• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA

5.2 Model Penduga Biomas dan Karbon Tanaman Jat

5.2.7 Model Penduga Biomas Bagian Bunga

Bunga merupakan pucuk vegetatif yang termodifikasi dan sebagai kumpulan bagian steril dan fertil yang terdapat pada sumbu dan disebut dasar bunga. Sedangkan biji merupakan tempat terjadinya awal perkembangan sporofit baru dalam bentuk embrio sehingga memegang peranan utama dalam kesinambungan generasi tumbuhan berbiji. Biji akan menyimpan makanan dalam endosperm. Bahan makanan yang disimpan dalam biji adalah karbohidrat, protein, dan lipida. Karbohidrat dalam biji dibentuk sebagai butir tunggal atau majemuk dalam amiloplas.

Hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa dalam satu satuan biomas sampel bunga pohon jati mengandung C-organik sebesar 46.83 % dengan kadar air sebesar 7.08 %.

Hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa sebanyak 0.40 % biomas pohon jati berdiameter lebih dari 19.1 cm di hutan rakyat Desa Dengok terdapat di bagian bunga. Persamaan alometrik yang berhasil dibangun untuk menduga kandungan karbon bunga pohon jati di hutan rakyat Desa Dengok disajikan pada Tabel 13.

Persamaan alometrik yang berhasil dibangun dari semua variabel bebas yang diterapkan tidak dapat menghasilkan koefisien determinasi yang tinggi. Koefisien determinasi yang diperoleh di bawah 20 % sehingga semua persamaan alometrik yang telah dibangun tidak dapat digunakan untuk pend ugaan biomas bunga pohon jati. Tidak ada korelasi yang nyata antara diameter, tinggi total, tinggi bebas cabang, ataupun volume pohon dengan biomas bunga. Dari lima persamaan alometrik yang telah dibangun, nilai koefisien determinasi tertinggi hanya 0.1972 yang diperoleh pada persamaan W = 43.621V2-25.183V+5.3838 untuk lebih jelasnya lihat Gambar 24. Potensi bunga disajikan pada Gambar 25.

Tabel 13. Persamaan Alometrik untuk Pendugaan Biomas Bagian Bunga Pohon Jati pada Beberapa Penerapan Variabel Bebas

No Variabel Bebas Persamaan Alometrik R2 MSPE CVd 1 Diameter W = 0.1872D0.751 0.0332 0.165 1.199 2 Tinggi Total W = 0.2891H0.8662 0.0744 0.170 1.175 3 Tinggi Bebas Cabang W = 3.7297Hb0.5498 0.0241 0.118 1.331 4 Diameter dan Tinggi

Total

W = 0.0319(D2H)0.315 0.0549 0.172 1.186

5 Volume W = 43.621V2-25.183V+5.3838 0.1972 0.075 1.574

Keterangan: W = biomas, D = Diameter Setinggi Dada (DBH), H = tinggi total, Hb = tinggi bebas cabang, V = volume pohon, R2 = koefisien determinasi MSPE = mean

square predicted error, CVd = koefisien varian metode jackknife

y = 43.621V2 - 25.183V + 5.3838 R2 = 0.1972 0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 3.50 4.00 4.50 0 0.2 0.4 0.6 Volume Pohon (m3) Biomas Bunga (kg)

Gambar 24. Persamaan Alometrik untuk Pendugaan Biomas Bagian Bunga pada Pohon Jati di Hutan Rakyat Desa Dengok

Berdasarkan hasil pengolahan beberapa persamaan alometrik pada bagian batang, cabang, daun, bunga, akar, bagian atas pohon, maupun total semua bagian untuk pendugaan biomas, maka secara ringkas dapat disajikan persamaan alometrik terpilih pada masing- masing bagian pohon sebagaimana disajikan pada Tabel 14.

Tabel 14. Rekapitulasi Persamaan Alometrik pada Masing- masing Bagian Pohon untuk Pendugaan Biomas Pohon Jati

No Bagian Pohon Persamaan Alometrik R2 MSPE CVd 1 Batang W = 0.166D2.1757 0.8581 0.217 1.415 2 Cabang W = 0.0789D2.1785 0.8514 0.435 2.972 3 Daun W = 0.0498D2.1955 0.7206 0.187 1.754 4 Bunga W=43.621V2-5.183V+5.3838 0.1972 0.075 1.574 5 Bagian Atas Tanah W = 0.3696D2.1253 0.9148 0.117 1.519 6 Bagian Bawah Tanah W = 0.0369D2.1671 0.9128 0.141 1.822 7 Total W = 0.4117 D 2.13 0.9254 0.101 1.525

Keterangan: W = biomas, D = d iameter setinggi dada (DBH), H = tinggi total, Hb = tinggi bebas cabang, V = volume pohon, R2 = koefisien determinasi MSPE = mean

square predicted error, CVd = koefisien varian metode jackknife

Tabel 14 di atas menunjukkan bahwa persamaan alometrik untuk pendugaan biomas bagian-bagian pohon memiliki nilai koefisien determinasi yang beragam, yaitu berkisar antara 0.1972–0.9254. Persamaan alometrik untuk pendugaan biomas bunga menunjukkan nilai koefisien determinasi yang sangat rendah, yaitu R2 = 0.1972, sehingga persamaan ini tidak dapat digunakan untuk menduga biomas bunga tanaman jati khususnya di areal hutan rakyat Desa Dengok.

