• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian

4.2.1 Pembahasan Hasil Uji Hipotesis I

Berdasarkan analisis awal data tes yang meliputi uji normalitas dan homogenitas diperoleh hasil bahwa data pada kelas ekperimen dan kelas kontrol

berdistribusi normal dan memiliki varians yang sama (homogen). Selanjutnya, data tes dianalisis dengan menggunakan uji proporsi satu pihak untuk mengetahui ketuntasan belajar peserta didik aspek komunikasi matematika secara tertulis pada kelas eksperimen. Hasil uji proporsi menunjukkan bahwa proporsi ketuntasan belajar peserta didik pada kelas eksperimen telah melampaui ketuntasan minimum klasikal yang ditentukan sebesar 80%. Hal ini menunjukkan hasil proses pembelajaran yang dilakukan pada kelas eksperimen dalam bentuk tes komunikasi matematika telah mampu melampaui persentase ketuntasan minimum klasikal yang ditentukan atau dengan kata lain telah tuntas belajar secara klasikal pada aspek komunikasi matematika khususnya secara tertulis.

Penerapan model pembelajaran kooperatif dalam hal ini adalah model pembelajaran CIRC memiliki peran penting dalam ketuntasan belajar peserta didik. Pembelajaran kooperatif mendorong siswa bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan suatu tugas, atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama lainya. Demikian halnya dengan pembelajaran dengan model CIRC yang memiliki tujuan secara khusus yaitu menggunakan tim-tim kooperatif untuk membantu para siswa mempelajari kemampuan memahami bacaan yang diaplikasikan secara luas (Slavin, 2009:204).

Model pembelajaran kooperatif tipe CIRC dirancang agar siswa dapat secara efektif bekerjasama dalam suatu kelompok. Kerjasama tim/kelompok menjadi salah satu unsur khas model ini karena dalam kegiatan pokok model pembelajaran CIRC, para siswa merencanakan, merevisi, dan menyunting hasil pekerjaan kelompok mereka melalui kolaborasi yang erat dengan teman satu tim mereka. Peserta didik

dilatih untuk dapat mengkonstruksi sendiri pengetahuannya melalui diskusi pada saat penyelesaian suatu masalah melalui aktivitas yang memungkinkan siswa untuk mengkomunikasikan ide-idenya dalam bentuk tulisan maupun lisan baik dengan guru, teman maupun terhadap materi matematika itu sendiri. Meskipun demikian, realita di lapangan menunjukkan bahwa untuk mengarahkan siswa agar dapat mengembangkan dan mengkomunikasikan gagasan matematikanya bukan suatu hal yang mudah dilakukan. Hal ini terlihat pada pertemuan pertama pembelajaran, peserta didik masih berada pada tahap adaptasi dengan model pembelajaran yang digunakan. Guru harus memberi motivasi untuk mendorong peserta didik agar dapat belajar aktif selama proses pembelajaran terutama pada saat diskusi kelompok. Namun pada pertemuan kedua, pelaksanaan diskusi kelompok lebih baik dari pertemuan sebelumnya dan demikian halnya dengan pelaksanaan diskusi pada pertemuan ketiga dan keempat.

Gambar 4.1. Pelaksanaan diskusi pada pertemuan kedua

Model pembelajaran CIRC dalam penelitian ini juga memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan komunikasi matematika peserta didik khususnya indikator kemampuan komunikasi matematika tertulis yang

merupakan pengembangan dari aspek mathematical register dan representations. Hal ini menjadikan peserta didik lebih mudah untuk memperoleh pemahaman lebih mendalam mengenai konsep-konsep matematika yang dipelajari khususnya tentang luas permukaan dan volum kubus balok yang di dalamnya banyak terdapat konsep yang perlu disajikan dalam ilustrasi-ilustrasi yang memerlukan kemampuan komunikasi matematika dari peserta didik. Aktivitas yang dirancang dalam model pembelajaran ini menuntut mereka untuk belajar aktif mengembangkan pemikiran, gagasan, maupun ide matematika untuk selanjutnya mengkomunikasikannya dalam bentuk tertulis.

