• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TIPE PICTORIAL RIDDLE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TIPE PICTORIAL RIDDLE"

Copied!
249
0
0

Teks penuh

(1)

i SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Fisika

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar

ANDI ZAINAL 10539 1017 12

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA DESEMBER 2016

(2)

ii SKRIPSI

ANDI ZAINAL 10539 1017 12

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA DESEMBER 2016

(3)

Srl:r

atas nama

ANDI ZAINAI, NIM

10539 1017 12 diterima dan 3sL:-.

-..

oieh Panitia

Ujian

Skripsi berdasarkan Surat Keputusan Rektor -

*

. iisrlas Muhammadiyah Makassar Nomor: 004 Tahun 1438 H I 2A16 M, pada

::--.;+l

04 Rabiul Akhir 1438 H

/

03 Januari 2A1,7 M, sebagai salah satu syarat

;--r;

13rr1peroleh gelar Sarjana Pendidikan pada Prograrn Studi Pendidikan

F

${Lr.

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadi-.,'eh t*I*r;iSzr pada hari Jum'at, tanggal 13 Januari 2A17.

L3 lanuart Z$17I{

#alnrsser

1{" Eehigl A}r}ir143S F

.,.

.

FANITIA UJNAN

: Dr. H. Abd. Rahman Rahiin, SE.,

.. .:

: Br. H. Andi Sukri l$yamsur!. Fd.Hum (

#",.*y

-

Pengawas Um.14n

-

Ketua

3.

SetretariQ

1.

Penguji ;...{, Dr. Muhamr*ad Arsyad, MT

2. Nurlina, S.Si.,-M.Pd

3. Dra. Hj. Rahmini Hustrm, M.Pd

4. Khaeruddin, S.Pd., M.Pd

Dis,qffin FKIP Unis

dd$ffi"*+

f&k3

(4)

PERS NTT'JI.iAF{ PEPTBI&TBTT{G

'.'---

-, !.s\\'a ),ang bersangkutan:

' ,

--=:

: ANDI ZAINAL

. ': :

10539

lAn

!2

:-. .-=::r Studi

:

Pendidikan Fisika

r :,"-

jias :

Keguruan dan Ilmu P*xdidikan

*-_ran.Iudul

:

Penerapan M*del Pemir*laiaran

Inkuiri

Tipe Pictorisl Rirtdlef Dengan l{unten lntegrasi-Interi<clnei$i Padt Pembeiajaran Fisika Kelas,S' SMA Negeri'l trVttamcoppeng"

Telah d*Ferikm dan dreiiti ulang, maka skripsi

rti

telah'rnemenuhi persyaratan

*ruh *rujrkan.

Disttujui oleh:

PembimbingQ

\

'4e€?-"

Drs. H. Abd. Samfo. M.Si

@

Diketahui:

Nurlina. S.Si." M.Pd

ffi

KehraProdi Peiitiidikan Fisika

#n

L.

{P":

""8

s+t*

L

Mrri"r'.'3.si.. M.Pd

Makassar, I3 Januari 20 [7

bt*

FKIP

i n rdt frTvr I

tri\rJl\AU-n I /€rS.#Bgffi

{ .s,\

Nirlig

iii

N"I,t_lN. 0923t)7820L

/

----

(5)

vi

Gantungkan asa dan semangatmu setinggi bintang di langit Dan rendahkan hatimu serendah mutiara di lautan

Saya percaya

Esok sudah tidak boleh merubah apa yang terjadi hari ini Tetapi hari ini masih boleh merubah yang terjadi di hari esok

Ilmu itu teman akrap dalam kesepian, sahabat dalam keterasingan, pengawas dalam kesendirian, petunjuk jalan ke arah yang benar, penolong di saat sulit, dan simpanan setelah kematian.

Karya sederhana ini kupersembahkan Kepada Ayah Bundaku tercinta, beserta keluarga Yang senantiasa memanjatkan doa kehadirat Allah SWT.

Dan senantiasa mengikhlaskan segalanya Untuk kesuksesanku

Bingkisan sayang sekaligus penghargaan kepada orang-orang yang Mencitaiku dengan segenap harapan terbaik, dan doa serta kebanggaan

Mereka untukku selamanya

By; Andi Zainal

(6)

viii

Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat dan inayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini sebagai salah satu syarat guna meraih gelar sarjana pendidikan (S.Pd.), pada Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

Dalam penyelesaian tugas akhir ini, penulis banyak menghadapi rintangan dan hambatan. Namun berkat rahmat Allah SWT, serta bantuan dari berbagai pihak, sehingga rintangan dan hambatan itu akhirnya dapat teratasi. Menyadari keterbatasan kemamapuan yang dimiliki maka dalam tugas akhir ini masih ditemukan banyak kekurangan. Karena itu, saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat diharapkan dari para pembaca.

Dalam proses penyelesaian tugas akhir ini, penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu perkenankanlah penulis menghaturkan rasa penghormatan dan tanda terima kasih saya kepada Ayahanda tercinta Andi Pakombongi dan ibunda tercinta Hasnah, yang telah membesarkan dan menanamkan nilai-nilai luhur, disiplin dan rasa tanggung jawab serta doanya selama ini. Serta seluruh keluarga besar Penulis yang telah memberikan motivasi dengan penuh rasa kasih sayang serta segala pengorbanan kepada penulis selama mengikuti pendidikan.

(7)

ix

ketulusannya dalam memberikan bimbingan atau arahan kepada penulis mulai dari awal hingga penyelesaian penulisan skripsi ini.

Akhir kata, dengan hati yang tulus dan ikhlas penulis menghaturkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya, kepada :

1. Bapak Dr. Abdul Rahman Rahim, S.E., M.M., Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.

2. Bapak Dr. A. Sukri Syamsuri, M.Hum., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Ibu Nurlina, S.Si., M.Pd. dan Bapak Ma’ruf, S.Pd., M.Pd., selaku Ketua dan Sekertaris Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

4. Bapak-bapak dan Ibu-ibu Dosen Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar.

5. Kepada kakakku tersayang, Andi Mariani yang senantiasa mengharapkan dan menyemangati penulis untuk meraih cita-cita yang diinginkan.

6. Kepada sahabatku Aini, Uci, Rahmah, Yulianti, Ria, Dewi, Tiar, Darna, Yusuf, Fauzan, Hajar serta seluruh rekan-rekan angkatan 2012, atas dorongan moril yang diberikan selama ini.

(8)

x kurang berkenan di hati.

Akhirnya kepada Allah SWT. jualah kita menyerahkan segalanya dan berharap kiranya tugas akhir ini bernilai ibadah disisi-Nya.

Makassar, Februari 2017

Penulis

(9)

xi

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING... iii

SURAT PERNYATAAN... iv

SURAT PERJANJIAN ... v

MUTIARA HIKMAH…... vi

ABSTRAK… ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI... xii

DAFTAR TABEL... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN... xvii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian... 5

D. Manfaat Penelitian... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR A. Tinjauan Pustaka ... 7

(10)

xii

4. Integrasi-Interkoneksi...17

5. Model Pembelajaran Inkuiri Tipe Pictorial Riddle dengan Konten Integrasi-Interkoneksi ...21

B. Kerangka Pikir...23

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Lokasi Penelitian ...25

B. Variabel dan Desain Penelitian ...25

C. Definisi Operasional Variabel ... ...26

D. Populasi dan Sampel Penelitian ... ...26

E. Prosedur Penelitian ... ...27

F. Teknik Pengumpulan Data ... ...28

G. Pengembangan Instrumen ... ...28

H. Teknik Analisis Data ... ...30

1. Analisis Deskriptif... ...30

2. Analisis Inferensial ... 32

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 33

A. Hasil Penelitian ... 33

1. Analisis Deskriptif... 33

2. Analisis Inferensial ... 35

(11)

xiii

B. Saran ... 39 DAFTAR PUSTAKA ... 41 LAMPIRAN

RIWAYAT HIDUP

(12)

xiv

Tabel 2.1. Sintaks Pelaksanaan Model Pembelajaran Inkuiri Tipe Pictorial Riddle dengan Konten Integrasi-Interkoneksi... ..22 Tabel 3.1. Kategori Penilaian... ..31 Tabel 4.1. Gambaran Hasil Belajar Fisika Pre-Test dan Post-Test Kelas X MIA

1 SMA Negeri 1 Watansoppeng . ... ..33 Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi Skor Hasil Belajar Fisika Peserta Didik

Kelas X MIA 1 SMA Negeri 1 Watansoppeng Pada Pre-test dan Pos-test...34

(13)

xv

Gambar 2.1. Kerangka Pikir... ..35

(14)

xvi

Diagram 4.1. Distribusi Frekuensi Skor Hasil Belajar Fisika Peserta Didik Kelas X MIA 1 SMA Negeri 1 Watansoppeng pada Pre-test dan Post-test ... ..24

