TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
A. Tinjauan Pustaka 1. Hasil Belajar Fisika
3. Model Pembelajaran Inkuiri Tipe Pictorial Riddle
Model ini diarahkan untuk mengajarkan peserta didik suatu proses dalam rangka mengkaji dan menjelaskan suatu fenomena khusus. Tujuannya adalah membantu peserta didik mengembangkan disiplin dan mengembangkan ketrampilan intelektual yang diperlukan untuk mengajukan pertanyaan dan menemukan jawabannya berdasarkan rasa ingin tahunya. Melalui kegiatan ini diharapkan peserta didik aktif mengajukan pertanyaan mengapa sesuatu terjadi kemudian mencari dan mengumpulkan serta menganalisis untuk dapat menemukan jawaban atas pertanyaan mengapa sesuatu terjadi. Pembelajaran inkuiri dimulai dengan menyajikan peristiwa yang mengandung teka-teki kepada peserta didik. Para peserta didik yang menghadapi situasi tersebut akan termotivasi menemukan jawaban masalah-masalah yang masih menjadi teka-teki tersebut.
Menurut Gulo (dalam Trianto, 2011:135) menyatakan bahwa pembelajaran inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan peserta didik untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan percaya diri.
Sasaran utama proses pembelajaran inkuiri adalah 1) keterlibatan peserta didik secara maksimal dalam proses kegiatan belajar; 2) keterarahan kegiatan secara logis dan sistematis pada tujuan pembelajaran dan; 3)mengembangkan sikap percaya pada diri peserta didik tentang apa yang ditemukan dalam proses inkuiri.
Peranan guru dalam pembelajaran inkuiri adalah sebagai berikut:
1. Motivator , memberi rangsangan agar peserta didik aktif dan bergairah berpikir.
2. Fasilitator, menunjukkan jalan keluar jika peserta didik mengalami kesulitan.
3. Penanya, menyadarkan peserta didik dari kekeliruan yang mereka buat.
4. Administrator, bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan kelas.
5. Pengarah, memimpin kegiatan peserta didik untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
6. Manager, mengelola sumber belajar, waktu, dan organisasi kelas.
7. Rewarded, memberi penghargaan pada prestasi yang dicapai peserta didik.
Model pembelajaran inkuiri terdiri atas beberapa jenis. Ada jenis metode penemuan yang dibimbing atau diarahkan guru, tetapi ada pula jenis metode dimana peserta didik diberi kebebasan dan dilepas oleh guru dalam melakukan
kegiatan-kegiatan belajarnya.
Menurut (Sund dan Trowbridge, 1973:61) menguraikan tujuh jenis model pembelajaran inquiry-discovery yakni: guided discovery-inquiry lab.lesson, modified discovery-inquiry, free inquiry, infitation into inquiry, inquiry role approach, pictorial riddle dan synectics lesson.
1). Guided Discovery-Inquiry Lab.Lesson
Sebagian perencanaan dibuat oleh guru. Selain itu guru menyediakan bimbingan atau petunjuk yang cukup luas kepada peserta didik. Dalam hal ini peserta didik tidak merumuskan problema, sementara petunjuk yang cukup luas tentang bagaimana menyusun dan mencatat diberikan oleh guru.
2). Modified Discovery-Inquiry
Guru hanya memberikan problema saja. Guru menyediakan bahan atau alat-alat yang diperlukan, kemudian peserta didik diundang untuk memecahkannya melalui pengamatan, eksplorasi dan atau melalui prosedur penelitian untuk memperoleh jawabannya. Pemecahan masalah dilakukan atas inisiatif dan caranya sendiri secara berkelompok atau perseorangan. Guru berperan sebagai pendorong, narasumber, dan memberikan bantuan yang diperlukan untuk menjamin kelancaran proses belajar peserta didik.
3). Free Inquiry
Kegiatan free inquiry dilakukan setelah peserta didik mempelajari dan mengerti bagaimana memecahkan masalah dan telah memperoleh pengetahuan cukup tentang bidang studi tertentu serta telah melakukan modified discovery-inquiry. Pada metode ini peserta didik harus mengidentifikasi dan merumuskan
macam problema yang akan dipelajari atau dipecahkan.
4). Infitation Into Inquiry
Peserta didik dilibatkan dalam proses pemecahan problema sebagaimana cara-cara yang lazim diikuti scientist. Suatu infitation (undangan) memberikan suatu problema kepada peserta didik dan melalui pertanyaan masalah yang telah direncanakan dengan hati-hati mengundang peserta didik untuk melakukan beberapa kegiatan antara lain: merancang eksperimen, merumuskan hipotesis, menetapkan kontrol, menemukan sebab akibat, menginterpretasi data dan membuat grafik.
5). Inquiry Role Approach
Inquiry Role Approach merupakan kegiatan proses belajar yang melibatkan peserta didik dalam tim yang masing-masing terdiri atas empat anggota untuk memecahkan infitation into inquiry. Masing-masing anggota tim diberi tugas dengan peranan yang berbeda-beda sebagai berikut: coordinator tim, penasihat teknis, pencatat data dan evaluator proses.
