BAB II. KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI DAN MODEL
2.4 Model Penelitian
Berdasarkan kajian literatur penerapan layanan perawatan, dukungan dan pengobatan HIV/AIDS di layanan primer, dapat disusun model penelitian seperti terlihat pada gambar di bawah. Model penelitian ini mengkombinasi teori framework sistem kesehatan WHO, Teori Kurt Lewin dan teori framework stigma dan diskrimansi
Penyebab Stigma:
pada penyakit HIV, yang berperan dalam kesiapan puskesmas untuk dikembangkan sebagai layanan satelit ART.
Pada diagram tersebut dapat dijelaskan bahwa, beberapa faktor yang berperan dalam pengembangan layanan satelit ART adalah faktor internal layanan puskesmas sendiri sebagai provider dan faktor eksternal yang meliputi dukungan kebijakan, masyarakat, prilaku odha sebagai pengguna layanan dan faktor-faktor lain. Faktor-faktor tersebut bisa berfungsi sebagai pendorong maupun penghambat pelaksanaan pengembangan layanan satelit ART di puskesmas, tergantung dari situasi dan kondisi yang terjadi di lapangan.
Gambar 2.6 Model penelitian pengembangan layanan satelit ART di Puskesmas se-Kabupaten Badung
Faktor-faktor dari internal puskesmas yang berperan meliputi ketersediaan sumber daya tenaga kesehatan yang telah dilatih CST, fasilitas dan sarana sebagai
penunjang sebagai satelit ART, pembiayaan/finasial, sistim informasi HIV-AIDS di puskesmas, ketersediaan obat ARV dan infeksi Oportunistik, sikap dan motivasi petugas puskesmas dalam pelaksanaan program pengembangan HIV/AIDS, dieksplorasi melalui wawancara mendalam kepada kepala puskesmas dan pemegang program HIV/AIDS di puskesmas.
Faktor-faktor eksternal yang berperan terhadap kesiapan layanan puskesmas adalah dukungan dari kebijakan dan pemegang kebijakan pemerintah daerah setempat, dukungan rumah sakit, peran partisipasi masyarakat terhadap program penanggulangan dan perawatan HIV, peran LSM, swasta dan tenaga penjangkau lapangan, serta persepsi odha sebagai pengguna layanan puskesmas. Faktor eksternal tersebut diexplorasi melalui wawancara mendalam dan diskusi kelompok terarah terhadap pihak-pihak terkait.
36 BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif-eksploratif dengan pendekatan fenomenologis.
Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitiannya seperti perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain, secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah (Moleong, 2014).
Alasan menggunakan penelitian kualitatif, oleh karena bersifat konseptual dan praktis. Secara konseptual peneliti ingin mendapatkan jawaban yang lebih mendalam, sehingga mendapatkan pemahaman terhadap permasalahan. Sedangkan secara praktis jawaban yang didapat lebih sesuai dengan permasalahan penelitian.
Peneliti dapat mengeksplorasi sumber daya dan pandangan partisipan secara lebih luas terkait perluasan jejaring layanan ART di puskesmas, berdasarkan persepsi partisipan (puskesmas sebagai provider, pemegang kebijakan, masyarakat, serta odha sebagai pengguna layanan). Selain itu, pengumpulan data juga dilakukan dengan observasi secara langsung pada setiap puskesmas dengan menggunakan daftar tilik terkait kesediaan sumber daya puskesmas untuk pengembangan satelit ART. Dengan pendekatan kualitatif disertai pengamatan lansung, dapat membuat gambaran yang lebih jelas tentang keadaan secara obyektif, guna menjawab permasalahan dalam pengembangan satelit ART bagi penderita odha di puskesmas se-Kabupaten Badung.
3.2 Ruang Lingkup, Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Ruang lingkup penelitian
Ruang lingkup penelitian ini termasuk dalam ruang lingkup manajemen pelayanan kesehatan, sebagai upaya untuk meningkatkan akses dan cakupan layanan kesehatan bagi odha, mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap penyakit HIV/AIDS di masyarakat.
3.2.2 Lokasi dan waktu penelitian
Lokasi penelitian ini dilakukan di wilayah Kabupaten Badung, meliputi 12 puskesmas, Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Badung dan lingkungan kantor pemerintah daerah (pemda) setempat dengan waktu pelaksanaan penelitian mulai Oktober 2014 sampai dengan April 2015. Pengumpulan data penelitian telah dilakukan pada bulan Januari sampai dengan Maret 2015.
