• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR GRAFIK

A. TINJAUAN PUSTAKA 1. Belajar dan Hasil Belajar

4. Model Pembelajaran Kooperatif

IPS Terpadu harus mengembangkan; pengertian, sikap, dan keterampilan.

Pengertian; menyangkut perkembangan fakta, konsep dan generalisasi yang merupakan isi dasar IPS Terpadu. Hal ini dapat diambil dari ilmu-ilmu sosial dan dari pengalaman dalam masyarakat sendiri. Sikap; menyangkut nilai, apresiasi, dan ide-ide yang diperoleh anak didik melalui program IPS Terpadu. Sedangkan keterampilan; menyangkut kemampuan tehnis dan fisik. Ketiga aspek tersebut saling berkaitan dan perlu dikembangkan pada setiap program IPS Terpadu sesuai dengan tujuan IPS Terpadu.

4. Model Pembelajaran Kooperatif

Model pembelajaran adalah pedoman berupa program atau petunjuk strategi mengajar yang dirancang untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran. Pedoman itu memuat tanggung jawab guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan

mengevaluasi kegiatan pembelajaran. Salah satu tujuan dari penggunaan model pembelajaran adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa selama belajar. Dengan pemilihan metode, strategi, pendekatan, serta teknik pembelajaran

diharapkan adanya perubahan dari mengingat atau menghafal ke arah berpikir dan pemahaman.

Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok. Setiap siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda. Model pembeljaran kooperatif mengutamakan kerja sama dalam menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pemgetahuan dan keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.

42 Menurut Davidson dan Warsham dalam Isjoni (2011:28), pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang mengelompokkan siswa untuk tujuan

menciptakan pendekatan pembelajaran yang berefektifitas yang mengitegrasikan keterampilan sosial yang bermuatan akademik.

Slavin dalam Isjoni (2011:15) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran di mana siswa belajar dan bekerja sama dalam

kelompok-kelompok kecil serta kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4-6 orang dengan struktur kelompok heterogen. Jadi dalam model pembelajaran kooperatif ini, siswa bekerja sama dengan kelompoknya untuk menyelesaikan suatu

permasalahan. Dengan begitu siswa akan bertanggung jawab atas belajarnya sendiri dan berusaha menemukan inforamsi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan pada mereka.

Model pembelajaran kooperatif harus menerapkan lima unsur menurut Lie (2004:31) yaitu “Saling ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, tatap muka, komunikasi antar anggota, evaluasi proses kelompok”. Jika kelima unsur tersebut dilaksanakan dengan baik, maka akan tercipta suasana kerja kelompok yang maksimal dan dapat memberikan semangat belajar yang tinggi, sehingga kemungkinan hasil belajarpun akan meningkat.

Menurut Agus Suprijono (2009: 65) terdapat enam langkah atau tahapan di dalam pembelajaran yang menggunakan model kooperatif . Langkah-langkah itu

43 Tabel 1. Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif

FASE-FASE PERILAKU GURU

Fase 1: Present goals and set Menyampaikan tujuan dan

mempersiapkan siswa.

Menjelaskan tujuan pembelajaran dan mempersiapkan siswa agar lebih siap menerima pelajaran.

Fase 2: Present information Menyajikan informasi

Mempresentasikan informasi kepada siswa secara verbal.

Fase 3: Organize students into leraning teams.

Mengorganisasi siswa ke dalam tim-tim belajar.

Memberikan penjelasan kepada siswa tentang tata cara pembentukan tim belajar dan membantu kelompok melakukan transisi yang efisien. Fase 4: Assist team work and study

Membantu kerja tim dan belajar.

Membentu tim-tim belajar selama siswa mengerjakan tugas.

Fase 5: Test on the materials Mengevaluasi

Menguji pengetahuan siswa mengenai mengenai materi pelajaran atau kelompok-kelompok

mempresentasikan hasil kerjanya. Fase 6: Provide Recognition

Memberikan pengakuan atau penghargaan

Mempersiapkan cara untuk mengakui usaha dan prestasi individu maupun kelompok.

