HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
2. Paparan Data Siklus Kedua a. Tahap Perencanaan
Pada saat pembelajaran dimulai pada siklus II kegiatan guru dalam tahap perencanaan adalah sebagai berikut:
1) Peneliti akan mempersiapkan makalah untuk dipresentasekan pada saat pembelajaran masyarakat multikultural (ruwatan).
2) Mengabsen kehadiran siswa sekaligus membagi siswa menjadi beberapa kelompok
3) Memberikan refleksi dengan mengingatkan siswa tentang materi sebelumnya melalui beberapa pertanyaan
4) Menjabarkan tujuan pembelajaran pada siswa
5) Guru membagi siswa untuk berpasangan dan membagikan wacana atau materi untuk dibaca dan membuat ringskasan.
6) Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan pendengar..
7) Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkindengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya sementara pendengar menyimak dan mengoreksi ide-ide pokok yang kurang lengkap.
8) Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya.
9) Kesimpulan siswa bersama-sama dengan guru.
10) Guru memberikan kesimpulan.
55
b. Pelaksanaan Pembelajaran oleh Peneliti pada Siklus II Pada Siklus II berdasarkan observasi diperoleh bahwa:
Pertemuan ke-1
Dari jumlah total 30 orang siswa, yang hadir pada pertemuan ini sekitar 29 orang siswa. Dalam kegiatan awal guru memberikan apresiasi dan motivasi kepada siswa cukup baik, ini diliat dari siswa yang memperhatikan guru. Siswa yang menyimak arahan dan penjelasan guru sekitar 27 orang dari total siswa yang hadir pada saat itu, siswa yang melakukan aktivitas negatif selama proses pembelajaran (main-main, ribut, dll) berjumlah 3 orang. Siswa yang aktif dalam pembelajaran 27 orang, pada saat mempresentasekan materi dan berbicara di depan kelas dengan benar sekitar 10 orang, dan yang mengajukan tanggapan berjumlah 13 orang, dari pertemuan pertama ini jumlah siswa yang butuh bimbingan guru berjumlah 3 orang, dan yang masih pasif sekitar 3 orang.
Pertemuan Ke -2
Pada pertemuan ke 2 dari jumlah total 30 orang siswa, sekitar 29 siswa hadir pada pertemuan ini. Ketua kelas menyiapkan kelas dan guru melakukan pengecekan siswa dengan mengabsen. Kemudian guru memberikan apresiasi dan motivasi kepada siswa cukup baik, ini dilihat dari siswa yang memperhatikan guru. Siswa yang menyimak arahan dan penjelasan guru sekitar 28 orang dari total siswa yang hadir pada saat itu, siswa yang melakukan aktivitas negatif selama proses pembelajaran (main-main, ribut, dll) 1 orang siswa. Siswa yang aktif dalam
56
pembelajaran 28 orang, pada saat mempresentasekan materi dan berbicara di depan kelas dengan benar sekitar 10 orang, dan yang mengajukan tanggapan berjumlah 14 orang, dari pertemuan pertama ini jumlah siswa yang butuh bimbingan guru berjumlah 1 orang, dan yang masih pasif 1 orang.
Pertemuan Ke - 3
Dari jumlah total 30 orang siswa, semua siswa hadir pada pertemuan ini.
kegiatan awal guru memberikan apresiasi dan motivasi kepada siswa cukup baik, ini dilihat dari siswa yang memperhatikan guru. 29 orang siswa menyimak arahan dan penjelasan guru pada saat itu, siswa yang melakukan aktivitas negatif selama proses pembelajaran (main-main, ribut, dll) sudah tidak ada lagi. Siswa yang aktif dalam pembelajaran 30 orang, pada saat mempresentasekan materi dan berbicara di depan kelas dengan benar sekitar 10 orang, dan yang mengajukan tanggapan berjumlah 15 orang, dari pertemuan pertama ini jumlah siswa yang butuh bimbingan guru berjumlah sudah tidak ada lagi, dan yang masih pasif sudah tidak ada.