Lokasi wawancara mendalam dengan odha sebagai pengguna layanan, dilakukan di Klinik VCT RSUD Badung ketika odha mengambil obat ARV. Wawancara dengan petugas kesehatan dilakukan di puskesmas masing-masing dan wawancara dengan pemegang kebijakan di lingkungan pemda setempat. Sedangkan FGD dilakukan di Kecamatan Kuta Selatan.
Berdasarkan profil kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Badung Tahun 2013, terdapat 13 puskesmas di wilayah Kabupaten Badung yang tersebar di enam kecamatan, seperti terlihat pada tabel 3.1. Jumlah puskesmas yang telah memberikan layanan konseling dan test HIV pada layanan kesehatannya sebanyak 12 puskesmas, sedangkan satu puskesmas (Puskesmas Abiansemal IV) belum efektif menjalankan program HIV/AIDS karena baru beroperasional mulai Januari 2013. Jadi penelitian ini akan difokuskan pada 12 puskesmas tersebut, namun peneliti juga melakukan kunjungan ke puskesmas Abiansemal IV untuk mengetahui kondisi layanan yang sesungguhnya.
Kajian terhadap 12 puskesmas tersebut telah dilakukan dengan cara mewawancarai secara tidak terstruktur kepada kepala puskesmas dan pemegang program HIV. Kajian juga dilakukan dengan observasi secara lansung dengan daftar tilik terkait ketersediaan sumber daya puskesmas sebagai satelit ART.
Tabel 3.1
Lokasi puskesmas di Kabupaten Badung
No. Kecamatan Puskesmas Status Puskesmas
1 Kuta Selatan PKM Kuta Selatan Non keperawatan
2 Kuta PKM Kuta 1
PKM Kuta 2
Rawat inap (BKIA) Non keperawatan
3 Kuta Utara PKM Kuta Utara Non keperawatan
4 Mengwi PKM Mengwi 1
5 Abiansemal PKM Abiansemal 1
PKM Abiansemal 2 (Sumber : Profil Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Badung, 2014)
* Puskesmas baru dan resmi operasional Januari 2013)
3.3 Sumber Data dan Sampel 3.3.1 Informan
Sumber informan dalam penelitian ini adalah mereka yang terkait program penanggulangan HIV/AIDS di Kabupaten Badung, yaitu petugas kesehatan sebagai pemberi layanan, pemegang kebijakan lokal (Dinas Kesehatan dan Bappeda Kabupaten Badung) yang mempengaruhi kebijakan pengembangan layanan ART di puskesmas, tokoh masyarakat, LSM dan odha sebagai pengguna layanan di wilayah Kabupaten Badung.
3.3.2 Sampel
Pada penelitian ini sampel dipilih secara purposive, yaitu dipilih berdasarkan pertimbangan dan tujuan penelitian. Informan yang dipilih adalah mereka dianggap memiliki pengetahuan, serta bersedia memberikan informasi yang dibutuhkan untuk mendapatkan data terkait kesiapan pengembangan layanan satelit ART di puskesmas se-Kabupaten Badung.
Jumlah informan yang telah digunakan dalam penelitian ini sebanyak 47 orang, dengan latar belakang sebagai berikut :
1. Kepala puskesmas se-Kabupaten Badung yang telah melaksanakan layanan VCT sebanyak 12 orang,
2. Pemegang program VCT/IMS Puskesmas sebanyak 12 orang, 3. Petugas VCT/CST RSUD Badung sebanyak satu orang, 4. Kabid P2PL Dinas Kesehatan Kabupaten Badung,
5. Kasie P2 HIV/AIDS Dinas Kesehatan Kabupaten Badung ,
6. Kasie Perencanaan Alkes dan Farmasi Dinas Kesehatan Kabupaten Badung, 7. Staf Bappeda bagian perencanaan keuangan Kabupaten Badung sebanyak satu
orang,
8. Tokoh masyarakat di wilayah Kuta Selatan sebanyak delapan orang,
9. Penjangkau lapangan (LSM) sebagai pendamping odha sebanyak dua orang, 10. Odha yang berobat ke klinik VCT/CST di RSUD Badung sebanyak delapan
orang
3.4 JenisData
Jenis data yang telah dikumpulkan berupa data kualitatif dan kuantitatif yang berasal dari data primer dan data sekunder. Data primer didapat dari hasil FGD dan wawancara mendalam, serta catatan langsung atau observasi singkat dengan informan
yang telah dipilih dan bersedia memberikan informasi penelitian. Data sekunder diperoleh dari dokumen-dokumen pelaksanaan program VCT yang tertulis, absensi kepegawaian, laporan puskesmas, serta dokumen-dokumen lain program HIV/AIDS yang relevan dengan penelitian.