a. Tujuan Model Pembelajaran Kooperatif

Tujuan model pembelajaran kooperatif menurut Widyantini (2006:4) adalah hasil belajar siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai keragaman dari temannya serta pengembangan keterampilan sosial. Johnson & Johnson dalam Trianto (2010:57) menyatakan bahwa tujuan pokok belajar kooperatif adalah memaksimalkan belajar siswa untuk peningkatan prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu maupun secara kelompok. Louisell dan Descamps dalam Trianto (2010:57) juga menambahkan, karena siswa bekerja dalam suatu tim, maka dengan sendirinya dapat memperbaiki hubungan diantara para siswa dari latar belakang etnis dan kemmapuan, mengembangkan

keterampilan-keterampilan proses dan pemecahan masalah. Jadi inti dari tujuan pembelajaran kooperatif adalah untuk meningkatkan partisipasi siswa dan

44 memberikan kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama siswa lainnya.

b. Prinsip Dasar Pembelajaran Kooperatif

Menurut Nur dalam Widyantini (2006:4), prinsip dasar dalam pembelajaran kooperatif sebagai berikut:

1) Setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas segala sesuatu yang

dikerjakan dalam kelompoknya dan berpikir bahwa semua anggota kelompok memiliki tujuan yang sama.

2) Dalam kelompok terdapat pembagian tugas secara merata dan dilakukan evaluasi setelahnya.

3) Saling membagi kepempininan antar anggota kelompok untuk belajar selama pembelajaran.

4) Setiap anggota kelompok bekerja sama atas semua pekerjaan kelompok.

Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif menurut Nur dalam Widyantini (2006:4) sebagai berikut :

1) Siswa dalam kelompok bekerja sama menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.

2) Kelompok dibentuk secara heterogen.

3) Penghargaan lebih diberikan kepada kelompok, bukan kepada individu.

Pada model pembelajaran kooperatif memang ditonjolkan pada diskusi dan kerja sama dalam kelompok. Kelompok dibentuk secara heterogen sehingga siswa dapat berkomunikasi, saling berbagi ilmu, saling menyampaikan pendapat, dan saling menghargai pendapat teman sekelompoknya.

45 5. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Picture and Picture

Model pembelajaran picture and picture adalah suatu model pembelajaran dengan

menggunakan media gambar. Dalam operasionalnya gambar-gambar dipasangkan

satu sama lain atau bisa jadi di urutkan menjadi urutan yang logis. Dalam

pelaksanaannya, teknik penggunaan dan pemanfaatan media picture and picture

turut memberikan andil yang besar dalam menarik perhatian siswa dalam proses

belajar mengajar, karena pada dasarnya media mempunyai dua fungsi utama yaitu

media sebagai alat bantu dan media sebagai sumber belajar bagi siswa (Djamarah,

2002:137).

Adapun langkah-langkah dari pelaksanaan model pembelajaran kooperatif

menurut Istarani (2011:7) adalah sebagai berikut :

1) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang ingin dicapai. Di langkah ini guru diharapkan untuk menyampaikan apakah yang menjadi Kompetensi Dasar mata pelajaran yang bersangkutan. Dengan demikian maka siswa dapat mengukur sampai sejauh mana yang harus dikuasainya. Disamping itu guru juga harus menyampaikan indikator-indikator ketercapaian KD, sehingga sampai dimana KKM yang telah ditetapkan dapat dicapai oleh peserta didik.

2) Memberikan materi pengantar sebelum kegiatan. Penyajian materi sebagai pengantar sesuatu yang sangat penting, dari sini guru memberikan

momentum permulaan pembelajaran. Kesuksesan dalam proses pembelajaran dapat dimulai dari sini. Karena guru dapat memberikan motivasi yang

menarik perhatian siswa yang selama ini belum siap. Dengan motivasi dan teknik yang baik dalam pemberian materi akan menarik minat siswa untuk belajar lebih jauh tentang materi yang dipelajari.

3) Guru menyediakan gambar-gambar yang akan digunakan (berkaitan dengan materi). Dalam proses penyajian materi, guru mengajar siswa ikut terlibat aktif dalam proses pembelajaran dengan mengamati setiap gambar yang ditunjukkan oleh guru atau oleh temannya. Dengan gambar akan menghemat energi guru dan siswa akan lebih mudah memahami materi yang diajarkan. Dalam perkembangan selanjutnya guru dapat memodifikasikan gambar atau mengganti gambar dengan video atau demonstrasi tentang suatu kegiatan tertentu.

4) Guru menunjuk siswa secara bergilir untuk mengurutkan atau memasangkan gambar-gambar yang ada. Di langkah ini guru harus bisa melakukan inovasi, kadang penunjukkan secara langsung kadang kurang efektif dan siswa

46

merasa terhukum. Salah satu cara adalah dengan undian, sehingga siswa merasa memang harus menjalankantugas yang telah diberikan.

