• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

2.1 Landasan Teori

2.1.3 Model Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC

CIRC merupakan singkatan dari Cooperative Integrated Reading and Composition dan termasuk salah satu model pembelajaran kooperatif yang pada mulanya merupakan sebuah program yang komprehensif atau luas dan lengkap untuk pengajaran membaca, menulis, dan seni berbahasa untuk kelas-kelas tinggi sekolah dasar (Slavin, 2009:201). Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan siswa secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama (Trianto, 2007:42). Pembelajaran kooperatif mendorong siswa bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan suatu tugas, atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama lainya. Di samping itu,

pembelajaran kooperatif mendorong peserta didik aktif menemukan sendiri pengetahuannya melalui ketrampilan proses.

Pada awalnya, model CIRC diterapkan dalam pembelajaran yang berhubungan dengan kajian ilmu bahasa. Dalam kelompok kecil, para siswa diberi suatu teks atau bacaan (cerita atau novel), kemudian siswa latihan membaca atau saling membaca, memahami ide pokok, saling merevisi, dan menulis ikhtisar cerita, atau memberikan tanggapan terhadap isi cerita, atau untuk mempersiapkan tugas tertentu dari guru. Seiring dengan perubahan zaman, CIRC kini telah dikembangkan oleh para insan pendidikan bukan hanya digunakan pada pelajaran bahasa tetapi juga pelajaran eksak salah satunya adalah pelajaran matematika.

Dalam model pembelajaran ini, siswa ditempatkan dalam kelompok- kelompok kecil yang heterogen, yang terdiri atas 4 atau 5 siswa. Dalam kelompok ini terdapat siswa yang pandai, sedang atau lemah, dan masing- masing siswa sebaiknya merasa cocok satu sama lain. Tujuan utama dari CIRC adalah menggunakan tim-tim kooperatif untuk membantu para siswa mempelajari kemampuan memahami bacaan yang diaplikasikan secara luas (Slavin, 2009:204). Melalui pembelajaran kooperatif tipe CIRC ini, diharapkan siswa dapat meningkatkan pikiran kritisnya, kreatif, menumbuhkan rasa sosial yang tinggi dan mampu mengemukakan gagasan atau ide-ide matematika ke dalam bahasa yang sistematis yang pada akhirnya dapat meningkatan kemampuan komunikasi matematika.

Sebelum dibentuk kelompok, siswa diajarkan bagaimana bekerjasama dalam suatu kelompok. Kerjasama tim/kelompok menjadi salah satu unsur khas

model ini karena dalam kegiatan pokok model pembelajaran CIRC, para siswa merencanakan, merevisi, dan menyunting hasil pekerjaan kelompok mereka melalui kolaborasi yang erat dengan teman satu tim mereka Siswa diajari menjadi pendengar yang baik, dapat memberikan penjelasan kepada teman sekelompok, berdiskusi, mendorong teman lain untuk bekerjasama, menghargai pendapat teman lain, dan sebagainya. Jadi, dalam model pembelajaran ini setiap anggota dalam kelompok dituntut untuk mampu memahami cara penyelesaian masalah tersebut sehingga kerjasama kelompok dalam menyelesaikan suatu masalah sangat dibutuhkan. Hal ini diperkuat oleh pendapat yang dikemukakan Slavin (2009:202) dalam bukunya yang menyatakan bahwa :

(a) salah satu anggota atau beberapa kelompok membaca soal; (b) membuat prediksi atau menafsirkan isi soal, termasuk menuliskan apa yang diketahui, apa yang ditanyakan dan memisalkan yang ditanyakan dengan suatu variabel; (c) saling membuat ikhtisar/rencana penyelesaian; (d) menuliskan penyelesaian soal secara urut (e) saling merevisi dan mengedit hasil pekerjaan/penyelesaian (Suyitno, 2005:3).

Berdasarkan sintaks dan kegiatan pokok model pembelajaran CIRC di atas, maka penerapan model pembelajaran ini dapat dikembangkan secara lebih rinci menjadi langkah-langkah yang akan ditempuh peneliti dalam proses pembelajaran antara lain sebagai berikut.

(a) Menjelaskan suatu materi pokok matematika tertentu kepada para siswanya kemudian memberikan latihan soal uraian termasuk cara menyelesaikannya. (b) Membentuk kelompok-kelompok belajar siswa yang heterogen. Masing-masing

kelompok terdiri dari 4 atau 5 siswa.

(c) Mempersiapkan soal uraian dan membagikannya kepada setiap kelompok yang sudah terbentuk.

(d) Mengkondisikan agar dalam setiap kelompok terjadi serangkaian kegiatan yang spesifik sebagai berikut.

(1) Salah satu anggota kelompok membaca atau beberapa anggota saling membaca soal tersebut.

(2) Membuat prediksi atau menafsirkan atas isi soal termasuk menuliskan yang ditanyakan dengan suatu variabel tertentu.

(3) Saling membuat rencana penyelesaian soal. (4) Menuliskan penyelesaian soal secara urut.

(e) Guru berkeliling mengawasi kerja kelompok dan jika diperlukan guru dapat memberi bantuan kepada kelompok yang membutuhkan secara proporsional. (f) Ketua kelompok melaporkan hasil kerja kelompoknya atau melapor kepada

guru tentang hambatan yang dialami oleh anggota kelompoknya. Ketua kelompok harus dapat menjamin bahwa setiap anggota kelompok telah memahami dan dapat mengerjakan soal yang diberikan guru.