(15)

xvii

1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) ... 43

2. Bahan Ajar (Buku Ajar Fisika)... 76

3. Slide Pictorial Riddle dengan Konten Integrasi-Interkoneksi ... 77

4. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) ... 88

5. Tes Hasil Belajar (Sebelum Validasi)... 91

6. Tes Hasil Belajar Pre-tes/Post-test... 100

LAMPIRAN II (Analisis Hasil Penelitian) ... 106

1. Validitas Item Tes Hasil Belajar... 107

2. Perhitungan Validitas Item ... 111

3. Perhitungan Reliabilitas Item ... 113

4. Hasil Pre-test ... 114

5. Hasil Post-test... 117

6. Uji N-Gain ... 120

7. Daftar Nilai-nilai r Product Moment ... 121

LAMPIRAN III (Persuratan) ... 122

LAMPIRAN IV (Dokumentasi) ... 123

1. Daftar Hadir Peserta Didik Kelas X MIA 1 SMA Negeri Watansoppeng ... 124

2. Dokumentasi foto... 126

(16)

i

“Gerak Lurus”

Disusun Oleh : Andi Zainal

SMA NEGERI 1 WATANSOPPENG

2016

FISIKA Untuk SMA/MA Kelas X

i

“Gerak Lurus”

Disusun Oleh : Andi Zainal

SMA NEGERI 1 WATANSOPPENG

2016

FISIKA Untuk SMA/MA Kelas X

i

“Gerak Lurus”

Disusun Oleh : Andi Zainal

SMA NEGERI 1 WATANSOPPENG

2016

FISIKA Untuk SMA/MA Kelas X

(17)

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat dan inayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan bahan ajar ini untuk digunakan pada proses belajar mengajar disekolah tujuan penelitian.

Dalam penyelesaian bahan ajar ini, penulis banyak menghadapi rintangan dan hambatan. Namun berkat rahmat Allah SWT, serta bantuan dari berbagai pihak, sehingga rintangan dan hambatan itu akhirnya dapat teratasi. Menyadari keterbatasan kemamapuan yang dimiliki maka dalam bahan ajar ini masih ditemukan banyak kekurangan. Karena itu, saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat diharapkan dari para pembaca.

Makassar, Oktober 2016

Penulis

i

(18)

iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...i

DAFTAR ISI...ii

A. JARAK DAN PERPINDAHAN...1

B. KECEPATAN DAN KELAJUAN...3

C. KECEPATAN SESAAT...7

D. PERCEPATAN...7

E. GERAK LURUS BERATURAN...10

F. GERAK LURUS BERUBAH BERATURAN...12

G. GERAK JATUH BEBAS...17

H. GERAK VERTIKAL KE ATAS...18

DAFTAR PUSTAKA...19

ii

(19)

iv

DAFTAR PUSTAKA

Sumarsono, Joko. 2009. Fisika: Untuk SMA/MA Kelas X. Departemen Pendidikan Nasional

-20-

(20)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan kualitas ummat manusia seutuhnya adalah misi pendidikan yang menjadi tanggung jawab profesional setiap guru. Pengembangan kualitas manusia ini menjadi suatu keharusan, terutama dalam memasuki era globalisasi dewasa ini, agar generasi muda tidak menjadi korban dari globalisasi itu sendiri.

Kualitas dan kuantitas pendidikan sampai saat ini masih tetap merupakan suatu masalah yang paling menonjol dalam setiap usaha pembaharuan sistem pendidikan. Kedua masalah tersebut di atas sulit ditangani secara simultan, sebab dalam upaya meningkatkan kualitas, masalah kuantitas seringkali terabaikan demikian pula sebaliknya. Oleh sebab itu tidak mengherankan apabila masalah dalam pendidikan tidak pernah tuntas.

Pada saat ini terjadi perubahan besar mengenai konsep pendidikan dan pengajaran. Hal tersebut membuat perubahan dalam cara belajar mengajar, yakni dari cara pengajaran lama yang mana peserta didik diberikan pengetahuan sebanyak mungkin, menjadi penyelenggara sekolah yang mementingkan keaktifan peserta didik. Berdasarkan studi psikologi belajar yang baru serta sosiologi pendidikan masyarakat menghendaki pengajaran yang memperhatikan minat, kebutuhan dan kesiapan peserta didik untuk belajar, serta dimaksudkan untuk mencapai tujuan-tujuan sosial sekolah. Disamping itu adanya kebiasaan guru-guru

1

(21)

hanya memberikan ilmu pengetahuan dan informasi kepada peserta didik dengan dominan menggunakan metode ceramah tanpa memperhitungkan perkembangan mental peserta didik sehingga pengetahuan yang diperoleh mudah terlupakan. Hal tersebut di atas tidak bisa dipungkiri sebab sekarang ini masih ada guru yang hanya mengajar saja tanpa berpikir untuk berbuat lebih baik dalam membuat model atau pola belajar yang dapat menciptakan kemampuan peserta didik untuk memahami konsep, mengajukan dan menjawab pertanyaan, memecahkan masalah, mengkaji berbagai penemuan dan sebagainya dengan demikian peserta didik benar-benar mempunyai keterlibatan dalam kegiatan belajar mengajar.

Tujuan pendidikan bukan hanya menambah khasanah pengetahuan dan keterampilan peserta didik, melainkan yang lebih penting dari itu ialah menciptakan berbagai kesempatan dan memungkinkan pada peserta didik untuk dapat mengadakan penyelidikan dan penemuan sendiri. Adapun untuk maksud tersebut, maka penekanan dalam proses pembelajaran harus ditujukan kepada proses perolehan hasil belajar.

Model pembelajaran inkuiri merupakan salah satu bentuk model pembelajaran dimana peserta didik ditekankan untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban atas masalah yang dipertanyakan. Dengan model pembelajaran seperti ini maka peserta didik akan diarahkan untuk berpikir analitis dan kritis untuk memecahkan masalah yang diberikan kepadanya. Dengan cara seperi ini, maka pemahaman konsep akan lebih tertanam di dalam benak peserta didik dan akan tercermin pada hasil belajar yang diperolehnya.

Pendidikan modern saat ini memang mengembangkan disiplin ilmu dengan

(22)

spesialisasi secara ketat, sehingga keterpaduan antar disiplin keilmuan menjadi hilang, dan melahirkan dikotomi kelompok ilmu-ilmu agama disatu pihak dan kelompok ilmu-ilmu agama di pihak yang lain ( Mu’tashim, 2006:14). Hal ini berdampak pada perolehan pemahaman peserta didik terhadap suatu objek yang tidak utuh. Padahal dalam mempelajari fenomena-fenomena alam yang menjadi objek ilmu umum, nilai-nilai agama dapat dengan mudah dijumpai.

Sebagai salah satu upaya memperoleh pencapaian dari fungsi pendidikan, penanaman nilai-nilai keagamaan melalui proses integrasi interkoneksi dalam berbagai disiplin keilmuan merupakan opsi yang dapat ditawarkan, termasuk dalam disiplin ilmu sains. Dengan penanaman nilai-nilai keagamaan tersebut diharapkan peserta didik tidak hanya berpikir apa yang ada dan apa yang terjadi, melainkan juga dapat merenungkan dan memahami bahwa ada sesuatu yang Maha Besar dibalik peristiwa kealaman atau fisis yang menjadi objek dalam ilmu sains, hal tersebut dapat dilakukan dalam proses pembelajaran di kelas. Guru harus mampu memadukan ilmu sains dan ilmu agama dalam pembelajaran sehingga dikotomi antara ilmu tersebut tidak terjadi. Masalahnya adalah saat ini guru masih kurang mampu memadukan ilmu sains khususnya fisika dan ilmu agama.

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru mata pelajaran fisika SMAN 1 Watansoppeng, pembelajaran fisika di sekolah lebih banyak menggunakan metode ceramah hanya sesekali saja diselingi dengan metode demonstrasi atau praktek.

Hasil wawancara juga menyatakan bahwa peserta didik masih kurang mampu dalam merumuskan sendiri pengetahuannya tentang materi yang dipelajarinya dan akhirnya berdampak pada hasil belajar yang mereka peroleh.

(23)

Berdasarkan pemaparan latar belakang tersebut, peneliti ingin mencoba menerapkan model pembelajaran yang lebih variatif, yang diharapkan mencapai hasil belajar yang diharapkan tanpa mengesampingkan nilai-nilai agama islam, sehingga tercipta suatu kesatuan yang utuh antara sains dan agama. Dari hal tersebut peneliti ingin mengangkat judul penelitian yakni, Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Tipe Pictorial Riddle dengan Konten Integrasi- Interkoneksi pada Pembelajaran Fisika Kelas X di SMA Negeri 1 Watansoppeng.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Seberapa besar hasil belajar Fisika peserta didik kelas X MIA 1 SMA Negeri 1 Watansoppeng sebelum diajar dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri tipe pictorial riddle dengan konten integrasi-interkoneksi ?

