dan bahwa semua anggota dalam satu kelompok mempunyai tujuan yang sama.
2. Setiap anggota kelompok harus menyadari bahwa soal yang harus mereka selesaikan adalah merupakan tugas kelompok dan bukan tugas individu sehingga keberhasilan atau kegagalan dari kelompok itu akan berdampak bagi setiap anggota kelompok.
3. Untuk mencapai tujuan kelompok itu, setiap anggota kelompok itu
harus saling berbicara di antara mereka dan terlibat dalam diskusi untuk menyelesaikan masalah.
4. Setiap anggota kelompok harus menyadari bahwa hasil kerja individu
mempunyai dampak langsung pada keberhasilan kelompok. Artinya setiap anggota mempunyai kesempatan yang sama untuk berkontribusi demi kepentingan kelompoknya, bukan hanya anggota tertentu saja.
Dengan mengacu keempat elemen ini maka jelaslah bahwa pembentukan kelompok kecil, siswa dapat menyelesaikan satu atau beberapa soal atau membahas topik-topik tertentu yang dipilih guru merupakan suatu hal yang diperlukan untuk berlangsungnya pembelajaran cooperative learning.
Roger dan David Johnson dalam Suprijono (2009:58) mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap Cooperative Learning, untuk itu harus diterapkan lima unsur model pembelajaran gotong royong yaitu :
a. Saling ketergantungan positif.
Keberhasilan suatu kelompok sangat bergantung pada usaha setiap anggotanya. Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain dapat mencapai tujuan mereka.
b. Tanggung jawab perseorangan.
Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model
pembelajaran Cooperative Learning, setiap siswa akan merasa
bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik. Pengajar yang efektif dalam model pembelajaran Cooperative Learning membuat persiapan dan menyusun tugas sedemikian rupa sehingga masing-masing anggota kelompok harus melaksanakan tanggung jawabnya sendiri agar tugas selanjutnya dalam kelompok bisa dilaksanakan.
c. Tatap muka.
Dalam pembelajaran Cooperative Learning setiap kelompok harus
diberikan kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan.
d. Komunikasi antar anggota.
Unsur ini menghendaki agar para pembelajar dibekali dengan berbagai keterampilan berkomunikasi, karena keberhasilan suatu kelompok juga bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka. Keterampilan berkomunikasi dalam kelompok juga merupakan proses panjang. Namun, proses ini merupakan proses yang sangat bermanfaat dan perlu ditempuh untuk memperkaya pengalaman belajar dan pembinaan perkembangan mental dan emosional para siswa
e. Evaluasi proses kerja kelompok.
Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif. Evaluasi juga dapat membantu anggota kelompok untuk mengetahui hal-hal apa saja yang harus diperbaiki lagi saat bekerja kelompok.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran cooperative learning adalah model pembelajaran yang terdiri dari beberapa kelompok yang memberikan saling ketergantungan, tanggungjawab perseorangan, komunikasi serta meningkatkan rasa sosialisasi.
2. Tujuan Pembelajaran Cooperative Learning
Tujuan pembelajaran cooperative learning berbeda dengan
kelompok konvensional yang menerapkan sistem kompetisi, di mana keberhasilan individu diorientasikan pada kegagalan orang lain. Sedangkan tujuan dari pembelajaran cooperative learning adalah menciptakan situasi di mana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya. Model pembelajaran cooperative learning dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum oleh Anita Lie (2002:30), yaitu:
a. Hasil belajar akademik
Dalam belajar cooperative learning meskipun mencakup beragam
tujuan sosial, juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting lainnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit. Para pengembang model ini telah menunjukkan bahwa model struktur penghargaan cooperative learning telah dapat meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar. Di samping mengubah norma yang berhubungan dengan hasil belajar, pembelajaran cooperative learning dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik.
b. Penerimaan terhadap perbedaan individu
Tujuan lain model pembelajaran cooperative learning adalah penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidakmampuannya. Pembelajaran cooperative learning memberi peluang bagi siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung pada tugas-tugas akademik dan melalui struktur penghargaan cooperative learning akan belajar saling menghargai satu sama lain.
c. Pengembangan keterampilan sosial
Tujuan penting ketiga pembelajaran cooperative learning adalah, mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilan sosial, penting dimiliki oleh siswa sebab saat ini banyak anak muda masih kurang dalam keterampilan sosial.