5) Guru memberikan pertanyaan mengenai alasan siswa dalam menentukan urutan gambar. Setelah itu ajaklah siswa menemukan rumus, tinggi, jalan cerita, atau tuntutan KD dengan indikator yang akan dicapai. Ajaklah sebanyak-banyaknya peran siswa dan teman yang lain untuk membantu sehingga proses diskusi dalam PBM semakin menarik.

6) Dari alasan tersebut guru akan mengembangkan materi dan menanamkan konsep materi yang sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai. Dalam proses diskusi dan pembacaan gambar ini, guru harus memberikan

penekanan-penekanan pada hal ini dicapai dengan meminta siswa lain untuk mengulangi, menuliskan atau bentuk lain dengan tujuan siswa mngetahui bahwa hal tersebut penting dalam pencapaian KD dan indikator yang telah ditetapkan.

7) Guru menyampaikan kesimpulan. Di akhir pembelajaran guru bersama siswa mengambil kesimpulan sebagai penguatan materi pelajaran.

Sedangkan menurut Istarani (2011:8), kelebihan dan kekurangan picture and

picture adalah sebagai berikut.

Kelebihan :

1. Materi yang diajarkan lebih terarah karena pada awal pembelajaran guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai dan materi secara singkat terlebih dahulu.

2. Siswa lebih cepat menangkap materi ajar karena guru menunjukkan gambar-gambar mengenai materi yang dipelajari.

3. Dapat meningkatkan daya nalar atau daya pikir siswa karena siswa diminta guru untuk menganalisa gambar yang ada.

4. Dapat meningkatkan tanggung jawab siswa, sebab guru menanyakan alasan siswa mengurutkan gambar.

5. Pembelajaran lebih berkesan, sebab siswa dapat mengamati langsung gambar yang telah dipersiapkan oleh guru.

Kekurangan :

1. Sulit menemukan gambar-gambar yang bagus dan berkualiatas serta sesuai dengan materi pelajaran.

2. Sulit menemukan gambar-gambar yang sesuai dengan daya nalar atau kompetensi yang dimilki siswa.

3. Baik guru dan siswa kurang terbiasa dalam menggunakan gambar sebagai bahan utama dalam membahas suatu materi pelajaran.

4. Tidak tersedianya dana khusus untuk menemukan atau mengadakan gambar-gambar yang diinginkan.

47 6. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples

Model ini merupakan salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif dengan

menekankan pada partisipasi dan aktivitas siswa untuk mencari sendiri materi

(informasi) pembelajaran yang akan dipelajari melalui bahan-bahan yang tersedia.

Model ini menuntut para siswa untuk memiliki keampuan yang baik dalam

memberikan gambaran akan sesuatu yang menjadi contoh atau example materi

yang sedang dibahas. Adapun non-example memberikan gambaran akan sesuatu

yang bukanlah contoh dari suatu materi yang sedang dibahas.

Example non-example adalah taktik yang dapat digunakan untuk mengajarkan

definisi konsep. Guru meminta siswa untuk mengklasifikasikan keduanya sesuai

konsep yang ada. Dengan memusatkan perhatian siswa terhadap example dan

non-example, diharapkan akan memberikan kesempatan untuk menemukan

konsep pelajarannya dan mendorong siswa menuju pemahaman yang lebih

mendalam mengenai materi yang ada.

Model pembelajarn kooperatif tipe examples non examples merupakan suatu

model pembelajaran dengan menggunakan media gambar dalam penyampaian

materi pembelajaran. Menggunakan gambaran-gambaran visual mempengaruhi

pembelajaran konsep dan mendukung pepatah lama yang mengatakan bahwa “a picture is worth a thousand words” (Arends, 2008;334).

Penggunaan media gambar merupakan sarana yang digunakan untuk melaksankan

model ini. Media gambar ini disusun dan dirancang agar siswa dapat menganalisis

gambar menjadi sebuah bentuk deskripsi singkat mengenai sesuatu yang ada di

48

atau media pembelajaran merupakan seperangkat alat bantu atau alat pelengkap

yang digunakan oleh guru atau pendidik dalam rangka berkomunikasi dengan

siswa atau peserta didik. Media bukan sekedar peraga atau alat bantu dalam

pembelajaran walaupun tekanan utama terletak pada benda atau suara yang

didengar. Namun, media dalam pembelajaran di kelas atau di luar kelas pada

intinya merupakan sesuatu yang dapat dijadikan sebagai perantara atau alat yang

diperlukan untuk berinteraksi antara guru dengan siswa dengan tujuan untuk

membangkitkan minat siswa dalam belajar dan penyampaian pesan. Jadi dengan

digunakannya media gambar model pembelajaran kooperatif tipe examples non

examples, guru dapat dengan mudah menyajikan seperangkat materi tertentu,

membangkitkan minat siswa, keseragaman informasi, dapat dilakukan secara

berulang dan dapat menjangkau semua bidang pelajaran.

