Think Pair Share (TPS) merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif.
dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya.Siswa secara rutin bekerja dalam kelompok untuk saling membantu memecahkan masalah-masalah yang kompleks(Trianto, 2010:56).
Model pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri yang membedakannya dengan model pembelajaran lainnya. Arends (dalam Trianto, 2010:65) menyatakan bahwa pelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif memilikiciri-cirisebagai berikut:
1) Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajar.
2) Kelompok dibentuk dari siswa yang mempunyai kemampuan tinggi, sedang, dan
rendah.
3) Bila memungkinkan, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang beragam.
4) Penghargaan lebih berorientasi kepada kelompok daripada individu.
Lima unsur penting dalam belajar kooperatif menurut Johnson &Johnson (dalam Trianto, 2010:60) adalah sebagai berikut:
1) Saling ketergantungan yang bersifat positif antara siswa. 2) Interaksi antara siswa yang semakin meningkat.
3) Tanggung jawab individual.
4) Keterampilan interpersonal dan kelompok kecil. 5) Proses kelompok.
Model pembelajaran kooperatif tipe TPSberkembang dari penelitian belajar kooperatif dan waktu tunggu. Model ini pertama kali dikembangkan oleh Frang Lyman dan koleganya di Universitas Maryland sesuai yang dikutip Arends (1997), menyatakan bahwa TPS merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas. Hal ini didasarkan atas asumsi bahwa semua resitasi atau diskusi
membutuhkan pengaturan untuk mengendalikan kelas secara keseluruhan, dan prosedur yang digunakan dalam TPS dapat memberi siswa lebih banyak waktu berpikir, untuk merespon, dan saling membantu (Komalasari, 2010:64).
Think Pair Share merupakan metode sederhana tetapi sangat bermanfaat.Ketika guru menyampaikan pelajaran kepada kelas, para siswa duduk berpasangan dengan timnya masing-masing.Guru memberikan pertanyaan kepada kelas. Siswa diminta utuk
memikirkan sebuah jawaban dari mereka sendiri, lalu berpasangan dengan pasangannya untuk mencapai sebuah kesepakatan terhadap jawaban. Akhirnya, guru meminta para siswa untuk berbagi jawaban yang mereka sepakati kepada seluruh kelas (Slavin, 2008:257).
Proses pelaksanaan pembelajaran TPS menurut Trianto(2010:81) dapat dijabarkan melalui langkah-langkah sebagai berikut:
1) Berpikir (thinking)
Guru mengajukan suatu pertanyaan atau masalah yang dikaitkan dengan pelajaran, dan meminta siswa menggunakan waktu beberapa menit untuk berpikir sendiri jawaban atau masalah. Siswa membutuhkan penjelasan bahwa berbicara atau mengerjakan bukan bagian berpikir.
2) Berpasangan (pairing)
Selanjutnya guru meminta siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan apa yang telah mereka peroleh.Interaksi selama waktu yang disediakan dapat menyatukan gagasan apabila suatu masalah khusus yang didentifikasi. Secara normal guru memberi waktu tidak lebih dari 4 atau 5 menit untuk berpasangan.
Pada langkah akhir, guru meminta pasangan-pasangan untuk berbagi dengan keseluruhan kelas yang telah mereka bicarakan. Hal ini efektif untuk berkeliling ruangan dari pasangan ke pasangan dan melanjutkan sampai sekitar sebagian pasangan mendapat kesempatan untuk melaporkan.
Kelebihan dan kekurangan model pembelajaran kooperatif tipe TPS menurut Lie (2005:46) adalah:
Kelebihan:
1) Meningkatkan kemandirian siswa.
2) Meningkatkan partisipasi siswa untuk menyumbangkan pemikiran karena merasa
leluasa dalam mengungkapkan pendapatnya.
3) Membentuk kelompoknya lebih mudah dan lebih cepat.
4) Melatih kecepatan berpikir siswa. Kelemahan:
1) Banyak kelompok yang melapor dan perlu dimonitor.
2) Lebih sedikit ide yang muncul.
3) Tidak ada penengah jika terjadi perselisihan dalam kelompok. C. Kemampuan Berpikir Kreatif
Belajar hakikatnya adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang (Trianto, 2010:9). Belajar juga melibatkan proses berpikir. Berpikir adalah keterampilan mental yang memadukan kecerdasan dengan pengalaman (De Bono dalam Kusumadyani, 2010:17). Sedangkan secara terminologi, kreatif berarti daya cipta (Munandar, 2004:8).
Berpikir kreatif atau berpikir divergen adalah kemampuan berdasarkan data atau informasi yang tersedia sehingga menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, dimana penekanannya adalah pada kuantitas, ketepatgunaan, dan keragaman jawaban. Semakin banyak kemungkinan jawaban yang dapat diberikan terhadap suatu masalah, maka semakin kreatiflah seseorang. Tentu saja jawaban-jawaban tersebut harus sesuai dengan masalahnya. Jadi, tidak semata-mata kuantitas namun juga kualitas jawaban (Munandar, 1985:48).