(g) Guru meminta perwakilan kelompok tertentu untuk mempresentasikan hasil kerjanya di depan kelas. Guru bertindak sebagai narasumber atau fasilitator jika diperlukan.

(h) Memberikan penguatan atas hasil diskusi yang telah disajikan siswa baik secara tertulis maupun lisan.

(i) Memberikan tugas/soal secara individual kepada para siswa tentang materi yang sedang dipelajari.

(j) Membubarkan kelompok yang telah dibentuk dan para siswa dipersilakan kembali ke tempat duduknya masing-masing.

(k) Mengulang secara klasikal materi yang telah dipelajari menjelang akhir waktu pembelajaran.

Salah satu indikator keefektifan belajar dalam model pembelajaran ini adalah keterlibatan siswa untuk belajar secara aktif. Hal tersebut merupakan suatu usaha untuk mengadakan perubahan-perubahan dalam pembelajaran yang saat ini dianggap kurang dapat memfalisitasi siswa untuk dapat belajar aktif. Dengan demikian siswa tidak hanya menerima saja materi pengajaran yang diberikan guru, melainkan siswa juga berusaha menggali dan mengembangkan sendiri dalam kelompoknya.

2.1.3.2 Kelebihan Model Pembelajaran CIRC

(a) CIRC merupakan model pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematika siswa karena mengintegrasikan kemampuan-kemampuan yang menjadi indikator kemampuan komunikasi matematika pada siswa.

(b) Guru bertindak sebagai fasilitator sehingga dominasi guru dalam pembelajaran berkurang.

(c) Para siswa dapat memahami makna soal dan saling memeriksa pekerjaannya sehingga kesalahan-kesalahan yang sering terjadi dalam penyelesaian suatu soal berkurang.

(d) Membantu siswa yang memiliki kemampuan akademik lemah.

(e) Meningkatkan hasil belajar khususnya dalam menyelesaikan soal yang berbentuk uraian.

(f) Menunjang munculnya pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. (g) Melatih siswa untuk bekerja secara kelompok, melatih keharmonisan dalam

hidup bersama atas dasar saling menghargai.

2.1.4 Model Pembelajaran Konvensional

Model pembelajaran konvensional yang digunakan dalam penelitian ini merupakan pembelajaran yang biasa digunakan guru dalam menyampaikan materi dengan metode ekspositori. Penggunaan metode ekspositori dalam penelitian ini dilengkapi dengan LKPD (Lembar Kegiatan Peserta Didik) yang dapat membantu peserta didik dalam mengkontruksi suatu konsep melalui pertanyaan-pertanyaan.

Metode ekspositori adalah cara penyampaian pelajaran dari seorang guru kepada peserta didik di dalam kelas dengan cara berbicara diawal pelajaran, menerangkan materi dan contoh soal disertai tanya jawab. Keuntungan model

pembelajaran konvensional adalah memudahkan untuk mengefisienkan akomodasi dan sumber-sumber peralatan dan mempermudah penggunaan jadwal yang efektif.

Tahap perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran dengan metode ekspositori menuntut peran aktif guru yang lebih banyak daripada aktivitas peserta didik. Pelaksanaan metode ini dimulai dengan berbicara di awal pelajaran, menerangkan materi dan contoh soal serta waktu-waktu tertentu saja. Peserta didik tidak hanya mendengarkan penjelasan guru tetapi mengerjakan soal sendiri, saling bertanya, dan mengerjakan bersama teman atau disuruh membuatnya di papan tulis. Guru dapat memeriksa pekerjaan peserta didik secara individual, menjelaskan lagi kepada peserta didik secara individual atau klasikal. Peserta didik mengerjakan latihan sendiri/ dapat bertanya temanya atau diminta guru untuk mengerjakan di papan tulis. Meskipun dalam hal terpusatnya kegiatan pembelajaran masih kepada guru, tetapi dominasi guru sudah banyak berkurang (Suyitno, 2006:4).

Pelaksanaan pembelajaran dengan metode ekspositori sebagaimana diungkapkan oleh Ibrahim (2000:43) dapat dilakukan dengan dua metode sebagai berikut.

(1) Metode ekspositori yang diselingi dengan tanya jawab antara guru dan peserta didik. Metode ceramah yang digunakan guru dapat membuat peserta didik pasif dalam pembelajaran sehingga perlu ada interaksi antara guru dan peserta didik antara lain melalui tanya jawab. Hal tersebut dilakukan agar peserta didik aktif dalam pembelajaran.

(2) Penggunaan metode demonstrasi, dalam metode ekspositori merupakan pelengkap yang dapat digunakan guru untuk menjelaskan materi yang memerlukan bantuan visual dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran matematika metode ini digunakan untuk membantu mereka memahami konsep matematika yang abstrak.

Dari kedua metode di atas, peneliti menggunakan metode ekspositori yang diselingi dengan tanya jawab antara guru maupun peserta didik agar peserta didik dapat terlibat aktif dalam pembelajaran. Selain itu, penggunaan metode ini dilakukan untuk menghindarkan peserta didik dari kejenuhan saat proses pembelajaran berlangsung.

Dokumen terkait