6). Synectics Lesson
Pada dasarnya synectics lesson memusatkan pada keterlibatan peserta didik untuk membuat berbagai macam bentuk metafora (kiasan) supaya dapat membuka intelegensinya dan mengembangkan kreatifitasnya. Hal ini dapat dilaksanakan karena metafora dapat membantu dalam melepaskan ”ikatan struktur mental“ yang melekat kuat dalam memandang suatu problema sehingga dapat menunjang timbulnya ide-ide kreatif. Selain itu, keterlibatkan peserta didik dalam membuat metafora dapat menambah motivasi mereka dalam belajar.
7). Pictorial Riddle
Dalam menanamkan suatu konsep dalam kegiatan belajar mengajar, seorang guru harus bisa memilih metode pembelajaran yang tepat. Pada penelitian ini dipilih metode pembelajaran pictorial riddle. Pictorial riddle merupakan salah satu metode pembelajaran untuk mengembangkan motivasi dan interest peserta didik di dalam diskusi kelompok kecil maupun besar. Gambar, peraga atau situasi yang sesungguhnya dapat digunakan untuk meningkatkan cara berpikir kritis dan kreatif peserta didik. Sebuah gambar memiliki kemampuan untuk menyampaikan banyak informasi dengan ringkas dan dapat lebih mudah diingat dari pada penjelasan yang panjang (Danie 2008:17). Riddle yang dimaksud dapat berupa papan poster, gambar di papan tulis atau diproyeksikan dari suatu transparansi, kemudian guru mengemukakan pertanyaan-pertanyaan tentang riddle tersebut.
Model pembelajaran inkuiri tipe pictorial riddle adalah salah satu model pembelajaran yang mengembangkan motivasi dan minat serta cara berpikir kritis dan kreatif peserta didik peserta didik dalam diskusi kelompok untuk mengkaji, menemukan dan memecahkan masalah tentang materi pelajaran melalui teka-teki bergambar (pictorial riddle). Adapun kegiatan guru hanya mengarahkan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang memancing daya berpikir peserta didik dalam mengkaji dan menemukan konsep materi pelajaran yang sedang mereka ikuti.
Menurut (Sund dan Trowbridge, 1973:143) langkah-langkah dalam membuat rancangan suatu riddle :
1) Memilih beberapa konsep atau prinsip yang akan diajarkan atau didiskusikan.
2) Melukis suatu gambar, menunjukkan suatu ilustrasi atau menggunakan potret (gambar) yang menunjukkan konsep, proses atau situasi.
3) Suatu prosedur bergantian untuk menunjukkan sesuatu yang tidak sewajarnya dan kemudian meminta peserta didik untuk mencari dan menemukan mana yang salah dengan riddle tersebut.
4) Membuat pertanyaan-pertanyaan berbentuk divergen yang berorientasikan pada proses dan berkaitan dengan riddle ( gambar dan sebagainya) yang akan membantu peserta didik memperoleh pengertian tentang konsep atau prinsip apakah yang terlibat di dalamnya.
Seperti halnya model pembelajaran yang lain, model pembelajaran pictorial riddle juga mempunyai kelebihan maupun kekurangan. Adapun kelebihan model pembelajaran pictorial riddle, antara lain:
1. Peserta didik lebih memahami konsep-konsep dasar dan dapat mendorong peserta didik untuk mengeluarkan ide-idenya.
2. Melalui teka-teki bergambar, materi yang diberikan dapat lebih lama terekam dalam ingatan peserta didik.
3. Mendorong peserta didik untuk berpikir kritis sehingga peserta didik mampu mengeluarkan inisiatifnya sendiri.
4. Mendorong peserta didik untuk dapat berpikir intuitif dan merumuskan hipotesisnya sendiri.
5. Meningkatkan motivasi belajar peserta didik.
6. Peserta didik tidak hanya belajar tentang konsep-konsep dan prinsip-prinsip, tetapi ia juga mengalami proses belajar tentang pengarahan diri sendiri,
tanggung jawab dan komunikasi sosial.
7. Dapat membentuk dan mengembangkan self-concept pada diri peserta didik.
8. Dapat memperkaya dan memperdalam materi yang dipelajari sehingga materi dapat bertahan lama di dalam ingatan.
Adapun kekurangan model pembelajaran pictorial riddle, antara lain:
1. Peserta didik yang terbiasa belajar dengan hanya menerima informasi dari guru akan kesulitan jika dituntut untuk berpikir sendiri.
2. Guru dituntut mengubah kebiasaan mengajarnya yang mulanya sebagai pemberi atau penyaji informasi menjadi sebagai fasilitator, motivator, dan pembimbing peserta didik dalam belajar.
3. Banyaknya kebebasan yang diberikan peserta didik dalam belajar tidak menjamin bahwa peserta didik belajar dengan tekun, penuh aktivitas, dan terarah.
4. Berbagai sumber belajar dan fasilitas yang dibutuhkan tidak selalu mudah disediakan.
5. Peserta didik membutuhkan lebih banyak bimbingan guru untuk melakukan penyelidikan atau pun aktivitas belajar lain.
6. Penggunaan model pembelajaran ini pada kelas besar serta jumlah guru yang terbatas membuat tidak optimalnya pembelajaran.
7. Pemecahan masalah dapat bersifat mekanistis, formalitas, dan membosankan.