BAB VII HIMNE HMI
PENGELOLAAN MODEL PENDIDIKAN
D. Model Pendidikan Pelatihan Khusus 1. Pendidikan Pelatihan Pengader
a. Tujuan
Model pendidikan pelatihan pengader diorientasikan pada pengembangan integritas pribadi pengader secara menyeluruh sehingga mampu menjadi pengader yang memiliki kualifikasi pendidik, pemimpin, dan pejuang.
b. Bentuk
Model pendidikan pelatihan pengader ini meliputi dua model, yaitu latihan dan kajian. Latihan merupakan bentuk pengelolaan pendidikan pelatihan pengader yang menekankan pada penggalian kompetensi pengader dengan memberikan prinsip dasar pengajaran, tuntutan rohani, dan pengelolaan kelas. Sedangkan, kajian merupakan pendidikan pelatihan pengader yang lebih mengembangkan kompetensi kepengaderan.
1. Latihan Kursus Pengader (Senior Course) 1. Pengertian
Latihan Kursus Pengader (Senior Course) adalah proses pembinaan dan pengembangan kompetensi kader dengan menggunakan sistem kelas (kelompok) dan mekanisme tertentu. Latihan Kursus Pengader (Senior Course) merupakan media formal untuk menjadi anggota Korps Pengader HMI.
2. Tujuan
Tujuan kurikuler Latihan Kursus Pengader (Senior Course) untuk memberi motivasi dan landasan serta menggali kompetensi pengader, sehingga mampu memahami prinsip dasar pengajaran, peningkatan kualitas rohani, dan mempunyai kemampuan pengelolaan kelas sebagai modal pengabdian dalam upaya pencapaian tujuan HMI.
3. Materi
Klasifikasi materi dalam Latihan Kursus Pengader (Senior Course) adalah:
a) Gambaran Teoritis tentang belajar-mengajar orang dewasa:
Filsafat pendidikan
Metode latihan
Manajemen proses latihan
Psikologi kepemimpinan
Interaksi alternatif dalam pelatihan
Teknik pembuatan kurikulum b) Kerangka Dasar Latihan Kader HMI
Telaah kritis Khittah Perjuangan HMI
Telaah kritis Pedoman Perkaderan HMI
Sosialisasi Pedoman Pengader HMI c) Program satuan materi Latihan Kader HMI
Perkenalan dan Perkenalan dan Pencairan Suasana
Pelacakan Persepsi dan Kontrak Belajar
Sosialisasi Juklak LK I HMI
Paket Keterampilan
Teknik Pelaksanaan Evaluasi Latihan 4. Pelaksanaan
Pelaksanaan latihan kursus pengader (senior course) atau SC dilakukan oleh Korps Pengader di tingkat cabang, minimal sekali dalam satu periode kepengurusan. Elemen pelaksananya:
a) Panitia sebagai penyelenggara teknis adalah dari cabang yang ditetapkan oleh Pengurus Cabang.
b) Pemandu ditugaskan Korps Pengader untuk menentukan tema, pemateri dan menseleksi peserta serta mengelola forum SC. Pemandu SC adalah kader HMI yang telah menjadi pengader HMI dan lulus SC. Peran pemandu dalam SC hanya sebagai fasilitator. Sehingga peran peserta mendapat porsi yang lebih besar dalam pengelolaan forum.
c) Pemateri dalam SC merupakan pihak-pihak yang kompeten dalam penyampaian materi baik itu dari kader HMI maupun dari luar HMI.
Kecuali materi-materi khusus pengader, diwajibkan yang telah menjadi pengader HMI.
d) Peserta merupakan kader HMI yang telah lulus LK II dan telah lulus dalam proses seleksi peserta SC oleh tim pemandu SC.
e) Korps Pemandu di tingkat cabang merupakan penanggungjawab dari pelaksanaan SC secara kualitas maupun kuantitas.
2. Kajian Pengader 1. Pengertian
Kajian Pengader adalah pendidikan pelatihan pengader yang memberikan pengembangan terkait wawasan kepengaderan, serta peningkatan kemampuan teknis terkait tugas-tugas kepengaderan.
2. Tujuan
Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan pengembangan dan peningkatan kapasitas dan kompetensi kepengaderan seorang pengader yang telah digali dalam latihan kursus pengader (senior course)..
3. Materi
a) Kajian isu-Isu Seputar Perkaderan HMI
b) Kajian Teori-Teori Kontemporer tentang Pendidikan c) Kajian Psikologi
4. Pelaksanaan
Kajian pengader lebih ditekankan kepada para pengader untuk menguasai dan memperdalam spesifikasi bidang keilmuan tertentu, yang telah digali dalam latihan kursus pengader (senior course). Pelaksanaan kajian pengader dilakukan oleh Korps Pengader di tingkat cabang.
c. Administrasi
Administrasi yang dipersiapkan sama dengan administrasi Latihan Kader II namun disesuaikan dengan bentuk dan kepentingan pendidikan pelatihan pengader.