3.5 Instrumen Penelitian
Sebagai instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri, dengan menggunakan pedoman FGD, pedoman wawancara mendalam, dan observasi dengan lembaran cek list ketersediaan sumber daya untuk persiapan satelit ART di puskesmas, sebagai alat bantu dalam pengambilan informasi/data di lapangan.
3.6 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode diskusi kelompok terarah (FGD), wawancara mendalam (in-depth interview) dan pencatatan dengan lembaran kuesioner. Penggunaan metode FGD dilakukan agar terjadi interaksi responden untuk merangsang tanggapan, menggali gagasan, dan pendapat yang lebih bervariasi, sehingga memungkinkan berkembangnya pemikiran baru yang bermanfaat dalam pengembangan layanan satelit ART di puskesmas. Sedangkan in-depth interview digunakan untuk mendapatkan jawaban yang lebih mendalam dari tiap responden dan masalah yang dibicarakan cukup peka terutama responden dari kalangan odha. Lembaran observasi berupa lembaran cek list digunakan untuk memastikan ketersediaan sumber daya di puskesmas sebagai persiapan satelit ART.
Teknik pengumpulan data meliputi cara pengumpulan data dan prosedur pengumpulan data.
3.6.1 Cara pengumpulan data
Cara pengumpulan data pada penelitian ini telah dilakukan dengan beberapa tahapan. Tahapan tersebut memberikan gambaran pada peneliti mengenai keseluruhan perencanaan, pelaksanaan analisis dan penafsiran serta penulisan laporan dalam meneliti fenomena yang terjadi di lapangan. Tahapan-tahapan tersebut adalah seperti di bawah ini.
a) Tahapan pra lapangan
Pada tahap ini, beberapa proses yang telah dilakukan peneliti adalah menyusun rancangan penelitian, pedoman wawancara dan lembaran cek list, memilih informan dan lokasi pengumpulan data, mengurus etical clearence di komisi etik Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, mengurus surat ijin permohonan penelitian, menyebarkan undangan FGD dan menyiapkan peralatan penelitian.
b) Tahapan pekerjaan lapangan
Pada tahapan ini, peneliti berusaha memahami situasi dan kondisi lapangan penelitiannya, yaitu memahami latar penelitian, persiapan diri untuk menjaga hubungan baik dengan pihak-pihak yang terkait dalam proses penelitian. Hubungan baik tersebut juga dilakukan dengan pihak informan, terutama ketika melakukan kunjungan ke masing-masing puskesmas terkait pengumpulan data primer dan skunder, wawancara dengan pemegang kebijakan, tokoh masyarakat, LSM dan odha.
Tahapan pekerjaan lapangan yang telah dilakukan adalah wawancara mendalam dengan odha sebagai pengguna layanan, petugas CST RSUD Badung, petugas VCT puskesmas, kepala puskesmas dan LSM. Pengumpulan data secara diskusi kelompok terarah dilakukan pada tokoh masyarakat. Untuk validitas data terkait ketersedian sumber daya dilakukan observasi secara langsung dengan
menggunakan daftar tilik ketersediaan sumber daya pendukung layanan sesuai dengan standar sebagai satelit ART. Hasil wawancara dan observasi tersebut kemudian dibuat dalam bentuk verbatim sebagai persiapan analisa data.
3.6.2 Prosedur pengumpulan data
Prosedur pengumpulan data dimulai, setelah proposal penelitian ini mendapatkan surat keterangan lulus uji etik dan surat ijin penelitian dari Dinas Penanaman Modal dan Perijinan Propinsi Bali. Kedua surat tersebut kemudian diserahkan ke Badan Kesbangpol dan Linmas Kabupaten Badung untuk mendapatkan surat rekomendasi penelitian. Hasil rekomendasi tersebut diteruskan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Badung dengan tembusan RSUD Kabupaten Badung dan seluruh puskesmas se-Kabupaten Badung yang dilibatkan dalam penelitian ini. Peneliti juga memohon surat rekomendasi penelitian dari direktur RSUD Badung (terlampir).
Prosedur pengumpulan data penelitian dilaksanakan sebagai berikut : a. Prosedur wawancara mendalam
Wawancara mendalam dilakukan pada odha, petugas kesehatan, LSM, kepala puskesmas, pemegang program HIV/AIDS di puskesmas dan pemegang kebijakan terkait. Prosedur wawancara mendalam terhadap informan dilakukan seperti yang tercantum di bawah ini.