Kerangka konsep dan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe

examples non examples adalah sebagai berikut.

Kerangka konsep:

a. Menggeneralisasikan pasangan antara contoh dan non contoh yang

menjelaskan beberapa dari sebagian esar kareakter atau atribut dari konsep baru. Menyajikannya dalam satu waktu dan meminta siswa untuk memikirkan perbedaan apa yang terdapat pada dua daftar tersebut. Selama siswa

memikirkan tentang tiap example dan non example tersebut, tanyakanlah pada mereka apa yang membuat kedua daftar tersebut berbeda.

b. Menyiapkan examples non examples tambahan, mengenai konsep yang lebih spesifik untuk mendorong siswa mengecek hipotesis yang telah dibuatnya sehingga mampu memahami konsep yang baru.

c. Meminta siswa untuk bekerja berpasangan untuk menggeneralisasikan konsep

examples non examples mereka. Setelah itu meminta tiap pasangan untuk menginformasikan di kelas untuk mendiskusikan secara klasikal sehingga tiap siswa dapat memberikan umpan balik.

d. Sebagai bagian penutup, adalah meminta siswa untuk mendeskripsikan konsep yang elah diperoleh dengan menggunakan karakter yang telah didapat dari

49 Langkah-langkah pembelajaran:

a. Guru menggunakan gambar tulisan sesuai dengan tujuan pembelajaran. b. Guru menempelkan gambar atau tulisan sesuai dengan tujuan pembelajaran. c. Guru memberi petunjuk pada peserta didik untuk memperhatikan atau

menganalisis.

d. Guru memberi kesempatan pada peserta didik untuk memperhatikan atau menganalisis.

e. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas.

f. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya. g. Guru menjelaskan materi sesuai tujuan yang dicapai.

h. Kesimpulan.

( http://sirakbarkurniawan.blogspot.com/2011/01/penerapan-metode-pembelajaran-examples_15.html)

Adapun kelebihan dan kekurangan model pembelajaran kooperatif tipe examples

non examples adalah sebagai berikut.

Kelebihan :

1. Siswa lebih kritis dalam menganalisa gambar.

2. Siswa mengetahui aplikasi dari materi berupa contoh gambar.

3. Siswa diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya.

Kekurangan :

1. Tidak semua materi dapat disajikan dalam bentuk gambar.

2. Memakan waktu yang lama.

Example non example dianggap perlu dilakukan karena suatu definisi konsep adalah suatu konsep yang diketahui secara primer hanya dari segi definisinya daripada dari sifat fisiknya. Dengan memusatkan perhatian siswa terhadap

example dan non-example diharapkan akan dapat mendorong siswa untuk menuju pemahaman yang lebih dalam mengenai materi yang ada.

50 7. Minat Belajar

Untuk dapat dapat mengetahui keberhasilan proses kegiatan belajar mengajar, seluruh faktor-faktor yang berhubungan dengan guru dan siswa harus dapat diperhatikan. Mulai dari perilaku guru dalam mengajar sampai dengan tingkah laku siswa sebagai timbal balik dari hasil sebuah pengajaran, tingkah laku siswa ketika mengikuti proses belajar mengajar dapat mengindikasikan akan

ketertarikan siswa terhadap pelajaran itu, atau sebaliknya siswa merasa tidak tertarik terhadap pelajaran tersebut. Ketertarikan siswa inilah yang merupakan salah satu tanda-tanda minat.