d. Evaluasi
Peserta, Evaluasi Pemandu dan Panitia serta Bentuk Kegiatan
Panitia, meliputi Evaluasi Pemandu dan Pengurus
Tim Pemandu, evaluasi peserta
Pengurus evaluasi kualitas pemandu dan peserta
e. Hal-hal lainnya diatur khusus dalam Pedoman-Pedoman Pengader 2. Pendidikan Pelatihan KOHATI
Pendidikan formal dalam Pola Pembinaan KOHATI diartikan sebagai suatu pembinaan dengan model pendidikan yang menggunakan sistem kelas. Model formal terbagi atas 3 yaitu Penataran KOHATI dan Study Intensif Muslimah.
a. Tujuan
Tujuan Penataran
Tujuan penataran KOHATI adalah terbinanya kader KOHATI yang memiliki komitmen kekaderan dan kelembagaan dalam menjalankan fungsinya.
Tujuan Study Intensif Muslimah
Tujuan Study Intensif Muslimah I adalah terbinanya dan terbentukna pola sikap dan pola perilaku kader KOHATI yang sadar akan fitrahnya sebagai seorang muslimah.
b. Materi
Materi pendidikan pelatihan KOHATI dimaksudkan sebagai rumusan bahasan yang dibutuhkan untuk membina anggota, melalui seperangkat bahan atau bekal pendidikan, penelitian, keterampilam berorganisasi dan disiplin diri. Secara garis besar satuan arahan pendidikan dirumuskan sebagai berikut:
Materi Penataran
Klasifikasi materi dalam Penataran KOHATI adalah:
1. Falsafah Penciptaan Perempuan
2. Perempuan dalam Pandangan Barat dan Islam
3. Perempuan dalam Lingkungan Hegemoni Budaya dan Media 4. Kohati Masa Lalu, Masa Kini dan Masa Depan
5. PDK, PRT, dan Pola Pembinaan 6. Citra Diri HMI-WATI
7. Keorganisasian KOHATI
Materi Studi Intensif Muslimah
Klasifikasi materi dalam Studi Intensif Muslimah adalah:
1. Aliran-Aliran Feminisme Islam 2. Dinamika Politik Perempuan
3. Konsep Mar'atussolehah: Telaah Normatif dan Sosiologis
4. Kedudukan Perempuan dalam Islam: Telaah Kritis Peran Perempuan Sebagai Anak, Istri dan Ibu
5. Rekonstruksi Peran Perempuan: Studi Komparatif Hukum, Ekonomi dan Sosio- cultural
6. Studi Kritis Problematika Perempuan Islam dan Implementasi Mar'atussholehah
7. Strategi Dakwah KOHATI 8. Studi Lapangan
c. Metode
Metode yang digunakan dala hal ini adalah sebagain upaya untuk merangsang inisiatif dan daya kreatifitas agar tercipta suasana kritis, cerdas, dan dialogis terarah.
d. Pendekatan
Pendekatan yang dilakukan selama pelatihan antara pemandu dengan peserta dapat dilakukan dengan mengguinakan pendekatan persuasif yaitu melakukan hubungan atau pendekatan melalui:
Ta’aruf (saling mengenal)
Pendekatan ini dimaksudkan agar antara peserta dengan pemandu saling mengenal sehingga terjalin komunikasi yang akrab.
Tafahum (saling bersefaham)
Pendekatan ini dimaksudkan agar antara peserta dan pemandu saling memahami kelebihan dan kelemahan masing-masing dengan berusaha memulai dari diri sendiri untuk bersikap introspeksi akan kekurangan, kesalahan atau kekhilafan masing- masing disamping upaya menumbuhkan suasana saling mengingatkan.
Ta’awun (saling menolong)
Pendekatan ini dimaksudkan agar terjalin sikap menolong dalam hal kebaikan dan kebenaran antara peserta dan pemandu.
Takaful (saling berkesinambungan)
Pendekatan ini dimaksudkan agar terjalin kesinambungan rasa dan rasio/intuisi serta kesamaan ide/pemikiran ke dalam hubungan suasana yang kondusif antara peserta dan pemandu.
e. Sistem Evaluasi
Evaluasi pelatihan ini dimaksudkan sebagai cara atau tindakan yang dilakukan untuk melihat ataui menilai sejauh mana keberhasilan latihan. Secara teknis pelaksanaan evaluasi biasanya dapat dilakukan dengan tes yang bersifat objektif dan subjektif yang dilakukan pada saat berlangsungnya pelatihan maupun setelah pelatihan. Teknik pelaksanaan evaluasi bersifat objektif berupa:
Tes tertulis
Tes lisan
Penugasan
Pembuatan resume
Pembuatan makalah
dan lain-lain.
Sedangkan yang bersifat subjektif adalah pemandu latihan (SC) dapat menyiapkan bentuk penilaian keaktifan peserta dari beberapa aspek antara lain:
Kedisiplinan
Sikap
Aktifitas dan lain-lain.
f. Hal-hal lainnya diatur Khusus dalam Pedoman-Pedoman KOHATI
E. Pendidikan Pelatihan Soft Skill