Secara operasional, kemampuan berpikir kreatif dapat dirumuskan sebagai kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan (fleksibilitas), dan orisinalitas dalam berpikir serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan, memperkaya, memperinci) suatu gagasan(Munandar, 1985:51). Sementara itu, Rose dan Malcom (dalam Nugraha, 2009:12-13) menyatakan bahwa berpikir kreatif adalah berpikir untuk menghasilkan gagasan dan produk baru, melihat suatu pola atau hubungan baru antara satu hal dan hal lainnya yang semula tidak tampak yaitu menemukan cara-cara baru untuk
mengungkapkan sesuatu hal, menggabungkan gagasan-gagasan yang ada untuk menghasilkan gagasan yang baru dan lebih baik.
Kemampuan berpikir kreatif adalah kemampuan menciptakan gagasan, mengenal kemungkinan alternatif, melihat kombinasi yang tidak diduga, memiliki keberanian untuk mencoba sesuatu yang tidak lazim, dan sebagainya (Cropley dalam Munandar, 2004:9). Ciri-ciri berpikir kreatif meliputi kelancaran, kelenturan (fleksibilitas), dan orisinalitas dalam berpikir (Guilford dalam Munandar, 2004:10).
Pola berpikir kreatif membutuhkan imajinasi dan akan membawa kepada kemungkinan jawaban atau ide-ide yang banyak, dimana sejumlah ide-ide yang banyak itu selanjutnya dianalisis untuk mendapatkan satu atau beberapa yang mungkin dapat
diimplementasikan. Pola berpikir kreatif bersifat divergen, diawali dari suatu uraian permasalahan kemudian menyebar untuk menghasilkan berbagai macam ide untuk pemecahan permasalahan tersebut atau menyediakan berbagai kemungkinan jawaban untuk masalah itu. Pada kenyataannya, pola berpikir kreatif menghasilkan ide-ide dalam jumlah banyak yang selanjutnya dapat dipilih jawaban yang paling tepat (Rawlinson, 1989:4-7).
Ada beberapa tingkatan atau stagesmenurut Walgito (2010:208-209) sampai seseorang memperoleh sesuatu hal yang baru atau pemecahan masalah dalam berpikir
kreatif.Tingkatan-tingkatan tersebut adalah:
1) Persiapan (preparation); tingkatan seseorang memformulasikan masalahdan
mengumpulkan fakta-fakta atau materi yang dipandang berguna dalam memperoleh pemecahan yang baru. Ada kemungkinan apa yang dipikirkan itu tidak segera
memperoleh pemecahannya, tetapi soal itu tidak hilang begitu saja, tetapi masih terus berlangsung dalam diri individu yang bersangkutan.Hal ini menyangkut fase atau tingkatan kedua yaitu fase inkubasi.
2) Tingkat inkubasi (incubation); berlangsungnya masalah tersebut dalam jiwa seseorangkarena individu tidak segera memperoleh pemecahan masalah.
3) Tingkat pemecahan atau iluminasi (illumination); tingkat mendapatkan pemecahan masalah.
4) Tingkat evaluasi (evaluation); mengecek apakah pemecahan yang diperoleh pada tingkat iluminasi itu cocok atau tidak. Apabila tidak cocok lalu meningkat pada tingkat berikutnya.
Secara umum karakteristik berpikir kreatif seseorang menurut Jamaris (dalam Sujiono dan Sujiono, 2010:38) yaitu:
1) Kelancaran dalam memberikan jawaban dan atau mengemukakan pendapat atau
ide-ide.
2) Kelenturan berupa kemampuan untuk mengemukakan berbagai alternatif dalam
memecahkan masalah.
3) Keaslian berupa kemampuan untuk menghasilkan berbagai ide atau karya yang asli hasil pemikiran sendiri.
4) Elaborasi berupa kemampuan untuk memperluas ide dan aspek-aspek yang mungkin
tidak terpikirkan atau terlihat oleh orang lain.
Ciri-ciri kemampuan berpikir kreatif (aptitude) meliputi berpikir lancar, luwes, orisinal, kemampuan memperinci, dan menilai. Pada tabel berikut diuraikan ciri-ciri berpikir kreatif dengan memberikan perumusan (definisi) yang menjelaskan konsepnya, serta contoh perilaku siswa yang mencerminkan ciri-ciri tersebut sebagai tuntunan bagi para pendidik (William dalam Munandar, 1985:88-90).
Tabel 1. Indikator berpikir kreatif menurut William (dalam Munandar, 1985:88-90).
No. Indikator Berpikir
Kreatif Definisi Perilaku Siswa
1. Berpikir
(fluency) penyelesaian masalah atau pertanyaan.
Memberikan banyak
cara atau saran untuk melakukan berbagai hal.
Selalu memikirkan lebih dari satu jawaban.
Menjawab dengan sejumlah jawaban jika ada pertanyaan.
Mempunyai banyak gagasan mengenai suatu masalah.
Lancar mengungkapkan gagasan-gagasannya.
Bekerja lebih cepat dan melakukan lebih banyak daripada anak-anak lain.