Minat merupakan suatu kecenderungan yang menyebabkan seseorang berusaha untuk mencari atau mencoba aktivitas-aktivitas dalam bidang tertentu. Minat bukan bawaan dari lahir, melainkan dapat dipengaruhi oleh bakat. Minat diciptakan atau dibina agar tumbuh dan terasa sehingga menjadi kebiasaan. Menurut Slameto (2010:180) minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan yang diminati seseorang akan diperhatikan terus-menerus dan disertai dengan rasa senang. Minat dapat menjadi sebab suatu kegiatan dan hasil dari keikutsertaan dalam suatu kegiatan. Tidak adanya minat dapat mengakibatkan siswa tidak menyukai pelajaran dan akhirnya berpengaruh terhadap hasil belajar. Minat dapat diekspresikan melalui suatu pernyataan yang menunjukkan bahwa siswa lebih menyukai suatu hal daripada yang lainnya, dapat pula dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas. Siswa yang memiliki minat terhadap objek tertentu cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap objek tersebut.

51 Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan, semakin besar minat. Minat tidak dibawa sejak lahir, melainkan diperoleh kemudian. Minat terhadap sesuatu dipelajari dan mempengaruhi belajar serta selanjutnya mempengaruhi penerimaan minat-minat baru. Jadi minat

terhadap sesuatu merupakan hasil belajar dan menyokong belajar selanjutnya.

Minat belajar siswa adalah salah satu faktor yang berperan dalam kegiatan belajar mengajar. Tanpa adanya minat belajar, sulit bagi siswa untuk mempunyai prestasi belajar yang optimal atau sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Titik permualaan dalam mengajar yang berhasil adalah membangkitkan minat anak didik, karena rangsangan tersebut membawa kepada senangnya anak didik, karena rangsangan tersebut membawa kepada senangnya anak didik kepada pelajaran dan

meningkatkan kepentingan mata pelajaran bagi mereka, disamping perasaan mereka, kegiatan mereka ingin mendapatkan manfaat dari pekerjaan dan kegiatannya.

Sebagaimana penjelasan yang diungkapkan oleh Djamarah (2008:166), tingginya minat belajar siswa dapat dilihat dari beberapa hal, antara lain:

1. Tertarik dengan mata pelajaran.

2. Selalu bersemangat mengikuti pelajaran. 3. Merasa senang jika mendapat tugas.

4. Merasa sedih jika tidak dapat mengikuti pelajaran.

5. Merasa kecewa jika guru yang bersangkutan tidak dapat hadir memberikan pelajaran.

6. Sering bertanya tentang materi pelajaran jika kurang mengerti. 7. Selalu senang jika mengikuti ujian untuk mengetahui seberapa tinggi

kemampuannya menguasai materi pelajaran.

52 9. Merasa betah di kelas saat pelajaran berlangsung.

10. Selalu mengerjakan tugas individu secara mandiri.

Minat dapat muncul karena beberapa hal antara lain karena kebutuhan atau kemauan untuk dapat menghasilkan sesuatu hal yang baik. Demikian pula halnya dengan minat terhadap pelajaran IPS Terpadu dapat muncul karena siswa tertarik untuk mempelajarinya sesuai dengan kebutuhan atau merasakan bahwa pelajaran IPS Terpadu yang dipelajarinya dirasa bermakna bagi dirinya.

Slameto (2003:57) mengatakan bahwa minat besar pengaruhnya terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya tarik baginya. Ia segan-segan untuk belajar, ia tidak memperoleh kepuasaan dari pelajaran itu. Bahan pelajaran yang menarik minat siswa, lebih mudah dipelajari dan disimpan karena minat menambah kegiatan belajar.

Aspek minat terdiri atas aspek kognitif dan aspek afektif. Aspek kognitif berupa konsep positif terhadap suatu objek dan berpusat pada manfaat dari objek tersebut. Aspek afektif tampak rasa suka atau tidak senang terhadap objek tersebut

(Taufani, 2008:39). Dapat diketahui bahwa minat terhadap mata pelajaran yang dimiliki seseorang bukan bawaan sejak lahir, tetapi dipelajari melalui proses penilaian kognitif dan penilaian afektif seseorang yang dinyatakan dalam sikap. Dengan kata lain, jika proses penilaian kognitif dan afektif seseorang terhadap objek minat adalah positif maka akan menghasilkan sikap yang positif dan dapat menimbulkan minat.

Agar siswa memiliki minat untuk belajar, guru harus berusaha membangkitkan minat siswa agar proses belajar mengajar yang efektif tercipta di dalam kelas dan siswa mencapai suatu tujuan sebagai hasil dari belajarnya Minat belajar yang telah

53 dimilki siswa merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil

belajarnya. Apabila seseorang memiliki minat yang tinggi terhadap sesuatu hal maka terus berusaha untuk melakukan sehingga apa yang diinginkannya dapat tercapai sesuai dengan keinginannya.

Dokumen terkait