BAB II TINJAUAN PUSTAKA
C. Pemberdayaan
6. Model Pemberdayaan Usaha Mikro
Dalam hal pemberdayaan, Rasulullah pernah memberikan teladan yang sangat mengesankan. Keteladanan tersebut menjadi semakin indah kalau disadari bahwa beliau melakukannya dengan dua cara112. Pertama pemberdayaan diri sendiri. Teladan pemberdayaan diri sendiri itu dijalani beliau sebelum diangkat menjadi Rasul sebab beliau telah menjadi pedangang yang terpercaya (amanah) dan berhasil dalam menjalankan usaha perdagangannya sejak belia. Aktifitas dagang muhammad sebelum mendapat mandat sebagai Rasul Allah diduga keras merupakan penyengajaan (deliberasi) dari Allah bahwa pemberdayaan itu bukanlah semata-mata karena keberuntungan, karena faktor langit akan tetapi juga karena faktor-faktor manusia. Rasululullah memberikan teladan pemberdayaan diri itu dengan mempraktekkanya melalui tangannya sendiri. Hal itu terlihat dari aktifitas beliau sebagai pengembala kambing sebagaimana para nabi sebelumnya.
Kedua pemberdayaan masyarakat yang lemah. Hal tersebut
dilakukan oleh Rasululllah secara langsung menyentuh tradisi masyarakatnya, sehingga tidak terlalu sulit memberi pelatihan bagi mereka yang menekuninya. Dalam pemberdayaan berdasarkan tradisi masyarakat, Rasulullah memberikan bimbingan langsung kepada masyarakat bagaimana cara terbaik membibitkan dan menanam kurma. Pada saat yang sama beliau menuntun ummat agar terus menanam hingga akhir hayatnya. Beliau bersabda “seandainya kiamat telah bangkit dan salah seorang diantara kalian ada yang menggengam benih ditangannya, maka hendaklan ia tetap menyemaikannya (HR. Imam Ahmad).
Olehkarenanya pemberdayaan fakir miskin merupakan kongkritisasi keimana dalam kehidupan merupakan fardhu „ain, kewajiban seluruh individu sesuai dengan kemampuannya. Tanggungjawab pemberdayaan belum terpenuhi bila hanya sebagian orang beriman yang melakukannya, tetapi semua orang beriman tanpa terkecuali harus terus berusaha mengentaskan kemiskinan yang diderita oleh sebagian mereka. Sebab bila
112
ummat beragama tidak berhasil mengentaskan kemiskinan maka akan terjadi kekacauan yang dahsyat didunia termasuk konflik sosial dan konflik antar ummat beragama113.
Dalam perkembangannya dewasa ini, project pemberdayaan masayarakat lemah sudah menjadi trademark bagi negara-negara berkembang dalam rangka untuk mengentaskan kemiskinan. Meskipun model pemberdayaan yang dilakukan dibelahan dunia ini hampir selalu terkait dengan kegiatan enterpreneruship, namun ada juga yang terkait dengan sosial-politik114. Model pemberdayaan yang terkait dengan ekonomi misalnya dilakukan di India. Di India model pengembangan pada akar rumput dikenal dengan project ASHA. Project ASHA merupakan project pengembangan akar rumput Internasional untuk fakir dan miskin (poor and
needy). Project ASHA ini bisa terselenggara atas kerjasama dengan para
sponsor project (individu, pemerintah maupun organisasi internasional serta pihak swasta) , dimana perserta tidak diambil bayaran akan tetapi mereka tidak dilibatkan didalam proses pengambilan keputusan secara kolektif, mereka memutuskan sendiri-sendiri115.
Pengembangan sektor usaha mikro bagi kaum duafa juga dilakukan di Malaysia dengan nama Amanah Ikhtiar Malaysia (AIM). Pendanaan AIM berasal dari pemerintahan Malaysia secara tahunan. AIM fokus dalam pendanaan usaha mikro untuk kaum fakir dan miskin (poor and needy) dengan bebas bunga, harapannya agar usaha mikro para fakir dan miskin tersebut bisa berkembang dengan baik116.
Model pemberdayaan masyarakat miskin juga dikembang Bangladesh dengan nama Women Sewing Project (WSP). WSP ini dikembangkan oleh para akademi dan praktisi di Banglades sebagai salah satu upaya untuk membantu para orang-orang miskin di pedesaan didalam mengembangkan potensi yang dimiliki. WSP ini melakukan pelatihan dan
113
Syahrin Harahap, ibid 114
Haya Al-Dajani and Susan Marlow, Empowerment and Enterpreneurship : A Teoritical Framework, International Journal of Enterpreneurial Behaviour and Reserach, Vo.19, No.5, 2013, pp.503-524, Emerald Groups Publishing Limited.
115
Masudul Alam Choudury, et al, A Well-being Model Small Scale Microenterprise Development to Alleviate Poverty, A Case Study of Bangladesh Village, International Journal of Sociology and Social
Policy, Vo.28, No.11/12, 2008, pp.485 – 501, Emerald Groups Publishing Limited.
116
pengembangan sumberdaya manusia. Selama mereka mengikuti pelatihan mereka digaji dan gaji mereka berasal dari dana Zakat dan Sedekah. Materi pelatihan yang mereka dapatkan berupa management skills yang berkaitan dengan usaha pengembangan bisnis mikro yang akan mereka geluti. Kegiatan pelatihan ini dilakukan secara berkelompok khususnya kaum wanita, alumni dari sini juga diharapkan bisa menjadi pelatih dikemudian hari yang akan mengawasi jalannya program.