2. Seberapa besar hasil belajar Fisika peserta didik kelas X MIA 1 SMA Negeri 1 Watansoppeng setelah diajar dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri tipe pictorial riddle dengan konten integrasi-interkoneksi ?

3. Bagaimana peningkatan hasil belajar Fisika peserta didik kelas X MIA 1 SMA Negeri 1 Watansoppeng sebelum dan setelah diajar dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri tipe pictorial riddle dengan konten integrasi-interkoneksi ?

(24)

C. Tujuan Penelitian

Bertitik tolak pada rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui besarnya hasil belajar Fisika yang dicapai peserta sebelum diajar dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri tipe pictorial riddle dengan konten integrasi-interkoneksi ?

2. Untuk mengetahui besarnya hasil belajar Fisika yang dicapai peserta didik setelah diajar dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri tipe pictorial riddle dengan konten integrasi-interkoneksi ?

3. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar Fisika yang dicapai peserta didik sebelum dan setelah diajar dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri tipe pictorial riddle dengan konten integrasi-interkoneksi ?

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dapat diperoleh dari hasil pelaksanaan penelitian diantaranya adalah:

1. Bagi peserta didik: dapat melatih kemampuan kreatifitas dan keterampilan yang dimilikinya dalam memecahkan suatu masalah.

2. Bagi guru: dapat dijadikan bahan masukan tentang cara memilih model pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik, khususnya mata pelajaran fisika.

3. Bagi sekolah: memberikan sumbangan dalam rangka perbaikan dan peningkatan mutu/kualitas pembelajaran.

(25)

4. Bagi peneliti: dapat menambah wawasan tentang penerapan model pembelajaran inkuiri tipe pictorial riddle dengan konten integrasi- interkoneksi.

(26)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

A. Tinjauan Pustaka 1. Hasil Belajar Fisika

Belajar merupakan istilah yang sudah lazim bagi masyarakat, para ahli memberikan pengertian belajar yang beraneka ragam, namun pada akhirnya mempunyai arti yang sama yaitu adanya perubahan tingkah laku atau perilaku pada diri orang yang belajar.

Perubahan pada diri seseorang dapat berwujud pengetahuan, pamahaman, keterampilan dan sikap. Perubahan itu diperoleh setelah seseorang melakukan perbuatan belajar, bisa bertambah pandai, terampil atau dengan kata lain bahwa pada diri seseorang tersebut terjadi perubahan perilaku.

Menurut (Slameto, 2003:3) belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan dari hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Fisika didefinisikan sebagai ilmu yang kuantitatif karena Fisika pada dasarnya menjelaskan secara matematis tentang terjadinya peristiwa alam.

Menurut Druxes (dalam Nurfidah, 2006:6) mengemukakan sebagai berikut:

1. Fisika adalah pelajaran tentang kejadian alam yang memungkinkan penelitian dan percobaan, pengukuran apa yang didapat, penyajian secara matematis dan berdasarkan peraturan-peraturan yang ada.

7

(27)

2. Fisika adalah suatu uraian tentang semua kejadian alam yang berdasarkan hukum dasar.

3. Fisika adalah suatu teori yang menerangkan gejala-gejala alam dan berusaha menemukan hubungan antara kenyataan. Pemecahan dasar adalah mengamati gejala tersebut.

4. Fisika adalah teori peramalan alternatif-alternatif yang secara empiris dengan percobaan dapat dibeda-bedakan.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa Fisika merupakan pengetahuan terstruktur, antara bagian yang satu dengan yang lainnya terjalin keterkaitan yang tak dapat dipisahkan, konsep dan prinsip dalam Fisika akan lebih mudah dikuasai jika disajikan dalam bentuk terkait dengan yang lain. Sejalan dengan ungkapan di atas, Hasbullah Tabrany dkk (dalam Nurfidah, 2006:7) mengemukakan beberapa teknik yang dilakukan sebagai berikut:

1. Dilakukan banyak pemecahan soal-soal. Meskipun latihan ini tidak diberi nilai oleh guru. Nilai akan anda peroleh dalam ujian nanti, dengan tidak banyaknya kesulitan dalam menyelesaikan ujian tersebut.

2. Modifikasi soal-soal tersebut dengan pertanyaan yang anda buat sendiri.

3. Jika soal-soal yang diberikan dalam bahasa sehari-hari, maka diterjemahkan kedalam bahasa ilmu tersebut. Digunakan model yang berlaku misalnya rumus-rumus grafik.

4. Selalu memeriksa kebenaran hasil yang anda amati.

5. Jika anda tidak bisa memecahkan suatu soal, tinggalkan dulu, kerjakan yang lain. Nanti akan ada saat dimana anda akan mendapatkan ide untuk mencoba

(28)

lagi, selanjutnya terangkanlah dengan teman sekelas secara bergantian.

Tujuan belajar adalah membantu seseorang yang telah mengalami proses belajar untuk dapat belajar terus-menerus dengan cara yang lebih efektif dan lebih efisien sehingga dapat mengatasi permasalahan hidup.

Benjamin S. Bloom (dalam Syaiful Sagala, 2011:33) mengklasifikasi hasil belajar dalam tiga ranah yaitu:

a. Cognitive domain (ranah kognitif), berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam yakni: pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi.

b. Affective domain (ranah afektif), berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek, yakni penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi dan internalisasi.

c. Psychomotor domain (ranah psikomotor), berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak.

Hasil belajar ditunjukkan dengan skor yang menunjukkan nilai-nilai dari sejumlah mata pelajaran yang menggambarkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta didik, serta untuk memperoleh nilai digunakan tes terhadap mata pelajaran terlebih dahulu.

Belajar adalah suatu proses perubahan dalam diri seseorang yang ditandai dengan adanya peningkatan kualitas tingkah laku sebagai peningkatan pengetahuan, kecakapan, daya pikir, sikap, dan kebiasan yang diambil dari pengalaman mereka. Hasil belajar adalah tingkat keberhasilan dalam menguasai bahan pelajaran setelah memperoleh pengalaman dalam waktu tertentu yang akan

(29)

diperlihatkan melalui skor yang diperoleh dalam tes hasil belajar .

Dalam kamus besar bahasa Indonesia (1997:503) disebutkan bahwa: “hasil adalah sesuatu yang diadakan, dijadikan dan sebagainya oleh usaha atau keberhasilan seseorang yang belajar baik aktual maupun potensial”. Jadi prosesnya dapat ditandai dengan adanya perubahan individu yang belajar.

Perubahan itu merupakan suatu yang baru yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Perubahan tingkah laku yang terjadi merupakan hasil usaha dan kerja keras dari individu itu sendiri pada saat proses belajar berlangsung.

Dari pendapat beberapa ahli yang diungkapkan diatas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa hasil belajar adalah hasil yang dicapai oleh seseorang peserta didik setelah mempelajari bidang studi tertentu yang ditandai dengan penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diukur dengan tes. Tes dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman peserta didik setelah dilakukan proses pembelajaran dan untuk lebih memotivasi peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran.

2. Model Pembelajaran

(Hidayati, 2011:6) mendeskripsikan empat model pembelajaran, yaitu kelompok model pembelajaran pemrosesan informasi, kelompok model pembelajaran sosial, kelompok model pembelajaran personal dan kelompok model pembelajaran sistem perilaku.

Suatu pembelajaran pada umumnya akan lebih efektif bila diselenggarakan melalui model-model pembelajaran yang termasuk rumpun pemrosesan informasi.

Hal ini dikarenakan model-model pemrosesan informasi menekankan pada

(30)

bagaimana seseorang berpikir dan bagaimana dampaknya terhadap cara-cara mengolah informasi (Trianto, 2011:13).

Menurut (Aunurrahman, 2013:157) model-model pembelajaran yang termasuk dalam kelompok model pembelajaran pemrosesan informasi yaitu:

model pembelajaran induktif, model pembelajaran advance organizers, model pembelajaran memorisasi dan model pembelajaran penelitian ilmiah (inquiry).

Dalam upaya menanamkan konsep, misalnya konsep fisika tidak cukup hanya dengan ceramah. Pembelajaran akan lebih bermakna jika peserta didik diberi kesempatan untuk tahu dan terlibat secara lebih aktif dalam menemukan konsep dari fakta-fakta yang dilihat dari lingkungan dengan bimbingan dari guru .