Pertemuan Ke - 4
Pada pertemuan kali ini dilaksanakan evaluasi siklus ke-II.
Pelaksanaan tindakan siklus II sebagai perbaikan dari pelaksanaan dari siklus I memberikan dampak yang positif terhadap aktivitas siswa, secara umum hasilnya semakin sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini dapat dilihat dari kemampuan setiap siswa untuk menjawab pertanyaan yang diberikan. Siswa juga telah dapat menyelesaikan tugasnya sesuai dengan waktu yang ditentukan, serta
57
mereka tidak canggung lagi dalam menjawab pertanyaan, selain itu perhatian dan motivasi siswa semakin meningkat, hal ini menandakan bahwa ada kesungguhan siswa untuk belajar. Peningkatan hasil belajar sosiologi siswa pada siklus II menunjukkan peningkatan dari siklus I yaitu sudah banyak siswa yang memperoleh nilai dengan kategori yang cukup tinggi dan siswa yang berada pada kategori sedang sudah kurang. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar kendala yang dihadapi pada siklus I dapat teratasi meski masih terjadi pada siklus II
Hal ini dapat dilihat dalam kegiatan penutup peneliti berada dalam kategori sangat baik dalam membimbing siswa untuk memahami pembelajaran dan menghubungkannya dengan pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya serta membuat rangkuman jawaban mengenai pertanyaan yang diajukan.
c. Aktivitas Belajar Siswa
Deskripsi hasil observasi aktivitas siswa selama proses belajar selama proses belajar berlangsung sebagai berikut:
Aktivitas Siswa Selama Proses Pembelajaran Berlangsung pada Siklus II.
58
Siswa yang melakukan kegiatan lain pada saat pembahasan materi berupa kesimpulan dari materi yang diajarkan.
23 25 27 25 83,33
7 Siswa yang masih butuh bimbingan 4 3 1 2,66 8,89
8 Siswa yang masih pasif 4 2 1 2,33 7,78
Tabel 2.4 di atas, diperoleh data bahwa siklus II dari 30 orang siswa, siswa yang hadir pada saat kegiatan pembelajaran sebanyak 97,76%. Siswa yang menyimak penjelasan guru atau pengarahan guru 93,33%. Siswa yang melakukan aktivitas negativ selama proses pembelajaran (ribut, main-main, dll) mencapai 6,66%. Siswa yang aktif dalam pembelajaran 90%. Siswa yang mempresentasekan materi diskusi dan berbicara dengan benar di depan kelas mencapai 83,33%. Siswa yang mengajukan tanggapan mencapai 46,66%. Siswa
59
yang masih perlu bimbinga mencapai 8,89% dan yang masih pasif dalam pembelajaran mencapai 7,78%. Pada siklus ini dilaksanakan hasil tes belajar yang berbentuk ulangan harian setelah selesai penyajian materi untuk siklus II. Adapun hasil analisis skor hasil belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share dapat dilihat pada table 2.5 berikut:
Table 2.5 Statistik Skor Hasil Tes Siswa pada Siklus II
Statistik Nilai statistic
Objek 30
Skor Ideal 100
Skor Rata-rata 87,46
SkorTertinggi 93
SkorTerendah 80
RentangSkor 13
Standardeviasi
Dari tabel 2.5 di atas, menunjukkan bahwa skor rata-rata hasil belajar sosiologi setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share pada siswa kelas XII SMA NEGERI 1 MANGKUTANA adalah 87,46 dari skor ideal yang mungkin dicapai adalah 100. Sedangkan secara individual skor yang dicapai siswa pada penerapan ini tersebar dengan skor tertinggi 93 dan skor terendah 80 dari skor tertinggi yang mungkin dicapai 100 dan skor terendah yang mungkin dicapai 0, dengan rentang skor 13.