Selain dari dana zakat dan sedekah, pendanaan WSP ini juga berasal dari donor internasional. Program WSP ini cukup berhasil karena bisa mengurangi tingkat kemiskinan di desa yang menjadi target operasi. Supaya model yang dikembangkan oleh WSP ini berkelanjutan dalam hal pendanaan, maka diperlukan sebuah model pengelolaannya yang disebut dengan model circular causation . Model tersebut dikembangkan oleh Choudury dkk, dimana model yang dikembangkan tersebut melibatkan empat variabel yaitu zakat/sedekah (ZS), Trade (T), Spending in good thing
of life (S) dan Interest free financial (P).
Gambar 7. Circular Causation Model
Sumber : Choudury dkk, 2008117
117
Selain model circular causation, ada juga model dalam mengentaskan kemiskinan yang dikembangkan oleh Raimi dkk. Model tersebut dinamakan dengan Faith-Based Model (FBM). Konsep FBM yang menggabungkan tiga konsep sosial sekaligus yakni CSR, Wakaf dan Zakat. Konsep ini ketika diimplementasikan, maka dengan akan cepat mengurangi kemiskinan, mengembangkan usaha dan pemberdayaan ekonomi.
Gambar 8. Faith-Based Model
Sumber : Raimi dkk, 2014118
Hal senada disampaikan oleh Amuda, bahwa pemberdayaan masyarakat miskin akan bisa dilaksanakan dengan suskes jika menggabungkan beberapa instrumen sosial seperti zakat, sedekah, wakaf dan dana publik. Dana-dana tersebut akan bisa membantu para kaum fakir dan miskin untuk mendapatkan modal dan bisa memulai usahanya119.
Ashraf dan Hassan mengatakan bahwa untuk memberantas kemiskinan di negara-negara muslim, perlu adanya upaya yang terintergrasi sehingga akan menghasilkan hasil yang maksimum. Model pemberantasan kemiskinan menurut beliau adalah mengintegrasikan berbagai pendanaan seperti zakat, wakaf dan sumber pendanaan lainnya yang memungkinkan untuk diintegrasikan kedalam suatu model yang selanjutnya nanti akan
118
Lukman Raimi et. al, Corporate Social Responsibility, Waqf System, Zakat System as Faith Based Model for Poverty Reduction, World Journal of Enterpreneurship, Management and Sustainable
Development, Vo. 10, No.3, 2014, pp.228-242., Emerald Groups Publishing Limited.
119 Jusuff Jelili Amuda, Empowerment of Nigerian Muslim Household Through Zakat, Waqf,
disalurkan kepada para kaum fakir dan msikin dalam bentuk pemberian modal untk menciptakan usaha baru120. Berikut framework dan operasional model yang dikembangkan :
Gambar 9. Framework dan Operational Model Pengentasan Kemiskinan
Sumber : Ashraf dan Hasan, 2013.
120
Ali Ashraf dan M. Kabir Hassan, Chapter 14. An Integrated Islamic Poverty Allevaition Model.
Part of Contemporary of Islamic Finance, Edited by Karen Hunt-Ahmed, (New York : John Wiley & Sons,
Sementara itu, model pengentasan kemiskinan melalui pemberdayaan masyarakat miskin melalui penyaluran kredit usaha mikro juga dikembangkan di Eropa. Dalam mengembangkan usaha mikro tersebut, ada tiga langkah yang mereka integrasikan untuk mengurangi kemiskinan sebagimana terlihat pada gambar 10 dibawah ini :
Gambar 10. Framework Pengentasan Kemiskinan Di Eropa
Sumber : Mollah dan Uddin, 2013121.
Pada tahap pertama, fakir miskin diberikan makanan untuk memenuhi kebuthan hidupnya dari dana zakat, lalu kemudian mereka diberikan pelatihan dalam rangka untuk meningkatkan keahlian mereka. Peningkatan keahlian para mustahik ini penting dilakukan sebagai upaya untuk memberikan bekal bagi mustahik yang akan dilakukan pemberdayaan sehingga mereka siap untuk diberdayakan. Biaya untuk mengadakan pelatihan bagi fakir miskin juga berasal dari dana zakat. Pada level kedua, mereka sudah mulai diberikan ide untuk mengembangkan usaha yang didanai dari dana wakaf, sedekah dan juga donasi dengan skema akad
121
Sabur Mollah and H. Hamid Uddin, Chapter 15. How Does an Islamic Microfinance Model Play
the Key Role in Poverty Alleviation ? The Europe Perspective. Part of Contemporary of Islamic Finance,
berupa qardul hasan. Pada tahap ini mereka juga diberikan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan keahlian mereka. Pada tahap ketiga mereka sudah diperkenanlan dengan lembaga keuangan Islam. Pengenalan dengan lembaga keuangan Islam ini dilakukan dalam rangka untuk mengembangkan usaha yang sudah mereka rintis sebelumnya. Pada tahap ketiga ini, para mustahik sudah diperlakukan sebagai nasabah oleh lembaga keuangan Islam dengan skema akad mudhorabah.