3. Model Pembelajaran Inkuiri Tipe Pictorial Riddle

Model ini diarahkan untuk mengajarkan peserta didik suatu proses dalam rangka mengkaji dan menjelaskan suatu fenomena khusus. Tujuannya adalah membantu peserta didik mengembangkan disiplin dan mengembangkan ketrampilan intelektual yang diperlukan untuk mengajukan pertanyaan dan menemukan jawabannya berdasarkan rasa ingin tahunya. Melalui kegiatan ini diharapkan peserta didik aktif mengajukan pertanyaan mengapa sesuatu terjadi kemudian mencari dan mengumpulkan serta menganalisis untuk dapat menemukan jawaban atas pertanyaan mengapa sesuatu terjadi. Pembelajaran inkuiri dimulai dengan menyajikan peristiwa yang mengandung teka-teki kepada peserta didik. Para peserta didik yang menghadapi situasi tersebut akan termotivasi menemukan jawaban masalah-masalah yang masih menjadi teka-teki tersebut.

(31)

Menurut Gulo (dalam Trianto, 2011:135) menyatakan bahwa pembelajaran inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan peserta didik untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan percaya diri.

Sasaran utama proses pembelajaran inkuiri adalah 1) keterlibatan peserta didik secara maksimal dalam proses kegiatan belajar; 2) keterarahan kegiatan secara logis dan sistematis pada tujuan pembelajaran dan; 3)mengembangkan sikap percaya pada diri peserta didik tentang apa yang ditemukan dalam proses inkuiri.

Peranan guru dalam pembelajaran inkuiri adalah sebagai berikut:

1. Motivator , memberi rangsangan agar peserta didik aktif dan bergairah berpikir.

2. Fasilitator, menunjukkan jalan keluar jika peserta didik mengalami kesulitan.

3. Penanya, menyadarkan peserta didik dari kekeliruan yang mereka buat.

4. Administrator, bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan kelas.

5. Pengarah, memimpin kegiatan peserta didik untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

6. Manager, mengelola sumber belajar, waktu, dan organisasi kelas.

7. Rewarded, memberi penghargaan pada prestasi yang dicapai peserta didik.

Model pembelajaran inkuiri terdiri atas beberapa jenis. Ada jenis metode penemuan yang dibimbing atau diarahkan guru, tetapi ada pula jenis metode dimana peserta didik diberi kebebasan dan dilepas oleh guru dalam melakukan

(32)

kegiatan-kegiatan belajarnya.

Menurut (Sund dan Trowbridge, 1973:61) menguraikan tujuh jenis model pembelajaran inquiry-discovery yakni: guided discovery-inquiry lab.lesson, modified discovery-inquiry, free inquiry, infitation into inquiry, inquiry role approach, pictorial riddle dan synectics lesson.

1). Guided Discovery-Inquiry Lab.Lesson

Sebagian perencanaan dibuat oleh guru. Selain itu guru menyediakan bimbingan atau petunjuk yang cukup luas kepada peserta didik. Dalam hal ini peserta didik tidak merumuskan problema, sementara petunjuk yang cukup luas tentang bagaimana menyusun dan mencatat diberikan oleh guru.

2). Modified Discovery-Inquiry

Guru hanya memberikan problema saja. Guru menyediakan bahan atau alat-alat yang diperlukan, kemudian peserta didik diundang untuk memecahkannya melalui pengamatan, eksplorasi dan atau melalui prosedur penelitian untuk memperoleh jawabannya. Pemecahan masalah dilakukan atas inisiatif dan caranya sendiri secara berkelompok atau perseorangan. Guru berperan sebagai pendorong, narasumber, dan memberikan bantuan yang diperlukan untuk menjamin kelancaran proses belajar peserta didik.

3). Free Inquiry

Kegiatan free inquiry dilakukan setelah peserta didik mempelajari dan mengerti bagaimana memecahkan masalah dan telah memperoleh pengetahuan cukup tentang bidang studi tertentu serta telah melakukan modified discovery- inquiry. Pada metode ini peserta didik harus mengidentifikasi dan merumuskan

(33)

macam problema yang akan dipelajari atau dipecahkan.

4). Infitation Into Inquiry

Peserta didik dilibatkan dalam proses pemecahan problema sebagaimana cara-cara yang lazim diikuti scientist. Suatu infitation (undangan) memberikan suatu problema kepada peserta didik dan melalui pertanyaan masalah yang telah direncanakan dengan hati-hati mengundang peserta didik untuk melakukan beberapa kegiatan antara lain: merancang eksperimen, merumuskan hipotesis, menetapkan kontrol, menemukan sebab akibat, menginterpretasi data dan membuat grafik.

5). Inquiry Role Approach

Inquiry Role Approach merupakan kegiatan proses belajar yang melibatkan peserta didik dalam tim yang masing-masing terdiri atas empat anggota untuk memecahkan infitation into inquiry. Masing-masing anggota tim diberi tugas dengan peranan yang berbeda-beda sebagai berikut: coordinator tim, penasihat teknis, pencatat data dan evaluator proses.

6). Synectics Lesson

Pada dasarnya synectics lesson memusatkan pada keterlibatan peserta didik untuk membuat berbagai macam bentuk metafora (kiasan) supaya dapat membuka intelegensinya dan mengembangkan kreatifitasnya. Hal ini dapat dilaksanakan karena metafora dapat membantu dalam melepaskan ”ikatan struktur mental“ yang melekat kuat dalam memandang suatu problema sehingga dapat menunjang timbulnya ide-ide kreatif. Selain itu, keterlibatkan peserta didik dalam membuat metafora dapat menambah motivasi mereka dalam belajar.

(34)

7). Pictorial Riddle

Dalam menanamkan suatu konsep dalam kegiatan belajar mengajar, seorang guru harus bisa memilih metode pembelajaran yang tepat. Pada penelitian ini dipilih metode pembelajaran pictorial riddle. Pictorial riddle merupakan salah satu metode pembelajaran untuk mengembangkan motivasi dan interest peserta didik di dalam diskusi kelompok kecil maupun besar. Gambar, peraga atau situasi yang sesungguhnya dapat digunakan untuk meningkatkan cara berpikir kritis dan kreatif peserta didik. Sebuah gambar memiliki kemampuan untuk menyampaikan banyak informasi dengan ringkas dan dapat lebih mudah diingat dari pada penjelasan yang panjang (Danie 2008:17). Riddle yang dimaksud dapat berupa papan poster, gambar di papan tulis atau diproyeksikan dari suatu transparansi, kemudian guru mengemukakan pertanyaan-pertanyaan tentang riddle tersebut.

Model pembelajaran inkuiri tipe pictorial riddle adalah salah satu model pembelajaran yang mengembangkan motivasi dan minat serta cara berpikir kritis dan kreatif peserta didik peserta didik dalam diskusi kelompok untuk mengkaji, menemukan dan memecahkan masalah tentang materi pelajaran melalui teka-teki bergambar (pictorial riddle). Adapun kegiatan guru hanya mengarahkan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang memancing daya berpikir peserta didik dalam mengkaji dan menemukan konsep materi pelajaran yang sedang mereka ikuti.

Menurut (Sund dan Trowbridge, 1973:143) langkah-langkah dalam membuat rancangan suatu riddle :

1) Memilih beberapa konsep atau prinsip yang akan diajarkan atau didiskusikan.

(35)

2) Melukis suatu gambar, menunjukkan suatu ilustrasi atau menggunakan potret (gambar) yang menunjukkan konsep, proses atau situasi.

3) Suatu prosedur bergantian untuk menunjukkan sesuatu yang tidak sewajarnya dan kemudian meminta peserta didik untuk mencari dan menemukan mana yang salah dengan riddle tersebut.

4) Membuat pertanyaan-pertanyaan berbentuk divergen yang berorientasikan pada proses dan berkaitan dengan riddle ( gambar dan sebagainya) yang akan membantu peserta didik memperoleh pengertian tentang konsep atau prinsip apakah yang terlibat di dalamnya.

Seperti halnya model pembelajaran yang lain, model pembelajaran pictorial riddle juga mempunyai kelebihan maupun kekurangan. Adapun kelebihan model pembelajaran pictorial riddle, antara lain:

1. Peserta didik lebih memahami konsep-konsep dasar dan dapat mendorong peserta didik untuk mengeluarkan ide-idenya.

2. Melalui teka-teki bergambar, materi yang diberikan dapat lebih lama terekam dalam ingatan peserta didik.

3. Mendorong peserta didik untuk berpikir kritis sehingga peserta didik mampu mengeluarkan inisiatifnya sendiri.

4. Mendorong peserta didik untuk dapat berpikir intuitif dan merumuskan hipotesisnya sendiri.

5. Meningkatkan motivasi belajar peserta didik.

6. Peserta didik tidak hanya belajar tentang konsep-konsep dan prinsip-prinsip, tetapi ia juga mengalami proses belajar tentang pengarahan diri sendiri,

(36)

tanggung jawab dan komunikasi sosial.