d. Hasil Belajar Siswa
Data hasil belajar siswa siklus II diperoleh melalui ulangan harian yang dilaksanakan setelah tiga kali pertemuan belajar mengajar. Adapun distribusi,
60
frekuensi dan presentase hasil belajar sosiologi siswa dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel 2.6 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Siklus II Interval Skor Kategori Frekuensi Persentase
(%)
0-34 Sangat rendah 0 0
35-54 Rendah 1 3,33
55-69 Sedang 0 0
70-84 Tinggi 3 10
85-100 Sangat tinggi 26 86,66
Jumlah 30 100
Berdasarkan tabel 2.6 di atas, dapat dikemukakan bahwa pada siklus II ini menunjukkan bahwa dari 30 siswa kelas XI SMA Negeri 1 Mangkutana, 1 orang atau 3,33% yang tingkat hasil belajarnya berada pada kategori sangat rendah dan rendah, 3 orang atau 10% nilainya berada pada kategori tinggi, dan 26 orang atau 86,66% nilainya berada pada kategori sangat tinggi. Hasil observasi mengenai aktivitas siswa menunjukkan adanya peningkatan dari siklus I ke siklus II menjadi lebih baik.
Untuk melihat presentase ketuntasan belajar siswa kelas XI SMA Negeri 1 Mangkutana setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share pada siklus I dan siklus II dapat di lihat pada tabel 2.7 berikut:
61
Tabel 2.7 Deskripsi Ketuntasan Hasil Belajar Sosiologi Siswa
No Siklus peningkatan hasil belajar sosiologi melalui model pembelajaran Kooperatif tipe think pair share siswa kelas XI SMA Negeri 1 Mangkutana dari siklus I yang
tuntas 27 siswa atau 56,25% dengan nilai rata-rata hasil yang di peroleh sebesar 75,62 dan pada siklus II meningkat 29 orang siswa atau 96,66% dengan nilai rata-rata sebesar 87,46
Hal ini juga sempat diamati oleh peneliti pada siklus II ini adalah suasana belajar dan rasa kebersamaan yang tumbuh dan berkembang diantara anggota kelompok memungkinkan siswa untuk mengerti dan memahami materi pelajaran dengan lebih baik, dan siswa yang kurang bergairah dalam belajar akan dibantu oleh siswa lain yang mempunyai gairah belajar lebih tinggi dan memiliki kemampuan untuk menerapkan apa yang telah dipelajarinya. Jadi, data ini memperkuat data sebelumnya, yakni terjadinya peningkatan jumlah siswa yang mampu mengerjakan tugas dengan anggota kelompoknya masing-masing.
Peningkatan baik keaktifan, kehadiran maupun hasil belajar siswa pada siklus II, terjadi setelah diadakan perbaikan yang dianggap tidak terlaksana secara maksimal pada siklus sebelumnya yang diperoleh pada hasil observasi selama proses pembelajaran berlangsung.
62
Dari uraian di atas dapat disimpulkan pada siklus II pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share berjalan lebih baik lagi dibandingkan dengan siklus sebelumnya, ini menunjukkan bahwa perubahan sikap dari siklus I ke siklus II selalu mengarah pada ha-hal yang telah direncanakan sesuai dengan langkah-langkah yang telah disiapkan pada prosedur penelitian.
e. Hasil Refleksi Siklus II
Berdasarkan hasil observasi, pelaksanaan tindakan pada siklus II dapat dipaparkan pada perubahan-perubahan sikap terjadi dalam realisasi tindakan tehadap proses aktivitas belajar dikelas dalam kegiatan berlangsung. Sikap siswa sudah menunjukkan antusias dalam mengikuti pelajaran bahkan sebagian siswa senang melakukan diskusi kelompok karena dapat menambahkan informasi dan siswa lebih mampu memahami materi dan cenderung belajarnya akan lebih baik apabila didukung oleh lingkungan belajar yang menarik.