3. Teknik-teknik Pembelajaran Cooperative Learning
a. Mencari Pasangan
Dalam tenik ini siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. Teknik ini dikembangkan oleh Lorna Curron (1994).Salah satu keunggulan teknik ini adalah teknik ini dapat digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia siswa.
b. Bertukar Pasangan
Teknik belajar-mengajar bertukar pasangan memberi siswa kesempatan untuk bekerja sama dengan orang lain. Teknik ini sama seperti teknikmencari pasangan dapat digunakan untuk semua mata pelajaran dan semua usia siswa.
c. Berpikir-berpasangan-berempat
Teknik belajar-mengajar berpikir berpasangan berempat dikembangkan oleh Frank Lyman dan Spencer Kagan. Teknik ini memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja sendiri dan bekerja sama dengan orang lain. Keunngulan dari teknik ini yaitu optimalisasi partisipasi siswa.
d. Berkirim salam dan soal
Teknik ini memberi kesempatan kepada siswa untuk melatih pengetahuan dan keterampilan. Siswa membuat pertanyaan sendiri sehingga merasa akan lebih terdorong untuk belajar dan menjawab pertanyaan yang dibuat oleh teman-teman kelasnya.
e. Kancing Gemerincing
Teknik ini di kembangkan oleh Spencer Kagan (1992), keunggulan teknik ini yaitu memberi kesempatan kepada siswa untuk menyumbangkan pendapat atau ide. Jadi dalam teknik ini tidak ada
siswa yang pasif, semua siswa harus aktif. Teknik ini dapat digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkat usia siswa. Dalam teknik ini semua anggota mendapatkan kesempatan yang sama untuk mendistribusikan pandangan dan pikiran mereka melalui pendapat atau jawaban dari soal yang sudah ada. Selain menymbangkan pikiran dan pandangan, mereka dapat mendengarkan pandangan dan pemikiran teman kelompok yang lainnya.
f. Kepala bernomor
Teknik ini memberi kesempatan kepada siswa untuk menyumbangkan ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Siswa masuk di dalam kelompok kemudian setiap anak diberi ikat kepala yang bernomor. Setiap siswa memakai ikat kepala yang bernomor. Kemudian guru membagikan kertas yang berisi pertanyaan-pertanyaan. Anak-anak yang bernomor sama mengerjakan beberapa soal yang sama ditentukan guru. Setelah itu mereka kembali ke kelompok semula untuk menjelaskan jawaban yang mereka dapat.
4. Model Pembelajaran Cooperative Learning Teknik Kancing Gemerincing.
Model pembelajaran cooperative learning banyak seakali jenis
tekniknya. Salah satu dari model pembelajaran cooperative Learning yaitu teknik kancing gemerincing. Teknik ini dikembangkan oleh Specer Kagan tahun 1992. Teknik kancing gemerincing yaitu kerja kelompok yang tersetruktur didasarkan pada pemerataan kesempatan pada masing-masing
anggota kelompok untuk menyampaikan pendapatnya. Sehingga tidak ada anggota kelompok yang terlalu dominan atau banyak bicara. Dalam banyak kelompok biasanya ada salah satu anggota kelompok yang lebih dominan sehingga anggota kelompok lainnya hanya menjadi pendengar. Teknik ini dapat digunakan dalam berbagai mata pelajaran dan semua tingkatan usia, sehingga siswa SD dapat menggunkan teknik ini. Adapun tahapan-tahapan dalam melaksanakan teknik ini. Tahap-tahap pembelajaran dengan model pembelajaran Cooperative Learning teknik kancing gemerincing menurut Anita Lie (2002:56), adalah sebagai berikut:
a. Guru menyiapkan satu kotak kecil yang berisi kancing-kancing.
b. Sebelum kelompok mendapat tugasnya, masing-masing anggota
kelompok mendapat kancing 2 atau 3 buah.
c. Setiap kali seorang siswa berbicara atau mengeluarkan pendapat, dia
harus menyerahkan salah satu kancingnya dan meletakkan ditengah-tengah.
d. Jika kancing yang dimiliki seorang siswa habis, dia tidak boleh
berbicara lagi sampai semua rekannya juga menghabiskan kancing mereka.
e. Jika semua kancing sudah habis tetapi tugas belum selesai kelompok
boleh mengambil sepakat untuk membagi-bagikan kancing lagi dan mengulangi prosedurnya lagi.
Beberapa keunggulan model pembelajaran cooperative learning teknik kancing gemerincing adalah sebagai berikut:
a. Semua anggota kelompok mendapatkan kesempatan yang sama untuk menyampaikan pendapatnya.
b. Tidak ada salah satu anggota kelompok yang dominan atau banyak
bicara.
c. Setiap siswa akan memiliki tanggung jawab akan tugasnya.
Berikut ini adalah gambar dari cooperative learning teknik kancing gemerincing:
Pendapat Pendapat
Pendapat Pendapat