7. Dapat membentuk dan mengembangkan self-concept pada diri peserta didik.

8. Dapat memperkaya dan memperdalam materi yang dipelajari sehingga materi dapat bertahan lama di dalam ingatan.

Adapun kekurangan model pembelajaran pictorial riddle, antara lain:

1. Peserta didik yang terbiasa belajar dengan hanya menerima informasi dari guru akan kesulitan jika dituntut untuk berpikir sendiri.

2. Guru dituntut mengubah kebiasaan mengajarnya yang mulanya sebagai pemberi atau penyaji informasi menjadi sebagai fasilitator, motivator, dan pembimbing peserta didik dalam belajar.

3. Banyaknya kebebasan yang diberikan peserta didik dalam belajar tidak menjamin bahwa peserta didik belajar dengan tekun, penuh aktivitas, dan terarah.

4. Berbagai sumber belajar dan fasilitas yang dibutuhkan tidak selalu mudah disediakan.

5. Peserta didik membutuhkan lebih banyak bimbingan guru untuk melakukan penyelidikan atau pun aktivitas belajar lain.

6. Penggunaan model pembelajaran ini pada kelas besar serta jumlah guru yang terbatas membuat tidak optimalnya pembelajaran.

7. Pemecahan masalah dapat bersifat mekanistis, formalitas, dan membosankan.

4. Integrasi-interkoneksi

Integrasi-interkoneksi merupakan suatu proses penanaman nilai-nilai keislaman ke dalam pembelajaran umum dan sebaliknya ilmu-ilmu umum

(37)

ke dalam kajian-kajian keagamaan dan keislaman (Pokja Akademik, 2006:12).

Dengan penanaman nilai-nilai keislaman melalui proses integrasi-interkoneksi diharapkan peserta didik tidak hanya berpikir apa yang ada dan apa yang terjadi, melainkan harus merenungkan dan memahami bahwa ada sesuatu yang Maha Besar (Allah SWT) di balik peristiwa kealaman atau fisis yang menjadi objek dalam ilmu sains. Hal tersebut dapat dilakukan dalam proses pembelajaran fisika yaitu dengan mengintegrasikan materi fisika dengan ayat-ayat Al-Qur’an.

(Aziz, 2011:2) mengembangkan strategi pembelajaran fisika kaitannya dengan paradigma integrasi-interkoneksi dapat dalam beberapa model kajian antara lain:

1) Strategi Pembelajaran Informatif

Karakteristik utama dalam strategi pembelajaran informatif ini adalah pada pancarian dan penyajian informasinya. Dimana dalam proses tersebut peserta didik dan guru dituntut untuk dapat menggali dan memahami informasi tidak hanya dari satu disiplin ilmuan saja melainkan, dengan memahami informasi dari berbagai disiplin ilmu.

2) Strategi Pembelajaran Konfirmatif (Klarifikatif)

Strategi pembelajaran dirancang sebagai upaya untuk memperkokoh suatu disiplin ilmu tertentu dalam hal ini terutama fisika. Dalam strategi pembelajaran konfirmatif ini, materi pelajaran tidak sertamerta diberikan secara langsung kepada peserta didik, akan tetapi peserta didik diajak untuk menemukan secara utuh suatu konsep tertentu secara mandiri dan tentunya dengan bimbingan guru.

Dalam hal ini guru dapat menggunakan pengalaman peserta didik untuk dapat

(38)

dikonfirmasi dengan disiplin ilmu lain sehingga memperkuat konsep fisiknya 3) Strategi Pembelajaran Korektif

Adanya konfirmasi antara satu disiplin ilmu dengan disiplin ilmu yang lain tidak lain adalah untuk acquiring knowledge (menambah pengetahuan), menambah tingkat berpikir peserta didik dan tentu saja dapat menjadi refleksi atas suatu disiplin ilmu tersebut. Proses feed back (umpan balik) dan pemahaman secara utuh ini diperlukan dalam menghadapi perkembangan ilmu fisika. Jadi ilmu fisika tidak hanya sekedar untuk dihafal tetapi lebih kepada proses memahami, menemukan dan mengaplikasikan, apa yang telah dipahami demi terwujudnya kesejahteraan umat.

4) Strategi Pembelajaran Similarisasi

Strategi pembelajaran similarisasi ini dapat diartikan sebagai strategi yang di dalamnya hanya menyamakan begitu saja konsep-konsep sains dengan konsep- konsep yang berasal dari agama.

Dalam pelaksanaannya, konsep-konsep yang ada di dalam al-Qur’an dapat diketahui dari struktur kata maupun dari tafsirnya. Dari situ kemudian disamakan dengan konsep-konsep fisikanya.

5) Strategi Pembelajaran Paralelisasi

Inti dari strategi pembelajaran paralelisasi adalah dengan menganggap paralel konsep yang berasal dari al-Qur’an dengan konsep yang berasal dari sains karena kemiripan konotasinya tanpa menyamakan keduanya. Strategi ini sangat perlu karena dapat digunakan sebagai penjelasan ilmiah atas kebenaran ayat-ayat al-Qur’an. Adapun tujuannya adalah untuk menyebarkan syiar Islam.

(39)

6) Strategi Pembelajaran Komplementasi

Intinya dalam proses pelaksanaan pembelajaran ini, peserta didik yang satu saling melengkapi dengan peserta didik yang lain. Artinya saling bertukar informasi agar kekurangan-kekurangan atau kekosongan materi dapat dilengkapi sehingga konsep yang didapatkan pun akan utuh. Adanya penguatan dalam konsep-konsep yang telah difirmankan oleh Allah melalui ilmu fisika tentunya akan memberi nilai lebih terutama dalam mempertebal rasa keimanan kita kepada Allah. Nilai lebih inilah yang menjadi kunci keteguhan moral spiritual dalam proses pembelajaran selain proses pemberian pesan moral pada akhir pembelajaran.

7) Strategi Pembelajaran Komparasi

Konsep strategi pembelajaran komparasi ini tertuju pada proses membandingkan konsep/teori sains dengan konsep/wawasan agama mengenai gejala-gejala yang sama. Membandingkan dalam hal ini tidak sampai pada mengarah pada munculnya konflik benar salah antara sains terutama fisika dengan Islam. Tetapi lebih mengarah kepada penambahan wawasan baru yang nantinya akan memberikan sebuah solusi atas kebuntuan-kebuntuan spiritualitas dan rasionalitas.

8) Strategi Pembelajaran Induktifikasi

Inti dari pelaksanaan strategi pembelajaran induktifikasi ini adalah bagaimana asumsi-asumsi dasar dari teori-teori ilmiah yang didukung oleh temuan-temuan empirik dilanjutkan pemikirannya secara teoritis abstrak ke arah pemikiran metafisik/gaib, kemudian dihubungkan dengan prinsip-prinsip agama

(40)

dan Al-Qur’an mengenai hal tersebut. Maksudnya adalah bagaimana kita mampu berpikir lebih kreatif atas konsep-konsep ilmu yang sudah ada dan berusaha memikirkan untuk mengembangkannya. Selain strategi, metode pembelajaran yang berparadigma integrasi-interkoneksi menitikberatkan pada dua posisi yang penting, yaitu proses pembelajaran yang berpusat pada guru dan yang berpusat pada peserta didik.

5. Model Pembelajaran Inkuiri Tipe Pictorial Riddle dengan Konten Integrasi- Interkoneksi

Model pembelajaran inkuiri tipe pictorial riddle dengan konten integrasi- interkoneksi akan membantu peserta didik mengembangkan disiplin dan keterampilan intelektual yang diperlukan untuk mengajukan pertanyaan dan menemukan jawabannya berdasarkan rasa ingin tahunya. Melalui kegiatan ini diharapkan peserta didik aktif mengajukan pertanyaan mengapa sesuatu terjadi kemudian mencari dan mengumpulkan serta menganalisis untuk dapat menemukan jawaban atas pertanyaan mengapa sesuatu terjadi. Para peserta didik yang menghadapi situasi tersebut ditambah dengan adanya konten-konten yang bersumber dari Al-Quran maka peserta didik akan termotivasi, merenungi dan menemukan jawaban masalah-masalah yang masih menjadi teka-teki tersebut.

Guna memperjelas gambaran mengenai pelaksanaannya di dalam kelas, berikut sintaks model pembelajaran inkuiri tipe pictorial riddle dengan konten integrasi-interkoneksi:

(41)

Tabel 2.1. Sintaks Pelaksanaan Model Pembelajaran Inkuiri Tipe Pictorial Riddle dengan Konten Integrasi-Interkoneksi.