Frekuensi kehadiran siswa selama mengikuti proses belajar mengajar sampai akhir pertemuan siklus II menggambarkan bahwa minat dan motivasi belajar siswa mengalami peningkatan, keberanian untuk mengajukan pertanyaan terhadap hal-hal yang kurang dimengerti sudah merata bukan hanya pada golongan siswa yang mempunyai hasil belajar yang baik melainkan siswa yang selama ini diam memperlihatkan keberanian untuk bertanya dan menjawab pertanyaan.
63
B. Pembahasan
Sahabudin (2007). Belajar merupakan suatu proses atau interaksi yang dilakukan seseorang dalam memperoleh suatu yang baru dalam bentuk perubahan perilaku sebagai hasil pengalaman itu sendiri. Pada kegiatan pmbelajaran di sekolah, terdapat dua subyek, yaitu guru sebagai pihak yang mengajar dan siswa sebagai pihak yang belajar. Hal ini mengklasifikasikan bahwa dalam proses pembelajaran di sekolah dibutuhkan interaksi antara guru dan siswa yang didasari oleh hubungan yang bersifat mendidik dalam rangka pencapai tujuan. Dengan demikian, guru harus mampu menciptakan situasi yang dapat menunjang perkembangan belajar siswa. Oleh karena itu, guru dituntut untuk mampu memilih dan menggunakan proses pembelajaran yang tepat dan dapat mengaktifkan siswa dalam kegiatan belajar mengajar.
Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa sosiologi siswa kelas XI SMA Negeri I Mangkutana Kabupaten Luwu Timur yang diajar dengan menggunakan model kooperatif tipe think pair share
Rendahnya aktivitas hasil belajar siswa pada siklus I disebabkan karena pada siklus I ini, siswa masih belum dapat beradaptasi dengan suasana kelas dan metode pembelajaran yang digunakan. Siswa pada umumnya masih terpengaruh dengan metode pembelajaran yang lebih berpusat kepada guru dan keaktifan siswa didominasi oleh siswa yang pintar saja. Sedangkan pada siklus II telah terlihat adanya peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa. Meningkatnya
64
aktivitas dan hasil belajar siswa disebabkan pada siklus II ini sudah mampu beradaptasi dengan perubahan suasana kelas dan telah memahami metode pembelajaran yang telah diterapkan. Selain itu, interaksi antara siswa pada saat diskusi sudah sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini disebabkan karena siswa sudah mulai biasa dan berani mengeluarkan pendapatnya dengan dasar argumentasi yang kuat dan akurat.
Berbagai faktor dapat menentukan hasil belajar siswa, salah satu faktor yang memiliki peran yang cukup penting adalah memotivasi dan minat siswa dalam mngikuti proses pembelajaran. Sesuai dengan pernyataan Sadirman (1992) bahwa hasil belajar akan menjadi optimal kalau ada motivasi. Makin tepat motivasi yang diberikan,akan lebih berhasil pula hasil belajar. Jadi motivasi akan senantiasa menentukan intensitas usaha belajar bagi siswa.
Usaha meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa sangatlah tidak mudah lagi kemampuan siswa yang berbeda-beda dalam memahami materi pembelajaran sosiologi. Selain itu proses penggunaan proses pembelajaan juga sangat berpengaruh proses pembelajaran yang diterapkan guru adalah salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dalam berprestasi pembelajaran. Pemilihan model pembelajaran yang tidak dapat menurunkan motivasi dan minat belajar siswa sehingga tujuan pembelajaran tidak tercapai secara optimal, ini sesuai pernyataan Sadirman (2010) seseorang itu akan berhasil dalam belajar kalau pada dirinya sendiri ada keinginan untuk belajar. Sebab tanpa motivasi (tidak mengerti apa yang akan dipelajari dan tidak memahami mengapa hal itu perlu dipelajari) kegiatam belajar mengajar sulit untuk berhasil.
65