BAB II DESKRIPSI TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN
A. Deskripsi Teoritik
3. Model Pembelajaran Kooperatif
a. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran Kooperatif atau Cooperative Learning berasal dari kata Cooperative Dalam kamus Inggris-Indonesia karangan John M. Echols dan Hassan Shadily, kooperatif (cooperative) artinya bekerjasama.19 Learning artinya pengetahuan20. Dengan demikian
cooperative learning ialah mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok atau satu tim.
Pembelajaran kooperatif merupakan bagian dari strategi pembelajaran yang dapat mencapai tujuan yang bervariasi.21 Pembelajaran kooperatif merupakan bentuk instruksi kelompok kecil yang biasa dipraktekkan oleh guru dan siswa. 22 Hubungan antar kelompok tidak hanya dapat mempengaruhi toleransi dan penerimaan
19
John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris- Indonesia: An English-Indonesian Dictionary, (Jakarta: PT Gramedia, 2005), Cet. XXVI, h. 353.
20
Ibid., h. 352.
21
Richard I. Arends, Nancy E. Winitzky, dan Margaret D. Tannenbaum, Exploring Teaching An Introduction to Education, (New York: The McGraw-Hill Companies, 2001), Cet. II, h. 196.
22
Colin Marsh, Becoming a Teacher Knowledge, Skills and Issues, (Australia: Pearson, 2010), Edisi V, h. 141.
yang lebih luas terhadap siswa, tetapi juga dapat mendukung terciptanya hubungan yang lebih baik diantara siswa-siswa dengan latar belakang yang berbeda-beda.
Kesimpulannya bahwa, Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang menyaratkan siswa untuk bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil dengan beragam kemampuan, saling membantu dalam mempelajari materi pelajaran. Hal ini memberi pelajaran kepada siswa untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar bagi pembelajaran mereka sendiri. Tujuan pembelajaran kooperatif akhirnya adalah memungkinkan masing – masing siswa agar menjadi lebih sukses di sekolah.
Pembelajaran kooperatif adalah instruksi yang digunakan pada kelompok kecil dimana siswa bekerja sama untuk menyelesaikan tugas dengan baik sesuai dengan kondisi kelompok, masing-masing siswa bekerja sama untuk memperoleh hasil yang baik bagi dirinya sendiri dan kelompoknya.23
Untuk mencapai hasil yang maksimal empat prinsip dalam model pembelajaran kooperatif harus diterapkan. Empat prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
1) Saling ketergantungan positif (possitive interdependence). 2) Tanggung jawab perseorangan (Individual Accountability). 3) Interaksi promotif (face to face promotion interaction). 4) Partisipasi dan Komunikasi (Participation Communication).24
Pada model pembelajaran kooperatif, keberhasilan tidak semata-mata diperoleh dari guru, tetapi juga keterampilan yang dilakukan oleh siswa. Lungdren menyusun keterampilan-keterampilan kooperatif tersebut secara terinci dalam tiga tingkatan keterampilan, yaitu:
23
Jack C. Richards and Theodore S. Rodgers, Approaches and Methods in Language Teaching, (New York: Camridge University Press, 2006), Cet. XI, Edisi II, h. 195.
24
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses, (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2011), Cet. VIII, Edisi I, h. 246.
1) Keterampilan kooperatif tingkat awal, antara lain:
a) Berbagi tugas, yaitu menjalankan tugas sesuai dengan tanggung jawabnya.
b) Mengambil giliran, yaitu menggantikan teman dengan tugas tertentu dan mengambil tanggung jawab tertentu dalam kelompok.
c) Mendorong adanya partisipasi, yaitu memotivasi semua anggota kelompok untuk berkontribusi.
d) Mengundang orang lain untuk berbicara atau membuat kesepakatan, yaitu menyamakan pendapat (persepsi).
2) Keterampilan kooperatif tingkat menengah, antara lain: a) Mendengarkan dengan aktif.
b) Bertanya, yaitu meminta atau menyampaikan kembali informasi. c) Membuat ringkasan, yaitu menafsirkan kembali informasi
dengan kalimat yang berbeda. d) Menerima tanggungjawab.
3) Keterampilan kooperatif tingkat mahir
Keterampilan kooperatif pada tingkat mahir yaitu mengolaborasi, artinya memperluas konsep, menghubungkan pendapat-pendapat dengan topik tertentu, Memeriksa ketepatan atau membandingkan jawaban dan memastikan bahwa jawaban tersebut benar, dan menetapkan tujuan.25
b. Pengertian Model STAD
Tipe Student Team Achievement Division (STAD) adalah metode pembelajaran kooperatif untuk mengelompokkan siswa dengan kemampuan beragam yang melibatkan pengakuan tim dan tanggungjawab kelompok untuk pembelajaran individu anggota.
25
Zulfiani, Tonih Feronika, Kinkin Suartini, Strategi Pembelajaran Sains, (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta, 2009), Cet. I, h. 133.
Anggota kelompok terdiri dari campuran menurut prestasi, jenis kelamin, dan suku.26
STAD mempunyai lima komponen utama, yaitu: 27
1) Class Presentation (tahap mengajar). Presentasi kelas dalam STAD berbeda dengan pengajaran biasa karena mereka harus benar-benar fokus pada satuan STAD. Dengan cara ini siswa menyadari bahwa selama presentasi kelas berlangsung mereka harus memperhatikan secara seksama, karena dengan begitu akan membantu mereka menjalani kuis dengan baik, dan nilai kuis itu menentukan nilai kelompok mereka.