FASE KEGIATAN YANG DILAKUKAN

Fase 1 Orientasi

 Memberikan apresepsi melalui teka-teki bergambar.

 Memotivasi peserta didik dengan mengambil salah satu ayat dalam Al-Qur’an yang dapat membangkitkan minat belajar peserta didik.

 Menjelaskan topik, indikator pencapaian dan tujuan pembelajaran.

 Membagi peserta didik ke dalam beberapa kelompok.

Fase II Eksplorasi

Menggali pengetahuan dan memori peserta didik tentang teka-teki dalam kegiatan apresepsi yang telah dilakukan Fase III

Elaborasi

 Peserta didik disajikan permasalahan dalam bentuk gambar peristiwa yang menimbulkan teka-teki.

 Peserta didik mengidentifikasi masalah secara berkelompok dari permasalahan yang diberikan.

 Peserta didik melakukan pengamatan berdasarkan riddle bergambar yang mengandung permasalahan.

 Peserta didik merumuskan penjelasan melalui diskusi

 Peserta didik mengadakan analisis inkuiri melalui tanya jawab.

 Guru menjelaskan tentang ayat dalam Al-Qur’an yang berkaitan dengan materi pembelajaran.

Fase IV Konfirmasi

 Menguatkan dan menekankan kebenaran konsep dan melengkapi konsep dari berbagai macam apresiasi.

 Memberikan kesempatan pada peserta didik untuk menanyakan konsep yang masih belum jelas.

 Memberikan penilaian positif tentang hasil kerja peserta didik dan memberikan motivasi dalam diri peserta didik mengenai arti pentingnya mempelajari fenomena alam dalam kehidupan sehari-hari yang ada kaitannya dengan agama islam.

Fase V Penutup

Bersama dengan peserta didik menyimpulkan hasil pembelajaran hari ini dan menekankan konsep intinya.

(42)

B. Kerangka Pikir

Hasil belajar pada mata pelajaran fisika pada peserta didik SMA masih belum memuaskan, ini disebabkan kurangnya minat belajar karena pembelajaran yang membosankan. Proses pembelajaran sains di SMA kebanyakan masih bersifat konvensional. Guru masih menggunakan metode ceramah dalam proses pembelajaran. Guru lebih sering berperan aktif di dalam kelas ketika menyampaikan materi sehingga menyebabkan peserta didik pasif dan merasa jenuh untuk mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh guru.

Salah satu alternatif pembelajaran fisika yang dapat dijadikan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik dengan menanamkan konsep supaya tidak terlalu abstrak adalah model pembelajaran inkuiri tipe pictorial riddle.

Selain itu, dengan penambahan konten integrase-interkoneksi diharapkan peserta didik tidak hanya berpikir apa yang ada dan apa yang terjadi, melainkan juga dapat merenungkan dan memahami bahwa ada sesuatu yang Maha Besar (Allah SWT) di balik peristiwa kealaman atau fisis yang menjadi objek dalam ilmu sains.

Guna memperjelas kerangka pikir tersebut, maka digambarkan kerangka pikir berikut ini:

(43)

Gambar 2. 1 Kerangka pikir.

1. Pembelajaran terpusat pada guru.

2. Peserta didik merasa jenuh (pasif).

3. Pemahaman konsep peserta didik rendah.

4. Dikotomi ilmu antara sains dan agama

Pemecahan :

Model Pembelajaran Tipe Pictorial Riddle dengan Konten Integrasi-Interkoneksi

1. Peserta didik terlibat mengaitkan informasi yang telah diperoleh dalam kehidupan sehari-hari dengan konsep baru 2. Peserta didik terlibat dalam menemukan

konsep sendiri (inkuiri).

3. Peserta didik aktif dalam bertanya dan mengemukakan pendapat tentang materi pembelajaran.

4. Peserta didik terlibat dalam menerapkan konsep-konsep dan mempraktikkan dalam latihan-latihan.

5. Mengembangkan sikap kebersamaan dan kerja sama dalam kelompok untuk mengkonstruk pengetahuan.

6. Dapat merenungkan dan memahami bahwa ada sesuatu yang Maha Besar (Allah SWT) di balik peristiwa kealaman atau fisis yang menjadi objek dalam ilmu sains.

Hasil :

Diharapkan hasil belajar peserta didik meningkat

(44)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Lokasi Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian pra eksperimen yang bersifat deskriptif dengan melibatkan satu kelas sebagai kelas sampel untuk menerapkan model pembelajaran inkuiri tipe pictorial riddle dengan konten integrasi-interkoneksi pada pembelajaran Fisika. Lokasi penelitian bertempat di SMA Negeri 1 Watansoppeng Kabupaten Soppeng.

B. Variabel dan Desain Penelitian 1. Variabel Penelitian

Variabel dalam penelitian ini terdiri atas dua variabel yaitu variabel bebas (independent) dan variabel terikat (dependent). Adapun yang menjadi variabel bebas (independent) adalah model pembelajaran inkuiri tipe pictorial riddle dengan konten integrasi-interkoneksi. Variabel terikat (dependent) adalah hasil belajar fisika peserta didik.

2. Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan adalah one group pre-test and post-test design, yaitu penelitian eksperimen yang dilaksanakan pada satu kelompok (kelas) saja. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara simple random sampling atau pengambilan secara acak. Desain penelitian one group pre-test and post-test design ini diukur dengan menggunakan pre-test yang dilakukan sebelum diberi perlakuan dan post-test yang dilakukan setelah diberi perlakuan. Adapun desainnya adalah

(45)

sebagai berikut:

O1 X O2

(Sugiono, 2011:75).

dengan:

O1 = Pengukuran (sebelum diberi perlakuan model inkuiri tipe pictorial riddle dengan konten integrasi-interkoneksi)

X = Perlakuan (penerapanmodel inkuiri tipe pictorial riddle dengan konten integrasi-interkoneksi)

O2 = Pengukuran (setelah diberi perlakuan model inkuiri tipe pictorial Riddle dengan konten integrasi-interkoneksi)

Desain ini melibatkan satu kelompok yang diberi pre-test (O1), diberi suatu treatment (X) dan diberi post-test (O2). Keberhasilan treatment (perlakuan) ditentukan dengan membandingkan nilai pre-test dan post-test.

C. Definisi Operasional Variabel

Model pembelajaran inikuiri tipe pictorial riddle dengan konten integrasi- interkoneksi merupakan suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan peserta didik untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan bantuan teka-teki bergambar yang disajikan oleh guru serta penyisipan konten nilai-nilai islami di dalam prosesnya.

Hasil belajar fisika yang dimaksud dalam penelitian ini adalah skor total yang dicapai peserta didik pada mata pelajaran fisika setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar melalui tes hasil belajar.

D. Popolasi dan Sampel Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas X MIA SMA Negeri 1 Watansoppeng yang terdiri dari 5 kelas yaitu X MIA 1 sampai X MIA 5 yang

(46)

berjumlah 162 orang. Adapun yang menjadi sampel dalam penelitian ini yaitu peserta didik kelas X MIA 1 yang terdiri dari 33 orang.

E. Prosedur Penelitian

Penelitian ini memiliki prosedur tertentu. Adapun prosedur dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Tahap Persiapan

Sebelum melakukan penelitian, peneliti terlebih dahulu melakukan persiapan sebagai berikut:

a. Menentukan sekolah untuk penelitian.

b. Meminta izin kepada kepala sekolah SMA Negeri 1 Watansoppeng.

c. Melakukan kesepakatan dengan guru bidang studi fisika tentang materi yang akan diteliti dan lamanya waktu penelitian.

d. Menyusun dan menyiapkan perangkat pembelajaran.

e. Menyusun dan menyiapkan instrumen penelitian.

2. Tahap Pelaksanaan

Kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap ini adalah sebagai berikut:

a. Memberikan pre-test diawal pembelajaran.

b. Menyampaikan materi yang akan diajarkan.

c. Menerapkan Model pembelajaran inikuiri tipe pictorial riddle dengan konten integrasi-interkoneksi

d. Memberikan post-test.

3. Tahap Akhir

Kegiatan yang dilakukan pada tahap akhir adalah sebagai berikut:

(47)

a. Mengolah data hasil penelitian.

b. Menganalisis dan membahas data hasil penelitian.

c. Menyimpulkan hasil penelitian.

F. Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan instrumen tes, diamana dalam pengumpulan data dilakukan dua kali tes yaitu, sebelum dan sesudah diberikan perlakuan atau diterapkannya model pembelajaran inkuiri tipe pictorial riddle dengan konten integrasi-interkoneksi.