Koefisien determinasi yang cukup tinggi (di atas 90 %) diperoleh pada persamaan alometrik untuk pendugaan biomas total, biomas bagian atas pohon, dan biomas bagian bawah pohon (akar), yaitu masing- masing R2 = 0.9254; R2 = 0.9148; dan R2 = 0.9128.

Persamaan alometrik biomas total, bagian atas, dan bagian bawah menghasilkan nilai koefisien determinasi yang cukup tinggi (R2 > 90 %) sehingga persamaan alometrik ini cukup baik digunakan untuk pendugaan biomas bagian- bagian pohon tersebut. Jika terdapat informasi nilai rasio akar-tajuk pohon jati (root-shoot ratio), maka persamaan alometrik pendugaan biomas bagian atas pohon, W = 0.3696D2.1253 dapat digunakan sebagai dasar perhitungan untuk

mendapatkan nilai biomas bagian bawah (akar). Jika informasi nilai rasio akar- tajuk tidak tersedia, maka pendugaan biomas total dapat menggunakan persamaan alometrik W = 0.4117 D 2.13.

Produksi biomas merupakan model proses yang ditetapkan secara khusus melalui keseimbangan antara karbon yang diambil melalui proses fofosintesis dan proses kehilangan karbon melalui respirasi. Karbon merupakan produk dari produksi biomas yang dibentuk dikurangi dengan total yang hilang melalui jaringan akar halus, daun, serta penyakit, sisanya tergabung dalam struktur yang tersimpan di dalam pohon. Penyerapan air dan elemen penting lainnya akan berpengaruh terhadap keseimbangan dan pengalokasian karbon (Raymond et al.,

1983; Johnsen et al., 2001).

Model biomas mensimulasikan penyerapan karbon melalui proses fotosintesis dan penghilangan karbon melalui respirasi. Penyerapan karbon bersih disimpan dala m organ tumbuhan, selanjutnya fungsi dan model biomas dipresentasikan melalui persamaan tinggi dan diameter pohon.

Produksi biomas vegetasi sangat ditentukan oleh tingkat produktivitas vegetasi di wilayah tersebut (hutan rakyat). Beberapa faktor yang mempengaruhi produktivitas vegetasi diantaranya adalah: suhu, curah hujan, interaksi antara suhu dan curah hujan, produktivitas serasah, tahap suksesi komunitas, edafik, herbivora, dan sistem konservasi hara yang sangat ketat.

Dalam kaitan dengan produktivitas, hujan selain berfungsi sebagai sumber air juga berfungsi sebagai sumber hara. Whitmore (1986) menyatakan bahwa banyak nitrogen yang terfiksasi selama terjadi badai dan turun ke bumi bersama dengan hujan. Hara lain yang banyak masuk ke dalam ekosistem melalui curah hujan adalah K, Ca, dan Mg (Kenworty dalam Whitmore, 1986). Namun demikian, curah hujan yang tinggi akan menyebabkan tanah-tanah yang tidak tertutupi oleh vegetasi rentan sekali terhadap pencucian yang akan mengurangi kesuburan tanah dengan cepat (Resosoedarmo et. al., 1986). Hal ini akan mengakibatkan produktivitas vegetasi menjadi rendah, sehingga produksi biomas juga akan menurun.

Hasil kajian hubungan antara biomas dengan curah hujan beberapa tegakan di Indonesia menunjukkan penurunan dari 292.6 ton/ha menjadi 170.158

ton/ha sejalan dengan penurunan curah hujan dari 3874 mm menjadi 1625 mm di hutan dataran rendah Kalimantan Timur (Soerianegara, 1965). Nascimento dan Laurance (2002) melaporkan biomas di hutan tropis dataran rendah Amazon, Brazil dengan rata-rata curah hujan tahunan 2700 mm /th adalah 356.2 ton/ha. Fearside et. al. (1999) melaporkan biomas pada daerah dengan curah hujan 1697 mm/th sebesar 262.5 ton/ha.

Beberapa penelitian yang mengkaji biomas telah menghasilkan menghasilkan persamaan alometrik baik untuk menduga biomas bagian atas (above ground biomass) termasuk di antaranya biomas di hutan alam tropika. Penelitian pada kondisi curah hujan yang berbeda-beda tersebut telah menghasilkan persamaan alometrik yang bervariasi pula. Persamaan alometrik selengkapnya disajikan pada Tabel 15. Grafik biomas dengan kondisi curah hujan berbeda disajikan pada Gambar 26.

Tabel 15. Persamaan Alometrik untuk Menduga Biomas Pohon di Hutan Alam Tropika Menurut Kelompok Curah Hujan

Curah Hujan (mm/thn)

Persamaan Alometrik R2 Sumber < 1500 W = 0.139 D 2.32 0.89 Brown (1997) 1500 – 4000 W = 0.118 D 2.53 0.97 Brown (1997)

W = 0.049 ρD2H 0.90 Brown et al. (1997)

W = 0.11 ρD2.63 0.90 Ketterings et al. (2001)

> 4000 W = 21.297 – 6.953*(D) + 0.740*(D2) 0.92 Brown (1997)

Keterangan: W = Biomas pohon, D = diameter setinggi dada (DBH), H = tinggi total, ρ = berat jenis kayu

- 500.00 1,000.00 1,500.00 2,000.00 2,500.00 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 Diameter (cm) Biomas (kg) CH < 1500 mm/thn CH 1500 - 4000 mm/thn CH > 4000 mm/thn

Gambar 26. Perbandingan antara Persamaan Alometrik Penduga Biomas pada Berbagai Curah Hujan yang Berbeda

Dokumen terkait