1) Wawancara mendalam pada odha dilakukan di Klinik VCT RSUD Badung.
Peneliti terlebih dahulu melapor ke bagian Humas RSUD Badung dengan membawa surat ijin penelitian dari Badan Kesbang Pol dan Linmas Kabupaten Badung. Setelah diberikan surat rekomendasi dari Direktur RSUD Badung, peneliti menghadap ke bagian kepala ruangan VCT/CST RSUD Badung dengan menyampaikan maksud dan tujuan penelitian.
Peneliti juga menjelaskan maksud dan tujuan penelitian ini kepada
koordinator dan staf VCT/CST RSUD Badung. Peneliti melakukan kerjasama dengan perawat ruangan VCT/CST untuk menjaring pasien odha yang bersedia dilibatkan dalam penelitian. Apabila ada odha yang bersedia bersedia sebagai informan, maka peneliti akan menyampaikan kembali maksud dan tujuan penelitian ini kepada calon informan tersebut di ruangan yang cukup privasi. Bagi odha yang setuju sebagai informan, wawancara mendalam akan dimulai dengan terlebih dahulu menandatangani surat pernyataan persetujuan. Wawancara pada setiap informan berlangsung sekitar 35-50 menit dengan mengacu pada pedoman wawancara. Untuk menghindari data yang hilang, proses wawancara direkam dengan alat perekam merek sony. Akhir wawancara, peneliti menyampaikan rasa terima kasih atas partisipasi informan dengan memberikan imbalan sejumlah uang sebagai pengganti waktu yang hilang dari informan.
2) Wawancara mendalam pada petugas Klinik VCT/CST RSUD Badung dan LSM dilakukan di ruang klinik VCT/CST RSUD Badung, setelah petugas selesai memberikan pelayanan. Wawancara dengan LSM dilakukan di tempat yang sama, yang secara kebetulan mendampingi odha.
3) Prosedur wawancara mendalam pada petugas kesehatan (kepala puskesmas dan pemegang program HIV/AIDS) dilakukan di tempat tugas masing-masing ketika peneliti melakukan kunjungan lapangan ke puskesmas.
Peneliti membawa surat rekomendasi dan menyampaikan maksud dari penelitian ini. Apabila informan setuju, maka dilanjutkan dengan wawancara mendalam, disertai penandatanganan pernyataan persetujuan. Rata-rata wawancara berlansung sekitar 30-40 menit pada masing-masing informan.
Setelah selesai wawancara, dilanjutkan dengan pengumpulan data skunder
melalui kuesioner dan pengamatan secara langsung berdasarkan cek list yang telah disiapkan sebelumnya.
4) Wawancara mendalam dengan pemegang kebijakan (Kabid P2PL, Kasie P2 HIV/AIDS, Kasie alkes dan Farmasi, Bappeda) prosedurnya hampir sama dengan informan lainnya. Peneliti terlebih dahulu memohon ijin dan memberikan penjelasan kepada informan terkait penelitian. Apabila informan setuju, maka dilanjutkan dengan wawancara mendalam.
Wawancara berlangsung sekitar 30-40 menit dengan pedoman wawancara dan alat perekam. Selesai wawancara peneliti menyampaikan ucapan terima kasih atas partisipasinya sebagai informan.
b. Prosedur FGD
Pengumpulan data melalui FGD dilakukan di ruang pertemuan Puskesmas Kuta Selatan, atas seijin dari Kepala Puskesmas Kuta Selatan. Sumber informan berasal dari tokoh masyarakat (kepala desa, kepala dusun dan PKK desa). Surat undangan diberikan satu minggu sebelum pelaksanaan FGD. Sehari sebelum acara FGD dilakukan konfirmasi kesediaan informan untuk menghadiri undangan tersebut. Dari 12 undangan yang disebarkan, sebanyak delapan orang yang telah bersedia untuk hadir mengikuti acara FGD tersebut.
Pelaksanaan FGD berlangsung sekitar 90 menit. Sebelum diskusi dimulai, peneliti terlebih dahulu memperkenalkan diri dengan menyampaikan maksud dan tujuan dilakukan acara FGD ini. Apabila peserta FGD setuju, maka diberikan formulir persetujuan sebagai bukti kesediaan sebagai informan. Pengumpulan data dilanjutkan dengan cara peneliti mengajukan pertanyaan-pertanyan yang bersifat terbuka sesuai dengan tema-tema yang tersusun dalam pedoman FGD. Selama diskusi, setiap peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan pandangannya
sesuai pertanyaan yang diajukan. Peneliti juga melakukan konfirmasi terhadap jawaban-jawaban yang disepakati oleh peserta FGD.