Pemahaman yang mendalam mengenai suatu materi menjadikan peserta didik lebih tertarik untuk melakukan penyelesaian masalah mengenai materi tersebut sehingga hasil belajar yang diharapkan dapat tercapai. Dalam penelitian ini, hal tersebut dapat ditunjukkan melalui hasil belajar aspek komunikasi matematika pada kelas eksperimen dengan analisis uji proporsi satu pihak yang menunjukkan persentase ketuntasan belajar telah melebihi ketuntasan minimum klasikal. Jadi dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan model pembelajaran CIRC dalam penelitian ini efektif untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematika karena mampu mencapai salah satu kualifikasi keefektifan yang telah ditentukan. 4.2.2 Pembahasan Hasil Uji Hipotesis II

Berdasarkan hasil uji proporsi satu pihak pada kelas kontrol diketahui bahwa proporsi hasil belajar peserta didik aspek komunikasi matematika kelas ekperimen yang memenuhi nilai ketuntasan minimum 65 lebih dari kriteria ketuntasan minimum klasikal yang ditentukan yaitu sebesar 80%. Hal ini menunjukkan pembelajaran dengan model pembelajaran konvensional juga efektif untuk

meningkatkan kemampuan komunikasi matematika peserta didik. Namun, berdasarkan uji kesamaan dua proporsi satu pihak diketahui bahwa proporsi ketuntasan belajar peserta didik dengan nilai tes komunikasi matematika memenuhi nilai

efektif karena memudahkan untuk mengefisienkan akomodasi dan sumber-sumber peralatan dan mempermudah penggunaan jadwal yang efisien. Akan tetapi, hal ini mengakibatkan pembelajaran matematika yang dilaksanakan lebih cenderung pada pencapaian target materi atau sesuai buku yang digunakan sebagai buku wajib dengan berorientasi pada soal-soal ujian nasional. Tahap perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran dengan metode ekspositori ini juga menuntut peran aktif guru yang lebih banyak daripada aktivitas peserta didik. Akibatnya, interaksi antara peserta didik dan guru sangat terbatas karena aktivitas peserta didik yang dikembangkan hanya sebatas pada kegiatan tanya jawab sehingga kemampuan yang dimiliki peserta didik salah satunya kemampuan komunikasi matematika kurang dapat dikembangkan dengan baik.

Transformasi yang sangat mendasar dalam pendidikan matematika adalah pergeseran dalam pemahaman bagaimana siswa belajar matematika. Belajar matematika tidak lagi dipandang sebagai pemberian informasi yang berupa sekumpulan teori, definisi maupun hitung menghitung yang kemudian disimpan dalam memori siswa yang diperoleh melalui praktik yang diulang-ulang melainkan membelajarkan siswa dengan memulai masalah yang sesuai dengan pengetahuan yang telah siswa miliki.

Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk melakukan perubahan dalam pembelajaran. Model pembelajaran CIRC yang dikembangkan dalam penelitian ini merupakan model pembelajaran yang memiliki komponen-komponen yang dapat membuat kegiatan belajar mengajar menjadi lebih efektif dan membuat siswa lebih kreatif, karena disini siswa bersama dengan

kelompoknya dapat mengembangkan dan bertukar pengetahuannya di dalam mempelajari suatu materi yang ditugaskan oleh guru.

NCTM (1991) mengemukakan bahwa komunikasi matematika adalah kemampuan siswa dalam hal menjelaskan suatu algoritma dan cara unik untuk memecahkan masalah, kemampuan siswa menkonstruksi dan menjelaskan sajian fenomena dunia nyata secara grafis, kata-kata/kalimat, persamaan, tabel, dan secara fisik atau kemampuan siswa memberikan dugaan tentang gambar-gambar geometri. Kegiatan pokok dalam pembelajaran CIRC mengintegrasikan kemampuan membaca, menulis, menyimak, mendengar, dan berdiskusi dalam menyelesaikan suatu masalah, sehingga sangat sesuai bila diterapkan dalam rangka peningkatan kemampuan komunikasi matematika peserta didik baik secara lisan maupun tertulis.

Dalam penelitian ini, hal tersebut ditunjukkan dengan hasil analisis data tes yang melalui uji proporsi diperoleh hasil bahwa persentase ketuntasan belajar kelas eksperimen dan kelas kontrol telah melampaui kriteria ketuntasan minimum klasikal. Selanjutnya, setelah dibandingkan melalui uji kesamaan dua proporsi diperoleh hasil bahwa proporsi ketuntasan belajar kelas eksperimen lebih baik dari proporsi ketuntasan belajar kelas kontrol meskipun ketuntasan belajar kedua kelas telah melampaui kriteria minimum klasikal sebesar 80%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC lebih efektif untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematika peserta didik dibandingkan dengan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran konvensional.

4.2.3 Pembahasan Hasil Pengamatan Pengelolaan Pembelajaran oleh Guru

Dokumen terkait