G. Pengembangan Instrumen

Tes yang digunakan sebagai pengumpul data variabel hasil belajar Fisika dengan ranah kognitif yang meliputi ingatan (C1), pemahaman (C2), aplikasi (C3), dananalisis (C4). Bentuk instrumen dalam penelitian ini adalah multiple choice test (pilihan ganda) . Pemberian skor pada uji coba instrumen adalah skor satu untuk jawaban yang benar dan nol untuk jawaban yang salah.

1. Tahap Pertama

Penyusunan tes berdasarkan kisi-kisi tes sesuai dengan isi materi yang tertuang dalam konsep dan subkonsep sejumlah 40 item soal.

2. Tahap Kedua

Semua item tes yang telah disusun diujicobakan pada peserta didik kelas non sampel dari kelas X SMA Negeri 1 Watansoppeng tahun ajaran 2016/2017. Uji coba ini dilakukan untuk mengetahui validitas setiap item tes. Uji validitas digunakan untuk mengetahui kualitas terhadap instrumen yang digunakan dalam penelitian ini.

Uji coba dilakukan di kelas X MIA 2 dengan asumsi setara dengan X MIA yang lain.

(48)

Setelah diuji cobakan maka selanjutnya instrumen dianalisis untuk mengetahui validitas dengan menggunakan poin korelasi biserial.

(Sudijono, 2012:258) dengan :

rpbi = Angka indekspoin korelasi biseral

Mp = rerata skor dari subyek yang menjawab betul bagi item yang dicari validitasnya.

Mt = rerata skor total

SDt = standar deviasi dari skor total

p = proporsi peserta didik yang menjawab benar

q = proporsi peserta didik yang menjawab salah (q = 1 - p)

Dengan kriteria , jika   0,368 maka item dinyatakan valid dan jika   0,312 maka item dinyatakan drop.

Untuk menghitung reabilitas tes hasil belajar fisika digunakan rumus KuderRichardson – 20 (KR-20) sebagai berikut:

= ( − 1) − ∑ p

(Sugiyono, 2015:359) dengan:

ri = reliabilitas tes secara keseluruhan k = jumlah item dalam instrumen

= proporsi subyek yang menjawab item benar

= proporsi subyek yang menjawab item salah (q = 1 - p)

= varians total

Berdasarkan perhitungan, reliabilitas item setelah diuji cobakan adalah 0,862.

Hal ini berarti bahwa item yang digunakan reliabel sehingga dapat dipercaya sebagai alat pengumpul data. (Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran).

(49)

Dari ke 40 soal tes hasil belajar Fisika yang diujicobakan, setelah dianalisis ternyata diperoleh 28 soal yang memenuhi kriteria valid. (Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran).

H. Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh dari hasil penelitian ini dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis inferensial. Analisis deskriptif ini digunakan untuk mendeskripsikan skor hasil belajar Fisika kelas X.1 SMA Negeri 1 Watansoppeng, dengan menerapkan model pembelajaran inkuiri tipe pictorial riddle dengan konten integrasi-interkoneksi. Sedangkan analisis inferensial digunakan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar Fisika, yang dalam hal ini yang digunakan adalah uji N-Gain.

1. Analisis Deskriptif

Teknik analisis deskriptif yang digunakan adalah penyajian data berupa skor rata-rata, standar deviasi, variansi ,skor terendah dan tertinggi, dan distribusi frekuensi.

Skor rata-rata pre-test maupun post-test dihitung menggunakan persamaan sebagai berikut:

=∑

(Sugiyono, 2015:49) dengan:

Me = Mean (rata-rata) Ʃ = epsilon (bacajumlah) xi = nilaixkeisampaiken n = jumlahindividu

(50)

Standar deviasi dihitung menggunakan persamaan:

= ∑ ( − )

− 1

(Sugiyono, 2015:57) dengan:

x = rata-rata hitung

s = simpangan baku/standar deviasi sampel xi = nilai sampel ke-i

n = jumlah sampel

Dari jumlah peserta didik kelas sampel yaitu 31 orang (n=31) denagan skor maksimal yang mungkin dicapai yaitu 28 dan skor minimum yang mungkin dicapai yaitu 0 maka dibuatlah kategori penilaian dengan terlebih dahulu menentukan jumlah kelas inteval (K), rentang data (R), panjang kelas (P). Nilainya dapat dihitung dengan persamaan berikut:

K= 1 + 3,3 log n

R= Skor Max. – Skor Min.

P= R/K

Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan persamaan diatas, maka diperoleh K = 5 , R = 28 , P = 6 ,sehingga dapat dibuat tabel kategori penilaian sebagai berikut:

Tabel 3.1. Kategori Penilaian Tingkatan skor Kategori

0 - 5 6 - 11 12 - 17 18 - 23 24 – 29

Sangat rendah Rendah Cukup Tinggi Sangat tinggi

(51)

2. Analisis Inferensial

Pada penelitian ini, analisis inferensialnya hanya berupa pengujian N-Gain yang dihitung menggunakan persamaan sebagai berikut:

Gain (g) =

(Nurfidah, 2006: 27) Dengan Kriteria interpertasi indeks gain yang dikemukakan oleh Haake, yaitu:

g> 0,7 (indeks gain tinggi)

0,3 ≤ g ≤ 0,7 (indeks gain sedang) g< 0,3 (indeks gain rendah)

(52)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian 1. Analisis Deskriptif

Berikut ini dikemukakan hasil deskriptif pencapaian hasil belajar Fisika secara umum peserta didik kelas X MIA 1 SMA Negeri 1 Watansoppeng tahunajaran 2016/2017yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri tipe pictorial riddle dengan konten integrasi-interkoneksi.

Tabel 4.1 Gambaran Hasil Belajar Fisika Pre-test dan Post-test Kelas X MIA 1 SMA Negeri 1 Watansoppeng

Statistik Nilai Statistik

Pre-test Post-test

Ukuran sampel 31 31

Skor tertinggi 15 24

Skor terendah 4 9

Skor rata-rata 8,77 15,32

Variansi 8,65 11,83

Standar deviasi 2,94 3,44

Skor maksimal 28 28

Skor minimal 0 0

Ukuran sampel pada pre-test dan post-test adalah 31 yang seharusnya 33 dengan merujuk pada jumlah peserta didik kelas X MIA 1, hal ini terjadi karena masalah kehadiran. Adapun skor tertinggi yang dapat dicapai peserta didik pada pre-test adalah 15 dan post-test 24 dari skor 28 dari yang mungkin dicapai (skor ideal), sedangkan skor terendah pada pre-test adalah 4 dan post-test adalah 9 dari skor 0 yang paling rendah. Hasil belajar Fisika sebelum diajar menggunakan model pembelajaran inkuiri tipe pictorial riddle dengan konten integrasi-

33

(53)

interkoneksi mempunyai skor rata-rata 8,77 dari skor total 28 yang mungkin dicapai. Sedangkan skor hasil belajar Fisika setelah diajar dengan menggunakan model pembelajaran tipe pictorial riddle dengan konten integrasi- interkoneksi,mempunyai skor rata-rata 15,32 dari skor total 28 yang mungkin dicapai. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa nilai variansi post-test lebih besar dibandingkan pre-test, hal ini menandakan skor hasil belajar peserta didik pada post-test lebih beragam dibandingkan skor hasil belajar pada pre-test. Sehingga standar deviasi yang merupakan akar kuadrat dari variansi pada post-test yakni 3,44 juga akan lebih besar daripada pre-test yang hanya sebesar 2,94. Jika skor hasil belajar Fisika peserta didik kelas X MIA 1 Watansoppeng dianalisis dengan menggunakan persentase pada distribusi frekuensi sehingga kita dapat melihat perbandingan dari data tersebut, dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Skor Hasil Belajar Fisika Peserta Didik Kelas X MIA 1 SMA Negeri 1 Watansoppeng Pada Pre-test dan Post-test Tingkatan

Skor

Pre-test Post-test

Kategori

F K(%) F K(%)

0 – 5 5 16,13 0 1 Sangat rendah

6 – 11 20 64,52 4 12,90 Rendah

12 – 17 6 19,35 20 64,52 Cukup

18 – 23 0 0 6 19,35 Tinggi

24 – 29 0 0 1 3,23 Sangat tinggi

Jumlah 31 100 100 100

Pada tabel diatas terlihat bahwa frekuensi terbesar skor pre-test berada pada kategori rendah. Disamping itu terlihat juga ada peserta didik yang memperoleh skor dalam kategori sangat rendah. Sedangakan pada post-test frekuensi terbesar berada pada kategori cukup. Dan terlihat juga ada beberapa peserta didik yang memperoleh skor dalam kategori tinggi dan sangat tinggi

(54)

.Berdasarkan tabel 4.2 maka skor rata-rata pre-test yaitu 8,77 masuk dalam kategori rendah sedangkan skor rata-rata post-test yaitu 10,32 masuk dalam kategori cukup.