2) Teams (belajar kelompok) yaitu peserta didik belajar dalam kelompok mereka. Pada tahap ini guru memberikan LKS yang harus dikerjakan kemudian dikumpulkan. Selama belajar kelompok tugas anggota kelompok adalah untuk menuntaskan pemahaman mereka tentang materi yang telah disampaikan oleh guru dan membantu peserta yang lain dalam menuntaskan pemahamannya. 28 3) Quissez (kuis), kuis yang dimaksud adalah kuis individu. Selama
mengerjakan kuis siswa tidak boleh saling bekerja sama.
4) Individual improvement scores (penskoran nilai individu) yaitu berdasarkan hasil kuis masing-masing siswa.
5) Team recognition (Penghargaan kelompok) adalah menilai kemajuan individu dan memberikan nilai kelompok serta memberikan penghargaan kepada kelompok unggulan. Setelah kelompok selesai mengerjakan tugasnya, maka mereka mendapat nilai yang sesuai dengan hasil pekerjaannya yang disebut nilai dasar. Nilai dasar untuk setiap kelompok berbeda tetapi nilai ini
26
Suyatno, Menjelajah Pembelajaran Inovatif, (Surabaya: Masmedia Buana Pustaka, 2009), Cet. I, h. 52.
27
Shlomo Sharan (ed.) Handbook Of Cooperative Learning Method, (Wetsport: CT Praeger, 1999), Cet. II, h. 6.
28
Crys Fajar Partana, Kajian Efektivitas Penerapan Metode Pembelajaran Kooperative Tipe Jigsaw dan STAD Pada Mata Pelajaran IPA Aspek Kimia Di SMP 2 Mlati Sleman,FMIPA UNY:
sama untuk setiap anggota kelompok. Nilai kelompok kemudian dibandingkan dengan nilai kuis. Bila nilai kuis mereka melebihi nilai dasar, peserta didik akan mendapatkan poin untuk kelompok mereka. Poin ini disebut poin kemajuan. Dengan ketentuan sebagai berikut: 29
Tabel 2.1
Ketentuan Penetapan Poin Kemajuan
Nilai Kuis Poin Kemajuan
Lebih dari 10 poin di bawah nilai dasar 0 10 poin di bawah sampai 1 poin di bawah
nilai dasar 10
Sama dengan nilai dasar sampai 10 poin di
atas nilai dasar. 20 Lebih dari 10 poin di atas nilai dasar 30 Pekerjaan yang sempurna tanpa
menghiraukan nilai dasar 30
Tujuan dari adanya nilai kuis dan nilai dasar adalah agar peserta didik memberikan nilai yang maksimal untuk kelompoknya. Nilai kelompok disusun dari poin kemajuan anggota kelompoknya. Setiap anggota kelompok mempunyai nilai kemajuan, nilai ini kemudian dijumlah dan dibagi jumlah anggota kelompok. Rata-rata dari poin kemajuan ini dinamakan rata-rata kelompok. Rata-rata ini yang digunakan untuk menentukan prestasi kelompok dengan ketentuan sebagai berikut: 30
Tabel 2.2
Kriteria Penghargaan Berdasarkan Rata-Rata Kelompok Kriteria
(Rata-rata Kelompok) Penghargaan
10 Good team 20 Great Team 25 Super team 29 Ibid., h. 157. 30 Ibid., h. 158.
Ciri-ciri pembelajaran STAD, yaitu kelas terbagi ke dalam kelompok-kelompok kecil, tiap kelompok terdiri dari 4-5 anggota yang heterogen.
Langkah-langkah dalam pelaksanaan model STAD, Yaitu:
1) Membuat kelompok heterogen beranggotakan 4-5 siswa (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, atau pun suku).
2) Guru menyajikan materi.
3) Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan bersama anggota kelompoknya. Anggota yang tahu menjelaskan pada anggota yang lain sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
4) Guru memberi kuis/pertanyaan secara individu. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu.
5) Memberi evaluasi. 6) Kesimpulan.31
Keberhasilan dalam pembelajaran STAD dipengaruhi oleh beberapa faktor. Metode ini melibatkan kompetisi antar kelompok. Siswa dikelompokkan secara beragam berdasarkan kemampuan, latar belakang, jenis kelamin, dan lain-lain. Hubungan antar kelompok merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan penggunaan pembelajaran STAD. Hubungan antar kelompok tidak hanya dapat mempengaruhi toleransi dan penerimaan yang lebih luas terhadap siswa, tetapi juga dapat mendukung terciptanya hubungan yang lebih baik diantara siswa dengan tingkat kecerdasan, jenis kelamin, dan latar belakang yang beranekaragam.
Perolehan nilai kuis setiap anggota menentukan skor yang diperoleh oleh kelompok. Jadi, setiap anggota harus berusaha memperoleh nilai maksimal supaya kelompok memperoleh prestasi.
Pemberian penghargaan bagi kelompok maupun individu berprestasi juga dapat meningkatkan motivasi siswa, adanya interaksi
31
atau penampilan yang diberikan oleh masing-masing individu untuk kelompoknya.
4. Strategi Guided Note Taking (GNT)