Dapat dengan cepat melihat kesalahan atau kekurangan pada suatu obyek atau situasi. 2. Berpikir luwes (flexibility) Menghasilkan gagasan, jawaban, atau pertanyaan yang bervariasi.
Dapat melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda-beda.
Mencari banyak
alternatif atau arah yang berbeda-beda.
Mampu mengubah cara
pendekatan atau cara pemikiran.
Memberikan aneka ragam penggunaan yang tidak lazim terhadap suatu obyek.
Memberikan macam-macam penafsiran (interpretasi) terhadap suatu gambar, cerita, atau masalah.
Menerapkan suatu konsep atau asas dengan cara yang berbeda-beda.
Memberi pertimbangan terhadap situasi yang berbeda dari yang diberikan orang lain.
Dalam
membahas/mendiskusikan suatu situasi selalu mempunyai posisi yang berbeda atau bertentangan dari mayoritas kelompok.
Jika diberikan suatu masalah biasanya memikirkan macam-macam cara yang berbeda-beda untuk menyelesaikannya.
Menggolongkan hal-hal menurut pembagian (kategori) yang berbeda-beda.
Mampu mengubah arah berpikir secara spontan. 3. Berpikir
orisinal (originality)
Mampu melahirkan ungkapan yang baru dan unik.
Memikirkan cara yang tidak lazim untuk mengungkapkan diri.
Mampu membuat kombinasi-kombinasi yang tidak lazim dari bagian-bagian atau unsur-unsur.
Memikirkan masalah- masalah atau hal-hal yang tidak pernah terpikirkan oleh orang lain.
Mempertanyakan cara-cara yang lama dan berusaha memikirkan cara-cara yang baru.
Memilih asimetri dalam menggambar atau membuat desain.
Memiliki cara berpikir yang lain dari yang lain.
Setelah membaca atau mendengar gagasan-gagasan, bekerja untuk menemukan penyelesaian yang baru.
Lebih senang mensintesis daripada menganalisa situasi. 4. Kemampuan Mampu memperkaya Mencari arti yang lebih
memerinci
(elaboration) dan mengembangkan suatu gagasan atau produk.
Menambahkan detil-detil dari suatu obyek, gagasan, atau situasi sehingga menjadi lebih menarik.
mendalam terhadap jawaban atau pemecahan masalah dengan melakukan langkah-langkah yang terperinci.
Mengembangkan atau memperkaya gagasan orang lain.
Mencoba atau menguji detil-detil untuk melihat arah yang akan ditempuh.
Mempunyai rasa keindahan yang kuat sehingga tidak puas dengan penampilan yang kosong atau sederhana.
Menambahkan garis-garis, warna-warna, dan detil-detil (bagian-bagian) terhadap gambarnya sendiri atau gambar orang lain. 5. Kemampuan menilai atau mengevaluasi (evaluation) Menentukan patokan penilaian sendiri dan menentukan apakah suatu pertanyaan benar, suatu rencana sehat, atau suatu tindakan bijaksana.
Mampu mengambil keputusan terhadap situasi yang terbuka.
Tidak hanya
mencetuskan gagasan, tetapi juga
melaksanakannya.
Memberi pertimbangan atas dasar sudut pandangnya sendiri.
Menentukan pendapat sendiri mengenai suatu hal.
Menganalisis masalah atau penyelesaian secara kritis dengan selalu menanyakan “Mengapa?”.
Mempunyai alasan yang dapat dipertanggungjawabkan untuk mencapai suatu keputusan.
Merancang suatu rencana kerja dari gagasan-gagasan yang tercetus.
Pada waktu tertentu tidak menghasilkan gagasan-gagasan tetapi menjadi peneliti atau penilai yang kritis.
Menentukan pendapat atau bertahan terhadapnya. Kemampuan berpikir kreatif sangat bermakna dalam hidup sehingga perlu dipupuk dalam diri anak didik dengan alasan menurut Munandar (2004:31-32) yaitu:
1) Dengan berkreasi orang dapat mengaktualisasikan dirinya yang merupakan kebutuhan pokok pada tingkat tertinggi dalam hidup manusia.
2) Merupakan bentuk pemikiran yang sampai saat ini masih kurang mendapat perhatian dalam pendidikan.
3) Selain bermanfaat bagi diri pribadi dan lingkungan juga memberikan kepuasan kepada individu.
4) Memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya.
Pencapaian keberhasilan pendidikan yang mengembangkan kemampuan berpikir kreatif ditopang oleh tiga komponen yang bersinergi, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Guru memegang peranan yang penting dalam memunculkan, memupuk, dan merangsang pertumbuhan kemampuan berpikir kreatif siswa (Munandar, 2004:109-116).
Perkembangan optimal dari kemampuan berpikir kreatif berhubungan erat dengan cara mengajar. Pada suasana non otoriter, ketika belajar atas prakarsa sendiri dapat
berkembang, karena guru menaruh kepercayaan terhadap kemampuan anak untuk berpikir dan berani mengemukakan gagasan baru dan ketika anak diberi kesempatan untuk bekerja sesuai dengan minat dan kebutuhannya, dalam suasana inilah kemampuan kreatif dapat tumbuh dengan subur (Munandar, 2004:12).