Pada akhir sesi FGD, peneliti menyampaikan ucapan terima kasih atas partisipasi kepada informan. Sebagai ucapan terimakasih peneliti menyediakan sejumlah uang sebagai pengganti transport peserta. Peneliti juga meminta kontak telepon dari masing-masing peserta untuk kebutuhan informasi lebih lanjut.
Selama kegiatan pengumpulan data, peneliti dibantu oleh alat penunjang, seperti: alat perekam, kamera digital, buku catatan dan alat tulis. Semua peralatan tersebut digunakan secara maksimal untuk mendapatkan data yang akurat sesuai dengan kebutuhan.
3.7 Prosedur Analisis Data
3.7.1 Pengolahan data
Proses analisis data kualitatif, menurut Bogdan dalam buku “Metode Penelitian Manajemen” (Sugiyono, 2013) menyatakan bahwa analisis data merupakan proses
mencari dan menyusun data secara sistematis yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. Analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkannya kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan, sehingga dapat diceritakan kepada orang lain.
Prosedur pengolahan data pada penelitian ini dimulai dengan pemrosesan dokumentasi. Hasil FGD dan wawancara mendalam yang telah direkam ke dalam alat perekam serta didengarkan berulang-ulang, dipindahkan ke dalam bentuk verbatim yang
kemudian digabung dengan catatan lapangan. Hasil verbatim dibuat dalam bentuk transkrip. Hasil transkrip dibaca berulang-ulang dan didengarkan kembali untuk memastikan keakuratannya.
Data yang telah terkumpul kemudian dipindahkan ke dalam file khusus di komputer dan dilakukan back up dengan flash disc untuk menghindari kehilangan data.
Selanjutnya hasil transkrip percakapan diberikan kode (coding) tertentu. Coding dilakukan untuk memudahkan analisa data terhadap kata kunci dari informan satu dengan informan lainnya.
3.7.2 Analisis data
Janice McDrury dalam buku “Penelitian Kualitatif,” (Burhan Bungin, 2007:
149) menyatakan tahapan analisis data kwalitatif adalah sebagai berikut: 1) Membaca/
mempelajari data, menandai kata-kata kunci dan gagasan yang ada dalam data; 2) Mempelajari kata-kata kunci itu, berupaya menemukan tema-tema yang berasal dari data; 3) Menuliskan “model” yang ditemukan; 4) Melakukan koding.
Pada penelitian ini, tahapan yang dilakukan dimulai dengan tahap pertama yaitu melakukan pengumpulan data dan membuat transkrip data dengan cara mendengarkan berulang-ulang hasil rekaman, kemudian dilanjutkan dengan menyusun hasil wawancara dalam bentuk verbatim. Pada tahap kedua, peneliti membaca berulang-ulang kali transkrip data yang ada, sehingga peneliti dapat menemukan makna data yang signifikan dan memberikan garis bawah pada pernyataan-pernyataan penting partisipan.Tahap ketiga menentukan kategori atau tema. Tema merupakan proses yang rumit. Pada tahap ini, peneliti mengelompokkan data yang tersedia ke dalam suatu tema.
Selanjutnya pada tahap keempat tema yang sudah ada, peneliti mengelompokkan menjadi tema-tema yang potensial. Tahap kelima, tema yang potensial tersebut disusun dalam bentuk tulisan. Dalam penulis laporan peneliti menulis setiap frase, kata dan
kalimat serta pengertian secara tepat sehingga dapat mendeskripsikan data dan hasil analisa.
3.8 Teknik Penyajian Hasil Analisis Data
Hasil analisis data disajikan secara naratif berdasarkan analisis tema-tema yang disusun sebelumnya. Penyajian hasil analisis juga mengikuti proses induktif dan deduktif dengan tujuan pemaparannya tidak monoton.
3.9 Keabsahan Data
Uji keabsahan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik triangulasi data. Triangulasi data merupakan teknik pemeriksaan keabsahan data yang menggunakan sesuatu diluar data itu, untuk tujuan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data yang dihasilkan. Terdapat empat macam teknik triangulasi data yaitu triangulasi sumber, metode, penyidik, dan teori (Moleong, 2014). Dalam penelitian ini menggunakan triangulasi sumber yaitu dengan melibatkan banyak informan dalam memperoleh suatu jawaban terhadap pertanyaan yang sama.