Untuk memperjelas perbandingan skor pre-test dan post-test ,maka disajikan dalam diagram sebagai berikut:

Diagram 4.1 Distribusi Frekuensi Skor Hasil Belajar Fisika Peserta Didik Kelas X MIA 1 SMA Negeri 1 Watansoppeng Pada Pre-test dan Post-test

Dari diagram 4.2 terlihat perbedaan mendasar antara pre-test dan post-test.

Berdasarkan skor hasil belajar fisika peserta didik yang disajikan dalam bentuk tabel dan diagram menunjukkan bahwa skor peserta didik sebelum diterapkan model pembelajaran pictorial riddle dengan konten integrasi-interkoneksi masuk dalam kategori rendah dan setelah diterapkan model pembelajaran tersebut, skor hasil belajar berubah menjadi kategori cukup.

2. Hasil Analisis Inferensial

Dari skor hasil belajar Fisika peserta didik, hasil perhitungan N-Gain secara rata-rata diperoleh 0,34. Berdasarkan indeks gain yang dikemukakan oleh Haake maka nilai gain hasil perhitungan ini termasuk kedalam kategori gain sedang, karena nilai N-gain rata-rata sebesar 0.34 (0,3< N-Gain<0,7).

0 5 10 15 20 25

Sangat

rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi

Frekuensi

Kategori

Pre-test Series 2

(55)

B. Pembahasan

Penelitian ini merupakan bentuk penelitian pra eksperimen karena peneliti membandingkan skor hasil belajar sebelum diterapkan model pembelajaran ikuiri tipe pictorial riddle dengan konten integrasi-interkoneksi (pre-test) dengan skor hasil belajar setelah diterapkan model pembelajaran tersebut (post-test) pada satu kelas sampel.

Tujuan utama dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan atau peningkatan hasil belajar Fisika sebelum dan setelah diterapkan model pembelajaran inkuiri tipe pictorial riddle dengan konten integrasi-interkoneksi pada proses pembelajaran di kelas. Untuk mengetahui hal tersebut, peserta didik diberikan berupa tes atau instrumen soal sebelum (pre-test) dan setelah (post-test) penerapan model pembelajaran inkuiri tipe pictorial riddle dengan konten integrasi-interkoneksi.

Sebelum digunakan sebagai soal tes, terlebih dahulu instrumen soal yang telah disediakan diujicobakan pada kelas non sampel untuk mengetahui validitas dan reabilitas soal. Adapun kelas non sampel yang digunakan sebagai kelas ujicoba instrumen soal adalah kelas X MIA 2 yang dianggap setara dengan kelas X MIA yang lain di SMA Negeri 1 Watansoppeng. Dari 40 soal soal yang di ujicobakan, terdapat 28 soal yang valid dan reabel untuk digunakan sebagai tes hasil belajar (pre-test dan post-test).

Di dalam pelaksanaan model pembelajaran inkuiri tipe pictorial riddle dengan konten integrasi-interkoneksi yang diterapkan di kelas X MIA 1 SMA Negeri 1 Watansoppeng peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok kecil.

(56)

Kemudian peserta didik disajikan gambar-gambar yang bermuatan materi “Gerak Lurus” lengkap dengan kutipan-kutipan ayat Al-Qur’an sebagai stimulus untuk menemukan dan membangun konsep yang sedang dipelajari.

Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif menunjukkan bahwa hasil belajar Fisika peserta didik pada post-test lebih tinggi dibandingkan hasil belajar Fisika peserta didik pada pre-test. Skor hasil belajar Fisika peserta didik pada pre- test atau sebelum diterapkan model pembelajaran ikuiri tipe pictorial riddle dengan konten integrasi-interkoneksi tergolong dalam kategori rendah sedangkan pada post-test atau setelah diterapkan model pembelajaran ikuiri tipe pictorial riddle dengan konten integrasi-interkoneksi termasuk dalam kategori cukup.

Berdasarkan hasil analisis inferensial, yang dalam hal ini pengujian N-gain. Dari hasil analisis, N-Gain rata-rata berada pada indeks < 0,30 yaitu 0,34 yang berarti peningkatannya tergolong sedang.

Usaha meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Fisika peserta didik sangatlah tidak mudah apalagi kemampuan peserta didik yang berbeda-beda.

Selain itu,penggunaan model pembelajaran cenderung juga sangat berpengaruh.

Adapun model pembelajaran yang diterapkan dalam penelitian ini merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan belajar Fisika.

Teori-teori pada bab sebelumnya yang menyatakan bahwa model pembelajaran inkuiri tipe pictorial riddle dengan konten integrasi-interkoneksi akan mengembangkan disiplin dan keterampilan intelektual peserta didik untuk membangun konsep yang diperlukan untuk mengajukan pertanyaan dan menemukan jawaban sendiri telah bersesuaian dengan hasil penelitian yang telah

(57)

dilakukan. Hal ini terlihat dari peningkatan hasil belajar peserta didik setelah diajar menggunakan model pembelajaran inkuiri tipe pictorial riddle dengan konten integrasi-interkoneksi yang menandakan bahwa kemampuan dan keterampilan intelektual peserta didik telah berkembang dari sebelumnya.

Berdasarkan uraian diatas, maka dapat dikemukakan bahwa dalam menerapkan model pembelajaran inkuiri tipe pictorial riddle dengan konten integrasi-interkoneksi memiliki peranan yang cukup berarti dalam meningkatkan hasil belajar Fisika peserta didik. Dengan demikian salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik adalah dengan menerapkan model pembelajaran inkuiri tipe pictorial riddle dengan konten integrasi-interkoneksikhususnya pada kelas X MIA 1 SMA Negeri 1 Watansoppeng.

(58)

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Hasil belajar Fisika peserta didik kelas XI MIA 1 SMA Negeri 1 Watansoppeng, sebelum diajar dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri tipe pictorial riddle dengan konten integrasi-interkoneksi yang ditunjukkan oleh skor rata-rata hasil belajar Fisika peserta didik berada pada kategori rendah.

2. Hasil belajar Fisika peserta didik kelas XI MIA 1 SMA Negeri 1 Watansoppeng, setelah diajar dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri tipe pictorial riddle dengan konten integrasi-interkoneksi yang ditunjukkan oleh skor rata-rata hasil belajar Fisika peserta didik berada pada kategori cukup.

3. Hasil belajar Fisika peserta didik kelas X MIA 1 SMA Negeri 1 Watansoppeng yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri tipe pictorial riddle dengan konten integrasi-interkoneksi mengalami peningkatan dengan N-Gain rata-rata 0,34 (kategori sedang).

B. Saran

Sehubungan dengan hasil yang ditemukan dalam penelitian ini, maka saran yang dapat diajukan oleh penulis adalah:

1. Karena adanya peningkatan hasil belajar fisika dari penggunaan pengajaran ini maka disarankan guru-guru di sekolah-sekolah hendaknya

39

Gambar

Tabel 2.1. Sintaks Pelaksanaan Model Pembelajaran Inkuiri Tipe Pictorial Riddle dengan Konten Integrasi-Interkoneksi.....................................
Gambar 2.1. Kerangka Pikir..................................................................................
Diagram 4.1. Distribusi Frekuensi Skor Hasil Belajar Fisika Peserta Didik Kelas X MIA 1 SMA Negeri 1 Watansoppeng pada Pre-test dan Post-test .....................................................................................
Tabel 2.1. Sintaks Pelaksanaan Model  Pembelajaran  Inkuiri  Tipe Pictorial Riddle dengan Konten Integrasi-Interkoneksi.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil belajar dan keterampilan proses sains (KPS) siswa dapat ditingkatkan dan lebih baik menggunakan model Inkuiri ilmiah teknik pictorial riddle dengan pembelajaran ARIAS..

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran inkuiri dengan metode pictorial riddle dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis

Motivasi Belajar Peserta Didik Data tentang motivasi belajar peserta didik sebagai hasil pelaksanaan tindakan pada siklus I yang dikumpulkan melalui observasi

Abstrak: Pembelajaran STAD merupakan model pembelajaran yang memberikan peserta didik untuk bisa belajar secara berkelompok dan bertukar pikiran dalam kelompok

Hal ini menunjukan adanya peningkatan aktivitas belajar peserta didik dalam proses pembelajaran tematik Tema Energi dan Perubahannya Subtema Penghematan Energi

Hasil penelitian pembelajaran IPA fisika terhadap perangkat pembelajaran fisika melalui model pembelajaran inquiry dengan metode pictorial riddle termasuk dalam

Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk

Guru membagikan LBPD (Lembar Belajar Peserta Didik) kemudian peserta didik mendiskusikan dengan kelompoknya, mengumpulkan informasi, dan saling bertukar informasi mengenai