a. Hakikat Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share Think Pair Share dikembangkan oleh Frank Lyman et.al, dari Universitas Maryland pada tahun 1985 (Pramawati,2005). Think Pair Share berkembang dari penelitian belajar kooperatif dan waktu tunggu (Trianto, 2007). Arends (dalam Trianto, 2007) menyatakan bahwa Think Pair Share merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas. Dengan asumsi bahwa semua resitasi atau diskusi membutuhkan pengaturan untuk mengendalikan kelas secara keseluruhan, dan prosedur yang digunakan dalam Think Pair Share dapat memberi siswa lebih banyak waktu berpikir, untuk merespon dan saling membantu. Hal tersebut juga dijelaskan Pramawati (2005), bahwa Think Pair Share adalah sebuah alur diskusi dimana siswa selalu memiliki waktu lebih banyak untuk berpikir dalam merespon suatu pertanyaan. Melalui kegiatan diskusi ini, siswa diharapkan mampu saling membantu satu sama lainnya, sehingga menghasilkan efek positif terhadap peningkatan respon siswa. Guru hanya melengkapi penyajian singkat atau membaca tugas, atau situasi yang menjadi tanda tanya. Guru menginginkan siswa mempertimbangkan lebih banyak apa yang dijelaskan dan dialami.
Guru memilih menggunakan Think Pair Share untuk membandingkan tanya jawab kelompok secara keseluruhan. Dalam pembelajaran Think Pair Share, siswa secara tidak langsung dididik untuk berlatih berbicara di depan umum yaitu dengan jalan siswa mengutarakan idea tau pendapat dengan pasangannya (Kagan dalam Pramawati, 2005).
22
b. Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share Keunggulan dari Think Pair Share adalah mampu mengoptimalkan partisipasi siswa. Dengan penerapan metode klasikal hanya memungkinkan satu siswa maju dan membagikan hasilnya untuk seluruh kelas, tetapi Think Pair Share memberikan kesempatan lebih banyak kepada setiap siswa untuk dikenali dan menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain. Di samping itu Think Pair Share juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dengan orang lain. Strategi ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik (Lie dalam Pramawati, 2005). Selanjutnya dalam artikel Arif Fadholi Wahid Assyafi'I (2009), dijelaskan kekurangan dan kelebihan TPS (Think-Pair-Share) sebagai berikut :Kelebihan TPS :
1). Memberi siswa waktu lebih banyak untuk berfikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain.
2).Meningkatkan partisipasi akan cocok untuk tugas sederhana.
3). Lebih banyak kesempatan untuk konstribusi masing-masing anggota kelompok.
4). Interaksi lebih mudah.
Lebih mudah dan cepat membentuk kelompoknya.
6). Seorang siswa juga dapat belajar dari siswa lain serta saling menyampaikan idenya untuk didiskusikan sebelum disampaikan di depan kelas.
7). Dapat memperbaiki rasa percaya diri dan semua siswa diberi kesempatan
23
untuk berpartisipasi dalam kelas.
8). Siswa dapat mengembangkan keterampilan berfikir dan menjawab dalam komunikasi antara satu dengan yang lain, serta bekerja saling membantu dalam kelompok kecil.
9). Siswa secara langsung dapat memecahkan masalah, memahami suatu materi secara berkelompok dan saling membantu antara satu dengan yang lainnya, membuat kesimpulan (diskusi serta mempresentasikan di depan kelas sebagai salah satu langkah evaluasi terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.
Kelemahan TPS (Think-Pair-Share)
1). Membutuhkan koordinasi secara bersamaan dari berbagai aktivitas.
2). Membutuhkan perhatian khusus dalam penggunaan ruangan kelas.
3). Peralihan dari seluruh kelas ke kelompok kecil dapat menyita waktu pengajaran yang berharga. Untuk itu guru harus dapat membuat perencanaan yang seksama sehingga dapat meminimalkan jumlah waktu yang terbuang.