Triangulasi juga dilakukan dengan cara menggali keterangan tambahan dari studi literatur yang berhubungan dengan standar minimal layanan ARV di puskesmas dan hasil penelitian terkait penerapan satelit ART di layanan primer. Dengan demikian data-data yang didapatkan pada penelitian ini diharapkan cukup valid dan dapat dipercaya, sehingga berguna dalam merumuskan strategi ke depan.
3.10 Etika Penelitian
Penelitian ini melibatkan seluruh puskesmas se-Kabupaten Badung, oleh karena itu peneliti mengajukan surat permohonan ijin penelitian ke Badan Kesbangpol dan Linmas Kabupaten Badung berdasarkan surat rekomendasi dari Dinas Penanaman Modal dan Perijinan Proponsi Bali. Hasil rekomendasi dari Badan Kesbangpol dan
Linmas Kabupaten Badung tersebut disampaikan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Badung dan tembusan ke seluruh puskesmas yang ada di Kabupaten Badung. Selain itu, karena penelitian ini melibatkan odha sebagai informan, peneliti juga mengurus Ethical Clearance dari Komisi Etik FK UNUD untuk memperoleh persetujuan etik. Peneliti juga telah melakukan koordinasi dan mengurus surat rekomendasi dari Rumah Sakit Daerah Kabupaten kabupaten Badung untuk melakukan wawancara terhadap odha di klinik VCT RSUD Badung.
Sebelum memulai FGD dan wawancara mendalam, informan telah menandatangani surat pernyataan persetujuan, dengan terlebih dahulu diberikan informasi yang cukup mengenai penelitian ini. Peneliti juga menyediakan sejumlah uang sebagai pengganti waktu yang hilang dan pengganti transport selama kegiatan penelitian berlangsung.
49 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Informan
Karakteristik informan dalam penelitian ini digambarkan meliputi jenis kelamin, umur, pendidikan dan pekerjaan/jabatan informan. Penelitian ini telah melibatkan 47 orang informan, yang terdiri dari delapan orang pengguna layanan ARV di RSUD Badung (odha), delapan orang peserta FGD dari tokoh masyarakat di Kecamatan Kuta Selatan, 12 orang petugas klinik VCT puskesmas se-Kabupaten Badung, 12 orang kepala puskesmas se-Kabupaten Badung, empat orang pemegang kebijakan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Badung dan Bappeda, satu orang dokter dari layanan CST Rumah Sakit Daerah Kabupaten Badung dan dua orang informan dari LSM Yakeba.
Karakteristik informan dari kelompok pengguna layanan (odha), yang memanfaatkan layanan ARV di Rumah Sakit Daerah Kabupaten Badung disajikan pada tabel 4.1 di bawah ini.
Tabel 4.1
Karakterisitik informan sebagai pengguna layanan
No Kode Informan Sex Umur(Thn) Pendidikan Pekerjaan
1 RO1 L 46 SMP Wiraswasta
2 RO2 L 43 SD Wiraswasta
3 RO3 L 62 SMP Pensiun
4 RO4 L 55 SD Swasta
5 RO5 L 31 SMU Swasta
6 RO6 L 41 STM Swasta
7 RO7 P 38 SMP URT
8 RO8 P 21 SMU Swasta
Berdasarkan tabel 4.1 tersebut, dapat digambarkan bahwa sebagian besar informan (enam dari delapan) odha yang telah diwawancarai berjenis kelamin laki-laki, rentang umur informan antara 21 tahun sampai dengan 62 tahun, dengan tingkat pendidikan
tertinggi adalah SMU. Alamat tempat tinggal odha sebagian besar berasal dari wilayah Kabupaten Badung, namun dua dari delapan odha dari luar wilayah Kabupaten Badung.
Karakteristik peserta FGD berasal dari tokoh masyarakat di wilayah Kuta Selatan disajikan pada tabel 4.2 di bawah ini.
Tabel 4.2
Karakterisitik peserta FGD dari tokoh masyarakat
No Kode
Informan
Sex Umur (Thn)
Pendidikan Jabatan
1 RT1 P 46 DII Pariwisata Pengurus PKK
2 RT2 L 41 S1. Hukum Kasi Kesra
3 RT3 L 51 S1. STIMI Kades Kutuh
3 RT3 L 51 S1. STIMI Kades Kutuh