4). Banyak kelompok yang melapor dan perlu dimonitor.
5). Lebih sedikit ide yang muncul.
6). Jika ada perselisihan,tidak ada penengah.
7).Menggantungkan pada pasangan.
8). Jumlah siswa yang ganjil berdampak pada saat pembentukan kelompok, karena ada satu siswa tidak mempunyai pasangan.
9).Ketidaksesuaian antara waktu yang direncanakan dengan pelaksanaannya.
24
10).Metode pembelajaran Think-Pair-Share belum banyak diterapkan di sekolah.
c. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share di Kelas Rendah
Dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif Think Pair Share, ada tiga langkah yang harus dilaksanakan :
Strategi think pair share (TPS) atau berpikir berpasangan berbagi adalah merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa.Strategi think pair share ini berkembang dari penelitian belajar kooperatif dan waktu tunggu. Pertama kali dikembangkan oleh Frang Lyman dan Koleganya di universitas Maryland sesuai yang dikutip Arends (1997),menyatakan bahwa think pair share merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas. Dengan asumsi bahwa semua resitasi atau diskusi membutuhkan pengaturan untuk mengendalikan kelas secara keseluruhan, dan prosedur yang digunakan dalam think pair share dapat memberi siswa lebih banyak waktu berpikir, untuk merespon dan saling membantu. Guru memperkirakan hanya melengkapi penyajian singkat atau siswa membaca tugas, atau situasi yang menjadi tanda tanya . Sekarang guru menginginkan siswa mempertimbangkan lebih banyak apa yang telah dijelaskan dan dialami .Guru memilih menggunakan think-pair-share untuk membandingkan tanya jawab kelompok keseluruhan.
Guru menggunakan langkah-langkah ( fase ) berikut:
25
1. Langkah 1 : Berpikir ( thinking ) : Guru mengajukan suatu pertanyaan atau masalah yang dikaitkan dengan pelajaran, dan meminta siswa menggunakan waktu beberapa menit untuk berpikir sendiri jawaban atau masalah
2. Langkah 2 : Berpasangan ( pairing ) : Selanjutnya guru meminta siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan apa yang telah mereka peroleh.
Interaksi selama waktu yang disediakan dapat menyatukan jawaban jika suatu pertanyaan yang diajukan menyatukan gagasan apabila suatu masalah khusus yang diidentifikasi. Secara normal guru memberi waktu tidak lebih dari 4 atau 5 menit untuk berpasangan.
3. Langkah 3 : Berbagi ( sharing ) : Pada langkah akhir, guru meminta pasangan-pasangan untuk berbagi dengan keseluruhan kelas yang telah mereka bicarakan. Hal ini efektif untuk berkeliling ruangan dari pasangan ke pasangan dan melanjutkan sampai sekitar sebagian pasangan mendapat kesempatan untuk melaporkan. Arends, (1997) disadur Tjokrodihardjo, (2003).
Pada langkah akhir, guru meminta pasangan-pasangan untuk berbagi dengan keseluruhan kelas yang telah mereka bicarakan. Hal ini efektif untuk berkeliling ruangan dari pasangan ke pasangan dan melanjutkan sampai sekitar sebagian pasangan mendapat kesempatan untuk melaporkan (Arends disadur Tjokrodihardjo dalam Trianto, 2007).
26
Table 1: Langkah-langkah pelaksanaan model Think Pair Share No Langkah Jenis Kegiatan Belajar Mengajar
1.
Merumuskan tujuan pembelajara yang harus dicapai oleh siswa.
Guru membagi siswa untuk berpasangan
Guru membagikan wacana / materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan.
Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar.
Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya sementara pendengar mengoreksi / mengoreksi / menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap dan membantu mengingat / menghapal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya.
Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya.
Kesimpulan siswa bersama-sama dengan siswa
Penutup
Akhirnya dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Think Pair Share merupakan model yang dilaksanakan dengan melibatkan siswa secara langsung dan bimbingan dari guru/pengajar
27